Disclaimer : Masashi kishimoto

Baby breath by R-daisy

Rate M for safe.

Warning : AU, OOC, Crackpair, Gaje, Typos, terkadang tidak sesuai EYD, slight Sasusaku etc.

DLDR!


Summary...

Hinata adalah gadis sederhana yang suka ketulusan. Kedamaian adalah jalan tempuhnya. Lalu menjadikan cinta sejati sebagai impiannya.

Tapi untuk hidupnya sekarang, Hinata tak menuntut cinta karena sadar pernikahannya sebuah keterpaksaan. Dia juga tak menuntut soal uang.

Bukan berarti dia diam saja jika diperlakukan seperti buangan. Jadi pandanglah dia sebagai istri sah, walaupun posisinya sebagai istri kedua itu tak diinginkan.


Kesenangan berjalan begitu cepat seperti halnya hari libur yang melesat ke hari sibuk. Belum lagi dengan kepenatan yang mereka rasakan. Saat sepasang suami-istri itu telah sampai pada rumah peristirahatan, langit telah dihiasi warna jingga yang begitu indah. Setelah menikmati udara segar di luar, mereka melepas penatnya dengan berendam di onsen bersama. Perasaan canggung kala pertama kali berendam bersama itu kini tidak ada lagi.

Hinata dan Sasuke lantas memandangi langit di atasnya. Suasana hening itu lalu menghantarkan mereka pada memori akan ketenangan hutan bambu di Arashiyama. Di mana manik mereka seakan ditarik oleh dunia yang tanpa huru-hara.

Di sepanjang jalan hanya warna hijau yang mempesona. Warna yang seolah-olah akan memeluk tubuh mereka yang penuh dengan debu, bagaikan dekapan kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya. Lalu bunyi alam yang ramah di telinga, serta singgungan antara bambu yang tertiup angin itu bak melodi kampung halaman yang dirindukan. Kini masa itu telah berlalu berubah menjadi kenangan. Kenangan yang tentunya akan sukar dilupakan dengan mudah. Sehingga tak ada tahu bahwa hari buruk telah menimpa diri mereka.

"Harusnya kita menunggu saat malam tiba... "

Sasuke menilik kepalanya ke arah kiri, di sana ada Hinata yang duduk dengan jarak sepanjang telunjuk jarinya.

"Aku lihat di tv, pemandangan malam Arashiyama tak kalah bagus."

"Apa kau mau kita ke sana lagi?" ujar Sasuke yang tersenyum simpul.

"Mungkin kapan-kapan juga boleh,"

Kini Hinata memijat pundaknya yang terasa pegal. Sudah lama ia tidak pergi lama dan jauh dari rumah. Terakhir yang dia ingat, ia jalan-jalan ke kebun binatang bersama mendiang Itachi dan Madara empat tahun yang lalu.

"Sini aku pijat." Tawar Sasuke yang beranjak menaikkan kedua tangannya ke atas bahu Hinata.

Spontan Hinata yang cukup terkejut akan kontak fisik pun itu lantas memunggungi Sasuke. Walaupun kulit mereka bersentuhan langsung tetapi Hinata malah memberikan akses posisi yang nyaman kala Sasuke memijitnya. Belum lagi tekanan jari pria itu pada pundaknya membuat bulu kuduknya berdiri. Serta sengatan yang mengalir pada kulit jari Sasuke dan kulit punggungnya membawa kekakuan akan kontak fisik mereka.

"Apa ini?" tanya Hinata yang menutupi kegugupannya.

"Tentu saja ini layanan spesial."

Meskipun mereka pernah pegangan tangan hingga berciuman, rasanya tak sama kala kulit Sasuke menyentuh area yang belum pernah ia sentuh dari Hinata. Di tambah istrinya malah menampilkan kulit punggungnya yang putih nan mulus, lalu panjang lehernya yang tengah meringkuk itu bak angsa betina yang kesepian. Seakan semua itu pemandangan indah itu sedang menantang Sasuke dalam ujian kesabarannya.

"Ya, hampir di bagian itu..." Hinata mencoba menuntun Sasuke, jari-jarinya sontak bergerak menyentuh jari milik Sasuke.

"Agak ke kiri sedikit."

"Bagian ini."

Saat bagian yang pegal itu tersentuh oleh pijatan Sasuke, itu adalah area bahu yang mendekat pada leher, dan Hinata menyambut kenikmatan itu dengan meringis pelan.

"Ya, ya itu Sasuke-kun!"

Awalnya memang canggung karena Sasuke tak pernah melakukan ini sebelumnya padanya. Akan tetapi, lama-lama Hinata menikmati pijatan yang diberikan oleh pria itu. Layaknya orang yang profesional, pijatan Sasuke bisa dibilang sangat pas. Wajar kalau mendiang kakek Madara selalu memujinya, karena Sasuke seorang jenius yang bertalenta.

"Sepertinya kau harus pergi ke home massage, Hinata."

Hinata hanya bisa bergumam, pikirannya kabur oleh kenikmatan pijatan Sasuke. Sedangkan mendengar hal itu Sasuke hanya bisa tersenyum tipis.

"Kurasa itu ide yang bagus, aku juga sudah lama tidak ke sana." Ujar Hinata.

"Kapan kau terakhir ke sana, hm?"

Hinata lantas memejamkan mata menikmati layanan spesial dari Sasuke. Ia sangat menyukai momen seperti ini, layaknya pasangan yang telah lama mengarungi bahtera rumah tangga, mereka akan saling mengobrol dengan akrab. Biarpun itu hanya topik ringan, tapi itu sangat berarti baginya.

"Mungkin tiga minggu yang lalu atau —ah, Sasuke-kun ba-bagian itu!"

"Ini..?"

"Iya, iya yang itu... Sakit, Sasuke-kun!"

Kali ini Hinata tak dapat menahan rasa pijatan yang didapatkannya. Begitu enak sampai Hinata pun harus mendesah.

"Sasuke-kun, sepertinya kau terbiasa melakukan hal ini?"

Sasuke turut mengintip wajah Hinata yang tepat menoleh padanya.

"Seminggu sekali, aku terbiasa melakukan ini untuk Ibu."

"Mikoto-san?"

Sebelah alis Sasuke sontak menekuk. Ia pun menghentikan gerakannya.

"Kau masih memanggil Ibu dengan nama?"

Hinata terperanjat, ia cukup terkejut kalau Sasuke akan memprotes hal ini.

"Bagaimana pun Ibuku telah menjadi Ibumu, kan?"

Hinata kemudian bertingkah canggung seraya memainkan jarinya. Kini manik kelam dan terang itu saling bertemu pandang.

"Kau tau kan Sasuke-kun, kalau sejak lama Ibumu tak pernah menyukaiku?"

Senyuman miris dari Hinata dihadiahkan khusus untuk Sasuke. Lalu sorot mata bulan yang seakan menggambarkan sebagai anak yang terbuang membuat Sasuke tak dapat menahan diri.

"Aku tau."

Kemudian mereka saling memunggungi satu sama lain.

"Tapi Ibu bukan orang seperti itu."

Ya, ibunya bukanlah tipe orang yang dingin. Ia begitu hangat dan lembut. Di balik tubuhnya yang lemah, ibunya memiliki hati yang kuat. Jika tidak, ia tak mungkin bertahan hidup sampai saat ini.

Mungkin ibunya memang selalu menampakkan ketidaksukaan pada Hinata atau sering kali menyuruhnya untuk segera menceraikannya. Namun dibelakangnya, ibu adalah orang yang pertama kali mengingatkannya untuk memberikan perhatian pada Hinata. Bahkan setiap kali Sasuke datang berkunjung pun, ibunya pun tak pernah absen menanyakan kabar Hinata.

"Ibu adalah orang yang selalu mengkhawatirkanmu."

Hinata tak bersuara. Bibirnya yang sedikit terbuka itu pun bergetar. Di ingatannya, Mikoto adalah sosok yang tidak pernah ramah padanya. Mereka memang tak pernah bicara secara langsung, namun gerak-geriknya menunjukkan betapa ia begitu anti padanya. Saat pernikahan dirinya dengan Itachi diumumkan pun, Mikoto-lah yang paling lantang menyuarakan penolakannya.

"Aku tidak tahu soal itu..."

Hinata kemudian menjauhkan diri. Kini ia bisa merasakan Sasuke menatap lekat punggungnya. Gambaran antara ucapan Sasuke dengan ingatannya akan Mikoto terasa begitu kontradiksi.

"Kau tahu..."

Sejenak Sasuke mengambil napas. Ia tak bermaksud membuat Hinata kembali pada memori waktu itu, namun wanita itu harus tahu yang sebenarnya.

"Saat mentalmu down setelah kematian Kakek, Ibulah yang memohon Kakek Izuna untuk memaksamu berobat."

Hatinya tiba-tiba bergetar, rasa ketidakpercayaan pun menghinggapi Hinata. Hari itu adalah hari terberat yang pernah ia alami dalam hidupnya. Dan mendengar Mikoto ikut andil dalam kehidupannya membuatnya canggung.

Apa mungkin selama ini ia terlalu pesimis atas semua tindakan Nyonya besar Uchiha itu?

"Bagaimana pun juga Ibu selalu menganggapmu sebagai putrinya sendiri."

Kini mereka saling berpandangan lagi. Melihat keseriusan di wajah Sasuke bisa dipastikan pria itu tak pernah main-main soal apa yang diucapkannya.

Desahan sontak keluar dari mulut Hinata. Ia memeluk tubuhnya sendiri. Ia bingung harus menanggapinya seperti apa. Sedangkan ia minim pengetahuan tentang sosok ibu. Akan tetapi, ia tak mau bersikap buruk terhadap wanita paruh baya itu.

"Kapan-kapan..." Hinata menarik napas sejenak, "Maukah Sasuke-kun ikut mengunjungi Mikoto-san bersamaku?"

"Hn, tentu."


Keheningan malam telah menyapa, sebagian anak manusia tengah menikmati peraduannya. Tidak dengan pria tua yang memiliki beberapa uban di kepalanya. Di salah satu ruangan pribadi yang jauh dari keramaian di sanalah ia duduk menyepi. Dengan ditemani lampu yang temaram, ia masih sibuk memeriksa dokumen di tangannya.

"Sayang, kau sudah pulang?"

Orang yang dipanggil 'sayang' itu pun lantas mengangkat kepalanya, di ujung pintu wanita dengan tubuh ringkih datang mengunjungi.

"Mikoto kau tak perlu bangun untuk menemuiku."

Sang Nyonya besar Uchiha itu pun tersenyum lembut saat sang suami datang menghampirinya. Ia pun sontak membalas pelukan suaminya yang selalu ia rindukan, mengingat ia hanya bertemu suaminya di malam hari saja. Itu pun kalau ia bisa terbangun menyambut kepulangannya. Meskipun usia mereka tak muda lagi, namun bukan berarti mereka tak boleh mesra layaknya pasangan muda. Lagipula sebenarnya ia sangat kesepian, kesehariannya ia habiskan berada di tempat tidur atau minum teh di taman.

"Aku hanya merindukanmu, Fugaku-kun."

Fugaku terkekeh kecil seraya melepaskan pelukannya, ia pun menyamakan tingginya. Memandangi lembut wajah sang istri yang telah ia nikahi selama puluhan tahun. Meskipun tubuhnya lemah namun Fugaku bisa memakluminya.

Mikoto juga punya riwayat penyakit jantung. Ia menjadi lemah setelah melahirkan Itachi. Itulah sebabnya kenapa Fugaku tidak suka dengan kelahiran Itachi. Anak itu yang membuat istri yang sangat dicintainya menderita. Apalagi anak itu lahir dengan keadaan cacat. Baginya kemunculan Itachi adalah sebuah kelemahan yang harus ia singkirkan.

Semenjak kelahiran Itachi, Fugaku memutuskan untuk tak menginginkan anak lagi. Ia tidak ingin sang istri semakin menderita. Tetapi karena desakan mendiang ibunya, Sasuke pun akhirnya lahir. Dan kondisi Mikoto tetaplah tidak berubah. Ia malah menjadi sangat lemah hingga akhirnya tak bisa berdiri lama jika tidak menggunakan kursi roda.

Akan tetapi, kelahiran Sasuke pun tidak buruk juga. Anak itu seakan menjadi suatu peluang padanya. Mendiang ayahnya cukup menyukai Sasuke. Setidaknya Fugaku bisa bernapas lega. Walaupun ia tak akan mendapatkan warisan, almarhum ayahnya tidak mungkin untuk melupakan Sasuke. Ia pasti mewariskan sebagian hartanya pada Sasuke.

Penyebab almarhum ayahnya tak ingin membagikan sepeserpun warisan itu padanya adalah karena dirinya pernah membantai seluruh keluarga Hyuuga. Waktu pembantaian itu mendiang ayahnya sangat murka. Meskipun ia tahu, ia tetap tak peduli, dan hasil pembalasan dendam atas ibunya ternyata harus dibayar mahal. Nama Fugaku akhirnya terhapus dari kartu keluarga dan ahli waris. Akan tetapi setelah kejadian itu, mendiang ayahnya tak melakukan hal buruk padanya.

Semenjak itu, mereka berdua tak berbicara selama bertahun-tahun, hingga akhirnya mendiang ayahnya membawa kembali Itachi dan mengadopsi Hinata. Di kala itulah mereka kembali bersuara nyaring. Dalam artian, hubungannya dengan sang ayah semakin memburuk.

Namun Fugaku memilih tak mau ambil pusing. Untungnya Sasuke sangat dekat dengan ayahnya. Dan sayangnya Sasuke tak bisa ia kendalikan 100 %. Anak itu sangat mirip dengannya. Tipe pemberontak dan punya hati yang dingin. Tetapi dengan adanya ikatan pernikahan dengan Hinata, setidaknya Fugaku bisa mengendalikan keluaran Sasuke walaupun hanya sedikit.

"Maaf kalau aku selalu sibuk."

Mikoto tersenyum.

"Alasanmu itu selalu basi, Sayang."

Bagaikan sebuah sinyal yang penuh isyarat, Mikoto mengatakan itu sebagai bentuk kalau ia telah bosan berada di rumah.

"Baiklah... Kau mau kita jalan-jalan kemana hm?"

Fugaku kemudian mengambil alih kemudi kursi rodanya dan membawanya ke kamar.

"Onsen tempat yang bagus, bagaimana kalau kita ke sana?"

"Hn."

"Kira-kira putra kita pergi ke onsen mana ya?"

Sebelum Fugaku mengangkat istrinya ke tempat tidur, tangannya pada gagang pendorong itu sejenak mengeras. Mikoto yang sadar tak mendapatkan tanggapan kembali bersuara.

"Aku dengar dari Sakura-chan, kalau Sasuke pergi berlibur dengan anak itu."

'Anak itu' adalah panggilan khusus Mikoto untuk Hinata.

Mikoto pun lantas menoleh ke arah suaminya. Memastikan wajah seperti apa yang akan diperlihatkan suaminya tersebut, dan ketika Fugaku memperlihatkan wajah stoic-nya Mikoto mencoba mengemukakan maksudnya.

"Apa benar kau mengharapkan Sasuke mempunyai keturunan dari anak itu?"

Fugaku segera bergerak mengendong istrinya. Dia mendesah keras. Kian hari berat tubuh istrinya semakin ringan.

"Kau tak perlu memikirkan hal yang tak perlu?" ujarnya seraya menyelimuti Mikoto, "Fokus saja dengan kondisimu."

"Tapi, Fugaku-kun—"

"Kita sudah membicarakannya, itu keputusan final. Aku tak ingin berdebat."

"Ceraikan anak itu dengan Sasuke-kun! Ini demi kebaikan bersama."

"Ini sudah malam. Beristirahatlah."

"Sudah cukup melibatkan anak itu ke dalam masa lalumu Fugaku-kun. Anak itu tak tahu apa-apa tentang ibunya."

Tidak!

Wajah itu.

Senyuman itu.

Semuanya sangat mirip.

"Soal warisan kita bisa bicara baik-baik dengan anak itu. Anak itu pasti mendengarkannya."

"Itu tak mudah Mikoto, kau tak mengerti apapun."

"Lalu tentang apalagi Fugaku-kun?"

Mikoto memegang erat lengan suaminya, menatap wajahnya yang berubah dingin,

"Apa ini masih tentang Hyuuga Hitomi? Benar, kan?"

Fugaku diam seribu bahasa.

"Ia sudah lama meninggal. Kau bahkan membunuh dengan tanganmu sendiri."

Manik kelam Mikoto memandang penuh duka telapak tangan suaminya yang penuh lumuran darah. Gara-gara kehadiran Hyuuga Hitomi suaminya yang baik hati itu berubah menjadi kejam. Meskipun Hitomi telah meninggal dunia, namun dendam itu tak sepenuhnya padam. Justru dengan kemunculan Hinata, api dendam itu kembali mencuat.

Mikoto sangat membenci ini. Kedamaian keluarganya seakan menghilang tertiup angin entah kemana.

"Lupakanlah..." Meskipun tahu itu sulit.

Fugaku melengos.

Bagaimana bisa Fugaku melupakan wanita yang telah membuat ibunya menderita?

Wanita yang telah membuat ibunya yang lembut menjadi pemarah dan dingin.

Wanita itulah yang menjadikan ibunya seperti sosok yang keji.

Menghancurkan semua yang ia sebut satu-satunya kebahagiaan akan kasih sayang orang tua terhadap anaknya.

Semua itu gara-garanya.

Wanita itulah yang jugalah membunuh ibunya.

"Hilangkan semua dendammu." Maafkanlah...

"MIKOTO!" Fugaku membentak yang membuat istrinya terkejut.

Membunuh Hyuuga Hitomi dan klannya tidak cukup baginya!

Putrinya juga harus merasakan hal yang sama dengan apa yang dialami oleh ibunya.

"Ini semua bukan urusanmu!" Fugaku memperingati dengan menepis tangannya, akan tetapi secepat itu ia menyesalinya.

Wajah mengerut layaknya menahan sakit hadir di wajah cantik istrinya. Fugaku meringis sedih, lagi-lagi ia menyakitinya.

"F-Fugaku-kun..."

Air mata wanita itu sontak mengalir. Fugaku lantas membatu. Kedua tangan Mikoto seakan ingin meraih tubuhnya. Fugaku tanpa sadar beringsut mundur —takut- persis ketika ibunya yang memanggil namanya kala sekarat dulu.

"Kasihanilah anak itu."

Suara Mikoto yang cicit bergetar itu tak sampai pada telinga Fugaku. Ingatannya justru berlari pada waktu dirinya merampas Itachi kecil dari tangan istrinya. Ia tahu Mikoto masih sering menangisi putra sulungnya, tetapi istrinya tak pernah lagi menangis di depan dirinya seperti ini.

"Kau tidak mengerti, Mikoto... Aku sangat membenci anak itu."

Mikoto menggigit keras bibirnya.

"Tidurlah. Kau pasti lelah."

Setelah mengatakan hal itu Fugaku beranjak meninggalkan istrinya dengan dingin. Di dalam malam yang penuh kesepian, airmata Mikoto kembali mengalir deras. Dia merintih kesakitan Jantungnya berdenyut perih. Lalu tiba-tiba ketidaksadarannya memanggil. Kejadian tak pelak itu lantas membangun seluruh penghuni mansion. Mereka langsung dilanda kepanikan. Begitu pula dengan Fugaku.

Malam itu Mikoto dilarikan ke rumah sakit.

Tapi tak ada tahu kalau malam itu adalah malam terakhir bagi suami-istri itu bertengkar, kecuali sang Pencipta yang Maha Mengetahui sajalah yang tahu hal itu akan terjadi. Padahal Tuhan pada saat itu telah memberikan kasih sayangnya, hanya saja Fugaku terlalu bodoh untuk menyadarinya.

Ia memilih untuk terbakar ke dalam api amarahnya. Batinnya telah tertutup pada cahaya kecil yang datang padanya. Menenggelamkan dirinya ke dalam dosa. Itulah orang yang lalim terhadap dirinya sendiri.