Disclaimer : Masashi kishimoto
Baby breath by R-daisy
Rate M for safe.
Warning : AU, OOC, Crackpair, Gaje, Typos, terkadang tidak sesuai EYD, slight Sasusaku etc.
DLDR!
Summary...
Hinata adalah gadis sederhana yang suka ketulusan. Kedamaian adalah jalan tempuhnya. Lalu menjadikan cinta sejati sebagai impiannya.
Tapi untuk hidupnya sekarang, Hinata tak menuntut cinta karena sadar pernikahannya sebuah keterpaksaan. Dia juga tak menuntut soal uang.
Bukan berarti dia diam saja jika diperlakukan seperti buangan. Jadi pandanglah dia sebagai istri sah, walaupun posisinya sebagai istri kedua itu tak diinginkan.
Uchiha Fugaku adalah orang yang tak ingin Hinata sentuh keberadaannya. Semenjak pertama kali bertemu, pria itu tak segan-segan memancarkan aura kebencian kepada dirinya. Bahkan hingga kini kebencian itu tak sedikit pun berkurang padanya. Ada saja hal yang dibuat-buat untuk menekannya.
"Kalian menikah sudah berapa bulan, hmm?"
"Baru 7 bulan 10 hari."
"Lalu bagaimana perkembangannya? Aku belum mendengar sedikit pun tanda-tanda darimu."
Fugaku sontak menatap perut Hinata, sorot matanya yang memicing membuat wanita itu sedikit risih.
"Aku jadi meragukan hasil check up milikmu."
Hinata memeluk perutnya seraya menatap tajam ayah mertuanya. Bagaimana bisa ada perkembangan jika pihak seberang tak memulainya terlebih dahulu.
"Aku juga berpikir hal sama jika aku jadi anda Fugaku-san. Tapi anda tak mungkin meragukan apa yang disampaikan Kakek Izuna, kan? Sedangkan anda sendiri tau dengan benar bahwa hanya Kakek Izuna —yang sangat baik hati tentunya- membantu pernikahanku dengan Itachi-kun."
Kali ini Hinata memainkan senyumnya sehingga itu terlihat menjengkelkan di mata Fugaku. Apalagi dengan gaya berpakaian wanita itu hari ini yang tampak berbeda dari biasanya; lipstik merah di bibirnya serta rambut yang di tata ke samping dengan ujung rambut yang dibuat keriting membuat anak itu makin mirip dengan ibunya dulu. Dan karena hal tampilan itulah, darahnya yang mengalir di seluruh tubuhnya seketika mendidih.
"Kira-kira yang salah ada di diriku atau Sasuke-kun sendiri... Hingga saat ini aku belum hamil?"
Fugaku sejenak menyesapi teh yang masih hangat itu. Pria itu sangat tahu watak putranya, Sasuke tak akan pernah menyentuh Hinata kecuali dijebak. Akan tetapi, ketika ia mendapatkan laporan berupa foto-foto kebersamaan mereka di Arashiyama, Fugaku dapat melihat betapa alaminya akting di antara Hinata dan Sasuke dalam memperagakan kemesraan mereka di tempat umum.
"Aku tak mau tau kau harus segera hamil. Bukankah kau ingat perjanjian apa yang telah kita buat; aku tak akan menjual rumah Ayah asalkan kau memberikan keluarga ini seorang keturunan setelah itu kau boleh mendapatkan kebebasanmu dan rumah itu."
Tangan Hinata sejenak terkepal di bawah kolong meja. Kebebasan dan rumah peninggalan Madara adalah hal berharga baginya. Pada dasarnya perjanjian antara Fugaku dan Sasuke hampir tidak ada bedanya, hanya saja apa yang harus dipercayai pada orang yang membunuh keluarganya sendiri. Bagi Hinata, Fugaku adalah orang yang mengajarkannya apa itu dendam. Karena Fugaku jugalah yang menanamkan bibit kebencian ke dalam hatinya.
"Tak kusangka kau akan jadi Ibu yang dingin."
Lalu sesaat, tiba-tiba saja ucapan Shikamaru kemarin bergema di benaknya. Semenjak ia mendapatkan pesan dari Fugaku malam itu, otomatis sindiran halus dari Shikmaru menghantuinya. Hinata pun jadi terganggu. Ia hampir tak bisa tidur.
Sosok seorang ibu tak pernah terkesan baik di hidupnya. Hinata tak bermaksud menyalahkan ibu pengurus panti. Tapi itu berawal dari sana. Dulu, sang pengurus panti itu terus memarahinya tanpa alasan atau terkadang memukulnya hingga tak memberikannya makan. Jika wanita tua itu bersikap sedikit baik saja, ia tak akan trauma dengan sosok seorang ibu.
Sekonyong-konyongnya, dengan alasan itu bukan berarti Hinata harus memupuskan keinginannya untuk menjadi seorang ibu. Ia mempunyai impian lainnya yakni menjadi sosok ibu yang baik di keluarga kecilnya yang bahagia. Ia ingin merasakan jadi wanita sejati dengan mengandung seorang anak atau lebih. Apalagi ia termasuk wanita yang menyukai anak-anak.
Akan tetapi, jika Hinata menuruti kemauan egois mereka maka ia harus mengorbankan calon anak kandungnya. Hal yang tak mau Hinata hadapi adalah dipandang penuh kebencian oleh darah dagingnya sendiri jika suatu hari nanti sang anak tahu alasannya pergi. Dan jika Madara masih hidup, ia pasti tak ingin Hinata melakukan hal bodoh itu.
"Bagaimana kalau aku menolak memberikannya?"
Hinata mencoba balik menantang. Lalu bertaruh. Penasaran akan reaksi pria tua itu. Bila melihat rahang pria itu tampak mengeras sejenak sebelum kembali tenang sepertinya percobaan pertamanya berhasil.
"Itu artinya kau telah membuang semua kesempatan itu." Apa anak ini bodoh?!
Perkataan lemparan Fugaku telah Hinata prediksi. Pria itu pasti langsung menyodorkan kelemahannya. Fugaku pikir, dengan alasan itu Hinata akan kembali gentar. Namun nyatanya Hinata semakin berani bermain api.
Lagipula pada akhirnya hidup Fugaku akan berakhir, entah di tangan anaknya sendiri atau Shikamaru. Sebenarnya, Hinata lebih mengharapkan Shikamaru yang menang dalam penangkapan Fugaku nanti. Selama jalur aman bisa mengatasinya, kenapa harus memilih mengotori tangan dengan darah?!
Sejujurnya Hinata juga tak mau berpisah dengan Sasuke yang bermain-main dengan maut. Ia lebih suka mengambil jalan damai tanpa adanya konflik yang akan melukai seumur hidupnya. Memilih jalan seperti ini saja sudah berat. Keluarga ini terlalu penuh dengan kisah tragedi.
"Terserah kau mau pakai cara apa agar bisa membawa Sasuke ke ranjangmu."
Untung saja Hinata punya tingkat kesabaran yang tinggi, jika tidak... Mungkin pipi Fugaku akan jadi sasaran kemarahannya. Ia memang sendirian di dunia ini, tapi ia tak mau di hina seperti ini.
"Aku sudah tak menginginkannya."
Kening Fugaku sejenak menekuk. ia mencium sesuatu yang tak beres. Ada sesuatu di luar kontrolnya. Ia berpikir kemungkinan bahwa ada perjanjian yang telah dibuat antara Sasuke dan Hinata sehingga wanita kecil itu mampu bertaruh padanya. Jadi kecurigaannya benar selama ini, anak itu mencoba melawannya.
'Bocah itu benar-benar!'
Fugaku langsung mendesis remeh.
"Jadi Sasuke telah mengiming-iming sesuatu padamu."
Hinata tersenyum penuh arti.
"Tidak juga... Untuk apa aku menerima bayaran yang tak seberapa dari Sasuke. Ini kemauanku sendiri."
'Jadi benar Sasuke telah mengiming-iming sesuatu padanya. Jika tidak terlalu besar... Lalu apa yang membuatnya percaya diri?'
Fugaku tentunya semakin curiga. Hinata seolah punya backing yang sangat kuat di belakangnya. Pikirannya pun sontak mengarah sosok pamannya —Uchiha Izuna, pria itulah yang selama ini merangkul Hinata semenjak ayahnya telah tiada. Kemungkinan juga Hinata bersikap jinak padanya karena arahan pamannya.
Tapi, kapan pamannya bertemu lagi dengan Hinata? Mengingat pria tua itu sudah menjadi kewarganegaraan Amerika, semenjak menjadi komisaris pengganti sementara, ia hanya pulang sebulan sekali ke Jepang untuk memastikan perusahaan. Ia terlalu sibuk sehingga tidak punya waktu bertemu Hinata.
"Kalau begitu... Kau selamanya akan bersama keluarga ini. Kau juga tak bisa menceraikan Sasuke seumur hidupmu."
Sebenarnya Fugaku tidak masalah akan hal itu. Sebenarnya iming-iming kebebasan dan rumah Madara untuk Hinata hanyalah sesuatu yang kosong. Fugaku bahkan sudah merencanakan untuk mengikat kuat lagi Hinata jika wanita itu mengandung anak Sasuke. Tapi jika ini murni keinginannya, justru ini semakin memudahkan dirinya untuk terus menekan Hinata seumur hidup. Namun, itu tak menutup kemungkinan pula bahwa Hinata punya rencana lain untuk lepas dari tangannya.
"Tidak masalah. Sasuke-kun juga tidak keberatan akan hal ini... Lagipula ia tak akan tergoda oleh diriku meskipun aku merayunya. Aku sebenarnya tak mau munafik, aku tak mau menyiakan apa yang telah Kakek Madara berikan padaku."
Mata Fugaku sontak memicing. Apa Hinata telah menunjukkan belangnya? Ia tak boleh terkecoh oleh sikapnya hari ini.
'Sekalinya anak pelacur tetaplah anak pelacur.'
"Hmm... Kalau tak ada yang anda bahas lagi, bolehkah aku pulang sekarang Ayah mertua?"
Melihat Fugaku yang tampak berhati-hati membuat Hinata sedikit cemas, pria itu bahkan tak menggertaknya ketika dirinya mencoba melawan.
"Hn, tentu."
"Ah, ada suatu hal yang ingin kuperlihatkan pada anda, Fugaku-san..."
Hinata mengeluarkan sesuatu dari tasnya, beberapa lembar foto yang mampu menarik atensi Fugaku. Ia sejenak memperhatikan ekspresi pria itu dengan lekat. Pelan-pelan menaruh tas hitam miliknya menghadap wajah Fugaku. Di sanalah ia menempel bros pemberian Shikamaru. Dan ketika foto itu menampilkan sosok pelaku yang telah meninggal itu Fugaku tampak tak bergeming.
"Aku mendapatkan foto ini dari Shikamaru-san. Apakah anda mengenalnya?"
Fugaku sejenak melonggarkan dasinya.
"...tidak, aku tidak mengenalnya."
Mata Hinata merekam gerakan Fugaku yang melonggarkan dasi secara canggung itu. Kemudian ia memperlihatkan foto seorang wanita yang menggandeng Madara, foto yang membuat Hinata penasaran setengah mati. Sampai-sampai hari ini pun ia meniru tampilan wanita itu agar melihat reaksi Fugaku. Dan ternyata reaksi pertama Fugaku melihatnya dengan tampilan ini, pria itu tampak terkejut kala menyambutnya tadi.
"Lalu bagaimana foto ini?"
"Tentu saja aku ingat..."
Kali ini Fugaku bersuara yang mampu membuat bulu kuduk Hinata berdiri. Tangan terkepal itu jelas terlihat oleh matanya.
"Siapa yang tak akan lupa terhadap wanita itu..."
Hinata perlahan meneguk ludahnya canggung, wajah Fugaku terlihat menggelap, belum lagi sorot mata yang memancarkan kebencian. Sudah dipastikan bahwa wanita dalam foto itu adalah sosok yang tak harusnya Hinata perlihatkan.
"Dialah kekasih Ayah, Hyuuga Hitomi."
Setelah rapat Sasuke berjalan cepat menuju ruangan ayahnya. Ini sudah pukul 11 pagi, sebelum ayahnya keluar untuk pergi makan siang, Sasuke harus menghampirinya. Ia sudah kepalang kesal dengan sikap ayahnya yang tak peduli atas apa yang dialami ibunya.
Siang ini rencananya Sasuke ingin melancarkan perhitungan, kalau bisa ia ingin sekali menyeret ayahnya ke rumah sakit. Sakura memang sudah bercerita bahwa ayahnya yang membawa ibunya ke rumah sakit, tapi itu tak masuk hitungan. Bagaimana bisa pria tua itu tak sedikit pun memberikan rasa simpati untuk ibunya yang tengah sakit dan masih tetap bekerja?
Ayahnya memang punya dedikasi yang tinggi terhadap perusahaan ini, tapi bagi Sasuke itu adalah sebuah kesalahan besar. Ayahnya lebih mementingkan karirnya ketimbang keluarganya sendiri. Apakah ia tak tahu bahwa tak selamanya karirnya akan selalu ada di sisinya? Untung saja Fugaku tak menurunkan sifat itu kepadanya.
Setelah pikiran Sasuke sibuk dengan kata-kata yang ia susun untuk keluhan terhadap ayahnya, kini kaki Sasuke tiba-tiba saja berhenti. Hatinya berdebar, ia tak akan menyangka akan bertemu Hinata di koridor menuju ruangan ayahnya.
"Hinata?"
"...Sasuke-kun."
Seketika Sasuke segera berjalan cepat menghampirinya. Saat Hinata telah berada di jangkauannya, Sasuke kemudian memegang dagunya. Manik gelapnya meniti setiap sudut wajah wanita itu.
Wajah Hinata tampak terlihat sedikit pucat hari ini. Istrinya sepertinya habis tertekan akan sesuatu. Namun, meskipun begitu ia masih saja memberikannya senyuman penuh hari ini. Dan yang paling menarik perhatian Sasuke adalah lipstik merah yang mewarnai bibirnya. Seumur-umur, tak pernah sekali pun dalam hidupnya melihat Hinata memakai lipstik warna merah.
"Sedang apa kau disini?" Tanya Sasuke yang begitu tertarik dengan tampilan Hinata hari.
"Bertemu Ayahmu tentunya."
Sejenak Sasuke menatap pintu ruangan ayahnya lalu menatap balik Hinata yang enggan terlepas olehnya.
"Tunggulah di ruanganku, aku akan menemui Ayah sebentar... Lalu setelah itu ayo kita makan siang bersama."
Sebelum Sasuke menurunkan tangannya, Hinata sudah menangkap pergelangan tangannya —menghentikannya.
"Fugaku-san, sudah pergi beberapa menit yang lalu."
Sasuke menekukkan sebelah alisnya, ia kemudian menatap sekretaris ayahnya —Uchiha Shisui- yang kebetulan mengamati mereka berdua. Dari balik wajahnya yang kaku, Sasuke bisa tahu kemana perginya arah pikiran pria itu. Ia pasti tengah merencanakan hal yang busuk lagi.
Baru saja Sasuke merangkul bahu Hinata, wanita itu sontak memeluk lengannya. Melihat wajahnya sekarang yang pucat serta pelukan yang sangat erat di lengan, ia bisa merasakan bahwa Hinata menyadari tatapan intimidasi dari sekretaris itu. Sasuke sontak mendesis, ia langsung melancarkan serangan tatapan tajam kepada Shisui yang justru dibalas dengan seringai remeh dari pria itu.
"Bagaimana kalau kita makan siang di apartemen?" Tawar Sasuke yang mengalih perhatian.
Hinata lantas terperanjat. Ia menatap Sasuke yang tersenyum tipis kepadanya seraya merapihkan poninya yang sedikit berantakan.
"Baiklah."
"Kali ini aku yang masak." Sasuke kembali menawar.
"Bagaimana kalau masak sama-sama?"
Kali ini senyuman Hinata kembali merekah, di tambah ia menaruh ujung jari telunjuknya di depan bibir yang warnanya merah merona itu.
"Kita masak makanan kesukaan Sasuke-kun saja?"
Sasuke sontak meneguk ludahnya. Entah kenapa akhir-akhir ini mudah tergoda oleh Hinata, padahal ia juga paham sekali kalau istrinya tersebut tak bermaksud menggodanya.
"Onigiri dan salad yang penuh dengan tomat, bagaimana?"
Ada yang bilang cinta bisa jatuh dari perut ke hati, dan Sasuke bisa membuktikan itu benar adanya.
"Sepertinya itu ide yang bagus."
"Baiklah, tapi kita ke supermarket dulu, kita tak punya persediaan tomat."
Sasuke hanya bisa mengangguk, entah kenapa menjadi lemah. Ia merasa tak mampu menolaknya. Dan detik itu juga, mereka pun memutuskan untuk langsung keluar dari gedung perusahaan.
Semenjak dari kantor sampai apartemen mata Sasuke selalu mencuri kesempatan untuk melihat wajah Hinata. Bibir merah merona itu membuat darahnya berdesir. Tak lupa jantung yang berdebar seperti orang yang baru jatuh cinta itu muncul kembali setelah kian lama tertimbun di relung hati.
Dan kala bibir merona itu bergerak meminta atensi penuh, pupil mata Sasuke melebar. Itu seperti tengah merekam tiap detik tanpa ampun, lalu menyimpan utuh ke dalam file berkas penting dalam sistem memori otaknya. Dan kini pun, ia juga tak melepas kesempatan menempel pada Hinata yang tengah memotong tomat yang merah tersebut.
Dandanan Hinata yang amat berbeda dari biasanya itu membuat Sasuke penasaran setengah mati. Pun jua menjadi tanda tanya besar di benaknya. Terlebih lagi Hinata juga baru menemui ayahnya. Berkat pemikiran itulah Sasuke merasa ada yang tidak sesuai. Ia tak suka Hinata tampil seperti itu di depan ayahnya. Seakan penampilan Hinata hari ini spesial untuk ayahnya. Dan ia mengakui bahwa dirinya cemburu.
Di kesehariannya Hinata biasa tampil natural. Bahkan saat tak berdandan pun pancaran wajahnya juga tak kalah cantik. Putih mulus seperti kulit bayi. Yang paling Sasuke sukai adalah wajah Hinata ketika tengah tertidur di malam hari. Ia begitu polos sehingga membuat Sasuke tak tega menyentuhnya. Tetapi kini Hinata tampil layaknya wanita yang ingin menghadiri pesta malam.
Apalagi dengan memakai dress gelap pekat di kulit pucatnya; berbahan satin yang memiliki lengan transparan serta ikat pinggang berwarna emas yang membalutnya dan rok span panjangnya di atas lutut, wanita itu tampak menonjolkan sisi lainnya yang nakal. Dan siapa sangka tampilan Hinata hari ini membuatnya bergairah.
Di sisi lain, Hinata sendiri menyadari dari awal keluar dari kantor sampai sekarang. Tadinya ia ingin mengganti pakaian, namun Sasuke tiba-tiba melarangnya dengan alasan yang tak jelas. Tatapan intens Sasuke seakan ingin menelannya, ia membuatnya seperti tengah bertelanjang diri di hadapan serigala yang memakai pakaian kulit domba.
Yang anehnya sorot oniks nan lekat itu malah membuat dirinya menjadi seksi. Rona merah di pipinya sontak muncul tak terelakkan, lalu hal itu membawa efek ratusan kupu-kupu yang berterbangan di dalam perut. Tetapi, Hinata harus bisa bersikap tenang walau jantungnya berdegup di atas normal.
Hari ini benar-benar panas, seperti api yang membakar masakannya.
