Disclaimer : Masashi kishimoto
Baby breath by R-daisy
Rate M for safe.
Warning : AU, OOC, Crackpair, Gaje, Typos, terkadang tidak sesuai EYD, slight Sasusaku etc.
DLDR!
Summary...
Hinata adalah gadis sederhana yang suka ketulusan. Kedamaian adalah jalan tempuhnya. Lalu menjadikan cinta sejati sebagai impiannya.
Tapi untuk hidupnya sekarang, Hinata tak menuntut cinta karena sadar pernikahannya sebuah keterpaksaan. Dia juga tak menuntut soal uang.
Bukan berarti dia diam saja jika diperlakukan seperti buangan. Jadi pandanglah dia sebagai istri sah, walaupun posisinya sebagai istri kedua itu tak diinginkan.
Hari telah diselimuti oleh gelapnya malam. Di dalam ruangan yang luasnya tak seberapa, Hinata dan Sasuke tengah berdiri di depan cermin wastafel kamar mandi. Mereka berdua mengalami kejadian tak mengenakkan di tengah malam seperti ini.
Mendapati kejadian ini, kedua alis Sasuke lantas menekuk cemas. Hinata mencium aroma busuk tadi, ia langsung muntah. Kini paket ancaman itu telah disingkirkan. Sasuke juga telah menyuruh kepala pelayan untuk memeriksa CCTV dan lainnya. Tapi, sampai sekarang Sasuke menerima kabar apapun.
"Ayah sudah keterlaluan!" Seru Sasuke dengan kesal.
"Ayah?"
Mereka berdua saling bertatapan. Tangan Sasuke yang mengelus punggung Hinata terhenti lalu mengandeng tangannya ke ruang tidur mereka.
"Kemarilah!" Ujarnya yang kemudian menuntun wanita itu duduk di pinggir kasur mereka.
"Apa dasarmu menuduhnya, Sasuke-kun?" Tanya Hinata yang memastikan, "Bagaimanapun kau tak bisa menuduhnya, Fugaku-san adalah Ayahmu."
Wanita itu sejatinya tahu mengenai hubungan buruk ayah dan anak itu. Dia hanya mengetes apakah Sasuke tengah mengujinya atau malah buruknya menjebaknya.
"Minumlah air hangat ini dulu!" Suara Sasuke yang terdengar lebih lembut itu membuatnya sedikit menyerah, dan ia pun meminumnya seraya tak melepaskan matanya dari pria itu.
Lalu setelah Sasuke meletakkan gelas yang telah kosong itu dan memposisikan diri di sebelah dirinya, Hinata menuntut balik pertanyaannya lewat raut wajahnya.
"Aku tau."
Sasuke menghela napas sejenak.
"Kau pasti sudah tau kalau kebencian Ayah terhadapmu sudah sangat terlihat saat kau hadir di keluarga ini Hinata."
Hinata terdiam tertunduk memijit tangannya. Ia sangat tahu itu namun ia tak tahu penyebabnya. Padahal seingatnya ia tak melakukan apapun yang menarik perhatian pria tua itu membencinya. Tapi...
"...Kenapa? Apa salahku?"
Kini Sasuke mendesah keras. Meremas poni yang menutup sebelah matanya itu dengan frustasi. Beberapa hari yang lalu ibunya telah menceritakan semua masa lalu mengenai mendiang kakeknya. Ia akhirnya mengetahui sebuah fakta yang bersangkutan kelahiran Hinata. Dan hal ini sangat mengejutkannya.
Tak ada yang menyangka setelah ayahnya membantai seluruh klan Hyuuga. Setelah itu yang paling mencengangkan adalah ia malah membawa seorang bayi di tangannya dengan tubuh yang ternodai darah dari klan Hyuuga. Dan ironisnya bayi yang berada di gendongan ayahnya tersebut adalah Hinata.
"Sebenarnya ada yang ingin kuceritakan,"
Hinata kembali menatap Sasuke, kata-katanya barusan memetik rasa penasarannya. Pria itu sontak menatapnya balik, sorot mata bulannya bergetar. Wanita itu membuka sedikit bibirnya yang kelu. Suasana berat ini membuatnya terus waspada dan curiga. Sorot mata Sasuke mengatakan seolah ada sesuatu yang akan menggores hatinya.
"Kalau begitu ceritakan saja."
Sasuke menggeleng keras, ia melongok ke arah lain.
"Tidak."
Sejatinya, mereka adalah pasangan suami-istri yang terbilang baru, yakni dengan usia pernikahan yang berjalan tujuh bulan. Walaupun tanpa cinta, kepedulian mereka terhadap pasangan tidak kalah dengan suami-istri yang saling mencintai. Jika salah satu dari mereka berdua tersakiti, maka yang lain akan merasakannya juga.
"Sasuke-kun..." panggil Hinata yang menarik ujung kaosnya yang berlengan pendek, ia meminta perhatian sedikit akan tetapi pria itu menyentaknya lembut.
"Ini... bukan waktu yang tepat, nanti saja ceritanya."
Hinata menelan rasa kecewanya, Sasuke seolah memenjarakannya ke dalam ruang penuh misteri. Kini Sasuke telah melihat wajahnya kembali. Tangan pria itu terangkat meraih puncak kepalanya, mengelus lembut mahkota indigonya.
"Sebaiknya kita tidur saja ya."
Manik malam bertemu manik bulan. Mereka hanya terdiam memandanginya. Pancarannya begitu indah sehingga menggetarkan hati. Lembutnya tatapan itu bagaikan krim kue di mata mereka.
"Kau harus banyak istirahat, lagipula ini sudah terlalu larut." Ujar Sasuke yang menyudahi keheningan.
Hinata sontak menggenggam pergelangan tangan pria itu, membuat pria itu balik memegang tangannya. Sementara wajah Hinata penuh pengharapan, wajah Sasuke yang penuh terbuka menjadi sambutannya.
"Tapi kau janji akan menceritakannya padaku?"
"Aku janji." Sasuke berujar mantap.
Mereka pun berbaring bersama di atas kasur. Tidak ada keintiman yang terjadi seperti waktu itu. Hanya memandang langit-langit kamar yang lampunya telah di matikan. Serta selimut tebal yang menyelimuti tubuh mereka yang sebenarnya saling membutuhkan.
Hal menjijikkan tadi terbayang lagi oleh benak Hinata. Untuk pertama kali inilah dia diteror seperti itu. Di tambah Sasuke yang menangguhkan niatnya untuk bercerita membuatnya tak bisa memejamkan mata. Apalagi dengan raut yang sama sekali tak pernah ia suguhkan padanya, raut iba.
Ini sungguh di luar dari atensinya.
Hinata menatap pria di sebelahnya. Pria itu seperti biasanya tertidur dengan memunggunginya. Rasa kesepian adalah bentuk perasaan yang kini tergambarkan padanya.
Mereka memang tidur bersama, namun kehangatan itu tak selalu ada. Mereka memang pernah berpelukan beberapa kali namun itu tak pernah untuk selamanya.
Segala kelembutan yang diberikan pria itu hanyalah sementara. Pria itu hanya melakukan peranannya sebagai suami. Menurutnya, Sasuke sudah jadi suami yang baik meskipun banyak sekali kekurangannya. Rumah tangga mereka terlihat seperti peragaan layaknya main rumah-rumahan. Akan tetapi, dengan jujur Hinata sedikit menikmatinya. Baginya perilaku Sasuke terhadapnya telah berubah.
Hangat namun di sisi lainnya dingin.
Karena hubungan ini akan berakhir, Hinata hanya ingin mengakhiri dengan baik. Tak ada permusuhan atau perasaan yang mengikat. Biarlah seperti ini. Kepura-puraan tak selamanya buruk.
Jiwanya yang lelah serta kenikmatan tidur yang terganggu sudah cukup memaksa Hinata untuk menutup matanya. Dengan dua punggung yang saling berhadapan itu, masa selimut merengkuh mereka. Mereka pun tenggelam dalam bunga tidur yang tercipta di bawah alam sadar.
.
.
.
Di dalam labirin serba putih sepasang kaki itu berjalan. Dari gelagatnya ia bingung memilih jalan yang dia pilih. Terus berputar di jalan yang sama. Hingga ia sampai pada satu tempat, sosok yang ia kenal berdiri di depannya seraya tersenyum.
"Itachi-kun?"
Air mata yang ia kubur dulu seketika mudah sekali keluar. Perasaan sentimentalnya muncul kepermukaan. Ia memegang dadanya yang tiba-tiba sesak.
Dalam sekejap labirin itu berubah menjadi ruang lapang tanpa penghalang. Mendadak ia jadi bingung. Dan sosok Itachi menjauh.
"Apa kau tak merindukanku, Itachi-kun? Aku merindukanmu."
Itachi tersenyum sedih, sedangkan ia tersenyum miris. Nada suaranya mulai serak. Tangisannya tak bisa berhenti.
Lalu kala kedua kaki itu mulai tergerak menghampiri, Itachi justru mundur semakin menjauh.
"Kau mau kemana Itachi-kun?"
Wajah Itachi lantas berubah sedih.
"Aku lelah Itachi-kun, bawa aku bersamamu."
Itachi menggeleng keras, pria itu bahkan enggan menghampirinya.
Dengan usaha terakhir ia berucap, "A-Aku kesepian..."
Kini Itachi mulai bersuara, "Sasuke."
"Sasuke?" ia tak mengerti maksud pria itu, "Ada apa dengan Sasuke-kun?"
"Dia suamimu Hinata."
"Sasuke-kun tidak mencintaiku. Aku hanya mencintai Itachi-kun," Ia membantah, ia menggeleng keras.
Itachi malah menunjukkan raut yang lebih sedih lagi. Air mata Hinata yang keluar malah semakin deras.
"Sasuke juga akan mencintaimu seperti aku mencintaimu, Hinata."
Ia menggeleng keras, "Tidak... Itu tidak mungkin."
Berlari, mengejar Itachi yang semakin kecil dari gambaran matanya. Tangannya bergerak-gerak meraih pria itu.
"Itachi-kun!"
Dunia sekitarnya seakan pecah seiring ia meninggalkan jejaknya.
"Ikhlaskan kepergianku, Hinata. Carilah kebahagiaanmu."
Eksistensi Itachi kemudian memudar, dia tersenyum cerah kali ini.
"Itachi-kun!"
Hingga sosok itu menghilang suara lain memanggilnya, membawanya kembali dari alam mimpi.
.
.
.
"Hinata!"
Hinata menangis dalam tidurnya, dan ini membuat Sasuke sedikit khawatir. Sepertinya wanita itu bermimpi buruk pikirnya.
"Hinata, sadarlah..."
Sasuke menepuk pelan pipinya. Tapi wanita itu tak berhenti mengeluarkan air matanya dan enggan terbangun.
"Itachi-kun..."
Sasuke berdecak. Alisnya mengerut lebih dalam. Hinata terus-menerus mengigau memanggil almarhum kakaknya dari tadi. Rasa penasaran pun tentu menyentuh hatinya.
"Bangunlah, Hinata."
Sasuke kembali memanggil namanya, jika Hinata mendengarnya rasa gusar itu merasuk ke dalam getaran suaranya. Tangisan Hinata pun sungguh mengguncang batin. Ia hanya tak pernah sekhawatir ini terhadap Hinata. Yang dimimpikan Hinata pun ia tak tahu. Ia hanya menggerakkan instingnya, mencium telapak tangan Hinata, berharap istrinya terbangun oleh hal ini.
Tak lama do'a dalam diam itu seketika terkabul oleh Tuhan. Tak lama Hinata akhirnya membuka matanya dan Sasuke mendesah lega -bersyukur.
Sejenak mengedipkan mata, Hinata memandang heran ke arah Sasuke yang memunculkan raut cemas.
"...Sasuke-kun?"
Tangannya kemudian tergerak menuju matanya yang sembab. Keringat membanjiri keningnya. Hinata lalu menyadari bahwa ia menangis dalam tidurnya. Sedangkan Itachi adalah sosok yang hadir dalam mimpinya saja.
"Hinata."
Hinata beranjak dari posisi tidurnya. Ia sontak menatap Sasuke yang tengah membaca keadaannya.
"Kau tidak apa-apa?" tanyanya yang memegang pipi wanita itu. Mengelusnya hati-hati dengan ibu jarinya.
Tiba-tiba rasa sedih di dalam Hinata menyeruak. Mimpi itu terasa begitu nyata.
"A-Aku..." Air matanya akhirnya tumpah di depan Sasuke.
Hinata mencoba menghapusnya, namun Sasuke menghentikannya, memegang kedua pergelangan tangan itu. Ia meminta perhatian penuh.
"Ceritalah, aku akan mendengarkan..." Ujarnya lembut.
Bibir Hinata bergetar. Bayangan Itachi yang bersedih sekilas muncul di benaknya. Tangannya kemudian meremas gusar alas kasur itu. Di tambah Sasuke yang melihatnya lembut melemahkan pertahanannya.
"A-Aku takut Sasuke..." suara seraknya pecah, akhirnya Hinata mengatakannya. "Aku takut sendirian."
Sasuke mengangguk gugup, "Tenang, aku disini."
Hinata menggeleng. Bukan itu maksudnya. Tapi apa daya hubungan sementara itu adalah penghalangnya.
"Semua ini... Semua ini."
Sasuke mencium kedua tangannya, berusaha menenangkan Hinata yang seperti terkena serangan panik. Napas wanita itu langsung kembang kempis.
"...ini terlalu berat, Sasuke-kun."
Hinata tak bisa menghentikan tangisannya. Ia tak peduli betapa kacau wajahnya saat ini karena tangisan. Ia juga tak peduli kalau malam ini dia terlihat cengeng.
"Ingat Hinata aku ada disini sekarang, ayo kita hadapi bersama! Aku janji."
Sasuke tetap meyakinkannya. Ada rasa lega melihat Hinata menangis seperti ini padanya. Di sisi lain ia semakin tak tega melihat penderitaan yang dilewati oleh Hinata. Ia pun jadi teringat di mana masa mental Hinata jatuh ke dalam jurang yang terdalam. Ia tak menginginkan istrinya tersebut jatuh lagi ke lubang yang sama.
"Sasuke-kun."
Tak pernah Sasuke merasa sebahagia ini ketika Hinata terus menyebut namanya. Bergumam menenangkan.
"Hn."
Sasuke lantas mendekatkan wajah mereka hingga napas mereka bertabrakan. Kening yang saling menyatu dan sentuhan sensitif pada pangkal hidungnya membawa sensasi yang berbeda.
"Jangan tinggalkan aku."
Untuk sesaat Sasuke menutup kelopak matanya, ia membelai pipi Hinata lembut sekali hingga kembali membuka matanya. Ia kemudian menyoroti manik bulan Hinata yang begitu lugas. Seraya mengangguk, senyuman di bibirnya sontak mengembang.
"Hn, aku janji."
Hinata turut mengatur napasnya. Mata bulannya tak sedetikpun lepas dari wajah Sasuke yang mengajaknya untuk mengatur pernapasan.
Di kala perasaannya telah tenang, Sasuke membawa Hinata ke dalam dekapannya. Kini napasnya telah teratur yang membuat Sasuke sedikit tenang. Ia mengelus punggung kecil itu seraya mengayunkan perlahan.
Lalu detik kemudian Hinata memejamkan matanya, menikmati perlakuan lembut pria itu. Sampai hatinya benar-benar tenang, ia melepaskan pelukan itu. Menatap Sasuke yang tidak melepaskan pandangannya dari Hinata.
Mereka kemudian terdiam. Hanya mata mereka yang berbicara tanpa kata. Saling tersenyum seperti orang bodoh. Sampai tanpa sadar jarak di antara mereka menipis. Dan saat itulah mereka saling mendaratkan bibir. Mengalir begitu alami hingga lupa apa yang sebenarnya terjadi.
Untuk pertama kalinya, di waktu yang terlalu awal untuk di bilang subuh itu, mereka layaknya kekasih sungguhan yang tengah memadu kasih. Tak ada kecanggungan di antara mereka, yang ada adalah gelora kehangatan yang membara.
.
.
.
Fugaku duduk bersandar pada tiang kasur besar. Di sampingnya Mikoto tertidur pulas tanpa rasa terganggu olehnya. Ini sudah menjelang subuh, dan ia pun beranjak dari kasurnya.
Kini ia berjalan menuju kantor pribadi. Ia tak bisa tidur dengan tenang. Meneror anak itu kali ini terbilang cukup sukses. Hanya saja orang bayaran yang ia sewa untuk meneror berhasil tertangkap polisi sebelum bawahannya mencabut nyawanya.
Kemudian Fugaku beranjak membuka jendela, udara subuh yang menyegarkan membuat terdiam. Pikirannya lantas melayang ke masa lalu. Kematian ibunya selalu terngiang di kepala jikalau kekalutan melandanya. Ia harus balas dendam atas kematian ibunya.
Hinata adalah penyebab utama yang membuat ibunya meninggal karena bunuh diri. Entah kenapa ia merasa bersyukur karena tidak membunuh Hinata yang masih lemah dan kecil -masa balita- dalam insiden itu. Sehingga ia bisa leluasa menyiksa jiwa dan raganya seperti halnya yang dialami ibunya dulu. Kalau bisa Fugaku ingin menyiksa sampai seumur hidup, dan memanipulasinya.
Fugaku kemudian berdiri di dekat jendela. Manik gelapnya memandangi langit yang terbilang mentah untuk ukuran pagi. Ia pun mengambil ponsel dan langsung menghubungi bawahannya yang mempunyai koneksi juga terhadap kepolisan.
"Bagaimana situasinya?"
["Sampai saat ini polisi belum mengabarkannya pada anak itu, Tuan."]
Seraya mendengarkan keterangan anak buahnya, otak Fugaku berputar. Ia memikirkan suatu pikiran apa yang harus ia rencanakan ke depannya. Namun ia masih beruntung karena orang yang dia utus seorang tuna rungu, sehingga polisi pasti mustahil meminta keterangannya.
"Apa polisi sudah tau tentang kondisinya? "
["Belum Tuan, sampai sejauh ini ia bahkan tidak mengeluarkan suaranya ketika polisi menggertaknya."]
"Hn, bagus... Bagus..." Fugaku menganggukkan,
[Lalu tentang kecurigaan kami terhadap identitas asli pengacara Shikamaru adalah benar."]
Kedua alis Fugaku sontak menekuk tak nyaman,
"Maksudmu, ia bukan pengacara?"
["Itu benar. Rekan kami bilang kalau ia suka mondar-mandir ke kantor utama penyidikan khusus kepolisian."]
Tiba-tiba dada Fugaku bergetar, ia punya firasat buruk.
["Tapi sebelum itu kami minta maaf karena kami tak punya akses lebih ke sana."]
"Tak apa, kerja bagus untuk kalian. Kalau begitu tetap awasi dia, jika ada sesuatu yang baru langsung laporkan pada tangan kananku."
["Laksanakan, Tuan."]
Setelah berbicara terhadap bawahannya, Fugaku lantas menekan nomor lain. Ia menghubungi tangan kanannya, dan menyuruhnya melakukan pekerjaan kotor lagi.
"Kalau bisa kau harus bertindak lebih cepat, sebelum polisi menemukan cara lain."
["Baik, Tuan."]
"Lakukan dengan lembut dan hati-hati, aku tak mau memantik api yang lebih besar lagi."
["Mengerti."]
Ada jeda di sana.
["Lalu apa yang harus kulakukan dengan putra anda, Tuan? Beberapa hari yang lalu dia mencoba mengacak mejaku. Dia sepertinya curiga tentang biaya pengeluaran yang dikeluarkan untuk pengembangan resort Chiba. "]
Fugaku sontak mengernyit tak suka. Bagaimana bisa ia baru mendengarnya sekarang? Namun meskipun ditanya pun tak ada gunanya, yang terpenting tangan kanannya tak sekali pun melakukan kesalahan besar. Fugaku tak pernah meragukan anjing setianya.
"Asal ia tak menemukan barang buktinya, biarkan saja dia."
["Baik."]
Fugaku segera mematikan ponselnya ketika pembicaraan selesai. Akan tetapi, ia tak menyadari bahwa ada seorang pelayan yang menguping pembicaraan mereka.
