Disclaimer : Masashi kishimoto

Baby breath by R-daisy

Rate M for safe.

Warning : AU, OOC, Crackpair, Gaje, Typos, terkadang tidak sesuai EYD, slight Sasusaku etc.

DLDR!


Summary...

Hinata adalah gadis sederhana yang suka ketulusan. Kedamaian adalah jalan tempuhnya. Lalu menjadikan cinta sejati sebagai impiannya.

Tapi untuk hidupnya sekarang, Hinata tak menuntut cinta karena sadar pernikahannya sebuah keterpaksaan. Dia juga tak menuntut soal uang.

Bukan berarti dia diam saja jika diperlakukan seperti buangan. Jadi pandanglah dia sebagai istri sah, walaupun posisinya sebagai istri kedua itu tak diinginkan.


Beberapa jam sebelumnya...

Setelah keluar dari kantor polisi Hinata duduk termenung di mobil menunggu sopirnya yang pergi ke toilet. Ia tak dapat melihat lagi wajah pria yang menerornya, jasad pria itu kini masih diruang forensik. Mengingat hal ini Hinata lantas mendesah lelah, tak ada yang tahu kalau kasus itu akan berjalan seperti itu.

Beberapa menit kemudian, lamunan pun berakhir. Seseorang telah mengetuk kaca mobil yang Hinata naiki. Ternyata itu adalah Shikamaru yang datang menyamar sebagai seorang kakek.

Bukankah pria yang suka merokok itu akan menemuinya saat Desember nanti?

"Shikamaru-san...?"

"Aku tak punya banyak waktu. Ayo kita ubah rencana!"

Hinata sontak mengangguk lemah. Seraya celingak-celinguk —memastikan keadaannya aman, Shikamaru memberikannya sebuah map coklat kepadanya, dan menyuruh membukanya. Sebelumnya pria berkepala nanas itu telah menghalang pintu toilet agar Suigetsu terjebak lama di dalamnya.

"...Ini?"

Kedua manik bulan Hinata bersinar tertarik. Beberapa foto yang gambarnya terdapat sedikit beberapa orang yang Hinata kenal termasuk pelaku yang telah tewas. Ia sejenak pria di seberangnya, ternyata Shikamaru turut memperhatikan kasus ini.

"Jadi, Shikamaru-san tau kasus ini? "

"Tentu saja." Shikamaru kemudian berdecak kesal, "Yang paling merepotkan, aku turut menyaksikan pelaku tersebut mengerang kesakitan setelah memakan makanannya."

Pria itu kemudian menunjukkan suatu foto yang tentu menarik perhatian. Tentu saja itu adalah foto si pelaku.

"Segera temui Fugaku dan mintalah pendapat tentang pria ini."

Hinata sontak mengangguk.

"Lihatlah perubahan raut wajahnya dan apa yang dikatakannya, mengerti?"

"Mengerti ...Lalu?"

"Aku hanya ingin tau reaksinya. Jika benar Fugaku banyak menggunakannya untuk melakukan pekerjaan kotor maka akan mudah untuk memprovokasinya saat penyidikan nanti."

Lagi, Hinata mengangguk dengan paham.

"Lalu pakailah bros ini tepat di dadamu."

Hinata kemudian menerima bros yang memiliki ukuran yang lumayan berat. Bros cantik berbentuk bunga yang di tengahnya ada di permata kecil berwarna hitam. Jika dilihat dengan cermat, ada sebuah kamera tersembunyi di dalamnya.

"Di dalamnya ada kamera infrared. Jadi jangan sampai Fugaku curiga, mengerti?"

"Baik."

"Soalnya identitas pelaku ini sangat sedikit, sepertinya pelaku ini mempunyai profesi pembunuh bayaran sehingga dia banyak membuat identitas palsu. Dan foto ini aku dapat dari Izuna-san."

Selain dirinya, Uchiha Izuna adalah orang yang termasuk mengetahui kematian janggal kakaknya —Uchiha Madara. Diam-diam, ia jugalah orang yang membantu Shikamaru untuk mengumpulkan informasi selama ini. Penyelidikan rahasia ini tak akan berjalan lancar jika tidak ada persetujuan darinya.

"Sasuke-kun bilang, ia juga pernah melihat pria ini mengobrol secara pribadi dengan Fugaku-san."

Sebelah alis Shikamaru menekuk sebelah, "Sasuke?"

"Mmnh."

Shikamaru memainkan janggut di dagunya seraya memutar otak.

"Ia bisa jadi saksi lain kalau dia mau."

Hinata memegang dadanya berdebar, lalu matanya menangkap sebuah foto yang menarik atensinya sejak tadi. Di foto itu tergambar sosok Madara dengan wajah yang lebih muda dari ingatannya selama ini, mendiang kakeknya tersebut tengah menggandeng wanita muda. Dan anehnya wanita muda itu sangat mirip dengannya sehingga sulit dibedakan seperti seseorang yang tengah berkaca.

'Siapa perempuan ini?'

"Tapi yang kudengar, Sasuke juga mengumpulkan data-data korupsi Fugaku."

Hinata lantas mengalihkan pandangannya pada Shikamaru. Bisa disimpulkan, itu cara Sasuke untuk memojokkan ayahnya nanti.

"Dia bisa jadi rekan yang sangat menguntungkan, hanya saja terlalu beresiko. Tapi ini bisa dipertimbangkan nanti."

"Sebenarnya aku melakukan perjanjian dengan Sasuke-kun. Aku sudah lama ingin mengatakannya."

Telinga Shikamaru sontak melebar. Seperti yang diketahuinya, saat perjanjian pranikah antara Hinata dan Sasuke, pria Uchiha tua itu menginginkan keturunan dari mereka dengan alasan Sakura telah lama belum hamil juga. Ia yakin Fugaku akan melakukan sesuatu, dan perlakuan pria itu terhadap Hinata sungguh tak wajar, seperti sebuah obsesi.

"Dalam kurun satu tahun pernikahan, kami berencana bercerai. Sasuke-kun berniat menyingkirkan Fugaku-san dari jabatannya, mungkin ia juga sampai mengeluarkan ayahnya sendiri dari perusahaan."

"Jadi Sasuke ingin bergerak terhadap ayahnya dalam waktu satu tahun. Tapi, bukankah Fugaku mengharapkan keturunan dari kalian?"

'Lagipula Sasuke ini yakin sekali bisa sukses mengalahkan ayahnya.'

"Lagipula sampai saat ini Sasuke-kun tak berniat menyentuhku." Kecuali tentang pelukan dan ciuman.

"Bagaimana kalau Fugaku tetap memaksa dirimu hamil? Bagaimana cara kalian mengatasinya? Aku tau pria itu tak akan diam saja, dia punya niat buruk terhadap dirimu Hinata."

Sejak Izuna menggunakan Hinata sebagai umpannya, Fugaku tampak bersemangat mendapatkan makanannya. Sebenarnya ini juga bagian rencananya yang muncul karena terdesak, akan tetapi ia masih tetap merasa bersalah telah menggunakan Hinata. Wanita itu terlalu baik sehingga mudah dimanfaatkan.

"Kami terpaksa harus melakukannya. Kami tak mau ada korban gara-gara keputusan ini."

'Sekarang dia menyebutkan antara dirinya dan Sasuke adalah kami? Pasti terjadi sesuatu di antara mereka. Ini tak mengejutkan.'

"Kalau pun nanti aku hamil, kami akan tetap bercerai dalam waktu satu tahun dan aku berjanji menyerahkan anakku padanya."

Kening Shikamaru sontak menekuk tajam. Apa wanita ini bodoh?

"Bukankah dengan perjanjian itu kau tak dapat apa-apa Hinata? Bagaimana kalau Sakura tidak mengurus anakmu dengan baik? Seharusnya kau khawatir soal ini juga."

Hinata sontak mengepalkan tangannya. Dadanya berdenyut perih.

"Kebebasanku mempunyai harga mahal, Shikamaru-san. Dan aku yakin Sakura-san akan mengurusnya seperti darah dagingnya sendiri, ia wanita yang baik."

Shikamaru mendengus. Demi kebebasan Hinata rela menjual anaknya. Inilah tipe orang yang Shikamaru benci. Belum apa-apa sudah angkat tangan.

"Dengan mengorbankan anak sendiri?" Potong Shikamaru, "Apa kau menerima konsekuensinya nanti? Apapun bisa terjadi di masa depan."

Lagipula apa yang bisa dipercaya dari wanita yang telah menampar seseorang di muka umum? Mungkin Sakura khilaf. Tapi, kalau Shikamaru jadi Hinata ia akan melawan permintaan egois Sasuke.

"Tak kusangka kau akan jadi Ibu yang dingin."

Bagaikan jantung yang tertusuk pisau kata-kata Shikamaru menggetarkan jiwanya. Ini memang terkesan bodoh dan egois. Akan tetapi, bukannya ia bersikap kejam. Tentu ia punya perasaan yang sama seperti halnya seorang ibu pada umumnya, mencintai anak yang keluar dari rahimnya. Ia pastilah sangat sedih dan khawatir jika harus melepaskan anaknya pada orang lain. Dan ia akan menerima apapun hukuman atas keputusan yang diambilnya nanti.

Yang jadi alasan utama Hinata untuk menerima perjanjian Fugaku adalah karena pria itu mengancam akan menjual rumah dan semua properti pribadi milik Madara jika Hinata tak menurutinya. Rumah yang menjadi kenangan penting bagi Hinata. Rumah yang akan jadi alasannya untuk tempat kembali saat pergi jauh nanti.

Hinata lantas membuang muka, ia merasa sangat malu.

"Itu kan belum terjadi. Lagipula ini juga bukan urusanmu, Shikamaru-san."

Shikamaru kini malah mendesah. Tak seharusnya ia berkata seperti itu, ia hanya kasihan dan tak mau Hinata menderita lebih banyak lagi. Ia juga tak bermaksud menghakimi keputusan yang diambil oleh Hinata, ia pasti akan menghormatinya. Hanya saja, itu terlalu merepotkan.

"Maaf aku kelewat batas."

Shikamaru menggaruk lehernya canggung.

"Apapun keputusan yang kau ambil, aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu."

Hinata menatap langsung wajah Shikamaru. Pria berkuncir itu sontak tersenyum simpul. Namun detik kemudian ia menyeringai.

"Tapi, satu hal yang harus kau tau Hinata. Sebelum Sasuke melakukan persekusi terhadap ayahnya, aku sudah melangkah jauh di depannya."

Shikamaru tak bisa melepas kasus ini begitu saja. Gara-gara pria bernama Fugaku itu ayah dan mentornya jadi korban. Sudah lama Shikamaru mengincar pria itu. Api dendam yang tersimpan di dadanya belumlah padam selama bertahun-tahun. Karena ini juga ia mempunyai simpati yang sama terhadap Hinata

Tak lama kemudian sosok Suigetsu yang diawasi oleh Shikamaru menunjukkan batang hidungnya. Sontak Shikamaru yang melihat ini pun segara pergi menjauh. Sedangkan Hinata dengan sigap menyembunyikan semua barang pemberian Shikamaru ke dalam tasnya.

"Sudah siap berangkat Nyonya?" Tanya Suigetsu yang sedikit curiga pada laki-laki tua yang mengobrol dengan sang nyonya tadi.

Hinata mengangguk.

"Nyonya, tadi siapa?"

Sejenak Hinata tersenyum dan menatap awan yang melewatinya. Lalu memakan permen pemberian Shikamaru tadi.

"Hanya seorang kakek pikun yang memberikan permen. Dia kira aku adalah cucunya."

Kedua alis Suigetsu lantas mengernyitkan. Mengintip curiga Hinata dari balik kaca spion mobil.

"Itu aneh..."

"Namanya juga pikun, Suigetsu-san."

"Jangan sembarangan menerima pemberian orang asing, apalagi memakannya. Nanti kalau Nyonya kenapa-kenapa, aku yang kena marah sama bos."

Hinata tak melunturkan senyum. Ia berharap Suigetsu tak curiga.

"Terimakasih Suigetsu-san. Aku tak akan mengulanginya lagi."

"Nah, sekarang Hinata-san ingin kemana sebelum ke apartemen?"

"Mungkin aku mau isi perut dulu."

Hinata sontak memainkan permen di dalam mulutnya sambil berpikir.
Dalam benaknya, masih terbayang penuh sosok perempuan di dalam foto yang belum sempat ia tanyakan pada Shikamaru. Sosok perempuan yang begitu mirip dengannya. Mungkin ketika ia bertemu kembali, ia harus mempertanyakannya segera.


["Apa kau sudah makan malam, hn?"]

Pikiran Hinata sontak melayang pada sore tadi. Di mana ia mengisi beberapa makanan ringan untuk mengganjal perutnya. Tetapi, setelah makan itu semua Hinata jadi lapar kembali.

"Sudah aku makan dua cup mie instan, sandwich dan sepotong donat."

["Pfft."]

Mendengar Hinata menjabarkan rincian jenis makanan yang telah dimakan membuat Sasuke hampir tergelak ketawa. Bibir Hinata sontak mengerucut kesal, sedangkan Sasuke malah membayangkan wajah kesal Hinata yang terbilang lucu di benaknya.

"Itu tidak lucu Sasuke-kun!"

["Ternyata kau benar-benar suka makan hn."]

"Biar saja."

["Tapi, aku gak keberatan Hinata. Aku justru suka."]

Jantung Hinata tiba-tiba berdetak kencang, begitupun juga Sasuke.

"A-apa sih!" Hinata memegang dadanya, pipinya kini memanas, "Mana ada pria yang suka perempuan gemuk!?"

["Aku mengatakan yang sebenarnya, Hinata."]

Sejenak mereka menghadirkan hening. Dari balik telepon Sasuke tidak sedikit pun mengurangi garis senyumnya, sedangkan Hinata terperangah. Ini sisi yang Hinata ketahui dari Sasuke sejak dulu. Mungkin dari depannya, Sasuke terlihat seperti orang pongah dan tak tertembus. Namun sebenarnya, Sasuke adalah pria yang baik, ia tak pernah memandang seseorang dari status atau fisiknya.

"Sasuke-kun sendiri memangnya sudah makan?" Hinata mencoba untuk tidak terlena.

Sasuke tetap menggelengkan kepala meskipun Hinata tak dapat melihatnya. Ia tak punya nafsu makan untuk saat ini, mengingat kondisi ibunya belum pasti membuatnya cemas. Tetapi setelah mendengar kecemasan Hinata terhadapnya menciptakan sebuah energi untuknya.

["Mungkin nanti."]

"Bagaimana bisa Sasuke-kun bertanya jika sendirinya juga belum makan?"

Hinata kemudian melihat keluar jendela, sementara Sasuke tengah menengadahkan kepalanya ke atas. Pikiran mereka seakan menyambung satu sama lain ketika melihat bulan yang bersinar sangat terang malam ini.

"Apa perlu aku menyusulmu, dan makan bersama."

Jari-jari Hinata kemudian bergerak menyisirkan helai rambutnya dengan gugup.

["Hn, tidak perlu. Aku lagi jalan pulang."]

"Oh... Baiklah."

Lantas rasa kecewa itu datang, Hinata tanpa sadar menggigit bibirnya.

["Bagaimana apartemennya? ...kau suka?"]

"Suka, lingkungannya juga bagus."

["Sebenarnya itu apartemen pribadiku, itu telah lama tak diisi oleh penyewa. Jadi..."]

Sasuke lantas mengusap canggung lehernya. Entah kenapa ia merasa pipinya memerah.

["Kalau terjadi apa-apa denganmu, aku tak perlu jauh-jauh untuk melihatmu. Bagaimana pun apartemen itu tak begitu jauh dengan kantor."]

Mendengar sebuah perhatian kecil dari Sasuke, hati Hinata seakan tergugah olehnya. Hal ini seakan semakin menyempitkan hubungan asing mereka dulu. Lagipula ini sudah kewajiban pria itu untuk membuatnya aman.

"Terimakasih, Sasuke-kun."

["Hn. Aku hanya menjalankan profesiku sebagai seorang suami, dan ini sudah menjadi bagian janjiku.."]

Ah, benar... Ini juga bagian dari janji mereka. Dan Sasuke adalah orang yang berkomitmen dengan apa yang dipikulnya.

Lagi, Hinata mengeratkan ponsel yang dipegangnya.

["Lalu... Apa ada kabar dari kantor polisi?"]

"Itu..."

Sebenarnya tanpa Hinata memberitahu detailnya Sasuke sudah mengetahui apa yang terjadi. Ia langsung mendapat laporan Suigetsu begitu selesai mengantar Hinata ke apartemen. Rasa curiganya semakin kuat mengarah pada ayahnya. Ia telah menebak bahwa ayahnya telah berbuat picik sebelum polisi bergerak lebih jauh.

Cukup lama Hinata mendiamkan Sasuke, hingga suaranya kembali menyentuh gendang telinganya. Hinata pun mendesah, lalu menceritakan semua yang terjadi saat di kantor polisi tadi kecuali pertemuan tanpa sengaja dengan Shikamaru yang bersifat rahasia.

Hinata sontak menenggelamkan wajahnya di antara lututnya. Ingatannya pun terbang ke masa itu. Dan anehnya tiba-tiba wajah Fugaku terlintas di benak. Ia sepertinya belum percaya penuh bahwa orang yang bermain di belakang ini semua adalah ayah mertuanya. Bahkan pernyataan Shikamaru yang mengarah pada Fugaku tidak terdengar sebagai prediksi semata melainkan sebuah fakta.

Kelakuan Fugaku terhadapnya sontak membuat Hinata semakin bingung.

Untuk apa pria tua itu menerornya sementara ia sendiri yang telah mengurung paksa Hinata ke dalam sangkar?

Pria perokok itu menghubunginya telah mendapatkan sedikit identitas pelaku yang mengirimkan paket menyeramkan itu sebelum akhirnya para bawahan Fugaku menghancurkan barang bukti yang menyangkut semua kegiatan pelaku itu. Hal ini tentu membawa kelegaan bagi dirinya juga. Sebanyak bukti yang di dapat semudah itu pula menyeret Fugaku ke balik jeruji.

["Jadi begitu..."]

"Mmh."

["Tapi syukurlah Hinata... Setidaknya kau tak perlu lama-lama menjalani pengadilan, secara sisa pelaku lainnya mungkin tak akan lama untuk duduk di pengadilan."]

"Kau benar, Sasuke-kun."

Kemudian Hinata beranjak dari tempat tidurnya menuju dapur. Ia tak dapat menahan rasa laparnya, dan ia baru teringat membeli ramen instan untuk makanan cadangan.

"Apa kau sampai Sasuke-kun?" Tanya Hinata yang mendengar suara mesin mobil Sasuke berhenti.

["Hn."]

"Lalu apa rencanamu besok?"

["Mungkin aku melihat kondisi Ibu dulu sebelum masuk kantor. Setelah itu Sakura akan bergiliran mengontrol, kebetulan ia masuk pagi besok."]

Samar-samar tak lama Hinata mendengar suara Sakura yang menyambut kedatangan Sasuke. Anehnya, Ia pun jadi iri terhadap Sakura. Selama ini ia tak pernah melihat kepulangan Sasuke.

["Kalau kau mau... Kau bisa menemaniku besok sore, sekaligus kita pulang bersama."]

Kali ini suara Sasuke seakan berbisik langsung ke telinganya bak pria yang tengah mencuri kesempatan untuk berbicara dengan kekasih gelapnya di dekat istrinya. Pikiran gelap ini merasukinya, Hinata sontak memasang telinganya lebar-lebar. Ini tidak baik. Jantungnya berdegup kencang juga malah menormalisasi pemikiran itu.

"Eh?"

["Bukankah minggu depan adalah giliran waktuku bersamamu."]

"Ah, Sasuke-kun benar."

Pipi Hinata lantas merona.

["Hn, nanti aku kabari lagi, okay?"]

"Mmm... Baiklah, aku akan menantinya. Sampai jumpa besok."

[Hn, Selamat malam Hinata."]

"Selamat malam juga Sasuke-kun."

Seusai Sasuke memutuskan teleponnya, senyuman yang merekah bak musim semi hadir di bibir Hinata. Untuk pertama kalinya mereka mengucapkan kata 'Selamat malam'. Semenjak liburan itu Sasuke sedikit berubah, pria itu selalu saja bersuara lembut ketika berbicara padanya. Hinata tak tahu apa yang membuat Sasuke menjadi seperti itu.

Mungkin itu adalah rasa simpati yang timbul terhadap apa yang telah Hinata alami beberapa hari belakangan ini?

Hinata lagi-lagi mendesah. Debaran aneh jantungnya belum saja hilang. Janji mereka tadi seakan terdengar ajakan kencan, padahal itu adalah janji biasa. Ia tak tahu pemikiran itu datang darimana, yang pasti itu tak baik untuk hatinya yang murni.

Belum saja Hinata memasuki ramen itu ke dalam mulutnya, sebuah dering pesan pun masuk. Hinata terdiam mengamati, nama Fugaku pemilik pesan itu tertera di ponselnya. Ia pun lantas membuka pesannya, yang isinya untuk segera menemui pria itu besok siang.

Kebetulan sekali Hinata ingin berbicara padanya.