Disclaimer : Masashi kishimoto
Baby breath by R-daisy
Rate M for safe.
Warning : AU, OOC, Crackpair, Gaje, Typos, terkadang tidak sesuai EYD, slight Sasusaku etc.
DLDR!
Summary...
Hinata adalah gadis sederhana yang suka ketulusan. Kedamaian adalah jalan tempuhnya. Lalu menjadikan cinta sejati sebagai impiannya.
Tapi untuk hidupnya sekarang, Hinata tak menuntut cinta karena sadar pernikahannya sebuah keterpaksaan. Dia juga tak menuntut soal uang.
Bukan berarti dia diam saja jika diperlakukan seperti buangan. Jadi pandanglah dia sebagai istri sah, walaupun posisinya sebagai istri kedua itu tak diinginkan.
"Ada apa Hinata? Apa kesimpulanku salah?"
Gestur tubuh Hinata terbaca semakin menghindarinya. Hinata tak dapat berkata-kata. Pria itu seakan ingin menarik Hinata keluar dari lingkaran yang ia bentuk. Jika Hinata membalasnya maka akan terlihat jelas. Dan ia tak mau kalah di awal sebelum menuju puncak pencapaiannya.
"Diammu menandakan kebenaran Hinata."
"I-itu..."
Sasuke menghampiri Hinata dan duduk tepat di samping kanannya. Hinata pun mulai panik.
"Kau tadi bilang... Bahwa kau telah berjanji pada Sakura dan dirimu sendiri, kan?"
Sasuke sontak menarik dagu Hinata lembut agar istrinya tersebut melihat ke arahnya. Dan sebaliknya, manik bulan itu tak mengarah padanya.
"Jadi, aku berpikir kau mulai mencintaiku. Tetapi karena Sakura kau lebih suka menyimpannya."
Hinata membeku.
"Tapi, aku menghormati pilihanmu, Hinata. Mungkin aku tak berhak memilikimu,"
Bibir Hinata kembali bergetar. Ia menutup mulutnya sebelum pecah. Matanya juga berkaca-kaca karena airmata itu mulai tercipta.
"Sasuke-kun, aku..."
Hinata menggeleng keras. Airmatanya mengalirlah sudah. Ia sungguh tak tega. Ia memang mencintai Sasuke, namun cinta itu terlalu awal dan bentuknya pun belum solid. Ia takut suatu hari akan pecah, dan ia takut hatinya patah begitu parah sehingga tak mampu lagi terbangun.
Seiring itu, melihat Hinata yang meneteskan airmata untuk cintanya, Sasuke langsung menarik Hinata ke dalam dekapannya, menenangkannya. Walaupun wajahnya terlihat tenang, tidak dengan hatinya begitu terombang-ambing.
"Maaf... Maafkan aku."
"Ssshhh... Kenapa kau malah menangis?"
"Habisnya... Aku jadi kasihan padamu, Sasuke-kun." Aku mencintaimu, Sasuke-kun.
Sasuke menarik napas panjang. Dadanya bergemuruh berat. Ia ingin sekali menggerutu pada nasibnya yang hari ini tak sesuai kemauannya, dan sayangnya hal itu tak akan mengubah apapun. Di sisi lain, ia mengagumi sikap keras Hinata yang tetap menutup mulut atas perasaannya.
Sementara itu, Hinata yang berada di dekapan Sasuke telah mendengar detakan jantung pria itu yang berdegup begitu nyaring. Suaminya telah mengeluarkan keberanian serta resiko besar untuk mengungkapkannya. Hinata mengambil napas panjang, kini hatinya seakan di aduk-aduk.
"Hinata, lihatlah aku!"
Untuk kesekian kalinya Sasuke kembali membawa Hinata untuk menatap langsung wajahnya. Dan ketika manik yang bagaikan bulan dan malam itu bertemu, Hinata dapat melihat sesuatu yang tak pernah ia lihat. Di mana gambaran sorot mata ketakutan dan keberanian itu saling bersinggungan untuk menguasai diri Sasuke.
"Jika kau mengasihiku, maka janganlah lupa aku pria brengsek yang layak kau hancurkan hatinya!"
Kedua alis Hinata menekuk bingung. Ia hendak melarikan diri dari wajah itu tapi Sasuke malah mengunci dirinya dengan memegang kedua sisi wajahnya.
"Sasuke-kun kenapa kau bicara seperti itu? Kau seperti tak mengenal diriku."
Di malam yang dinginnya tak bersahabat, hati Hinata yang tertutup itu sedikit terbuka pintunya. Hinata yang selalu mempunyai keyakinan bahwa setiap makhluk mempunyai sisi kebaikan tidak mungkin mempercayai hal itu.
"Itu alasan kenapa aku bilang tidak apa-apa kalau kau menolakku, aku pria brengsek."
Manik Hinata sontak merundukkan sejenak sebelum akhirnya kembali menatap oniks Sasuke yang memancarkan kelugasan.
"Lagipula kita akan berpisah pada akhirnya, dan itulah sebabnya aku lebih memilih patah hati di awal ketimbang harus terlena oleh harapan kosong."
Kala mendengar kata berpisah, hati Hinata kembali galau. Mereka memang akan berpisah, tetapi untuk pertama kalinya Hinata tak suka menyambut penantian tersebut. Ia perlahan melepaskan kedua tangan Sasuke dari pipinya, dan menata kembali hati serta pikirannya untuk menuju satu arah.
Mereka pun terdiam seribu bahasa. Menikmati kembali keheningan yang tercipta, dan tenggelam oleh pikiran. Hingga tanpa sadar waktu berjalan begitu cepat. Hinata pun kembali memandangi wajah Sasuke setelah beberapa menit menyembunyikan wajahnya.
"Apa Fugaku-san sudah mengetahui tentang perceraian kita nanti?" tanya Hinata langsung.
"Ayah sudah tau."
Lalu Hinata langsung memasang wajah yang mengatakan 'Lalu bagaimana tanggapannya?' kepadanya.
"Kau pasti sudah menebaknya kan Hinata? Ayah begitu keras kepala."
Hinata kemudian mendesah. Ia menatap jarinya yang saling bertautan itu.
"Dan kapan waktu kita akan berpisah?" tanyanya begitu halus sehingga tak ada yang mampu mengupingnya.
Sasuke sejenak menutup mata. Rencana yang ia susun sedemikian rupa terasa begitu berat kini. Jika saja ia tak terlena main rumah-rumahan dengan Hinata, ia tak mungkin merasakan hal ini.
"Saat ulang tahun pernikahan kita yang pertama, mari kita sudahi semua ini." Sahut Sasuke yang langsung menatap Hinata.
Napas Hinata berhenti sejenak.
'Berarti itu tinggal 2 bulan 2 minggu lagi...'
"Dan untuk itu..."
Sasuke tiba-tiba terlihat ragu-ragu. Hinata merasa ada sesuatu yang akan membuatnya terjepit. Dan untuk pertama kalinya Hinata melihat pipi Sasuke merona. Jantung Hinata seketika berdetak cepat menantikan ucapan yang akan dikeluarkan oleh Sasuke.
"Bisakah kita melakukannya untuk pertama dan terakhir kalinya?"
Mendengar hal itu Hinata langsung mengalihkan wajahnya yang merona. Dan apa yang Hinata pikirkan pun terjadilah.
"Tapi, jika kau keberatan aku tidak memaksa."
Nada suara Sasuke yang masuk ke telinga Hinata seakan terdengar menyedihkan. Dalam hati Hinata merutuki sifatnya yang mudah iba dengan orang lain itu.
"Aku sebaiknya kembali ke kantor, urusanku sudah selesai."
Pria itu kemudian beranjak dari kasur, dan melihat bahu Sasuke yang tak tegak seperti biasanya itu membuat Hinata makin tak tega melihatnya. Ia lantas menggigit bibirnya.
"Sasuke-kun, tunggu!" seru Hinata yang menghentikan kaki Sasuke yang hendak keluar dari kamar.
Pria itu sontak membalikkan badannya. Hinata pun beranjak menghampiri pria itu. Dengan tangan yang bergetar, Hinata meraih ujung lengan kemeja Sasuke yang tergulung.
"Kau tau kan aku tak menginginkan anak. Bukan—!" Hinata kemudian menggelengkan kepala, memperbaiki kesalahpahamannya, "Maksudnya... Bukan berarti aku tak suka anak kecil, tapi aku tak mau mempunyai anak dalam hubungan yang seperti ini. Jika kau mau, a-aku.."
Sasuke tersenyum tipis. Ia mengelus lembut kepala Hinata.
"Aku mengerti maksudmu, Hinata."
Darah Hinata sontak berdesir, jantungnya berpacu lebih cepat. Ia dapat melihat jelas sorot mata Sasuke berubah menjadi berapi-api. Senyum Sasuke tiba-tiba berubah menjadi seksi.
"Aku akan berhati-hati,"
Hinata membeku, Sasuke menunjukkan sesuatu dari saku celana. Sebuah pengaman. Kurasa ia kembali terjebak oleh permainan Sasuke. Dan Saat Sasuke perlahan mengendongnya, Hinata baru sadar bahwa ia tak dapat menarik kembali keputusannya.
Dengan malam yang saljunya turun ke bumi, Hinata akhirnya merasakan apa yang disebut dengan kehangatan yang begitu intim dalam sebuah aktivitas suami-istri. Walaupun dalam hubungan itu Sasuke tak membuahi janin seperti yang dikatakan, namun Hinata merasa aneh. Dan di pagi harinya, Hinata merasakan kekurangan itu. Hatinya menjadi hampa. Ini pengalaman malam pertama yang tak pernah ia perkirakan.
Hinata mengeratkan mantel yang dikenakannya. Besok adalah awal tahun di mana orang-orang bersukacita karenanya. Tetapi, di hari itu Hinata tak akan merasakan kebahagiaan yang akan diterima banyak orang. Karena hari itu adalah hari berkabungnya, tepat di tanggal itu Hinata merasa tertarik masa lalu yang tak tuntas. Itulah tanggal di mana Madara menghembuskan napas terakhir kalinya.
Dengan pakaian serba hitam, ia mengunjungi makam Madara. Langit hari itu begitu mendung, Hinata menaruh bunga lili yang dibawanya di depan batu nisan. Salju seketika turun perlahan, ia pun termenung. Memorinya kemudian membawanya kembali pada kejadian itu. Kejadian yang tak pernah ia bayangkan seumur hidupnya. Di mana ia telah menjadi saksi atas kejahatan Fugaku.
Tangannya sontak terkepal keras, dan giginya bergemeretak.
Tak lama, maniknya mendapati sesuatu yang menarik perhatian. Secarik kertas terselip di antara batu nisan. Hinata pun tersadar akan sesuatu, yakni janji pertemuan penting antara dirinya dan Shikamaru.
Sejenak Hinata melihat ke sekelilingnya. Maniknya menyipit, memastikan Suigetsu tak mengikutinya masuk ke tempat pemakaman. Perlahan ia mengambil kertas itu dengan hati-hati. Melihat kondisi kertasnya yang masih bagus, bisa dibilang Shikamaru baru menaruhnya.
'Temui aku di taman dekat rumahmu, NS.'
Begitulah yang tertulis pada pesan itu. Hinata sejenak memutar otak, bagaimana caranya agar tidak dicurigai oleh Suigetsu. Tak mau mengulur waktu, Hinata pun bergegas meninggalkan tempat. Sebelum ia benar-benar menghilang dari tempat itu, senyuman Hinata mengembang pada salju yang turun ke bumi. Semakin hari waktu itu semakin dekat.
"Sebentar lagi, Kek. Aku akan mengungkapkannya!"
Setelah mengganti setelan baju, Hinata bergegas menuju tempat yang dituju. Sebagai pengalihan agar bisa bebas dari pengawasan, beberapa menit yang lalu Hinata telah menyuruh Suigetsu untuk mengejar diskon telor di supermarket. Kini ia telah duduk manis di sebuah bangku taman, menanti Shikamaru yang entah menyamar sebagai apa kali ini.
Hinata bahkan membawa sebuah buku di tangannya agar tidak terlihat mencurigakan. Di sela matanya yang diantara membaca dan mengawasi sosok yang datang kepadanya, sebuah pesan dari Sasuke mengalihkan perhatiannya.
Sejenak Hinata terdiam. Ia tak langsung membaca pesan itu. Setelah malam itu, Sasuke tak sedikit pun memberi kabar. Pria itu tak bersuara, seakan menghilang ditelan oleh bumi.
Hinata mengira Sasuke mungkin mengganggap hal ini bukan masalah besar yang akan melebur sendiri di keesokan harinya. Jika demikan, maka ia tak akan memberatkannya. Walaupun tak bisa dipungkiri bahwa malam itu akan terus melekat di dinding memorinya.
Namun, tetap saja menerima perlakuan seperti itu, rasa kecewa sontak tumbuh di dalam dada Hinata. Tak lupa rasa perasaan hampa yang terus menghinggapinya sejak pagi itu. Ia sendiri bingung apa yang diinginkannya sekarang.
"Apa yang kau harapkan, Hinata?" bisiknya yang bertanya pada dirinya sendiri,
Mata bulannya sontak terpejam. Dalam benaknya ia mencoba menghapus wajah Sasuke, dia menarik napas dalam-dalam. Kemudian wajah Sasuke di dalam benaknya perlahan mengabur terganti oleh sosok Itachi dan Madara yang tersenyum ke arahnya.
'Bangunlah...'
Hinata akhirnya membuka matanya. Wajahnya terlihat serius. Ia kembali menatap ponselnya.
'Ini bukan waktunya untuk bermimpi, Hinata!'
"Tetaplah fokus."
Sejenak Hinata menatap icon bergambar surat tersebut. Ia sudah memutuskan untuk tidak tenggelam bersama angan-angannya. Tanpa perlu melihat isi pesan itu, ia pun langsung menghapusnya. Dan jika saja ia memiliki keberanian di hatinya, maka ia mungkin akan membaca beberapa penggalan kata yang akan menghibur kesepiannya. Dan pesan itu berkata:
'Aku rindu padamu, Hinata.'
Sebuah siluet bayangan membuyarkan lamunan. Untuk beberapa saat Hinata menyipitkan matanya. Sosok itu adalah pria berambut pirang yang memakai topi dan kacamata hitam yang menghiasi wajahnya, ia menggendong seekor kucing berbulu lebat di tangannya.
"...Shikamaru-san?"
"Ssstt... Meskipun kau sudah menyuruh anak buah Sasuke pergi jauh kau juga harus berhati-hati terhadap mata-mata milik Fugaku."
Seketika Hinata menutup mulutnya. Maniknya sontak bergulir ke kanan dan kiri, ia pun segera memakai masker yang ia simpan di antara lembaran kertas buku.
"Bagaimana... Ceritakan semua yang kau dapatkan!" tanya Shikamaru yang melepas kucing di tangannya setelah memposisikan dirinya duduk sedikit jauh dari Hinata.
Hinata sejenak menatap kucing itu lalu segera berpura-pura membaca buku kembali. Sementara itu, Shikamaru langsung mengambil ponselnya, tangannya kemudian bergerak menekan icon perekam.
"Aku mungkin tak banyak memberikan informasi," Hinata melirik Shikamaru dengan gusar, jari-jemarinya sontak meraba tinta yang tertulis di atas kertas tersebut,
"Tapi, aku harap ini masih berguna untuk penyelidikan ini."
"Sekecil apapun informasi itu, kami sudah sangat terbantu Hinata."
Senyuman Hinata mengembang seiring senyuman yang bermekaran di bibir Shikamaru. Perlahan salju yang seputih kapas itu jatuh ke bumi. Tak lupa semilir angin musim dingin menyentuh kulit pipi. Waktu pun berjalan begitu lembut kala Hinata membocorkan informasi yang ia dapatkan.
Di mulai tentang Sasuke yang telah mengumpulkan banyak data penyelewengan dana yang dilakukan Fugaku di beberapa proyek. Hinata bahkan diam-diam telah menyalin data itu ke dalam flashdisk miliknya dan langsung memberikannya pada Shikamaru.
Lalu rencana Sasuke yang akan menceraikannya tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka yang pertama. Tak lupa juga tentang Sasuke yang sudah membayar setengah rumah Madara yang dijual Fugaku karena Sasuke bersikeras menceraikan dirinya.
Awalnya Hinata kira itu sebuah gertakan dari Fugaku, dan nyatanya pria itu benar-benar menjualnya. Namun sekarang Hinata bisa bernapas lega. Setidaknya rumah itu tidak jatuh ke tangan orang asing.
Kemudian tentang rencana yang dilakukan Fugaku selama di luar negeri. Rencana tentang pertemuan sembunyi Fugaku dengan mantan perdana menteri yang diisukan akan kembali. Hinata mendapatkan informasi itu juga karena sebuah kebetulan yang sungguh menguntungkan. Ia tanpa sengaja sekilas membaca buku memo milik sekretaris Fugaku yang tergeletak di atas meja dalam keadaan terbuka.
Namun, ketika menerima informasi itu wajah Shikamaru menekuk begitu tajam. Seketika perasaan Hinata jadi tak enak, segera pikiran negatif menyerangnya.
"Apa menurutmu informasi ini adalah jebakan?" tanya Hinata yang berbisik.
"Kami sudah mengetahui hal itu. Aku sudah mendapatkan informasi dari mata-mata yang kukirimkan."
"Bolehkah aku mengetahui apa yang mereka direncanakan?"
Shikamaru tampak menimbang sebelum akhirnya menatap Hinata yang terlihat gugup.
"Danzo berniat menggulingkan Namikaze Minato dengan cara kotor, ia menggunakan Fugaku untuk melancarkan niat busuknya dengan cara yang pernah ia lakukan sebelumnya terhadap klan Hyuuga."
Hati Hinata lantas bergetar. Shikamaru menatapnya intens. Tanpa membuka masker, pria itu sudah menebak betapa pucatnya wajah Hinata saat ini.
"Apa akan ada pembantaian lagi?"
"Tidak, ini sedikit berbeda. Danzo berniat membunuh Minato dengan menggunakan yakuza yang tengah bersinggungan dengannya. Dan kebetulan kelompok yakuza itu begitu dekat dengan Fugaku. Kalau kau menyimak politik akhir-akhir ini, ada beberapa kebijakan PM. Minato yang menggoyangkan bisnis gelap mereka."
Mendengar hal ini, Hinata hanya terdiam. Ia memang mengikuti perkembangan politik, namun ia tak menyelaminya terlalu dalam. Ia hanya tahu hal-hal yang termukakan di media saja.
Akan tetapi, tiba-tiba wajah Shikamaru menampakkan raut yang bergolak. Hinata yang tergelitik lantas menutup bukunya.
"Tapi, Hinata..."
Hinata menanti dengan sabar ucapan selanjutnya Shikamaru yang tampak sulit diutarakan itu. Pria itu lantas memijit pangkal hidungnya dengan frustasi. Kepala nanas itu mendesah keras seraya merutuk kata 'sial' beberapa di benaknya. Ini kesalahan besar. Tanpa disadari ia telah mengantarkan Hinata pada kematian. Ia seharusnya tak melibatkan warga sipil dalam penyelidikan ini.
"Shisui sepertinya mengawasi dirimu juga. Ini bisa jadi jebakan untukmu Hinata..."
"Jadi..." tangan Hinata berkeringat dingin, jantungnya berdetak cepat, "Apa akan ada sesuatu yang buruk akan terjadi?"
"Nyawamu telah digenggam oleh Shisui, Hinata."
Setelah mendengar hal itu, napas Hinata seakan tercekat. Ia tak suka pria itu sejak awal pertemuan. Pria yang mempunyai tekanan yang amat berbeda dengan Fugaku. Pria yang seumuran Itachi itu sama sekali tak punya sinar kehidupan di matanya. Orang lain mungkin tak akan menyadari tapi Hinata selalu saja mencium bau darah jika pria itu berada di dekatnya.
"Kalau menjadi seperti ini... Ayo kita ubah rencana! Tapi sebelum itu Izuna-san harus tahu semua ini."
Hinata menaruh perhatian lebih, sedangkan Shikamaru memilih menyembunyikan wajah malasnya untuk sementara waktu.
"Kau harus pergi sebelum sebelum Shisui mendatangimu. Kalau bisa kau pergi tanpa diketahui oleh siapapun."
Napas Hinata kembali tercekat. Spontan Shikamaru mendekati, pria itu memegang bahunya.
"Aku akan mengaturnya semuanya..."
Jantung Hinata seolah berhenti berdetak ketika Shikamaru menyuruhnya untuk pergi secara diam-diam. Jikalau ia melakukannya, itu artinya ia pergi dari Sasuke tanpa mengucapkan salam perpisahan.
"Dan tenang saja... Aku akan menjamin keamananmu selama kau bersembunyi. Bagaimana?"
Hinata lantas menundukkan kepalanya. Dalam lubuk hatinya yang terdalam, ia tak mau perpisahan yang membuat siapapun terluka. Di tambah lagi, ia tak mau ada perasaan yang tertinggal. Setelah berbagai macam hal yang mereka lewati bersama meskipun itu singkat, terlebih lagi setelah ungkapan cinta Sasuke, Hinata hanya ingin langsung mengucapkan selamat tinggal pada Sasuke.
Hal ini mungkin akan sedikit sakit, tapi Hinata percaya rasa sakit itu akan terkikis oleh waktu. Tetapi, hal yang dihadapinya nanti bahkan terlihat begitu menakutkan. Pertumpahan darah yang tak diinginkannya mungkin benar-benar terjadi.
Dan jika hari itu datang, Hinata tak akan kabur. Apa yang terjadi esok, biarlah esok hari saja ia dihadapi. Ia juga tak bisa berpangku tangan. Manusia hanya bisa memprediksi dan berencana, akan tetapi Tuhan adalah pemilik waktu sebenarnya. Pasti ada jalan, begitu benaknya menguatkan diri.
Perlahan Hinata melepaskan genggaman Shikamaru dari pundaknya. Ia menatap langsung manik coklat sang Nara yang bagaikan elang itu tanpa sedikitpun keraguan. Bibirnya lantas menyunggingkan sebuah senyuman manis.
"Aku tak bisa, Shikamaru-san."
Shikamaru sontak berdecak. Tanpa harus mengutarakannya, ia mampu menebak isi pikiran wanita itu.
"Sejak awal aku sudah bersedia mengikuti semua rencana ini. Dan aku sudah memperkirakan konsekuensi apa yang akan kuterima nanti."
Jalan yang ditempuhnya untuk sampai sini, Hinata telah merasakan apa itu jalan menanjak. Asalkan kebenaran tentang kematian Madara terungkap ia rela melakukan apapun, termasuk mengorbankan nyawanya pun ia telah siap.
"Jika aku kabur sekarang, bagaimana aku bisa mati dengan tenang nanti?"
Hanya satu yang Shikamaru kagumi akibat dari keputusan Hinata. Wanita itu tak terlihat takut akan kematian yang sudah mendekat di ujung tenggorokannya.
"Merepotkan."
