Disclaimer : Masashi kishimoto

Baby breath by R-daisy

Rate M for safe.

Warning : AU, OOC, Crackpair, Gaje, Typos, terkadang tidak sesuai EYD, slight Sasusaku etc.

DLDR!


Summary...

Hinata adalah gadis sederhana yang suka ketulusan. Kedamaian adalah jalan tempuhnya. Lalu menjadikan cinta sejati sebagai impiannya.

Tapi untuk hidupnya sekarang, Hinata tak menuntut cinta karena sadar pernikahannya sebuah keterpaksaan. Dia juga tak menuntut soal uang.

Bukan berarti dia diam saja jika diperlakukan seperti buangan. Jadi pandanglah dia sebagai istri sah, walaupun posisinya sebagai istri kedua itu tak diinginkan.


Awal bulan Januari yang masih turun salju, Hinata melamun di depan jendela. Dari balik pantulan jendela itu, maniknya mengekori bayangan Sasuke. Pria itu terbaca jelas sedang membuat dirinya tampak sibuk sendiri.

Hinata mendesah lelah.

Sejak semalam pria itu mendiaminya yang membuat dirinya beranggapan kalau suaminya tersebut sedang marah padanya. Semalaman Sasuke bahkan menyibukkan diri dengan pekerjaan sehingga ia harus tidur sendiri. Ketika ditanya pun jawabannya hanya mengangguk atau bergumam saja.

Hinata tahu ia memang salah, dan telah berbohong. Akan tetapi, keheningan ini sungguh menyesakkan. Ia harus menyelesaikan masalah ini.

"Sasuke-kun, kita harus bicara empat mata!" Ujar Hinata yang bersedekap di depan pria itu.

Sasuke sejenak melirik Hinata sebelum akhirnya meletakkan iPhone miliknya. Tadi ia bermaksud untuk mengajak bicara duluan, namun nyatanya Hinata mengambil langkah lebih cepat darinya.

Dan kini Hinata telah melakukan hal yang tak terduga bagi Sasuke, istrinya memposisikan dirinya duduk di atas pangkuan Sasuke. Ia sontak menahan napas. Wangi aroma bunga lavender menyeruak manis ke rongga hidungnya. Ingatannya pun sontak kembali ke malam pertama mereka —menggoda imannya.

'Wanita ini... ' gerutu Sasuke di dalam hati.

Padahal jawaban atas pengakuannya masih menggantung, akan tetapi Hinata malah menggodanya seperti ini. Ini membuatnya menjadi gugup, karena untuk pertama kali inilah Sasuke canggung menghadapi wanita selain ibunya.

Hinata yang menyadari telinga Sasuke memerah lantas tersenyum tipis.

"Apa Sasuke-kun sakit?"

Wanita itu kemudian menyisihkan poni rambut Sasuke untuk memeriksa keningnya. Kini kening mereka saling menempel. Dan Hinata bisa merasakan detak jantung itu.

"Tidak panas." Lanjut Hinata yang pura-pura polos.

Sasuke menggeleng pelan. Lalu ia menutup setengah wajahnya, wajah Hinata benar-benar dekat dengannya, napasnya yang menyentuh kulitnya itu lantas membuat jantungnya berderu.

"Memang tidak Hinata, aku hanya... "

Kelopak mata Hinata lantas berkedip-kedip.

"Ini terlalu dekat Hinata." Bisik Sasuke yang masih menghindari pandangan Hinata, "Dan sebentar lagi aku ingin mandi."

Seketika bibir Hinata hanya membentuk kata 'Oh' tanpa suara. Ia menjadi tergelitik dengan sikap malu kucing Sasuke. Bagaimana bisa pria yang lebih banyak 'menyerangnya' duluan ini tiba-tiba tersipu malu? Lagipula untuk pertama kali inilah Hinata melihat Sasuke yang merona seperti anak kecil.

'Manisnya... '

"Kalau begitu aku turun nih? " Goda Hinata yang senyumnya berubah usil.

Sasuke lantas berubah panik, spontan pun kedua tangannya mengunci pinggang Hinata agar tak langsung pergi. Bahkan ia tak peduli jika suara jantungnya terdengar. Ia hanya bisa menarik napas panjang, lalu mendekap istrinya erat.

"Katanya terlalu dekat?" Hinata kembali lagi menggodanya.

Sasuke menggeleng. Ia menaruh kepalanya di atas pundak seraya mencium aroma tubuh Hinata nan menenangkan itu. Tak lama semburat senyuman hangat terpatri di bibir Sasuke. Selain jiwanya merasakan ketenangan, pelukan darinya juga mendapatkan umpan balik hangat yang ingin dirasakannya. Setidaknya Hinata tidak semarah yang ia pikirkan.

"Sasuke-kun tidak marah lagi kan?"

Kala disodorkan dengan pertanyaan itu, Sasuke sontak melepaskan pelukan dengan mimik wajah yang bertekuk heran. Kedua manik mereka lantas bersirobok. Sementara itu Hinata yang ancang-ancang untuk meminta maaf lantas menarik napas panjang.

"Aku hanya ingin minta maaf soal semalam—"

"Tidak, seharusnya aku yang minta maaf soal semalam!" Potong Sasuke dengan langsung mengambil pergelangan tangan Hinata, "Aku seharusnya tak langsung emosi, dan melakukan hal kasar padamu, Hinata."

Kelopak mata Hinata lantas berkedip-kedip. Sasuke mengurut pergelangan tangannya dengan lembut. Ia bisa melihat rasa penyesalan tergambar jelas di wajah pria itu. Hinata lantas mendesah seraya tersenyum, ia bahkan lupa akan hal itu.

"Tapi, aku juga salah karena telah berbohong."

Kali ini Sasuke terdiam. Tiba-tiba saja percakapan antara Hinata dan Gaara mampir kembali ke benaknya. Oleh sebab itulah, sejak semalaman ia tak bisa tidur dengan tenang. Ia benar-benar takut Hinata akan pergi jauh darinya. sedangkan di sisi lain, ia juga merasa tak punya hak melarang jika mereka bercerai nanti.

"Lagipula tak sepantasnya aku berbohong demi bertemu pria lain."

Hinata lantas tersenyum sedih. Setidaknya Hinata mengetahui sisi posesif pada diri suaminya tersebut ternyata ada.

"Aku berharap Sasuke-kun tidak cemburu. Aku dan Gaara-kun tidak punya hubungan apa-apa, sungguh."

Kini Hinata melihat Sasuke menggeleng pelan. Sejenak mereka membisu bak batu. Kedua mata yang berbeda warna itu sontak tak sedikit melirik ke arah yang lainnya. Saling menyelami satu sama lain, begitu dalam hingga tanpa sadar kedua kening mereka menyatu kembali.

"Bagaimana aku bisa tidak cemburu... Sedangkan kau tau sendiri bagaimana perasaanku padamu,"

Hinata menggigit bibirnya, sedangkan Sasuke memijit jari-jemarinya lamat-lamat.

"Selama aku adalah suamimu... Aku tak bisa mentolerir jika kau bertemu bersama pria lain di belakangku. Tapi..."

Sasuke menutup maniknya beberapa saat. Ia menarik napas panjang, menghirup aroma tubuh Hinata yang membuatnya tak pernah bosan. Tak lama mata segelap malam itu terbuka seiring hembusan napas yang berat seolah habis membuang beban berat di pundaknya.

"...kali ini adalah pengecualian untukmu."bisik Sasuke seraya memegang kedua sisi wajah istrinya dengan lembut.

"Biar impas, ini juga berlaku untuk Sasuke-kun..."

"Hn, tentu."

Hinata melayangkan senyuman. Tangannya kemudian bergerak menyentuh wajah Sasuke lalu dielusnya.

"Lagipula tak mudah bagiku untuk melirik wanita lain."

"Tapi, Sasuke-kun telah melakukannya." Singgung polos Hinata.

"Itu beda kasus, kau sudah jadi istri sahku Hinata."

Sasuke menangkap kedua telapak tangan Hinata dan kemudian mengecup jarinya

"Mencintai istri sendiri bukanlah suatu dosa Hinata. Aku hanya mencintai istriku sendiri, aku mencintaimu Hinata," bisik Sasuke yang membuat darah Hinata berdesir.

Wanita itu sejenak menarik napas atas mulut manis suaminya. Ini kedua kalinya Sasuke mengutarakan cinta. Seperti pengalaman pertama, jantungnya berdebar menggila. Ia seakan ingin menangis karena tak bisa bebas mengutarakan perasannya.

Hatinya berteriak. Hinata ingin sekali menyambut cinta Sasuke dengan kedua tangannya. Mendekapnya lalu saling mengikat lebih erat lagi benang merah mereka agar tidak terputus. Namun, apadaya dirinya jika dia sudah berjanji agar tak terlalu menyelami perasaan itu dengan serius. Hinata mulai tergoda manis madu yang ditawarkan Sasuke. Perlahan benteng pertahanannya mulai goyah oleh gempuran kehangatan yang diberikan pria itu.

Akan tetapi, sekali lagi Hinata masih punya misi yang harus ia selesaikan. Ia sejenak menutup matanya. Mengalung tangannya ke leher Sasuke —mendekap erat sehingga tak ada ruang yang membuat kecanggungan masuk. Ia menghirup hati-hati aroma maskulin pria itu.

'Jadi biarkanlah untuk hari ini aku bebas.'

Dengan satu tarikan hasrat, Hinata mengecup lembut bibir Sasuke.

Sasuke mendesah. Tentunya ia menyambut dengan sangat baik ciuman itu. Meskipun Hinata hanya mengecup bibir tanpa melakukan French kiss yang biasa ia lakukan namun itu berdampak bagus baginya.

Ciuman metode Japanese kiss yang suka Hinata lakukan padanya inilah yang membuat jantungnya selalu berdebar-debar dibuatnya. Sasuke merasa terbang sampai ke awan saat bibir lembut Hinata menyentuh miliknya. Ini adalah pagi yang indah.

Dan saat Hinata menyudahi ciuman itu, maniknya terbuka. Napas hangat Sasuke yang berderu menerpa wajahnya yang merona tak terkira. Ujung bibir mereka bahkan masih bersentuhan.

"Apa ini sebuah sinyal, hn?" tanya Sasuke yang menyunggingkan seringai seksinya.

Manik Hinata lantas berkedip-kedip. Ia hanya bermaksud mencium Sasuke, namun sayang Sasuke malah mengartikan hal liar lainnya. Ia sejenak menggigit bibirnya perlahan lalu menaruh jari telunjuknya di depan bibir suaminya.

"Ini hanya tanda terimakasihku atas cinta Sasuke-kun yang tak bisa kubalas." Hinata meluruskan.

Akan tetapi, respon Sasuke tidak seperti yang diharapkannya. Dadanya mengempis kecewa.

"Oh... "

Sasuke baru saja berniat beranjak berdiri jika tak ada tangan Hinata yang mengarungi lehernya. Ia menatap penasaran istrinya, yang wajahnya kini bersemu merah.

"Tunggu dulu, a-aku masih ingin mengatakan sesuatu," bisik Hinata yang justru membuat keputusasaan Sasuke hampir menelannya bulat-bulat.

"Hn, majulah."

Sejenak Hinata berdehem seraya menyisihkan anak poninya ke belakang telinga. Dengan rona merah yang masih menyala, Hinata memejamkan matanya.

"Hinata...?" Panggil Sasuke yang membangunkan Hinata dari alam khayalan.

Hinata mengedipkan matanya bingung. Dia telah tenggelam pada khayalannya. Dalam khayalannya ia benar-benar mengungkapkan perasaannya, dan respon Sasuke yang ia bayangkan begitu bersuka ria. Ia sejenak menunduk. Khayalan itu begitu manis, tidak sepatutnya juga Hinata tenggelam olehnya. Namun, jika ia mengungkapkan perasaannya, akankah Sasuke bertingkah seperti yang ada dipikirannya.

"Apa... Apa yang mau kau katakan Hinata?"

Tiba-tiba sedikit keraguan timbul di hatinya. Bibirnya seakan terkunci. Bayangan Sakura yang menangis terlintas di benaknya. Tatapan Sasuke yang penasaran itu memberatkan hatinya.

Sekali lagi, jika ia sungguh mengutarakan perasaannya... Apakah Sasuke akan melepaskannya?

Lalu bagaimana janjinya dengan Sakura?

Hinata hanya tak mau ada pertikaian dan hubungan buruk, ia ingin menjaga hubungan baik ini. Mereka sama-sama seorang perempuan. Dan para perempuan harusnya saling melindungi dan mendukung.

Cinta mungkin bisa bermekaran dan jatuh kepada siapapun, tapi tidak selamanya hal itu untuk selalu dimiliki. Hinata harusnya bersyukur bahwa Sasuke juga turut mencintainya, akan tetapi menjaga perasaan itu lebih baik baginya saat ini. Ia berharap setelah pergi nanti, cinta Sasuke terhadap dirinya akan hilang.

"Hinata...?"

Lagi Sasuke memanggil, menyadarkan Hinata dari pikirannya.

"Jika suatu saat hal terjadi, baik atau buruk... Bisakah Sasuke berjanji untukku?"

Sasuke terdiam sesaat. Mencerna perkataan Hinata yang terdengar cukup menyadarkannya. Ia pun menutup mata dan menghembuskan napasnya.

"Hn, aku siap."

"Teruslah berada di sisi Sakura, meskipun Sasuke-kun tahu perasaanku."

Sasuke malah kini menyatukan kening mereka.

"Memang seperti apa perasaanmu, hm?"

Sasuke mencoba memeluk pinggangnya erat. Sedangkan Hinata hanya menurunkan matanya, hatinya terasa tertusuk sehingga ia ingin sekali menangis.

"Apa hal itu begitu berat?"

Hinata mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia seakan sulit bernapas, sedangkan napas Sasuke menerpa pipinya begitu hangat.

"Karena aku sudah berjanji pada Sakura."

Kemudian mereka terdiam cukup lama, hingga Sasuke kembali menarik tangannya. Ia seharusnya tahu, kekecewaan sangat suka memeluk dirinya.

"Baiklah... Aku tidak akan memaksamu, Hinata."

Kini Sasuke malah tersenyum, sedangkan Hinata hanya bisa tercenung menyambutnya.

"Meskipun aku tak tahu pasti, tapi aku merasa yakin kalau kau ada sedikit perasaan cinta untukku."

Tanpa ragu Hinata memeluk Sasuke seolah mengiyakan pernyataan pria itu.

"Jika kau memintanya untuk berpura-pura untuk melihat, maka aku akan melakukannya."

Hinata mengangguk pelan, tanpa sadar air matanya mengalir perlahan.

"Terimakasih atas semuanya Hinata. Terimakasih."

Sasuke kemudian menarik Hinata berbaring ke atas kasur dengan posisi Hinata di atas tubuhnya. Mereka lagi-lagi terdiam dengan senyuman yang justru berkembang di hati yang patah. Suasana yang canggung pun kini pelan-pelan mencair. Meskipun pagi ini begitu dingin namun justru kehangatan mengisi ruangan itu. Selama seharian mereka hanya menghabiskan waktunya di dalam kamar.

Walaupun kini perasaan mereka bertautan tapi perceraian sudah berada di depan mata. Tidak hanya itu, bahkan secara sadar atau tidak bahaya telah mengintai mereka. Untuk saat ini, biarlah mereka bersikap egois dulu menikmati waktu berdua. Mengisi kedinginan dengan kehangatan yang lain.

Di tempat nan jauh dari rumah mereka, Fugaku bahkan sibuk merencanakan sesuatu hal yang buruk. Sementara itu, Sakura yang menyesal mengusir Sasuke tengah sibuk menanti kepulanganya. Di saat itulah pintu menuju jalan baru akan terbuka.


Beberapa tahun kemudian...

Akhir musim gugur ini terasa berangin dari biasanya. Lantas di bawah pohon yang rindang, Sasuke mengistirahatkan dirinya. Ia sontak melepaskan sarung tangannya yang kotor karena baru saja mencabut tanaman yang kering.

Tersenyum kecut.

Ingatannya kemudian berlari beberapa bulan yang lalu. Kerinduan yang teramat sangat mengantarnya untuk menemui yang dicintainya. Awalnya Sasuke hanya ingin melihat Hinata dari jauh saja, akan tetapi kala mengetahui Hinata dikelilingi beberapa pria, kecemburuannya muncul kembali kepermukaan. Sehingga drama yang tak diinginkannya pun sontak turut mengiringi.

Tapi, ada pula drama yang membuatnya sedikit senang. Untuk pertama kalinya Sasuke melihat sisi cemburu lainnya dari Hinata yang biasa wanita itu tekan selama almarhum Sakura masih hidup. Istrinya ternyata termakan oleh gossip atau artikel-artikel berita yang beredar di Jepang, di mana ia —Uchiha Sasuke- dikabarkan akan menikahi sang putri dari kaisar ini.

Sasuke menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana Hinata sendiri datang menemuinya di hotel untuk menentang pernikahan itu dengan tenang di depan sang putri. Dan untungnya, pada hari itu juga, semua permasalahan akhirnya bisa terselesaikan. Mereka lantas menghabiskan waktu malam bersama setelah sekian lama kering dan meninggalkan jejak abu-abu.

Dan kini cintanya masih menyangkut di negara lain. Hinata yang diharapkan kemunculannya tak kunjung pulang jua. Meskipun wanita itu mengatakan masih mencintainya, namun bukan berarti istrinya akan kembali kepelukannya lagi.

Mendesah kecewa keluar dari mulutnya. Sasuke menatap hasil kerjaannya baru setengah bersih. Di beberapa sudut tempat ada semak kering yang belum dijamahnya. Ia lantas mengambil tongkatnya. Ada urusan yang lebih penting yang harus ditunaikannya, perutnya telah berbunyi sedari tadi. Sasuke kemudian berjalan tergopoh-gopoh menjauh dari rumah kaca kesayangan Hinata.

Musim gugur tahun ke empat tanpa Hinata tetap hampa seperti biasanya. Dan ia berharap tahun depan wanita itu akan mengisi kembali tempatnya yang kosong.