Disclaimer : Masashi kishimoto

Baby breath by R-daisy

Rate M for safe.

Warning : AU, OOC, Crackpair, Gaje, Typos, terkadang tidak sesuai EYD, slight Sasusaku etc.

DLDR!


Summary...

Hinata adalah gadis sederhana yang suka ketulusan. Kedamaian adalah jalan tempuhnya. Lalu menjadikan cinta sejati sebagai impiannya.

Tapi untuk hidupnya sekarang, Hinata tak menuntut cinta karena sadar pernikahannya sebuah keterpaksaan. Dia juga tak menuntut soal uang.

Bukan berarti dia diam saja jika diperlakukan seperti buangan. Jadi pandanglah dia sebagai istri sah, walaupun posisinya sebagai istri kedua itu tak diinginkan.


Awal tahun baru Hinata lewati dengan kesendirian. Para pelayan telah kembali bekerja setelah liburan tahun baru selesai. Dan ia pun menyesali tindakannya yang menghapus pesan Sasuke sebelum membacanya. Sejak saat itu, ponsel Sasuke terlihat tidak aktif.

Menurut kabar dari Suigetsu, beberapa hari ini ternyata Sasuke tengah berada di luar negeri. Seperti biasanya suaminya tersebut suka sekali berjibaku dengan pekerjaannya tanpa melirik hari libur. Jika sudah begitu, pria itu menjadi tidak sensitif. Ia seakan lupa kalau dirinya adalah pria yang menjadi seorang suami.

Hinata mendesah, ia semakin menenggelamkan dirinya ke dalam selimut. Ia tak menyangka rasa rindu lebih berat dari berat badannya. Seandainya saja ia tak menolak ajakan rekan-rekan kerjanya untuk pergi liburan main ski , Hinata tak akan mungkin dimakan hidup-hidup oleh kejenuhan.

Sebelumnya ia tak pernah bosan terhadap musim dingin karena ini musim kesukaannya. Akan tetapi, setelah Sasuke masuk langsung ke dalam hidupnya, kesehariannya berubah total. Ia jadi melakukan banyak hal yang baru. Seperti memasak bersama, mengobrol sampai pagi, menonton drama hingga membantu memasangkan dasi pun ia lakukan.

Dan karena momen-momen kecil itulah, Hinata merasa waktu kecilnya bersama Sasuke sungguh berharga.

Hinata sontak mendesah kesekian kalinya pagi ini. Buku yang di tangannya pun hampir belum terbaca sepatah kata pun. Dalam kerinduan yang teramat sangat, ia lantas berbisik, "Sasuke-kun..."

"Hn."

Tanpa harus menebak pemilik suara dengungan tersebut, Hinata yang menahan kerinduannya sontak terbangun dengan cepat. Maniknya kemudian melihat pintu kamarnya yang terbuka lalu beralih pada Sasuke yang melepaskan mantelnya. Bagaimana bisa pria itu masuk tanpa menimbulkan suara?! Dia bahkan tak mendengar langkah kakinya.

"S-Sasuke-kun!?"

Sasuke tersenyum tipis. Wajah terkejut Hinata terlihat lucu di matanya. Ia lantas beranjak duduk mendekati Hinata. Sambil memegang kotak hadiah, ia mencubit pipi istrinya dengan gemas.

"Aku pulang, Hinata."


Hari ini adalah hari ulang tahun perusahaan Sabaku Corp. Sesuai permintaan si rambut nyentrik —Gaara- Sasuke membawa Hinata bersamanya. Ia tak tahu apa yang direncanakan pria itu terhadap istrinya, yang pasti gerak-gerik Gaara harus ia awasi saat di pesta. Dan yang paling membuat Sasuke makin waspada adalah ketika istrinya —Hinata- menyadari keberadaan Gaara. Bahkan matanya yang seindah bulan itu tak pernah sedikit pun lepas dari pria itu begitu masuk ruangan.

Mendapati hal demikian, hal yang manusiawi jika muncul api cemburu di dalam hati Sasuke. Ia pun tak henti-hentinya melempar tatapan membunuh pada Gaara yang tampak santai mengobrol dengan para tamu undangannya.

"Sasuke-kun." Panggil lembut istrinya mengalihkan atensinya.

"Hn."

Sejenak Sasuke memusatkan dirinya pada Hinata yang tampil lebih cantik dari biasanya. Ia sudah menebak gaun yang ia beli begitu pas di tubuh Hinata yang mungil. Gaun biru langit yang memiliki lengan panjang yang terbuat dari bahan transparan yang berkelap-kelip seperti bintang serta rok yang mekar bak kelopak bunga mawar yang panjangnya di bawah lutut. Di tambah dandanan yang begitu natural dan tatanan rambut yang di buat keriting bertengger manis di satu bahu.

Sasuke pun menatap bangga, malam ini Hinata menjadi pusat perhatian bak ratu, di sisi lain ia tak menafikkan betapa risihnya ketika para pria hidung belang menatap istrinya begitu intens. Apalagi si bungsu Sabaku itu, ia menyadari pria berambut merah itu diam-diam mencuri pandangan ke arah istrinya.

"Aku ingin ke toilet dulu."

Sasuke mengangkat dagu Hinata, lalu mengelus pipinya yang merona alami. Untuk sejenak manik gelap itu mewaspadai pergerakan Gaara, yang ternyata pria itu telah menuju jalan keluar. Maniknya sontak menyipit, ia pun mengiring tatapannya lagi pada wajah Hinata yang penuh harap itu.

"Hn, selesaikan urusanmu."

Sudut bibir Hinata lantas mengembang, ia mengangguk cepat. Dan ketika kaki Hinata mengikuti jejak Gaara, saat itu Sasuke tak bisa membiarkan Hinata berlama-lama jauh darinya.


Hati Hinata berdebar kencang seiring high heels yang senada dengan warna gaunnya itu melangkah cepat. Gaara, sang target yang ia perhatikan semenjak ia datang ke pesta itu kini seperti melangkah ke ruang merokok. Sebenarnya Hinata sedikit mengetahui informasi tentang pria itu. Sabaku Gaara adalah adik ipar dari Nara Shikamaru. Pria itu pulang ke Jepang hanya untuk menghadiri ulang tahun perusahaan yang di pimpin kakaknya, Kankuro.

Sebelumnya Hinata tidak mengetahui apapun profil atau pun latar belakang dari Gaara, namun berkat pemberitaan di media sosial ia pun menjadi kenal sosok pria itu. Shikamaru sendiri juga telah menceritakan sedikit perihal adik iparnya tersebut saat pertemuan kemarin. Namun, pria itu pun tak menyinggung soal Hyuuga yang lain yang disinggung oleh adik iparnya.

Jika ditanya seberapa besar rasa penasarannya, maka rasanya itu seakan seperti jagung popcorn yang dimasak meletup-letup di dalam panci. Begitu antusias nya, ia sampai membuat rangkuman pertanyaan yang akan ia tanyakan pada Gaara nantinya.

Akan tetapi, kini Hinata harus kehilangan jejak. Langkah besar kaki Gaara tak dapat ia susul. Kepalanya berputar ke kanan dan kiri, namun sosok pria itu tak bisa diendus keberadaannya.

"Kemana dia sekarang?" Bisik Hinata yang sedikit kebingungan.

"Sepertinya anda mencariku Nyonya Uchiha?"

Hinata yang melonjak kaget pun segera berbalik. Si pemilik suara bariton itu —Gaara- tengah menyeringai ke arah seraya memasukkan bungkus rokok ke saku celananya. Ia sontak menelan ludahnya dengan canggung, "K-Kau masih mengingatku? K-Kita pernah bertemu saat hujan turun bulan lalu."

Gaara tampak mengunci suara sebelum akhirnya keluar.

"Aku tak bisa melupakan pertemuan pertama kita, apalagi warna matamu, Nyonya Uchiha Hinata. Atau bisa kupanggil Hyuuga Hinata? "

Dada Hinata lantas bergemuruh. Inilah yang dia harapkan.

Sementara itu Gaara sendiri juga tak sabar ingin menyampaikannya. Sejatinya ini bukanlah bagian tanggungjawabnya, akan tetapi karena ia sudah berjanji maka ia tak bisa menghindari. Itulah mengapa Shikamaru tak menceritakan perihal Hyuuga yang masih hidup, sebab Gaara yang memintanya.

Lagipula menemukan seorang Hyuuga selain Hinata yang masih hidup itu adalah kebetulan semata. Jika bukan Gaara yang sering bolak-balik ke luar negeri maka ia tak pernah mengetahuinya. Dan ia sudah mengetahui bahwa Shikamaru menangani kasus ini sejak lama maka Gaara yang mengetahui keberadaan Hyuuga lainnya lantas memberitahukan keberadaannya pada kakak iparnya tersebut.

"Kumohon, bisakah kau menceritakan semuanya? Tentang klan Hyuuga. "

Gaara memegang dagunya. Ia mengerti seberapa besar rasa penasaran terhadap klan keluarganya sendiri. Pasalnya pemberitaan tentang klan itu seakan terkubur dan tidak sedikit pun meninggalkan jejaknya di atas bumi. Itu adalah pembantaian klan terburuk sepanjang sejarah.

"Bercerita panjang tidak asyik tanpa minuman Hinata."

Hinata hampir saja menelan rasa kecewanya bulat-bulat. Gaara mendekatinya dengan jarak satu hasta. Mereka sejenak saling menatap tanpa tahu bahwa salju telah turun ke bumi.

"Tapi, aku hanya akan memberitahumu dengan singkat saja. Aku tak suka masuk lebih dalam ke lingkungan yang bukan urusanku."

Hinata mengangguk.

"Pria itu adalah Hyuuga Neji. Aku bertemu dengannya beberapa bulan yang lalu."

Gaara bersedekap dada. Ia bisa melihat dengan jelas manik indah Hinata yang bergetar.

"Bisa di bilang Neji adalah sepupumu. Dia adalah putra dari saudara kembar ayahmu. Neji tiga tahun lebih tua darimu. "

"...Sepupuku? Saudara kembar ayah?"

Kepala Gaara mengangguk.

"Bagaimana bisa...?" Lirih Hinata, "Ceritakan semuanya padaku!" Serunya yang kesabarannya setipis rambut.

"Hei, tenanglah!" Gaara sedikit terkekeh,

"Lama sebelum pembantaian klan Hyuuga, pamanmu Hyuuga Hisashi sudah didepak dari klan Hyuuga karena suatu hal yang tak bisa Neji ceritakan. Hisashi berseteru dengan ayahnya, setelah itu membawa istri dan putranya kabur keluar negeri."

Gaara sejenak mendesah, sedangkan Hinata tengah mencerna informasi yang ia terima.

"Lalu dimana dia sekarang?"

"Sekarang Neji telah menikah. Dia telah menjadi dokter relawan di Afrika selatan selama lima tahun."

Hinata memegang dadanya yang berdebar kencang.

"Neji mengatakan meskipun dia sangat membenci klannya karena kejadian yang menimpa mereka tapi dia menyayangkan tentang pembantaian itu. Dan ia bersedia bertemu denganmu."

Mulut Hinata seakan terkunci. Ia tak menyangka kejadiannya akan menjadi begini. Sedikitnya ia merasa bersyukur bahwa ia tak sendirian di dunia ini.

"Kalau kau tidak keberatan, aku bisa mengantar dirimu ke sana."

"B-benarkah?" Hinata dengan reflek menarik lengan blazer Gaara yang berwarna merah marun itu.

"Tentu saja. Kau bisa menghubungiku, aku siap mengantarmu kapan saja?"

Dan detik kemudian hal yang tidak terduga terjadi, Sasuke yang entah dari mana tiba-tiba muncul mengagetkan kedua orang tersebut.

"Ada apa ini?" Tanya Sasuke sedikit pun tak melepaskan tatapan sengit pada Gaara.

"...Sasuke-kun?!"

Pria itu kemudian menyadari jari Hinata yang bertaut erat pada lengan blazer Gaara.

"Untuk apa Hinata pergi bersama pria lain sedangkan suaminya sendiri bisa mengantarnya kapan pun?"

Hinata yang mendapati demikian spontan melepaskan tangannya. Ia pun segera menghampiri Sasuke dan memegang lengannya. Dengan harapan Sasuke tak cari keributan, ia menatap pria itu dengan gestur wajah yang seolah berbicara bahwa mereka harus pergi dari tempat ini.

"Kalian pasangan kawin kontrak kan? Bukankah tak lama lagi kalian akan bercerai?" Celetuk Gaara yang mengundang kekagetan bagi pasangan suami-istri tersebut.

Hinata sontak menatap tajam Gaara, begitu pun Sasuke yang tak kalah menatap sengit lawannya.

"Akting kalian bahkan begitu buruk."

"Gaara-kun, apa yang kau bicarakan?"

Sasuke mengepalkan tangannya dengan keras.

"Kenapa? Aku tak salah kan?"

Kening Sasuke sudah lama berkedut kesal.

"Pernikahan kalian hanyalah sandiwara. Sedangkan kau Sasuke, kau tak lebih dari suami pengganti."

Hinata justru menutup mulut dengan sebelah telapak tangan, ia tak tahu darimana Gaara mengetahui itu semua. Namun, ketika mengingat Shikamaru adalah kakak iparnya, kemungkinan ia mendapatkan informasi itu dari Shikamaru. Tapi, tetap saja ia tidak percaya, Shikamaru bukanlah tipe orang yang melibatkan keluarganya sendiri dalam pekerjaannya. Ia harus memastikannya sendiri.

"Sasuke-kun, ayo kita pergi dari sini! "

Hinata mencoba menarik atensi Sasuke namun sayang wajah pria itu sudah menggelap. Pria itu bahkan menyingkirkan genggaman tangannya. Dan berjalan menuju ke arah Gaara dengan dada bergemuruh bak gendang.

"Jadi kalian tidak perlu terlalu serius!"

BUAGH!

Hinata memekik kaget.

Satu pukulan kencang mendarat ke pipi mulus Gaara hingga sang empunya terjatuh.

"Mau akting kami jelek kek! Kawin kontrak kek! Bahkan bercerai sekalipun, itu bukan urusan anak kecil seperti dirimu."

Gaara meringis memegang pipinya yang memerah karena pukulan. Sedangkan Hinata tetap mencoba menenangkan suaminya.

"Jika kami bertemu dengan dirimu, dan kau masih bermulut besar seperti tadi, aku tidak akan segan-segan menjahit mulutmu, mengerti!"

Seusai mengatakan hal itu Sasuke sontak menarik tangan Hinata menjauhi Gaara dengan darah yang masih mendidih. Sedangkan Gaara langsung terbangun seraya merapihkan tampilannya. Ia berdecih kesal. Pipinya masih terasa panas, pukulan Sasuke terlalu kuat.

Kini akhirnya Sasuke dan Hinata telah menghilang dari pandangan beberapa menit kemudian. Jadi, bukanlah hal aneh jika Gaara melempar tatapan sinis kepada Shikamaru yang keluar dari persembunyiannya

"Kalau aku tau Sasuke orang yang berdarah panas, aku tak mau menerima permintaanmu Kakak ipar." Singgung Gaara yang membuat si kepala nanas keluar dari persembunyiannya.

"Maaf, nanti ku traktir kau minum. Aku janji. " Ujar Shikamaru yang menyalakan rokoknya dengan malas.

Gaara mendengus, dan memperingati Shikamaru yang merokok bukan pada tempatnya. Ia pun segera meninggalkan kakak iparnya begitu tugasnya selesai. Dan ketika Shikamaru sudah berada di ruang merokok ia memandangi tempat parkir yang telah dipenuhi mobil. Sambil menikmati nikotinnya ia bisa melihat Sasuke dan Hinata yang keluar dari gedung. Pria itu mendesah setelah menghembuskan asap rokoknya.

"Merepotkan."

Baik Hinata atau pun Sasuke sama-sama menikmati peran mereka menjadi suami-istri. Pasalnya ia tengah menguji perkembangan hubungan mereka. Dan siapa sangka mereka akan terikat seperti itu. Shikamaru merasa jahat jika harus memisahkan mereka nantinya.


Salju yang turun malam ini membuat putih tanah hitam itu. Di dalam mobil, Sasuke dan Hinata telah hening hampir setengah jam. Suasana pun tak seringan saat daun jatuh dari pohonnya.

Hinata memijit pergelangan tangannya yang sedikit sakit karena tarikan Sasuke saat mengajaknya keluar tadi. Tak hanya itu, kini kakinya sedikit lecet karena tak biasa berjalan cepat dengan sepatu yang tinggi.

Matanya mulai tergenang air. Meskipun ia telah memberitahu bahwa ia merasa kesakitan, telinga Sasuke seolah tertutup oleh api kemarahan. Sebelumnya Sasuke tak pernah melakukan hal seperti ini padanya.

Apa ini yang disebut cemburu? Atau ini hanya kekhilafan semata?

Di sisi lain, dari kaca spion mobil Sasuke memperhatikan gerak Hinata. Tiba-tiba ia merasa menyesal. Tak seharusnya ia kasar terhadap Hinata meskipun ia kesal sekali pun.

Gaara, pria yang seumuran dengan Hinata itu sukses menyalakan api cemburu di dadanya. Ia sebenarnya sudah tahu bahwa tak ada hubungan spesial antara Hinata dan Gaara. Dan seharusnya ia percaya pada Hinata. Akan tetapi, setan berhasil mempengaruhi otaknya untuk segera menyusul Hinata setelah kepergiannya.

Lalu ketika ia sudah menemukan sosok Hinata, saat itulah ia menguping pembicaraan antara Gaara dan istrinya yang sontak membuatnya terkejut. Dan tatkala Gaara mulai mengajak pergi Hinata, Sasuke tak dapat menahan dirinya untuk terus bersembunyi. Seperti yang telah terjadi, ia pun mulai termakan oleh perkataan Gaara dan langsung memukulnya.

Sasuke tak tahu darimana pria itu mengetahui perihal rumah tangganya. Mengingat kakak iparnya adalah Shikamaru, Gaara pasti mengetahui dari pria berwajah malas itu. Lagipula yang membuatnya heran kenapa Shikamaru yang bekerja secara profesional malah menceritakan tentang pekerjaannya kepada keluarganya?

Sepantasnya Shikamaru harusnya menjaga privasi keluarga Uchiha secara rahasia. Jika Shikamaru benar-benar membocorkannya, maka Sasuke punya hak untuk menuntut pengacara mendiang kakeknya tersebut. Akan tetapi, Sasuke merasakan sebuah kejanggalan lainnya.

Jangan-jangan Shikamaru telah mengamati hubungan mereka?

Tapi, untuk apa?

Kalau demikian benar adanya, Sasuke harus berhati-hati ke depannya. Kembali pada Hinata yang kini menatap ke arah luar, tangan Sasuke yang memegang kemudi mengeras. Ia tahu ia salah, dan ia tahu ia harus minta maaf.

Namun sekali lagi, hanya karena tingkah cerobohnya tadi ia merasa sangat malu. Yang lebih mengerikan, Hinata pasti menjadi takut kepadanya.

Sejenak Sasuke menarik napas panjang hingga akhirnya menyalakan mobil. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, mereka pergi meninggalkan tempat acara. Malam itu, untuk pertama kali dalam hidupnya, Sasuke merasa bahwa dirinya tidak keren dan pengecut.