Disclaimer : Masashi kishimoto
Baby breath by R-daisy
Rate M for safe.
Warning : AU, OOC, Crackpair, Gaje, Typos, terkadang tidak sesuai EYD, slight Sasusaku etc.
DLDR!
Summary...
Hinata adalah gadis sederhana yang suka ketulusan. Kedamaian adalah jalan tempuhnya. Lalu menjadikan cinta sejati sebagai impiannya.
Tapi untuk hidupnya sekarang, Hinata tak menuntut cinta karena sadar pernikahannya sebuah keterpaksaan. Dia juga tak menuntut soal uang.
Bukan berarti dia diam saja jika diperlakukan seperti buangan. Jadi pandanglah dia sebagai istri sah, walaupun posisinya sebagai istri kedua itu tak diinginkan.
Dunianya tak sama lagi semenjak wanita itu hadir. Wanita yang mengacaukan ketenangannya. Yang mengakhiri hidup ibunya dari sisinya di dunia ini. Wanita yang menyebabkan ibunya harus mati di tangan suaminya sendiri. Kekasih gelap ayahnya, Hyuuga Hitomi.
Dan sekarang apa lagi ulah ayahnya?
Dia bilang ingin menikahkan Itachi dengan putri dari wanita jalang itu?
Hell no! Langkahi mayatnya dulu!
Meskipun dia telah membuang Itachi, tapi Fugaku tetap tak sudi darah wanita jalang itu mengalir menjadi bagian keturunannya kelak. Fugaku juga skeptis kalau Itachi bisa mempunyai keturunan.
Lagipula yang terpenting bukan itu saja, Fugaku telah mencium sesuatu yang tak diinginkannya. Bagaimana kalau ayahnya juga memasukkan nama Hinata dalam ahli warisnya? Hal itu akan membuatnya semakin berang.
Selama ini dia tak masalah ayahnya mengadopsi putri dari wanita jalang itu. Fugaku telah memperingati Hinata agar menjauhi keluarganya. Dan untungnya gadis itu mengerti.
Sejak kedatangannya, gadis itu langsung tak diterima oleh keluarga besar. Bisa dilihat dari warna mata Hinata, orang bisa menilai darimana dia berasal, sehingga tak ada yang mengusiknya. Apalagi yang membawa gadis itu adalah sang komisaris utama, Uchiha Madara.
"Aku tak akan merestui kalian." ujar Fugaku dengan tenang. Walaupun dengan mata yang terpejam dia bisa merasakan kegelisahan pada dua orang di depannya.
Hinata mengepalkan tangannya dengan erat. Itachi yang disampingnya hanya bisa terdiam cemas. Sudah lama sekali baginya melihat ayah kandungnya, namun trauma akan pemukulan di masa lalu masih membuatnya takut.
"Kenapa Ayah?" dengan keberanian yang setipis benang Itachi bertanya, "Kata Kakek, aku sudah jadi anak baik. Jadi aku bisa menikah."
Fugaku menekukkan alisnya, dan menatap tajam Itachi. Ia cukup penasaran, apakah Itachi juga mengerti arti dari pernikahan? Dan sebenarnya ide menikah itu berasal darimana?
"Tau apa kau tentang pernikahan?"
Itachi terdiam. Otaknya yang memiliki keterbatasan berpikir itu berputar.
"Aku tau!" seru Itachi dengan suara lantang.
Fugaku tersenyum sinis. Anak idiot ini.
"Lalu... bagaimana cara membuat anak? Apa kau juga tau?"
"Aku tau! Aku tau! Aku bukan anak bodoh. Ayah jahat!" kali ini suaranya lebih lantang yang membuat Fugaku menjadi kesal.
Fugaku sontak berdiri begitu pun Itachi.
"Dasar anak ini!"
Dan kala tangan Fugaku beranjak naik —berniat menggampar- pipi Itachi, Hinata sontak berdiri membentengi calon suaminya tersebut.
"Fugaku-san!" Hinata berseru memperingati. Melototinya. Dia begitu geram mendengar pertanyaan yang jelas-jelas tahu jawabannya.
"Bisakah anda tenang?"
Fugaku mendengus setelah kembali duduk yang diikuti oleh mereka berdua.
"Tau atau tidak, apa pentingnya buat Fugaku-san?"
Kini Hinata yang menatapnya tajam tanpa rasa takut, dan memegang tangan Itachi seraya menegakkan postur tubuhnya, "Bagaimana pun juga yang menjalaninya adalah kami."
Fugaku menatap balik Hinata tak kalah tajam dari tadi.
"Untuk sekali ini kami hanya meminta anda hadir sebagai wali, setelah itu kami bersumpah untuk tidak menampilkan wajah kami lagi di depan anda seumur hidup. Bukankah ini keuntungan yang besar?"
"Bagaimana kalau aku tidak mau? Kalian bisa saja menyewa orang lain untuk menjadi saksi pernikahan kalian?" Fugaku menunjukkan Itachi dengan telunjuknya —seolah merendahkan eksistensinya, "Soal anak idiot itu, aku sudah lepas tangan dari dulu, kau tau itu."
Meskipun Hinata mempunyai kadar sabar yang tinggi, namun mendengar Fugaku berkata demikian ia pun ikut geram. Ibaratnya, merangkul pun enggan melepaskan sepenuhnya pun enggan. Dari dulu pria itu selalu memandang sebelah mata keberadaan Itachi dan menganggap putra kandungnya itu sebagai manusia sampah.
Bisa-bisanya, Hinata bertemu seorang sosok ayah macam Uchiha Fugaku.
"Hinata, hentikan! Fugaku kau sungguh memalukan!"
"Ayah!?"
'Kakek...'
Tanpa ada angin yang mengabari, seketika Madara datang dengan pasukan di belakangnya.
Di tengah mereka, sosok yang Fugaku khawatirkan kini muncul. Dia mengepalkan tangannya erat. Ayahnya membawa beberapa rombongan di belakangnya, mereka semua orang-orang penting —para pemegang saham. Lalu saat Sasuke turut mengekor di belakangnya, kening Fugaku lantas mengerut lebih dalam.
"Tuan Komisaris, apa maksud anda?" Fugaku mencoba bersikap tenang, ia tak bisa bicara seenaknya di depan orang-orang itu.
"Lihat ini!"
Madara mengeluarkan sesuatu dari dalam map dan melemparkannya ke atas meja. Seketika itu mata Fugaku terbelalak. Beberapa surat penting, bukti print buku tabungan pribadinya dan foto. Itu adalah foto saat dia tengah minum dengan seorang klien.
Ceritanya, proposal yang diajukan oleh sang klien tersebut ternyata ditolak. Orang itu datang kepadanya dan menyuapnya untuk membujuk para dewan agar proposalnya di acc. Dan berkat hal itulah kini proyek itu berjalan sudah sampai setengahnya.
'Bagaimana bisa ayah mendapatkan itu? Atau jangan-jangan ayah telah menyusupkan mata-mata di sekitarnya.'
"Perbaiki ulahmu! Atau kuberi sangsi!"
Fugaku sudah terbiasa dimarahi oleh ayahnya, tapi baru kali inilah ayahnya memarahinya di depan para dewan. Dia merasa dipermalukan. Dan dendam yang ia pendam terhadap ayahnya kini telah meluap.
Sedikit lagi... sedikit lagi...
"Baik, Pak... Akan kuperbaiki."
"Hn, dan ingat aku tak mau ini terjadi lagi!"
Meskipun begitu Madara tak bisa mengurangi kewaspadaannya. Fugaku sangat mirip dengan almarhum istrinya, begitu ambisius dan licik. Ia akan melakukan apapun demi mendapatkan apa yang diinginkannya.
Kini Madara kembali memfokuskan dirinya terhadap Itachi dan Hinata. Kebingungan yang melanda sungguh terbaca di wajah mereka.
"Itachi... Hinata... Kalian tak perlu khawatir soal wali." Madara menilikkan wajah ke arah Sasuke yang kemudian diberi anggukan olehnya, "Sasuke akan menggantikan Fugaku di pernikahan kalian nanti."
"Benarkah?" Itachi beranjak ke Sasuke dengan hati yang senang, "Benarkah itu Sasuke? Kakek?"
"Benar Kak..." Angguk Sasuke yang diikuti Madara.
Untuk beberapa saat Hinata menatap Sasuke, diam-diam bibirnya membentuk senyuman simpul. Dia sungguh bersyukur, padahal awalnya Sasuke tak merestui pernikahan ini.
'Terimakasih Sasuke-kun... Aku tak akan melupakan kebaikanmu.'
Dan ketika mereka memutuskan untuk meninggalkan Fugaku sendirian, Hinata sempat melirik wajah pria itu. Sorot mata pria itu menyimpan kemarahan. Bulu kuduk Hinata berdiri dan firasat buruknya muncul. Pasalnya sorot itu hanya di alamatkan kepada Madara seorang.
Seminggu setelah itu, Madara masuk rumah sakit. Darah tinggi yang diidap pria itu naik sehingga mampu membuatnya pembuluh darahnya pecah. Madara pun berakhir koma. Pria itu pun tak terbangun sampai akhir musim gugur.
Selama absennya Madara, perusahaan sementara dipegang adiknya —Uchiha Izuna. Selama itulah Izuna sangat berhati-hati dalam menyeleksi proyek yang akan masuk ke perusahaan mereka. Dia bahkan lebih ketat dari kakaknya.
Hinata tersenyum sedih, berbicara —berbisik- pada Madara yang berbaring. Memandang dengan sendu, seolah separuh jiwanya telah pergi. Padahal pernikahan Itachi dan Hinata di musim dingin akan tiba sebentar lagi.
Segala cara telah ditempuh oleh keluarganya mulai pindah rumah sakit sampai memanggil dokter dari luar negeri. Namun kondisi Madara tidak menunjukkan kemajuan. Ia hanya berharap Madara membuka matanya.
Setiap hari Hinata selalu menjenguk Madara. Sayangnya ia tak bisa tinggal seharian. Itachi pernah sesekali menjenguk, namun rumah sakit berakhir gaduh karena kedatangannya. Sedangkan Sasuke yang sangat itu sibuk hampir tiap malam menjenguknya sebentar.
Kini, semenjak Madara dirawat, Hinata dan Itachi tinggal dikediaman utama Uchiha di Tokyo. Hinata selalu merasakan suasana tak bersahabat jika tinggal di sana. Apalagi tingkah dan sorot pandang calon ibu mertuanya —Uchiha Mikoto.
Wanita yang sakit-sakitan itu selalu mengganggap Hinata mencuri Itachi darinya. Setiap mereka datang, Mikoto selalu punya cara untuk menjauhkan dirinya dari Itachi.
"Kakek aku pulang dulu... nanti aku datang lagi ya?" Ujarnya seusai mengecup kening pria itu.
Sebelum keluar rumah sakit, Hinata punya janji untuk bertemu sang dokter di kantor. Begitu sampai, sang dokter ternyata tidak ada. Tetapi, ia berpesan untuknya tetap menunggu walaupun tidak berada di tempat.
Hampir satu jam berlalu, sang dokter tak menunjukkan batang hidungnya. Awalnya Hinata berniat pergi, namun tiba-tiba seekor kucing hitam pekat masuk meminta perhatian. Hinata terdiam penasaran. Kucing itu menatapnya seolah ingin diikuti.
Ketika kucing itu memasuki sebuah ruangan, Hinata turut mengikutinya. Ternyata ruangan itu tempat dokter menyimpan data pasiennya. Ia lantas mencari keberadaan kucing itu seraya memanggilnya. Anehnya, tiba-tiba kucing itu tidak diketahui keberadaannya seakan mampu menghilang. Kebingungan pun memeluknya.
Karena merasa tidak sopan memasuki ruangan yang tak boleh dimasukinya, Hinata lantas berniat keluar. Namun, dia malah dikagetkan, kucing hitam itu tiba-tiba muncul dan menggosok kakinya seakan meminta perhatian.
Setelah mengelus dada, Hinata kemudian berjongkok untuk mengelus kucing itu. Warna pigmen matanya yang berwarna biru-kuning menarik perhatiannya. Niatan untuk kembali kini mengetuknya lagi. Sang kucing masih saja mencari perhatiannya sambil mengeong manja. Selucu apapun tingkah kucing itu, ia harus keluar.
Sebelum kakinya berjalan menuju pintu, suara seseorang berbicara menginterupsi. Yang anehnya, Hinata justru bersembunyi. Mendengar khas suara yang dikenalnya, Hinata mengintip dari balik gorden kuning sebuah kaca kecil di pintu. Seperti dugaannya pemilik suara itu adalah Fugaku. Pria itu ternyata tak sendiri.
Hinata kenal sosok yang lainnya. Dia adalah perawat laki-laki yang rutin mengawasi Madara. Layaknya orang yang terpergok ketahuan mencuri, Hinata menunduk takut. Matanya sontak mencari kucing yang membawanya pada situasi ini. Lagi, kucing itu menghilang.
"Bagaimana keadaannya? Apakah makin memburuk?"
Daun pintu yang telah terbuka sedikit itu membuat suara Fugaku terdengar jelas. Hinata sontak memasang telinganya lebar-lebar.
"Tenang saja Fugaku-san, semuanya berjalan lancar. Mungkin dalam waktu tiga atau empat hari lagi, Madara-sama tak akan bertahan."
Hinata sontak menutup mulutnya, matanya terbelalak kaget. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia tak percaya apa yang dia dengar.
'Apa maksudnya kkakektak akan bertahan? Apakah ia akan meninggal?'
Dengusan Fugaku memancing kecurigaan Hinata. Tangannya bergetar, keringatnya sontak jatuh dari pelipis. Tiba-tiba suasana berubah menjadi menyeramkan. Dia telah mendengar sesuatu yang mengerikan.
"Bagaimana kalau kali ini kau gagal? Bulan lalu kau bilang dalam waktu seminggu Ayah tak akan selamat. Tapi, nyatanya apa sekarang?! Kau tau Paman berniat memindahkan Ayah lagi besok."
Dengan bergetar, Hinata meraih ponselnya. Dia dengan hati-hati menekan icon suara perekam pada ponselnya —merekam percakapan.
"Itu karena saya tidak punya akses lebih. Dan waktu itu saya hampir ketahuan. Tapi, kali ini saya menjamin tidak akan gagal lagi!"
'Apakah ini pembunuhan berencana? Kenapa kau melakukan ini, Fugaku-san? Kakek adalah ayah kandungmu!'
"Aku telah menambahkan dosis obat lebih dari biasa. Tiap tengah malam aku juga menyuntikkan obat ke dalam tubuhnya. Dengan dosis obat itu aku yakin kali ini tubuh Madara-sama tak akan kuat lebih lama, sekarang anda bisa lihat sendiri betapa lemah kondisinya."
Fugaku memicingkan matanya. Meskipun pria itu berkata demikian, namun jiwanya tetap tidak tenang. Ayahnya adalah orang kuat, dan sangat keras. Saat muda dia terkenal masih tetap berjalan tegak meskipun menerima puluhan tusukan pisau di tubuhnya. Dia bahkan mampu membuat orang yang tubuhnya lebih besar tak sadarkan diri. Banyak yang mengatakan ayahnya bukanlah manusia.
Tapi pada akhirnya, pria yang dijuluki monster itu pun juga memiliki hati. Dia jatuh cinta pada wanita yang telah bersuami. Pria tua itu bahkan membiarkan wanita itu memanfaatkannya sebagai pelarian saja. Mereka berdua sempat melarikan diri ke luar negeri beberapa bulan.
Petaka pun bermula ketika wanita itu pulang dengan mengendong bayi di tangannya. Ibunya yang awalnya tak begitu khawatir tentang hubungan ayahnya dengan wanita lain, kini merasa terancam. Ibunya kira Hitomi hanya selingan ayahnya di kala bosan. Tapi nyatanya tidak. Apalagi setelah mendengar kabar kalau suami Hitomi —Hyuuga Hiashi- akan menggugatnya cerai.
Memang pernikahan orang tuanya bukan berdasarkan cinta. Namun, ibunya tak suka singgasananya dibagi. Bayi yang ternyata berjenis perempuan itu adalah sebuah ancaman. Ia takut semua warisan itu jatuh ke tangan bayi itu mengingat Madara amat mencintai mereka.
Ibunya kemudian berencana untuk membunuh Hitomi. Akan tetapi usahanya selalu saja gagal, mulai dari menyewa pembunuh bayaran, memanipulasi kecelakaan dan terakhir menaruh racun ke dalam minuman.
Sayangnya usaha terakhir itu justru menjerumuskan ibunya pada kematian. Sang ibu berakhir meminum racun yang dibuatnya sendiri. Seandainya ayahnya tidak mengetahui perbuatannya dan menyuruh ibunya meminumnya mungkin saat ini ibunya masih hidup.
Dan pada akhirnya, kecurigaan ibunya salah. Ibunya menanam kekhawatiran yang berlebihan pada dirinya. Bayi digendong anak itu bukanlah anak Madara melainkan anak dari Hiashi. Seminggu setelah kematian ibunya, Hitomi justru rujuk dengan Hiashi. Sedangkan dulu, ayahnya tidak sedikit pun terlihat ingin merebut wanita itu. Ayahnya kemudian menjadi pria yang lebih dingin lagi hingga ia bertemu lagi dengan bayi yang telah beranjak dewasa itu, Hinata.
Setelah ayahnya meninggalkan dunia nanti, Fugaku pastikan akan membuat hidup gadis itu tidak nyaman. Meskipun dendam terhadap Hitomi sudah terbalaskan, tapi yang jadi penyebab utama ibunya melakukan kesalahan adalah gadis itu —Hinata. Maka gadis itu harus menerima hukumannya.
Fugaku akan membuat hidup gadis itu seperti di neraka.
"Aku tak suka kegagalan. Pastikan Ayah meninggal karena sakit. Jika kali ini gagal, kau dan istri tercintamu akan tamat, mengerti?"
BRAK!
"Siapa di sana?"
Hinata menutup mulutnya. Suara barang-barang jatuh dari atas lemari mengagetkan tak hanya Hinata seorang. Kucing yang Hinata anggap hilang kini berada di atas lemari. Dengan polosnya, kucing itu malah menggosok telinganya.
Langkah kaki mereka mendekat, Hinata pelan-pelan merangkak ke kolong meja. Dadanya berdebar sangat kencang. Dia meringkuk dan berharap kalau tubuhnya bisa menghilang.
'Ya, Tuhan... Tolong aku!'
Kini suara langkah kaki itu telah memasuki ruang. Hinata mulai resah, dia takut keberadaannya diketahui.
"Siapa di sana?"
"Meoow..."
Perawat itu lantas marah-merah melihat keberadaan sang kucing. Hinata mulai bergetar. Dia mencoba mengecilkan dirinya. Untung saja kolong meja itu ada papan tulis yang menyembunyikan tubuh kecilnya. Ketika perawat itu hendak menunduk —merapihkan- benda itu ke tempatnya, sang kucing tiba-tiba melompat ke arahnya.
"Argh!" seru sang perawat yang kepalanya menjadi pendaratan sang kucing sontak menangkapnya, "Dasar kucing brengsek!"
"Kenapa ada kucing di kantor?"
Sang kucing mulai memberontak, tapi perawat itu enggan melepasnya, karena takut kucing itu buat ulah lagi.
"Ah, sebenarnya ini kucing liar. Tapi semenjak Dokter sering memberinya makan, dia jadi seenaknya saja ke sini, namanya Kuro."
"Hn."
Mata Hinata langsung terbelalak, dompetnya tergeletak di dekat pintu itu memberikan sinyal ancaman. Hinata sontak mendekap dirinya semakin dalam, dia berharap suara jantungnya tak terdengar. Tak lupa menutup mulutnya, deruan napasnya terlalu nyaring baginya.
Fugaku kemudian mencium kecurigaan, dompet yang diduga milik wanita itu tertangkap oleh matanya. Tapi sebelum sempat mengambilnya, Fugaku diinterupsi oleh raungan kucing yang diikuti oleh perawat yang berteriak kesakitan karena dicakar.
"Brengsek!" umpatnya yang melepaskan kucing itu keluar,
"Pipimu berdarah." ujar Fugaku dingin, dia tak suka gerakannya terganggu.
"Ah, terimakasih. Sebaiknya aku mengobati ini, anda sebaiknya juga keluar karena ruangan ini tak boleh dimasuki."
Fugaku mendengus tak suka. Tak lama ponselnya berdering. Seiring itu pula derap kaki mereka melangkah keluar. Dan saat suara pintu tertutup berbunyi, saat itulah tubuh Hinata melemas. Tubuhnya pun masih bergetar, keringat yang keluar pun membuat dirinya basah. Dia terengah-engah seolah habis dikejar oleh anjing.
Hinata merasa ingin menangis. Jantungnya berdenyut sakit. Mematikan perekam suara dengan ketakutan yang amat sangat. Setitik air mata mulai keluar.
'Tidak! Aku tidak boleh menangis... Kakek... Tidak, Kakek akan...'
Di sanalah Hinata tahu bahwa nyawa Madara berada dalam bahaya.
