Disclaimer : Masashi kishimoto
Baby breath by R-daisy
Rate M for safe.
Warning : AU, OOC, Crackpair, Gaje, Typos, terkadang tidak sesuai EYD, slight Sasusaku etc.
DLDR!
Summary...
Hinata adalah gadis sederhana yang suka ketulusan. Kedamaian adalah jalan tempuhnya. Lalu menjadikan cinta sejati sebagai impiannya.
Tapi untuk hidupnya sekarang, Hinata tak menuntut cinta karena sadar pernikahannya sebuah keterpaksaan. Dia juga tak menuntut soal uang.
Bukan berarti dia diam saja jika diperlakukan seperti buangan. Jadi pandanglah dia sebagai istri sah, walaupun posisinya sebagai istri kedua itu tak diinginkan.
Hinata harus memaksakan dirinya. Mencoba untuk tidak panik namun berakhir sesegukan mencari napas. Setelah sedikit tenang, dengan sisa tenaga ia mencoba berdiri di atas kakinya yang lunglai. Memegangi dadanya, ia akhirnya melangkah keluar tanpa diketahui oleh siapapun.
Karena kekagetan itu masih memeluknya, Hinata memilih ke toilet. Ia kembali meringkuk di atas closet duduk. Bayangan dan suara di ruangan itu masih berputar jelas di kepalanya. Sambil memegang kepalanya, tanpa suara ia mulai menangis.
Perasaannya mulai berkecamuk. Ketakutan dan kebingungan mulai merasuki. Hinata tak tahu harus berbuat apa atau harus mengadu kemana. Ia tak percaya ini akan terjadi. Sang kakek yang selalu kuat di matanya kini hampir meregang nyawa.
Hingga satu jam Hinata masih betah di toilet. Kejadian itu sungguh memukul mentalnya yang murni itu, jiwanya seakan pecah berkeping-keping. Tak lama lelah datang berkunjung. Tapi jantungnya masih berdetak kacau, dan sakit. Tiba-tiba suara dering ponsel berbunyi mengagetkannya. Dia mengusap matanya yang sembab. Nomor tak kenal tertera di sana. Hinata menutup mulut, suara tangisannya hampir pecah. Sambil bergetar Hinata mematikannya.
Ponsel itu tak lama berdering lagi. Lagi-lagi nomor yang sama. Hinata kembali mematikannya. Sampai telepon itu kembali berbunyi untuk ketiga kalinya, ia mulai menimbang. Menerka siapa pemilik nomor itu.
Dan tak lama sebuah pesan telah masuk. Penasaran Hinata membacanya. Ternyata itu nomor kakek Izuna, dia menanyakan keberadaannya. Namun pesan kedua datang membuat Hinata terdiam tak percaya.
Madara telah meninggal dunia.
Ponsel di tangan sontak terlepas. Dadanya bergemuruh. Entah kekuatan darimana, Hinata berlari menuju ruang pasien. Setibanya, beberapa orang telah berkumpul, mulai dari Itachi yang berteriak sedih memanggil Kakeknya, Sasuke yang memeluk Itachi sambil menahan tangis, para perawat serta dokter yang terlepas tunduk dan Izuna yang terdiam berdiri menatap sedih kakaknya.
Hinata beranjak menyeret kakinya yang seperti tak bertulang itu. Kini di hadapannya Madara telah menutup matanya. Keriput di wajahnya terlihat lebih banyak dari sebelumnya. Hinata memeluk sosok itu. Menangis dan meraung dalam diam. Lagi-lagi, dia masih tak percaya hal ini terjadi.
Kematian Madara membuat dunianya seakan jatuh.
Izuna kemudian menarik dirinya dari sisi Madara. Gadis itu menggeleng dan memeluknya lebih erat lagi. Namun kekuatan pria itu lebih kuat darinya, Hinata terjatuh terduduk. Hingga suara Fugaku yang berbicara pada Madara menyadarkannya.
Wajah Hinata seketika pucat pasih. Ia baru sadar pria itu berdiri di sampingnya. Dia tak berani menatapnya.
Lalu Izuna mensejajarkan dirinya dengan Hinata. Memastikan kondisi Hinata yang lebih menyedihkan dari yang ia duga. Gadis itu seperti kehilangan nyawa.
"Kau harus kuat Hinata, demi Itachi!" ujarnya yang menepuk bahunya.
Hinata menutup mulutnya yang seakan menangis. Dia ingin bercerita tapi entah kenapa ada suatu hal yang membuat takut. Keberaniannya seakan terkikis, kecurigaannya yang justru hadir. Ia merasa Fugaku tengah memandang rendah dirinya.
Tak lama, Hinata merasakan keadaan sekitarnya berputar. Sudah lelah hati, lelah pula pikirannya. Kepalanya seperti berkunang-kunang. Tidak butuh waktu lama untuknya jatuh pingsan. Di ujung menuju ketidaksadarannya, dia masih sempat melihat Itachi berlari ke arahnya sambil menangis. Dia telah kalah. Gelap telah merenggut cahayanya.
'Maaf, Itachi-kun... Aku memang lemah.'
Sejak saat pingsan itulah, Hinata tak terbangun selama tiga hari. Gadis itu juga tak menghadiri pemakaman sang kakek. Pernikahannya di musim dingin tertunda sampai musim semi.
Sebelum pernikahan itu tiba, Hinata mengurung dirinya dari dunia. Suaranya seakan terkunci, dia tak bicara kepada siapapun termasuk Itachi. Cahaya di matanya pun kosong. Ia hanya masih belum bisa menerima kematian Madara. Peristiwa itu sungguh membuatnya trauma berat.
Izuna pun datang memaksa Hinata untuk berobat. Sedangkan Itachi yang selalu penyemangatnya kini jauh dari dekapannya. Selama Hinata menjalani psikoterapi, Itachi tinggal bersama Ibunya. Dan untungnya dalam dua bulan Hinata berangsur membaik. Sang dokter memuji tekadnya yang ingin pulih.
Setelah sedikit membaik, Hinata mulai merencanakan pernikahan sesuai dengan amanat almarhum Madara sebelum meninggal. Hingga pernikahan mereka tinggal menghitung hari, sang pengacara Nara Shikamaru muncul menunjukkan identitas aslinya.
Dan saat itulah Hinata yang merasa putus asa karena tak bisa menunjukkan kebenaran tentang kematian Madara akhirnya terbuka. Dengan semangat ingin melindungi Itachi, Hinata menyongsong masa depan yang tak pernah terbayangkan olehnya.
Dengan gaun yang putih bersih, Hinata dirinya di depan cermin. Bunga baby breath putih di tangannya begitu indah. Polesan di wajahnya membuatnya tampak begitu cantik jelita. Ini adalah hari spesial dalam hidupnya, hari pernikahannya dengan Uchiha Itachi.
Meskipun ini hari yang membahagiakan, namun kebahagiaannya begitu beda ketika orang yang penting telah tiada. Ada yang kurang pikirnya. Seketika Hinata membayangkan sosok yang berdiri di sampingnya. Seperti halnya seorang ayah, Madara tentu akan bahagia melihat dirinya sudah sampai tahap ini, dan ia juga pasti berbangga diri telah mengantarnya ke pelaminan.
Hinata menarik napas panjang lalu mencoba tersenyum seindah mungkin. Ia berharap ini bisa mengobati hatinya yang tiba-tiba rindu akan kehadirannya. Lalu detik kemudian suara ketukan pintu mengalihkan atensinya.
"Ya, masuklah."
Dan orang yang mengunjunginya adalah orang yang tak pernah ia sangka.
"Ah, kau benar-benar Hinata yang itu?"
"Sakura-san? "
Hinata sontak mengangkat gaun pengantinnya yang memiliki bagian rok yang begitu lebar dan besar itu, lalu sedikit menyusul Sakura yang menghampirinya.
"Aku sangat kaget begitu melihat foto pengantin di depan tadi."
"Ya, itu aku."
Mereka kemudian tersenyum bersama. Sakura lantas membantu Hinata hingga mereka duduk di salah satu sofa panjangnya.
"Kau ke sini dengan siapa?" Tanya Hinata yang tak dapat menyembunyikan rasa penasarannya.
"Tentu saja suamiku, Sasuke-kun."
'Sasuke-kun...? Apa ini Sasuke yang sama? '
Wajah bingung Hinata jelas terbaca oleh Sakura. Ia itu pun tersenyum seraya menggenggam tangan Hinata.
"Iya, ini Sasuke yang sama. Uchiha Sasuke, adiknya Kak Itachi. " Sahut Sakura yang seolah tahu apa yang dipikirkan Hinata.
Detik itu juga, raut terkejut Hinata tak dapat di sembunyikan olehnya.
"Eh, benarkah?"
Sakura mengangguk antusias.
"Kita akan jadi ipar, Hinata!" Seru Sakura yang meluapkan kegembiraannya sehingga mampu membuat Hinata merasakannya juga.
"Kau tak menyangka kan?"
Kali ini Hinata yang mengangguk.
"Aku pun juga."
Mereka pun sontak terdiam sejenak. Suasana hening kemudian memeluk balik. Tanpa memudarkan senyuman di bibir, mereka menyelami kejutan hari ini yang di luar jangkau pemikiran. Tak ada yang tahu tentang takdir, yang mereka tahu hanyalah bagaimana mereka menjalani hidup ini.
"Dunia tak seluas yang dibayangkan ternyata."
Sakura menghela napas.
"Tapi, biarpun begitu aku tak keberatan."
Hinata menatap Sakura yang tiba-tiba melamun.
"Aku senang bertemu dengan Hinata."
Sakura sontak menggenggam erat tangan Hinata, dan kini menatap bahagia padanya.
"Selamat datang... Selamat datang ke keluarga ini, Uchiha Hinata."
Sejenak Hinata tercenung. Ucapan Sakura mengingatkannya pada masa lalu. Itu persis sekali yang dikatakan Madara saat dirinya pertama datang ke keluarga ini. Jantungnya tiba-tiba berdetak. Tanpa sadar air menggenang di matanya, ia menggenggam erat balik tangan Sakura. Ternyata tambah lagi orang yang menerima keberadaannya.
"Terimakasih, Sakura."
'Terimakasih telah menerimaku... '
Waktu tanpa terasa bergulir dengan cepat. Di ruang tunggu pengantin pria hanya ada Itachi dan Sasuke, sedangkan waktu pelaksanaan pernikahan Itachi dan Hinata tinggal sejam lagi.
Kemudian Sasuke kembali memeriksa iPhone miliknya. Semalam Ia mendapat kabar dari Ebisu bahwa ibunya datang bersama dengan sang ayah. Ia berpikir ayahnya datang terpaksa karena surat wasiat kakek Madara. Hari ini setelah pernikahan kakaknya, sesuai perjanjian isi surat itu akan dibacakan.
"Kak, apa kakak gugup?" Tanya Sasuke yang penasaran karena sedari tadi kakaknya terus memegang dadanya.
Di sisi lain, Sasuke sungguh penasaran apa yang dipikirkan kakaknya mengingat ia menjadi sangat pendiam dan pemurung setelah kakeknya meninggal.
"Aku begitu gugup waktu nikah dulu." Lanjutnya.
Lalu tatapan Sasuke seperti melalang buana ke masa lalu seraya tersenyum. Namun lamunannya tak berlangsung lama, suara rintihan kecil Itachi yang memegang dadanya dengan kuat sukses membangkitkan kesadaran Sasuke.
"Kakak...?!"
Seketika panik memeluk Sasuke, ia memegang pundak Itachi yang tengah meringkuk kesakitan itu. Ia mencoba menghubungi dokter pribadi Itachi namun tak mendapat respon, lalu ia memanggil penjaga atau siapapun juga dan sayangnya hanya ada mereka berdua di sini.
Sementara itu, Itachi yang sedari tadi menahan sakitnya tidak mampu lagi untuk mengunci suara rintihan. Ia memegang dadanya dengan erat. Lalu pikirannya pun melayang pada wajah Hinata.
"Aku tidak apa-apa, aku kuat. " Ujarnya sambil menggeleng lemah.
"Apa yang tidak apa-apa!?"
Sasuke sontak memberikan obat serta minum kepada Itachi.
"Ini minumlah." Imbuhnya yang langsung menyuapi obat itu ke mulut Itachi.
Akan tetapi, Sasuke menemukan ada sesuatu yang ganjal, manik gelapnya melebar, obat kakaknya terlihat masih banyak. Sontak firasat buruk mengetuknya, ia kemudian menghitung jumlah pil obat itu. Dadanya lantas bergemuruh. Obat yang seharusnya akan habis dalam empat hari lagi kini malah tersisa lebih banyak, yang artinya Itachi sudah melewatkan minum obatnya sebanyak 7 kali.
"Kakak tidak meminum obat lagi?" Tanya Sasuke untuk memastikan. Padahal di dalam hatinya, ia sungguh tenggelam oleh rasa ketakutan. Dan ketika kakaknya menggeleng, saat itulah Sasuke merasa jantungnya remuk.
"Ka...kek."
Sasuke tak dapat menyembunyikan rasa sedih. Hatinya terasa teriris oleh belati. Itachi tak dapat menyembunyikan rasa sakitnya. Obat yang diminumnya tadi seolah melebur tak memberikan manfaat.
Ini semua berawal dari kematian kakek mereka, Itachi juga tak kalah depresinya dengan Hinata. Oleh sebab itulah kondisi penyakit jantung Itachi juga semakin parah. Ia semakin sulit untuk diajak minum obat jika bukan Sasuke atau Hinata yang memberikannya. Akan tetapi, mereka berdua sangat sibuk dengan urusan masing-masing, sehingga Itachi menjadi kurang perhatian.
"Aku akan memanggil dokter lagi, jadi Kakak tunggu dulu di sini."
Itachi langsung memegang tuxedo Sasuke, ia menggelengkan kepalanya lagi —melarangnya untuk pergi jauh.
"Hanya sebentar saja." Kalau semakin parah, aku harus meminta Kakek Izuna untuk menunda pernikahan ini batin Sasuke menambah,
Setelah itu Sasuke berlari mencari pertolongan. Sedangkan Itachi yang ditinggalkan justru tidak sanggup lagi menopang tubuhnya. Penglihatan matanya mulai kabur. Dengan sekali denyutan yang membuat jantungnya ingin lepas dari raga, Itachi jatuh tersungkur ke lantai.
Kesadaran perlahan menghilang. Penglihatan kaburnya menggelap. Napasnya yang tercekat di leher kini hilang tanpa jejak. Namun sebelum ia menutup mata untuk terakhir kalinya, ia sempat menyebut nama Hinata di sisa napasnya. Uchiha Itachi di hari pernikahannya telah meninggal dunia. Dan orang yang pertama mengetahuinya adalah Fugaku dan Mikoto.
"Surat wasiat tak bisa dibacakan jika Hinata dan Itachi menikah."
Sasuke yang belum selesai dengan duka di hatinya lantas menarik kerah sang pengacara —Nara Shikamaru. Manik gelapnya berkilat amarah. Kematian kakaknya yang mendadak membuat dirinya syok. Otaknya langsung mendidih ketika Shikamaru menyinggung surat wasiat di tengah kedukaan keluarga mereka. Belum lagi dengan keadaan ibunya yang langsung pingsan, dan tangisan pilu Hinata yang terdengar di telinganya sungguh membuatnya goyah.
"Bisa tutup mulutmu HAH BRENGSEK—!"
"Aku hanya menyampaikan apa yang harus kusampaikan."
"Sasuke." Potong Izuna yang menengahi.
Detik itu juga Sasuke sontak melepaskan Shikamaru seraya mengumpat.
"Aku hanya ingin menyampaikan apa yang harus kusampaikan." Ujar Shikamaru yang melirik Izuna seakan memberi sebuah kode
Izuna langsung memutarkan otaknya. Sepengetahuannya tak ada amanat seperti itu, semua pembicaraan yang dikeluarkan dari almarhum kakaknya kepada Shikamaru tak ada yang tidak diketahuinya. Karena setiap pertemuan antara Madara dan Shikamaru, ia selalu disertakan sebagai saksi pendengar.
Bagaimanapun urusan antara mereka berdua bukanlah urusan biasa. Selain sekarang untuk mengungkap kematian Madara, ini juga ada sangkut pautnya dengan pembantaian klan Hyuuga. Dan Izuna yang dari dulu tahu cara main kotor keponakannya, hanya bisa terdiam.
Namun, sekarang cara main kotor Fugaku tak bisa ditolerir. Setelah mendengar cerita Hinata yang terdengar mengerikan itu, Izuna begitu terkejut, ditambah saat tahu keponakannya adalah dalang dari kematian kakaknya, ia harus turut balas dendam atas kematian kakaknya.
Padahal Fugaku adalah keponakan yang sangat ia banggakan sejak dari dulu. Akan tetapi, Fugaku malah membalas semua dukungannya selama ini dengan menusuk jantungnya, yakni membunuh kakak tersayangnya.
Lalu, jika malam ini tak ada pernikahan yang seperti diharapkan, maka surat wasiat itu tak bisa dibacakan. Izuna juga tak ingin penangkapan Fugaku ditunda hanya karena Hinata gagal menikah malam ini. Menunda sama dengan menyusul sebuah kegagalan. Fugaku harus dihukum seberat-beratnya atas apa yang telah dilakukan oleh kedua tangannya.
Laipula pemberitahuan tentang isi surat itu begitu penting dalam melancarkan sebuah rencana untuk penangkapan Fugaku. Kalau tidak, pengungkapan kasus ini berjalan lama dan Fugaku bisa saja tak bisa tersentuh karena koneksi yang ia punya semakin solid kekuasaannya.
Meskipun Izuna tahu isi surat wasiat itu, menjadikan Sasuke pemimpin utama di perusahaan ini bisa saja gagal. Posisi Sasuke belum kuat meyakinkan para pemenang saham untuk menyerahkan kepemimpinan, karena setengah dari mereka adalah pendukung Fugaku. Dan jika Fugaku bisa ditangkap dalam waktu dekat, maka tak sulit untuk menaikkan jabatan Sasuke.
"Pernikahan malam ini tak bisa dibatalkan."
Semua anggota keluarga inti dalam acara ini lantas menatap bingung Izuna. Hinata yang memeluk tubuh Itachi bahkan beranjak dari tempatnya. Ketika Izuna memanggilnya, ia sontak menghampirinya dengan polesan di wajah yang kini terlihat berantakan. Kebingungan tergambar sangat jelas di wajahnya yang mulai lelah.
Izuna memegang bahu Hinata dan menatapnya penuh dengan arti.
"Maafkan kakek yang brengsek ini, anakku. Ini semua demi balas demi " Bisiknya pada Hinata yang tengah menebak.
"Dan aku tak suka membuang uang dengan percuma."
Semua telinga di ruangan itu sontak menajam. Sementara itu, Shikamaru yang sedari tadi terdiam mulai menebak kemana arah Izuna akan pergi. Izuna sejenak menarik napas panjang dan melirik pria di depannya tengah memberikan ultimatum.
"Siapa yang berani menikahi Hinata malam ini... "
Manik bulan Hinata lantas melebar. Ia punya firasat buruk akan hal ini.
"Maka kalian akan mendapat 10 % harta kekayaan kakakku dan menjadi bagian ahli warisku kelak. "
Dalam sekejap, mata mereka berubah hijau. Tak munafik, mereka seperti manusia biasa yang tentu tergiur oleh harta. Dengan mendapatkan 10 % harta kekayaan Madara saja sudah besar apalagi ditambah dengan menjadi bagian ahli warisnya yang kekayaannya jauh melebihi kakaknya, sudah cukup memancing mereka.
"Jika tidak..."
Izuna mengedarkan matanya ke seluruh ruangan. Memandangi satu-persatu keluarga inti mereka. Ini adalah taruhan besar. Ia yakin umpan yang ia buat akan dapat memancing Fugaku keluar dari kandangnya.
"Aku akan menyumbangkan semua harta peninggalan almarhum kakakku kepada panti asuhan tanpa terkecuali."
Nasi telah menjadi bubur, apa yang diucapkan Izuna tidak bisa ditarik karena Shikamaru merekam percakapan tersebut. Seketika ia menatap Fugaku yang mengepalkan tangannya. Lalu raut kosong Hinata tertangkap oleh retinanya, wajah dingin Sasuke pun tak luput olehnya.
"Aku beri kalian waktu setengah jam untuk berpikir, setelah selesai kalian boleh datang kemari."
Setelah mengatakan hal itu, mereka pun keluar dari ruang. Hinata sejenak menatap kedua tangannya. Kegalauan melanda hatinya, ia pun kembali menghampiri dan memandang wajah Itachi yang telah tiada. Dalam hati, ingin sekali ia pergi meninggalkan dunia ini bersama Itachi.
Lalu tanpa disadari olehnya, di belakangnya Sasuke memandangi punggung Hinata dengan wajah yang tak bisa tergambarkan. Ia kemudian mendesah lelah dan meninggalkan ruangan dengan hati yang penuh kekacauan.
The End flashback.
