Disclaimer : Masashi kishimoto

Baby breath by R-daisy

Rate M for safe.

Warning : AU, OOC, Crackpair, Gaje, Typos, terkadang tidak sesuai EYD, slight Sasusaku etc.

DLDR!


Summary...

Hinata adalah gadis sederhana yang suka ketulusan. Kedamaian adalah jalan tempuhnya. Lalu menjadikan cinta sejati sebagai impiannya.

Tapi untuk hidupnya sekarang, Hinata tak menuntut cinta karena sadar pernikahannya sebuah keterpaksaan. Dia juga tak menuntut soal uang.

Bukan berarti dia diam saja jika diperlakukan seperti buangan. Jadi pandanglah dia sebagai istri sah, walaupun posisinya sebagai istri kedua itu tak diinginkan.


"Aku datang berkunjung lagi Sakura."

Sasuke tersenyum sedih menatap foto mendiang istrinya. Ia kemudian mengambil guci yang berisikan abu mayat Sakura dan memeluknya. Matanya terpejam erat, seketika ingatan yang sungguh pahit tergambar jelas di benaknya.

Insiden yang tak pernah ia prediksi sebelumnya ternyata akan mengubah semua masa depan mereka. Setelah insiden itu, baik keadaan Sakura maupun janinnya menjadi melemah. Dia meninggal setelah melahirkan putri mereka.

Lalu disusul putrinya yang tak lama pun meninggal. Dengan kelahirannya yang premature, ia tak seberuntung anak premature lainnya yang bisa hidup lama. Padahal waktu itu Sasuke baru memberikan nama kepada putrinya, namun takdir justru berkata lain.

Setelah itu dalam sekejap hidup Sasuke berubah menjadi hancur lebur. Ia kehilangan semangat hidup dan apatis. Sudah ditinggalkan oleh Hinata dan Sakura, satu-satu yang ia kira akan jadi lentera hidupnya —putrinya- juga turut meninggalkannya terlunta-lunta sendirian.

Untuk mengisi harinya, Sasuke hanya bekerja dan mengurung diri di kamar. Ia menjadi pria yang lebih dingin dan menjadi kurang percaya diri dengan kondisinya yang cacat. Ketika ia keluar pun, ia hanya mengunjungi pemakaman sang istri dan putrinya sebulan sekali secara rutin.

Sasuke kemudian mengambil guci yang berisikan abu putrinya. Dia merasakan ibu mertuanya mengintipnya dari balik pintu.

"Bulan depan aku akan sangat sibuk. Jadi maaf jika aku tak mengunjungi kalian seperti biasanya."

Ia menarik napas panjang lalu tersenyum.

"Aku mencintai kalian." Bisiknya pada kedua guci itu seolah mereka berada dalam dekapannya,

Pria itu sontak berdiri dari tempatnya, dan berpamitan kepada mertuanya. Dalam perjalanan pulang Sasuke yang dibantu dengan tongkatnya berjalan menyelusuri sungai di mana tersimpan kenangannya bersama mendiang istri.

Sasuke lantas tak bergeming. Langit berwarna jingga menyadarkannya kembali. Hari-hari yang dilewatinya baik itu indah atau buruk akan menjadi kenangan membekas di hatinya.

Sang Uchiha itu telah melewati banyak jalanan yang berliku serta mendaki. Ia juga sudah menata kembali hatinya yang berdarah. Apa yang terjadi pada dirinya belakangan ini pun sudah ia maafkan.

"Aku merindukanmu lagi." Desahnya.

Awal memasuki musim dingin yang sedikit hangat itu, Sasuke berjalan dengan menggenggam hatinya yang mulai membara."


Bos, pria bernama Sai memaksa ingin menemuimu."

Tangan Sasuke yang sibuk mengoreksi sontak berhenti. Ia menatap sekilas Karin sebelum melirik kalender di mejanya.

"Izinkan dia masuk." Ujarnya yang menurunkan kacamata bacanya.

Setelah Karin pergi dan membawa pria bernama Sai itu masuk, wajah Sasuke tak sedikit pun menampakkan keramahan.

"Hei, kau tak bisa mengusirku dengan wajah masam itu Kakak tiri!" Sai tersenyum kepadanya.

"Berani juga kau datang kemari, dan aku bukan kakakmu!" Dengus Sasuke yang menyandarkan punggung di badan kursinya yang lembut itu lalu bersedekap dada.

"Kalau kau ingin menanyakannya jatah warisanmu, bersabarlah... Minggu depan kau bisa mengambilnya." Tambah Sasuke dengan alis yang menekuk sebelah.

Sai terkekeh lalu membiarkan dirinya duduk di sofa.

"Kedatanganku ternyata benar-benar tak diinginkan ya...? Padahal aku sudah mengerahkan semua keberanianku untuk menginjak kembali tanah kelahiranku."

Pertama kali Sasuke bertemu dengannya di London, Sai jelas terlihat tak begitu mempedulikan orang tua biologisnya atau klannya. Dia bahkan tak tersentuh saat Sasuke memperkenalkan diri. Ia pun teringat latar belakang Sai yang telah diselidiki oleh Suigetsu. Sai, pria di depannya ini setahun lebih muda darinya. Ia adalah anak haram ayahnya yang hampir pernah tak dianggap seumur hidupnya.

Waktu kecil pun Sai sering mendapatkan kekerasan dari ibu kandungnya. Karena kesal tak mendapatkan uang dari ayahnya, di umur Sai yang ke sepuluh ibu kandungnya menjualnya kepada orang asing.

Mengetahui latar belakangnya yang seperti itu, Sasuke jadi teringat kakaknya. Walaupun nasib mereka sangat berbeda namun mereka mengalami hal yang sama. Mereka sama-sama mengalami kekerasan serta tak dianggap.

"Aku hanya masih tak percaya."

Sasuke sontak beranjak dari kursinya, dan memberikannya sekaleng minuman.

"Itu karena Ayah ingin memanfaatkanmu ketika aku sudah tak bisa lagi Ayah kendalikan. "

Ruangan pun tiba-tiba menjadi hening. Baik Sasuke ataupun Sai tengah tenggelam di benaknya masing-masing.

"Begitu ya..."

Sai tersenyum miris. Sejujurnya, waktu pertama kali Fugaku menemuinya sebelum meninggal, Sai sedikit merasa tenang. Dari dulu dia selalu penasaran seperti apa wajah ayahnya. Akan tetapi, setelah diadopsi oleh keluarga lain, rasa penasaran itu pun sirna. Sehingga ketika mendengar tentang kematian Fugaku, Sai tidak merasakan apa-apa. Mereka hanya punya ikatan darah, tidak dengan batin.

"Tapi, syukurlah itu tak terjadi."

"Bagaimana kalau itu terjadi?"

Bibir Sai sontak membentuk senyuman palsu, lalu ia menatap tajam Sasuke.

"Jangan remehkan diriku, Sasuke! Bebas adalah jalan ninjaku."

Kemudian Sai beranjak dari sofa dan memberikan sesuatu pada Sasuke. Sebuah amplop mewah. Manik gelap Sasuke yang senada dengan Sai lantas bergetar.

"Aku hanya ingin mengundangmu ke hari pernikahanku."

Mendengar kata 'pernikahan' Sasuke tergesa-gesa membukanya. Napas Sasuke berderu, entah kenapa ia tiba-tiba merasakan firasat buruk. Dan ketika di dalam surat itu tertulis nama Sai dan Yamanaka Ino, dada Sasuke mengembang lega.

"Aku memang menyukai Hinata."

Sasuke mendelik kepada Sai yang tampaknya suka memainkan perasaan orang.

"Tapi, tenang saja Hinata bukanlah wanita yang tepat untuk menemaniku sampai akhir hayat."

Lagi-lagi Sai memberikan senyuman misteriusnya. Sasuke benar-benar membenci tipe orang yang seperti Sai.

"Tak kusangka kau benar-benar pemarah ya."

"Berisik."

"Kalau begitu aku pamit dulu." Ujarnya yang berjalan menuju pintu, "Jangan sampai tak hadir ya!"

"Hn."

Baru saja Sasuke ingin duduk lagi di kursi kerja setelah melihat Sai menutup pintu kantornya, pria itu tiba-tiba menyembulkan kepalanya.

"Oh, iya aku lupa ingin menyampaikan sesuatu."

Kening Sasuke menekuk seraya bersedekap dada.

'Ada apa lagi sih?' Sasuke membatin kesal.

"Katakan."

"Tadi pagi seharusnya aku pulang bersama Hinata. Tapi, karena Hinata masih mual-mual terus dia tak jadi berangkat."

"Apa?" Hinata sakit?

Dada Sasuke tiba-tiba berdebar-debar.

"Kau pasti tau kan kalau Hinata tak suka pergi ke rumah sakit?"

Itu benar! Hinata tak begitu menyukai rumah sakit karena selalu teringat kematian sang kakek.

"Sedangkan Gaara masih berada di Bali, aku tak bisa begitu saja memintanya pulang karena kami tak begitu kenal. Bisakah kau memastikan kondisinya...? Kau masih suaminya, kan? "

Setelah mengatakan hal itu Sai benar-benar pergi. Sasuke membanting dirinya di atas kursi, ia tak bergeming dari rasa kecemasannya. Jantungnya berdebar gelisah. Tangannya pun sontak mengambil gagang telepon kantor. Ia pun segera menelpon sekretarisnya.

"Karin, siapkan pesawat pribadiku malam ini."

["Anda mau kemana? Bukankah nanti malam ada rapat penting?!"]

"Suruh yang lain menggantikanku, ada yang lebih penting dari itu... Aku harus ke London malam ini juga!"

["Tapi, ini proyek besar bos! Kalau bukan bos sendiri yang hadir maka mereka tak mau taken kontrak."]

"Aku tak peduli, kondisi Hinata lebih penting sekarang! Atau kau mau kupotong gaji?"

Saat Sasuke melayangkan perihal Hinata dan gaji, Karin langsung tak berkutik. Dalam hatinya ia masih tetap merutuki sikap Sasuke yang selalu semena-semena itu.

["Laksanakan bos!"]

"Hn. Jangan lupa hubungi Ebisu untuk menyiapkan barangku."

Setelah mematikan telepon Sasuke memegang kaki pincangnya yang masih meninggalkan rasa ngilu karena masa lalu. Ia kemudian berbalik, menatap langit yang mulai mengelap. Ia tak sabar ingin menemui cintanya.

Untuk sementara itu, dibelahan langit yang lain, Hinata yang sedang dicemaskan Sasuke tengah duduk termenung di depan cermin. Di tangannya ia tengah memegang alat test pack dengan perasaan campur aduk.

Wanita itu pun sontak teringat lagi pertemuannya dengan Sasuke pada akhir musim. Bibirnya pun mengembangkan senyuman manis. Dua garis biru yang tentunya membawakan kebahagiaan.


Tak ada yang menyangka takdir yang dijalankannya membawanya pada situasi ini. Sasuke yang masih berada di pesawat memandang ke arah luar dengan tatapan kosong. Dia mendesah.

Jauh di ujung mata ia melihat sinar matahari yang berwarna jingga yang sungguh cantik. Lalu bergulir menggelap dan digantikan sinar bulan yang masih mentah cahayanya. Tak lama daratan pun terlihat, lampu-lampu kota tampak seperti kumpulan cahaya bintang.

Sasuke kemudian menatap arloji mewah di tangannya. Ini sudah pukul 5 pagi di Jepang, dan kepalanya pusing karena tak bisa tidur memikirkan jantung hatinya. Dan begitu mendarat keletihan pun seakan sirna.

Tanpa menunda waktu ia sontak bergegas menemui dimana sang pemilik hatinya tinggal. Akan tetapi, begitu sampai di depan pintu apartemen milik Gaara, Hinata tak lantas berada di sana. Karena tak mau dicurigai gara-gara mati kutu menunggu di depan pintu, Sasuke memilih untuk mengisi sedikit perutnya di cafe yang letaknya berada di seberang apartemen ini.

Hingga 10 menit kemudian, akhirnya Hinata menampakkan batang hidungnya. Namun ia tak sendirian. Kening Sasuke sontak mengernyit. Hinata keluar dari mobil bersama seorang pria asing. Apalagi Hinata tampak terlihat bahagia bila melihat senyuman yang ia berikan pada pria asing itu.

'Siapa lagi pria itu?' pikir Sasuke yang selalu menemukan Hinata selalu bersama pria lain.

Api kecemburuannya di hatinya sontak menyala.

Dan ketika Hinata telah masuk ke dalam gedung apartemen, Sasuke segera menyusul.

"Hinata."

Hinata yang hendak membuka pintu apartemen lantas tersentak. Tak di sangka-sangka, di belakangnya muncul orang yang selalu berada dipikirannya.

"Oh, Sasuke..."

Hinata sejenak menatap Sasuke tanpa berkedip sebelum akhirnya masuk ke dalam seolah Sasuke adalah sosok yang selalu muncul di dalam mimpi tidurnya.

Di sisi lain Sasuke yang berpikir Hinata akan menyambut hangat kedatangannya malah dibuat kebingungan. Di tambah lagi dengan wajah datar dari wanita itu ketika menatap membuat Sasuke menjadi semakin heran. Ia pun segera mengekor pada Hinata sampai wanita itu berbalik tanya kepadanya.

"Kapan Sasuke-kun datang?"

"Belum lama."

Sasuke yang kini persis di belakang Hinata menaruh telapak tangannya ke kening Hinata.

"Tidak panas?"

Kening Sasuke kembali menekuk di saat Hinata berbalik ke arahnya dengan penuh heran.

"Siapa bilang aku sakit?"

Mereka begitu dekat hingga Sasuke bisa mencium wangi sampo dari rambut Hinata yang panjangnya sebahu. Ia kemudian memegang kedua pipi istri seraya menatap lekat wajahnya yang sedikit pucat itu.

"Sai."

Dan begitu nama 'Sai' disebut wajah Hinata berubah berseri-seri. Wajah Sasuke lantas seketika berubah masam.

"Sai sudah tiba di Jepang? Syukurlah..."

"Ya, dia akan menikah."

Tangan yang memegang pipi itu sengaja dilepaskan oleh empunya, ia melewati Sasuke tanpa mempedulikan suasana hati Sasuke yang kini memburuk.

"Aku tau."

Hinata kemudian pergi ke dapur, ia membereskan barang-barang yang baru ia beli tadi. Sementara itu Sasuke yang mengamati punggung Hinata hanya bisa terdiam.

Entah kenapa ada sesuatu yang kurang, Hinata bersikap sedikit dingin hari ini. Hinata yang selalu bersikap manis itu seakan sudah tidak ada. Tak ada pelukan atau ciuman selamat datang ketika ia pulang. Namun ia bukanlah Uchiha kemarin yang patah hati lalu membiarkan Hinata lolos dari tangannya begitu saja.

"Kau tidak kangen padaku, Hime?" Tanya Sasuke yang memeluk Hinata dari belakang.

Dalam seketika pergerakan Hinata terkunci dan mendesah. Ia melepaskan pelukan Sasuke dan berdiri menghadapnya.

Kening Sasuke kemudian terangkat, wajah Hinata yang merasa terganggu menyentil dirinya yang tak tahu apa yang terjadi. Ia merasakan firasat yang buruk.

"Apa aku melakukan kesalahan?" Tanya Sasuke yang sedikit terbata.

Akan tetapi, reaksi yang terjadi selanjutnya membuat Sasuke semakin salah tingkah. Raut wajah Hinata yang semula masam berubah, matanya yang bulat nan indah itu kini berkaca-kaca, pipinya yang pucat pun memerah, dan mulut yang selalu tersenyum itu kini mengerucut.

Sasuke membeku.

Tak lama kemudian, air mata keluar dari kelopak matanya. Sasuke sontak panik, ia mencoba menenangkannya diselingi beberapa pertanyaan, namun apa daya nasi telah menjadi bubur, istrinya hanya menangis tersedu-sedu dan meringkuk padanya.

Belum sempat Sasuke menggendong Hinata, wanita itu lantas berlari menuju tempat cuci piring. Ia kembali mual-mual seperti yang diceritakan oleh Sai.

"Kau yakin tak apa-apa, Hime? Atau kau mau kupanggilkan dokter?"

Hinata hanya menggeleng. Sasuke mencoba memijitnya serta memberikan air hangat. Akan tetapi, Hinata masih melanjutkan tangisan seraya memuntahkan sesuatu dari kerongkongannya.

"Kalau kau nangis seperti ini, maka kau akan terus muntah Hinata."

Sasuke menjadi tak tega.

"Aku mual karena mencium parfummu, Sasuke-kun..." Ujar Hinata yang kemudian menutup hidupnya,

Sasuke yang tak pernah memprediksi ini lantas hanya terdiam bingung. Bagaimana bisa parfum mahalnya membuat orang lain merasa mual ketika menciumnya? Padahal dulu Hinata menyukainya, tetapi kenapa sekarang raut wajahnya menampakkan bahwa parfum miliknya tercium seperti aroma sampah.

"Parfum Sasuke-kun bau!"

Bagaikan tersambar oleh petir, Sasuke tak tahu harus berbuat apa hanya terdiam seperti patung. Perlahan, ia menjauhi Hinata dan memutuskan mengganti pakaiannya. Dan ketika Sasuke telah selesai dengan urusannya, ia langsung menghampiri Hinata yang ternyata menunggu kedatangannya. Wanita itu kini duduk manis di atas ranjang dengan setelan piyama tidurnya.

Kini Hinata tersenyum manis. Di tambah lagi dia memakai piyama dengan warna kesukaannya —biru gelap- serta memakai lipstik merah di bibirnya yang ranum. Hinata kemudian melambaikan tangan, menyuruh Sasuke untuk duduk di sampingnya. Sasuke yang masih bingung dengan sikap Hinata yang sering berubah-ubah itu lantas menaikkan kewaspadaan.

"Ada yang ingin kuberitahu, Sasuke-kun."

Tanpa ragu Hinata sontak menyerahkan sebuah map coklat kepadanya. Sasuke sejak menatap. Melihat map coklat, ia pun teringat akan surat cerai yang tak pernah ia gubris.

"Ini bukan surat cerai kan?" Bisik Sasuke hati-hati.

Desahan lantas keluar dari mulut Hinata. Ia kemudian memaksa Sasuke menerimanya.

Tiba-tiba jantung Sasuke berdebar kencang. Ia mencoba menebak, dengan membaca wajah Hinata yang berseri-seri kembali, ada suatu kelegaan yang menghapuskan kegundahan.

Dan saat Sasuke menarik sebuah kertas dari tempatnya, ia pun tertegun. Waktu pun seakan berhenti, dan suasana pun menjadi sunyi senyap. Sasuke sejenak menatap kembali istrinya sebelum akhirnya kembali menatap kertas itu dengan rasa tidak percaya.

Itu adalah hasil USG.

Hinata telah hamil.


Sasuke terbangun kala mendengar suara alarm dari jam weker milik Hinata. Dan ketika jam menunjukkan angka 7 ia pun perlahan terbangun.

Di luar kamar samar-samar ia mendengar suara tv yang menyala. Keningnya mengernyit, ia jelas ingat bahwa mereka tidak menonton tv. Sasuke ingin memastikannya tapi ia terlalu malas untuk turun dari kasur.

Sasuke kemudian menatap seseorang yang tidur di sebelahnya. Ia tersenyum saat melihat wajah Hinata yang tertidur. Betapa damainya wajah itu sehingga membuat Sasuke tak tega membangunkannya.

Tak lama ia pun menyadari sesuatu. Bekas jahitan kecil pada kening Hinata itu membekas. Sepertinya Hinata dengan sengaja tak mengobatinya. Itu adalah bekas luka karena jatuh dari tangga. Ia tak tahu alasan kenapa Hinata masih menjaganya, tapi yang jelas bagi Sasuke itu adalah lukanya. Dan karena hal itulah Sasuke kembali mengorek masa lalu kelamnya.

Semua itu berawal mula dari malam itu, malam di mana Sakura menelpon dirinya untuk balik lagi ke rumah. Dan seperti yang diketahui bahwa tak ada yang tahu apa yang terjadi di masa depan, seperti hal yang berbahaya yang akan menimpa mereka bertiga. Sasuke tak pernah tahu.