Disclaimer : Masashi kishimoto
Baby breath by R-daisy
Rate M for safe.
Warning : AU, OOC, Crackpair, Gaje, Typos, terkadang tidak sesuai EYD, slight Sasusaku etc.
DLDR!
Summary...
Hinata adalah gadis sederhana yang suka ketulusan. Kedamaian adalah jalan tempuhnya. Lalu menjadikan cinta sejati sebagai impiannya.
Tapi untuk hidupnya sekarang, Hinata tak menuntut cinta karena sadar pernikahannya sebuah keterpaksaan. Dia juga tak menuntut soal uang.
Bukan berarti dia diam saja jika diperlakukan seperti buangan. Jadi pandanglah dia sebagai istri sah, walaupun posisinya sebagai istri kedua itu tak diinginkan.
"Aku pria yang tamak Hinata... Pria yang tamak."
Hinata masih mencerna pelan-pelan ucapan Sasuke tempo hari itu. Di pikirannya ia mencoba mencari kata-kata yang memungkinkan. Seusai membicarakan tentang perjanjian pranikah, Sasuke menjadi tak banyak bicara. Sifat dasar pria itu adalah pendiam, namun diamnya kali ini berbeda dari biasanya.
Dan apa maksudnya dengan mengatakan bahwa pribadi dirinya adalah orang yang tamak?
Sasuke tak menjelaskan dengan lebih lanjut soal itu. Waktu ita dia malah menarik selimut, lalu meninggalkan Hinata dengan penuh tanda tanya. Tapi, dari nada bicaranya, Sasuke malah terdengar seperti marah padanya?
Jika dipikir-pikir, Hinata sudah menyampaikan keinginannya dengan hati-hati. Sasuke malah berkata akan mempertimbangkan permintaannya. Ataukah ada kata-kata yang menyinggung perasaannya?
Dari kemarin Hinata terus memikirkan hal itu. Bahkan saat menghadiri pengadilan sidang kedua siang tadi, ia tak bisa konsentrasi. Dia jadi dua kali kena tegur oleh sang hakim. Dan untungnya bulan depan adalah sidang terakhir untuk kasusnya.
"Permisi... Apa Kakak tidak apa-apa?"
Hinata yang terbangun dari lamunan lantas melirik seseorang —pegawai supermarket- yang menegurnya. Kemudian kelopak matanya berkedip menatap sekotak telur di tangannya seraya menyadari bahwa dirinya sama sekali tak bergerak di depan stan telur semenjak 10 menit yang lalu.
'Apa karena aku kurang minum air putih?'
"Ah, aku tidak apa-apa." Ujar Hinata yang tersenyum menenangkan.
Ia kemudian berkesiap mengambil telurnya lalu beranjak menuju kasir.
Setelah beberapa lama mengantri di dalam supermarket akhirnya Hinata bisa keluar, akan tetapi di tengah perjalanan ia mendapat telepon dari nomor asing. Dan begitu diangkat, siapa yang menyangka kalau Sakura akan menelponnya seperti ini.
Sakura mengajaknya main ke apartemennya. Di saat ucapan itu keluar, Hinata tahu kalau ia tak bisa menolak —ia teringat janji. Walaupun ia tak tahu apa yang akan dibicarakan oleh wanita itu nanti, jelas masuk ke sarang lawan adalah hal yang patut diwaspadai.
Meskipun butuh waktu yang cukup lama untuk tiba, kini ia telah berada di depan pintu apartemen tempat Sakura tinggal. Hal yang tak bisa di sangka oleh Hinata kala datang berkunjung adalah kehadiran Sasuke. Pria itu yang justru membukakan pintu untuknya.
Melihat ekspresi wajah Sasuke yang terkejut adalah tanda bahwa ia tak tahu perihal kedatangan Hinata saat ini. Mungkin berat kakinya melangkah juga sebagian pertanda hal buruk lainnya. Namun, Hinata tak bisa terus untuk berprasangka buruk, dan juga berarti untuk tidak menurunkan ketajaman kewaspadaannya.
Untuk sejenak manik mereka yang berbeda warna itu saling mengikat. Bergetar dan saling berpandangan. Ada sebuah kerinduan yang membuncah yang tak peduli berapa lama waktu mereka berpisah. Di sisi lain, benak mereka pun masih tak bisa bergerak dari perbincangan menggantung tempo hari itu.
"Hinata, kenapa kau kemari?" tanya Sasuke yang menerima jeruk yang dibawakan Hinata.
"Aku tak mungkin datang kalau ini bukan permintaan istrimu, Sasuke- kun."
Mendengar kata 'istrimu' dari bibir Hinata ternyata membuat Sasuke tak berkutik.
"Apakah itu Hinata, Sasuke-kun?" tanya Sakura yang teriakan berasal dari dapur.
Sejenak Sasuke menatap Hinata yang melihat asal arah suara.
"Iya."
"Kalau begitu langsung ajak ke meja makan, Sayang!"
Alis Sasuke menekuk sebelah ketika Sakura memanggilnya dengan sebutan 'sayang', pasalnya tak biasanya Sakura memanggilnya seperti itu. Setelah mendengar kedatangan Hinata, sepertinya Sakura jadi langsung menunjuk sifat aslinya. Ini membuat keadaannya memburuk.
Di samping itu, Hinata juga merasakan sesuatu yang janggal. Dari nada yang biasa saja tiba-tiba berubah menjadi manja begitu Sakura tahu tentang kedatangannya. Sakura juga tak memberitahukan dirinya tentang kehadiran Sasuke.
Apa mungkin Sakura mengajaknya berkunjung hanya ingin mengujinya? Atau ini dia hanya ingin pamer. Jika demikian, maka itu tak lain adalah sinyal perang darinya.
"Asal Sasuke-kun tahu, aku tidak suka menginjak rumput tetangga." Hinata memperingatkan.
"Tapi, kau bukan tetanggaku Hinata."
"Siapa bilang aku bertetanggaan denganmu, Sasuke-kun? Walaupun kita satu rumah namun di antara aku dan Sakura beda rumah bukan?"
Sasuke sontak mendesah, ia jelas kalah dalam perdebatan ini. Akan tetapi, sebelum pria itu berucap lagi, Sakura kembali berteriak memanggil mereka.
"Sasuke-kun, kenapa lama sekali? Hinata, ayolah kemari! Kau tak perlu malu!"
Setelah mendengar teriakkan itu, Hinata membuntuti Sasuke yang mengarahkannya ke arah dapur. Di dapur Hinata bisa melihat bahwa Sakura tengah sibuk memasak untuk makan malam.
"Hinata kemarilah!" Seru Sakura yang menata letak mangkuk,
"Hm, iya."
Sementara itu Sasuke berlari ke dapur untuk menata buah. Hinata hanya berdiri mematung. Dari balik apron merah muda Sakura, manik Hinata menangkap perut Sakura yang sudah membuncit sedikit. Bibirnya sontak bergetar. Ia merasa dadanya bernapas dengan memburu.
Di dalam perut itu, hiduplah calon anak dari Sasuke. Seorang anak yang kehadirannya tentu mereka nantikan. Anehnya, ini seperti tengah mencubit dirinya.
"Sakura, Hinata membawakan jeruk untukmu." Ujar Sasuke yang menaruh jeruk itu di atas meja, pria itu kemudian tersenyum ke arahnya seolah tengah membanggakan sikap perhatian Hinata di depan Sakura.
"Kau tak perlu repot-repot, Hinata, tapi terimakasih ya..." Sakura lalu membuat gestur seakan tengah berbisik padanya, "Kebetulan sekali perutku tiba-tiba mual setelah melihat Sasuke."
Bisa dilihat kening Sasuke menekuk tidak suka. Pria itu spontan menyentil kening Sakura yang lebar.
"Au, sakit Sasuke-kun!" Sakura meringis meskipun itu tidak terlalu sakit.
"Biar saja... Kalau membuatmu mual, kau tak perlu menyuruhku buru-buru pulang." Dengus Sasuke yang bertolak pinggang.
"Sasuke-kun jahat!"
"Hn."
Bodohnya, Sasuke bertingkah seperti itu seolah melupakan sejenak keberadaan orang ketiga. Di dalam lingkungan hubungan rumah tangga itu, orang ketiga tersebut adalah Hinata. Orang ketiga itulah sebuah benalu yang tentu mengganggu atau dianggap sebelah mata.
Hinata lantas menahan diri untuk memegang dadanya. Hanya melihat adegan kecil di depan mata kepalanya sendiri, ia merasa jantungnya seperti diperas sampai habis. Ia justru merasa berkecil hati. Ia tak akan pernah menjadi prioritas utama bagi Sasuke
Akan tetapi, Hinata bisa mengerti. Kedekatan antara Sakura dan Sasuke memiliki level yang jauh berbeda dengan kedekatan dengannya dan Sasuke. Selain sudah lama tinggal bersama, mereka berdua saling mencintai. Apalagi sekarang Sakura telah hamil. Menjadi sempurnalah rumah tangga mereka.
Berbeda dengan dirinya, pernikahan dirinya dan Sasuke sebentar lagi akan segera berakhir. Kemesraan yang mereka lakukan adalah peragaan semata. Bahkan perhatian Sasuke pun hanyalah rasa simpati. Yah, walau Hinata akui, ia sedikit terbuai akan manisnya perlakuan Sasuke terhadapnya.
Meskipun begitu, bisakah mereka menjaga hatinya? Karena bagaimanapun juga hati umpama sebuah bening kaca. Jika hati itu menerima sebuah hati, maka hati pun bisa menjadi retak dan jatuh tak kembali.
"Sudah abaikan saja Sasuke-kun Hinata..." Sakura kemudian melirik jam dinding, "Karena berhubung waktunya makan malam, bagaimana kalau kita makan dulu?"
"Hn."
"Sepertinya enak..." Puji Hinata yang melihat makanan yang tersuguh di atas meja, ia mencoba menghibur diri.
"Ada yang bisa kubantu lagi."
"Tidak perlu, aku baru saja selesai masak. Aku juga baru mencoba resep baru, semoga kau menyukainya."
Sakura kemudian melihat Sasuke yang menggeser kursi untuk Hinata terlebih dahulu baru dirinya.
"Ah, iya terimakasih."
Sakura kemudian duduk di sebelah Sasuke yang telah duduk terlebih dahulu. Walaupun kecanggungan itu ada namun setelah nasi itu masuk ke dalam mulut maka kecanggungan itu seakan terbang bersama angin.
"Sasuke-kun, bagaimana kalau kau menyuapi Hinata?" Ujar Sakura yang tiba-tiba menyela ditengah makan mereka.
"Haaa!?"
"Uhuk uhuk!"
Sasuke segera memberikan segelas air putih kepada Hinata dengan tatapan penuh heran terhadap Sakura.
"Iya, aku serius!"
Berbeda dengan kening Sasuke yang menekuk, kening Hinata mengerut dengan cemas.
"Kalian tak mau kan melihat bayi di dalam perut ini merengek kan?" Sakura meminta seraya mengelus bayinya.
Sejenak Hinata dan Sasuke saling melemparkan pandangan. Mereka memang tak bisa melihat wajah calon bayi tersebut, namun alasan Sakura terdengar tidak logis.
Ada sedikit kecanggungan yang menghampiri relung hati. Sasuke tentu senang bisa bermesraan dengan Hinata, namun itu akan terlihat aneh jika ia harus bermesraan di depan istrinya sendiri walaupun status Hinata adalah istrinya juga.
Sementara itu, Hinata semakin bingung dengan sikap Sakura hari ini. Ia kira akan terjadi perang dingin. Namun setelah melihat sikap ramah Sakura terhadap dirinya, kewaspadaannya jadi menurun. Ia tak pernah sekali pun punya pengalaman berinteraksi terhadap wanita hamil, tapi menurut cerita orang bahwa pembawaan dari calon bayi bisa membuat mood sang ibu menjadi sensitif dan labil. Itulah sebabnya Sakura bisa bertingkah manja.
"Kenapa?"
Hinata dan Sasuke saling melempar pandangan satu sama lain.
"Padahal Sasuke-kun kan sudah janji menuruti semua permintaanku... Aku kan lagi ngidam."
Karena merasa tak tega akhirnya Sasuke mengangguk pasrah seraya mendesah berat. Pria itu kemudian pindah duduk di samping Hinata. Sedangkan di seberangnya Sakura menanti dengan antusias.
Sasuke kemudian memberikan aba-aba dari sorot matanya. Hinata meneguk ludahnya —gugup. Padahal ia pernah disuapin oleh Sasuke, namun karena adegan ini ditonton oleh Sakura, ia justru malah panas-dingin.
Dan saat satu suap nasi sudah masuk ke dalam mulut, mereka pun teringat akan momen sarapan pagi bersama pertama mereka. Jantung mereka selaras bergetar satu sama lain. Sorotan mata pun hanya terlihat antara kau dan aku seorang. Hingga tanpa sadar ujung bibir mereka sedikit tertarik.
Sasuke menyuapi Hinata dengan hati-hati. Lalu saat suapan yang kesekian kalinya datang, ada satu sisa nasi yang menempel di sudut bibir Hinata.
"Hinata ada nasi di sudut bibirmu." Ujar Sasuke yang spontan mengambil nasi itu lalu memakannya.
Karena tindakan itu, pipi Hinata sontak merona. Ia menundukkan matanya saat pria itu menyeringai seksi. Akan tetapi, hal itu justru membuat pria itu ingin sekali menjahilinya.
Maka saat suapan selanjutnya naik lagi menuju mulut Hinata, Sasuke malah dengan sengaja membuat sebiji nasi menempel lagi di bibir wanita itu.
"Ah, ada lagi yang tertinggal. Apa kau anak kecil Hinata?"
Pria itu lagi-lagi memakannya.
"Sasuke-kun!"
Hinata hanya mengembungkan pipinya kala sifat jahil Sasuke kumat lagi. Pria itu hanya terkekeh dan mengacak rambut Hinata. Mereka tak sadar raut wajah Sakura berubah menjadi asam.
"Bagaimana kalau Sasuke-kun makan ini juga? Sasuke-kun juga perlu makan."
Lalu terjadilah adegan saling menyuapi satu sama lain. Kemesraan serta candaan mereka ternyata sudah sampai tahap mengusik hati wanita hamil yang tengah ngidam aneh itu.
Awalnya Sakura mengundang Hinata hanya ingin menyampaikan sesuatu yang ia katakan sejak lama. Namun, ia hanya tak menyangka juga bahwa Sasuke akan pulang cepat. Padahal selama ini, meskipun Sakura memintanya, Sasuke selalu beralasan tak bisa meninggalkan pekerjaan yang sungguh penting baginya.
Lalu tadi, anehnya ia mendadak ingin melihat Sasuke menyuapi Hinata. Itu adalah sebuah keinginan aneh yang harusnya ia singkirkan jauh-jauh. Akan tetapi, ia malah memeluk erat keinginan itu. Dan begitu keinginan itu diwujudkan, ia malah harus dihadapkan pada kecemburuan.
Istri mana yang senang melihat suaminya sendiri bermesraan dengan wanita lain? Dalam seketika hal itu membuatnya kesal.
"CUKUP!"
Terdengar seruan Sakura yang cukup kencang itu membuat Hinata dan Sasuke berhenti mendadak.
"Sasuke-kun belikan aku strawberry SEKARANG!"
"Apa?"
Namun, saat melihat mata Sakura berair Sasuke dan Hinata menjadi tak berkutik. Tak lama tanpa bertanya lagi, Sasuke pun segera meninggalkan sendiri Hinata pada Sakura.
Suasana pun seketika menjadi berat kembali. Sakura memunggungi Hinata untuk menyembunyikan air mata yang keluar tanpa diundang itu.
"Ah, kenapa jadi seperti ini?" Lirih Sakura yang sedikit kesal. Padahal ia yang buat ulah, ia pula yang marah sendiri.
Dan saat merapihkan piring bekas makan mereka, Sakura tak sedikit pun menolak pertolongan Hinata.
Sejenak Hinata melirik Sakura yang masih keras menahan air matanya. Kini mereka berdua mencuci piring bersama. Dalam keheningan itu Hinata hanya bisa bertanya-tanya. Ia hanya ingin momen yang tepat untuk memberikannya selamat.
Lalu begitu melihat Sakura sedikit tenang, di kala itulah Hinata menemukan celah untuk membuka suara.
"Selamat atas kehamilanmu, Sakura-san..."
Sakura menatap Hinata sekilas, ia kemudian mengelap tangannya yang basah. Kini peralatan makan mereka telah bersih.
"Terimakasih Hinata..."
Sakura tersenyum yang diikuti oleh Hinata
"Sekarang Sakura-san sudah mengandung berapa bulan?" Tanya Hinata yang tersentil untuk mencari tahu.
"Baru 4 bulan." Sahut Sakura yang kini tersenyum lebih bahagia, "Kecil ya?"
Hinata hanya mengidikkan bahu.
"Aku sudah lama menantikan kedatangannya Hinata."
Wanita itu mengelus perutnya dengan hati-hati. Kebahagiaan terpancar begitu menyilaukan di wajahnya. Hinata sontak termenung, ingin rasanya merasakan kebahagiaan itu juga.
"Jadi..."
Tak lama, dengan tiba-tiba Sakura memegang kedua tangan Hinata. Begitu erat sampai rasa kecemasan Sakura terasa olehnya. Bisa dipastikan badai akan datang menerjang dirinya
"...kau tak perlu lagi mengandung anak Sasuke-kun, Hinata."
Hati Hinata bergetar. Tak dapat dipungkiri, suatu saat Sakura pasti akan membicarakan hal ini. Di benaknya yang paling dalam, entah kenapa ia merasa kosong. Tak pernah terbayangkan bahwa kata-kata Sakura membawa efek yang tidak baik untuk hatinya.
"Aku tahu itu, Sakura-san." Ujar Hinata yang terdengar seperti angin segar bagi Sakura.
"Aku sudah membicarakan hal ini pada Sasuke."
"Lalu Sasuke bilang apa?"
Hinata hanya menggeleng, "Sasuke-kun bilang dia akan mempertimbangkannya."
Wanita bermata emerlad itu seketika mematung. Firasat buruk pun lantas muncul sendiri.
'Ternyata benar Sasuke menyukai Hinata.'
"Tapi kau tak perlu khawatir, Sakura-san."
Hinata menggoyang tangan mereka. Sakura mulai menangis kembali. Ia kemudian menarik Sakura duduk di salah satu kursi meja makan.
"Sasuke-kun akan menepati janjinya. Percayalah!"
Jika hal yang ditakutkan Sakura adalah cinta, maka Hinata harus menenangkannya.
"Tapi bagaimana kalau Sasuke-kun berubah pikirakan?"
Hinata tetap mencoba tenang kala kepanikan menguasai diri Sakura.
"Itu mustahil Sakura-san, dia sangat mencintaimu."
Biarpun Hinata berkata demikian namun hatinya malah timbul percikan yang bertolakbelakang dengan ucapannya yang menenangkan lawannya.
"Lalu, bagaimana dengan dirimu Hinata? Apa kau mencintai Sasuke-kun?"
Di saat pertanyaan itu keluar, di saat itulah Hinata tak mampu berkata-kata. Ia sejenak menyelami hatinya. Melihat hari ini sudah dipastikan ia tak akan menang dari Sakura. Ia memang menyukai Sasuke, namun cinta dimilikinya untuk Sasuke adalah perasaan mentah bentuknya masih kecil.
"Aku belum bisa melupakan Itachi-kun, Sakura-san."
Itu juga alasan kuat kenapa ia masih menolak perasaannya cintanya terhadap Sasuke. Hinata saat ini adalah wanita yang masih hidup di masa lalu.
"Jika pun itu ada..."
Hinata menunduk kepalanya. Napasnya terasa berat.
"Aku akan menyimpannya untuk diriku sendiri."
Di balik dinding tanpa disadari kedua wanita itu, Sasuke ternyata sedari tadi telah menguping. Dan saat mendengar ucapan terakhir dari Hinata, di saat itulah Sasuke baru pertama kali merasakan apa yang disebut patah hati.
