Setelah memastikan tidak ada debu ataupun tanah menempel di atasnya, Ino membuka kotak kayu itu dengan perlahan. Gerakannya sangat hati-hati seolah ia takut akan merusak benda itu.
Begitu kotak kayu itu terbuka, Ino melebarkan pupil matanya. Ia terkejut dengan apa yang baru saja ia lihat. Isi kotak kayu itu bukan emas ataupun permata yang indah, tetapi nilainya jauh lebih berharga dibanding batu mulia itu.
"Ini..."
Ino tak kuasa menahan air matanya lagi. Perlahan butiran-butiran kristal itu menetes melewati pipi tirusnya.
Sasuke hanya diam. Pemuda itu terus memperhatikan Ino tanpa merespons apapun. Sejujurnya ia sedikit heran ketika menyaksikan Ino menangis karena kumpulan mahkota bunga yang telah layu di kotak kayu itu.
Bagaimana bisa sampah mahkota bunya bisa membuat seorang gadis menangis? Sebegitu berharganya kau benda itu? Begitulah pikir Sasuke.
-flashback-
Matahari berada tepat di atas kepala. Suhu siang ini sangat panas dan coba saja meletakkan telur di atas penggorengan di bawah sinar mentari, mungkin kau bisa langsung mendapatkan telur mata sapi.
Ino berlari tanpa sedikit pun mengurangi kecepatannya. Beberapa menit yang lalu, Inoichi menyuruhnya untuk duduk manis di rumah dengan setumpuk buku pelajaran untuk masuk ke Akademi. Ino adalah anak yang penurut, tetapi ia berpikir mengapa harus belajar lebih awal di usianya yang baru menginjak 8 tahun? Masih ada waktu 2 tahun untuk persiapan masuk ke Akademi. Terkadang Ayahnya memang sangat bersemangat.
Langkahnya sedikit memelan saat memasuki sebuah wilayah di pinggiran Konoha. Dari tugu yang menjadi pembatas daerah tadi, sudah jelas menandakan bahwa wilayah ini adalah pemukiman milik clan Uchiha. Beberapa bulan yang lalu, para petinggi desa memang menyuruh semua anggota clan Uchiha untuk pindah ke pinggiran Konoha. Ino tidak tahu alasan pastinya seperti apa, ia hanya mendengar kabar itu dari hasil ia menguping pembicaraan ayah dan ibunya di rumah. Sangat tidak sopan, tetapi itu ia lakukan karena rasa ingin tahunya yang tinggi.
Baru beberapa langkah saja, semua mata tertuju ke arahnya. Ino tidak merasa melakukan hal yang salah. Ia terus melangkah dan berusaha mengabaikan tatapan aneh dari penduduk yang bertempat tinggal di sana.
"Hoi! Berhenti!" Sebuah panggilan menyuruh Ino untuk berhenti. Gadis kecil itu menurutinya dan berbalik ke arah asal suara. Ino melihat tiga anak laki-laki lebih tua darinya itu tengah berdiri dengan angkuh. Salah satu di antaranya, sedang menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Penyusup!" Tanpa dapat menghindar, sebuah pukulan berhasil mengenai pipi kiri Ino.
Tubuh mungil Ino terhempas ke belakang akibat pukulan itu. Perlahan darah segar keluar dari sudut bibirnya.
Ino mengadu kesakitan karena punggungnya sempat beradu dengan tanah yang kasar di belakangnya. Gadis kecil itu hendak memperbaiki posisinya setelah ia sempat terlentang di tanah karena pukulan yang sangat mendadak itu.
Akan tetapi, ketika Ino mencoba untuk mengubah posisinya itu, anak laki-laki yang tadi melayangkan pukulan kepadanya itu segera menarik kerah baju Ino dan menyeretnya ke sebuah celah sempit antara dua bangunan besar.
"Kau pasti suruhan pemimpin itu, 'kan?!" bentak anak laki-laki itu.
Tubuh mungilnya bergetar dengan hebat karena ketakutan. Jika Ino dapat menjawab, rasanya ingin bersumpah di depan anak laki-laki itu bahwa ia bukanlah seorang penyusup. Mana ada penyusup yang terang-terangan menampakkan diri dikeramaian?
"A-aku—" ucapan Ino tertahan oleh sebuah suara lain yang menginterupsi.
"Hentikan, kalian!" Seorang anak laki-laki berjalan ke arah Ino dan berdiri di depannya dengan posisi membelakangi.
"Aku akan mengurusnya," kata anak laki-laki itu.
"Tch!" Tanpa berkata apapun, ketiga anak laki-laki itu pergi menjauh dan menyisakan keduanya.
Anak laki-laki itu berbalik ke arah Ino. Ia mengulurkan tangan kanannya.
Satu detik...
Dua detik...
Hingga tujuh detik kemudian, Ino tetap membiarkan tangan itu terulur dan menggantung di udara.
"Aku tidak akan melukaimu," kata anak laki-laki itu.
Namun tetap saja, Ino enggan menyambut uluran tangan itu. Ia hanya memandangi anak laki-laki di depannya dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
"Percayalah." Anak laki-laki itu tetap memposisikan tangannya seperti semula.
Baru setelah Ino mempertimbangkan perkataan anak laki-laki di depannya itu, ia mau menerima uluran tangan tersebut. Ia berhasil bangun dari posisinya semula menjadi berdiri berhadapan dengan sosok yang menolongnya itu.
"Aku Itachi, Uchiha Itachi."
"Yamanaka Ino." Ino terlihat menahan air matanya untuk tidak menetes. Sedari tadi ia sudah berusaha keras untuk menahan diri.
Itachi menarik tangannya kembali kemudian ia memperhatikan Ino dengan teliti, lebih tepatnya ia memperhatikan rambut dan kedua mata Ino.
"Tunggulah di sini, aku akan segera kembali." Itachi berlari menjauh dari Ino. Tubuhnya tidak lagi terlihat oleh Ino dan membuat gadis itu mulai meneteskan air mata.
Dengan punggung tangannya, Ino menahan isak tangis yang keluar dari mulutnya. Ia tidak mau tangisannya mengundang ketiga anak laki-laki tadi untuk kembali memukulinya tanpa ampun.
Ino duduk di tanah dengan kedua tangan memeluk lutut. Kini ia berpikir mengenai penyesalannya telah melarikan diri dari ayahnya dan juga menyesal untuk masuk ke wilayah Uchiha ini.
Wilayah ini bisa dikatakan indah tetapi tidak dengan penduduknya. Mereka terlihat menyeramkan dan tidak ramah seperti penduduk desa Konoha.
"Aku sudah bilang akan kembali." Itachi mengulurkan kedua tangannya dan membantu Ino untuk berdiri.
Gadis kecil di depannya ini mirip dengan Sasuke —adiknya. Mungkin usianya juga, begitu pikir Itachi. Ia cukup terbiasa dengan sikap seperti ini, sama seperti saat Itachi tidak memenuhi janjinya kepada Sasuke untuk berlatih bersama. Adiknya itu akan merengek.
"Pakai ini." Itachi menyampirkan sebuah jubah hitam di tubuh Ino. Ia juga membantu menutupi kepala gadis itu dengan tudung jubahnya.
"Kau tidak bisa datang kemari dengan warna rambut dan mata yang mencolok seperti itu," kata Itachi. Selesai dengan pekerjaannya, ia mengamati gadis di depannya.
Ino tidak lagi secerah matahari —pikir Itachi. Jubah hitam yang dikenakan Ino membuatnya seperti tenggelam di dalam kegelapan, sama sepertinya. Sebentar lagi, kegelapan itu akan menyelimuti seluruh clan-nya —termasuk dirinya dan adik kesayangannya.
"Nii-chan?" panggil Ino.
Itachi tersadar, rupanya ia tengah melamun.
"Aku akan mengantarkanmu pulang," ujar Itachi. Sekali lagi, ia mengulurkan tangannya ke arah Ino.
Tidak ada lagi rasa ragu dan takut, Ino menyambut uluran tangan itu dengan cepat.
Keduanya berjalan berdampingan sampai ke tempat yang mereka tuju. Langkahnya terhenti di sisi belakang dari kompleks Uchiha. Itachi memang sengaja membawa Ino keluar lewat jalan belakang agar tidak ada yang mengetahui keberadaan Ino yang masuk ke wilayah anggota clan-nya tanpa izin. Lebih aman walau harus memakan banyak waktu dan tenaga.
"Kau bisa pulang sekarang, Ino." Itachi melepas gandengan tangannya.
Ino menoleh ke belakang sejenak, tepatnya arah di mana ia bisa keluar dari wilayah ini. Ia tidak segera pergi justru tertunduk diam.
"Kenapa?" tanya Itachi. Ia sedikit merendahkan tubuhnya agar dapat melihat wajah Ino dengan jelas.
Ada bekas luka dan darah yang sudah mengering di sudut bibir Ino. Tidak salah lagi, luka ini pasti ulah dari teman satu Akademi-nya dulu.
"Kemari," pinta Itachi.
Kali ini tidak perlu menunggu sang pemilik tangan menyambutnya, ia lebih dulu menggandeng tangan kecil itu. Ukuran tangan Ino hampir seukuran dengan milik Sasuke. Ia jadi teringat telah meninggalkan Sasuke di rumah dan melupakan janjinya untuk berlatih bersama setelah misi.
"Maaf, Sasuke," batin Itachi.
Mereka duduk di tepian danau. Itachi menurunkan tudung jubah dari kepala Ino. Kemudian ia membasahi tangan kanannya dengan sedikit air.
"Jangan ke sini lagi. Ini bukan tempat untuk bermain," ujar Itachi sambil membersihkan sisa darah di sudut bibir Ino dengan ibu jarinya.
"Maaf, tapi aku tidak ada niatan untuk melakukan kejahatan di sini," balas Ino. Ia diam dan memperhatikan wajah Itachi.
Ino terdiam dan berpikir mengenai kebaikan seorang anak laki-laki yang ia temui. Anak laki-laki itu jauh lebih tinggi darinya, itu artinya dia memiliki usia yang berbeda dengannya juga.
Sorot mata Itachi memang tidak begitu cerah atau bahkan terlihat gelap dan kelam, seperti ada sesuatu yang membuatnya terlihat lebih murung. Tapi, Itachi mempunyai hati yang baik. Bisakah Ino menyebut Itachi sebagai seorang malaikat penolong?
"Hn, ikuti saja," kata Itachi.
"Segera pulang dan bersihkan lukamu dengan air yang lebih bersih," lanjutnya.
Ino menggelengkan kepalanya. Ia menolak untuk berpisah secepat ini dengan seseorang yang diam-diam ia kagumi. Tidak ada salahnya jika ia mengagumi seseorang yang menyelamatkan nyawanya dari tuduhan orang tak dikenal.
-to be continued-
Halo hai, ini PhiruFi! Senang sekali berjumpa dengan teman-teman di sini.
Kali ini aku kembali dengan cerita baru. Fanfic ini aku dedikasikan (cielah) untuk shipper ItaIno tercinta. Ini fanfic kesekian yang aku buat dengan setting canon, lho, ahahahaha.
Semoga teman-teman menyukainya. Terus dukung aku, ya. Aku ucapkan banyak terima kasih karena kalian sudah mau mendukungku dan setia membaca coretanku ini! Jangan lupa tinggalkan review, ya. Bye-bye!
See you next chapter~
