CAPBLOODS
Story © SA7
Naruto © Masashi Kishimoto
Chapter 15
Naruto bungkam. Atau mungkin tidak bisa berkata-kata, alias dia tidak tahu harus bicara apa.
Mereka berdua (Sasuke dan Naruto) berada dalam mobil yang di bawa Sasuke, masih di lokasi yang sama, di pantai, dengan posisi jendela Naruto yang terbuka lebar.
Sasuke menatap Naruto tanpa jeda sampai yang ditatap merasa risih sendiri (alias salting). Naruto menyentak kepalanya,
"Apasih?!" Bentaknya kesal membuat Sasuke sedikit menyeringai, wajah Naruto benar-benar tidak terkondisikan. Masih bersemu merah dan kini makin merah karena mata mereka bertatapan.
"Kau cantik." Ucap Sasuke langsung.
BLUSH
Kami-samaa, Naruto tidak tahan. Wajahnya meletup. "Rasanya aku hanya ingin menggigit pipimu yang makin merah itu kalau kau sedang malu seperti ini, Dobe." Sasuke menyeringai kecil.
Naruto buang muka. Dalam hati merutuk wajahnya yang tidak bisa kembali normal dalam waktu cepat ini.
Bagus, baguuus, sejak kapan dia pintar ngegombal? Dasar Teme sialan! Batin Naruto berteriak, antara kesal, senang, malu bercampur aduk. Sasuke menahan diri untuk tidak menarik wajah Naruto kedalam ciuman yang lama. Naruto baru pacaran, dan dirinya cinta pertama Naruto. Jadi semuanya harus perlahan atau Naruto akan kelimpungan mengikuti alur ceritanya. Jangan tanya bagaimana Sasuke bisa tahu semuanya, dia tidak sebodoh Naruto.
Dia Uchiha. Si jenius.
"Diam terus? Kau tidak ingin berkata apapun? Hubungan kita mungkin?" Sasuke memancing. Naruto menghela napas, emosinya sudah kembali tenang. Dan wajahnya pun sudah terkondisikan. Walaupun masih tersipu, tidak separah tadi.
"Baik," Naruto menatap Sasuke, "Aku bingung mulai dari mana." Sasuke menyandarkan tubuhnya, "Mungkin sebaiknya kita bicarakan disana," Sasuke menunjuk kursi yang berada di dekat pantai, "Biar kau lebih rileks, dan bisa langsung menatap wajahku." Naruto mengernyit, "Jadi kau bisa tahu, apa aku bohong atau jujur." Sasuke meneruskan.
Gentleman, walau kadang sialan juga. Naruto membatin, dia mengikuti langkah kaki Sasuke yang panjang, sedikit kuwalahan karena mereka berjalan di pasir. Angin meniup rambut Naruto yang mulai panjang.
"Oke," Naruto menarik napas. "Sejak kapan kau suka aku?" Dia langsung bertanya setelah mereka duduk berhadapan. Sasuke diam, menatap mata Naruto langsung.
"Aku tidak tahu sejak kapan, yang pasti aku sadar ketika kau hilang ke Paris tanpa kabar, dan berhasil membuatku gila menyusulmu kesana padahal besoknya aku ada wawancara promosi album, yang bisa membuatku kena hukuman oleh Aniki –walaupun aku adiknya sendiri." Sasuke mengangguk santai, Naruto melongo.
"Kau, menyusulku?" Naruto merasa dia salah dengar. Sasuke mengangguk. "Tapi aku tidak melihatmu." Naruto mengerutkan alis.
"Aku melihatmu," Sasuke menjelaskan, "Aku melihatmu di rumah sakit, dengan Sasori dan laki-laki berambut hitam." Naruto melihat Sasuke sedikit jengah dengan ucapan terakhirnya. "Yang menciummu di depan gerbang,"
Sasuke menatap tajam Naruto, "Siapa dia? Kau menyukainya?"
"Menma maksudmu?" Naruto berkedip beberapa kali, "Sepupuku yang tinggal di Amerika. Dia kakak sepupu lebih tepatnya, karena 2 tahun lebih tua daripada aku dan Sasori." Naruto menjelaskan. Ekspresi Sasuke sedikit melunak, "Kau cemburu?" Naruto bertanya.
Sasuke buang muka, "Bodoh." Naruto mengerutkan alis, "Heh, aku tanya baik-baik,"
"Menurutmu?" Naruto makin menekuk alisnya, Sasuke gemas. Bagus, level kebebalan Naruto memang sudah akut. "Yah, cemburu," Naruto mengangkat bahunya, bukan cuek, hanya memang tidak tahu harus merespon bagaimana tentang sikap cemburu Sasuke. Pria itu menghela napas besar.
"Lalu kenapa kau tidak menghampiriku ketika di rumah sakit?" Naruto makin kalem, Sasuke sedikit kaget, Naruto bisa feminim walaupun tidak terlalu kentara. Dan sepertinya si pelaku tidak sadar.
"Kau sakit apa?" Sasuke tidak menjawab, "Anemia," Sasuke mengernyitkan alis, Anemia tapi mimisan. "Kelelahan?" Naruto mengangguk. "Gadis berambut Pink itu siapa?"
"Sakura. Teman kecil tapi sepertinya dia terobsesi denganku." Sasuke mendengus. Naruto mengerti, Sasuke tampan, kaya, jenius, populer, siapa yang tidak suka? Sepertinya dia harus sering menahan diri agar tidak terbawa arus cemburu.
"Terakhir," Naruto menarik napas, pipinya sedikit bersemu merah lagi, "Apa.. kita benar pacaran?" Sasuke menatap mata Naruto, "Kau tidak mau?"
Naruto menggeleng, "B-bukan begitu, Kau tadi tidak tanya." Sasuke tersenyum tipis, "Mungkin caraku kurang tepat untuk orang yang baru pertamakali jatuh cinta dan pacaran." Sasuke pindah duduk disamping Naruto, reflek Naruto bergeser menatap Sasuke bingung. Jantungnya tiba-tiba memompa keras, lagi.
"Apa?"
"Kau mau jadi kekasihku?"
DAM
Jantung Naruto hampir copot, meledak, perutnya seketika berputar. Tidak usah jelaskan bagaimana perasaannya sekarang. Ekspresi wajahnya menjelaskan semuanya, tapi Sasuke ingin mendengar jawaban Naruto langsung dari bibir tipisnya. Menyenangkan sekali menatap ekspresinya yang seperti ini.
Beberapa detik, Naruto menahan napas, memutus kontak mata karena tidak kuat bertatapan dengan mata hitam Sasuke. Tapi Sasuke menarik lembut pipi Naruto untuk menatap kembali matanya, "Aku menunggu jawabanmu."
Naruto hampir menangis, iya dia bahagia. Ternyata seindah ini perasaan yang terbalaskan, seindah ini rasanya jatuh cinta bersama. Pengalaman pertama yang tidak akan pernah terlupa.
Naruto mengangguk pelan.
"Ya."
Tidak perlu ijin lagi –eh, dari awal memang Sasuke tidak pernah minta ijin, Sasuke merebut ciuman Naruto yang kedua. Kali ini lebih lama, Sasuke menuntun Naruto ke dalam ciumannya yang lembut dan perlahan. Dan Naruto terbuai. Sasuke menekan tengkuk Naruto, reflek Naruto meletakan tangannya di bahu Sasuke.
Ciuman mereka terlepas. Wajah keduanya bersemu, Sasuke membenturkan jidatnya ke jidat Naruto.
"Terimakasih." Naruto mengangguk tersenyum dengan sangat cantik, kebahagiaan yang tidak bisa dilampiaskan dengan kata-kata mengikat mereka berdua sekarang. Napas mereka sedikit tersenggal setelah ciuman yang panjang.
"Aku mencintaimu," Sasuke menarik Naruto kedalam pelukannya.
.
.
.
Menma menatap Sasori tajam, "Kau tidak mengatakannya ke Naruto?!" Sasori bungkam, sibuk dengan game Aspholt 9 nya di ponsel. Atau lebih tepatnya menyibukkan diri, tidak ingin menjawab. Menma gemas, mengambil ponsel Sasori kasar. Rumah Namikaze sedang sepi. Bibi Kushina dan Paman Minato sedang keluar –panggilan paman dan bibi itu dari Menma.
"Bagaimana kedua orang tuamu?!" Sasori membuang wajah. "Mereka tahu,"
"Lalu?"
"Untuk fase ini, mungkin tangan bagian kanan mulai akan terasa kebas. Tidak, tubuh bagian kanan." Sasori menjelaskan dengan suara lirih. Menahan tangis. Menma membeku, tidak mampu berkata apapun.
"Astaga," Dia menggosok kepalanya keras. Rasanya berita ini terlalu mengejutkan, tidak, terlalu mencekik, napasnya mulai tersenggal lagi. Berbeda dengan Sasori yang masih setenang-tenang dulu walaupun dalam hati badai sedang berlangsung. Dia mendongak menarik napas besar.
"Kaa-san dan Tou-san sedang ke rumah sakit." Sasori menjelaskan, "Mencari cara untuk mengatasi masalah ini."
Kemudian mereka sunyi, kedua pria itu tidak mengatakan sepatah katapun, tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.
"Aku pulang."
Suara cempreng Naruto membuat kepala mereka bedua menoleh ke pintu. Naruto melepas sepatunya kemudian menatap mereka berdua aneh, "Wajah kalian kenapa? Habis melihat hantu?"
Sasori mengangguk, "Kau hantunya." Naruto mendengus, "Untuk hari ini aku sedang baik, jadi aku tidak akan membalasmu Saso-nii."
Sasori terharu mendengar panggilan yang disebutkan Naruto barusan, "Oh, baik gara-gara ditembak Sasuke?" Langkah kaki Naruto langsung berhenti, dia menoleh cepat, Sasori menyeringai. "Benar eh?"
"Jangan sok tahu." Naruto menahan ekspresi bahagianya; tapi gagal. Sasori mengangguk paham, Menma tersenyum jahil. "Apa kau sudah berciuman dengannya?"
Pertanyaan to the point itu sukses membuat wajah Naruto merah seperti kepiting rebus. Ah, mereka berdua saling menatap, "Oh, sudah rupanya."
"Hentikan! Jangan sok tahu kalian!" Naruto meledak. Sasori dan Menma menyeringai, tertawa kecil, "Kenapa? Toh kalau kau ciuman kan bagus." Menma berdiri, "Tandanya kau sudah dewasa,"
"Lagi pula kau juga tidak menjawab 'Tidak'," Sasori menambahkan.
Kemudian Menma membisikan sesuatu di telinga Naruto, "Enak tidak rasanya bibir Uchiha itu?"
Lemparan bantal melayang langsung kewajah Menma yang membuat Sasori terbahak. Menma berteriak, dan Naruto langsung berlari kedalam kamarnya. Baguslah, suasana tegang di antara kedua pria itu seketika cair ketika berhasil membuat Naruto salah tingkah. Walaupun begitu, mereka berdua ikut bahagia, Naruto tidak bertepuk sebelah tangan.
.
.
.
Sasuke pulang dengan keadaan hati yang sangat bahagia. Melupakan sejenak masalahnya dengan Sakura. Dia melangkahkan kakinya ringan menuju studio tempat latihannya bersama grup BB nya.
"Sas," Panggilan Gaara membuat kepalanya menoleh.
"Hn?"
"Kau pacaran?" pertanyaan Gaara sukses membuat kaki Sasuke berhenti melangkah. "Kenapa?"
"Tidak, kurasa kalau memang kalian pacaran, kehidupan kisah asmara kau dan Naru akan jadi topic paling trend, sebentar lagi."
"Tak masalah." Sasuke menjawab tenang, Gaara mengangkat telinganya, kebiasaan jika dirinya sedang heran, "Kukira kau benci di kejar paparazzi." Sasuke mengangkat bahu, "Aku tidak ada niat untuk menutupi hubungan kami berdua,"
Pria itu membuka pintu studio, "Aku siap, asalkan Naruto juga siap." Gaara menahan tangan Sasuke, "Apa kau sudah membicarakan ini dengan Naruto."
Sasuke diam, "Belum."
"Kalau gitu katakan, kalian figur public, ini bukan masalah sepele untuk kau yang sudah biasa dikejar paparazzi, tapi Naruto? Tidak ada yang mengenali wajahnya sampai saat ini kecuali orang-orang KHS,"
"Dilihat dari tipenya pun, Naruto berhasil menyembunyikan identitas aslinya selama 3 tahun ini setelah digagalkan oleh kembarannya sendiri. Jadi," Sasuke mendengarkan, "Kukira kau sudah paham maksudku." Sasuke diam.
Naruto bukan orang yang terbuka.
Dia tidak suka jadi sorotan, walaupun sudah banyak yang mengenalnya. Di sekolah dikenal sebagai seorang Uzumaki, sedangkan di panggung sebagai Namikaze.
Dia welcome dengan orang baru, tapi dia bukan tipe orang yang akan mudah percaya, dan anti ribet.
"Thanks." Sasuke akhirnya mengucapkan sepatah kata, "Aku akan coba bicarakan dengan Dobe." Gaara mengangguk,
"Dan Sakura," Sasuke menoleh, "Kurasa bukan masalah besar lagi." Gaara hanya mengucapkan kata tersebut lalu meninggalkan Sasuke yang masih berdiri di ambang pintu studio latihan mereka.
.
.
.
Sakura diam dikamarnya. Untuk pertama kali cinta pertamanya menghancurkan semua mimpinya. Gadis berambut bubble gum itu hanya bisa menarik ingusnya yang sudah parah dan menangis seharian setelah menyadari, Sasuke tidak mencintainya sama sekali.
Pertemanan mereka kini berakhir.
Sasuke pergi setelah mencoba bersabar dengan semua sikap dan obsesi Sakura selama hampir 12 tahun.
Dan dia merasa, bodoh, sekaligus serakah. Oh, dia tidak serakah, tidak ada manusia yang ingin perasaannya tidak terbalaskan. Jangan salahkan Sakura yang menyukai Sasuke selama hampir 12 tahun pula. Dia tidak minta perasaan ini, mereka datang dengan sendirinya.
Gadis itu memandang foto masa kecil mereka, Sakura yang menggunakan topi baseball, dan Sasuke yang menatap datar kamera berbanding terbalik dengan Sakura yang tersenyum lebar.
Sampai detik ini, Sakura masih bingung, Sasuke bisa setertarik itu dengan Naruto, karena apa? Apa karena sikap masa bodo Naruto? Untuk ukuran gadis, Naruto bisa dibilang sangat-tidak-peduli. Bahkan terkesan tertutup dan dingin.
Dia gadis biasa, Sasuke terlalu mempesona untuk dia sangkal. Kadang Sakura merasa Sasuke memiliki perasaan special, karena Sasuke cukup gentleman, walaupun dingin. Jangan salahkan Sakura yang meleleh ini, dan jangan salahkan Sasuke yang menjalankan tugasnya sebagai seorang laki-laki yang berusaha bersikap lembut kepada perempuan, walaupun tetap dingin.
"Saki-chan," Sakura mengusap matanya, hidungnya makin merah, "Ya bu?"
"Ada Sasuke, dia menunggumu di bawah." Jantung Sakura mencelos.
.
.
.
Sebelum itu, waktu mundur sejam. Setelah percakapan Gaara dan Sasuke, pria berambut dark blue itu merasa bersalah dengan sikapnya ke Sakura.
Sakura tidak salah, perasaannya datang tanpa diundang. Sikapnya lah yang dipermasalahkan.
Sasuke menggaruk kepalanya kesal, bagaimanapun juga, Sakura sahabatnya, dia harus menjelaskannya secara baik-baik, kalau selama ini, dirinya tidak ada perasaan lebih ke Sakura, selain perasaan sahabat.
Sedih juga sih, Sakura orang yang baik, cerewet bisa dibilang, dan perhatian, berbeda dengan Naruto yang cukup cuek dan agak kasar, tapi dia tidak bisa memilih kepada siapa yang harus dia sukai.
Sakura menunggunya selama 12 tahun. Gadis itu berkorban cukup banyak, dan Sasuke masih bungkam setelah Sakura menyatakan perasaannya waktu SMP, tapi Sakura masih belum menyerah. Dia mengejar ke sekolah yang harusnya dikhususkan untuk siswa-siswi yang berkecukupan. Tidak menghina Sakura, tapi dibandingkan keluarga Uchiha, Haruno benar-benar jauh.
Sasuke mendongak menarik napas lebar. Dia memutar langkah kakinya. Menuju rumah Sakura.
Perjalanan yang tidak terasa panjang, mungkin karena Sasuke dari awal sedang merenung. Sakura penting, tapi hatinya tidak bisa berbohong dia memilih Naruto, yang dari awal sudah bersikap acuh, namun peduli.
"Bibi," Sasuke tersenyum tipis ketika Ibu dari sahabat kecilnya membukakan pintu. "Saki? Dia sedang dikamar. Masuklah." Mebuki langsung mempersilahkan masuk, "Aku akan memanggil Sakura dulu, tunggu di sini ya, atau kau mau langsung ke kamarnya?" Sasuke menggeleng pelan. Dia merasa agak sungkan setelah berpacaran dengan Naruto, masih keluar masuk kamar gadis lain.
Kini ada perasaan yang harus dia jaga.
Mebuki sedikit heran, tapi dia memilih diam, "Sejak kemarin sore dia tidak mau keluar kamar." Mebuki menjelaskan, dia menatap Sasuke dengan pandangan yang tidak bisa di artikan, "Kalian sedang ada masalah?"
Sasuke, menggaruk tengkuknya, "Ada beberapa yang harus kujelaskan kepada Sakura." Mebuki mengangguk mengerti, tidak berusaha mengorek lebih dalam lagi. Wanita paruh baya itu melangkahkan kakiknya ke kamar Sakura di lantai atas.
Beberapa menit tidak ada suara langkah kaki lagi yang terdengar, Sasuke masih mau menunggu.
Kemudian Mebuki turun, "Sasuke, kalau Sakura masih belum keluar, kau boleh langsung ke kamarnya." Ucap Mebuki langsung, Sasuke mengangguk lagi.
Hampir 10 menit tidak ada tanda-tanda Sakura akan turun. Sasuke mengalah, dia melangkahkan kakinya ke kamar Sakura di atas.
Ketukan 2x langsung di buka pintunya.
Terpampang nyata keadaan Sakura dan kamarnya yang sangat berantakan, tisu bertebaran, dan Sakura berbaring ke arah tembok kamarnya, memunggungi Sasuke.
"Pulanglah. Keadaanku sedang memalukan." Ucap Sakura tanpa menoleh. Sasuke mendengus, "Aku sudah mengenalmu 12 tahun, melihat mu dengan keadaan seperti ini sudah biasa." Sakura diam tidak menjawab
"Aku pacaran dengan Naruto."
Jantung Sakura mencelos. Ini menyakitkan. "Kau boleh saja bersikap acuh, tapi ini keterlaluan." Sakura langsung bangkit dengan tatapan marah, "Kau pikir perasaanku apa? Gampang sekali menegaskan hubunganmu sedangkan aku patah hati karena kau!" Kali ini Sakura menangis lagi.
Sasuke diam, melihat Sakura makin berantakan, dia merasa bersalah, "Maafkan aku." Hanya itu yang Sasuke keluarkan setelah diam beberapa menit.
Sakura makin patah hati, "Aku sudah katakan pergi, jangan kesini lagi." Sakura memunggungi Sasuke, air mata menetes, uh dan hidungnya makin merah karena tersumbat.
"Maafkan aku Saku, mendorongmu, dan sekarang membuatmu semakin seperti ini." Sasuke masih bergeming, tatapannya menyayu, suaranya masih tenang, dadanya ikut sakit melihat sahabatnya tersakiti gara-gara sikapnya. Tapi dia tidak bisa memaksakan perasaannya.
"Sudahlah," Sakura memilih mengibaskan tangan, "Aku harap kau bahagia." Sasuke diam, "Apa kita masih bisa berteman? Aku menyayangimu, walaupun tidak lebih dari teman."
Sakura tertawa miris, "Pulanglah." Sakura menahan napas, berusaha tidak hancur lagi.
Sakura hampir kehilangan akal sehatnya setelah Sasuke mendorongnya keras-keras di lorong, saat pulang sekolah, Gaara menjemputnya, dan mengajaknya ke tempat yang sangat tenang. Jauh dari keramaian. Dan mengatakan semuanya ke Sakura. Dia hanya gadis biasa, tidak bisa membendung perasaan sakitnya ketika Sasuke menolaknya. Tapi Sakura juga manusia, dia tidak bisa egois mendengar kenyataan yang dilontarkan dari Gaara.
"Lepaskan Sasuke, aku yakin kau akan menemukan yang lebih baik dari dia."
Ya, Sakura melepas Sasuke. Dia tidak akan mengejar, menunggu, mencarinya lagi. 12 tahun ini, anggap saja mimpi. Dan kenyataannya adalah kemarin laki-laki ini menolaknya dengan cara kasar. Sakura bangun dari khayalannya, yang terus berharap Sasuke akan membalas perasaannya.
"Dia lebih butuh dibandingkan kau Sakura."
Sakura menutup matanya, emosinya kembali stabil, walaupun masih terasa nyeri di dalam dadanya. "Kau tidak pergi." Sasuke masih berdiri di ambang pintu, "Belum."
"Pulang."
"Aku pulang," Sasuke menjelaskan, "Setelah kau mengatakan semua keluhanmu dan perasaanmu kepadaku."
Sakura tertawa sesak, "Setelah itu? Aku akan terlihat menyedihkan, aku sudah melepasmu. Harusnya kau bisa pergi, jangan membuatku makin menyedihkan lagi Sasu." Sakura mengusap air matanya, "Kau mimpi paling indah sekaligus paling menyakitkan."
"Beautiful pain memories, now you r only a memories for me." Sakura menarik napas, "Untuk pertemanan, aku rasa tidak." Sakura memutuskan, dia bangkit lagi, berjalan tanpa menatap wajah Sasuke sedikitpun.
"Kini kita orang asing." Sakura membuka pintu kamarnya makin lebar, "Sekarang, kau boleh keluar. Selamat tinggal, Uchiha-san."
Jantung Sasuke sedikit mencelos, tapi tidak bisa menolak. "Jaga Naruto baik-baik," Ucap Sakura lirih. Sasuke didorong pelan keluar dari kamar nya. Dan pintu kamar tertutup.
Untuk kisah persahabatan Sasuke-Sakura, telah tiada, jangan beranggapan Sakura kekanakan, tapi setiap orang mempunyai batas tolerir rasa sakit dan cara mengobati sakitnya masing-masing. Dan ini cara Sakura, menjauh dan memutuskan hubungan. Sakura merasa lebih baik ketika mereka seperti tidak kenal, mungkin akan rindu, tapi rindu kenangannya, bukan orangnya.
Mungkin, mereka akan berteman lagi, Sasuke masih berharap bisa berbaikan dengan Sakura, walaupun kemungkinannya hanya sekian persen saja.
.
.
.
Naruto diam, badannya lemas. "Aku lapar," ucapnya ke Menma setelah mereka bermain gitar bersama. "Kau mau pesankan apa?" Menma bertanya tanpa mendongak, "Makanan yang banyak." Menma mendengus, "Pizza pedas, Hamburger, Takoyaki, Nasi goreng, Ayam bakar. Begitu?" Naruto tertawa, "Ramen."
Seperti biasa, makanan favorit Naruto. Menma melirik, wajah Naruto memucat lagi. Keringat muncul diwajahnya, "Sakit?" Naruto menggeleng, "Tubuhku lemas."
"Kau tidak makan ramen seharian saja sudah lemas begini," Menma menggeleng, Naruto tersenyum lebar walau kelihatan sayu.
"Kupesankan delivery," Menma bangkit, mengambil telpon rumah.
Naruto hendak menyusul Menma kedalam rumah, sebelum tiba-tiba kakinya terasa kebas ketika dia berdiri, dan tubuhnya terasa lemas.
Hal terakhir yang didengarnya adalah teriakan Menma dan suara benda jatuh (telepon otomatis Menma lempar) sebelum semuanya gelap.
.
.
.
TBC
A/N:
Halo minna!
Apa kabar? Setelah beberapa tahun aku vakum dari dunia kepenulisan, aku kembali untuk melanjutkan cerita pertama ku di FFn ini ^^. Aku jujur, merasa bersalah ke kalian para readersku yang menunggu luamaaaa banget buat kelanjutan Capbloods, mohon maafkan saya yang menghilang bertahun-tahun :(
Jujur terus terang udah ada niatan untuk mendiscontinue cerita ini, tapi support dari seseorang di dunia nyata dan support dari kalian para readers yang masih nungguin membuat saya berusaha melawan semua batu yang menghadang ide untuk melanjutkan cerita ini.
Banyak respon positif yang saya dapatkan, dan saya masih bersyukur banyak yang mau nungguin FFn ini, terimakasih banyak. Tidak ada ucapan lain yang bisa saya sampaikan selain terima kasih, tanpa kalian para readers, cerita ini juga tidak akan terus berlanjut. Saya patah arang, tapi komentar-komentar dari kalian sejak eps 1 hingga sekarang membuat saya sadar, harusnya, kalo udah mulai, tanggung jawab sampai selesai. Untuk hasil akhir mengecewakan atau tidak, diserahkan aja ke tangan readers, yang penting Author udah mengusahakan semaksimal mungkin hehe. Saya juga tipe orang yang kalo sekali udah mulai, harus diselesaikan ampe tuntas. Jadi rasanya guanjel banget di hati kalo inget tanggungan ini nggak selesai-selesai, bahkan ngaret ampe bertahun-tahun, hontou ni gomenasai minna (T/-\T)
Bertahun-tahun nggak ngetik, semoga ceritanya tetep ngefeel, dan gak ngebosenin. Dan karena bertahun-tahun nggak nyentuh cerita, lebih ke focus ke kehidupan pribadi, saya jadi lebih banyak dapet sudut pandang baru, dan berusaha menyisipkan makna-makna dibalik sikap para chara sewaan yang saya pakai ini wkwkwk (walaupun nggak banyak, tapi semoga bermanfaat)
Sekian mungkin, saya nggak tahu harus bicara apa lagi. Semoga next chapter respon kalian tetap positif. Saya akan bertanggung jawab sampai akhir cerita, jadi sampai jumpa di eps selanjutnya minna!
Oh, untuk catatan, Capbloods akan saya remake tapi menggunakan karakter ori milik saya, dan setting tempat akan saya sesuaikan dengan keadaan di Indonesia. Cara pergaulan juga, karena di Indo masih banyak norma-norma tentang pergaulan remaja (alias ada batasnya) jadi ceritanya mungkin gak seterbuka di FFn yang asli (maksudnya, untuk adegan ciuman, dkk tidak akan saya tulis, kecuali untuk Rate M alias Mature :)) Capbloods versi Chara Original milik saya akan diaplot di wattpad.
Pembuatan Capbloods versi OC saya akan dimulai ketika FFn Capbloods ini selesai. Silahkan kunjungi nanti yah wattpad saya! Yaitu legnasaro.
See ya di Wattpad dan eps selanjutnya FFn MINNA-SAN! ^^
