Disclaimer : Masashi kishimoto

Baby breath by R-daisy

Rate M for safe.

Warning : AU, OOC, Crackpair, Gaje, Typos, terkadang tidak sesuai EYD, slight Sasusaku etc.

DLDR!


Summary...

Hinata adalah gadis sederhana yang suka ketulusan. Kedamaian adalah jalan tempuhnya. Lalu menjadikan cinta sejati sebagai impiannya.

Tapi untuk hidupnya sekarang, Hinata tak menuntut cinta karena sadar pernikahannya sebuah keterpaksaan. Dia juga tak menuntut soal uang.

Bukan berarti dia diam saja jika diperlakukan seperti buangan. Jadi pandanglah dia sebagai istri sah, walaupun posisinya sebagai istri kedua itu tak diinginkan.


Kala malam sudah gelap sempurna, di dalam mobil yang menuju arah pulang itu, Hinata hanya termenung menatap ke luar jendela. Pikirannya hanya berputar-putar pada perbincangannya dengan Sakura yang membuat hatinya menjadi mendung.

Untuk sejenak Hinata diam-diam melirik pria yang tengah mengemudi. Setelah pulang membelikan strawberry, Sasuke tak banyak berucap. Wajahnya pun selalu menggambarkan bahwa ada sesuatu yang ingin dibicarakannya namun mulutnya seakan tertutup oleh perekat.

Hinata memainkan jarinya. Ia ingin sekali membahas soal pembicaraan mereka waktu itu, akan tetapi melihat Sasuke yang menutup buku membuat dirinya menjadi ragu. Perjalanan pulang pun terasa singkat jika di sepanjang jalan hanya tenggelam oleh pikiran. Hinata baru tersadar ketika mesin mobil mati dan berhenti di depan pagar rumah.

"Masuklah..." ujar Sasuke yang seperti berbisik.

Bibir Hinata yang terkatup rapat sedikit terbuka. Saat menyuruhnya demikian, pria itu tak sedikit pun melirik ke arahnya. Ia kira Sasuke akan mengantarnya masuk. Tetapi, detik kemudian ia menyesali harapannya yang terdengar manja itu.

"Baik." Sahut Hinata lemas. Berbanding terbalik dengan sikapnya yang mengangguk pelan untuk menjawab ucapan Sasuke, di dalam hatinya Hinata merasa sedikit kecewa.

Dan kala sebelah kaki Hinata keluar dari mobil, Sasuke menyentuh bahunya. Hinata sontak berkesiap dengan harapan yang menyala.

"Ya?" tanya Hinata yang melirik kearah Sasuke.

Pria itu sejenak menundukkan pandangan. Pegangan pada pundak itu tidak lembut ataupun keras. Hinata bertanya-tanya apa yang akan Sasuke bicarakan kepadanya. Beberapa detik terlewati dengan cepat, Sasuke yang ditunggu malah hanya menggeleng hampa. Seperti yang terjadi sesudahnya, Hinata terpaksa menelan bulat-bulat rasa kecewanya.

"Kalau begitu aku masuk dulu. Selamat malam... "

Tanpa memeluk keraguan erat di dalam raga, Hinata memilih melangkah menuju rumahnya. Ia tak akan memaksa Sasuke yang keras kepala untuk buka mulut. Bak air yang mengisi di danau yang tenang, tak ada yang perlu dikhawatirkan.

'Tinggal sedikit lagi, bersabarlah Hinata... Kau pasti bisa' batin Hinata mengukuhkan hati.

Setelah Hinata menghilang dari pandangan, di dalam mobil Sasuke membantingkan punggungnya. Ia memijitkan pangkal hidungnya —lelah. Baru sejam dikellilingi oleh perbincangan berat antara Hinata dan Sakura membuatnya tak bersemangat. Perbincangan di mana Sakura yang merasa terancam akan disisihkan dan Hinata yang lebih suka menghindari konflik sontak mengisi penuh benaknya.

"Sasuke-kun akan menepati janjinya. Percayalah!"

'Apa yang mereka bicarakan?'

"Tapi bagaimana kalau Sasuke-kun berubah pikiran?"

Sasuke pun langsung menyadari bahwa topik pembicaraan mereka mengarah pada pernikahan antara dirinya dengan Hinata.

"Itu mustahil Sakura-san, dia sangat mencintaimu."

'...'

"Lalu, bagaimana dengan dirimu Hinata? Apa kau mencintai Sasuke-kun?"

Sasuke sontak membuka telinganya lebar-lebar. Di dalam hatinya, ia berharap jawaban Hinata dapat menyenangkan hatinya.

"Aku belum bisa melupakan Itachi-kun, Sakura-san."

'Kakak...? Jadi kau belum bisa melupakannya."

Dalam sekejap semangat Sasuke menjadi jatuh. Entah kenapa dia jadi cemburu dengan kakaknya?

"Jika pun itu ada..."

Terdiam, Sasuke menyimak.

"Aku akan menyimpannya untuk diriku sendiri."

Dan seketika itulah ia merasa jatuh. Patah hati adalah yang tak pernah ia rasakan sebelumnya ternyata tidak enak.

"Bagaimana kalau Sasuke-kun juga mencintaimu, Hinata?"

"..."

Sasuke mendengar ada jeda yang cukup lama dari Hinata. Ia berkesimpulan bahwa pertanyaan itu mungkin terdengar sulit bagi Hinata. Suasana berat pun bahkan menguasai keadaan.

"Saling mencintai bukan berarti saling memiliki, Sakura-san."

"Tapi, bagaimana kalau Sasuke-kun tetap memaksamu untuk di sisinya?"

Sakura dari dulu memang suka membuat orang sulit untuk keluar dari cengkramannya. Di tambah lagi dia sedang hamil, semua kecemasan yang tak perlu ia pikirkan malah membuatnya membelenggukan diri sendiri dalam kondisi tersebut.

"Berlari..."

"..."

"Aku akan terus berlari sampai Sasuke-kun bosan."

"Berlari katanya?" Sasuke berbicara sendiri.

Desahan lelah keluar dari mulutnya. Tangannya pun bergegas mengambil sebatang nikotin di dashboard mobil, yang ia nikmati di kala dirinya disudutkan pada tahap terendahnya. Membuka kaca mobil.

"Kau bahkan tidak tau apa yang akan terjadi nanti..."

Oniks itu kemudian menatap lekat jendela kamar mereka yang gelap itu. Ia berharap Hinata mengintipnya dari balik gorden putih tulang itu. Dan berubah pikiran lalu berlari memaksa dirinya masuk.

"Penolakanmu sungguh melukaiku, Hinata."

Namun, seketika kepengecutan di dalam dirinya seakan mencuat, Sasuke tak mampu mendapat penolakan lagi dari Hinata. Istrinya tersebut pasti ingin melanjutkan pembicaraan mereka yang menggantung itu dan Sasuke tak mau perbincangan yang tak diinginkannya mengudara. Untuk sementara waktu ia harus menghindari Hinata.

Sasuke kemudian memejamkan matanya. Cukup lama akhirnya Sasuke menyalakan mobil dan segera tancap gas. Ia tak tahu bahwa Hinata terus mengintip mobil Sasuke sebelum akhirnya benar-benar pergi.

Wanita itu memegang dadanya, ada perasaan aneh yang mengganjal di hatinya. Hinata lantas beranjak menuju tempat tidur. Otaknya seolah mengkaji ulang kejadian hari ini. Selain memastikan akan sikap Sasuke hari ini, Sakura juga meminta maaf secara langsung akan perlakuan kasar sewaktu di pesta itu. Dan yang menjadi perhatian utamanya adalah perasaan Sasuke.

Jika pria itu benar-benar mencintainya? Hinata sendiri tak tahu harus apa.

"Ya, Tuhan... Kenapa ini begitu sulit?"


Sasuke berjalan cepat di lorong menuju ruangan kantor ayahnya. Pria tua itu baru datang semalam dari Inggris. Dia bahkan tak sedikit pun mengunjungi ibunya yang masih berbaring di rumah sakit. Ini membuat Sasuke semakin kesal.

Dan begitu di dalamnya, pria tua itu tengah sibuk menelpon seseorang. Sasuke menunggu sabar di sofa tempat biasa sang ayah melayani tamunya. Hingga beberapa menit berlalu telepon itu pun berakhir, pria itu menghampiri putranya.

"Selamat atas kehamilan Sakura, Sasuke. Tiada yang menyangka istrimu yang mandul itu bisa hamil juga. Tuhan sungguh membuat kejutan."

Mendengar hal tersebut Sasuke hanya mendengus. Meskipun ayahnya mengucapkan selamat untuknya, tak ada yang namanya kehangatan antara hubungan ayah-anak di antara mereka sejak ayahnya membuang kakaknya ke panti asuhan.

"Sejak awal Sakura memang tidak mandul, ini hanya sebuah prasangka dari orang yang sok tau atas takdir." Sinis Sasuke.

"Tapi terimakasih atas ucapannya."

Fugaku mendengar setengah hati perkataan putranya. Wajahnya pun berubah jadi lebih serius dari sebelumnya.

"Lagipula ada pembicaraan penting yang harus kubahas dengan Ayah."

"Ini pasti mengenai tentang anak itu." Ujar Fugaku yang pemikirannya mengarah pada Hinata, "Apa kalian berniat sesuatu tanpa sepengetahuanku?"

Setelah mendengar kabar tentang kehamilan Sakura, Fugaku langsung menjadi khawatir. Tak kebanyakan mertua pada umumnya, bagi Fugaku kehamilan Sakura adalah jalan hambatan bagi dirinya untuk mengikat erat Hinata. Sedangkan dirinya belum puas menyiksa Hinata.

Dengan kehamilan Sakura, otomatis Sasuke atau pun Hinata berhak merubah isi perjanjian pranikah mereka. Ada kemungkinan mereka akan saling meminta perceraian yang tak diinginkannya.

"Kami berhak merevisinya tanpa saksi dari Ayah, bukankah begitu yang tertulis?!"

Kini giliran Fugaku yang mendengus tak suka. Akan tetapi, mendengar Sasuke menyebut 'kami' untuk sebutan mereka berdua terdengar sangat aneh. Biasanya putranya lebih suka memanggil Hinata dengan sebutan 'perempuan itu' atau 'kesayangan kakek' ketimbang namanya. Ia begitu tahu sebesar apa rasa kebencian Sasuke terhadap Hinata.

Apa semenjak Sasuke menikah dengan Hinata dan menjalani sebuah kebersamaan perasaannya jadi melembut?

Jika demikian, Hinata adalah anak yang mengerikan. Selain dapat melembutkan hati Uchiha Madara, ia juga mampu menaklukkan hati Sasuke yang begitu keras seperti dirinya. Fugaku tak tahu sejauh apa hubungan antara Hinata dan Sasuke. Yang pasti, ia mencium sesuatu yang bagus yang dapat dimanfaatkan.

"Lalu revisi seperti apa yang kalian ubah?"

"Kami akan menganggap perjanjian pranikah itu tidak ada."

Oniks Fugaku seketika melebar marah. Ini yang ditakutkannya, perceraian itu pasti akan terjadi.

"Kami memutuskan untuk bercerai dalam waktu dekat."

"Sasuke!"

Sasuke dapat melihat jelas tangan ayahnya yang mengepal erat selaras dengan hatinya yang berat ketika mengucap perceraiannya dengan Hinata.

"Kau sadar apa yang kau katakan, hah!?" Fugaku sedikit menggeram.

Sasuke mencoba untuk tenang.

"Biar aku ingatkan padamu Sasuke!"

"..."

"Kesepakatan dalam perjanjian pranikah kalian adalah ketika Hinata melahirkan anak darimu, maka rumah itu akan jadi miliknya. Anak itu sungguh membutuhkannya."

Mata Sasuke memicing. Karena rumah itu Hinata terpaksa menyetujui pernikahan itu. Rumah yang seharusnya diwariskan kepada Itachi, namun karena berhubung ahli waris telah meninggal, maka keluarga —dalam hal ini adalah sang Ayah- berhak atas warisan tersebut. Dan ia berhak melakukan apapun terhadap warisan itu termasuk menjualnya.

Di sisi lain, karena alasan Sakura yang belum memberikannya anak pun, Sasuke jadi tersudut. Itulah cara licik ayahnya ketika menjebak mereka dulu demi kepentingannya sendiri.

"Ayah tak perlu khawatir soal itu. Bagiku Sakura yang hamil sudah cukup."

Fugaku sontak menekuk lebih dalam lagi kedua alisnya.

"Kalau pun Ayah berniat menjualnya, maka aku akan membayar berapapun uang yang akan dikeluarkan."

Jadi, inilah yang menyebabkan Hinata tak takut akan ancamannya waktu itu. Sasuke berniat membelinya jika ia menjualnya.

"Lalu bagaimana dengan surat wasiat itu. Pengacara itu bahkan belum membeberkan semuanya!"

Alasan utama surat wasiat itu belum dibacakan adalah karena kejadian pembatalan pernikahan Itachi dan Hinata yang sama sekali di luar dari rencana semula. Sebenarnya wasiat itu akan dibacakan setelah perayaan pesta pernikahan, namun berhubung sang pengantin pria tiba-tiba meninggal maka semuanya menjadi kacau.

Tapi, hal itu bukan berarti tak ada alternatif lain. Jika ada kekacauan terjadi, sebelum mendiang Madara meninggal, ia telah berpesan kepada adiknya —Uchiha Izuna- untuk memperbaiki keadaan. Izuna yang pasalnya tak suka hal yang mubazir, maka ia memberikan kebijakan yang tentu membuat situasi menjadi sulit.

Pernikahan harus tetap dijalankan. Izuna kemudian menantang siapapun yang menikahi Hinata maka ia akan mendapatkan 50 % warisan dari tersebut. Itu sudah jelas terlihat seperti menjual manusia, dan membuat Hinata terlihat hina. Namun begitulah klan Uchiha, tanpa sedikit permainan kotor, klan mereka tak akan mungkin berdiri dengan kokoh hingga sekarang.

Dan ketika Uchiha Fugaku yang maju maka tak ada seorang pun yang berani menerima tantangan itu. Hingga Sasuke pun juga terseret dalam tantangan tersebut. Karena tak mungkin ayahnya menikahi Hinata dengan jarak umur yang terlampau jauh.

"Kita bisa membicarakan hal ini lagi pada Kakek Izuna."

Fugaku mendengus.

"Kau seperti tidak tau Izuna saja! Dia sangat keras kepala!"

"Hinata akan membantu kita. Dia pasti mampu merubah keputusan kakek."

"Heh, anak lemah itu! Dia bahkan tak berkutik ketika Paman Izuna melelangnya seperti barang di depan semua tamu undangan."

Di bawah meja Sasuke lantas mengepalkan kedua tangannya. Jika menarik kembali memorinya ke belakang, ia begitu kesal dengan sikap lemah Hinata. Akan tetapi, ia semakin kesal kalau ayahnya merendahkan istrinya seperti itu.

"Hinata tidak lemah seperti yang Ayah bayangkan."

"Terserah kau mau ngomong apa. Kalian tetap tidak boleh bercerai sebelum kalian memiliki anak, mengerti!"

Ini aneh. Firasat buruk lantas mengetuk kesadaran Sasuke. Ayahnya seakan terobsesi dengan istrinya. Itu sungguh abnormal.

Jadi ini sebabnya kenapa ibunya sangat bersikukuh agar Sasuke menceraikan Hinata.

"Tapi aku akan mencobanya."

Fugaku lantas mendongak, "Silahkan kalau kau bisa!"

Sasuke beranjak tempatnya. Fugaku menolak untuk menatap kembali putranya.

"Sebelum aku pergi ada yang harus sampaikan tentang ibu."

Mendengar Sasuke menyinggung Mikoto, Fugaku melunakkan hatinya. Ia menatap Sasuke dengan sorot mata yang bergetar khawatir.

"Ayah... Bisakah Ayah sedikit peduli dengan kondisi ibu?"

"Hn, tentu saja aku mempedulikannya. Dia istriku!"

"Kalau memang benar begitu, setidaknya sisihkan waktu luang sehari untuk menjaga Ibu."

Suka atau tidak Sasuke harus mengatakannya. Ia merasakan sesuatu yang buruk terjadi. Kemungkinan kecil untuk ibunda tercinta terbangun dari tidurnya. Ibunya sudah terlalu lama menderita di dunia ini. Jika Tuhan ingin menarik ibunya kembali, Sasuke telah mempersiapkan batinnya. Ia ikhlas.

"Jika Ayah masih tetap duduk di belakang meja sampai Ibu sampai tak bangun lagi, Ayah tak punya hak menghadiri pemakaman ibu."

Setelah mengatakan hal itu, Sasuke kemudian menghilang dari pandangan ayahnya. Ia telah meninggalkan ayahnya yang sungguh menyesali perdebatan terakhirnya dengan sang istri.


Semenjak mengantar pulang Hinata pulang, sudah lima hari Sasuke tak menunjukkan batang hidungnya. Meskipun Hinata mengirim pesan langsung ataupun bertanya melalui sekretarisnya jawabannya selalu sama, tidak bisa diganggu. Bahkan ketika Hinata menghampiri ke kantornya pun, pria itu selalu saja tak berada di tempat.

Sasuke seakan tengah menghindarinya. Sikap Sasuke juga semakin mundur menjadi sedikit dingin setelah dirinya meminta suaminya tersebut untuk menyetujui keinginannya yang tak ingin hamil. Mendapati hal ini lama-kelamaan rasa kecemasan mencoba menguasai diri.

Hinata lantas melamun di depan kue tart yang baru saja selesai ia buat. Ini adalah tanggal 27 Desember yang sangat spesial baginya. Di tanggal inilah di mana Madara membawanya dari panti asuhan yang kemudian menjadi tanggal kelahirannya. Hanya saja hari ini, ia merasa tak bahagia.

Pasalnya, sebelum Itachi dan Madara tiada, mereka bertiga selalu merayakan bersama-sama. Akan tetapi, untuk pertama kalinya ia merayakan ulang tahunnya sendirian saja. Tidak ada seseorang pun untuk membantu meriahkan ulang tahunnya. Para pelayan yang biasa membuat rumah ini hidup kini Hinata perintah untuk libur sampai awal tahun baru. Ia juga tak berani mengganggu Sasuke yang sibuk berkutat dengan pekerjaannya.

Sampai suara pintu terbuka berbunyi, saat itulah rasa semangat Hinata kembali terpacu. Ia segera bergegas menuju ke arah depan. Dan benar saja tebakannya, Sasuke akhirnya pulang ke rumah.

"Sasuke-kun!" Seru Hinata yang tentu merasa senang.

Sasuke terdiam sejenak. Lalu tersadar akan pakaian yang dikenakan terlihat lebih minim dari biasanya. Di balik jubahnya yang tak terbuka Hinata memakai gaun tidur babydoll berwarna violet yang memiliki belahan dada yang terbuka begitu lebar. Sasuke sontak menutup mata, ia lantas merutuki dirinya yang tergoda akan penampilan istrinya malam ini.

Sadar akan sorot mata Sasuke yang begitu intens ke arah tubuhnya membuat Hinata merona ria. Tangannya pun sontak pelan-pelan mengikat tali jubahnya, menutup dadanya yang memiliki ukuran besar itu. Ia merasa malu. Ia kebetulan memakai gaun tidur seksi ini hanya karena ingin memakainya, bukan bermaksud untuk menggoda suaminya.

"Syukurlah kau pulang."

Bukannya mendapatkan kembali kehangatan, Sasuke malah melengos melewati dirinya. Hinata yang kebingungan hanya mengekori Sasuke yang berjalan menuju kamar mereka. Dan sesampainya di kamar, Sasuke langsung membuka lemari kecil yang terletak di bawah televisi.

"Sasuke-kun, apa yang kau cari? Mungkin aku bisa membantumu." Tawar Hinata yang kembali mencoba mengajak Sasuke berbicara.

"Aku hanya mengambil file penting yang tersimpan di kamar." Ujarnya tanpa melirik Hinata, "Tidak perlu, sudah ketemu."

Sebelum Sasuke beranjak pergi jauh, Hinata sontak meraih pergelangan tangan pria itu. Dan akhirnya Hinata berhasil membuat Sasuke melihat kearahnya.

"Bagaimana sebelum pergi... Sasuke-kun coba kue tart buatanku dulu?"

"Aku tak suka makanan manis, Hinata."

"Aku membuatnya sesuai lidah Sasuke-kun. Kita cicipi sebentar ya."

"Aku tidak bisa," Sasuke perlahan melepaskan genggaman Hinata dan hal ini pun disadari oleh wanita itu.

"Aku sibuk."

Sasuke menggeleng kepala, sementara perasaan senang Hinata pun sontak menurun menjadi kecewa.

"Tapi hari ini—"

Hinata tiba-tiba menutup rapat bibirnya, wajah dingin Sasuke adalah penyebabnya. Ia tak mampu menatap lebih lama. Ini melukai dirinya.

"Maaf kalau aku terus mengganggumu."

"Hn."

Hinata kira setelah menundukkan kepalanya, Sasuke pergi meninggalkannya. Namun, di detik kemudian, ia bisa merasakan bibir Sasuke menyentuh bibirnya —menciumnya tertahan.

Dari mulut Sasuke, Hinata bisa mencium bau rokok yang tidak ia sukai. Setelah itu ia merasa tubuhnya melayang. Ciuman Sasuke berubah menjadi liar. Hinata ingin melawan akan tetapi tiba-tiba punggungnya pun tanpa sadar telah menyentuh kasur. Tubuh Hinata sontak bergetar. Dan pada malam itu, untuk pertama kalinya, Hinata merasakan malam pertamanya.