Disclaimer : Masashi kishimoto
Baby breath by R-daisy
Rate M for safe.
Warning : AU, OOC, Crackpair, Gaje, Typos, terkadang tidak sesuai EYD, slight Sasusaku etc.
DLDR!
Summary...
Hinata adalah gadis sederhana yang suka ketulusan. Kedamaian adalah jalan tempuhnya. Lalu menjadikan cinta sejati sebagai impiannya.
Tapi untuk hidupnya sekarang, Hinata tak menuntut cinta karena sadar pernikahannya sebuah keterpaksaan. Dia juga tak menuntut soal uang.
Bukan berarti dia diam saja jika diperlakukan seperti buangan. Jadi pandanglah dia sebagai istri sah, walaupun posisinya sebagai istri kedua itu tak diinginkan.
Daun-daun telah jatuh dari tempatnya, angin malam menyentuh pipinya yang memerah, Hinata yang pulang telat malam itu tersadar bahwa musim gugur berjalan ke arahnya.
Dan kala kaki lunglainya masuk ke dalam rumah, Hinata hanya tahu tak bahwa cuma kepala pelayan yang menyambut kepulangannya. Senyuman mencoba hadir di hari beratnya, namun saat Hinata mengangkat kepala, manik bulannya menangkap suatu yang tak biasa.
Sosok yang tak pernah sangka datang menyambutnya, kini tengah duduk manis di ruang tengah. Hinata lantas terperangah.
"Sasuke-kun?" Hinata berbisik tak percaya.
Pria itu telah datang. Di ruang ini Sasuke tengah sibuk dengan meja telah dipenuhi oleh kertas dan laptop. Saat Hinata memanggilnya lagi, Sasuke sontak melepaskan kacamata bacanya, kertas yang dipegangnya pun lantas ditaruh kembali.
"Tak biasanya kau pulang jam segini, Hinata?"
Bukannya menjawab, Hinata malah menunduk malu, "Maaf."
Lagi, Hinata meminta maaf bukan pada tempatnya. Sasuke mendesah, ia tak bermaksud menekan. Ia kemudian meminta wanita itu untuk duduk di sampingnya. Setelah lama tak berkunjung, ia malah berharap Hinata akan marah padanya. Namun, seperti biasa, yang terjadi justru sebaliknya.
"Aku cuci muka dulu!" serunya bersemangat.
Hinata langsung bergegas ke kamar. Senyuman bersemi di waktu yang aneh. Entah darimana suasana hati senang itu berasal? Yang ia tahu ia senang melihat kehadiran Sasuke. Sasuke pemicu debaran di jantungnya.
Selang beberapa menit setelah membenahi dirinya, Hinata bersegera menemui Sasuke. Layaknya reaksi anak kecil setelah diiming-imingi hadiah, Hinata duduk manis seperti yang diperintahkan tadi.
Sejenak mereka saling bertatapan. Hening, hanya suara jarum jam yang menemani. Tiba-tiba jantungnya berdebar-debar. Dia menyadari, hampir dua minggu ini mereka tak saling bertatap muka.
Hinata menunduk gugup seraya memilin jari-jemarinya, "Kau datang?"
"Hn, kau memintanya." Bohong.
"Tapi, ini bukan giliranku... Bagaimana kalau Sakura-san marah?"
Sasuke mendengus tak suka. Hinata selalu mengutamakan orang lain di atas dirinya. Bisakah ia bersikap egois, walaupun itu sedikit.
"Bukankah sudah kubilang... Jangan bicarakan Sakura saat kita sedang berdua! Haruskah aku mengingatkan kembali?"
"Maaf."
Hinata menunduk lagi sedangkan Sasuke mengusap wajahnya.
Sebenarnya Sasuke memang berniat menemui Hinata. Lalu ketika Hinata mengirimkan pesan sekian lama, jujur Sasuke merasa sungguh senang. Dengan segala laporan yang diterimanya beberapa hari kebelakang tentang Hinata, betapa khawatir dirinya. Di mulai dari Hinata yang lebih sering mengurung diri di dalam kamar, porsi makan yang berkurang, penguntit yang hampir tiap hari membuntutinya hingga beberapa surat ancaman yang di alamatkan langsung ke rumah, Sasuke tahu semua. Termasuk Hinata yang pergi ke psikiater dan kantor polisi sendirian.
Mengetahui ini semua, Sasuke merasa tak berguna. Di tambah Hinata belum menceritakan sendiri apa yang dialaminya. Ini menjadi berat sebelah. Dia telah gagal menjaga Hinata. Padahal ia sudah berjanji. Di samping itu semua, bersikap adil tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Dia belum bisa memilih mana yang penting untuk didahulukan.
Ini semua berawal dari pesta ulang tahun perusahaan. Sasuke tidak menyangka situasinya makin buruk. Baik Hinata atau Sakura mengalami hal yang buruk. Dirinya pun juga kena imbas. Ayahnya selalu membuatnya sibuk tiap hari, ini seakan membuat ayahnya ingin menjauhkan dirinya dari kedua istrinya.
Sasuke berfirasat bahwa semua masalah itu dilatarbelakangi oleh ayahnya. Jika itu benar, dia sungguh kesal. Ini mengacaukan harinya. Sudah dibuat lelah oleh pekerjaan, Fugaku juga telah mengacak rumah tangganya. Ia jengah, sebenarnya pria tua itu apa sih maunya?!
Hari ini pun Sasuke rela pulang sore agar bisa melihat kondisi Hinata dengan mata kepalanya sendiri. Ia lantas mengepal erat tangannya. Memandangi air muka istrinya, wajah Hinata yang senantiasa bercahaya bak rembulan kini telah tertutup awan.
Dia tak suka apa yang menjadi miliknya dirampas.
Lantas dengan kesadaran tangannya terangkat. Ibarat meraih buah yang ranum, Sasuke perlahan mengiring wajah istrinya ke arahnya. Meniti seksama di setiap sudut, berharap tak ada yang hilang atau cacat. Sialnya, sorot mata favoritnya menghilang, di mana tatapan itu penuh dengan harapan kepadanya. Cahaya mata itu memudar, tak bersinar. Sasuke merindukannya.
Sementara itu, Hinata mencoba menghindar. Dia tak sanggup menatap balik. Jika saja ia berani meliriknya, maka air matanya yang ditabungnya mungkin akan tumpah. Meskipun ia punya sikap kuat sebesar gunung itu pun tak akan berguna jika dia sendirian. Persetan, bagi orang yang bisa mengatakan bahwa dia tak membutuhkan sosok lain dalam hidupnya. Bahkan bumi saja membutuhkan bulan di malam hari. Begitu pun dengan dirinya.
Sekeras apapun tangisannya di malam hari, seberapa banyak dia terbangun setelah tersandung di perjalanan, manusia tetaplah makhluk yang rapuh. Seperti halnya menjadi kuat, manusia butuh alasan dalam perjalanan hidupnya. Sumber itulah yang membuat manusia terus berjalan.
Tuhan pasti telah memberinya petunjuk di suatu tempat, namun Hinata tak bisa sendirian menemukannya. Seperti seorang pengembara, ia pun butuh peta untuk bisa sampai tujuan. Jika mampu berjalan sendiri, bisa-bisa ia tersesat dan terjatuh ke dalam lubang. Hingga akhirnya membuang hidupnya dengan bunuh diri.
"Hei, lihat diriku Hinata!" Sasuke memanggilnya lembut. Memegang wajah Hinata dengan kedua tangannya yang besar lalu mengelus pipi itu dengan ibu jarinya.
Meleleh oleh perlakuan lembut pria itu, Hinata menurut. Memandang wajah Sasuke dengan kekhawatiran besar akan air matanya yang takut keluar. Akan tetapi, Hinata hampir menahan napas saat tahu jarak wajah Sasuke terlalu dekat.
"Kalau kau ingin cerita... aku siap mendengarkannya."
Sasuke ingin mendengar langsung darinya. Berharap Hinata meminta pertolongannya.
"Aku..." Hinata masih ragu.
Biarpun dia sudah bercerita banyak dengan psikiater, namun wanita itu bilang kalau saat ini dia butuh seseorang untuk selalu berada di sisinya. Hinata merasa skeptis. Atau mungkin selama ini dia belum sepenuhnya mempercayai Sasuke.
Bagaimana pun hidupnya kini juga bagian hidup pria itu. Sebagai suami, dia juga punya hak untuk mengetahuinya. Sebaliknya, dia juga punya hak sebagai istri. Dia butuh perhatian dan cinta. Namun, Hinata tak akan menuntut soal itu, karena hal itu tak bisa dipaksakan.
Cukup lama mereka terdiam, hingga suara Matsuri memecah kesunyian. Seketika bau kopi menyeruak mengalih perhatian mereka.
"Tuan, ini minumannya." Ujar Matsuri yang malu mendapati momen keintiman tuan rumah.
"Hn." sahut Sasuke yang terganggu seraya menerima minuman itu.
Hinata sontak menjauhkan diri. Pipinya merona. Lalu menatap gadis itu untuk mengalihkan diri.
"Matsuri-chan, kau belum tidur?" Tanya Hinata yang menyingkirkan kecanggungan.
"Belum, Nyonya."
"Beristirahatlah..."
"Baik Nyonya."
Hinata tersenyum simpul saat melihat kepergian sang pelayan. Lalu tangan Sasuke yang sibuk merapihkan dokumen itu menarik perhatiannya. Dia kemudian mendengar Sasuke berbisik kepadanya. Saat berbicara suara itu menggelitiknya.
"Pergilah ke kamar duluan, aku akan segera menyusul."
Hinata mengangguk dan beranjak dari tempatnya. Setelah itu dia tersadar, matanya melihat sebuah paket yang tergeletak di meja di sudut ruang. Meja tempat biasa para pelayan menaruh segala surat-surat dan paket untuknya.
Tapi yang anehnya, paket itu disertai setangkai mawar merah layu yang warnanya memudar. Di tambah, samar-samar Hinata mencium bau tak sedap. Dia meneguk ludah canggung. Lalu menatap ke belakang, berharap Sasuke segera menyusulnya. Ragu-ragu, Hinata membuka paket itu. Detak jantungnya bergemuruh. Seketika paket itu terbuka, mata Hinata terbelalak horor melihat isinya. Tersentak melempar, Hinata menutup hidungnya. Bau busuknya semakin terasa setelah paket itu terbuka. Di saat yang bersamaan pula, Sasuke akhirnya datang. Wajah pucat Hinata tertangkap oleh retina gelap pria itu.
"Hinata?" memanggilnya heran.
Seraya menggeleng keras, di saat itu juga Hinata berlari menuju toilet.
"Hinata!"
Sasuke ikut panik.
Namun tiba-tiba bau busuk menyita niatnya untuk menyusul. Sontak dia turut menutup hidungnya. Manik gelap Sasuke tak lama terbelalak. Di kotak paket itulah Sasuke melihat bangkai tikus yang mulai digerogoti oleh belatung.
Di gelapnya malam yang makin larut, kelopak mawar yang telah layu itu terlepas dari tempatnya. Di awal musim gugur itu, mereka merasakan tekanan itu, sementara angin diluar terbang dengan kencang.
Lalu di sisi lain, di sebuah ruangan di kantor polisi, seorang pria tengah berkuncir kuda menghisap rokoknya dengan nikmat. Dia menyeringai dengan percaya diri. Bukti yang dikumpulkannya telah banyak.
"Kali ini kau tak akan lepas Pak tua! "
Flashback
Di koridor yang begitu panjang Hinata berjalan cepat. Tak biasanya Madara menunggu di tempat favoritnya —rumah kaca. Biasanya kalau ada perlu dengannya, Madara selalu meminta datang ke ruang kantor pribadinya, tapi kali ini pria itu menunggu di tempat biasa Itachi dan dirinya berkebun.
"Kenapa kalian hanya menanam bunga matahari?"
Hinata tersenyum seraya memposisikan dirinya di dekat pria itu. Ini adalah hobinya Itachi.
"Kak Itachi sepertinya lagi suka bunga matahari,"
Kini mereka saling berhadapan. Madara sejenak mengenang. Dengan kaca yang semakin tebal pada kacamatanya, Madara masih bisa melihat wajah gadis itu. Semakin tumbuh semakin dewasa pula parasnya. Bukan hanya fisik saja, di bawah asuhannya selama 12 tahun, Hinata menjelma menjadi wanita yang anggun dan tenang.
Masih segar di ingatannya saat pertama kali bertemu Hinata di panti asuhan. Dulu dia kira klan kecil Hyuuga telah punah, namun siapa sangka dia menemukan satu seusai mengetahui keberadaan Itachi. Wajah itu dan warna matanya adalah perhatian utamanya. Hinata kecil mirip sekali dengan wanita yang dicintainya. Apalagi dengan penampilannya yang sekarang, bisa di bilang kalau Hinata adalah bentuk copy-paste dari wanita itu.
Dahulu seumur hidup Madara, baru pertama kali inilah dia jatuh cinta pada wanita muda yang umurnya tak jauh dari Fugaku. Sosok yang sebenarnya lebih pantas dipanggil sebagai putrinya dibandingkan kekasih gelap. Juga, sosok yang dilarang dicintainya. Sesosok wanita itu telah memiliki suami. Hyuuga Hitomi.
Uchiha Madara memang sudah gila, namun ia tak peduli.
Sebelum benar-benar mengadopsi Hinata, Madara menelusuri latar belakangnya. Berkat kejadian beberapa tahun yang lalu, klan Hyuuga dikenal sebagai klan yang dikutuk karena pembantaian oleh putranya. Sehingga tak ada satu pun orang mau mengadopsinya. Dari laporan yang ia terima, Hinata tinggal di panti sejak dirinya masih balita.
Tanpa berpikir lama-lama, Madara langsung mengajukan proposal untuk mengadopsi gadis kecil itu. Walaupun butuh waktu yang lama untuk membawa Hinata, setidaknya kini ia merasa puas. Dia tak menyesal. Hinata membawa kebahagiaan tersendiri untuknya.
Lalu Madara mengeratkan mantelnya, semakin berumur tubuhnya semakin lemah dan mudah sakit. Dia benci itu.
"Aku sudah terlalu tua." ujarnya yang menepuk punggungnya.
Hinata menatap lekat wajah pria tua itu. Dengan keriput di wajahnya, dan tubuh yang masih bugar di usia senjanya, pria tua itu masih tetap tampak menarik. Kemudian Hinata menuntun pria itu duduk di salah satu kursi panjang yang tak jauh dari mereka.
"Tapi menurutku... Kakek masih tetap menawan."
Madara tergelak tawa, sedangkan Hinata tersenyum mendengarnya. Itu tawa yang tak pernah ia perlihatkan selain pada orang terkasihnya.
Lalu mereka terdiam, menatap dalam bunga matahari yang tertata rapih. Mereka menghadap penuh bangga pada matahari sang tata surya —sumber kehidupan. Sekarang minggu akhir musim semi, dan suara ngengat mulai terdengar.
"Berapa umurmu tahun ini, Hinata?"
Hinata terdiam. Jika orang lain yang bertanya mungkin dia akan tersinggung. Agak malu menyebutkannya. Tahun ini umurnya akan menginjak 25 tahun. Bila rata-rata anak seusianya memilih tinggal sendiri, dia masih tinggal dengan orang tua. Dia hanya tak bisa meninggalkan Itachi dan Madara begitu saja. Karena Hinata bukan gadis pada umumnya.
"Tahun ini jalan 25, Kek."
"Ah..." Madara mengangguk-angguk. Waktu berjalan cepat.
Dari samping, Hinata bisa melihat pikiran Madara seperti menerawang ke suatu tempat. Gadis itu penasaran kenapa tiba-tiba Madara menanyakan umurnya? Apakah dia akan diusir? Sampai detik ini pun Hinata masih bingung jalan pikir pria itu. Benak Hinata mulai sedikit khawatir.
"Apa sekarang kau punya pacar?"
Hinata terdiam, lalu memainkan jarinya. Hal yang pantas jika orang tua menanyakannya, sedangkan dia sendiri tak punya waktu untuk berkencan. Hampir seluruh waktunya dihabiskan bersama Itachi. Lagipula di pulau kecil ini, tak banyak anak muda seumurannya. Kebanyakan dari mereka langsung merantau ke kota-kota besar begitu lulus sekolah. Hanya para orang tua dan beberapa anak-anak kecil yang mengisi pulau ini.
"Kalau tak punya... Maukah kau menikahi Itachi?"
Kini pria tua itu menatapnya. Hinata tercenung. Kala mengatakan hal itu, Madara seperti membagi sebagian beban yang ia pendam selama ini.
"Aku tak bisa menjaga Itachi selamanya. Menyerahkan pada adiknya pun tidak berguna."
Madara mengambil kedua telapak tangan Hinata. Tangan dulu yang mungil itu kini hampir penuh di tangan besarnya. Ia menatap Hinata penuh harap. Madara hanya ingin mati dengan tenang tanpa meninggalkan jejak kekhawatiran.
"Jangan bicara seperti itu Kek!"
Hinata menggeleng keras, dia takut. Pria tua itu berbicara seolah kematian akan menjemputnya esok, "Aku akan menjaga Kak Itachi. Aku akan melindunginya. Aku janji!"
Madara menepuk tangan Hinata seraya tersenyum, "Aku tahu itu. Hanya kau yang bisa, Putriku." Maafkan aku membebanimu.
Sejenak Hinata menahan napas. Dulu sekali, saat pertama kali mereka bertemu, Madara memandangnya seperti ini. Pandangan yang seolah merengkuh dirinya. Begitu lembut, yang membuat kehadirannya di dunia ini adalah sumber kehidupannya.
"Hanya saja aku merasakan tak punya banyak waktu untukku berdiri di masa depan."
"Kakek..."
Hinata bergemuruh sedih. Pria itu mengusap kepalanya dengan lembut. Ia hanya ingin Itachi dan Hinata aman setelah ia meninggal. Ia telah mempersiapkan segalanya, termasuk membagi sebagian harta warisannya kepada mereka berdua.
"Untuk itulah, nikahilah Itachi jika kau ingin melindunginya."
Hinata diam seribu bahasa. Yang dibicarakan oleh Madara terbilang masuk akal. Dia sudah membayangkan apa yang terjadi pada mereka setelah Madara meninggal. Mereka berdua otomatis akan di depak dari kartu keluarga. Mengingat Hinata hanya punya pegangan untuk dirinya sendiri, mereka berdua akan terlunta-lunta di jalan sementara Itachi sendiri masih harus bolak-balik rumah sakit karena masalah jantungnya.
Sasuke bisa saja mengambil alih asuh kakaknya dan memisahkan mereka, namun hal itu tak akan mudah karena ayahnya adalah penghalang terbesar. Apalagi istri Sasuke yang tak pernah ditemuinya, tak pernah sekali pun bertatap muka dengan Itachi. Jika tantrum Itachi kambuh, ia tak akan bisa dibujuk oleh siapa pun selain mereka bertiga. Pernah dulu Madara mempekerjakan beberapa baby sitter khusus, namun tak satu pun ada yang sanggup mengurusnya. Jadi kemungkinan akan sangat sulit untuk istri Sasuke berinteraksi dengan Itachi tanpa bantuannya atau Sasuke.
Hal itulah yang tak diinginkan Hinata. Kepergian Madara akan berdampak buruk yang besar bagi mereka. Ini membuatnya sangat sedih. Kalau boleh egois Hinata tak mau ditinggalkan oleh Madara. Biarpun pria tua itu kejam namun Hinata sangat menyayanginya dan menganggap sebagai ayah kandungnya sendiri. Pria itulah yang membuat Hinata seperti sekarang ini. Jasanya tak akan pernah bisa dibayar dengan uang.
"Tapi tenang saja, aku tak menyuruhmu menjawabnya sekarang," ujar Madara setelah membuyarkan lamunannya.
Kelopak mata Hinata berkedip-kedip —hampir menangis, Madara telah melepaskan pegangan tangannya.
"Aku akan menunggu."
Meskipun ini terdengar paksaan, tanpa dijelaskan pun Hinata mengerti. Ia bisa saja menerima pemindahan alih asuh itu, tapi sampai seberapa lama ia sanggup.
Ia memang berjanji akan mengabdi menjaga Itachi seumur hidup. Dia sangat peduli dengan Itachi. Baginya Itachi adalah sumber kekuatan hidupnya.
Lambat laun ketika menjalani kehidupan bersama di atap yang sama, kepedulian itu berubah menjadi rasa kasih sayang. Dia merasakan hal yang beda kala bersama Itachi, sehingga dia berani mengatakan kalau dia rela menghabiskan hidupnya bersama Itachi. Perasaan itu begitu murni sehingga Hinata tidak akan menuntut balas kasih dari Itachi.
Gadis itu hanya tahu, Itachi juga peduli padanya. Seperti halnya dua magnet kutub utara dan selatan, mereka seolah tak terpisahkan. Mereka saling melekat satu sama lain.
Namun hidup pun tiada yang tahu. Mengatakan janji mungkin lebih mudah dibandingkan melaksanakannya. Bagaimana jika di tengah perjalanan hidup, ia jatuh cinta pada orang lain? Dan yang lebih buruknya, bagaimana kalau orang yang dicintainya tersebut tak mau menerima keberadaan Itachi? Atau justru Itachi yang tak mau berkompromi dengan orang asing?
Hinata bisa saja selamanya tak menikah.
Namun sekali lagi, masa depan itu tak bisa diraba. Itu mungkin bisa dibayangkan atau direncanakan. Hanya saja, sekukuh apapun niatnya, sekeras apapun usaha, dan sekalipun hal itu sudah di depan mata, jika Tuhan telah berkehendak, maka manusia tak mampu berbuat apapun.
Bukan berarti semua itu adalah sebuah kesia-siaan. Secerdas apapun manusia, nalar itu tak akan mampu menjangkau-Nya. Justru Tuhan sangat mencintai umatnya yang berusaha dan bersabar. Do'a pun hadir sebagai pemicu, sedangkan manusia adalah makhluk yang keras kepala. Selama manusia punya tekad untuk maju, maka tak mustahil perubahan itu bisa terjadi.
Mungkin hal itu terjadi juga pada Hinata. Ia hanya bisa berdoa, semoga saja Tuhan tak memisahkan mereka hingga maut menjemput.
