Disclaimer : Masashi kishimoto

Baby breath by R-daisy

Rate M for safe.

Warning : AU, OOC, Crackpair, Gaje, Typos, terkadang tidak sesuai EYD, slight Sasusaku etc.

DLDR!


Summary...

Hinata adalah gadis sederhana yang suka ketulusan. Kedamaian adalah jalan tempuhnya. Lalu menjadikan cinta sejati sebagai impiannya.

Tapi untuk hidupnya sekarang, Hinata tak menuntut cinta karena sadar pernikahannya sebuah keterpaksaan. Dia juga tak menuntut soal uang.

Bukan berarti dia diam saja jika diperlakukan seperti buangan. Jadi pandanglah dia sebagai istri sah, walaupun posisinya sebagai istri kedua itu tak diinginkan.


"Shion, apa yang kau lakukan?!"

Jika Hinata jadi Sasuke maka hal wajar kalau ia terkejut akan kedatangan gadis itu. Sasuke sontak menatap Hinata dengan panik, ia dengan kasar melepaskan tangan Shion yang menggelayut bebas di lengannya.

"Lepas, Shion!"

Di samping lain, Hinata merasakan keanehan di dalam hatinya. Ia seakan terbakar atas adegan yang tak seharusnya dirasakan seumur hidupnya. Tergelak, ia seperti berada sebuah drama perselingkuhan di mana sang istri memergoki suaminya tengah bermesraan dengan kekasih gelapnya.

Sasuke yang merasa dirinya terjebak di kondisi rumit mencoba meraih tangan sang istri. Oniksnya seketika bergetar, tiba-tiba saja Hinata sudah berdiri dengan jarak tiga kali hasta orang dewasa. Dengan tangan yang bersedekap dan wajah yang menggelap bisa di bilang betapa terganggu Hinata akan adegan hal ini.

Shion kemudian menggerutu, "Uuu... Sasuke-kun kau tidak asyik!"

"Aku lagi bersama dengan Istriku. Jagalah sikapmu!" ujar Sasuke yang memberi penekanan pada kata 'istriku'. Tak lupa kepalanya menilik ke arah Hinata, menunjukkan bahwa istrinya tengah menonton.

Mendengar kata itu, Shion lantas teringat kalau Sasuke memiliki dua orang istri. Karena rasa penasaran, ia pun melirik siapakah gerangan istri yang dimaksud oleh Sasuke. Dan sosok wanita bertubuh kecil darinya itu ternyata sudah muncul berdiri di tengah-tengah antara mereka. Wanita itu bukanlah Sakura yang pernah melabraknya. Wanita itu adalah Hinata yang pernah ia lihat di acara gosip.

"Sasuke-kun..." panggil Hinata yang yang langsung memeluk lengan Sasuke yang erat, tersenyum dengan penuh tekanan.

"Siapa ini?"

Suara halusnya yang menyiratkan nada ancaman itu mampu membuat bulu kuduk Shion berdiri. Belum lagi senyuman yang merekah di bibirnya, terlihat seperti beracun. Shion tak pernah melihat seseorang yang punya aura sekuat ini.

Tapi, sikapnya yang tak mengenal Shion sungguh mengganggunya. Padahal ia adalah aktris yang lagi naik daun, sementara iklannya juga terpasang kemana-mana. Tak ada yang tak mengenalinya kecuali orang yang tinggal di hutan. Apalagi ia adalah kekasih dari anak dari perdana menteri.

"Salam kenal, aku Shion. Kami rekan bisnis." ujar Shion yang menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan.

'Kami?'

Hinata sejenak menatap tangan itu lalu melirik Sasuke yang ternyata menatapnya balik. Saling melempar tatapan penasaran, mata mereka seakan berbicara, menyuarakan batin yang sungguh menggelitik hatinya.

'Apa maksud dari kata kami, Sasuke-kun? Jadi kalian sedekat itu ya... '

'Ini tidak seperti yang kau bayangkan Hinata. Kau percaya kan aku bukanlah seorang womanizer. '

Ah, Sasuke seharusnya menceritakan perihal permainan yang ia dan Shion lakukan demi mendapatkan perhatian pasangan masing-masing. Namun, ia juga tak dapat menyingkirkan perasaan rusuhnya terhadap Shion. Bagaimana bisa gadis itu dengan lantangnya menyentuh dirinya. Seusai liburan ini, Sasuke harus memberi peringatan pada Naruto nanti.

"Oh, jadi anda Shion-san itu," Hinata meraih jabatan itu, kuat —sekuat hati terbakar yang tersimpan dalam, "Anda ternyata lebih cantik kalau di depan kamera." satire Hinata.

Shion yang mendapatkan timbal balik tak bersahabat itu lantas dengan senang hati turut membalas.

"Terimakasih atas pujiannya, Hinata-san. Anda ternyata si wanita tua seperti yang dikatakan banyak orang."

Mereka kemudian melepaskan jabatan tangan. Saling melempar senyuman yang beracun. Alhasil, mereka berakhir bertikai lewat sorot mata mereka yang saling beradu ketajaman.

"Tapi yang aku dengar... Sebelum anda berkencan dengan anak perdana menteri, anda sudah terlihat begitu dekat dengan Suamiku."

'Suamiku?' Entah kenapa Sasuke suka panggilan itu.

"Bukanlah itu wajar?"

'Arogan sekali.' Hinata sejenak melirik Sasuke yang tampaknya membiarkan hal ini. Akan tetapi, melihat Sasuke yang terdiam saja membuatnya kesal.

"Oh ya! Jadi bergandengan dan berpelukan di depan umum sesama rekan bisnis sedang trend ya... ?"

Kali ini Sasuke yang sedari terus mengamati tidak berani menatap. Ia mendesah seraya menurunkan topinya sehingga membuat matanya tertutup. Belum lagi cengkraman tangan Hinata di lengannya yang begitu kuat. Itu telah menunjukkan bahwa Hinata butuh penjelasan darinya tentang hari ini.

Di sisi lain Shion lantas mengamati kedua pasangan itu secara bergantian. Sindiran Hinata tidak hanya ditujukan kepadanya saja melainkan untuk Sasuke juga. Ini sudah cukup membuktikan kalau Hinata belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya, Sakura dan Shion. Namun, melihat respon seperti itu entah kenapa ia jadi bersemangat.

"Hinata..."

Panggilan nan halus dari Sasuke lantas menghentikan pertikaian itu. Hinata sontak melemparkan tatapan tajamnya kepada pria yang digandengnya sedari tadi.

"Apa...?"

"Shion cuma rekan bisnis. Dan itu semua hanya akting, aku akan menceritakan semuanya."

"Akting?" Hinata menekuk sebelah alisnya,

'Lagi-lagi akting... Sasuke-kun kau kejam ya senang sekali mempermainkan perasaan orang lain.'

"Sasuke-kun benar, Hinata-san! Kami hanya akting." Shion membela Sasuke yang justru membuat Hinata semakin kesal, "Lagipula ceritanya cukup panjang. "

"Apa kalian lagi main film!?" Alis Hinata mengernyit sebelah.

"Nanti aku jelaskan di rumah. Ayo kita pergi!"

Sasuke kemudian menarik tangan namun dengan segera Hinata menepisnya. Ia mulai terlena dengan permainan ini.

"Semenit lagi ya, ini pertanyaan terakhir kok." ujar Hinata yang menaruh telunjuknya di depan bibir —menghentikan niat Sasuke yang langsung membeku akan gerakan Hinata.

"Anda tidak keberatan kan, Shion-san?"

Shion mengangguk gugup.

"Shion-san, apa anda menyukai suamiku?"

"Apa?!" Sasuke justru tersentak tak percaya. Pertanyaan Hinata yang langsung pada poinnya sungguh membuatnya terkejut.

"Jujur saja tidak apa-apa... Aku sudah terbiasa melihat suamiku jadi perhatian utama. Ini resikonya yang kata banyak orang adalah pria yang sempurna."

Kini kedua alis Sasuke menekuk bagaikan kemiringan lereng gunung. Matanya tersirat akan sorotan tanya besar terhadap statemen Hinata. Ia memang pria sempurna, tetapi kenapa nada Hinata malah sebaliknya —sarkas. Lagipula kenapa juga Hinata menuduh Shion demikian? Kalau itu benar, Sasuke tak bisa membiarkan Shion muncul dihadapannya lagi.

Sasuke tak suka hal yang membuat Hinata marah, namun tak menutup kemungkinan bahwa ia sangat senang kalau Hinata punya perasaan cemburu untuknya.

Sementara itu, Shion yang dicecar pertanyaan seperti itu membuatnya panik. Pipinya sontak merona di luar kontrol. Ia tak mampu melihat tatapan selidik milik Hinata. Apalagi Sasuke turut menatapnya sengit seolah menyukainya adalah sebuah dosa besar.

"A-Aku... itu t-tidak mungkin Hinata-san. Aku punya Naruto."

Tidak mungkin adalah perlawanan mungkin. Itu akan mengarahkan pada kemungkinan lain, bisa jadi Shion menyukai Sasuke, bisa juga mempunyai maksud tertentu. Dan apa yang dipikirkan Hinata ternyata sudah satu frekuensi dengan Sasuke

"Aku sudah tau kok. Kalian sangat serasi menurutku."

Hinata sendiri sudah menyadari tatapan tajam Sasuke saat pertanyaan itu terlontar. Nada suara Shion saat menyebut nama Naruto tak seindah saat memanggil Sasuke. Buruk Jika memang demikian maka itu pasti di luar dari kontrol.

"Tapi, ada yang harus Shion-san ketahui..."

Sasuke kembali menggenggam tangan Hinata, dia memanggil lembut namanya.

"Asap tak akan tercipta kalau tak ada api."

Mata Shion terlihat bergetar,

"Dan ingatlah, karena pada akhirnya wanitalah yang selalu dirugikan." Setelah mengatakan hal tersebut Hinata pergi menjauh.

Hinata tak hanya mengingat pada Shion semata, tapi lebih kepada dirinya sendiri. Menikahi Sasuke sama dengan melibatkan diri dalam masalah. Membiarkan dirinya sebagai alat, padahal ia tahu bahwa ini akan merugikannya. Namun jika ia tak mengikuti rencana Shikamaru atau terpancing oleh ancaman Fugaku serta masuk dalam papan permainan Sasuke maka kematian janggal almarhum Madara tak akan terungkapkan. Menyimpannya seumur hidup akan menciptakan penyesalan tak berujung. Setidaknya hanya ini yang bisa dia lakukan untuk membalas kebaikan mendiang Madara selama hidupnya.

Di sisi lain, Sasuke terhening sejenak meresapi kata-kata terakhir wanita itu. Kepalanya seakan terbentur oleh tembok besi sehingga membuatnya terbangun dari dunia ilusi yang dibuatnya. Ia pun segera meneriaki Hinata dan mengejarnya.

"—Nata... Hinata!"

Hinata yang tersentak dari pergelutan batinnya segera menghentikan langkahnya. Sasuke sontak menggenggam tangannya hati-hati.

Setelah meninggalkan Shion yang terdiam oleh kata-katanya, Hinata bersegera menarik diri bersama Sasuke. Di sepanjang jalan pun mereka hanya menutup mulut. Sampai kini mereka telah berdiri di atas jembatan yang memiliki umur 400 tahun, Sasuke memecah keheningan canggung itu.

"Ya?"

"Apa kau baik-baik saja?"

Hinata mengedipkan matanya, lalu tersadar ia jari-jemari mereka bertautan begitu erat hingga membuat dirinya melamun.

"Baik."

Kini kedua tangan itu terlepas dari tautan, dan Hinata terkejut. Kini Sasuke bersandar pada tiang jembatan dengan wajah yang menghadap sungai.

"Aku dan Shion tidak seperti yang kau bayangkan."

"Memangnya kau tau apa yang kubayangkan?"

"Aku dan dia hanya akting, Hinata."

Kening Hinata sontak menekuk. Ia tak peduli pada orang-orang yang melewati mereka, ia hanya memandang penuh punggung Sasuke seorang.

"Ya, bagimu hanya akting Sasuke-kun. Tapi bagi dia —entahlah... Hanya Tuhan yang tau." Hinata kemudian berjalan menjauhi Sasuke namun telinga pria itu masih mendengar Hinata yang tersungut-sungut,

"Kalian berdua bahkan terlihat menikmati, sungguh luarbiasa firasat burukku muncul."

Di balik masker Sasuke lantas menyeringai. Sebenarnya dia lebih suka cara Sakura yang tegas serta mendominasi pertarungan dalam melabrak Shion tempo itu. Sakura mencecar ganas Shion untuk menunjukkan teritorialnya. Itu menunjukkan betapa cemburu Sakura sehingga Shion tak berani lagi muncul dihadapannya.

Lain halnya dengan Hinata, wanita itu tampak terkendali layaknya elemen air. Tenang disaat tenang, tapi tetap tenang meskipun dalam keadaan marah. Tidak langsung menjudge dan justru menunjukkan rasa kasih sayangnya terhadap sesama wanita. Itu yang membuat Sasuke kagum padanya.

Hal itu sudah sepatutnya Hinata lakukan mengingat fakta sebenarnya hubungan mereka —menikah tanpa cinta. Melihat Hinata yang menghadapi sumber api yang akan membakar rumahnya saja adalah nilai plus peranannya sebagai seorang istri.

Namun Sasuke merasa jahat karena tak sepatutnya ia membandingkan kecemburuan terbaik mereka berdua.

"Jangan terburu-buru... Bukankah kita datang ke sini untuk menikmati liburan kan?" ujar Sasuke yang akhirnya mampu meraih tangan Hinata ke dalam genggamannya.

Pada saat itu langkah cepat Hinata terhenti. Selepas itu Hinata langsung melengos saat tahu mata Sasuke tersenyum melihatnya.

"Lihatlah... pemandangan di sini menenangkan." Sasuke menggoyangkan tangan mereka —meminta perhatiannya,

"Akan sia-sia kalau kita tidak menikmatinya."

Dan usaha Sasuke pun membuahkan hasil, Hinata kembali menatapnya. Sasuke melepaskan genggamannya dan kemudian menumpukan tangannya pada jembatan. Oniksnya pun menatap dalam pemandangan sungai di depannya seakan tengah mengenang masa lalu.

"Seharusnya kita kesini saat daun sudah berubah. Tapi yang paling indah kalau musim semi datang,"

"Sasuke-kun sering ke sini ya?"

"Lumayan."

Sasuke lantas menarik napas panjang, ia begitu senang menghirup aroma alam. Hinata telah berdiri di sampingnya pun lantas melakukan hal yang sama.

"Dengan Sakura?"

Kini kedua mata berbeda warna itu bertemu. Sejenak Sasuke hanya terdiam memandangi Hinata. Wanita itu pasti selalu menyebut tentang Sakura acap kali mereka berduaan, seolah-olah keadaan diri Hinata sendiri tak lebih penting dari orang lain.

Berbeda dengan Sakura yang selalu cemas berlebihan jika dirinya bersama dengan Hinata. Ia pasti selalu saja bertanya kegiatan apa saja yang dirinya lakukan bersama Hinata. Tapi semenjak insiden di pesta itu, Sakura sedikit lebih tenang. Bahkan saat Sasuke mengatakan akan pergi liburan dengan Hinata, Sakura hanya terdiam menerimanya.

"Hanya sekali selebihnya kerja." Sahutnya yang memberi makan rasa penasaran Hinata.

"Oh..."

"Semenjak menikah kami sudah gak pernah liburan ke tempat seperti ini, kami terlalu sibuk." imbuh Sasuke yang mengidikkan bahunya tak ambil pusing, "Kami lebih sering makan di restoran atau nonton bioskop."

Mendengar kata 'kami' dari mulut Sasuke membuat Hinata merasa seperti orang luar dalam kehidupan rumah tangga mereka. Tiba-tiba perasaan asing tadi mengusik hatinya. Sebenarnya ia sedikit risih ketika mendengar kisah pengalaman antara Sasuke dan Sakura. Entah kenapa ia iri, dan merasakan perasaan dominan yang ingin menguasai sesuatu. Apakah ini yang disebut dengan cemburu?

Hinata langsung beringsut mundur. Dia mencoba mengalihkan diri, pikiran buruk lagi-lagi ingin menguasai dirinya. Tak sebaiknya juga ia cemburu, ia tak punya hak dalam hal ini.

"Ayo kita jalan lagi!"

Sasuke terdiam sejenak membaca situasi lalu mengekori Hinata yang keadaannya tiba-tiba berubah. Mereka lagi-lagi terdiam. Semilir angin melewati tubuh sedangkan Sasuke telah menyamakan langkahnya dengan Hinata.

Topi bundar jerami yang dikenakan Hinata menutup hampir seluruh wajahnya. Rasa penasaran Sasuke terhadap Hinata selalu saja ada. Ia juga ingin tahu, apa Hinata juga terusik dengan kemunculan Shion? Lalu apakah ada sedikit rasa cemburu yang tercipta di dalam hati Hinata setiap kali Sasuke menceritakan tentang Sakura?

Ia terlihat brengsek memang. Namun entah kenapa Sasuke sangat berharap itu terjadi.

"Sasuke-kun..."

"Hn."

"Jangan terlalu dekat Shion-san..."

Sasuke diam-diam tersenyum. Hinata telah menggandeng tangannya lagi dengan tangannya yang sedikit bergetar.

"Baik."

"Dan jangan melakukan permainan aneh lagi dengannya!"

"Soal itu—"

Hinata sontak memotong cepat, "Aku tak tahu permainan apa yang Sasuke-kun lakukan dengan Shion-san."

"Hinata..."

"Dan aku tak mau tahu."

Entah kenapa dada Hinata menjadi sesak. Kata 'kami' yang diucapkan oleh Sasuke ternyata berdampak lebih buruk untuk dirinya ketimbang ketika Shion yang mengucapkannya.

Mereka sejenak berhenti. Manik mereka pun bertemu pandang. Bayangan diri Sasuke yang tercermin di manik bulan Hinata menunjukkan betapa indahnya wanita itu saat memandangi dirinya.

"Kau yakin?"

Hinata menghela napas seperti ingin melepaskan beban di pundaknya. Lebih baik ia tak tahu daripada mendengarkan kenyataan yang justru menyakitkannya.

"Jika ini tak menyangkut tentang kita, aku tak mau dengar." Ini keputusan finalnya.

Suara Hinata ketika berbicara tadi terdengar sedikit menggerutu. Belum lagi garis bibirnya yang mengerucut, Sasuke tak dapat menghentikan dirinya yang hanya bisa tersenyum lebih lebar kali ini. Pria itu dengan gemas mengusap puncak kepalanya.

"Baiklah..."

Meskipun Hinata bilang ia tak mau mendengar alasan di balik itu, namun rasa keingintahuannya lebih tinggi dibandingkan pantangannya. Tapi untuk memastikan sesuatu bukan hal yang melebihi batas.

"Jadi ini bukan tentang kita?"

"Hn, bukan."

Mereka pun kembali menelusuri jalan menuju hutan bambu yang paling terkenal di Kyoto. Menikmati masa liburan mereka yang akan menjadi kenangan dalam hidup. Merekam setiap momen yang mereka lalu dan menyimpannya ke dalam sanubari sebagai jejak mereka.


Di tempat yang lain, di gedung pencakar langit seorang pria tua tengah memandangi pemandangan di bawahnya. Lalu sebuah laporan masuk merusak kedamaiannya.

Manik kelamnya kemudian mengkilat penuh amarah. Sebuah obyek yang ada ditangannya adalah penyebab kemarahannya. Foto di mana Hinata dan Sasuke saling bergandengan dengan mesra. Ini menunjukkan kalau Shion telah gagal merayu Sasuke. Sumpah serapah pun keluar dari mulutnya.

"Hn." Sebuah telepon masuk mengendurkan kekesalannya.

["Apa yang harus kulakukan dengan gadis kecil itu, Tuan?"]

Ia mendengus kesal, dan memijit keningnya.

"Batalkan saja kontraknya, dia telah gagal. "

Mungkin kali ini ia memang gagal, namun ia tak pernah menyerah. Selama putri wanita itu masih dalam jangkauan, selama itulah ia akan menyiksanya.