Disclaimer : Masashi kishimoto

Baby breath by R-daisy

Rate M for safe.

Warning : AU, OOC, Crackpair, Gaje, Typos, terkadang tidak sesuai EYD, slight Sasusaku etc.

DLDR!


Summary...

Hinata adalah gadis sederhana yang suka ketulusan. Kedamaian adalah jalan tempuhnya. Lalu menjadikan cinta sejati sebagai impiannya.

Tapi untuk hidupnya sekarang, Hinata tak menuntut cinta karena sadar pernikahannya sebuah keterpaksaan. Dia juga tak menuntut soal uang.

Bukan berarti dia diam saja jika diperlakukan seperti buangan. Jadi pandanglah dia sebagai istri sah, walaupun posisinya sebagai istri kedua itu tak diinginkan.


"Hinata, tolong coba sup ini."

Sejenak Sasuke mengambil sesendok kuah sup yang tengah mendidih itu. Sementara Hinata yang memotong telor dadar gulung itu sontak berhenti, ia menghampiri Sasuke yang langsung menyuapi kuah sup itu.

"Bagaimana rasanya?"

"Ini sudah pas, enak." puji Hinata yang tersenyum dan kembali pada kegiatannya.

Sasuke sontak tersenyum puas.

"Sepertinya nasi juga sudah matang. Ayo kita makan!" Ajak Hinata setelah menyusun rapi makanannya.

Hari ini adalah makan siang yang mengesankan. Mereka telah masak bersama, basi dan lauk-pauk yang masih mengepul panas terasa begitu nikmat. Makan dalam hening yang nyaman, serta senyuman yang tak mudah senyap. Hal kecil inilah yang membuat momen itu jadi berharga.

Setelah makan, Hinata berencana mengganti pakaiannya dengan kaos biasa. Namun, langkah itu pun harus pupus di tengah jalan karena Sasuke malah memanggilnya. Sementara itu, Sasuke yang tengah duduk di ruang tengah hanya melemparkan tatapan berbicara yang menyuruh Hinata menghampirinya. Seraya merapihkan gulungan rambutnya yang longgar, tanpa rasa curiga Hinata pun menghampiri suaminya.

Hinata sontak memekik, tubuhnya tertarik. Tiba-tiba saja pria itu menarik kuat pergelangan tangannya sampai terjatuh duduk di atas pangkuan pria itu. Dengan gerakan cepat pinggangnya pun lantas langsung dikunci oleh tangan Sasuke.

"S-sasuke-kun!?"

Panik pun tak terpungkiri lagi menyambangi Hinata. Mata bulannya membulat kaget serta jantungnya hampir saja lepas. Ia menatap penuh tanda tanya.

"Hn."

"A-apa yang Sasuke-kun lakukan?!"

"Kita harus bicara."

Terdiam sejenak berpikir, Hinata melirik jam di dinding. Sedangkan ini sudah lewat dari jam 1 siang.

"B-baiklah..."

Hinata mencoba melepaskan diri, akan tetapi pelukan Sasuke begitu dominan. Mereka terlalu dekat. Ini membuatnya gugup. Lengannya sontak menempel pada dada bidang Sasuke, ia bisa merasakan napas hangat pria itu menyapa gelitik lehernya, yang turut pula membuatnya diam seperti batu es.

"Ta-Tapi— Bisakah aku duduk sendiri?"

Sasuke sepertinya tak peduli, sementara Hinata hanya bisa mendesah pasrah.

"Apa yang ingin Sasuke-kun bicarakan?"

Akan tetapi pria itu masih betah memandanginya seolah tak ada lagi yang lebih penting daripada itu. Pancaran manik gelap itu seakan menyorot begitu panas terhadapnya. Lantaran itu, Hinata yang tidak mampu menghadapi tarikan mata Sasuke memilih menundukkan pandangan. Ia memainkan jarinya sebagai pengalih kegugupan. Siang ini, Sasuke sedikit aneh.

Namun kesunyian tampaknya masih merajai keadaan. Hingga bibir Sasuke mengecup pelan pipi merona Hinata di saat itulah yang ada hanya kebisingan di hati mereka. Hinata yang tidak mempersiapkan diri lantas spontan menyentuh pipinya yang rasa bekas ciuman itu masih menempel.

Akhirnya Sasuke berhasil menyeret perhatian Hinata. Kini mata putih keunguan itu hanya menatap padanya. Senyum yang lebih menyeringai itu lantas terbentuk di bibirnya. Hinata terdiam membeku. Ia kemudian tertarik oleh manik gelap pria itu. Terhipnotis.

"Hari apa ini?"

Mata Hinata berkedip. Suara Sasuke yang terdengar berat dan sayup-sayup itu membuat bulu kuduk merinding.

"Sabtu...?" Sahut polos Hinata yang kebingungan.

Kini mata itu berpindah haluan pada sang pemilik bibir merah, menatap lekat seolah tengah bercumbu. Hinata tak dapat memungkiri betapa gugupnya kala tatapan Sasuke pada bibirnya terlihat begitu intens seakan ingin menjamahnya. Tanpa sadar pemikiran itu membuat Hinata menggigit daging bibir bagian bawah. Ia pun teringat akan ciuman pertama mereka malam itu. Yang ingatannya terkadang sering terlintas kalau dirinya tengah melamun.

"Lalu, tampilan apa ini?" Tanya Sasuke yang lang bersemangat ketika Hinata menggigit bibirnya.

Pria itu sontak memegang dagu istrinya bak menyentuh buah yang tengah ranum di pohonnya. Kemudian disusul oleh oniksnya yang berkilau langsung menghadang manik putih milik Hinata yang bergetar.

Hinata sejenak menggulirkan matanya ke samping dan Sasuke malah mengeratkan pelukannya sampai dada mereka bertabrakan. Hal kecil itu sukses membuat atensi mata Hinata kembali pada Sasuke.

Alarm kewaspadaan Hinata menyala keras. Harusnya ia lari dari Sasuke namun ia justru malah terpesona oleh jeratan Sasuke. Kini debaran jantung mereka terdengar begitu berisik.

"Terus bagaimana dengan bibir merah ini?"

Hinata membuang wajahnya yang merona.

"Kenapa tiba-tiba berdandan seperti ini?"

'Apalagi di depan Ayahku?'

Oniks itu menyipit selidik. Hinata bisa merasakan tak hanya napasnya saja yang berderu, napas Sasuke pun memburu. Kepalanya pun ia tundukkan tetapi justru membuat dirinya saling menyatukan kening.

"Apa..."

Hinata kembali menggigit bibir. Perihal pertanyaan Sasuke pun lantas mengganggunya. Rasa percaya dirinya pun sontak menurun.

"...tidak pantas? Aku jelek?"

Sasuke lantas memejamkan mata sejenak lalu memajukan wajahnya hingga membuat ujung hidung mereka bersentuhan. Ia justru menggeleng.

"Itu terlalu mencolok untukmu."

Hinata malah disuruh menelan pil kekecewaan. Ia seharusnya tak berharap Sasuke memujinya meskipun hanya berkata 'pantas'.

"Jangan pakai warna lipstik ini lagi..." Khususnya di depan orang lain.

Hinata lantas menjauhkan diri dan membuang wajah —ia sungguh malu bertanya. Anehnya ia merasa kesal. Kalau pantas, kenapa justru melarangnya? Bukankah artinya dia jelek?

"Kalau Sasuke-kun sudah selesai bicaranya, aku mau ganti baju." Ujar Hinata yang beranjak dari pangkuan.

Tapi, belum saja Hinata sepenuhnya terbangun, dengan gerakan cepat Sasuke malah menggendong Hinata dengan ala bridal style.

"S-sasuke-kun?!" Benak Hinata mulai kalang kabut.

"Aku akan menggendongmu sampai kamar."

"A-aku bisa jalan sendiri."

"Kakimu pasti sakit setelah berjalan jauh dengan high heels."

"Ini hanya ke kamar, Sasuke-kun."

"Hn."

Sasuke tak menggubrisnya, Hinata yang jengah pun malah pasrah. Dan ketika kaki Sasuke sudah memasuki kamar, pria itu pun kemudian menurunkan Hinata di atas kasur.

"Terimakasih."

"Hn."

Bukannya keluar dari kamar, Sasuke malah menduduki dirinya di samping Hinata. Tangan Hinata yang ingin meraih kancing belakang dress-nya pun lantas terhenti. Ia memandangi Sasuke dengan heran.

"Sasuke-kun, aku mau ganti baju." Hinata mengingatkan.

Sasuke yang lagi-lagi tak mengindahkan peringatan Hinata, malah hanya menatapnya. Pria itu bahkan memegang tangan Hinata. Tekanan pada tangan itu tak begitu kuat namun menyiratkan akan sesuatu. Ia pun langsung menyadari ada hal yang aneh dengan Sasuke hari ini, tatapan itu bahkan tak bergeming ke tempat lain.

"S-sasuke-kun..." Panggil Hinata yang mulai cemas.

Entah sudah ke berapa ia menyebut nama pria itu. Sejenak Sasuke pun menutup matanya.

"Hinata, hanya sekali ini saja, boleh, kan?"

Bibir merah Hinata sontak bergetar, suasana pun kembali intim seperti di ruang tengah tadi. Ia pun mulai mengerti apa maksud perkataan Sasuke. Dengan membaca sikapnya hari ini pun Hinata bisa memastikan kalau Sasuke tengah menginginkannya.

Dan kala oniks itu terbuka, jantung Hinata mulai berdebar lagi. Sasuke menatapnya begitu lekat membara sampai Hinata hampir lupa caranya bernapas. Ia tahu hari ini akan tiba. Lalu ucapan Fugaku yang menginginkan seorang keturunan terlintas oleh benaknya. Hal ini pun membuatnya kesal. Padahal ini sudah bertentangan dengan sanubarinya.

"Sekarang...?"

Sasuke mengangguk pelan sedangkan Hinata meneguk canggung ludahnya sendiri.

"T-tapi Sasuke gak ke kantor?"

Hinata kemudian tak bisa berkutik, Sasuke telah meraih tengkuk lehernya lalu membaringkan dirinya ke atas kasur.

"Aku ada rapat lagi jam 2. Masih ada waktu."

Mata bulan sontak bergetar. Posisi Sasuke yang berada di atasnya membuat dirinya makin gugup.

"Aku akan menciummu."

Sebelum Hinata berbicara lebih lagi, Sasuke setelah aba-aba langsung saling mengunci bibir mereka. Hinata tak dapat berlari lagi, ia telah terjebak pun otaknya belum mencerna.

Apakah ini akan dimulai?

Namun apakah tak bisa menahan sampai datangnya malam? Ia bahkan belum mempersiapkan apapun. Sungguh Hinata yang malang.


Sejenak Sasuke menatap bibir Hinata yang sedikit membengkak karena ulahnya. Seutas garis senyum merekah juga di bibirnya. Ia pun mulai berandai-andai. Apa yang terjadi jika Sasuke mengajak Hinata memadu cinta dengan artian sebenarnya. Lalu ia menyadari kala melirik jam yang sudah berjalan setengah jam.

"Aku harus pergi sekarang." Ujar Sasuke yang beranjak dari tempatnya.

Hinata yang berbaring lantas beranjak bangun. Ia sontak mengangguk seraya melirik jam. Demi menutupi rasa malunya, ia lantas menyibukkan diri dengan merapihkan apa yang Sasuke perbuat. Dan sebelum Sasuke beranjak meninggalkannya, Hinata tersadar akan sesuatu.

"Tunggu dulu!" Seru Hinata yang memegang lengan Sasuke, menghentikan pria itu berjalan menjauhinya.

"Kau tak mungkin pergi seperti ini kan, Sasuke-kun?"

Dengan cekatan Hinata mengambil cermin kecil dari nakasnya. Lalu menunjukkan sesuatu di depan wajahnya. Barulah Sasuke sadar bahwa lipstik Hinata menempel ke bibirnya juga.

"Hn, ini tidak buruk!"

Hinata yang merapihkan dasi Sasuke lantas menepuk pelan dada pria itu, keningnya menekuk, "Apanya yang 'tidak buruk' Sasuke-kun!"

Sasuke sontak tersenyum menggoda, "Tak perlu di hapus, ini seksi."

Mendengar kata 'seksi' dari Sasuke membuat pipi Hinata kembali memanas, ia jadi terbayang permainan ciuman yang terbilang sangat intim.

"I-ini gak lucu, Sasuke-kun." Juara Hinata yang mengambil pembersih wajah miliknya. Lalu dengan sigap tangannya beralih membersihkan lipstik yang menempel di bibir pria itu.

Namun detik kemudian, Sasuke malah menggenggam pergelangan tangannya, dan mencium telapak tangannya.

"Lipstikmu juga berantakan, Hinata." Ujar Sasuke dengan sorot mata yang berkilat.

Sedangkan Hinata tak mengindahkan, walau dalam hati ia berteriak karena ini membuat jantungnya lepas. Dan Sasuke malah semakin ingin mengusilinya.

"Bibirmu juga bengkak dan merah."

"H-haruskah S-sasuke-kun menyebutnya juga?"

"Tapi, tadi benar-benar membuatku terkejut. Aku sudah lama tak bersemangat seperti ini. " Bisiknya yang menyatukan kening mereka.

Pria Uchiha itu lantas memainkan ujung rambut Hinata yang telah terurai lepas semenjak masuk kamar tadi. Ia bernapas teratur. Menghirup aroma tubuh Hinata yang bagaikan candu dalam hidupnya.

Sedangkan Hinata yang tak berani menatap balik Sasuke kini menggigit bibirnya. Entah kenapa, dengan perkataan itu saja membuatnya senang. Hari ini sepertinya Hinata ketularan sifat aneh dari Sasuke. Dia mudah sekali percaya ucapan manis pria itu.

"Baiklah, aku harus pergi dulu." Ujarnya. Sebelum beranjak keluar kamar, tak lupa Sasuke mengecup kening Hinata, "Terimakasih, untuk makanan hari ini."

Kini Hinata kira pasokan udara untuknya semakin menipis saat Sasuke melemparkan senyuman padanya.

"Terimakasih juga untuk ciuman manis hari ini juga."

Hinata memegang dadanya yang berdebar lagi. Sasuke yang belum puas kini mencium kedua pipinya yang merona.

"Sampai ketemu nanti sore di rumah sakit."

Lalu satu lagi kecupan singkat di bibirnya sebelum akhirnya Sasuke menghilang dari pandangan Hinata. Setelah itu, Hinata membaringkan kembali dirinya di atas kasur. Mendesah panjang lalu memegang bibirnya. Lagi-lagi, ia teringat akan ciuman mereka, sehingga tanpa sadar bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman.

Hari ini Sasuke benar-benar aneh. Dan...

"Sebaiknya masak apa ya untuk nanti malam?"


Di ruangan yang hanya terisi cahaya bulan yang malu-malu, Sasuke tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Ia beranjak duduk dengan keringat yang mengalir karena mimpi buruk. Ibunya hadir dalam bunga tidurnya. Wajah yang selalu tampil cantik berekspresi muram durja sungguh mengganggunya sekarang. Sasuke lantas mengusap kasar wajahnya seraya mendesau lelah. Ia tidak bertemu ayahnya seminggu ini karena sang ayah tengah berada di luar negeri, sedangkan kondisi sang ibu saat ini belum ada sedikit pun perubahan.

"Sasuke, sebaiknya kau ceraikan anak itu."

Suara ibunya tiba-tiba terhembus halus ke benaknya. Setelah menceritakan masa lalu tentang kelahiran Hinata, ibunya tak pernah gencar membujuknya lagi untuk menceraikan Hinata. Terakhir ia mengunjungi ibunya adalah beberapa minggu yang lalu, dan itulah terakhir kalinya sang ibu membujuknya.

Sasuke paham kenapa ibunya bersikap seperti itu. Kebencian buta ayahnya terhadap Hyuuga Hitomi lebih mengarah pada obsesi. Bahkan sampai meninggal pun ayahnya malah melanjutkannya pada Hinata yang tak tahu apa-apa. Sasuke juga berpikir bahwa itu adalah penyimpangan. Itulah mengapa ia harus cepat-cepat menyingkirkan ayahnya.

"Sasuke... kau tak berniat membunuh Ayahmu sendiri kan, Nak?"

Sasuke memang berniat memakai jalan kotor, akan tetapi kata-kata ibunya sedikit menggoyahkan dirinya.

"Kalau kau melakukannya, kau tak kasihan pada wanita tua ini, Nak? "

"..."

"Yang lebih buruk lagi... Bagaimana kalau ini juga terjadi pada dirimu? Kau tak memikirkan istrimu Sakura-chan yang akan sendirian ditinggalkan olehmu?"

"..."

Mikoto kemudian mengambil tangan Sasuke dan menatapnya lembut namun sedih. Tiba-tiba kenangan datang bertubi-tubi.

"Kami membesarkanmu bukan untuk jadi orang kejam, Sasuke."

Kini dua mata kelam itu saling bertatapan.

"Sejahat-jahatnya Ayahmu, dia tetaplah ayahmu. Darahnya mengalir juga ke tubuhmu."

"Tapi ibu—"

Sasuke memang tak bisa memungkiri darah yang mengalir ke tubuhnya. Tuhan telah menciptakan bahwa setiap bayi yang lahir ke dunia pasti mempunyai warisan genetik orang tuanya. Jadi, jangan heran jikalau dia terlihat kejam, karena pada dasarnya almarhum kakek dan ayahnya adalah orang yang seperti itu.

"Ssst... Ibu paham ayahmu bukan ayah yang baik. Tindakan Ayahmu juga tidak mudah dimaafkan."

Mikoto lantas memegang kedua pipi Sasuke, ia tersenyum.

"Tapi, tahukah kamu wajah Ayahmu saat melihat kelahiranmu dan kakakmu Itachi?"

Sasuke hanya terdiam seribu bahasa.

"Ayahmu menangis bahagia, ia menyambut suka cita. Itulah wajah Ayahmu yang terindah yang selalu ibu simpan di dalam ingatan."

Yang dikatakan ibunya ternyata sedikit meruntuhkan tekad Sasuke. Ia tak pernah membayangkan wajah stoic ayahnya bisa berubah bahagia. Diingatan Sasuke, ayahnya tak pernah tersenyum pada anak-anaknya. Lagipula sedari dulu, mereka tak punya kualitas waktu keluarga yang baik, sehingga hubungan mereka jauh satu sama lain.

"Jadi jangan hanya karena segunung kesalahannya kita jadi melupakan bahwa ayahmu mempunyai setitik kebaikannya di hatinya. Maafkan dia."

Dan malam itu Sasuke hanya bisa terjaga memikirkan kata-kata ibunya.