CAP'BLOODS

RATE : T

DISCLAIMER : Naruto milik Masashi Kishimoto, sedangkan cerita ini milik saya, dan saya sudah ijin kok ke Pak Masashinya..

GENRE : Romance and Friendship, maybe Angst.

WARNING : ide pasaran, abal abal, gaje, (miss) typo,OOC dan masih banyak lagi... (-.-)

SUMMARY : lalu, bagaimanakah kehidupan selanjutnya dari kedua grup setelah persaingan di mulai? Akankah tumbuh cinta di antara mereka?

Chapter 11

Pagi sudah menjelang di Paris.. dan cahaya yang lewat dari jendela kamar Naruto yang dibuka lebar lebar oleh Sasori membuat mata Naruto terbuka sedikit demi sedikit karena silau. Mata biru itu, kini telah terbuka sepenuhnya. Kepala Naruto serasa ingin meledak karena pusing, apa lagi cahaya yang menyerang matanya secara tiba tiba itu, walaupun dirinya telah membuka matanya perlahan..

"Sudah bangun, Kembaranku.." Suara dingin nan datar itu, segera mendapat respon tolehan pelan oleh Naruto. Terlihat seorang lelaki berpawakan tinggi, mata hijau yang dingin, dan rambut merahnya yang berantakan itu menatapnya datar. Naruto bergumam pelan sebagai jawabannya.

Sasori, segera menapakan kakinya memasuki kamar Naruto yang luas itu sambil membawa bungkusan makanan. "Kau tau, semalam kau membuat ku panik." Ucap Sasori mengawali pembicaraan. Sedangkan Naruto hanya bisa mendesah pelan.

"Untung Kaasan dan Tousan tidak tau, jika mereka tau mungkin kau akan didamprat habis habisan oleh mereka berdua, apalagi Kaasan yang cerewet itu." tambah Sasori lagi, Naruto hanya diam tidak menyahut dan hanya melihat gerak gerik Sasori yang kini sedang sibuk di meja samping ranjangnya, dan meletakan obat, makanan, dan minuman.

"Aku, semalam bermimpi aneh.." ucap Naruto tiba tiba. Membuat gerakan tangan Sasori terhenti seketika, dan menoleh dengan cepat ke arah Naruto dan menatapnya dengan alis mengernyit.

"Mimpi apa?" tanya Sasori. Naruto terdiam.. dia bimbang apa akan menceritakan mimpinya ini kepada Kembaran laki lakinya. Sasori dengan sabar menunggu Naruto bercerita. Kini posisi sepenuhnya sudah menghadap Naruto sambil bersedekap.

"Jadi? Kau berniat bercerita atau tidak?" tanya Sasori ketika melihat kebimbangan Naruto. Awalnya Naruto menghela nafas panjang, lalu menatap mata Sasori dengan mantap.

"Aku bermimpi..

Ombak yang mengantarkan seekor Rajawali sekarat, yang terapung diatasnya hingga terdampar dipantai. Dan kepala Rajawali tersebut bersandar tepat di Batu Ruby, tapi lama kelamaan.. ombak tersebut berubah menjadi tenang, seiringnya Rajawali tersebut bangun. Dan saat Rajawali terbangun sepenuhnya, ombak tersebut tidak bergerak sama sekali."

Naruto berkata dengan sangat lirih, tapi cukup didengar oleh Sasori yang ada disampingnya. Sasori mengernyit, bingung apa maksud dari mimpi itu. Wajah Naruto juga mimiknya berubah menjadi sangat serius, bahkan dahinya mengkerut. Sepertinya dia juga bingung..

"Apa artinya itu Niichan?" tanya Naruto sambil mendongak. Matanya menatap tepat di mata Sasori, membuat Sasori tertegun.

Biru.. Laut?

"Kau bilang ombak?" tanya Sasori. Naruto hanya mengangguk.

"Berarti kejadian itu dilaut?" tanya Sasori lagi, Naruto mengernyit lalu menjentikan jarinya dan tersenyum sumringah. "Ah! Kau benar Niichan!, tapi maksudnya apa?" tanya Naruto bingung.

"Ombak, Laut.. sepertinya itu kau." Ucap Sasori dengan sedikit ragu, Naruto yang kebingungan pun bertanya lagi ke Sasori.

"Aku? Jadi ombak itu aku? Kenapa aku?" tanya Naruto beruntun.

"Mungkin... karena warna matamu Sedalam Laut biru Naruto." Jelas Sasori. Sedangkan Naruto hanya manggut manggut, lalu mendongak lagi ke arah Sasori. "Dan Rajawali nya siapa, juga Batu Ruby itu?" tanya Naruto lagi. Sasori terdiam, dia sendiri tidak tau kemana arah mimpi Naruto itu. tapi karena tatapan memohon dari Naruto, Sasori pun menyunggingkan senyum tipis.

"Mungkin, itu hanya mimpi tanpa arti. Tidak usah dipikirkan, lagi pula seseorang akan datang kesini." jelas Sasori. Mata Naruto sedikit berbinar mendengar ucapan Sasori.

"Siapa? Laki-laki atau Perempuan?" tanya Naruto bersemangat. Sasori hanya menyunggingkan senyum tipis, lalu menoleh kan kepalanya ke arah pintu kamar Naruto. "Kita lihat saja nanti.. sebentar lagi dia-"

"Hai hai.. apa aku menganggu?" tanya seorang pria dengan perawakan tinggi dan mata merah juga rambut hitamnya yang jabrik itu yang tiba tiba melongokan kepalanya masuk melalui celah pintu kamarnya. Naruto segera terbangun, dan berteriak kencang.

"MENMA-NII!"

Sasori, dan Menma reflek menutup kedua telinga kanan dan kirinya mendengar pekikan keras Naruto. Tapi tetap saja, senyuman sumringah tidak bisa lepas dari bibir Menma. Sedangkan Sasori, hanya bisa geram mendengar pekikan keras Naruto yang kelewat kencang itu.

"Hahahaha.. kau sudah bangun ya?" tanya Menma basa basi. "Yah, sudah bangun, apa kau tidak mendengar pekikan kerasnya itu, hingga membuat telinga ku tuli." sindir Sasori tajam nan dingin. Sedangkan Menma hanya bisa tertawa renyah lagi, dan Naruto segera berbalik dan menatap tajam Sasori.

"Cih! Katakan saja kau iri!" balas Naruto tak mau kalah, sedangkan Sasori mengangkat sebelah alisnya. "Iri dalam rangka apa hah?" Tantang Sasori. Sedangkan Naruto merengut lalu membalas, "Kau iri, karena.. karena.. Ah! Sudahlah lupakan! Aku malas denganmu." Rajuk Naruto, sedangkan Sasori menyeringai lebar.

"Haha, aku-menang." Tawa yang garing, tapi sangat menyindir apa lagi dengan 2 kata terakhir itu ditelinga Naruto. Naruto yang mendengarnya tambah merengut, sedangkan Menma hanya bisa tertawa renyah lagi.

"Baik baik, tidak baik jika bertengkar dengan sesama saudara.. apa lagi kalian Kembaran."

"Aku tidak sudi menjadi kembarannya." Balas Naruto sengit, sedangkan Sasori yang mendengar itu kembali menyeringai. "Oh ya?!" tanyanya dengan nada meremehkan. "Tentu saja, kau kembaran yang menyebalkan, jahil luar dalam, dan paling pelit jika mengajari aku masalah pelajaran yang sulit!" balas Naruto kembali sengit.

Seingai di wajah Sasori tidak hilang, malah semakin bertambah. "Benarkah? Tapi, jika tidak ada aku.. siapa yang bisa membuat taruhan itu dengan Uchiha bungsu itu, dan bisa membuatmu dekat dengannya hm..?" sindir Sasori. Membuat Naruto bungkam seketika, wajahnya perlahan lahan memerah karena malu.

Menma yang melihat perubahan wajah Naruto yang drastis itu, semakin tertawa. "Wah wah.. adik kecil ku yang manja dan tombi, kini sudah menjadi gadis yang normal. Kukira kau akan jatuh cinta dengan sesama jenis, mengingat kau sendiri kelaki lakian." Sindir Menma tanpa merasa bersalah, dan mendapatkan pukulan telak dari bantal Naruto.

"Sialan kalian berdua!" makinya dengan wajah yang masih merona. Para lelaki disitu pun tertawa.

"Salahkan dirimu yang bercerita kepadaku." Ejek Sasori, Naruto menatapnya tajam. "Jika aku tau, aku menyukai Uchiha itu, mungkin aku tidak akan bercerita padamu!" balasnya tajam.

Sasori dan Menma tertegun.. sedangkan Naruto memasang wajah bodoh.

1 detik..

2 detik..

3 detik..

Sampai-

10 detik..

Mata Naruto membalak kaget, otaknya baru saja Connect.

Segera saja dia menutup mulut dan wajahnya yang sudah memerah seluruhnya. 'Bodoh! Aku sudah mengucapkan perasaan ku secara langsung kepada merekaberdua!' pekik Naruto dalam hati.

Dan bisa ditebak, Sasori dan Menma tertawa kembali melihat tingkah laku polos Naruto.

.

.

Haruno Sakura, kini sedang berdiri di sebuah balkon kamarnya. Rambut Pink-nya beserta gaun tidurnya yang rada Dewasa dan seksi itu terbang terkena angin sepoi sepoi. Kedua kelopak matanya tertutup, menikmati semilir angin sepoi sepoi tersebut.

"Hey, Uchiha Sasuke.." gumam Sakura pelan.

"Kau kira aku akan menyerah setelah kau tolak berkali kali" lanjutnya tanpa membuka mata.

"Kau itu sangat bodoh, Uchiha! Menolakku tanpa alasan, hanya karena kita berteman sejak kecil." Perlahan lahan, Sakura membuka kedua kelopak matanya.

"Kita lihat saja nanti, tingkah lakumu kepada Naruto seperti apa? Kau makin mendekat, atau akan semakin menjauh dari dirinya-

Gadis berambut Pink tersebut tersenyum dingin

-Ah, aku lupa.. mungkin kau akan semakin mendekat."

Sakura masih terdiam di tempat berdirinya yang sekarang. Kedua tangannya yang awalnya longgar, kini semakin mengeras menggegam pinggiran Balkon tersebut.

"Apa yang kau lakukan sayang?" tanya seseorang dengan suara beratnya yang secara tiba tiba merengkuh pinggang Sakura yang ramping tersebut. Senyum Sakura yang awalnya senyum Iblis, kini berubah menjadi senyum malaikat. Tanpa ragu dia menyandarkan kepalanya ke dada sang pria.

"Aku, hanya memikirkan sebuah rencana.. Gaara-kun." Panggil Sakura manja. Gaara yang tadi hanya berwajah datar, menundukan kepalanya dan menatap Wajah Sakura yang terbias dengan cahaya matahari.

"Jadi, kau benar benar akan melakukan hal itu? Bukankah denganku sudah cukup Sakura?" tanya Gaara sambil merapikan anak rambut Sakura yang berantakan. Sakura mendesah, lalu berbalik dan menatap wajah Gaara dengan sungguh sungguh.

"Aku, akan melakukannya Gaara-kun. Dan sudah kukatakan berkali kali, aku hanya memanfaatkanmu. Kau saja yang masih mau membantuku dengan imbalan aku harus melayanimu kapanpun. Dan kau berjanji akan menerima konsekuensi apapun itu. Benarkan?" tanya Sakura mantap. Gaara kembali mendesah pelan, dan membuang mukanya.

"Memang, aku akan menerima semua konsekuensi itu. Tapi tidak jika kau harus melakukan hal keji itu." ucapnya dengan suara khas nya itu. Sakura hanya kembali tersenyum.

"Setidaknya ini lebih baik dari pada tidak sama sekali." Ucap sakura dingin, walaupun senyumnya masih terpancar di wajahnya itu.

"Kalau begitu..-" ucap Gaara, dengan seringai iblis di wajahnya.

"Kau harus melayaniku semalaman, tanpa tidur dan ini adalah untuk terakhir kalinya. Karena aku harus dinas besoknya, hingga 1 tahun mendatang."

Tanpa menunggu jawaban Sakura, Pria berambut merah tersebut menggendong Sakura ala bridal style. Dan membawanya kedalam kamar Sakura –ah, maksudnya Kamar mereka berdua.

.

.

Sasori POV

"Ne, Niichan.. ayo pulang-

Ah, sudah kuduga..

-Aku sudah sehat, lihatkan? Aku bisa berlari kesana kemari." Rayu Naruto sambil berlarian didepanku. Aku hanya menatap datar Naruto. Menma, sudah lama pergi entah kemana, karena permintaan Naruto yang konyol.

"Kau tidak ingat kata dokter?" tanyaku dingin.

Naruto hanya menatapku bingung. Ah, pertanyaan bodoh! Aku lupa jika Naruto tidak bisa berbahasa perancis dan paling benci mempelajari bahasa asing selain bahasa Jepang.

"Aku kan tidak mengerti bahasa Perancis." Kilah Naruto, Aku hanya mendengus kesal. Tanganku kini bersedekap dan menatap dingin Naruto.

"Jika aku artikan? Apa kau akan tetap mendengarkanku?" tanyaku dingin. Naruto yang semula berdiri tegak, kini merubah posisinya menjadi orang yang sedang berpikir. Telunjuk dan Jempolnya berada di dagu, dan mulutnya mengeluarkan dengungan tidak jelas.

Aku kembali mendengus pelan. Jawabannya sudah sangat bisa ditebak,

"Tergantung.." Nah, kan! Aku benar?

"Cih, mereka bilang kesehatan mu belum stabil. Dan kau harus menunggu 1 atau 2 hari lagi disini." Jelasku acuh. Naruto lah yang kini mendengus. Wajahnya menyiratkan sama sekali tidak suka dengan keputusanku.

Tapi, seketika wajahnya berubah menjadi tegang, lalu kembali rileks. Aku hanya menatap datar Naruto yang berubah ubah ekspresi itu.

"Jika kau tidak mau.. aku akan melakukannya dengan caraku SENDIRI Niichan." Tekannya pada suku kata 'Sendiri'. Dia mengucapkannya sambil menyeringai iblis. Mataku sedikit membalak kaget, hanya saja itu hanya bertahan persekian detik sebelum menatap datar Naruto kembali.

"Terserah.." Ucapku acuh.

Naruto masih menyeringai. "Kau, akan menyesal Niichan.." Ucapnya dengan nada menggoda. Aku tidak menyahutinya, karena tiba tiba saja pintu kamar Naruto terbuka tanpa ada suara ketukan.

Siapa lagi yang masuk jika itu bukan Menma.

"Pesanan mu tidak ada! Aku sudak mencarikannya kemanapun. Dan tetap saja tidak ada! Jadi jangan memaksaku untuk mencarikannya lagi." Jelas Menma, tanpa celah agar Naruto tidak bisa menjawabnya. Naruto kembali mendengus.

"Kan! Sudah kukatakan! Disini tidak ada ramen, dan jika adapun pasti rasanya tidak se-enak milik Teuchi-san, yang ada di Jepang. Ayolah Niichan kita pulang! Ya? ya?"

Aku yang sudah benar benar jengah dengan segala rayuan Naruto. Memilih untuk berdiri dan keluar dari kamar ini, dan hanya memberikan jawaban singkat sebelum melenggang pergi dari kamar Naruto.

"Jika tidak, maka aku tidak akan mengijinkanmu."

Dan setelah mengatakan itu pun, pintu Kamar Naruto tertutup dengan debaman yang cukup keras.

Sasori POV's End

.

.

"OOOYY!" teriak Kiba tepat di depan wajah Sasuke. Sasuke yang dari tadi melamun, sedikit tersentak dengan kedatangan Kiba. Dia berdecak jengkel lalu bertanya ke arah Kiba dengan ketus.

"Apa?!" tanya nya ketus.

Kiba hanya bisa geleng geleng kepala, dengan wajah prihatin.

"Kasihan sekali, seorang pemuda sedang jatuh cinta kepada gadis 'aneh' yang secara tiba tiba menghilang tanpa jejak. Membuat otaknya yang terkenal jenius menjadi Blank seketika." Ucapnya dengan nada yang sok prihatin.

"Sialan kau! Mau mu apa sebenarnya? " Tukas Sasuke ketus. Dirinya sekarang benar benar Bad Mood.

"Kau ini, jika kau tidak mengubah nada bicaramu aku tidak akan memberitahukanmu tentang Naruto." Jawab Kiba, setengah mengejek. Jika tadinya Sasuke tidak merespon, maka kali ini dengan cepat dia menolehkan kepalanya ke arah Kiba dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. Kiba hanya melirik sekilas lalu berkata,

"Apa?! Kau ingin tau masalah Naruto?" Ejek Kiba. Sasuke hanya diam tidak menjawab. Dia hanya menatap Kiba tanpa berkata-kata.

"Kau ini kenapa sih? Kau ingin mengatakan kalau kau ingin tau masalah Naruto?" tanya Kiba tambah jengkel.

"..."

Sasuke hanya diam, dia terus menatap Kiba. Kiba yang lama-lama risih dengan pandangan Sasuke yang seperti 'aku-mohon' atau 'kau-seirus'.. entahlah, terlalu misterius untuk dibaca.

"Apaan sih Sas! Jangan hanya menatapku seperti itu. membuat kita itu seperti..."

Kiba sedikit mendekatkan dirinya ke arah Sasuke lalu berbisik di telinga Sasuke dengan sangat perlahan.

"...pasangan yaoi." Lanjut Kiba sangat pelan. Dan karena mengucapkan hal itu, Sasuke tiba tiba mendapatkan ide cemerlang. Dengan cepat, dia segera melayangkan tangan kanannya memeluk Kiba, dan merapatkan dirinya ke arah Kiba.

Seketika, mata Kiba membalak ngeri. Sedangkan Sasuke tersenyum menang. Keringat dingin mengalir di kedua pelipis Kiba. Dia segera berontak dari pelukan Sasuke.

"Sas! Heh, cepetan lepasin! Nanti kalo ada yang lihat gimana nih? Aku masih Normal! Oooy lepasin nggak! Atau –

"Atau apa..?" tanya Sasuke dengan volume suara yang sangat rendah, dan terdengar sangat-

-Sexy..

Bulu kuduk Kiba meremang seketika, Sasuke berbisik tepat di telinganya. Oh, tidak ! dia masih normal. Dan lagi pula, Sasuke kan suka Naruto! Atau mungkin sebenarnya Sasuke berkilah menyukai Naruto, padahal dirinya menyukai kembaran Naruto yang cukup keren itu? Namikaze Sasori?

"Sas, k-kau masih normal kan?" tanya Kiba sangat sangat gugup. Untung kelasnya masih sepi, jika ada yang melihatnya, terutama para fujoshi, tamatlah riwayat mereka.

"Cepat beritahukan, di mana Naruto." Desis Sasuke dengan seringai yang masih terpampang sexy di wajahnya. Keringat dingin di wajah Kiba semakin deras, dia tidak menyangka jika Sasuke akan se-posessive ini pada Naruto. Dengan perlahan dia berkata,

"O-oke, aku akan beritahukan mu. Tapi lepaskan pelukanmu ini, pinggangku capek bodoh!" Bisik Kiba tak kalah pelan. Sasuke segera melonggarkan pelukannya, dan Kiba langsung melepaskan diri dari pelukan Sasuke itu.

"Kau Bodoh! Naruto ada di Paris!" bentak Kiba sambil mengurut pelan pinggangnya yang terasa pegal. Sasuke hanya mengernyit.

"Di Paris? Alamatnya?" tanya Sasuke. Kiba hanya mendengus. "Dia ada di Rumah Sakit ***** karena dia sempat sakit." Tepat di akhir Kiba berbicara, Sasuke segera berdiri dan membereskan bukunya. Kiba hanya melongo,

"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Kiba bingung. Sasuke hanya mendengus, lalu berbicara tanpa berbalik. "Berangkat ke Paris." Jawab Sasuke datar. Kiba masih terdiam, dia masih loading sambil memandang Bodoh Sasuke yang sedang membereskan bukunya itu.

"Aku, pergi dulu. Jika ada yang menanyaiku katakan saja aku jalan-jalan, kemana itu terserah padamu."

TET

Loading Kiba selesai, matanya membalak lalu segera menarik tangan Sasuke dengan pandangan Horror.

"Sas, kau ke Paris tidak untuk menemui Sasori bukan?" tanya Kiba dengan nada horror. Sasuke mengernyit, "Tentu saja tidak, kau pikir aku akan menemui Kembaran Dobe itu?" tanya Sasuke dengan nada datar.

Kiba menghela nafas lega lalu melepaskan pegangan tangannya di lengan Sasuke. Sasuke bingung akan perubahan tingkah laku Kiba yang tiba-tiba itu mengernyitkan alis.

"Kau kenapa?" Tanya Sasuke bingung. Kiba hanya menggeleng pelan.

"Kukira kau tidak normal, penyuka sesama jenis. Dan kukira kau mengatakan kalau kau suka Naruto itu hanya untuk menutupi bahwa kau sebenarnya menyukai Sasori, tertanyata kau masih normal. Untunglah~" jawab Kiba Lesu.

Seringai muncul lagi di wajah Sasuke.

"Kenapa? Jika aku tidak normal, bisa saja kan aku tadi 'memakanmu'?" Goda Sasuke dengan seringai di wajahnya. Kiba segera mendongak, dan menatap ngeri Sasuke.

"Kau benar-benar GILA!" teriak Kiba, lalu segera berlari meninggalkan Sasuke keluar kelasnya.

Sasuke hanya tertawa kecil, yah.. dia gila karena tidak bertemu Naruto hinga seminggu lamanya. Dengan cepat dia meninggalkan kelasnya menyusul Naruto ke Paris.

.

.

TBC

A/N:

HUAHAHAHAHAH #capslockjebol.

Maafkan daku lagi, APDETNYA NGARET.. maaf maaf #bungkuk

Seperti biasa alasan: Sibuk, + Block writer ku kumat. #=halah. Gimana gimana? Aku sisip kan sedikit, #ehem adegan dewasa, dan YAOI SasuKiba. Dan inilho, Sasuke sudah nyusul Naruto ke Paris. Nanti bakalan ketemu nggak ya Sasuke sama Naruto? Tau kan,Naruto itu Hyper nya luar biasa disini.

Dan Thank's buat semuanya yang udah mau nunggu fanfic ini.

Hyull, Hanazawa kay, Nasyachoco, Vianka Hime, Aya-chan,
LNaruSasu, Luca Marvell, Naminamifrid, Za hime,
Akira no Shikigawa, Axa Alisson Ganger, Namikaze yondaime, Guest,
Zemiuw, Mitsuka Sakurai, Runa BluGreeYama, Joaneflo, Afifahfebri235,
Uzumaki Prince Dobe-nii, zhiewon189, Ara uchiha, Zen Ikkia, Keira Natsuka,
, Ameru-chan, Elfarizy, Dragon Warrior, Versetta, Hapaairiry, and FISIKA.

Maaf, jika ada salah penulisan nama atau terbalik atau apalah. Atau juga ada yang belum aku tulis, silahkan protes di kotak riview #modus. Wkwkwkwkwk XD. Btw, aku buat fic baru lhoh~.. yah, mungkin ceritanya abal. Tapi kalau mau dibaca ya.. dan setelah baca riview donk.. jangan loncat main Favorite aja.. nanti kayak karekter Naruto lho disitu #Promote.

Baiklah, bingung mau ngomong apa, tapi terimakasih atas semuanya. Riview dan Fave juga Follow kalian menambah semangatku untuk segera me-namatkan cerita ini, dan berlanjut ke cerita yang lain. Dan maaf juga jika banyak typo, atau apapun.. kritik dan saran membangun sy tunggu.. (:

Mind to riview? Thaks before.. :3