Disclaimer : Masashi kishimoto
Baby breath by R-daisy
Rate M for safe.
Warning : AU, OOC, Crackpair, Gaje, Typos, terkadang tidak sesuai EYD, slight Sasusaku etc.
DLDR!
Summary...
Hinata adalah gadis sederhana yang suka ketulusan. Kedamaian adalah jalan tempuhnya. Lalu menjadikan cinta sejati sebagai impiannya.
Tapi untuk hidupnya sekarang, Hinata tak menuntut cinta karena sadar pernikahannya sebuah keterpaksaan. Dia juga tak menuntut soal uang.
Bukan berarti dia diam saja jika diperlakukan seperti buangan. Jadi pandanglah dia sebagai istri sah, walaupun posisinya sebagai istri kedua itu tak diinginkan.
Awan memang masih terlihat muram durja, namun ada hal yang menarik perhatian Hinata saat ini. Seseorang telah memayungi tubuhnya yang basah bermandikan hujan. Warna payungnya yang merah menyala serupa dengan warna rambutnya yang merah orang itu.
Lalu tak hanya itu yang membuat Hinata termenung, warna mata pemuda itu juga mengingatkannya pada Sakura. Dan lingkaran gelap yang mengelilingi matanya layaknya mata panda, serta tato bertuliskan kanji 'cinta' tergores disudut keningnya adalah kedua hal yang paling mencolok pada wajahnya.
"Bukankah itu tak sopan menatap lama-lama, Nona?"
Hinata pun segera menunduk malu, tak lupa pula rona merah di pipinya turut menyertai. Lalu tersadar mereka terlalu dekat dan ia pun memundurkan tubuhnya sampai punggungnya kembali terkena hujan.
"M-maaf!"
"Hei hei, nanti kau kebasahan lagi!"
Pria itu sontak menarik lengannya. Manik zamrud orang itu seakan tertarik dengan manik bulannya.
"Hm, tunggu dulu..."
Pria itu menatap seksama dirinya sehingga membuatnya tak nyaman.
"Apa kau seorang Hyuuga?"
Hyuuga...?
Seketika rasa kebingungan dan penasaran bercampur jadi satu. Kenapa orang itu tahu perihal Hyuuga?
Mereka berdua cukup lama terdiam hingga membuat pemuda itu tersenyum tipis.
"Kau pasti bingung kenapa aku tahu tentang Hyuuga?"
Orang itu kemudian merogoh sesuatu dari saku celananya.
"Keringkan dulu wajahmu dengan ini." Ujarnya yang memberikannya sapu tangannya berwarna hijau muda.
"Hn, terimakasih."
"Kalau benar... Aku hanya tak menyangka bertemu dengan seorang Hyuuga yang lain di tempat ini?"
'Seorang Hyuuga yang lain?'
Apakah ada seorang Hyuuga lagi di dunia ini?
Dada Hinata tiba-tiba berdebar-debar. Ia ingin segera memberi makan rasa penasarannya.
"Soalnya hanya klan Hyuuga yang memiliki warna mata seperti itu," Orang itu juga memantikkan keingintahuannya, "Atau itu hanya sekedar kontak lens."
"B-bukan!" Seru Hinata yang hampir berteriak. Dan untungnya, suaranya kalah dari suara tetesan hujan.
"I-ini... Warna asli."
Mata pemuda itu menyipit.
"Begitu ya... Mungkinkah kau orang yang dibicarakan Kakak ipar?"
'Kakak ipar?' Hinata semakin dikelilingi oleh puluhan kebingungan yang lain.
"Siapa namamu?" Tanya pemuda itu.
Sejenak Hinata berpikir. Sosok pemudadi depannya ini terbilang cukup mencurigakan. Dengan setelan serba hitam, pria yang terbilang punya wajah menawan itu terlihat seperti orang yang berbahaya.
"Uchi—," Bibirnya tiba-tiba kelu,
Haruskah ia memberi tahu nama lengkapnya?
Entah kenapa, Hinata seketika ragu menyebut dirinya adalah Uchiha meskipun ia memakai nama keluarga ini sejak lama.
"Hinata. Namaku Hinata."
"Oh... Jadi kau benar orangnya."
Hinata tak bersuara. Kini ia berdiri dengan menggenggam rasa penasaran yang begitu besar di tangannya. Karena begitu besarnya, tanpa sadar ia mengalungi pergelangan tangan pemuda itu. Napas berderu.
"Anda siapa?" Tanya Hinata.
Sejenak pemuda itu menatap pergelangan tangannya yang tergenggam, ia kemudian menyeringai. Ia telah menunjukkan bahwa dirinya adalah pria misterius, dan menciptakan sebuah teka-teki.
"Lalu apa yang anda ketahui tentang Hyuuga?"
Namun, sebelum Hinata mengorek semua informasi, suara klakson mobil berbunyi menyita perhatian, kemudian disusul suara berat seseorang yang dikenali memanggilnya. Itu adalah Suigetsu yang berlari menghampiri.
"Suigetsu-san...?"
"Nyonya Hinata, aku mencarimu kemana-mana!"
Mata Suigetsu kemudian melihat tangan Hinata yang memegang pergelangan tangan pemuda itu lalu ke wajahnya yang terlihat kaku.
'Bukankah dia adalah putra bungsu dari Kazekage group?!'
"Nyonya, Bos menyuruhku untuk mengantarkanmu pulang dengan selamat. Bisa kita pergi sekarang?"
Hinata sejenak melirik ke arah pemuda di sampingnya. Ia kemudian baru tersadar memegang pria itu, dan lantas langsung melepaskannya. Pipinya merona malu.
"Kita bisa bicara nanti Hinata." Ujar pemuda itu yang tiba-tiba sok akrab,
Sementara itu, Suigetsu mulai terjebak oleh asumsi liarnya, yang menyimpulkan bahwa Hinata terlihat kenal dengan pemuda itu. Namun, Hinata kenal dimana? Ini yang membingungkan dirinya.
"Tapi—" Hinata tak bisa melepaskan kesempatan emas. Bagaimana kalau mereka tak bisa bertemu lagi?
"Tenang saja kita bisa bertemu lagi." Ujarnya yang seakan mampu membaca pikirannya, "Di pesta."
Pesta?
"Akan kupastikan Sasuke membawamu juga." Lanjutnya seraya matanya menyampaikan sebuah isyarat pada Suigetsu.
Dan jangan tanya kenapa pemuda itu tahu siapa jati dirinya. Ini pasti karena insiden di pesta itulah yang membuatnya terkenal sebagai istri kedua yang tak tahu diri. Yang paling mengejutkan Hinata adalah bagaimana bisa pemuda itu menyebutkan kalau dirinya adalah seorang Hyuuga?
"Baiklah aku pergi dulu."
Di bawah payung yang dinaungi oleh Suigetsu, Hinata menatap dalam punggung pemuda itu dengan penuh harap. Sapu tangan hijau miliknya pun masih ia genggam dengan erat. Ia berharap saat pesta —yang Hinata tidak ketahui acara apa- nanti tiba, pemuda itu bisa memberi informasi banyak untuknya.
Dan tak lupa Hinata berterimakasih banyak juga, karena kehadirannya, ia bisa melepaskan sedikit rasa galau yang mendiami hatinya beberapa waktu yang lalu. Kini kala Hinata telah duduk di dalam mobil, hujan seketika berhenti. Dan kemudian ia melihat sesuatu di langit yang jarang sekali untuk ditemui. Sebuah pelangi. Senyuman lantas terpatri manis di bibirnya, kenangan masa lalu bersama Itachi pun lantas mampir di benaknya.
Ini sudah beberapa minggu setelah berita kehamilan Sakura yang kemudian menyebar ke sepenjuru negeri. Beberapa hari yang lalu mereka mengadakan pesta untuk menyambut sukacita kehamilan Sakura secara kekeluargaan aja, akan tetapi dalam pesta itu Hinata tidak masuk dalam tamu undangan demi kenyamanan.
Hinata yang sudah beberapa hari ini berada di atas tempat tidur hanya bisa menatap kosong atap rumah. Kepalanya begitu berat dan sekujur badan terasa panas dan lemas.
Hinata sebenarnya ini melupakan Sasuke yang tak pernah menelepon dirinya semenjak kabar itu. Rasa kesal pun ada, rasa asing seperti rindu pun juga turut menyertai. Tapi, karena ia masih demam, ia tak punya kekuatan untuk meluapkan kemarahannya.
"Hinata-sama, bukankah lebih baik kalau melapor kondisi Nyonya pada Tuan?"
"Itu tak perlu Ebisu-san, Sasuke-kun sudah sangat sibuk dengan kerjanya ditambah sekarang Sakura-san hamil, aku tak mau membuatnya semakin kerepotan."
Meskipun Hinata bilang seperti itu, nyatanya ia sangat kesal terhadap Sasuke yang terus membuatnya memikirkan pria itu.
"Tapi, Nyonya... Panas Nyonya belum saja turun. Mungkin dengan kehadiran Tuan... Nyonya bisa pulih. Atau... Apa kita perlu ke rumah sakit?"
Mendengar hal tersebut Hinata tersenyum hambar. Gurauan Ebisu kali ini tidak terdengar lucu baginya. Padahal dia telah berobat, tak ada gunanya juga ia pergi ke rumah sakit yang membuatnya teringat masa lalu kelamnya.
"Nanti juga sembuh kok kalau minum obat secara teratur. Lagipula kenapa mesti ke rumah sakit kalau bisa dirawat di rumah?"
"Tapi Nyonya..."
Hinata sontak terbangun dari pembaringan, yang kemudian di sambut kepala pelayan dengan memasang bantal untuknya bersandar nyaman pada tiang kasur. Ia melirik jam yang berdiri di atas nakas.
"Bisakah Ebisu-san mengambilkanku air, ini waktuku minum obat."
Melihatnya sang nyonya yang seperti menutup buku, Ebisu hanya bisa mengangguk pasrah. Sang nyonya adalah wanita yang baik, namun ia punya sikap keras kepala yang sama dengan tuannya.
Sudah beberapa hari ini Sasuke yang terus menatap ponsel, Sakura juga mengetahuinya. Sebenarnya Minggu ini adalah waktu Sasuke tinggal bersama Hinata. Namun, didasar hatinya yang paling dalam Sakura tetap tak rela Sasuke pergi bersama wanita itu. Demi itu, Sakura bahkan harus berpura-pura sakit untuk membuat Sasuke selalu berada di sisinya.
Lagipula sekarang ia tengah hamil. Biarlah dia bersikap egois, bagaimanapun ia hanya wanita biasa yang memiliki hati yang halus. Dan sudah sewajarnya ia cemburu, akan tetapi ia lebih cemburu lagi jika pusat atensi Sasuke diam-diam selalu tertuju pada Hinata.
"Sasuke-kun, apa iPhone itu lebih cantik daripada diriku sehingga kau lebih suka menatapnya." Sindir Sakura.
Sasuke yang melamun lantas terperanjat. Ia menatap sekilas layar hitam itu sebelum akhirnya kembali menatap Sakura yang duduk seraya membaca buku. Pria itu lantas beranjak ke kasur dan mengangkat selimut —ia menyusul Sakura yang sudah bersantai di atas kasur mereka.
"Mau sampai akhir dunia, keindahan benda mati tak akan mengalahkan keindahan makhluk hidup, Sakura."
Sasuke sontak mengambil buku dari tangan Sakura. Lalu ia memegang pipi istrinya untuk demi menenangkan kegusaran hatinya. Apalagi Sakura bertambah sensitif setelah mengandung anaknya. Ia lebih manja dari pribadi biasanya yang selalu mandiri.
"Terlebih lagi, tak ada yang bisa mengalahkan kecantikanmu"
"Pembual."
Sakura membuang muka, pipinya pun sontak merona. Ia tahu suaminya bukanlah seorang cassanova yang pandai merayu. Sekalipun saat ini rayuan Sasuke hanya di bibir saja, namun tetap saja pria itu mampu membuat dirinya berdebar-debar.
"Sebaiknya kau tidur, tidak baik untuk janin kalau kau tetap terjaga seperti ini Sakura."
"Ini salahmu! Aku kan lagi menunggumu."
Sasuke mendesah. Ia mencoba bersabar terhadap sikap Sakura yang sering naik-turun semenjak ia hamil.
"Iya, aku minta maaf. Sekarang ayo kita tidur."
Setelah mereka berbaring, Sasuke menatap kosong atap rumahnya. Biarpun tubuhnya berada bersamanya namun pikirannya selalu terbang kepada Hinata. Semenjak hari itu, Hinata tak sekalipun mengirimkan pesan padanya. Ia bisa menebak kalau Hinata juga mendengar kabar kehamilan Sakura. Ketika menanyakan kabar Hinata kepada Ebisu; wanita itu selalu berada di kamar seharian, dia akan keluar dari kamar hanya untuk sekedar makan atau mengambil minuman. Laporan dari Suigetsu pun sama seperti biasanya. Hinata hanya keluar saat kerja, dan begitu pulang dia tak mampir kemanapun.
Sasuke jadi cemas. Mendengar kabar biasa seperti itu membuatnya semakin khawatir. Yang paling mengkhawatirkan dirinya adalah Hinata tak sedikitpun mengirimkan pesan walaupun itu mengucapkan salam. Yah, meskipun selama ini Hinata hanya mengirimkan pesan kalau ada perlunya saja.
Tetapi, tetap saja ini membuatnya risih. Apa wanita itu benar-benar tak membutuhkannya?
Lalu belum lagi dengan laporan Suigetsu tadi sore setelah mendapatkan langsung dari Gaara kartu undangan anniversary Kazekage group. Suigetsu mengatakan bahwa Hinata terlihat dekat dengan Gaara. Dan karena itu hanyalah asumsi, Suigetsu tak bisa terburu-buru menyampaikan laporan tersebut kepadanya. Namun mengingat Gaara yang meminta dirinya membawa Hinata juga dalam pesta, itu semakin mengukuhkan bahwa mereka memang ada hubungan.
Akan tetapi, jenis hubungan apa yang dibangun oleh Hinata dan Gaara?
Jika itu lingkup percintaan, Sasuke tak bisa menerimanya, begitu pula lingkup persahabatan. Sasuke dari dulu tak pernah percaya persahabatan antara laki-laki dan perempuan bisa berjalan biasa seperti halnya persahabatan antar sesama lelaki, kecuali di lingkungan kerja. Lagipula walaupun pernikahan ini hanya sementara, tetapi Hinata tidak boleh memiliki kekasih selama ia adalah suaminya.
Sasuke juga tak bisa mengkompromi perselingkuhan. Dia bukanlah ayahnya yang telah mempunyai anak dari wanita lain dan kemudian mengabaikannya. Sasuke setidaknya mempunyai sedikit moral untuk tidak menyakiti yang dikasihnya.
Dan yang paling membuatnya penasaran setengah mati, darimana Hinata mengenal Gaara?
Sasuke mendesah kesal. Ia kemudian menatap Sakura yang memunggunginya. Sesungguhnya ia juga merasa kasihan sekaligus malu terhadap Sakura. Jika saja wanita itu tahu kalau ia telah memiliki sedikit perasaan untuk Hinata, maka ia siap menerima hukuman apapun dari Sakura.
Sementara itu, Sasuke yang bergerak resah di kasur ternyata membuat Sakura tak nyaman. Sudah beberapa hari ini Sasuke bertingkah seperti itu. Padahal suaminya bukanlah tipe orang yang banyak gerak ketika tidur. Ia tahu ke mana arah pikiran Sasuke kini. Namun, jika terus seperti ini, Sakura menjadi merasa bersalah.
"Jika Sasuke-kun penasaran... Kenapa tidak di telepon saja?"
Sasuke yang hendak memunggung balik Sakura sontak terdiam. Kepala Sakura menilik sedikit ke arahnya. Kala tahu ucapan Sakura bukanlah lanturan, Sasuke berkesiap terbangun. Apakah ini sinyal yang baik?
"Kalau Hinata tak bisa dihubungi... Telepon Ebisu-san saja seperti biasanya."
"Ebisu-san bilang Hinata baik-baik saja."
Kini mereka berdua saling berhadapan. Wajah Sakura seketika berubah masam.
"Jangan membuatku berubah pikiran, Sasuke-kun!"
"Kau benar." Setelah itu Sasuke langsung menyambar ponselnya tanpa ragu.
"Terimakasih, Sakura."
Sasuke lantas mencium puncak kepala Sakura sebelum akhirnya menghilang dari kamar. Sampai setengah jam berlalu tak ada tanda-tanda Sasuke kembali ke kamar, Sakura mendesah lelah. Ia mengambil ponselnya, ia jadi tak bisa tidur.
Bagaimana pun Hinata sudah menjadi tanggung jawab Sasuke. Kalau terjadi apa-apa, maka Sasuke-lah yang pasti disalahkan, dan Sakura tak ingin itu terjadi pada suaminya.
Biarlah dia kunci dulu rapat-rapat rasa cemburu itu. Karena pada akhirnya hubungan Sasuke dan Hinata tak lama akan selesai. Sekalipun hal yang paling ditakutkan sudah terjadi —tentang suaminya yang memiliki sedikit cinta untuk Hinata- namun ia yakin perasaan itu akan segera menghilang setelah bercerai.
"Sakura, aku mau melihat kondisi Hinata dulu."
Sakura yang terbuai lamunan sontak terlonjak kaget. Melihat Sasuke yang panik membuatnya sedikit cemas. Pria itu sontak mengambil jaket tebalnya.
"Kenapa dengan Hinata?"
"Ebisu-san bilang panas tubuh Hinata tidak turun-turun beberapa hari ini."
Mendengar hal itu, jiwa dokter Sakura merasa terpanggil.
"Hinata memangnya dimana? Apa Ebisu-san tidak membawa Hinata ke rumah sakit?"
"Dia tidak mau. Makanya kalau kondisinya benar-benar buruk aku akan memaksanya untuk dirawat ke rumah sakit."
"Baiklah. Kalau kondisinya benar-benar buruk, Sasuke-kun bisa menghubungiku, supaya aku bisa menghubungi pihak rumah sakit untuk menyiapkan kamar."
"Hn, itu ide bagus Sakura."
Pria itu lantas memeriksa dompet dan menyerahkan ponsel milik Sakura kepada pemiliknya.
"Aku sudah memanggil pelayan lagi dari mansion Uchiha untuk menjagamu, beberapa menit ia akan tiba. Aku juga sudah menelepon ibumu, besok pagi beliau akan datang."
Sakura hanya bisa mengangguk dan memandangi ponselnya dengan penuh tanda tanya. Ia sungguh bersyukur, semenjak hamil Sasuke begitu protektif terhadapnya.
"Dan jangan jauh-jauh ponsel. Mengerti?"
Setelah mengatakan hal itu, Sasuke benar-benar meninggalkannya di tengah malam seperti ini. Ini memang menyakitkan, suaminya pergi ke tempat istrinya yang lain. Akan tapi, bagi seorang dokter seperti dirinya, ia harus menggeser semua egonya untuk keselamatan hidup seseorang. Ia berdoa dengan tulus semoga tidak terjadi apa-apa dengan Hinata.
