Disclaimer : Masashi kishimoto

Baby breath by R-daisy

Rate M for safe.

Warning : AU, OOC, Crackpair, Gaje, Typos, terkadang tidak sesuai EYD, slight Sasusaku etc.

DLDR!


Summary...

Hinata adalah gadis sederhana yang suka ketulusan. Kedamaian adalah jalan tempuhnya. Lalu menjadikan cinta sejati sebagai impiannya.

Tapi untuk hidupnya sekarang, Hinata tak menuntut cinta karena sadar pernikahannya sebuah keterpaksaan. Dia juga tak menuntut soal uang.

Bukan berarti dia diam saja jika diperlakukan seperti buangan. Jadi pandanglah dia sebagai istri sah, walaupun posisinya sebagai istri kedua itu tak diinginkan.


Saat waktu menunjukkan pukul delapan pagi matahari tak malu lagi menampakkan sinarnya pada dunia. Sepasang manusia yang masih berselimut itu tampak pulas. Kenyamanan yang jarang mereka rasakan kini membuat mereka tenggelam enggan untuk terbangun. Hingga suara nyaring alarm masuk ke telinga, mereka merasakan bahwa alarm adalah pengganggu yang menyebalkan.

"Sasuke-kun, ponselmu berbunyi." Setengah sadar Hinata berujar membuat Sasuke langsung mematikan alarm. Pria itu kemudian menarik selimutnya sementara Hinata mulai tersadar. Ia terbangun dengan mata yang layu.

"Sudah jam 8 lewat." Lirih Hinata yang melihat jam di ponselnya.

Wanita itu sontak melihat ke sebelahnya seraya menutup mulutnya yang menguap. Sasuke tengah tidur dengan posisi terlentang dengan wajah yang mengarah padanya.

Dengan otak yang masih belum mencerna baik Hinata mengucek matanya. Lalu menyipitkan mata seolah tengah memproses ingatannya akan semalam.

Mimpi akan Itachi yang menyedihkan. Lalu ciuman—

Ah, Hinata tak menyangka, semalam mereka telah berciuman. Seketika ia langsung memegang bibirnya yang ia gigit. Panik, ia membelakangi Sasuke yang masih tertidur tanpa hambatan.

Ini gawat. Dadanya sontak berdebar-debar. Semalam ia terpengaruh oleh suasana. Di tambah mereka berdua juga menikmatinya. Bagaimana bisa pria itu dengan mahir menuntun wanita polos sepertinya untuk bermain sesuatu yang tak pernah ia mainkan sebelumnya. Sasuke terlihat begitu pro, mengajak bergulat itu membuat dirinya semakin terbawa alurnya. Pria itu sukses menjerat dirinya layaknya laba-laba yang merangkap mangsanya.

Baginya, ini ciuman bibir pertama yang membuatnya kalang kabut. Meskipun sentuhan itu hanya sekali, akan tetapi rasanya masih menggelayut manis di bibirnya sampai saat ini.

Debaran di jantungnya semakin mengencang seperti ingin memasok oksigen lebih banyak, perutnya terasa seperti ribuan kupu-kupu yang terbang, dan Hinata menutup wajahnya yang memanas. Ia menggeleng keras, seolah-olah gelengan itu mampu memotong film strip memorinya lalu membuang adegan itu dari kepalanya —memanipulasi ingatannya.

"Apa yang kulakukan? Bodoh! Bodoh...!" Lirih Hinata yang memukul kepalanya sendiri. Ia kemudian memegang pipinya yang semakin memanas hingga membuat telinganya turut memerah.

Hinata jadi bingung harus menunjukkan wajah seperti apa saat melihat Sasuke nanti? Ini membuatnya malu setengah mati.

"Kau harus tenang Hinata." Ujar Hinata yang mengipas mukanya dengan tangan.

'Panas panas panas.'

Tanpa disadari oleh Hinata, sedari tadi Sasuke ternyata telah membuka manik gelapnya. Bibirnya lantas menyeringai seksi. Ia telah memperhatikan gelagat Hinata yang terbilang lucu sejak membelakanginya. Sampai suara ponsel milik Hinata berdering, perhatiannya pun teralihkan.

Sasuke perlahan terbangun dari posisi tidurnya, yang gerakannya tak disadari oleh Hinata. Mendengar suara yang mengecil bisa dipastikan istrinya tersebut mendapat telepon penting. Guna menguping percakapan, Sasuke mendekatkan dirinya. Ia memasang telinganya dengan seksama.

"Apa itu dari kantor polisi?" Tanya Sasuke seusai Hinata mengakhiri sambungan teleponnya.

Hinata yang baru menyadari keberadaannya sontak mengelus dadanya —kaget, "Ya, Tuhan... Sasuke-kun, kau hampir membuatku jantungan."

Sasuke lantas tersenyum seakan meminta maaf. Pria itu telah duduk tepat di belakang Hinata sambil mengintip dari balik punggungnya.

"Hn."

Yang dilakukan Hinata hanyalah mendesah. Ia mencoba menetralkan irama jantungnya, berusaha tenang seraya sebisa mungkin untuk menghindari wajah Sasuke. Melihat wajah Sasuke sedekat ini, membuat ingatan semalam melayang di udara. Lagipula hari ini begitu beda, tak biasanya mereka bisa terbangun secara bersamaan begini.

Sedangkan, karena diamnya Sasuke saat ini adalah tanda tuntutan untuk sebuah jawaban, makanya Hinata terpaksa bersuara, "Seperti yang Sasuke-kun ketahui, aku sudah melaporkan hal ini ke kantor polisi,"

Sasuke yang kini telah duduk bersebelahan dengan Hinata sontak mendengarkannya dengan cermat. Sebenarnya ia memang sudah mendengar pelaporan yang dibuat Hinata dari Suigetsu. Namun itu tak cukup baginya, baginya dengan mendengarkan keterangan dari sumbernya langsung adalah hal terpenting untuk mengisi dahaga keingintahuannya.

Di sisi lain, Hinata juga tak bisa mengalihkan wajah pria itu yang sekarang, Sasuke seakan menuntut lebih detail cerita itu langsung darinya, meskipun ia tahu kalau Sasuke sudah mengetahui informasi ini dari mata-matanya.

"Aku sudah memberi beberapa bukti surat ancaman baik itu lewat pesan atau surat yang selalu di kirim ke tempat kerja."

Hinata juga menceritakan bagian di mana ia merasa tiap malam selalu diikuti oleh penguntit, tetapi begitu ia mencoba memergokinya ditemani oleh teman kerjanya, orang itu tiba-tiba tidak mengikutinya lagi di keesokan harinya, sehingga ia tak melaporkan kasus itu.

Walaupun cerita demikian sudah didengarkan oleh Sasuke, tetap saja ini membuat tangannya terkepal dengan keras. Masalah penguntit yang selalu mengikuti Hinata tiap malam itu sebenarnya sudah ditangani oleh Suigetsu. Namun anehnya kemarin ia malah mendengar dari anak buahnya bahwa penguntit itu juga tertangkap oleh polisi.

"Dan sekarang polisi berhasil menangkapnya, dan petugasnya bilang jumlah ada tiga orang yang ketahuan."

Sebelah alis Sasuke seketika menekuk, "Tiga orang?" Sebanyak itu...?

Hinata mengangguk —mengiyakan.

"Makanya hari ini aku akan ke sana, aku ingin melihat wajah mereka."

Kini Sasuke yang mengangguk atas perkataannya.

"Tapi kita butuh pengacara untuk membawanya ke pengadilan, apa kau sudah menyewanya?"

Lamat-lamat Hinata menatap ragu Sasuke seraya memainkan jari tangannya, "Karena ini bukan sesuatu yang besar, jadi... lebih baik jika tak menyewanya, lagipula ini akan buang-buang waktu."

"Astaga, Hinata..." Sasuke mendesah sambil mengusap mukanya.

Pria itu kemudian memegang kedua lengan Hinata untuk meminta atensi penuh, "Kita harus menyewanya Hinata. Pengadilan adalah tempat untuk memutuskan masa hukuman. Kita harus membuat mereka jera. Mereka telah merusak kehidupanmu..."

'Mereka membuatmu menangis seperti semalam... Aku benci itu. Mereka menekan jiwamu.'

Hinata sejenak mengedipkan kelopak matanya. Kata 'kita' yang keluar dari mulut Sasuke terasa asing di telinganya, namun mampu menggelitik hatinya yang kering.

"Ini bukan remahan kudapan Hinata. Apalagi wajahmu telah dikenal banyak orang semenjak kejadian di pesta."

Sasuke memukul kasurnya cukup keras. Ia begitu menyesal sekaligus kesal berat. Kini ia menatap wajah Hinata dengan raut sedih di wajahnya yang rupawan dan memegang dagunya seakan tengah memastikan kondisi buah. Lalu seksama ia menelisik hati Hinata dengan membaca wajahnya. Ia menghela napas.

Tuhan telah menulis kehidupan Hinata dengan liku-liku yang tak mudah dan cukup miris. Dengan latarbelakang seorang yatim piatu karena akibat dari pembantaian klannya. Lalu di asuh oleh klan yang pernah membantai keluarganya. Hingga ia juga harus terpaksa menikah dirinya yang merupakan anak dari seorang pembantai klannya. Dan sekarang ia harus mengalami hal yang tidak menyenangkan. Akan tetapi, meskipun begitu ia tetap menghadapinya. Sendirian.

Setelah tahu latarbelakang Hinata, Sasuke berpikir untuk bersikap lebih baik lagi. Walaupun ia tahu kekurangannya sebagai suami dari Hinata begitu kurang, tetapi ia ingin melakukan hal yang terbaik untuknya. Sebab pernikahan ini pulalah mengubah rasa tak sukanya terhadap Hinata dulu seakan menghilang. Mungkin karena mereka memiliki masalah yang sama sehingga membuat empatinya bergerak terhadap Hinata. Serta rahasia masa lalu yang telah diketahuinya, membuat Sasuke semakin mendekap Hinata lebih dalam lagi.

Berbeda dengan hal yang dialami Sakura tentang kasus ini, istri pertamanya tersebut termasuk yang cukup beruntung. Meskipun ia mengalami pelecehan, ia mendapat perhatian lebih bukan hanya dari dirinya saja, tetapi juga dari ibunya yang memang menyayangi Sakura sejak awal. Orang tua Sakura sendiri masih lengkap. Mereka bahkan datang dan menginap di apartemen untuk menjaga Sakura semenjak kejadian itu, sehingga sekarang Sasuke tak terlalu mengkhawatirkannya.

Namun trauma tetap saja trauma, dan itu akan meninggalkan jejak mendalam di kehidupan mereka.

"Kau mengerti kan maksudku?"

Sejenak Hinata terdiam. Tentu ia mengerti. Yang diomongkan oleh Sasuke tidaklah salah. Kasus ini tak bisa saja dihilangkan bagai angin menerbangkan daun kering. Apalagi hal itu telah mengorbankan ketenangan hidupnya.

"Aku mengerti, Sasuke-kun."

"Hn."

Sasuke lantas menampilkan senyumnya yang mahal seraya mengusap kepala Hinata. Sejak semalam Hinata lebih sering memanggil namanya ketimbang menggunakan kata 'kau' atau 'kamu'. Entah apa yang ada dipikiran wanita itu hingga terjadi perkembangan seperti ini.

Apa ini ada kaitan dengan mimpi atau ciuman semalam? Entahlah... Apapun alasannya, ini sesuatu yang baik baginya.

Ngomong-ngomong soal ciuman itu, ada suatu dorongan yang cukup kuat untuk Sasuke berkeinginan melakukannya lagi. Respon Hinata yang terbilang amatir untuknya ternyata begitu manis. Akan tetapi, melihat Hinata yang gelagatnya tak ingin diingatkan tentang ciuman itu membuat Sasuke tak tega. Mungkin ini pertama baginya, biarlah ini berjalan perlahan dulu. Setelah itu, saat berhubungan suami-istri yang sesungguhnya terjadi nanti, Hinata tak akan canggung lagi padanya.

"Baiklah... Bagaimana kita berangkat bersama?" Desah Sasuke yang beranjak dari tempatnya. Dia merenggangkan otot-ototnya.

Mata Hinata berkedip bingung, "Sasuke-kun, tidak ke kantor?"

"Aku mengambil cuti selama beberapa hari."

"Oh..." Hinata pun turut berdiri, "Kalau begitu aku buat sarapan dulu."

Sasuke lantas menggeleng dengan senyum tipis di bibirnya.

"Tidak perlu, aku saja yang buat. Kau kemas saja beberapa baju buat kita menginap."

"Menginap?" Manik bertanya Hinata mengikuti kemana arah Sasuke berjalan, "Kemana?"

"Kita akan ke pemandian Onsen di Kyoto."

"Onsen!? Benarkah?"

Hinata sontak menutup mulutnya yang hampir memekik kesenangan. Sasuke menyeringai tipis, kala itu Hinata menutup wajahnya karena malu.

"Sepertinya kau senang sekali? Baguslah."

Hinata kemudian mengangguk pelan. Surai indigonya yang sedikit acak-acakan itu kemudian bergoyang sehingga memetik ketertarikan Sasuke untuk tidak menyentuhnya. Hinata menurunkan sedikit tangannya yang menutupi wajahnya tersebut karena sentuhan lembut itu.

"Aku baru sekali pergi seumur hidupku." Tentu saja senang.

Sasuke mendengus geli. Pipi Hinata yang merona tersebut sungguh membuat dirinya gemas. Wajar saja bila mengingat Hinata seumur hidupnya hidup di pulau yang serba terbatas. Sasuke yakin juga selama satu tahun lebih tinggal di Tokyo, wanita itu pasti belum menjelajahi semua kawasan wisata. Bila dilihat kesehariannya, Hinata adalah tipe pekerja keras yang menghabiskan waktu istirahatnya di dalam rumah seharian.

"Kalau begitu bersiaplah."

Sasuke kini sudah di depan pintu. Ia teringat semalam pelayan Ebisu telah menyiapkan bahan untuk membuat sup miso.

"Tapi kenapa tiba-tiba?"

"Kita kan belum pernah bulan madu? Anggap saja kita bulan madu."

Seusai Sasuke mengatakannya, bagaikan melemparkan bom perakit ke arahnya, Hinata langsung duduk terjatuh di atas kasur. Matanya mengedip tak percaya. Otaknya mencoba mencerna setiap kata yang penuh arti itu. Kalau saja Hinata tahu, sebenarnya dibalik itu Sasuke hanya mencari alasan saja.

"Aku tak salah dengar kan?"

Hinata memeluk dirinya sendiri.

"Bulan madu...?"

Jika Sasuke menamakan tema liburan kali ini adalah bulan madu, apakah mungkin mereka akan melakukannya?

Sementara itu di dapur, Sasuke yang tengah memasak nasi seraya bersenandung tersebut sepertinya tidak sadar bahwa efek kata-kata bulan madu itu membuat Hinata salah kaprah. Padahal niat aslinya, Sasuke hanya membantu Hinata refreshing uuntuk melupakan sejenak kasus yang mereka hadapi. Namun nyatanya, Hinata jadi salah sangka.

Poor, Hinata.


Menuju arah Kyoto, Hinata menatap kosong langit sore yang seperti berjalan dari dalam mobilnya. Setelah dari kantor polisi tadi, perasaannya jadi campur aduk bagaikan adonan yang tak mengembang.

Setelah mengetahuinya, ketiga tersangka itu memiliki motif yang berbeda-beda. Di antara mereka ada salah satu tersangka yang Hinata ingat. Pria asing berambut gondrong yang sebulan yang lalu memaksanya berkencan. Dia dendam terhadapnya karena Hinata telah menolaknya. Padahal Hinata waktu itu menolaknya baik-baik dengan alasan karena sudah menikah. Sejak kejadian memalukan di pesta tersebut, pria berambut gondrong itu lantas mengambil kesempatan untuk melancarkan balas dendamnya.

Dan untuk pria kedua adalah seorang penguntit yang selalu mengikutinya tiap pulang kerja. Pria bertubuh gemuk serta berkacamata. Dia tak jauh bedanya dengan orang pertama. Motifnya adalah dia ingin mendekati Hinata. Namun ada laporan ia juga pernah masuk ke pekarangan rumah orang untuk mengintip pemiliknya. Mendapati hal yang demikian, bulu kuduknya seakan menari. Untung saja ia tak sempat bertatap muka dengannya saat itu.

Sedangkan yang terakhir adalah orang yang telah mengirim paket menjijikkan itu untuk menerornya. Sosok pria itu telah terekam di CCTV rumahnya.

Pelayan Ebisu tadi pagi telah memberi copy rekaman itu langsung ke kantor polisi. Namun polisi belum tahu motif apa yang membuatnya melakukan aksi teror, pasalnya pria itu enggan menjawab pertanyaan yang diajukan polisi.

Hinata memeluk kakinya. Dia bersandar pada pintu mobil. Kediaman yang diciptakan semenjak dari kantor polisi membuatnya selalu terlarut pada insiden yang menimpanya belakangan ini. Dia bertanya apa yang Tuhan inginkan darinya. Dia hanya manusia biasa. Tapi, ia si pengecut yang tak mampu melarikan diri dari masalah.

Hinata menoleh pada Sasuke yang fokus pada jalanan di depannya. Pria itu sedari tadi mengunci mulutnya sama seperti dirinya. Lalu lagu lawas yang mengudara di radio mobil terdengar membuatnya melamun. Lagu itu mengingatkannya akan hubungannya dengan Sasuke yang akan berakhir beberapa bulan lagi. Apa setelah ini berakhir ia akan merasa dingin seperti lagu itu? Entahlah Hinata tak mampu membayanginya.

Sekarang ia hanya lelah. Sampai rasa kantuk pun memeluknya seperti seorang ibu menimang anaknya. Ia menutup mata seraya berharap. Tubuhnya seakan seperti layang-layang yang akan segera putus. Ia hanya berharap, semoga setelah ini ia masih bisa tersenyum.


"Bagaimana Fugaku? "

"Kudengar Sasuke berhasil mendapat proyek besar di Fukushima tahun depan? Kalau begini kita akan kalah oleh Tim mereka."

" Itu benar, jika terus begini maka tim kami bisa..."

Fugaku sejenak meminum kopinya. Berhubung Sasuke tengah mengambil cuti, hari ini mereka mengadakan pertemuan rahasia. Dan para pria tua yang mengelilinginya hanya orang tak berguna yang begitu iri dengan kesuksesan kelompok yang dipimpin Sasuke. Namun ini adalah kesempatannya, jika suatu hari terjadi hal yang tak diinginkannya, maka suara orang-orang payah itu akan jadi senjata yang bagus untuknya.

"Kalian tak perlu khawatir."

Orang-orang lalu menatapnya sedikit bingung.

"Kalian hanya perlu mendukungku, maka kalian akan baik-baik saja."