Disclaimer : Masashi kishimoto

Baby breath by R-daisy

Rate M for safe.

Warning : AU, OOC, Crackpair, Gaje, Typos, terkadang tidak sesuai EYD, slight Sasusaku etc.

DLDR!


Summary...

Hari perceraian itu pastilah datang. Namun, cinta justru datang di saat yang tidak tepat.

Di samping itu Fugaku berniat merencanakan sesuatu untuk menghentikan perceraian Sasuke dan Hinata. Akan tetapi, Hinata yang mengetahui rencana itu berusaha menggagalkannya.

"Apa cintaku padamu adalah sebuah dosa?"

Hinata hanya terisak menangis menatap wajah Sasuke yang semakin pucat. Di sisi lain, tangannya yang menutupi bekas tusukan telah dipenuhi oleh darah pria itu.

"Kalau Tuhan mempertemukan, bisakah kita saling jatuh cinta lagi?"


Laju pada mobil berjalan begitu landai. Bukan tanpa sebab pikiran sang Uchiha telah dibajak oleh rentetan kejadian hari ini. Nestapanya, Sasuke tak siap akan hal itu.

"Hinata, kumohon bercerailah dengan putraku."

Bercerai. Mereka —Sasuke dan Hinata - pasti akan bercerai pada akhirnya. Namun, setelah apa yang mereka lalui bersama dalam waktu yang tak bisa di bilang singkat ini, cinta justru tumbuh mendiami hati tanpa sedikit pun bersimpati pada ego.

Perkataan ibunya sungguh membuat api yang berkobar di hatinya melemah. Bagaimana tidak!? Ibunya malah meminta langsung kepada Hinata untuk menceraikannya dihadapan keramaian termasuk Sakura ada di sana. Ia hanya tak percaya itulah kata pertama yang keluar setelah ibunya membuka matanya.

Kini, di dalam mobil Sasuke harus mengalami dilema yang berat, beda ketika ia harus menikahi Hinata untuk menggantikan kakaknya. Sungguh ia mempertanyakan di mana Sasuke yang dingin berada saat ini. Ia sudah terlalu lembut.

Tanpa ragu Sasuke kemudian memarkirkan mobilnya ke sebuah taman. Ia memijit keningnya yang seharian ini menekuk tanpa henti. Terbesit di hati ingin pulang kepada Hinata. Akan tetapi ia tak sanggup menerima keputusan yang di ambil Hinata setelahnya.

Buruknya, Hinata mungkin akan menerima permintaan ibunya tanpa pikir panjang lagi, mengingat betapa wanita itu lebih mementingkan orang lain di atas dirinya.

Sasuke lantas mendesah berat. Karena hawa mobil yang menurutnya semakin panas, ia pun segera keluar dari mobilnya. Tanpa basa-basi ia menarik bungkus rokok yang jarang digunakan kecuali di saat dirinya mengalami stres berat.

Lama Sasuke terdiam menikmati batang nikotin yang dapat merusak jantung tersebut, hingga ia menyadari sesuatu yang tidak beres. Kesunyian taman yang tampak tak biasa ini nyatanya memiliki mata yang mengawasi.

Sasuke kemudian menarik kuat isapan puntung rokoknya yang menyala sampai habis. Ia sudah berkesiap jika seseorang yang bisa di bilang penguntit itu menyerangnya tiba-tiba.

Dan kala Sasuke menghitung aba-aba dalam mempersiapkan kuda-kuda, dari belakang yang gelap muncullah bayangan seseorang yang tak bisa ia duga. Begitu berbalik, tangan yang hendak melayangkan pertahanan lantas melayang di udara.

"Hei, tenanglah ini hanya aku!" Seru orang itu.

Sasuke yang menyadari orang yang muncul bukanlah ancaman lantas menghela napas. Ia kemudian memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana dengan wajah yang tak mengurangi kewaspadaan.

"Kenapa kau bisa berada di tempat seperti ini Pengacara Nara? Atau... "

Tiba-tiba bibir Sasuke menyunggingkan seringai tajam.

"Apa bisa kupanggil dengan profesi aslimu, Detektif kepolisian Nara Shikamaru."

Mendengar hal itu, alih-alih mendapatkan empunya nama terkejut, ia malah ikut menyeringai karenanya.

"Berarti aku tak perlu berkenalan lagi, bukan?!"

Shikamaru, sang Detektif kepolisian itu lantas menyalakan rokok yang menempel di bibirnya,

"Mari kita buat kesepakatan Tuan Uchiha Sasuke! "


Hinata menggenggam ponselnya dengan erat. Beberapa menit yang lalu ia telah mengabari Shikamaru lewat telepon mengenai kejadian hari ini. Sampai detik ini pun ucapan Mikoto masih terniang-niang di telinganya. Permintaan yang tak pernah ia dengar langsung dari empunya.

Selama pernikahan dengan Sasuke, Mikoto sama sekali tak berbicara padanya kecuali menentang pernikahan ini di depan para tetua. Dan kini sekalinya berbicara, Mikoto seakan telah menodongkan pisau ke lehernya.

Sejenak Hinata duduk di tepi ranjang seraya mendesah, sementara jam hampir menunjukkan angka jam 12 tengah malam. Sedangkan Sasuke yang dinanti sama sekali belum menunjukkan batang hidung.

Hinata pun jadi teringat kembali perkataan Sakura sebelum mereka pergi menemui Mikoto yang kembali siuman.

"Aku rela... berbagi ruang denganmu."

Manik bulan Hinata lantas terpejam. Ia memegang dadanya yang berderu keras. Layaknya berdiri di depan ombak keras yang menabrak ujung tebing, Hinata tak dapat berpikir.

Berbagi...?

Tak pernah terlintas di kepalanya jika suatu hari Sakura akan berkata demikian. Demi tak mau kehilangan Sasuke, wanita itu rela berbagi kursi tahta padanya. Ini membuat Hinata semakin dihantui rasa bersalah. Tak sebaiknya ia memanfaatkan kebaikan Sakura. Ia tak berhak menerima.

Lagipula Hinata harus menjalankan perintah Shikamaru yang mengharuskannya keluar dari rumah ini. Ia mendapat laporan bahwa sekretaris Fugaku telah bergerak. Ia bersama anak buahnya telah merencanakan sesuatu yang berbahaya.

Untuk itulah, demi keamanannya Shikamaru berharap ia dapat menempati tempat aman yang tersedia khusus untuknya. Sementara di sisi lain, Shikamaru bersama rencana matangnya akan bersiap melancarkan aksi. Pria itu tak bisa menunggu musim semi datang, musim dingin adalah waktu yang tepat baginya.

Hinata harusnya bersikap antusias. Akan tetapi, Hinata malah dirundung dilema yang bertuan. Ia tak bisa menghilang begitu saja tanpa pamit pada Sasuke ataupun Sakura.

"Tetap di tujuan utamamu, Hinata." Bisiknya yang bersiap menarik selimut.

Namun sebelum Hinata benar-benar berbaring di kasurnya, suara mobil yang terparkir di depan rumah mengalihkan atensinya. Hinata yang mengintip dari balik gorden jendela kamarnya segera turun. Dan begitu kakinya menginjak tempat di mana pintu depan berada, Sasuke telah berada di sana —tengah melepas sepatunya.

Lagi, Hinata memegang dadanya yang berdebar kencang.

"Kau sudah pulang Sasuke-kun."

Sasuke yang sejenak terdiam kini berbalik menuju kepadanya. Berdiri. Menatapnya seolah ingin mengatakan sesuatu.

"Hn, aku pulang."

"Ya, selamat datang kembali." Sapa balik Hinata yang merasa ini terakhir kalinya melihat kepulangan Sasuke dan menyapanya seperti ini.

"Setelah Sasuke-kun ganti baju, bisakah kau luangkan waktu? Kita harus bicara."

Sasuke yang menduga hal ini kala sampai di rumah hanya mengangguk pelan. Ia kemudian naik ke atas yang diikuti oleh Hinata. Setelah dia mengganti baju, barulah mereka duduk di tepi ranjang seraya terdiam beberapa saat.

"Kau berjanji akan menceraikanku, kan? "

Hinata yang memulai, Hinata pula yang merasakan kekhawatiran. Akan tetapi melihat Sasuke yang menutup mulut tanpa mau menjawab membuat dirinya sedikit berani.

"Tapi sebelum perceraian itu tiba... Aku ingin kita menjaga jarak mulai besok Sasuke-kun."

Kini Sasuke menutup wajahnya dengan kedua tangan. Sebenarnya sang Uchiha itu tahu maksud dari jaga jarak yang di bilang oleh Hinata. Ia pun lantas teringat akan kesepakatannya dengan Shikamaru; bahwa ia akan menjaga jarak terhadap Hinata selama beberapa minggu demi mengelabui Fugaku yang akan ditangkap oleh Shikamaru.

Sebagai jaminannya Shikamaru berjanji menjaga Hinata dengan aman. Dan begitu Fugaku tertangkap, pria itu akan mengembalikan Hinata padanya. Begitulah perjanjian antara dirinya dan Shikamaru tadi. Pria itu juga meminta beberapa data penting yang dipegangnya.

Sasuke memang menyetujui semua itu, namun membiarkan Hinata pergi di sisa-sisa kebersamaan mereka membuat tak rela. Tapi ia harus melaksanakannya, jika tidak, nyawa Hinata berada dalam ancaman. Sasuke tidak tahu apa yang direncanakan ayahnya terhadap Hinata, akan tetapi sepertinya Shikamaru telah mencium rencana jahat ayahnya.

Setelah beberapa menit terdiam seperti batu, Sasuke yang menghela napas sungguh membawa angin segar buat Hinata. Kini mereka berdua bertatapan di bawah cahaya lampu meja yang temaram.

Di dalam cahaya yang sedikit ini, kecantikan Hinata tak mengalami kemunduran. Ia bercahaya seperti bulan yang hadir di malam hari. Sasuke kemudian mendekat hingga ia bisa mencium aroma tubuh Hinata yang berbau mawar. Lalu tanpa ragu mendekapnya seolah itu adalah hal yang paling ingin dilakukannya di penghujung hidupnya.

Satu tangan naik ke punggung. Dadanya bergemuruh hebat. Sasuke bersikap seperti mereka tak akan pernah ketemu lagi. Ini membuat dirinya sedikit takut. Kini kedua tangannya naik seolah itu pegangannya yang terakhir. Dan ia tak akan merasakan kehangatan itu lagi.

"Makanlah makanan yang kau suka, jangan takut gemuk, tapi jangan pula berlebihan..."

Hinata memang suka makan, tapi semenjak Sasuke mengejeknya di masa lalu, Hinata selalu mengatur apa yang masuk ke dalam perutnya. Namun setelah ia menikahi pria itu, ia jadi suka makan banyak lagi.

Bukankah Sasuke terlalu licik?

"Jangan sering berkhayal yang tidak-tidak saat mendengar musik kesukaanmu!"

Hinata memang bukan penyuka musik, tapi ketika mendengar lagu sedih ia akan terbawa oleh liriknya. Setiap Sasuke melihatnya seperti itu maka pria itu akan selalu meledeknya.

Ya, dulu Sasuke seperti itu? Tukang bully.

"Jangan lupa mengunci pintu kamar sebelum tidur."

Hinata terkadang memang suka ceroboh. Padahal biasanya, di hari biasa ia selalu menguncinya, ia hanya tak mengunci kamarnya ketika giliran Sasuke pulang ke sisinya.

Sasuke juga menyebalkan.

" Aku pasti selalu teringat dimana kita hanya sering bertemu di malam hari. "

Satu tetes air keluar dari matanya. Dadanya yang bernapas kembang kempis menggambarkan betapa ia tak bisa menahan gejolak di hatinya. Pelukan eratnya berbatasan kehangatan yang tak bisa ia lupakan.

"Arashiyama akan jadi tempat tak terlupakan."

Hinata sontak mengangguk pelan. Ia tak dapat menahan tangisan yang keluar.

Itulah momen di mana Sasuke bisa menjadi pria yang manis.

"Kau harus berjanji untuk tidak menghapus foto-foto kita."

Lagi, Hinata mengangguk.

Bahkan pose mereka berduaan dalam foto itu hanya satu. Sasuke terlalu sibuk mengambil gambar Hinata waktu itu.

"Makanan kesukaanmu cinnamon roll pasti akan kumakan di hari kelahiranmu. Kau juga harus melakukan hal sama."

Kali ini Hinata melepaskan pelukan mereka, ia tak segan memperlihatkan air mata yang mengalir indah di wajahnya.

"Kenapa? Apa itu terdengar aneh?" Tanya Sasuke yang tersenyum simpul.

"Kenapa Sasuke-kun berkata seolah akan pergi dari dunia ini? "

Kenapa Sasuke berkata seperti itu seolah akan mati?

Untuk hal ini Sasuke tak dapat menyembunyikan senyuman pilunya. Ia tak bisa bilang kepada Hinata bahwa ia akan ikut membantu Shikamaru dalam penyergapan ayahnya nanti, yang kemungkinan akan ada pertumpahan darah nantinya.

Ah, bahkan Sasuke tidak akan berani berkata apa-apa pada Sakura tentang hal ini.

"Semua yang datang ke dunia ini pasti akan kembali pada asalnya."

Kini tangan Sasuke meraih wajah Hinata yang sembab, ia mengelap air mata itu dengan ujung bajunya lalu tersenyum menenangkan.

"Jika suatu nanti terjadi apa-apa denganku..."

Hinata yang bisa membaca arah pembicaraan Sasuke hanya bisa terdiam menutup mulutnya. Sedangkan saat Sasuke menggenggam kedua tangannya lembut, Hinata hanya bisa bersangka buruk.

"Bisakah kau menjenguk Sakura dan bayiku—"

"Apa maksudmu Sasuke-kun?" Potong Hinata.

Ada yang tak beres...

"Kau tak akan melakukan hal yang berbahaya, kan? " Tanya Hinata yang suaranya mampu menggetarkan jiwa.

"Tidak Hinata... Tenang saja."

Bohong.

"Kau tidak berbohong, kan?"

Hinata mencoba melepaskan genggaman itu, akan tetapi Sasuke kembali mengikatnya seakan itu adalah usaha terakhir agar bisa meyakinkan istrinya.

"Tentu saja."

Pria Uchiha itu lantas mendekatkan wajah mereka sehingga Hinata tak bisa lari darinya. Matanya sejenak terpejam sebelum akhirnya bersirobok pada mata bulan Hinata yang bergetar ketakutan, meyakinkan dengan yakin, meskipun itu adalah keyakinan kosong.

"Aku ingin kau tetap saling kontak dengan Sakura meskipun kita tak bersama lagi."

Hinata pada akhirnya selalu termakan oleh perkataan Sasuke. Ia akui itulah kelemahannya.

"Anggap saja bayi yang dikandung Sakura adalah anakmu. Aku bermaksud menjadikanmu ibu angkatnya, kau mau kan? "

Sejenak Hinata membeku, di sisi lain Sasuke kini membiarkannya menjauh.

Ya, pada akhirnya Sasuke tidak akan membiarkannya bebas seperti burung walet yang dapat terbang ke bulan jika ia mau.

"Kalau kau tak mau—"

"Aku akan mempertimbangkannya." Lirih Hinata yang tak menatap pada mata elang itu.

Sementara itu, Sasuke hanya sekedar meracau asal guna mengalih kecurigaan Hinata. Sejak awal, tak pernah terbersit dipikirannya untuk menjadikan Hinata sebagai ibu angkat dari anaknya bersama Sakura. Namun ia merasa kalau sesuatu yang buruk akan terjadi padanya. Bayangkan ini akan menjadi bab akhir hidupnya. Dan ia hanya ingin Hinata berteman baik dengan Sakura.

"Aku pasti akan merindukanmu, Hinata." Ujar Sasuke yang memecahkan kesunyian yang membelenggu mereka.

Bibir Sasuke yang menyunggingkan senyuman lantas menular pada Hinata.

Dengan satu tarikan napas, Hinata menyahutinya dengan tulus, "Ya. Aku pun juga."


Beberapa minggu terlewat dengan begitu cepat, tanpa kesibukan kerja yang dilewatinya, Sasuke mungkin tak akan melaluinya dengan benar. Nyatanya, Sasuke tak hanya kerja. Beberapa kali tugas ke luar kota pun tujuan utamanya adalah menyusun rencana dengan Shikamaru. Ia bahkan pura-pura tak tahu perihal Hinata yang tiba-tiba menghilang dari rumah karena Ebisu tak berani melaporkan hal ini.

Meskipun hari-hari itu dilewatinya dengan mudah, akan tetapi faktanya ia tak bisa melepaskan pikirannya dari Hinata. Padahal mereka belum resmi bercerai namun perpisahan itu lebih berat daripada yang telah ia pikirkan, dan berita tentang keretakan rumah tangga palsu mereka kini telah tersebar.

Kebohongan yang mereka buat sungguh terlihat konyol. Hinata yang merasa telah mengelabuinya nyatanya telah diketahuinya. Begitu pula kebohongan yang ia buat, suatu hari pasti terdengar oleh Hinata. Pada dasarnya ini semua permainan Shikamaru untuk mengelabui Fugaku.

Jika semua ini telah selesai, di kemudian hari Sasuke tak segan-segan akan memeras pria bermuka malas itu.

Sasuke yang kini melamun di dalam mobil yang dikemudikan supirnya lantas tersadar iPhone miliknya berdering. Saat nama sekretaris yang tertera di layar, ia lantas menerimanya tanpa ragu.

"Hn."

["Bos ini ada sebuah surat nyasar terkirim ke kantor.]

"Surat nyasar?"

Kedua alis Sasuke mengernyit tajam.

["Ya... Di sini tertulis untuk Tuan Uchiha Sasuke dengan alamat apartemen tetapi ini malah sampai di kantor. Dan di sini juga gak tertulis referensi alamat lain bos. Ini sudah ke dua kalinya. "]

Kok, bisa?

Kalau misalkan surat itu ditujukan untuk alamat rumahnya, seharusnya tak perlu dikirim segala ke kantor mengingat Sakura yang perutnya sudah membesar akan selalu berada di rumah.

Ada tak beres. Sasuke mulai curiga.

"Kenapa kau tak melaporny, Karin? " Sasuke menggeram.

"Maaf bos... Kami—"

"Coba kau lihat isi surat itu. Semuanya! "

"Baik, bos!"

Selagi menunggu Karin bersama karin membuka suratnya tangan Sasuke semakin terkepal keras.

"Dua-duanya hanya tertera nama Nyonya bos. "

Sasuke membeku. Nyonya yang mana?

Hinata atau Sakura?!

"Bertulis dengan noda darah."

Sasuke semakin kalang kabut.

"NYONYA YANG MANA HAH BRENG—" Sasuke tersadar untuk lebih tenang, "Kau bisa kerja gak, HAH!?"

"U-Uchiha Sakura, Bos."

Di saat itu Sasuke malah melemparkan iPhone dan memaki lebih keras lagi —membuat supir di depannya menjadi cemas. Napasnya berderu kencang, jantungnya berpacu liar. Ia melonggarkan dasinya.

Ada apa dengan Sakura?

Apa yang mereka rencanakan kepada Sakura?

Sasuke memijit keningnya. Ia lantas teringat akan janjinya dengan Sakura. Mereka akan membelikan perlengkapan bayi begitu ia pulang dari tugas ini. Ia bisa membayangkan wajah Sakura yang terlihat bahagia ketika memilih baju untuk putri mereka

"Aku harus menelpon Sakura." Ujarnya seraya mengambil iPhone itu, "Semoga dia baik-baik saja. "

Baru saja Sasuke menekan dial untuk menelepon istrinya, tiba-tiba saja nomor Hinata tertera dilayar. Sasuke tak dapat berpikir jernih lantas mengangkatnya.

"Maaf Hinata kita bisa bicara nanti, ada suatu yang genting."

["INI JUGA GENTING SASUKE-KUN! "]

Mendengar Hinata yang jarang sekali menaikkan suaranya membuat Sasuke semakin tak berkutik. Apalagi ditambah suara Hinata tidak baik-baik saja. Ia seperti habis menangis.

["Sakura-san... Sakura-san..."]

Tiba-tiba tangan Sasuke menjadi dingin.

"Kenapa dengan Sakura? "

["Mereka membawanya... Hiks aku tak bisa mencegahnya."]

Nada itu begitu pilu hingga Sasuke lupa caranya bernapas.

["Mereka menculiknya, Sasuke-kun."]