Disclaimer : Masashi kishimoto
Baby breath by R-daisy
Rate M for safe.
Warning : AU, OOC, Crackpair, Gaje, Typos, terkadang tidak sesuai EYD, slight Sasusaku etc.
DLDR!
Summary...
Hinata adalah gadis sederhana yang suka ketulusan. Kedamaian adalah jalan tempuhnya. Lalu menjadikan cinta sejati sebagai impiannya.
Tapi untuk hidupnya sekarang, Hinata tak menuntut cinta karena sadar pernikahannya sebuah keterpaksaan. Dia juga tak menuntut soal uang.
Bukan berarti dia diam saja jika diperlakukan seperti buangan. Jadi pandanglah dia sebagai istri sah, walaupun posisinya sebagai istri kedua itu tak diinginkan.
"Kau hanya kasihan."
Secepat kilat Hinata membalikkan badan. Keningnya berkerut tidak suka. Menatap heran pada pria di belakangnya. Usianya memang lebih tua darinya, namun pria itu sungguh menyebalkan. Terkadang ia bisa juga sedikit kekanakan-kanakan dan egois bila menyangkut Itachi.
"Kasihan atau bukan, ini bukan urusanmu, Sasuke-kun!"
Padahal Hinata hanya menikahi Itachi, tapi kenapa Sasuke malah kepanasan?
"Ini jadi urusanku karena yang kau nikahi adalah Kakakku, Uchiha Itachi." Sasuke mengingatkan.
Hinata bersedekap dada seraya ingin melempar sebuah bom ke arah Sasuke.
"Aku mencintainya, kau puas!"
Hinata yang tak biasa meladeni debat Sasuke kini mulai terpancing. Mungkin karena sedang menstruasi, hormon Hinata tidak beraturan, dia jadi cepat marah dan perasaannya menjadi kacau.
"Asal kau tahu, cinta antara keluarga dan kekasih itu berbeda, Hinata."
Mendengar ini Hinata menghentikan langkahnya. Terdiam. Memikirkan perkataan Sasuke yang mengganggunya.
"Kau bahkan memandangi Kakak tidak seperti memandangi seorang kekasih. Kalian terlihat seperti seorang bibi dan tuan mudanya."
Hinata ingin membantah, cinta yang dimilikinya untuk Itachi bukan seperti yang dikatakan oleh Sasuke. Sejenak ia menutup matanya, bayang-bayang wajah Itachi yang tersenyum polos tergambar jelas di benak. Meskipun suara Itachi terdengar maskulin, tapi nada suara itu masih ceria bak penyegar telinga. Yang paling ia sangat suka ketika Itachi mencari perhatiannya dengan manja, itu sungguh manis.
Jika hampir seluruh klan Uchiha berwajah kaku, Itachi jauh berbeda. Dia polos seperti anak kecil pada umumnya. Namun, terkadang Hinata bisa merasakan tatapan lain ketika retina gelap itu memandanginya. Yang kadang kala membuat darahnya berdesir. Itachi memang spesial, bahkan terlalu spesial malah. Sehingga bukan hal mustahil jika suatu saat dia akan memandangi Hinata sebagai wanita. Bagaimana pun juga Itachi tetaplah pria, dan ketertarikan secara seksual adalah bagian dari hawa nafsu manusia.
Senyuman Hinata sontak merekah layaknya bunga di musim semi, dia memegang dadanya yang berdebar cepat, dan matanya terbuka perlahan. Kalau ini bukan cinta, lalu apalah namanya?
Sementara Sasuke yang berada di belakang tengah menebak apakah umpannya menuai hasil? Dia masij tak menyangka sang kakek akan menikahkan kakaknya dengan Hinata. Gadis yang jelas-jelas Sasuke benci keberadaannya dari dulu.
Dari dulu Sasuke juga punya rencana, jika suatu saat kakeknya meninggal, ia berniat mengurus kakaknya dan mendepak Hinata dari kartu keluarga. Lalu ia teringat dan mengurungkan niatnya kalau kakaknya begitu lengket dengan Hinata. Mungkin nanti Sasuke akan membiarkan Hinata mengunjungi kakaknya seminggu sekali.
'Tapi, kenapa harus menikah?! Kan, kakeknya bisa menjadikan Hinata baby sitter, pasti gadis itu dengan senang hati menerimanya.'
Tiba-tiba rambut panjang Hinata menjadi perhatiannya. Sasuke baru menyadari perubahan pada diri gadis itu. Semenjak menikah dia mengunjungi kakaknya sebulan sekali, sejak itulah Sasuke memang jarang melihat Hinata. Dan baru hari inilah mereka berdiri sedekat ini.
Biasanya kala waktu kunjungan itu datang, gadis itu bisa tidak terlihat sama sekali atau kalau beruntung dia hanya melihat gadis itu dari jarak jauh. Sasuke tahu Hinata terkadang mengawasi dari jauh. Sebenarnya ini menguntungkannya karena Hinata sepertinya tahu kalau dia tak suka waktunya bersama sang kakak terganggu orang asing.
"Tau apa kau tentang cara pandangku...?"
Kening Sasuke berkerut tidak suka, Hinata yang tersenyum itu justru mengganggunya.
"Setiap orang punya pandangan masing-masing, Sasuke-kun!" Hinata berujar mantap mengacuhkan Sasuke yang bersedekap dada seraya menaikkan dagunya dengan pongah —merendahkannya.
"Tetap saja aku tak mengijinkannya."
"Tapi, aku dapat restu dari Kakek." 'Justru Kakek yang meminta dariku.'
"Itu tak masuk hitungan, Hinata." Sasuke mendekatkan wajahnya, dan dia merasakan gadis itu menahan napasnya.
Sasuke menyeringai, "Coba saja kau minta restu dari Ayahku."
Hinata menggeleng keras lalu kembali berjalan cepat —mengacuhkan keberadaan Sasuke. Urusannya dengan Fugaku akan ia hadapi nanti. Dia harus fokus. Hari ini waktunya Hinata menjemput Itachi yang pulang dari sekolah dan dia sudah telat 15 menit.
Seandainya Sasuke tak menyita waktunya, seperti mengajaknya ribut atau menyuruh ini-itu, dia tak akan telat seperti ini. Itachi, meskipun dia beda pada manusia umumnya, dia begitu detail. Dia suka sekali melakukan sesuatu dengan rapih serta tepat waktu. Dan jika Hinata telat sedikit, maka Itachi bisa menghilang pergi sendiri. Ini yang ditakuti olehnya.
Dan kala Hinata telah sampai di tempat pemberhentian bis sekolah, maniknya tak mendapati Itachi di tempatnya. Di halte hanya ada ibu-ibu yang sibuk mengobrol. Seketika panik pun melanda.
Hinata sontak menyapa ramah dan langsung menanyakan sosok Itachi. Sedangkan Sasuke berdiri di belakangnya dengan raut wajah yang tak mengenakan.
Salah seorang dari mereka menyikut, dan berbisik. Mereka menatap penuh penasaran dan kagum pada sosok di belakang Hinata. Ketampanan Sasuke selalu menghipnotis para kaum hawa dimana pun dia berada.
Dan saat mereka tahu, Itachi pergi dengan seseorang, kepanikan sontak mengikuti. Apa yang dipikirkan Hinata akhirnya terjadi. Sontak Hinata dan Sasuke saling bertatapan. Raut cemas jelas terukir di wajah mereka. Ini hari yang benar-benar panas.
.
.
.
Saat ini sudah pertengahan musim panas, keringat pun lantas turun dari kening mereka. Mendengar Itachi pergi begitu saja bahkan membuat mereka panik. Tanpa mengulur waktu, mereka pun pergi mencarinya. Kaki mereka pun langsung berjalan mengarah kemana tujuan Itachi. Tempatnya tak jauh dari pelabuhan. Mereka harus menempuh waktu setengah jam jalan kaki untuk sampai ke sana.
"Kita harus naik sepeda biar cepat." Usul Hinata yang kebetulan melihat orang yang dikenalnya baru memarkirkan sepeda, dan ia pun sontak meminjamnya.
Panas siang telah membakar kulit mereka. Sasuke memboncengi Hinata. Dia mengayuh sepedanya dengan cepat. Saat memboncengi Hinata, Sasuke merasakan gadis itu memilih berpegang pada joknya. Tak lama aroma amis laut tercium di hidung. Kini mereka sudah melihat laut.
"Memangnya ada apa?" tanya Sasuke yang mengelap peluhnya.
"Kak Itachi ingin menanam tomat, dan Paman Inoichi berjanji membawakan bibitnya. Tapi, ini masih ada tiga hari dari tenggat waktu yang dijanjikan."
Hinata menahan topi jeraminya agar tak terhempas oleh angin laut seiring cepatnya Sasuke mengayuh sepeda.
Sebenarnya apa yang terjadi? Hinata merasakan firasat buruk.
Sementara itu, saat mendengar kata tomat mengudara, Sasuke menghadirkan senyuman langka miliknya, ia sangat bahagia. Itachi sudah berjanji untuk memberinya tomat dari hasil tanamnya sendiri.
"Pegang yang kuat, ada tanjakan!" seru Sasuke yang tiba-tiba semangat, dan kala mereka menaiki tanjakan yang agak terjal Sasuke mulai melambat —kelelahan, "Ternyata kau berat juga Hinata. Kurangi lemak di tubuhmu."
Mendengar hal itu raut Hinata lantas berubah masam. Sasuke tiba-tiba menyindir berat badannya. Apa yang salah jika ada seorang gadis makan banyak? Lagipula bentuk tubuhnya masih terbilang normal kok.
"Turunkan aku di sini!"
Hinata sontak menghentikan sepeda menggunakan kakinya. Sasuke spontan berhenti dan menatap heran Hinata yang kini berjalan cepat meninggalkannya. Dari gestur tubuh gadis itu, bisa dilihat kalau dia tengah merajuk.
"Bukannya berterima kasih, malah marah-marah gak jelas," Sasuke jadi menggerutu juga, dan panas hari ini sungguh menyebalkan baginya.
Dan sesampainya Hinata di ujung tanjakan, dia berbelok masuk di sebuah gang kecil. Gang kecil itu adalah jalan pintas menuju pelabuhan.
"Hei, kau mau kemana?" teriak Sasuke yang mengikuti arah kepergian Hinata lalu menatap sepeda.
Hinata tak menjawab, sedangkan gang itu lebarnya hanya bisa dilalui satu orang saja, dan tak akan muat jika sambil mengiring sepeda. Sasuke semakin kesal. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk naik sepeda dan membiarkan Hinata menempuh jalannya sendiri.
"Terserah sajalah." Ujar yang mengayuh sepedanya kembali.
Meskipun waktu tempuh menuju pelabuhan itu tak berkurang banyak setidaknya Hinata telah menghemat waktu. Begitu sampai ke toko bunga Hinata harus menelan kekecewaannya. Itachi ternyata tak ada di tempat, dan paman Inoichi bilang Itachi masih ada di depan tokonya beberapa menit yang lalu, tapi sekarang ia sudah menghilang.
Hinata memegang dadanya yang berdebar khawatir, tidak biasanya Itachi pergi tidak beraturan seperti ini. Tak lama sosok Sasuke tertangkap dari ekor matanya. Dia pun menggeleng saat Sasuke menanyakan keberadaan Itachi.
"Kakak belum lama pergi, jadi Kakak tak akan pergi jauh dari sini. Sebaiknya kita menyebar mencarinya."
"Baik."
Mereka pun menyebar. Memeriksa setiap sudut tempat.
"Kakak!"
"Itachi-kun!"
Berlari. Mencari di mana Itachi selalu bermain. Terus mencari dan mencari. Tak lupa juga bertanya dengan orang-orang yang berpapasan dengan mereka.
Lalu di sekitar kuil, tempat Itachi mencari kumbang di musim panas, Sasuke mencarinya.
"Kak! Kak Uchiha Itachi!" Dia tak ada di sini.
Sementara itu, Hinata pergi ke lapangan sekolah SD, tempat Itachi selalu menonton anak sekolah bermain baseball. Tapi sekarang di lapangan itu tak banyak anak berkeliaran.
"Itachi-kun, dimana kau?" Itachi masih tak ditemukan.
Di kebun jeruk milik Keluarga Genma. Hinata dan Sasuke bertemu kembali.
"Kau sudah menemukannya?"
Sasuke menggeleng keras. Keringat membasahi hampir seluruh kaos putihnya yang tipis. Dia pun mengibaskan bajunya demi mendapatkan angin segar. Mereka tampak kelelahan berlarian ke sana-kemari. Sedangkan langit sore yang begitu terang menyapa mereka. Tanpa mereka sadari waktu berjalan cepat.
"Kau sudah menghubungi rumah?" tanya Sasuke yang pergi ke mesin otomatis untuk membeli minuman.
Bisa gawat kalau kakek tahu Itachi tak ada di rumah saat dia pulang nanti.
"Aku sudah menghubungi rumah tapi Itachi-kun belum kembali." Hinata menggigit kukunya, dan dia tak bisa tenang diam berdiri.
'Itachi-kun?' Kening Sasuke menekuk dalam.
Sepertinya Hinata tak sadar kalau memanggil nama Itachi langsung, yang seharusnya dilakukannya kala dia berdua saja dengan Itachi.
"Minumlah air ini, kau haus kan?" Ujar Sasuke yang menyodorkan minuman dingin itu ke pipi Hinata.
Sensasi dingin lantas menyengat pipi Hinata. Dia menatap Sasuke, raut lelah terlihat jelas di wajahnya. Hinata bisa mengangguk. "Terimakasih."
Mereka pun segera meminum minumannya.
Di samping itu, Hinata kemudian teringat, padahal hari ini Sasuke baru tiba tetapi ia tetap mencari kakaknya. Pria itu pasti sangat kelelahan.
"Ayo kita cari lagi!" Seru Sasuke,
"Sampai matahari tenggelam baik ketemu atau tidak, ayo kita ketemu lagi di pelabuhan."
"Baik."
Mereka berdua pun berpisah kembali. Mencari tanpa menyerah sedikit pun. Terkadang mereka kembali ke tempat di mana mereka kunjungi tadi. Hingga matahari menuju ke lembayung senjanya, tak ada satu dari mereka bertemu Itachi.
Kaki pun mulai lunglai, dan mereka kembali ke tempat perjanjian. Perut berbunyi pun tak khayal jadi perhatian, lalu teringat sejak siang mereka hanya mengisi perutnya dengan air.
"Bagaimana?"
Hinata menggeleng pasrah dan duduk di bangku panjang yang tak jauh dari pesisir laut. Sedangkan Sasuke berdiri di depannya dengan sepeda yang keranjangnya sudah berisi semangka yang cukup besar.
Sejenak Hinata menatap semangka itu lalu Sasuke. Berpikir, kalau tak ada pria itu, bagaimana jadinya dia?
"Lalu sekarang bagaimana?"
"Apa kau sudah menghubungi rumah lagi?" tanya balik Sasuke yang mendapat gelengan lagi,
"Sini kupinjam ponselmu, biar aku yang menghubungi mereka."
Tanpa berbasa-basi, Hinata langsung menyerahkannya. Gadis itu mengelilingi kepalanya berharap melihat sosok Itachi. Kala Sasuke mencoba menghubungi pihak rumah, dari balik punggung, samar-samar Hinata melihat sosok yang dicarinya dari siang.
Hinata yang tersentak lantas beranjak berdiri, "Itachi-kun!"
Seiring itu Sasuke turut membalikkan badan, matanya terbelalak tak percaya. Ada perasaan senang membuncah di dadanya. Pikirannya yang semula keruh kini berubah jernih. Dia berniat berlari menyongsong Itachi, namun ia kalah cepat dari Hinata.
"Oh, Tuhan... Itachi-kun kau darimana?" tanya Hinata dengan cemas yang teramat sangat. Kedua tangannya merengkuh wajah pria itu.
'Betapa kotor wajahnya!'
Hinata sontak mengelap wajahnya dengan saputangan.
"Aku di ajak geng Akatsuki menangkap kumbang."
Kening Hinata langsung menekuk ketika mendengar kelompok anak-anak nakal itu mengajaknya main. Hinata sejenak memeriksa tubuh Itachi. Musim panas adalah tempat dimana anak-anak mencari serangga. Tapi, jika Itachi ikut mencari serangga maka luka juga turut menyertainya pulang.
"Dan mereka berhasil mendapatkan kumbang badak yang sangat besar."
"Benarkah?" Hinata menghembuskan napas lega, hanya pakaiannya yang kotor,
"Apa Itachi-kun dapat juga?"
Itachi menggeleng — mukanya berubah murung, "Aku gak bawa peralatan berburuku."
"Ah, sayang sekali Itachi-kun..." Hinata tersenyum maklum, dia mencoba menghibur, "Kapan-kapan bagaimana kalau kita mencarinya?"
"Janji?" Wajah tampan Itachi seketika berubah ceria, dia mengacungkan jari kelingkingnya yang kemudian di sambut Hinata dengan menautkannya.
"Aku janji."
Kini Sasuke berdiri tak jauh dari mereka, menatap adegan di depannya dengan penasaran. Jika melihat kelakuannya, mereka lebih terlihat seperti ibu dan anak. Tapi, Sasuke melihat sesuatu yang beda dari sorot mata kakaknya.
Seperti sorot mata yang sedang jatuh cinta.
Sasuke tercenung. Dia tersadar, kakaknya juga laki-laki sama sepetinya. Hasrat terhadap perempuan itu mungkin dirasakan olehnya. Sontak matanya bergulir kepada Hinata, melihat raut wajah gadis itu lebih bahagia dari yang ia ingat, Sasuke hanya bisa terdiam.
Ah, terserah sajalah...
Sasuke tak tega menghentikannya. Selama kakaknya bahagia maka ia turut bahagia.
Tak lama Itachi memberikan sebuah buket bunga pada Hinata, yang di sambut gadis itu dengan pipi yang bersemu merah. Sasuke mengetahui sesuatu, sepertinya buket bunga itu alasan kakaknya menghilang.
Buket bunga untuk Hinata.
"Untuk kita menikah!" ujar Itachi yang membuat Sasuke kembali berpikir.
Darimana kakaknya belajar hal itu?
"Terimakasih, Itachi-kun."
Lagi-lagi panggilan itu membuatnya risih. Dan saat Itachi mencium seluruh wajah Hinata, Sasuke semakin tercengang. Dia sontak membuang muka, tiba-tiba dia malu sendiri.
"Geli, Itachi-kun!"
Sasuke semakin menekukkan alisnya saat tawa Hinata terdengar sangat bahagia di telinganya. Dan hal ini memperburuk hatinya.
'Apa-apaan suasana ini?!' batin Sasuke menggerutu.
"Sasuke?"
Sasuke mendesah lega, akhirnya Itachi menyadari keberadaannya. Mungkin ia bingung mendapati Sasuke sekarang, padahal kunjungan masih tinggal empat hari lagi.
"Hei, Kak!" Sapa Sasuke yang mencoba kembali tenang, "Aku membawa semangka untukmu,"
"Semangka?"
Wajah Itachi seketika berubah sumringah. Hinata yang baru ingat keberadaan Sasuke, perlahan malu-malu melepaskan pelukannya dengan Itachi. Memberi ruang untuk kakak-adik itu melepaskan rindu.
"Ayo kita pulang makan!" Seru Sasuke yang mengangkat semangka itu.
"Ayo makan semangka!" seru Itachi yang tambah senang, "Kembang api?"
"Ah, aku lupa!" Sasuke menepuk keningnya yang diikuti Itachi seraya tertawa, "Bagaimana kalau kita membelinya sekarang? Tapi Kakak yang pilih!"
"Ayo!"
Melihat adegan kakak-adik itu Hinata turut tersenyum. Jika Sasuke sudah berhadapan dengan Itachi, maka dia akan jadi pria yang perhatian sekaligus lembut. Ini adalah sosok yang tak pernah ia tunjukkan pada orang lain.
Dan sebelum Sasuke merangkul kakaknya, Hinata bisa merasakan pria itu menatapnya dengan tajam. Hinata mendesah. Lalu teringat Itachi yang mencium seluruh wajahnya tadi.
Pipinya merona kembali, sungguh dia tak menyangka Itachi akan melakukan hal itu. Semenjak Hinata mengatakan akan menikah dengannya, pria itu terkadang melakukan hal romantis yang tak pernah dia lakukan sebelumnya.
Hinata bertanya-tanya, darimana pria itu mempelajarinya?
Senyuman Hinata lantas semakin merekah, sementara matahari sore semakin menuju ke peraduannya. Langit berwarna jingga tersebut ternyata telah menciptakan kenangan.
Kemudian Hinata kembali memfokuskan buket bunga yang dipegangnya. Memegangnya dengan hati-hati. Dia kira Itachi menginginkan bunga matahari sebagai buket bunga pernikahan mereka. Namun bunga yang kecil-kecil ini begitu mirip dengan cinta mereka.
Darimana ide itu berasal? Itachi selalu membuatnya terkejut. Apa ini gara-gara film romantis yang mereka lihat beberapa hari yang lalu? Di mana sang pengantin wanita memegang buket bunga yang indah dan sederhana.
Bunga baby breath, lambang dari ketulusan cinta.
