CAP'BLOODS
Naruto by Masashi Kishimoto
Story by SA7
.
Chapter 17
.
.
.
Selamat datang kembali. Enjoy
Sasori hanya terdiam disebelah Naruto yang kritis. Dia sudah tidak bergerak sejak 2 jam yang lalu, memperhatikan saudara kembarnya yang sedang tertidur lelap dengan segala alat medis yang menempel di tubuhnya.
Rasa marah, kecewa dan tidak terima berkumpul didalam hatinya.
Ya dia sedang kacau.
Kalian pernah mendengar kalau saudara kembar ikatan batinnya lebih kuat dibandingkan saudara biasa bukan? Bahkan saking kuatnya, perasaan depresi bisa muncul ketika mereka sadar, bahwa salah satu dari mereka terlahir dengan kondisi yang cukup, mengkhawatirkan.
Rasanya untuk sekarang, menyalahkan takdir lebih mudah. Dan menyalahkan diri sendiri.
Harusnya dirinya saja yang sakit, kenapa harus Naru? Atau kenapa kami berdua tidak dilahirkan dengan keadaan sehat semuanya saja?
Ditengah kekalutannya, Menma tiba-tiba menepuk bahunya. Sasori mendongak dan menatap Menma yang sedang membawakan makanan, dan beberapa cemilan.
"Bibi dan Paman dalam perjalanan kesini, sebaiknya kau makan, lalu pulanglah dan istirahat." Perintahnya. Sasori mengacuhkan, "Hei, apa aku perlu menyuapimu?" Tanya Menma dengan wajah jijik. "Kau bukan bocah lagi,"
"Aku tahu." Sasori menjawab singkat.
Menma mendengus, dia meletakkan makanannya diatas meja dan duduk disofa, memilih menjauh dari Naruto dan Sasori yang bersebelahan. Naruto yang tidur di ranjang rumah sakit, dan disampingnya Sasori dengan setia menunggunya.
"Hentikan tatapan itu." Sasori menoleh ke Menma dengan kernyitan bingung, Menma menunjuk mata Sasori "Ya! Mata itu! Hentikan, kau bukan korban, berhentilah menatap Naruto dengan tatapan bahwa dia sebentar lagi akan mati, dan hentikan perasaan menyalahkan dirimu." Menma tahu betul apa yang dipikirkan Sasori.
Sasori mengerjap. Menma menghela napas lagi, kemudian dia mendongak.
"Naruto gadis yang kuat. Dia bahkan bisa sampai ke titik ini." Antara menyemangati dirinya sendiri atau Sasori, Menma tidak tahu. Karena dia paham akan perasaan itu.
Perasaan kehilangan kembaran.
Menma sangat memahami perasaan Sasori dimana dirinya yang terus menerus menyalahkan diri sendiri, ketika saudara kembarnya sakit semenjak mereka baru lahir. Kondisi kembaran Menma sangat lemah, namun gadis itu bertahan hanya sampai usia 15 tahun. Dan ketika itu, Naruto juga Sasori masih berusia 13 tahun.
Menma memiliki kembaran wanita bernama Konan. Gadis bersifat kalem, dan bermata sayu. Berbeda dengan Menma yang bersifat serampangan dan memiliki mata yang menyala dan tajam.
Sasori adalah Konan, dan Menma adalah Naruto.
Jika perbandingan sifat terjadi, seperti itulah mereka berdua.
Walaupun Sasori cukup jahil tidak seperti Konan, tapi Sasori tetap lebih kalem dibandingkan Naruto. Dan Menma mengerti perasaan kacau yang dirasakan Sasori, ketika mellihat saudara kembarnya semakin terpuruk.
"Apa kau tidak merindukan Konan?" Sasori tiba-tiba bertanya tanpa menatap Menma. Menma kini meluruskan pandangannya ke tubuh Sasori. Pria berambut merah itu masih menatap Naruto dengan tatapan yang sangat dalam.
"Tentu saja. Aku merindukannya." Menma menjawab lugas. "Aku tidak siap merindukan adikku dalam waktu yang panjang." Menma menatap Sasori dengan tatapan sayu, napasnya berat. Dia tidak pernah lupa dengan pesan terakhir Konan sebelum dirinya tertidur selamanya dibawah pohon Sakura kesukaan mereka berdua.
"Hiduplah dalam waktu yang panjang. Aku mengawasimu terus Menma! Karena aku kakakmu."
Menma kira itu hanya bercanda dan menanggapinya tidak serius, dia hanya membual kalau harusnya dirinyalah yang mengawasi Konan karena Konan perempuan. Tapi ternyata takdir berkata lain. Waktu itu, Menma kira Konan hanya tertidur. Ketika mereka berdua sedang piknik di siang hari. Menma membiarkan Konan tertidur dengan lelap. Namun hingga matahari tenggelam, Konan tidak terbangun, bahkan berpindah posisi.
Disitulah dirinya sadar, dia sudah kehilangan separuh jiwanya. Separuh nyawa yang datang bersamanya di dunia ini.
Tekanan sepasang kembaran yang terikat kuat, melebihi tekanan saudara biasa yang apabila mereka kehilangan salah satu dari saudaranya. Dan Menma sudah melalui cobaan berat itu selama kurang lebih 5 tahun. Dan Menma paham akan ketakutan yang dialami Sasori.
"Siapa yang bilang kau tidak akan bertemu dengannya lagi? Dia akan sembuh." Menma meyakinkan Sasori. Dia berjalan mendekati Naruto, dan mengatakannya lagi, "Ya dia akan sembuh. Dia lebih kuat dari Konan."
Sasori hanya terdiam beberapa saat, "Kuharap begitu."
.
.
.
Kepulan napas muncul dari mulut Sasuke. Pria itu menatap langit malam yang kini sedang terang benderang. Walaupun sekarang musim dingin, dia tidak berminat memakai jaket ketika sedang berdiri di balkon kamarnya.
Sudah seminggu ini dia memilih mendekam di kamarnya, tidak keluar, dan tidak melakukan apapun. Hanya diam disitu, berkutat didalam kamarnya.
"Sasuke.." Suara lembut ibunya memanggil dirinya, dia hanya menoleh ketika ibunya sudah membawa sebuah selimut tebal di tangannya. Wanita itu berjalan mendekatinya, dan menutupi tubuh Sasuke dengan selimut itu.
"Nanti sakit." Mikoto berkata pelan dan penuh perhatian, Sasuke hanya mengikuti gerakan ibunya, dan berbalik menghadap ke ibunya untuk memudahkan kegiatan Mikoto Uchiha yang berusaha mengenakan selimut tebal itu ke dirinya.
"Nah, sudah." Mikoto tersenyum menghadap ke tubuh remaja tanggung di hadapannya ini. Walaupun Sasuke masih berusia 18 tahun, dirinya memiliki tubuh yang sangat tegap.
"Sudah makan?" Tanya Mikoto, Sasuke hanya mengangguk, kemudian bertanya, "Kenapa Ibu tidak memakai jaket?"
"Hm," Mikoto menyadari dirinya juga hanya memakai baju tidur dengan lapisan jaket sweater tipisnya. "Begini sudah hangat," Jelasnya dengan senyuman.
Sasuke mendengus, tubuh ibunya yang kecil ditariknya perlahan, dia membuka selimutnya dan memeluk ibunya dari belakang lengkap menutupi tubuh mereka berdua dengan selimut.
Sasuke menyandarkan kepalanya ke bahu Mikoto. Mikoto tahu, sejak seminggu ini Sasuke tidak baik-baik saja. "Musim dingin ini katanya Cuma sebentar." Tandas Mikoto menghilangkan kesunyian. "Hn,"
"Kau tahu, ayahmu mungkin akan sering tidak pulang, katanya akhir bulan ini dia harus sering berjaga, dan juga, musim natal nanti dia akan merayakannya sedikit terlambat dirumah. Mungkin sekitar jam 11." Cerita Mikoto lagi.
"Hn," Sasuke merapatkan pelukannya, mendadak dia teringat sesuatu. Sesuatu yang sangat dirindukannya dan membuatnya ketakutan sekaligus. "Kau tidak lelah memeluk ibu seperti ini? badan ibu kecil."
"Iya badan ibu kecil," Suara Sasuke mendadak parau. Mikoto terdiam. Sasuke menempelkan dahinya ke bahu ibunya, "Sangat kecil. Pendek, dan juga cerewet." Mikoto menafsirkan bukan dirinya yang sedang dibicarakan Sasuke.
"Apa kau benci kalau ibu cerewet?"
Sasuke menggeleng, "Tidak." Dia menarik napas panjang, "Aku menyukainya."
"Tapi kau mengeluh," Ibunya mengelak, "Aku mengeluh karena aku menyukainya." Sasuke tersenyum kecil di bahu ibunya. "Dulu tinggimu hanya sebatas pinggang ibu," Mikoto berbalik, dan menatap mata Sasuke yang basah, "Sekarang kau sudah setinggi ini, melewati tinggi ayah dan kakakmu."
Mikoto mengusap air mata Sasuke. "Kau merindukannya?"
Tidak ada jawaban dari mulut Sasuke, namun matanya menjawab pertanyaan itu. Wanita setengah tua itu menusap ujung bibir anaknya yang masih meninggalkan bekas setelah dipukul oleh Sasori.
"Apa ibu pernah ketakutan kehilangan Ayah? Ketika bertugas?"
Pertanyaan spontan Sasuke menghentikan gerakan Mikoto. Dia menatap Sasuke, "Tentu, setiap hari." Mikoto tersenyum, "Ayahmu seorang polisi, pekerjaannya sudah harga mati untuk dirinya, karena hidupnya sudah dijamin untuk menjadi abdi negara. Dan membantu memberantas segala kekacauan/ yang terjadi, menangkap pelaku kekacauan dengan taruhan nyawanya."
"Kenapa ibu tidak ingin melarikan diri saja? Mencari laki-laki lain yang pekerjaannya lebih aman dibandingkan dengan ayah?"
Mikoto sedikit tertawa renyah, "Kau ingin ibu meninggalkan ayah?" Sasuke sedikit menghela napas, pertanyaan nya memang cukup bodoh untuk saat ini. Dan dia sadar hal itu.
"Tidak pernah terpikirkan oleh ibu." Mikoto melepaskan diri dari pelukan selimut Sasuke, dan merapatkan selimut itu untuk Sasuke lagi, "Kalau dipikir-pikir, ibu sudah terlalu mencintai ayahmu. Kematian memang membayangi pekerjaan ayahmu. Tapi karena itulah ibu semakin ingin bersama ayahmu. Setiap detik bersama ayahmu, adalah hadiah yang sangat berharga bagi ibu. Ibu tidak tahu, kapan ayahmu tiba-tiba kehilangan nyawanya. Bisa jadi setelah baru saja ibu tertawa dengan ayahmu, beberapa menit kemudian ayahmu sudah tidak ada di dunia ini…"
Mikoto sedikit merenung, dia kemudian melanjutkan "..waktu ibu singkat untuk mencintai ayahmu, begitu pula ayahmu, maka dari itu, kami berdua selalu melakukan yang terbaik untuk menunjukkan cinta kami, agar tidak ada penyesalan ketika salah satu dari kami pergi meninggalkan dunia ini."
Senyumnya menutup petuahnya. "Tidak ada yang tahu tentang umur dan kematian, selagi masih bisa bertemu, maka tunjukkanlah sebesar apa perasaanmu. Cinta bisa mengalahkan dimensi. Bahkan jika dia tidak bisa mendengar dan melihat, dia bisa merasakan. Itu cinta sejati yang ibu pahami."
Wajahnya sedikit bersemu merah, antara malu dan dingin yang mulai membeku. "Ah ibu seperti anak muda yang jatuh cinta sekarang." Sasuke tidak berekspresi, kata-kata ibunya seperti ilham untuk dirinya yang baru saja rasanya ingin berlari, dan menghilang.
"Aku yakin Naruto akan merasakan perasaanmu, walaupun dia tertidur sekalipun." Mikoto tersenyum ke Sasuke. "Nah sudah malam, ibu masuk dulu, sebentar lagi ayahmu pulang. Ibu mau menunggunya di bawah." Sasuke hanya mengangguk.
Dia menatap punggung kecil ibunya yang menghilang dibalik pintu kamarnya.
Diluar itu, Itachi sedang menunggu ibunya didepan pintu kamar Sasuke. Anak sulung Uchiha itu menatap ibunya dengan tanda Tanya, dan ibunya tersenyum menjawab pertanyaan Itachi.
Kegelisahan Sasuke terjawab.
Seminggu ini dia hanya bisa terdiam dengan kondisi Naruto yang sudah kelewat kritis. Dia tidak ingin bertemu dengannya lagi karena tidak siap jika terjadi sesuatu dengan Naruto dihadapannya. . .siap.
Sungguh ironi, bocah dingin yang angkuh ini berhasil dikalahkan hanya dengan ketakutan akan kondisi Naruto. Tapi memang sebuah hal yang pasti, tidak ada manusia yang siap akan kehilangan.
Sasuke menyadari mobil ayahnya sudah masuk ke halaman rumahnya, dia melihat ibunya yang berjalan menuju mobil ayahnya. Beberapa detik kemudian ayahnya keluar, mereka saling menghampiri, dan kemudian berpelukkan beberapa saat. Fugaku merangkul Mikoto dan mengajaknya masuk kedalam rumah.
Hm, kalau diingat-ingat juga, selama seminggu mendekam dikamar tidak keluar kemanapun, membuat pekerjaan Itachi menjadi sedikit lebih mudah. Kakak nya sedang meredam kekacauan yang terjadi karena Sasuke dan Naruto minggu kemarin. Topik Sasuke masih hangat, dengan siapa dia berkencan?
Sasuke menarik napas. Dia memutuskan untuk menemui Itachi di kamarnya.
Dia mengetuk pintu kamar Itachi, dan tanpa menunggu perintah dia nyelonor masuk. "Nii-san." Itachi mendongak dan menatap Sasuke, "Hn?"
"Aku ingin melakukan wawancara."
.
.
.
Sasori sedang memilih minuman di mesin minuman bersama ayahnya, pria yang memiliki fisik mirip Naruto itu juga ikut memilih, "Aku ingin cola." Sasori mengangguk, dia memasukkan selembar uang lagi dan memilih cola sesuai keinginan ayahnya.
Mereka berdua memutuskan untuk duduk di balkon diluar kamar di rumah sakit. "Kau tidak pulang?" Minato membuka percakapan.
"Nanti," Sasori menjawab singkat.
Minato menatap wajah anaknya yang kini beranjak dewasa itu. Sasori merupakan anak yang pendiam sejak awal, berbeda dengan Naruto yang berisik, Sasori lebih banyak meniru sifat dirinya yang kalem dan sedikit murah senyum.
"Jangan menyalahkan diri sendiri ya." Minato berkata tanpa menatap Sasori. "Ayah tahu, kau selalu berusaha untuk bertanggung jawab dengan penyakit Naruto. Tapi itu diluar kemampuanmu. Dan itu bukan kesalahanmu, jika Naruto tiba-tiba sakit lagi."
Sasori menoleh menatap ayahnya yang masih menatap lurus kedepan, "Naruto anak yang kuat. Kau tahu itu kan?" Mata hazel dan blue shappire itu saling bertabrakan, tidak ada yang akan menyangka bahwa mereka berdua adalah ayah dan anak kandung.
"Kali ini dia pasti bisa melewati semuanya lagi." Sasori tahu, perkataan itu bukan untuk dirinya. Melainkan untuk Minato sendiri.
Minato hanyalah seorang pria biasa, seorang ayah yang hanya mengharapkan yang terbaik untuk anaknya. Tidak ada orang tua yang kecewa ketika mengetahui anaknya memiliki sakit parah yang sewaktu-waktu bisa merenggut nyawa mereka.
Tetapi, ayah tetaplah ayah. Seburuk apapun kondisi hatinya, seluruh keluarganya menatapnya dan bergantung kepadanya. Maka sesulit apapun itu, dia harus tampak lebih tegar dibandingkan dengan yang lain. Walaupun bisa saja dia juga yang paling hancur dibandingkan dengan yang lain.
Dan perkataan barusan hanya untuk menghibur dirinya dari segala kekhawatiran yang kini menerpa dirinya lagi, ketika melihat satu-satunya anak perempuannya sedang bertarung lagi dengan kematian.
Sasori menyadari betapa buruknya perasaan ayahnya sekarang tidak mengatakan apapun. Walaupun dia sendiri mengalami kekhawatiran yang cukup parah, dia berusaha untuk menyetujui ayahnya, "Ya, dia pasti bisa melewati semua ini." Untuk meringankan perasaan ayahnya dan juga perasaannya.
.
.
.
"Aku tidak bisa menyetujui itu langsung." Itachi menolak permintaan Sasuke. Dia melepaskan kacamatanya.
"Kau tahu sendiri, privasi adalah segalanya untuk Naruto." Itachi menatap lurus Sasuke yang sedang berdiri didepannya, dia menautkan kedua tangannya, "Dan aku menghormati hal itu."
"Aku akan berbicara dengan Sasori." Itachi menghela napas, "Melihat kau yang langsung di pukul dengan Sasori, kurasa dia akan menolak lebih keras lagi tentang hal ini. Dia pasti ingin Naruto nyaman."
"Aku tidak akan mengatakan bahwa dia seorang artis terkenal." Sasuke bersikeras. "Tapi justru karena itu akan semakin berbahaya bukan? Fans mu lumayan fanatic, jika kau membeberkannya, aku khawatir dengan keselamatan Ryu –maksudku, Namikaze Naruto."
"Aku hanya ingin menunjukkan bahwa aku sudah memiliki kekasih. Dan kejadian kemarin sudah cukup bagus sebagai pemicunya, aku tidak bisa melarikan diri."
Itachi menatap Sasuke lama, "Beberapa kontrak melarang kau memiliki kekasih atau kontrak akan batal dan kau akan membayar denda karena hal itu."
Kontrak konyol. Sasuke bukan seorang artis baru, dia sudah cukup lama berkecimpung didunai enterteiment. Dan kehilangan 1-2 kontrak bukan hal besar untuk dirinya. "Ya tidak masalah."
"Anggota Ice Bloods tidak bertanggung jawab akan denda itu. Kau siap?"
Sasuke menarik napas panjang, "Ya aku siap."
