Disclaimer : Masashi kishimoto

Baby breath by R-daisy

Rate M for safe.

Warning : AU, OOC, Crackpair, Gaje, Typos, terkadang tidak sesuai EYD, slight Sasusaku etc.

DLDR!


Summary...

Hinata adalah gadis sederhana yang suka ketulusan. Kedamaian adalah jalan tempuhnya. Lalu menjadikan cinta sejati sebagai impiannya.

Tapi untuk hidupnya sekarang, Hinata tak menuntut cinta karena sadar pernikahannya sebuah keterpaksaan. Dia juga tak menuntut soal uang.

Bukan berarti dia diam saja jika diperlakukan seperti buangan. Jadi pandanglah dia sebagai istri sah, walaupun posisinya sebagai istri kedua itu tak diinginkan.


Hari mulai diselimuti gelap ketika mereka tiba. Saat Hinata terbangun dari tidurnya mobil Sasuke ternyata baru selesai terparkir. Seperti anak ayam yang mengekor pada induknya, Hinata mengikuti Sasuke tepat di belakangnya.

Kala sarapan tadi pagi Sasuke telah bercerita bahwa tempat ini adalah rumah tua yang telah dibelinya setahun yang lalu. Sasuke telah merenovasi rumah ini menjadi tempat peristirahatan pribadinya yang dilengkapi private onsen. Awalnya Sasuke berniat menjadikan rumah ini tempat penginapan ladang bisnisnya, namun melihat pemandangannya yang bagus membuatnya mengurungkan niat.

"Sasuke-sama... Hinata-sama, selamat datang!" Sapa seorang pelayan begitu mereka memasuki ruangan.

Sambil membawa bawaan mereka sang pelayan kemudian mengikuti sampai ke depan kamar. Begitu dibuka ruangan seketika menguarkan aroma lavender yang Hinata sukai, dan hal itu telah juga membawa kenyamanan bagi mereka.

Hinata sejenak meregangkan otot, lalu menatap pemandangan di luar jendela yang memiliki taman yang bagus. Rumah bergaya tradisional ini sungguh membuatnya merindukan periode Edo yang tak pernah dialaminya. Kemudian ia menoleh Sasuke yang langsung membuka laptopnya.

Di lihat dari wajahnya, raut masam itu tampak jelas bahwa ada sesuatu yang mengganggunya. Sampai saat ini Sasuke juga masih tak berbicara padanya. Akan tetapi, Hinata tak mau ambil pusing, dan ia justru mempersiapkan sesuatu sebelum berendam.

Sebelum pergi berendam Hinata membersihkan tubuhnya. Onsen yang kini ia tuju memiliki tempat dengan alam terbuka. Lalu pemandangan alam terbuka itu memiliki kolam kecil dengan suara ketukan bambu yang mengalirkan air itu membawa ketenangan batin. Di tambah beberapa pohon bonsai yang tertata rapi serta pohon bambu kuning yang menjulang.

Setelah memasuki bak kolam, seraya memejamkan mata Hinata mendesah lega, ia sungguh menikmati air hangat yang menyentuh bagian kecil kulit polosnya. Bibir yang senantiasa tersenyum itu kini bermekaran bak bunga di pagi hari. Dalam hati, ia memuji Sasuke yang memiliki selera yang bagus.

Jika surga dunia adalah sebuah ketenangan seperti ini, maka Hinata tak mau keluar daripadanya. Segala masalah hidupnya yang bagaikan benang kusut itu seketika menghilang. Beban di pundaknya pun terasa tidak ada apa-apanya dibandingkan ketenangan ini. Jika Hinata bisa membeli ketenangan ini, maka ia rela menyerahkan seluruh hartanya.

"Ini seperti mimpi," gumam Hinata yang menyandarkan kepalanya pada batu alam itu.

"Sepertinya kau sangat menikmatinya?"

Lagi, ini sudah kedua kalinya Sasuke membuatnya kaget hari ini. Hinata mengintipnya dari balik pundaknya. Jantungnya berdegup sangat kencang saat tahu penampilan pria itu sama polosnya dengannya, kecuali selembar handuk yang menutupi bagian-bagian intim mereka.

"Sa-sasuke-kun, apa yang kau lakukan disini?"

Meskipun berusaha tenang, Hinata yang tahu Sasuke akan mendekatinya menjadi kalang kabut. Sekarang, kaki Sasuke telah turun ke dalam kolam menjadi jawaban atas pertanyaannya.

Seketika Hinata memalingkan wajahnya ke arah lain kala tahu Sasuke akan duduk berendam dekat di sampingnya. Ia memegang dadanya yang bergemuruh. Soal pipi yang merona pun untungnya sudah di tutupi oleh reaksi kulit dari panasnya air onsen.

"Aku tahu kau cukup pintar untuk apa kita ke sini, Hinata?"

"T-tapi, apa kita harus berendam bersama?"

Hinata yang sudah menetralkan detak jantungnya, kini memutar menghadap Sasuke yang telah menutupkan matanya dengan selembar handuk kecil yang basah.

Sasuke mendesah nikmat, "Hhaaa, segarnya~"

Tertunduk malu, Hinata menggenggam erat kain handuk yang menutupi dadanya. Sasuke menyeringai. Mungkin rasa prasangkanya terlalu berlebihan.

"Apa kau menyukai tempat ini Hinata?"

Hinata sontak kembali menatap Sasuke. Kelopak matanya sedangkan pria itu membuka sebelah matanya. Lagipula ini pertama kalinya mereka berendam bersama. Dan tatapan intens Sasuke membuatnya berdebar kembali.

"Suka." Ujar Hinata yang berbicara seolah tengah menjawab pengakuan cinta dari Sasuke.

Perlahan Hinata lantas membasahi tangannya dengan air, mendongak kepalanya ke atas seraya menatap warna malam yang masih malu-malu menunjukkan warna hitamnya. Lalu tangannya bergerak memainkan air itu seolah hal baru baginya.

Sasuke terdiam. Terpaku dengan lekat. Menikmati pergerakan kecil Hinata yang seperti menari-nari di depannya. Jujur, ia juga gugup, siapa pun tak tergoda akan tubuh Hinata yang terbilang bagus itu, akan tetapi ia cukup beruntung karena mempunyai wajah yang kaku sehingga istrinya tak mampu membaca wajahnya.

"Aku memang belum melihat keseluruhannya, tapi..."

Lagi, Hinata menatap Sasuke dengan tatapan polos bak anak kecil. Senyum malu-malu Hinata yang begitu khas membuat Sasuke tak dapat memalingkan wajahnya.

"Hanya melihat taman di depan kamar saja, aku sudah suka."

"Hn."

Mereka berdua kemudian saling melemparkan senyuman. Lalu memandangi sinar terang bulan yang kali ini bulat sempurna. Tak lama keheningan menghampiri, kehangatan air itu menyegarkan kulit mereka serta membuat pikiran mereka tampak bebas dari semua kekusutan hidup ini.

Apabila hidup ini hanyalah sekedar mencari makan, mungkin mereka tak akan sesakit ini. Jalan masa depan pun tidak bisa diprediksi. Untuk sampai pada masa ini saja mereka harus berjalan tertatih-tatih.

Dengan asa bisa hidup tenang sampai akhir hayat, maka mau-tak mau mereka harus terus bertahan dengan kekuatan yang mereka punya. Sedangkan Tuhan sepertinya lebih suka hamba yang bergerak meskipun dengan tongkat ketimbang tidur dengan emas.

"Sasuke-kun..."

Hinata melirik Sasuke yang langsung mendapatkan tanggapan.

"Hn."

"Bagaimana menurut, Sasuke-kun?"

Sasuke sejenak terperanjat. Ia sangat paham sekali maksud yang dibicarakan istrinya. Dari nada keraguan, Sasuke bisa mengartikan kalau Hinata sangat hati-hati membahas hal ini.

Persoalan yang harusnya disingkirkan sementara selama liburan ini agaknya tetap mengganggu pikiran. Bagaikan sebuah tertusuk duri kayu yang jika dibiarkan maka akan menyebabkan infeksi.

"Aku lebih curiga pada laki-laki dengan topi hitam."

"Maksud Sasuke-kun pelaku yang mengirimkan paket itu, kan?"

"Hn."

Sasuke menghela napas, Hinata yang penasaran lantas bersabar menanti.

"Rasa-rasanya aku pernah melihat,"

Hinata tanpa sadar sedikit mendekat. Suara Sasuke yang begitu lirih itu memaksa Hinata memasang telinganya lebar-lebar. Kini tanpa sengaja lengan mereka bersentuhan yang membuat Sasuke menahan dirinya.

"Dimana?"

Suara Hinata yang turut mencicit mengalun indah seperti kicauan burung di pagi hari di telinganya. Tatapan Hinata yang berbinar penasaran itu mampu menarik perhatiannya.

"Entahlah... Aku tidak terlalu ingat. "

Mereka hanya saling bertatapan untuk beberapa saat. Lalu Hinata mengacuhkan tangan Sasuke yang menyingkirkan helaian rambutnya yang terjatuh.

"Tapi, hanya satu yang aku ingat Hinata..."

Kini jari-jemari Sasuke tergerak menyentuh pipi Hinata layaknya menyentuh bagian permukaan porselen yang begitu indah. Sengatan yang dialirkan oleh kulit yang saling bersinggungan itu membuat mereka jadi tergelitik. Hingga sentuhan itu berlari pada leher jenjang Hinata menyengat, Hinata lantas memegangnya, menghentikan mereka yang terbawa suasana.

"Apa itu, Sasuke-kun?"

'Jangan buat aku makin penasaran.'

Hinata menatap lekat Sasuke, meminta hak jawaban atas pertanyaannya. Sasuke menghela napas.

"Sekali, aku pernah lihat Ayah bersama dengan orang itu."


Waktu berjalan begitu cepat bagaikan air tenang yang mengalir di sungai. Pagi adalah masa terbaik setelah sepertiga malam. Di sanalah sebagian besar anak-anak manusia mulai menjemput yang mereka sebut kebahagiaan.

Berbeda dengan pagi biasanya, Hinata dan Sasuke menikmati sarapan pagi pertama mereka. Ya, ini sarapan pertama mereka dalam satu meja yang damai. Biasanya di lain hari mereka jarang sekali sarapan bersama. Kalau tidak Sasuke yang terbangun lebih awal atau mereka tidak punya banyak waktu untuk sarapan.

"Mmm enaknya~" desah nikmat Hinata yang memegang pipinya. Padahal ini sarapan sederhana yang biasa ia makan, namun entah kenapa hari ini ia merasa bahagia.

Mungkin ini juga disebabkan oleh semalam. Ia tidur dengan nyenyak setelah berendam lama di onsen. Yah, walaupun masih terusik oleh pernyataan Sasuke tetapi hal itu tidak mengganggu waktu tidurnya. Ia dan Sasuke bahkan hampir tertidur saat berendam.

Sementara itu, Sasuke yang melihat Hinata menikmati makanan saja sudah membuatnya kenyang. Tanpa sadar, ujung bibirnya melengkung tipis ke atas. Dalam hidupnya, tak sekalipun ia melihat orang begitu bahagia saat makan. Dan cara makan Hinata terlihat begitu lucu yang terus membuatnya memandanginya tanpa bosan. Ia seperti tengah melihat anak balita yang makan sendiri makanannya.

Sebenarnya Sasuke sedikit khawatir. Ia berpikir bahwa Hinata akan terusik oleh perkataannya semalam. Tetapi melihat Hinata terlihat segar di pagi ini membuatnya sedikit lega.

"Sasuke-kun, tidak makan?" Hinata yang pura-pura tak sadar Sasuke selalu menatapnya saat makan pun menegurnya,

Sasuke tersenyum tipis. Tangannya kemudian bergerak menyodorkan potongan chicken katsu ke depan bibir Hinata, "Makanlah yang banyak."

Lalu pria itu membuka mulutnya seolah menuntun Hinata untuk menirunya, "Ayo buka mulutmu dan katakan aa"

"Aaaa~"

"Enak?" Sasuke bertanya yang tentu jawabannya telah diketahui olehnya.

"Enak."

Hinata tersenyum malu-malu. Ini hal yang sungguh mengejutkannya lantaran pagi-pagi Sasuke malah seakan tengah memanjakannya.

Sedangkan Sasuke lantas menyeringai. Pipi sebelah Hinata mengembung karena mengunyah makanan itu serta reaksi malu-malunya sungguh membuat Sasuke tak menahan rasa gemasnya.

"Anak pintar." puji Sasuke yang mengacak rambut Hinata yang biru pekat itu.

Selagi merapihkan rambut, di hatinya kini Hinata begitu sebal ketika rambutnya berantakan, tetapi di sisi lain ada rasa senang yang menggelitik.

"Biar adil Sasuke-kun juga harus makan."

Wanita itu pun memilah makanan yang akan ia suapi. Tomat ceri nan merah menggoda itu adalah pilihannya. Seperti hal yang dilakukan pria itu, dengan sumpit miliknya, ia menyuapi tomat ceri ke dalam mulut Sasuke.

"Bagaimana? Enak, kan?"

Sasuke mengangguk —mengiyakan. Mengunyahnya dengan senang hati. Hinata tanpa diketahuinya telah menyuapi makanan kesukaannya —tomat merah. Tomat yang memiliki banyak manfaat untuk tubuh.

"Nah, ini juga harus dimakan."

Sekali lagi Hinata sengaja menyuapi Sasuke dengan chicken katsu miliknya. Ia lantas tersenyum lebar saat tahu Sasuke hanya menurutinya seperti kerbau yang di cocok hidungnya.

"Duh, pintarnya suamiku tersayang..." goda Hinata yang mengelus dagu Sasuke.

Yang kemudian membuat Sasuke tersedak —terkejut- karena perkataannya. Lalu ia tersadar kalau para pelayan datang membawa dessert untuk mereka. Sasuke sejenak melirik Hinata yang kembali menyuapi sesuap nasi ke dalam mulutnya.

Jadi, sikap manis ini hanya akting belaka.

"Permisi Sasuke-sama... Hinata-sama..."

Mereka pun mempersilahkan para pelayan itu menyingkirkan mangkuk serta piring yang telah kosong. Tiba-tiba pria Uchiha itu menjadi sedikit canggung, sedangkan Hinata langsung mengalihkan diri.

"Ngomong-ngomong, Sasuke-kun..."

"Hn."

Sasuke sontak melirik Hinata. Ia membeku sementara manik bulan Hinata sibuk menari-nari pada sajian makanan di depannya. Bibir Hinata yang mengisap ujung sumpit itu lantas menjadi perhatian utamanya.

Itu adalah sumpit yang baru saja tadi menyentuh masuk mulut Sasuke.

Tindakan Hinata yang terbilang di luar kesadaran membuat Sasuke meneguk canggung ludahnya. Godaan ini terlalu menggiurkan. Kini mata mereka bertemu sementara para pelayan telah pergi.

"Kita jadi kan ke Arashiyama?"

Sasuke tak dapat mengalihkan pandangannya. Ia memikirkan hal yang tak seharusnya isi pikirkan sekarang. Namun kala Hinata memanggil namanya lagi dengan lembut, Sasuke tak segan-segan melemparkan tatapan membara miliknya, yang tentu langsung disadari oleh lawannya. Ia kemudian menjawab dengan baritone khas miliknya.

"Tentu Hinata... Tentu."

Seketika itulah Hinata merinding.


Jalanan Arashiyama telah ramai dikunjungi pengunjung ketika mereka telah menginjakkan kakinya di sana. Dengan memakai setelan warna biru yang satu sama lain, mereka mulai menjelajahi kawasan wisata yang terkenal di Kyoto itu. Stan yang menjual makanan pun jadi incaran pertama kala kaki Hinata memasuki garis kawasan itu. Dan dango adalah pilihan utama wanita itu dalam mencicipi kuliner lokal itu.

"Cobalah ini Sasuke-kun..." Ujar Hinata menyodorkan satu tusuk dango itu ke depan mulutnya.

Sasuke membuka maskernya dan menerima satu tusuk dango yang masuk ke mulutnya. Tak lama, ia pun tersedak karena rasa manis yang tidak bisa diantisipasi olehnya.

"Ini terlalu manis," ujarnya yang setelah meminum air.

Hinata yang penasaran pun mencoba, "Tapi ini pas menurutku,"

Sasuke menggeleng penuh beban seraya menyilangkan tangannya, ia kembali memakai maskernya.

"Baiklah kita coba kuliner yang lain."

Mereka pun kembali mencoba banyak stan kuliner yang terkenal di tempat itu. Mulai dari es krim tahu yang tak mudah jatuh jika di balikkan, makan kroket goreng sampai dengan makan siang di restoran yoshiya.

Di sepanjang jalan mencoba berbagai makanan itu, Sasuke diam-diam hanya tersenyum melihat nafsu makan Hinata yang begitu tinggi. Sebanyak apapun makanan yang masuk ke mulutnya, itu seakan langsung hilang begitu mengalir ke dalam perutnya. Mungkin kebanyakan perempuan yang lebih suka menahan makan untuk mendapat tubuh ideal, tetapi tidak bagi Hinata.

Tanpa disadari waktu berjalan begitu lembut. Mereka pun tersadar waktu yang mereka habiskan terasa begitu menyenangkan. Walaupun hanya jalan-jalan dan makan, tak menutup kemungkinan bahwa mereka menikmati kebersamaan itu. Sasuke dan Hinata tak pernah sedekat ini sebelumnya. Mereka sejak dulu selalu bertentangan. Namun sekarang sedikit berbeda, alur hidup mereka seakan menjadi satu frekuensi.

Setiap sakit yang mereka terima, lalu kebahagiaan yang mereka dapatkan dari tangan, pengorbanan yang dikeluarkan serta senyuman yang mereka ciptakan hanya demi meraih hidup tenang. Menikmati segala hal yang mereka miliki tanpa harus ada rantai yang memenjarakan.

"Sasuke-kun, ayo kita ambil foto-foto sebentar."

"Hn."

Pertama mereka mengambil foto sendiri-sendiri dengan jembatan Togetsu sebagai latar belakangnya. Lalu saat mereka mengambil foto mereka berdua, siapa sangka Sasuke mengalungi leher Hinata.

"Sasuke-kun i-ini terlalu de-dekat,"

Hinata mencoba menghalangi pipi Sasuke menempel pada pipinya dengan tangannya. Ia tak dapat mentolerir jantungnya yang tiba-tiba saja berdebar-debar.

"Ini yang dilakukan pasangan pada umumnya, Hinata. Jadi aktinglah dengan benar!"

Lagi-lagi tukang perintah Sasuke kumat. Ia menyingkirkan tangan Hinata dan membuka maskernya. Sementara itu, Hinata yang pasrah hanya berdiri kaku di depan kamera.

"Tersenyumlah..."

Wanita yang telah menjadi nyonya Uchiha itu mencoba tersenyum. Namun karena gugup, bentuk senyumnya tak terlalu bagus layaknya mengaca pada air yang beriak.
Sementara itu Sasuke lantas menyeringai atas sesuatu.

"Jantungmu berdetak sangat kencang Hinata. Rilekslah..."

"Apa kau harus mengatakan isi pikiranmu, Sasuke-kun!?" Hinata mencoba bergelut, suara lirihnya seakan ingin berteriak kencang. Tetapi apa daya dirinya, ia tak mau menarik banyak perhatian.

Hal yang tak diinginkan Hinata terjadi, kedekatan wajah mereka semakin bertambah. Hinata bisa merasakan napas Sasuke hadir di depan bibirnya. Kini rona di pipinya menjalar sampai ke telinganya. Ia pun kembali fokus pada kameranya.

"Satu... Dua..."

Dan ketika hitungan itu menuju yang ketiga Hinata mendapat sesuatu yang tak pernah ia bayangkan.

Ceklik.

Sasuke mencium tepat di telinganya yang memanas. Hinata sontak memekik kaget. Ia langsung memegang telinganya begitu berhasil lepas dari pelukan Sasuke.

"Sa-sasuke-kun!"

Sasuke sontak menahan tertawa, Hinata merungut.

"Itu curang! "

Padahal sejak perjanjian awal, mereka sepakat memberi sinyal dulu sebelum melakukan sentuhan fisik di depan umum.

'Got you!'

Pria itu sontak melihat hasil jepretan tanpa menurunkan sedikitpun seringainya lalu memamerkan dengan bangga pada Hinata. Akhirnya ia bisa balas dendam atas akting menggoda Hinata pagi ini.

"Astaga, Hinata... Lihatlah wajahmu benar-benar menjadi tomat." aku suka.

Hinata memicingkan matanya lalu membuang muka. Merasa malu.

'Ini salah siapa coba!?'

Bisa-bisanya ia merona seperti gadis yang habis ciuman pertamanya dicuri. Tapi, bukan Hinata namanya kalau ia dengan mudah terbawa suasana permainan Sasuke. Ia tidak mau ambil pusing dengan sikap usil Sasuke hari ini. Sungguh percuma, ini menguras emosi sekaligus membuat perutnya lapar lagi.

"Aku lapar." ujar acuh Hinata.

Sasuke yang terperangah tak percaya lantas memegang perutnya yang telah penuh, "Kau masih mau makan?"

"Aku mau makan es krim."

Bukannya menjawab, Hinata justru menjauh dari jembatan. Sasuke mendesah lalu akhirnya mengikuti istrinya.

Sebelum Hinata kabur lebih jauh ke stan makanan lagi, teriakan nan manja berhasil menyita perhatiannya. Sosok berjenis kelamainperempuan itu berlari menghampiri seraya memanggil Sasuke dengan begitu akrab. Dari jarak itu mereka bisa menebak siapakah gerangan yang memanggil Sasuke.

Dan sosok itu adalah Shion. Ia pun spontan meraih Sasuke dengan memeluknya.

'Ya, Tuhan ini apa lagi?'