Disclaimer : Masashi kishimoto
Baby breath by R-daisy
Rate M for safe.
Warning : AU, OOC, Crackpair, Gaje, Typos, terkadang tidak sesuai EYD, slight Sasusaku etc.
DLDR!
Summary...
Hinata adalah gadis sederhana yang suka ketulusan. Kedamaian adalah jalan tempuhnya. Lalu menjadikan cinta sejati sebagai impiannya.
Tapi untuk hidupnya sekarang, Hinata tak menuntut cinta karena sadar pernikahannya sebuah keterpaksaan. Dia juga tak menuntut soal uang.
Bukan berarti dia diam saja jika diperlakukan seperti buangan. Jadi pandanglah dia sebagai istri sah, walaupun posisinya sebagai istri kedua itu tak diinginkan.
Malam sudah begitu larut kala Sasuke dan Hinata naik ke tempat tidur. Seharian ini mereka berdua hanya menghabiskan waktu di rumah saja. Sasuke baru saja sembuh setelah tertular dari Hinata, ini sudah hari ketiga. Ia seharian ini hanya menonton Hinata membuat kue. Dan anehnya dengan menonton saja ia merasa lelah. Mungkin karena kondisi belum pulih sempurna maka ia masih merasa lemas.
Sasuke menatap langit-langit rumah dengan pikiran yang terbang ke rumah sakit. Ia mendapat kabar dari Sakura bahwa kondisinya tak ada yang berubah.
"Sasuke-kun, apa kau ingat lukisan di kamar almarhum Kakek?" Tanya Hinata yang meramaikan kesunyian.
Atensi Sasuke seketika berubah arah saat Hinata memintanya. Dan tentu saja ia ingat akan lukisan itu.
Lukisan di mana bunga liar tumbuh begitu bebas, pohon oak yang tak termakan oleh jaman, serta rumah tua nan sederhana. Itu adalah pemandangan yang membangkitkan nostalgia yang tak pernah ia rasakan. Begitu damai serta menenangkan jiwa, sungguh aneh.
"Hn, tentu."
Sasuke pun sontak penasaran. Entah kenapa Hinata tiba-tiba membahasnya? Meskipun dulu hampir dijual oleh ayahnya, tapi berkat kakek Izuna lukisan itu masih terpajang di kamar.
"...lalu?"
"Dan apa Sasuke-kun punya keinginan yang belum terpenuhi?"
Sebelah alis Sasuke tak hayal menekuk sebelah. Bagaikan bermain teka-teki, ia belum bisa memecahkan maksud arah pembicaraannya. Tapi, jika istrinya tersebut ingin bermain, maka Sasuke tak akan segan-segan mengikuti arahnya.
Posisi Sasuke yang berbaring di kasur kini terganti. Dia memiringkan badannya menjadi posisi yang mampu menatap penuh Hinata yang berbaring tepat di sebelahnya. Ini adalah posisi yang paling intim dari mereka berdua.
"Ada."
Hinata sontak terperanjat. Ia tak menyangka Sasuke akan menyambut hal ringan ini dengan serius. Padahal Sasuke adalah orang yang memiliki segalanya saja, akan tetapi ia masih saja mempunyai hal yang belum terpenuhinya. Lalu bagaimana dengan dirinya!?
"Apa itu?" tanya Hinata yang turut memiringkan tubuhnya. Ia membalas seringai suaminya dengan tatapan penasaran.
Kini jarak tubuh mereka begitu dekat, hingga ia bisa merasakan napas Sasuke menyentuh kulitnya. Dengan jarak seperti inilah, Hinata bisa merasakan jantungnya berdebar lebih dari biasanya. Belum lagi ditambah melihat wajahnya, Hinata tak menampik bahwa lambat-laun ia mulai terjerat oleh pesona suaminya tersebut.
Sementara itu, di sisi Sasuke yang terdiam sejenak, menatap lekat wajah Hinata yang semakin hari semakin cantik di matanya. Ia pun menyadari sedikit demi sedikit perubahan pada istrinya. Atau, itu mungkin bisa dikatakan sebagai kebiasaan alami yang diperlihatkan seseorang ketika orang itu telah sampai posisi nyaman bersama orang lain.
Seperti halnya kebiasaan Hinata di kala makan, ia akan memakan hal yang tidak terlalu disukainya terlebih dahulu baru memakan yang disukainya. Lalu kebiasaannya menggigit bibir ketika melihat adegan ciuman pada drama yang di tontonnya. Atau kebiasaannya tak bisa diam ketika suatu benda bergeser sedikit dari posisinya, dan hal itu sungguh membuat Sasuke yang hanya melihatnya saja sudah lelah.
Hinata sangat beda sekali dengan Sakura. Mungkin kebiasaan itu sudah melekat bertahun-tahun semenjak tinggal bersama mendiang Itachi dan Madara. Tapi Sasuke tak mempermasalahkan hal itu. Baginya, dunia Hinata adalah dunia baru yang menarik baginya. Ia bahkan ingin mengetahui lebih dalam sisi lain Hinata yang belum diketahuinya.
"Menurutmu apa?" tanya balik Sasuke.
Tangan Sasuke kemudian tergerak merapihkan helaian poni yang menghalangi mata bulan Hinata yang bersinar indah. Sedangkan Hinata hanya berwajah sedikit masam saat Sasuke tiba-tiba menyuruhnya untuk menebak.
"Sasuke-kun kan sudah mengggenggam dunia... Jadi mana aku tau apa yang belum Sasuke-kun miliki?"
Hinata sontak beranjak bangun.
"Dan terakhir... Jangan menyuruh perempuan yang berpikiran sederhana sepertiku untuk menebak, Sasuke-kun!"
Sasuke sontak mengembangkan lagi senyumannya. Pria itu pun turut terbangun dari posisinya. Ia pun sontak memeluk Hinata dari samping dengan gemas.
"Jika aku mengatakannya... Apa Hinata bisa memenuhinya untukku?" bisiknya yang membuat bulu kuduk Hinata seketika menari.
Hinata merasakan firasat yang tak enak. Jika Sasuke berharap lebih kepadanya, ia takut akan mengecewakannya. Ia juga takut terlibat oleh perasaan rumit. Hubungan mereka seperti hal sarang laba-laba yang lengket namun sangat rapuh. Sedangkan perlakuan hangat nan lembut dari Sasuke seolah bagaikan nektar yang menjebaknya lalu menghancurkan dirinya.
Niat awal Hinata mengemukakan persoalan tentang lukisan dan keinginan adalah untuk menyampaikan maksud keinginannya yang berhubungan dengan lukisan dan masa depannya. Akan tetapi, ia tak menyangka jika keinginan Sasuke ada sangkut paut dengan dirinya. Dan ia merasa bahwa Sasuke ingin dirinya memenuhinya.
Jikalau permintaan Sasuke berupa barang, Hinata mungkin bisa membelinya meskipun harus menguras tabungannya. Atau jika Sasuke meminta jasanya, maka ia akan senang membantunya. Namun, jika pria itu meminta hatinya, untuk saat ini mustahil untuknya mengabulkan.
Di sisi lain, Sasuke sendiri merasakan keraguan. Saat keinginan itu diutarakan maka ia yakin Hinata akan berlari menjauhinya. Setelah melewati hari bersama Hinata yang terbilang masih pendek itu, Sasuke merasakan kenyamanan lain yang tak ia rasakan bersama Sakura.
Dengan melihat wajahnya saja, seluruh beban di pundaknya seakan menghilang. Suaranya yang lembut, senyum yang indah membawanya pada kenikmatan surga dunia, serta sentuhannya yang hangat membuat Sasuke ketagihan. Jika Hinata tidak ada, maka sosoknya itu akan berubah jadi hantu yang terus bergentayang di benaknya. Mungkin karena ini pertama kalinya menyukai seseorang yang tak mencintainya terlebih dulu, Sasuke menjadi gugup dan cemas.
"Itu tergantung apa keinginanmu... Tapi, aku memiliki keterbatasan, Sasuke-kun."
Kini kedua manik mereka bertemu bak malam merengkuh cahaya bulan. Sasuke selalu tenggelam oleh tatapan Hinata yang selalu terlihat memabukkan. Ia rela memberikan apapun demi untuk selalu melihatnya setiap waktu.
"Lagipula aku ingin menyampaikan keinginanku yang menyangkut tentang perjanjian pranikah kita, Sasuke-kun."
Sasuke seketika melepaskan pelukannya, tubuhnya pun sontak berdiri tegak. Melihat Hinata yang berubah serius membuat Sasuke tak bisa meremehkannya. Apalagi ini menyangkut tentang perjanjian pranikah mereka.
"Hn, bicaralah!"
Hinata meremas tangannya, tiba-tiba saja ia menjadi gugup. Padahal sejak tadi siang ia telah memantapkan diri untuk menyampaikan keinginannya. Namun, kenyataannya tak selamanya niat itu sejalan dengan praktik di lapangan.
"Ini juga menyangkut kehamilan Sakura."
Mereka berdua sontak memeluk sunyi dengan gugup. Pasalnya Sasuke belum bicara sedikit pun mengenai kehamilan Sakura, dan ia sadar bahwa cepat atau lambat Hinata pasti ingin membicarakannya.
"Aku ingin kita membaca ulang isi perjanjian pranikah kita, Sasuke-kun?"
Sasuke tak bisa berkata apa-apa. Hinata tiba-tiba saja mengeluarkan sesuatu dari nakas. Itu adalah dokumen surat perjanjian yang diketik mendadak oleh sang pengacara serta disaksikan langsung oleh sang ayah dan Kakek Izuna kala mereka menikah dulu.
Pria itu kemudian menerima salinan surat itu. Ia menemukan beberapa poin yang ditandai oleh Hinata dengan stabilo merah.
"Pada poin pertama bertuliskan bahwa kita menyetujui pernikahan ini murni tanpa ada paksaan pihak-pihak tertentu."
Sejenak Hinata menatap wajah Sasuke yang tampak terlihat kaku. Ia sengaja membaca poin awalnya sebelum langsung pada inti permasalahannya. Jika pernikahan ini murni tanpa ada paksaan maka hubungan mereka tak akan serumit ini.
"Yang kedua, pernikahan ini telah diketahui dan disetujui oleh istri pertama dari pihak laki-laki."
Sasuke menarik napas panjang, meskipun pernikahan ini diketahui oleh Sakura, namun nyatanya ia tak pernah menyetujui adanya pernikahan ini.
"Yang ketiga, sang suami wajib mengatur waktu berkunjungnya tanpa berat sebelah serta memberikan nafkah baik secara lahir dan batin secara adil."
Pada tahap poin ini Sasuke baru bisa adil dalam memberikan nafkah secara material, akan tetapi ia terkadang masih berat sebelah dalam memberikan hadiah untuk Hinata atau pun Sakura. Dan soal waktu pun tak perlu dijabarkan lagi dengan gamblang, ia jelas-jelas tak mampu bersikap adil.
Dan Hinata tampaknya membaca bagian poin-poin yang tak sesuai dengan perjalanan pernikahan mereka sejauh ini. Sasuke jadi malu terhadap dirinya sendiri. Baru pertama kali inilah ia merasa telah gagal. Ini membuatnya sedikit kesal.
"Poin ketujuh, aku bersedia mengandung anak Sasuke-kun dengan alasan bahwa Sakura tak bisa memberikan keturunan untuk keluarga ini."
Tiba-tiba sebuah keinginan terpendam Sasuke yang baru mekar kini berubah layu. Seperti yang dikatakan awal tadi, ini memang mengenai kehamilan Sakura. Namun wajah Hinata yang tampak sedikit muram itu spontan mengetuk pintu hati Sasuke. Tangannya sontak terkepal erat. Apakah Hinata merasa terluka dengan kehamilan Sakura? Atau ini hanya prasangkanya semata.
"Poin terakhir, jika terjadi hal yang kurang berkenan atau salah satu pihak suami-istri melakukan pelanggaran maka perjanjian pranikah ini bisa direvisi kembali oleh pasangan suami-istri tanpa adanya saksi lain atau perjanjian pranikah ini tidak berlaku lagi."
Setelah menyebutkan poin terakhir itu mereka berdua sama-sama menyepi. Sasuke yang bergelut dengan pikiran dan Hinata yang tenggelam oleh rasa was-was.
Dari beberapa poin yang disebutkan Hinata, ia telah melanggar beberapa perjanjian. Seperti bersikap adil yang ternyata lebih sulit dari perhitungan. Lalu dengan kehamilan Sakura, Sasuke yakin Hinata ingin membatalkan perjanjian ini karena semua itu jadi terbuang percuma.
"Bagaimana menurutmu, Sasuke-kun?" Tanya Hinata yang semakin cemas melihat perubahan pada raut wajah Sasuke yang menegang.
Sasuke menghela napas sejenak. Ia menatap langsung ke wajah istrinya dengan bimbang.
"Aku salah, aku memang tak bisa memenuhi semua perjanjian yang kau sebutkan Hinata, tapi... Tentang kehamilan Sakura itu sudah di luar kekuasaanku."
"Aku tau itu dan aku bisa memaklumi itu semua itu, Sasuke-kun."
Kedua alis Sasuke mengerut masam. Apa yang disampaikan Hinata sepertinya disalahartikan oleh Sasuke. Pria itu sontak membuang muka, namun Hinata lantas meraih tangannya —meminta perhatian lebih- dan upaya itu nyatanya berhasil.
"Ini bukan berarti aku tak bahagia. Jika Sasuke-kun bahagia, maka aku pun juga turut bahagia."
'Bohong! Lalu kenapa mata indahmu terlihat basah!?'
"Selamat untukmu Sasuke-kun! Sasuke-kun telah jadi ayah!"
Aneh, kenapa ia sama sekali tak senang mendengar ucapan kata 'selamat' dari mulut Hinata?
"Dan karena Sakura telah hamil... Maka aku ingin Sasuke merubah poin ketujuh perihal mempunyai keturunan."
Sasuke sejenak memejamkan matanya. Akhir-akhir ini entah kenapa wajahnya cepat pegal jika ia mengkerutkan wajahnya seperti ini. Dia bisa mengerti kenapa Hinata memintanya.
"Dan, karena alasan itulah aku tak punya kewajiban lagi untuk mengandung anakmu, Sasuke-kun."
Sasuke tiba-tiba merasa sulit bernapas. Dia tak menyangka bahwa ini begitu berat dihadapi. Ia sekilas memandangi wajah Hinata yang bahasa matanya bertolak belakang dengan bibirnya yang tersenyum manis. Seandainya saja Sakura tidak hamil, maka pembahasan revisi ini tak akan pernah ada. Dan kata 'seandainya' yang berbesit di otak Sasuke tersebut terlihat begitu jahat. Celakanya, ia malah tidak menikmati pemberian dari Tuhan.
"Perjanjian pranikah ini sudah tidak berlaku, mungkin akan lebih baik kita membatalkannya, Sasuke-kun. "
Sementara itu, Hinata merasakan kejanggalan di hatinya setelah mengutarakan keinginannya. Di sisi satu ia merasa lega namun di sisi lainnya ia merasa sedih. Ia bertanya-tanya, kenapa ia harus gundah atas keputusan yang telah bangun ini? Anehnya, ia merasa ini adalah keputusan yang berat baginya.
"Hn, aku akan mempertimbangkannya..."
Mendengar hal ini kedua alis Hinata menekuk heran. Mempertimbangkannya? Apa itu artinya akan ada kemungkinan lainnya? Jika benar, maka ada kemungkinan Sasuke akan berubah haluan. Hinata tak bisa membiarkan hal ini.
"Ta—"
Baru saja Hinata hendak protes, namun Sasuke telah buru-buru mengalihkan pembicaraan.
"Lalu apa maksudmu tentang lukisan tadi? Kenapa ini ada sangkut pautnya?"
Hinata sontak tercenung. Lukisan adalah salah satu alasan Hinata dalam mengutarakan keinginannya. Tak hanya merevisi surat pernikahan saja, ia juga ingin memberitahu soal keinginannya yang lainnya. Keinginannya yang baru beberapa bulan ia pikirkan belakangan ini.
Lukisan berharga milik Uchiha Madara.
"Bukankah itu lukisan yang indah?"
Manik Sasuke kini seolah menyelami ingatannya. Lukisan cantik yang terpajang tak biasa di mana Madara hanya dapat melihatnya ketika ia berbaring di tempat tidurnya —di dinding atap kamarnya.
"Dari dulu aku selalu penasaran di mana Kakek melukis pemandangan itu, tapi setiap aku bertanya... Kakek tidak pernah memberitahukan lokasinya sampai akhir hayat."
Kini Sasuke menatap Hinata yang juga ikut bernostalgia.
"Dan inilah alasan kenapa aku ingin membicarakan perjanjian pranikah ini, karena aku tak mau kita mempunyai sesuatu yang membuat kita bisa lepas dengan bebas."
Sasuke tak bodoh hingga tak bisa memahami jalan pikiran istrinya tersebut. Anak adalah topik utama dalam pembahasan ini. Hinata berpikiran bahwa jika ia mempunyai anak darinya, maka ia tetap terkekang meskipun mereka bercerai nanti.
"Aku ingin mencari tempat itu setelah bercerai nanti..."
Namun, entah kenapa Sasuke tak suka ide perceraian itu?
"Aku ingin mengelilingi dunia, Sasuke-kun."
Mengelilingi dunia?
Ah, Sasuke pernah punya mimpi itu dulu. Dan mimpi itu telah terkubur bersama Uchiha Itachi.
"Itulah keinginanku Sasuke-kun."
Salah satu ujian terberat sebagai manusia adalah hawa nafsu yang bernama tamak. Jika ketamakan ini tak bisa dikontrol, maka ia akan terkubur hidup-hidup. Sedangkan ketamakan di dalam diri Sasuke semakin menjadi-jadi.
"Kau mau tau apa keinginanku?" ujarnya setelah mereka terdiam cukup lama.
Hati Hinata seketika bergetar. Tatapan tajam Sasuke yang bagaikan elang itu telah menusuk sanubarinya. Ia bisa membaca sorot mata yang seakan terluka itu. Ini membuatnya ikut sedih. Namun, ia tak bisa membuang keinginannya.
"Aku pria yang tamak Hinata... Pria yang tamak."
