Disclaimer : Masashi kishimoto
Baby breath by R-daisy
Rate M for safe.
Warning : AU, OOC, Crackpair, Gaje, Typos, terkadang tidak sesuai EYD, slight Sasusaku etc.
DLDR!
Summary...
Hinata adalah gadis sederhana yang suka ketulusan. Kedamaian adalah jalan tempuhnya. Lalu menjadikan cinta sejati sebagai impiannya.
Tapi untuk hidupnya sekarang, Hinata tak menuntut cinta karena sadar pernikahannya sebuah keterpaksaan. Dia juga tak menuntut soal uang.
Bukan berarti dia diam saja jika diperlakukan seperti buangan. Jadi pandanglah dia sebagai istri sah, walaupun posisinya sebagai istri kedua itu tak diinginkan.
Di malam yang tenang, Sasuke terbangun dengan gelisah. Mendesah, sudah lama ia tak bermimpi buruk. Dan ini cukup mengganggunya akhir-akhir ini. Sejenak oniksnya bergulir ke samping, di sebelahnya Hinata tampak tertidur pulas. Ia lantas mengulum senyuman, mungkin ada beberapa hal yang membuat dirinya tidak bisa beristirahat, tetapi dengan melihat wajah Hinata yang tertidur saja bak mencium aroma terapi baginya.
Sasuke kemudian mengambil beberapa helai surai indigo Hinata. Terciumlah wangi shampo yang membuat Sasuke menghirup dalam. Lalu di tengah kegundahan yang menempel bagaikan debu udara, Sasuke malah menemukan garis bibir Hinata merekah dalam tidurnya. Pria itu lalu berbaring lagi dengan menumpukan tinggi kepalanya di atas tangan. Tak lupa senyumannya pun turut mengembang lebih lebar. Ini adalah momen yang jarang ia temui.
"Apa yang kau mimpikan sampai kau tersenyum seperti ini, hn?" Lirih Sasuke yang ujung jarinya menyentuh bibir Hinata.
"Kau tau, itu tak bisa dimaafkan... Kau bersenang-senang sendirian tanpa mengajakku? Kau harus dihukum."
Sasuke malah terkekeh kecil kala membayangkan bibir Hinata yang akan mengerucut kesal kala menanggapinya. Lalu kini alisnya menekuk seraya menerjunkan ujung jarinya ke atas ujung hidung Hinata, menepuknya pelan.
"Kau juga harus dihukum karena kau terus-menerus masuk ke dalam otakku."
Beberapa hari ini hubungan mereka sedikit ada perubahan. Semenjak tinggal di apartemen, mereka jadi punya ruang waktu makan bersama setiap harinya. Tanpa disadari mereka jadi sering tersenyum. Bahkan mereka pun tak segan-segan untuk saling menggoda —bercanda- dalam setiap kesempatan. Kontak fisik pun tak perlu ditanyakan lagi, hal yang paling berani Hinata lakukan padanya adalah memberikannya pelukan kejutan yang kini menjadi kebiasaan barunya.
Sasuke menghela napas, di tengah ruangan yang cahayanya temaram, oniksnya menatap sendu wajah Hinata.
"Tapi, senyummu... Tawamu... Aku menyukainya." Bisiknya begitu lembut.
Ingatan Sasuke kini berlari-lari kecil pada momen-momen sederhana mereka. Seperti halnya saat Hinata membantunya memasang kancing tangan kemejanya atau merapihkan dasinya di pagi hari. Lalu di malam hari Hinata rela terbangun demi menyambut ke datangnya. Sebelum tidur pun, mereka menyempatkan berbincang kecil, berbicara keseharian mereka. Terkadang juga, Sasuke tetap menemani Hinata menonton drama kesukaan —yang membosankan menurut Sasuke- seraya makan kue kering hasil buatan istrinya tersebut.
"Bahkan wajah tangismu saat nonton drama sungguh lucu. "
Perasaan tak sukanya terhadap Hinata kini berubah jadi rasa kagum. Lalu rasa kagum itu berevolusi menjadi rasa suka yang masih bisa ia sembunyikan. Rasa suka itu pun kini membuta di mana ia mulai menyukai hal apapun yang menyangkut wanita itu. Dan karena itu juga, ia hampir lupa bahwa eksistensi cintanya terhadap Sakura juga berwujud.
Inilah yang membuat Sasuke merasa s sukanya pada Hinata begitu salah. Namun, ia tak bisa menghentikan perasaannya yang meluap ini. Walaupun perasaannya terhadap Hinata masih mentah, Sasuke tak ingin terburu-buru mengakuinya, akan lebih baik tak perlu dinyatakan. Hal ini pasti akan menyulitkan.
Sasuke juga berpikir bahwa suatu hari nanti akan minta maaf kepada Sakura. Tak menutup kemungkinan bahwa istrinya pertama mengetahui hal ini. Sakura adalah wanita yang sensitif. Perasaannya terhadap Hinata membuat dirinya seakan mengkhianati wanita yang telah menemaninya lebih dari lima tahun.
"Apakah ini salah...?"
Termenung adalah sesuatu yang Sasuke lakukan sekarang. Seharusnya ia menjauh begitu perasaan itu tumbuh. Dan ia begitu bodoh membiarkan dirinya menyelam lebih dalam.
"Sepertinya aku suka perananku sebagai suamimu, Hinata. "
Ya, Sasuke sangat menikmatinya. Jantungnya bahkan berdebar lebih cepat dari biasanya.
"Maaf Sakura... Hinata terlalu manis untuk dibiarkan."
Sasuke menggerakkan tangannya untuk mengelus pipi Hinata yang berisi. Menatap lekat penuh damba. Ia baru menyadari betapa cantiknya Hinata. Tak hanya fisiknya yang cantik tetapi Hinata mempunyai hati yang indah juga.
Tiba-tiba Sasuke pun memikirkan kembali tentang kesepakatan mereka yang mempunyai keturunan. Pikirannya pun melayang pada hari di mana Hinata menemui ayahnya. Tanpa bertanya pun, Sasuke tahu apa yang dibicarakan ayahnya terhadap Hinata. Namun saat ini istrinya tak pernah membahas apa yang ia bicarakan bersama ayahnya. Ia hanya bisa menebak bahwa ayahnya kembali menekan Hinata untuk segera mengandung anaknya.
Hingga lamunan Sasuke menemui ujungnya, manik bulan Hinata yang perlahan terbuka itu berhasil mengambil alih atensinya. Sejenak mata mereka hanya bertemu pandang, sampai akhirnya Hinata yang sepenuh terbangun dari alam sadarnya tersenyum tipis.
"Sasuke-kun..." Panggil lembut Hinata mengalun seperti kicauan burung bagi Sasuke.
"Hn."
Hinata perlahan bangun seraya mengucek matanya, ia menatap Sasuke dengan penuh tanda tanya.
"Ada apa?"
Sasuke yang ikut beranjak duduk lantas menggeleng seraya menyingkirkan helaian rambut Hinata yang menempel di wajahnya.
"Aku terbangun karena memimpikan ibu." Sahutnya yang tersenyum simpul.
Hinata yang tadinya mengedipkan mata kini menatap sedih. Sasuke bahkan tak menampakkan wajah mulanya. Akan tetapi, sorot mata yang kelabu tak bisa dibohongi.
"Aku merindukannya."
Suaranya yang seperti teriris silet itu membuat Hinata meringis.
Tanpa permisi terlebih dahulu Hinata membawa Sasuke ke dalam pelukannya. Ia mengalungkan tangannya ke leher Sasuke, memeluknya erat sampai ia bisa merasakan napas Sasuke bernapas teratur di lehernya.
"Sasuke-kun yang malang," Ujar Hinata yang mengelus lembut rambut suaminya.
Mendapat perlakuan ini, Sasuke malah tersenyum. Kepalanya yang dibelai lembut itu menghantarkan penawar baginya. Beban kecemasan pun seketika menghilang. Ia sangat menyukainya momen ini.
"Aku tak tahu harus bagaimana lagi kalau ibu tak terbangun. "
Kini Sasuke membalas pelukan Hinata dengan erat. Jantungnya yang berdetak seolah menyuarakan kegusaran hatinya.
"Sshh... Jangan berkata seperti itu!" Hinata turut menyongsong pelukan itu dengan lebih erat lagi,
"Aku yakin Mikoto-san akan segera sadar. Seperti halnya Sasuke-kun, Mikoto-san adalah orang yang kuat."
Sasuke sejenak menghirup dalam-dalam aroma tubuh Hinata, oniksnya kini bersembunyi di belakang kelopak mata. Ucapan Hinata seperti penenang jiwanya.
"Hn, kau benar."
Mereka sejenak memakan sunyi seperti itu. Dengan Sasuke yang menikmati layanan usapan lembut dari Hinata, dan Hinata yang menikmati balasan pelukan hangat Sasuke, mereka sama-sama menikmati kenyamanan. Kini pelukan pun jadi bagian rutinitas kebiasaan mereka. Sentuhan fisik berupa pelukan ini ternyata lebih sering mereka lakukan ketimbang ciuman. Mungkin karena ini sentuhan sederhana dibandingkan ciuman yang berderu bagaikan ombak di lautan.
Hinata mendesah. Sasuke telah membuat dirinya selalu haus akan kehangatan. Hal yang paling Hinata sukai adalah napas hangat Sasuke yang berhembus di atas kulitnya kala berpelukan. Itu membawa sensasi menggelitik yang baik. Entah sejak kapan ia mulai terbiasa, namun yang Hinata ketahui bahwa ia merasa tenang.
Kala ruangan berduaan mereka perlahan mundur untuk hilang, di sanalah sebuah rencana Tuhan mengalir lembut layaknya air sungai menuju lautan. Dengan bara yang masih mereka pegang, kebahagiaan sejati pun masih tertidur di dalam mimpi. Dan saat itulah, tanpa mereka sadari rasa sepi yang mereka lupakan kini akan kembali mengetuk pintu hati mereka.
Ketika masa bahagia berjalan begitu cepat, hari yang sunyi kembali datang. Senin sore ini rencananya Hinata akan balik ke rumahnya. Ia bahkan sudah merapihkan pakaiannya dari kemarin. Akan tetapi, mendengar kabar Sasuke yang tidak bisa pulang untuk makan siang terakhir kalinya di apartemen, Hinata pun bergegas untuk menyiapkan bento.
Kini dentang waktu sudah lebih dari setengah jam Hinata menunggu di ruang kantor Sasuke. Pria itu tengah rapat di hari pertama masuk kerja. Sesekali ia menatap kotak makan itu lalu memandangi pintu kantor dengan harap. Tak lupa sesekali Hinata memastikan dirinya rapih di depan kaca sebelum Sasuke datang kembali. Sampai pintu berdaun dua berderit, saat itu kelopak hatinya membuncah dan harapannya pun terobati.
"Hinata..." Panggil Sasuke yang berjalan cepat menghampiri.
Hinata pun sontak berdiri. Senyumannya pun merekah seketika seiring langkah kaki Sasuke yang mendekat.
"Aku membawakanmu makan siang." Hinata berucap dengan senang.
"Kau tak perlu repot-repot," Sasuke sejenak melirik jam di tangannya, dan ia pun menyesal telah membuat Hinata menunggu lama, "Aku bisa membeli onigiri di kantin. Tapi... Apa kau sudah makan?"
"Justru itu aku datang karena sudah terlanjur masak."
Ada nada suara lesu di sana. Namun suara perut Hinata yang berbunyi menandakan bahwa ia belum makan sama sekali. Dengan pipi yang memerah malu Hinata sontak menarik Sasuke duduk di sampingnya. Ia pun lantas membuka kotak makanan itu dan menyodorkan sumpit pada suaminya.
"Aku tak akan makan sampai Sasuke-kun ikut makan juga."
Seraya menghela napas di sela bibirnya yang mengulum senyuman. Tanpa ragu ia menyambut kotak makan itu dengan senang hati. Kebetulan juga ia sudah lapar, dan masakan yang hangat itu menguarkan aroma yang mengundang perutnya untuk menjamu.
Tak butuh alasan lainnya untuk tidak menyegerakan makan. Mereka seperti biasanya makan dalam diam. Menikmati setiap bahan makanan yang masuk ke mulut. Sampai akhirnya perut mereka kenyang, seketika suasana pun berubah baik dan berenergi.
"Aku akan kembali kerja lagi." Ujar Hinata yang mengawali perbincangan.
"Bukankah kemarin kau bilang ingin berhenti, hn?"
Sasuke sontak mengelap mulutnya dan menyambut ocha yang diberikan oleh Hinata.
"Setelah di pikir-pikir lagi rasanya sayang... Lagipula teman-teman kerjaku tak ingin aku pergi. Dan kebetulan aku akan direkomendasikan jadi pekerjaan harian oleh seniorku."
Sasuke tersenyum, ia pun membantu Hinata membereskan tempat makan mereka.
"Aku sih terserah kau saja selama kau suka... Asalkan kau mau di antar jemput oleh Suigetsu, Hinata."
Hinata mendesah, Sasuke adalah suami yang protektif.
"Baiklah. Tidak masalah... Tapi sesuai dengan perjanjian, Sasuke juga harus tetap mengijinkanku untuk sesekali minum dengan teman-teman."
"Hn, tentu saja."
Mata Hinata lantas berbinar. Sasuke kini menyingkirkan rambut yang bertengger di bahunya. Ia menatap intens penampilan istrinya hari ini. Tidak seperti tampilan keseharian Hinata yang selalu menguncir rambutnya, bando pita merah yang duduk rapih di atas kepalanya terlihat sangat cocok. Lalu anting mutiara yang baru ia hadiahkan pada Hinata beberapa hari yang lalu kini dipakainya. Belum lagi dengan mini dress salem bunga-bunga yang membalut tubuhnya, yang panjang di atas lutut membuat wanita itu tampak lebih muda dari biasanya.
Hinata seolah ingin menarik perhatiannya dengan dandanan hari ini. Senyum Sasuke yang jarang menyeringai seksi kini keluar. Tanpa aba-aba, ia tiba-tiba mengecup bibir Hinata.
"S-sasuke-kun, kita masih di kantor." Pekik kecil Hinata yang melihat ke arah pintu.
Anehnya Hinata punya firasat kalau Sakura bisa kapan saja datang dan langsung memergoki mereka berciuman seperti ini.
"Ini ruanganku Hinata, tak ada yang boleh langsung masuk tanpa ijinku, lagipula para sekretarisku sedang istirahat, jadi kau tak perlu khawatir."
"T-tapi—AH!"
Sasuke lagi mencium Hinata tanpa aba-aba. Dalam sekejap, Hinata sudah tertidur di atas sofa. Meskipun Sasuke sudah melakukan hal ini beberapa kali kepadanya, namun debaran yang dihasilkan selalu menggila. Bahkan kali ini debaran itu semakin membara mengingat mereka akan melakukannya di tempat umum.
Dan kala Sasuke mulai bermain lebih dalam lagi, suara panggilan dari ponsel Hinata mengudara kencang. Hinata yang tersentak kaget mendengar hal itu tanpa sengaja menggigit keras bibir Sasuke.
"Maaf maaf... Sa-sasuke-kun, kau tak apa-apa?" Tanya Hinata yang panik melihat Sasuke yang meringis, sedangkan di sisi lain ponselnya masih berdering kencang itu membuyarkan konsentrasinya,
"Apa itu sakit?"
Wanita itu pun sontak melihat bibir Sasuke, ada sedikit tanda bekas gigitannya walaupun tidak mengeluarkan darah.
"Haruskah kita ke rumah sakit?"
"Tidak perlu Hinata. Ini akan baik-baik saja." Ujarnya menenangkan.
Sebelum Hinata mengambil ponselnya yang masih berbunyi, suara pintu yang terbuka mengalihkan perhatian. Seperti firasatnya diawal tadi, Sakura yang di waspadai kedatangannya kini malah muncul. Seketika itu pun ponsel Hinata berhenti berbunyi, suasana pun hening membungkam mulut. Dengan pipi yang memerah Hinata beranjak dari sofa yang diikuti Sasuke.
"Sakura..." Panggil Sasuke yang gugup seperti tertangkap basah.
Melihat mata emerald Sakura yang berkaca-kaca seperti orang yang baru saja berhenti menangis membuat Sasuke menghampirinya dengan raut cemas.
"Ada apa denganmu?"
Sejenak emerald Sakura melirik ke arah Hinata, terbesit sedikit rasa curiga kala melihat bibir Hinata yang sedikit membengkak, lalu maniknya kembali pada Sasuke yang juga bibirnya terlihat memerah. Ia menundukkan kepalanya sejenak, tak ada waktu untuk curiga.
"Sasuke-kun..." Tanpa rasa keraguan Sakura justru menerjang suaminya —memeluk erat.
Melihat hal itu Hinata lantas tak bergeming. Sedangkan Sasuke sendiri, hampir saja terjatuh jika ada sofa yang menahannya. Suasana canggung tiba-tiba merajai keadaan.
"Baiklah aku pergi dulu Sasuke-kun." Ujar Hinata yang merasa tak nyaman melihat kemesraan suaminya bersama dengan istrinya yang lain.
"Hn, hati-hati di jalan."
Belum sempat daun pintu itu tertutup rapat, telinga Hinata mendengar sesuatu yang tak pernah ia sangka sebelumnya. Sesuatu yang mungkin membuatnya patah hati. Juga, sesuatu yang mungkin membuatnya terluka.
"Sasuke-kun, akhirnya aku hamil!"
"Apa?"
"Selamat Sasuke-kun... Kau akan jadi Ayah!"
Dan saat mendengar kabar itulah Hinata merasa tubuhnya lemas lunglai.
Awan hitam berarak perlahan. Itu membawa butir-butir air yang bisa menghidupkan tanah yang kering dengan seizin-Nya. Di antara lautan manusia yang berlalu-lalang, di sanalah ada seorang yang membawa sayapnya yang patah.
Padahal ia baru saja bisa terbang tinggi, namun karena suatu hal ia seakan terjatuh. Mulutnya tiba-tiba kering tak bersuara. Pikirannya pun membeku. Hatinya pun turut mengamini yang tak tahu kenapa bersedih. Ia tidak pernah menyangka bahwa sebuah berita akan mempengaruhinya.
"Sasuke-kun, akhirnya aku hamil!"
Hamil, Sakura telah hamil.
Lalu kenapa ia bersedih?
Bukankah harusnya ia gembira?
Itu artinya ia tidak perlu mengandung anak Sasuke. Ia tidak perlu mengorbankan dirinya atau melukai calon bayinya.
"Selamat Sasuke-kun... Kau akan jadi Ayah!"
Benar, Sasuke akan jadi seorang ayah. Ia yakin Sasuke pasti bahagia.
Setelah kabar ini, Sasuke akan sibuk mengurusi Sakura. Dan ia akan sendirian, dilupakan, seperti awal pernikahan mereka.
Akan tetapi, kenapa ia tak suka dengan keadaan itu?
Kenapa ia begitu risih dengan kehamilan Sakura?
Kenapa juga jantungnya merasa diremas?
Sampai setetes air turun dari langit menyentuh kulit wajahnya, di kala itulah ia tersadar keadaan sekelilingnya. Dan tidak butuh waktu yang lama untuk hujan turun membasahi tubuh. Seketika orang-orang berlari, sedangkan dirinya terdiam.
Sakura telah hamil...
Suara Sakura seakan menggema di benaknya, dan itu mengganggu.
Alam semesta sepertinya tahu isi hatinya. Tuhan telah menutupi wajah sedihnya dengan membawa hujan ke sisinya. Di antara air hujan yang tiba-tiba mengguyur deras tubuhnya, terselip air mata yang tak bisa dibendung.
Bak drama yang sering ia tonton, ia menangis di bawah hujan. Memeluk tubuhnya. Berjalan perlahan di bawah hujan yang deras. Ini aneh, justru ia menangis.
Tapi guyuran itu tak bertahan lama. Sebuah bayangan menarik atensinya. Seseorang telah memayungi dirinya. Kepalanya yang tertunduk pilu terangkat. Sosok pria yang tak dikenal pun sontak menyapa dalam diam.
Mereka sejenak menciptakan keheningan. Saling menatap.
"Apa kau butuh tumpangan?"
