Disclaimer : Masashi kishimoto
Baby breath by R-daisy
Rate M for safe.
Warning : AU, OOC, Crackpair, Gaje, Typos, terkadang tidak sesuai EYD, slight Sasusaku etc.
DLDR!
Summary...
Hinata adalah gadis sederhana yang suka ketulusan. Kedamaian adalah jalan tempuhnya. Lalu menjadikan cinta sejati sebagai impiannya.
Tapi untuk hidupnya sekarang, Hinata tak menuntut cinta karena sadar pernikahannya sebuah keterpaksaan. Dia juga tak menuntut soal uang.
Bukan berarti dia diam saja jika diperlakukan seperti buangan. Jadi pandanglah dia sebagai istri sah, walaupun posisinya sebagai istri kedua itu tak diinginkan.
Awan kelabu menghiasi pagi itu. Cuaca dingin di akhir Desember semakin menunjukkan dirinya pada dunia. Seekor burung yang tak diketahui namanya bertengger pada pohon yang tertidur. Bola matanya kemudian memerhatikan jendela sebuah rumah, lalu meninggalkan seolah tak ada kehangatan di sana.
Di dalam rumah itu ada seorang wanita yang tertidur terbungkus selimut. Tubuhnya yang meringkuk menunjukkan betapa ia sungguh kesepian. Meskipun ia melewati malam yang tak terlupakan seumurnya hidupnya, namun hatinya tak sebiru warna langit di musim panas.
Hingga waktu bergerak menuju angka sembilan, manik bak rembulan di malam hari itu terbuka perlahan. Ia pun tak langsung terbangun. Otaknya bekerja perlahan, membuka hati-hati lembaran ingatannya beberapa jam yang lalu.
Lalu ia tersadar. Ia pun terbangun dengan tubuh yang lemas dan sedikit nyeri di beberapa tempat. Wajahnya kemudian melirik ke sisi seraya menggerakkan telapak tangannya. Ketika kulit telapak tangan itu menyentuh permukaan alas tidur, tak ada kehangatan yang sudah diperkirakannya.
Pria yang menjadi suaminya hampir setahun itu pasti langsung pergi begitu dirinya tak sadarkan diri. Rasa kecewa kecil sontak muncul mengawali perasaan lainnya di hari ini. Suatu hal yang egois jika mengharapkan pria itu akan tidur di sisinya sampai ia terbangun.
"Kau sungguh bodoh." Rutuknya entah pada siapa.
Ia memandang kosong sprei putih itu, kemudian ia memeluk kakinya —meringkuk lagi. Ingin rasanya membersihkan tubuhnya yang kotor, lalu pergi ke suatu tempat yang tak dikunjungi banyak orang.
Desahan sontak keluar. Ia memegang perutnya yang rata. Kelabu biru mewarnai harinya hari ini. Semalam adalah malam yang begitu berat.
'Meskipun nanti akan berpisah, tapi aku tak akan melupakan hal ini seumur hidupku, Hinata...'
Begitu katanya, setelah mereka memutuskan untuk bersatu.
Hingga ia menyadari... calon bayi itu tak akan pernah ada.
Beberapa jam yang lalu...
"Sasuke-kun, dengarkan aku dulu!"
Sasuke sontak menegang. Dia mengangkat kepalanya dari leher jenjang istrinya. Dan ketika wajah Hinata menunjukkan rasa kesalnya, Sasuke terbangun kaku seraya menunduk —bersalah.
Di sisi lain, Hinata yang tak bisa menyimpan emosinya kali ini pun langsung terbangun begitu bebas dari jeratan Sasuke. Tangannya lantas tergerak membenahi tali gaun tidur yang hampir menelanjangi dirinya. Dengan wajah yang memerah karena malu dan marah, ia menatap tajam orang di sampingnya tanpa ragu seolah mampu merobek raganya.
Hinata lantas menggelengkan kepalanya sambil mendesah berat.
Bagaimana bisa pria itu memperlakukannya seperti ini setelah bersikap dingin pada dirinya?
Dan bagaimana bisa ia tak berkutik kala Sasuke menyerangnya seperti ini?
Sungguh tak habis pikir.
"Aku tidak mengerti dirimu, Sasuke-kun."
Biarpun Hinata menggunakan suara yang lembut, namun dari nadanya Sasuke bisa mendengar ada kekesalan yang tercipta dari wanita itu.
"Aku sudah minta maaf karena aku selalu mengganggumu. Dan aku tak masalah kalau Sasuke-kun tak memaafkanku. Tapi sekarang... Sasuke-kun malah memperlakukan diriku seperti ini."
Sasuke semakin merunduk.
"Kalau Sasuke-kun tidak suka bilang saja tidak suka, kalau Sasuke-kun marah bilang saja marah! Tidak perlu bersikap seperti i—."
"Aku tidak marah!" Sela Sasuke.
"Terus, apa alasan Sasuke-kun bertingkah seolah menghindariku beberapa hari ini?"
Sasuke beringsut, kata-kata Hinata menusuk tepat kejantungnya.
"Di tambah lagi... Aku bisa mengerti kalau Sasuke-kun tak dapat menjawab teleponku... Tapi, bahkan pesan yang kukirim tengah malam pun Sasuke-kun masih menyuruh sekretarismu untuk menjawabnya!?"
Sasuke sontak membeku. Oniksnya melebar kaget.
"Selamat Sasuke-kun aku jadi berpikir yang aneh-aneh!"
"I-itu tidak seperti yang kau pikirkan, Hinata."
Sasuke tak pernah sepanik ini. Ia tak menyangka bahwa tindakannya akan menimbulkan kesalahpahaman. Dalam hati, ia merutuki kebodohannya. Namun, sayangnya ucapan Sasuke tak diindahkan oleh Hinata. Wanita itu bahkan membuang muka.
"Aku tau kita akan segera bercerai, tapi jangan perlakukanku seperti ini, Sasuke-kun."
Sasuke memilih terdiam menyimak. Hinata memeluk dirinya sendiri.
"Aku masih istrimu meskipun hanya sebagai alat."
Hati Sasuke kemudian tercubit mendengar ucapan Hinata. Kedua tangannya meraih pundak wanita itu, akan tetapi Hinata lebih suka menyembunyikan wajahnya.
Sasuke meringis. Rasa rindu terhadap Hinata yang ia simpan selama beberapa hari di dalam hatinya kini tumpah. Puncaknya, kala tanpa sadar ia mimpi basah saat ketiduran di kantor tadi sore setelah selesai memimpin rapat. Kebetulan di dalam mimpi itu ia melakukannya bersama Hinata.
Sampai akhirnya, ia harus mengibarkan bendera putih dan memutuskan untuk pulang ke rumah Hinata. Begitu melihat sosok istrinya begitu masuk tadi, sakit rindu di hatinya sebenarnya sudah tak tertolong. Dan kala Hinata datang meraihnya seperti tadi, ia pun langsung merengkuhnya.
Ia kira Hinata akan luluh akan sentuhan itu, dan sayangnya Hinata justru marah padanya.
Tujuan utamanya datang adalah mengobati rasa rindu dan minta maaf. Sekaligus membahas mengenai surat perjanjian mereka. Namun, apa yang direncanakannya tak berjalan lancar. Tiba-tiba saja ia teringat akan perbincangannya dengan sang ayahnya, apalagi konflik barunya bersama Sakura belum sepenuhnya selesai.
Dan ini sebabnya ia bersikap sedikit dingin saat masuk ke rumah tadi.
Bagaimana ayahnya yang masih tidak menyetujui rencana perceraiannya dengan Hinata. Ayahnya pun masih bersikukuh untuk dirinya agar bisa membuat Hinata mengandung anaknya. Memikirkan hal ini pun ia jadi kesal kembali.
Sasuke sangat tahu ayahnya sangat membenci Hinata karena sebenarnya Hinata adalah putri dari Hyuuga Hitomi. Tidak logisnya, dendamnya terhadap wanita yang telah tiada itu turun kepada Hinata. Lalu dendam itu berubah menjadi hal yang tak wajar.
Sasuke sangka, ayahnya semakin posesif terhadap istrinya tersebut. Ayahnya sudah setengah gila, dan Sasuke harus mengambil tindakan segera. Ia harus menjauhkan ayahnya dari Hinata meskipun ia harus mengorbankan segala yang dimilikinya termasuk cintanya.
"Dan jika Sasuke-kun tidak suka atau tak berkenan untuk merevisi kembali perjanjian pranikah kita... bilang saja, tak perlu menghindariku."
Sasuke telah berpikir keras beberapa hari ini tentang surat perjanjian tersebut. Ia memang berniat menghapus surat itu dan akan menceraikan Hinata saat tanggal pernikahan mereka nanti. Untuk sebab itulah, ia berusaha menjauhkan diri dari istrinya tersebut, agar saat perceraian itu tiba Sasuke tak mengalami efek patah hati yang begitu besar.
Dan sialnya, ia tak mampu. Perasaan cintanya terhadap Hinata tak dapat disembuhkan lagi.
Mungkin, itu bukan cinta yang sebenarnya murni. Karena pada dasarnya cinta murni itu hanya dimiliki Tuhan. Sedangkan cinta makhluk pastilah sebuah nafsu yang bentuknya macam-macam, termasuk cinta Sasuke terhadap Hinata yang hampir bulat sempurna.
Itu terbukti bahwa di setiap detik ada saja suatu luang Hinata merasuki pikirannya. Sasuke bukan saja hanya suka melihat Hinata yang tersenyum, namun ia ingin sekali membuat Hinata bahagia walaupun ia belum mampu. Ia akan melakukan apapun agar Hinata bisa aman bersama dirinya.
"...maaf, aku tak bermaksud seperti itu." Sasuke berbisik.
Untuk kesekian kalinya, Hinata terpukau lagi ketika pria itu mengucapkan permintaan maaf atas dirinya. Ia pun mencoba mengintip dari balik poninya. Ketika wajah suaminya menunjuk wajah melasnya itu, Hinata semakin tak tega.
Tak lama, Hinata sontak terkejut kala Sasuke turun memilih duduk bersimpuh membungkukkan kepala dan meletakkan tangannya ke depan di bawah kakinya.
"Sasuke-kun...!" Seru Hinata yang menyusul turun duduk, ia memegang lengan pria itu untuk menarik perhatiannya, "Kalau Sasuke-kun merasa aku marah padamu, aku akan memaafkan semuanya walaupun aku tak mengerti."
"Aku tak akan mengangkat kepalaku sampai aku menyampaikan permintaan maafku padamu Hinata."
"Sasuke-kun..."
"Aku ingin meminta maaf atas segala yang kuperbuat padamu selama ini."
Hinata kemudian duduk tegak untuk menghormati permintaan maaf suaminya tersebut.
"Kau tau semua apa kekuranganku padamu, Hinata. Aku bukanlah suami yang sempurna."
Kini Sasuke mengangkat kepalanya.
"Memang benar awalnya aku menganggapmu hanya sebagai alat."
Bibir Hinata lantas terkunci rapat.
"Tapi, seiring waktu ..."
Sasuke kembali tertunduk, kedua tangannya terkepal erat.
"Aku merasa nyaman bersamamu Hinata."
Hati Hinata pun sontak bergetar begitu pula dengan kelopak matanya.
"Maafkan aku yang menikmati hubungan sementara ini."
Sasuke memberanikan diri mengambil kedua tangan Hinata yang begitu mungil di tangannya. Ia tersenyum miris. Karena tangan ini tak bisa selamanya ia gengam.
"Maafkan aku yang tidak bisa mengontrol diriku."
Kini mereka saling bertatapan. Sorot mata yang terdiam seakan berbicara. Saling menyelami seolah ada yang menarik jika masuk ke dalamnya. Begitu lama hingga tak sadar bahwa jarum panjang jam di dinding bergerak.
"Maaf karena aku jatuh cinta padamu, Hinata."
Sejenak Hinata menahan napas. Kini perlahan ia melepaskan genggaman tangan pria itu, lalu menutup mulutnya yang bergetar. Hinata sebenarnya sudah menebak ini, namun ia tak menyangka ini akan berubah sedramatis ini.
Kini suasana pun berubah hening, hanya ada suara denting jam yang menyuarakan hatinya yang berdetak berisik itu. Hinata mencoba menelaah kembali ucapan Sasuke.
"S-sasuke-kun, apa yang kau lakukan?"
Napas Hinata berderu. Ia merasa bola matanya berair.
"Kau tau apa konsekuensi dari perkataanmu, Sasuke-kun? Tidak bisakah kau menyimpannya untuk dirimu sendiri. Bagaimana dengan Sakura? Apa kau tak ingat bahwa ia mengandung anakmu?"
Sasuke tak mampu menatap Hinata. Dadanya pun terasa berat. Ternyata tanggapan dari Hinata lebih pahit dari yang ia kira.
"Aku tau... Tapi aku bukan dirimu, Hinata!"
Sasuke menggeram, ia menatap tajam Hinata tak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya.
"Aku juga telah mengungkapkan hal ini pada Sakura."
Hinata pun kemudian terjebak oleh rasa bingung.
"Dan karena hal itu juga, aku sudah beberapa hari ini menginap di hotel."
Tanpa sadar airmata Hinata mengalir dengan mulus ke pipinya.
"Kau sungguh bodoh, Sasuke-kun!"
Tangan Hinata sontak bergerak memukul bahu pria itu. Dan pria itu hanya duduk terdiam menerima pukulan wanita itu. Hinata juga melakukan hal yang dilakukan Sakura, menangis dan memukulnya seperti ini.
"Ya, aku memang bodoh."
Kata orang, cinta bisa membuat orang menjadi bodoh, dan karena cinta juga orang bisa menjadi gila. Dulu Sasuke tak pernah mempercayai hal itu, namun kali ini ia harus menelan bulat-bulat kebodohannya.
"Kau tak hanya menyakiti perasaan Sakura-san, kau juga menyakiti diriku, kau tau itu!"
Sasuke mengetahui hal itu dengan baik sebelum ia mengungkapkan isi hatinya. Akan tetapi, ia memilih menyusahkan dirinya ketimbang memilih jalan yang lebih sulit di masa depan nanti. Ia tak bisa membayangkan harus menyimpan perasaan itu untuk selamanya. Seperti ia katakan pada Hinata, dirinya bukanlah Hinata.
"Kau sungguh egois, Sasuke-kun."
"Ya, aku tahu itu..."
Sasuke bahkan sudah pasrah. Karena niat awal ia mengungkapkan perasaannya hanya untuk mengeluarkan beban di hatinya, bukan mengharapkan balasan seperti kebanyakan orang yang jatuh cinta. Meskipun pengungkapan ini akan membebani Hinata, ia sangat tahu bahwa istrinya adalah wanita yang kuat.
"Aku tidak keberatan kalau marah Hinata. Aku juga tidak keberatan jika setelah ini kau akan pergi menjauhiku. Maaf telah membuatmu jadi kesulitan karena kejujuranku. "
Hinata yang masih belum terbangun dari rasa keterkejutannya, berdiri menjauh Sasuke. Ia berdiri di depan jendela yang gordennya terbuka. Setelah menghapus airmata yang membasahi wajahnya, ia memeluk dirinya dengan gusar. Lalu maniknya menatap bulan yang sempurna bulatnya bersinar begitu terang.
Wajahnya pun berubah muram. Ia berpikir keras sampai kepalanya pusing. Padahal hari ini adalah ulang tahunnya, dan Tuhan telah menghadiahkan situasi ini padanya. Kalau ia berada di posisi pada wanita umumnya, mungkin ia akan menyambut gembira ungkapan cinta Sasuke. Akan tetapi, saat ini posisinya berada di jalan yang berkerikil. Ia bahkan harus mengorbankan dirinya untuk misi ini.
Dan sekarang, Hinata harus menghadapi ini juga. Sebenarnya, ia ingin mencari jalan yang tak ingin melukai siapapun, namun ungkapan Sasuke mengacaukan semuanya dan membuat dirinya sedikit goyah.
Hinata terdiam cukup lama. Hingga akhirnya pikirannya terbentuk untuk menghasilkan sebuah keputusan yang aman. Ia harus menolak Sasuke, dan sudah seharusnya ia tidak terlena pada sesuatu yang tak bisa ia miliki penuh. Meskipun ini akan menyakiti Sasuke termasuk dirinya. Ia tak bisa menundanya, karena waktu itu akan segera tiba.
"Aku sangat berterimakasih atas perasaanmu, Sasuke-kun."
Hinata membalikan dirinya kembali menghadap Sasuke yang masih terduduk di lantai.
"Aku bersyukur, karena Tuhan membawa dirimu padaku."
Kali ini Hinata tersenyum getir di wajahnya yang sembab, ia mendekati lagi Sasuke yang mendongak kepadanya.
"Tapi aku gak bisa meruntuhkan tembok yang menghalangi kita. Jadi, maafkan aku."
Sejak awal Sasuke sudah memprediksi bahwa Hinata akan menolaknya mentah-mentah. Dan seharusnya ia tidak menanam sedikit harapan di hatinya, maka ia yakin rasa sakitnya tak akan sesakit ini.
Sasuke sejenak menatap wajah istrinya. Ia beranjak berdiri menghadap wanita itu dengan menggengam sisa sedikit harapan di tangannya.
"Tak apa Hinata."
Tangannya kemudian bergerak mengambil ujung rambut Hinata dan memainkannya. Sasuke kemudian mengajak Hinata untuk menyelami ke dalam oniksnya. Mereka terdiam seperti itu untuk beberapa saat, saling berpandangan. Dalam tatapan itu, mereka seakan tengah mengunci diri dari dunia. Hingga di mana dalam mata mereka hanya terpantul diri mereka.
Meskipun bibir mereka terkunci demikian, namun benak mereka dipenuhi dengan berbagai pertanyaan yang ingin mereka utarakan.
Sasuke perlahan mendekati. Jarinya yang sedari tadi sibuk menyisir rambut indigo Hinata, kini beralih beranjak menuju pipinya. Membelainya dengan lembut. Hinata sontak merundukkan pandangannya.
Sensasi yang disalurkan oleh sentuhan itu menghangatkan diri Hinata. Karena ia sudah terbiasa oleh sentuhan lembut dari Sasuke, terkadang di waktu luang ia merindukannya. Seperti hal hari ini, di saat rumah ini menjadi sepi dan kehangatannya mulai mendingin, Hinata justru teringat akan Sasuke.
Pria itu sudah menjadi sebuah lentera di kehidupan Hinata. Lentera yang mampu menerangi jalan gelap, serta memberikannya harapan baru untuk selalu maju. Awalnya Hinata menganggap Sasuke adalah bidaknya. Ia menggunakan Sasuke seperti halnya Sasuke menggunakan dirinya untuk mencapai sesuatu. Tetapi, seiring waktu yang berlalu, ia mulai terlena akan perannya yang menjadi seorang istri.
Dan ia pun mulai berharap bahwa ia adalah istri normal pada umumnya, istrinya Sasuke.
Di sisi lain, Sasuke yang bergelut dengan benaknya memikirkan sesuatu yang berbeda dari Hinata. Dalam hatinya Ia sedikit bersyukur sekaligus merasa merana. Hinata memang menolaknya, namun wanita itu begitu kejam karena tak sedikit pun menghindar ketika disentuh. Hati Sasuke seakan dipermainkan. Dan anehnya Sasuke tidak peduli ataupun marah, ia justru senang.
"Tapi kau begitu kejam,"
Sasuke tersenyum tipis. Sorot mata Hinata lantas memancarkan kebingungan.
"Seharusnya kau bereaksi sebaliknya setelah menolak diriku..."
Hinata yang terperanjat sontak memundurkan diri. Dan karena malu, ia hanya bisa menundukkan kepala untuk menyembunyikan rona di pipinya.
"Maaf!" seru Hinata yang mengintip dari untaian poninya.
Senyum di bibir Sasuke tak sedikit pun berkurang. Tangan yang berdiam diri diudara itu perlahan turun ke sisi.
"Tak perlu minta maaf,"
Tangan Sasuke kemudian terkepal, "Aku datang bukan untuk dikasihani Hinata."
Hinata lantas menahan napas sejenak. Walaupun Sasuke tak menatapnya seperti beberapa waktu yang lalu, akan tetapi wajahnya terlukanya yang sekarang malah meraih hati Hinata. Seperti halnya seseorang yang tak diinginkan keberadaannya, Hinata dapat merasakannya. Dan rasa iba yang tak diinginkan Sasuke kini malah memeluk erat dirinya.
"Aku tahu kau melakukan ini untuk menjaga perasaan Sakura."
"Sasuke-kun..."
Lamat-lamat, Hinata meraih tangan Sasuke. Meremas tangan itu dengan hati-hati seolah takut meremuknya. Manik bulan kemudian bersirobok pada oniks Sasuke. Bibirnya mengembangkan ke atas bergetar.
"Ya, Sasuke-kun benar."
Setelah itu Hinata tak mampu melanjutkan kata-katanya. Ada sesuatu yang menyeruak di dadanya yang membuatnya ingin menangis. Namun itu tertahan begitu sosok Sakura yang tersenyum memeluk perutnya terlintas di benaknya.
"Itu karena aku telah berjanji pada Sakura-san dan diriku sendiri."
Sasuke mengikuti kemana iris manik Hinata bergerak seraya mengambil sisa-sisa harapan yang terjatuh. Hinata kemudian mengambil napas panjang.
"Dan bukan hanya demi Sakura-san saja... Ini juga demi diriku, dan juga Sasuke-kun."
"Itu artinya kau punya perasaan padaku, Hinata."
Manik Hinata sontak melebar —terkejut. Wanita itu pun sontak menjauh lagi, ia lantas beranjak duduk di pinggir kasur dan memeluk diri sendiri dengan gusar.
Sasuke kemudian tersenyum. Ucapan Hinata justru memberinya sebuah titik terang. Ada sedikit ruang di hati Hinata untuknya berdiam diri. Meskipun kini Hinata telah menekan dirinya sendiri, namun wanita itu tak bisa menampik perasaan cinta yang tumbuh di hatinya.
