Disclaimer : Masashi kishimoto

Baby breath by R-daisy

Rate M for safe.

Warning : AU, OOC, Crackpair, Gaje, Typos, terkadang tidak sesuai EYD, slight Sasusaku etc.

DLDR!


Summary...

Hari perceraian itu pastilah datang. Namun, cinta justru datang di saat yang tidak tepat.

Di samping itu Fugaku berniat merencanakan sesuatu untuk menghentikan perceraian Sasuke dan Hinata. Akan tetapi, Hinata yang mengetahui rencana itu berusaha menggagalkannya.

"Apa cintaku padamu adalah sebuah dosa?"

Hinata hanya terisak menangis menatap wajah Sasuke yang semakin pucat. Di sisi lain, tangannya yang menutupi bekas tusukan telah dipenuhi oleh darah pria itu.

"Kalau Tuhan mempertemukan, bisakah kita saling jatuh cinta lagi?"


Beberapa jam yang lalu.

Hari ini Hinata sedang ada janji dengan Sakura. Untuk pertama kalinya ia akan secara langsung melihat pemeriksaan kandungan bayi. Tapi, seiring menunggu waktu janjiannya tiba, Hinata bermaksud untuk menengok ibu mertuanya.

Kini lorong menuju kamar perawatan begitu lengang, Hinata sontak berjalan perlahan. Yang ia dengar kondisi Mikoto malah mengalami kemunduran. Setelah terakhir kali ia sadar dari koma, Mikoto kembali koma seusai mengatakan keinginannya pada mereka —Sasuke dan Hinata.

Mengingat hal ini, membuat jantung Hinata kembali berdenyut perih. Pernikahan antara mereka sudah jelas akan berakhir dengan perceraian. Akan tetapi, ucapan tidaklah sama dengan perbuatan dalam dampaknya. Jangankan nanti perpisahan itu tiba, menjaga jarak saja Hinata mulai kehilangan pikiran jernih.

Tiap detik ada saja waktu untuknya melamunkan sang pemilik hati. Ia seolah-olah menjadi idiot yang gila. Betapa ia merindukan sosok pria itu dalam hidupnya.

Dan ketika pintu kamar Mikoto sudah berada di depan mata, Hinata sejenak menarik napas sebelum akhirnya membuka. Kini sosok Mikoto yang terbaring lemah menjadi pusat atensinya. Perlahan Hinata berjalan —mendekat.

Begitu mereka dekat, Hinata dengan hati-hati memegang tangan wanita tua itu. Sebagai sesama wanita, hatinya turut bersimpati. Dalam hatinya ia juga memanjatkan do'a atas kesembuhan ibu mertuanya. Ia pun tanpa sadar melamun.

Akan tetapi, saat mata Mikoto terbuka, Hinata sontak terbangun dari lamunannya. Jantungnya lantas bergemuruh. Ia hendak memanggil perawat, namun Mikoto dengan sisa tenaga yang tersimpan menggenggam pergelangan tangannya lemah.

"Maaf." Bisiknya yang begitu pelan.

Hinata sontak tercenung.

Maaf? Untuk apa?

Tapi tak lama setelah mengatakan hal itu, Mikoto kembali tak sadarkan diri. Hinata yang seketika panik lantas berlari keluar memanggil perawat yang ada. Dokter dan perawat yang menangani ibu mertuanya sontak datang.

Hinata yang sudah keluar lantas memandang pintu itu dengan khawatir. Ia pun bingung harus menelepon siapa, namun ponselnya tiba-tiba berbunyi. Itu telepon dari Sakura yang ternyata sudah tiba di rumah sakit. Karena tak mau membuat ibu hamil itu khawatir, Hinata hanya terdiam setelah bergegas menghampiri.

"Ayo Hinata! Kau sudah siap, kan?"

"Ah, tentu." Angguk Hinata yang menenangkan diri.

Selama pemeriksaan kandungan, Hinata hanya terdiam mendengarkan sang dokter. Ia menjelaskan betapa sehatnya kondisi sang cabang bayi. Bagaimana sang dokter memuji seniornya yang begitu menjaga kehamilannya, serta wajah bahagia nan puas tergambar jelas di wajah sang calon ibu itu menarik perhatiannya. Lagi, perasaan iri datang bagai tamu tak diundang. Akan tetapi, ia juga menyambut kebahagiaan yang datang seolah ia merasakan yang sama dengan Sakura.

Di sisi lain, terkadang sang dokter meliriknya, seolah mempertanyakan keberadaannya. Meskipun Sakura telah memperkenalkannya, tetapi tatapan sedikit canggung dari raut wajah sang dokter terbaca olehnya. Orang-orang mungkin memandang dengki atau iri terhadap dirinya yang akhirnya bisa berhubungan baik dengan Sakura, atau ada juga canggung atas mereka seperti halnya dengan sang dokter. Dan itu tak masalah baginya, itu hanya reaksi yang manusiawi.

Lalu saat pemeriksaan kandungan melalui USG, Hinata baru pertama inilah melihatnya secara langsung. Ia pernah lihat hal ini di beberapa drama atau film yang pernah ia tonton. Tapi pengalamannya hari ini di ruangan yang luasnya tak seluas kamarnya, ia merasakan sesuatu yang tak pernah ia alami sebelumnya. Ini sungguh aneh namun rasa penasaran juga tak mau lari darinya.

Hinata menatap seksama pemandangan yang disuguhkan. Bola matanya seperti bergetar. Sesuatu yang kecil bisa hidup di dalam perut. Di layar monitor yang besar tergambar jelas, bagaimana sesuatu kecil yang hidup dan bergerak aktif di dalam perut. Bayi itu sudah memiliki bentuk yang hampir sempurna tinggal menghitung waktu saja untuk terlahir ke dunia. Hatinya seketika membuncah bak bunga yang bermekaran di pagi hari ini.

Ini benar-benar keajaiban teriak Hinata di dalam hati.

Wanita itu seakan ingin menangis, dan Sakura yang menyadari itu tersenyum tipis. Ia menggenggam tangan Hinata dan menggoyangkan, ia merasa tersanjung. Hingga akhir pemeriksaan tiba, kedua wanita itu pergi menuju ke tempat Mikoto setelah mendapat kabar dari rekan Sakura bahwa keadaan Mikoto semakin memburuk.

"Gak anak gak ayahnya sama saja, susah sekali dihubungi!" Cibir Sakura yang melototi ponselnya. Desahan kesalnya membuat Hinata menatap layar ponselnya. Sejak tadi tangannya tak henti bergerak, tetapi sampai kini tak ada jawaban. Ia ingin juga mengabarkan langsung kepada Sasuke dengan nomor khusus mereka, hanya saja itu akan melanggar perjanjian mereka.

"Maaf Hinata, kita terpaksa membatalkan rencana."

Sejenak Hinata menatap wajah sedih Sakura dan menggeleng pelan. Hari ini kalau tidak ada suatu buruk yang terjadi, mereka sudah berencana untuk masak-masak —mencoba resep baru. Padahal mereka berdua sangat menantikannya, terutama Sakura. Hanya saja rencana tetaplah rencana.

Hinata kemudian menenangkan Sakura agar emosional. Lalu seorang dokter keluar menemui mereka, dan mengatakan kondisi Mikoto yang tiba-tiba tak sadarkan diri kembali sehingga harus dipindahkan di ruang ICU lagi.

Mendengar penuturan hal itu, Sakura lantas menyetujui keputusan itu mengingat ayah mertua atau suaminya sama sekali tak bisa dihubungi. Sejalan hal itu, Hinata dan Sakura lantas mengikuti tubuh Mikoto yang dibawa sampai pada ruang ICU. Di sanalah Sakura kembali mencoba menghubungi mereka. Hinata pun juga mencoba menghubungi sekertaris Sasuke tetapi teleponnya tak aktif.

"Kita tunggu setengah jam lagi, mungkin mereka semua tengah rapat." Ujar Sakura yang mengernyitkan kening.

Tak lama kesunyian yang meresahkan memeluk mereka. Dentang jarum jam di ruang ICU yang sepi menggema menunjukkan suasana yang tak nyaman. Mereka terus menunggu di sana sampai tak sadar waktu sudah menunjukkan jam makan siang.

"Sudah waktu jam makan, kau mau kubelikan sesuatu untuk dimakan? "

"Aku tak nafsu makan Hinata."

Hinata sontak menggeleng, "Kau dan bayimu harus makan Sakura-san."

Sejenak Sakura menatap Hinata dengan wajah sedih lalu mengangguk pelan. Ia sudah pasrah dan tak bisa berpikir tenang.

"Kau tunggu di sini, aku ke kantin dulu. "

Butuh beberapa menit untuk tiba di kantin. Dan ketika sudah membeli makanan yang diperlukan, Hinata bergegas naik ke atas lagi, akan tetapi tak lama kemudian ia mendapat pesan dari Sakura agar makan siang di kantornya. Mendapati hal demikian Hinata harus kembali berputar.

Di sepanjang jalan menuju kantor Sakura, lorong sedikit agak sepi. Hinata melangkah kakinya dengan cepat. Lalu siluet seseorang yang ia kenal menghentikan langkah, orang itu adalah Uchiha Shisui.

Reflek Hinata bersembunyi di balik tembok. Kedua alisnya menekuk dalam, baginya melihat Shisui di rumah sakit adalah sesuatu yang sangat janggal. Pasalnya Shisui tak akan pernah meninggalkan kantor jika tak disuruh oleh Fugaku atau melakukan pekerjaan kotor.

Lagipula, sekalipun Sakura sudah bisa menghubungi ayah mertua, bukankah seharusnya orang yang datang adalah Fugaku itu sendiri? Fugaku, beliau memang bukan ayah yang baik, akan tetapi cintanya pada Mikoto bukanlah bualan semata. Dia pasti langsung datang jika sesuatu yang buruk menimpa istri tercinta sesibuk apapun dia.

Ini aneh pikir Hinata yang ingin membuang jauh-jauh prasangka buruknya.

Lalu kenapa Shisui yang malah datang?

Melihat Shisui bergerak maka sesuatu yang buruk akan terjadi, begitu kata kakek Madara. Begitu juga Sasuke, ia menyarankan kepadanya agar pergi sejauh mungkin jika pria itu mendekat. Dan peringatan dari Shikamaru juga menyalakan alarm bahaya di dirinya, Shisui adalah pria yang berbahaya.

Dalam seketika dada Hinata berdebar kencang. Rasa penasaran malah menuntunnya untuk mengikuti pria berbahaya itu. Dengan jarak yang aman, terendap-endap kakinya bergerak sendiri, mengikuti bayang-bayang Shisui yang pergi entah kemana. Keringat pun turun, dan tangannya merasa dingin.

Lalu seekor kucing hitam datang kepada dirinya. Hinata sontak membeku, dan napasnya seakan terhenti. Itu adalah kucing bermata unik yang sama di hari itu. Kucing itu datang seolah membuka masa lalunya, hari kematian Uchiha Madara.

Karena terpaku oleh kucing yang datang padanya, Hinata jadi lupa akan keberadaan Shisui. Sesuai dugaannya, pria itu telah menghilang bersamaan angin dingin yang menyertainya. Sejenak ia menatap kosong pada lorong yang sedikit gelap itu, kemudian menyita sebagian perhatian pada kucing yang mengelus pada kakinya kini. Bibirnya lantas tersungging ke atas.

Baru saja Hinata hendak berjongkok untuk mengelus kepala kucing itu, sebelah anting yang dipakainya terlepas —anting pemberian dari Sasuke. Tangannya lantas meraih anting itu, namun hal yang tak pernah dibayangkannya terjadi, kucing itu mengambil anting mutiara itu dan membawa lari.

Seketika Hinata yang mengalami hal itu sontak mengejarnya. Ia tak tahu sampai ke mana kucing itu pergi, begitu sadar kucing itu membawanya ke sebuah ruangan gelap. Dengan sedikit menggenggam keberanian, ia masuk ke dalam ruangan yang ternyata sebuah gudang berdebu.

Tak lama bibir Hinata mengukir sebuah senyuman, kucing yang membuatnya kewalahan kini ditemukan. Kucing itu masuk ke dalam sebuah kardus, lalu dengan hati-hati ia mengambil kembali antingnya. Begitu ingin keluar, kakinya berhenti oleh sebuah suara.

Manik bulan Hinata melebar. Shisui yang semula lepas dari tangannya kini datang ke dirinya. Sepertinya pria itu tak sendiri, karena ia mendengar suara langkah kaki yang lain. Tak mau membuang kesempatan, ia menyembunyikan dirinya dengan mengambil kain yang menutupi barang-barang dan menutup tubuhnya.

Dengan jantung yang berdebar sangat kencang serta napas yang sedikit tersengal karena bau apek kain, Hinata menyalakan alat perekam yang dipinjam oleh Shikamaru. Penting atau tidaknya pembicaraan itu, ia harus merekamnya.

"Tenang saja, aku sudah menyiapkan tempat untukmu kabur."

Apa maksudnya?

"T-Tapi aku akan dibawa kemana?"

"Kau tak perlu banyak bertanya, tentu saja itu tempat teraman yang tak bisa dijangkau oleh siapa pun."

"..."

"Kenapa? Apa kau takut? Tanganmu gemetaran."

Hinata yang sangat penasaran dengan lawan bicara Shisui mencoba mengintip dari sela pintu yang terbuka. Namun sayang, sosok itu terhalang oleh tubuh Shisui yang tinggi.

"H-Habisnya i-ini pertama—"

"Membunuh satu orang tak akan langsung membawamu ke Neraka."

Membunuh?! Orang itu akan membunuh siapa?

Mendengar kata itu, tak hayal Hinata tak dapat menutup keterkejutannya. Hinata hanya bisa memekik ketakutan. Ia sontak menutup mulutnya dan memegang dadanya dengan harapan mereka tak dapat mendengarnya.

"Perbuatanmu tak akan sebanding dengan apa yang kubuat dengan kedua tanganku selama ini, mengerti? Jadi, jangan khawatir!"

Dasar gila!

"T-Tapi... Ba-Bagaimana k-kalau Sa-Sakura-senpai melawan?"

Sakura-senpai?

Napas Hinata lantas tercekat. Maksudnya, sosok yang akan melakukan perbuatan keji itu adalah rekan kerjanya juga? Mereka akan melakukan apa terhadap Sakura? Kalau begitu, ia ingin segera berlari dan membawa Sakura pergi.

"Mudah..."

Rasa penasaran Hinata mungkin akan sama dengan sosok itu.

"Bunuh saja sekalian saja bersamaan dengan ibunya, dengan begitu kau bisa membunuh dua ekor dalam satu sangkar. Bukankah itu menyenangkan?"

Dalam seketika bulu kuduk Hinata berdiri. Suara tawanya membuat tubuh Hinata lunglai. Shisui benar-benar orang gila.

"Dan sayangnya, Tuan Fugaku melarang."

Shisui mendesah kecewa. Sedangkan Hinata mengernyit murka.

"Kalau benar itu terjadi... Kau hanya perlu membiusnya dan langsung membelah perutnya. Bukankah itu adalah cara termudah untuk mengeluarkan paksa bayi itu dari tempatnya tanpa harus menyakiti sang ibu?"

Hinata semakin tak habis pikir dengan apa yang didengarnya. Mereka akan melakukan sesuatu yang sangat keji terhadap Sakura dan bayinya. Kenapa mereka harus berbuat sejauh ini demi membuatnya untuk tetap tinggal?!

Itu benar-benar rusak.

"T-Tapi itu juga akan berdampak buruk bagi sang ibu—"

"Itu bukan urusanmu, lakukan saja apa yang kuperintahkan!" potong Shisui dingin.

Beriringan dengan percakapan yang dilakukan Shisui bersama lawan bicaranya tiba-tiba suara barang yang terjatuh di dalam gudang menarik atensi mereka. Kini suara langkah kaki mendekat gudang tersebut, Hinata yang panik lantas memeluk dirinya kuat di dalam kain.

Sampai suara langkah sepatu itu sudah berada di depan pintu, Hinata hanya bisa berdo'a di dalam hati. Dan bersyukur, doa Hinata langsung terjawab saat itu juga. Kucing itu keluar dari tempatnya bak ratu yang menunjukkan eksistensinya. Dalam sekejap perhatian kedua orang itu langsung tertuju pada kucing itu.

"Ternyata hanya kucing."

Kucing hitam itu lagi-lagi jadi penyelamat di kala dirinya berada dalam bahaya. Akan tetapi, insting Shisui sangat peka terhadap sesuatu. Kekhawatiran Hinata tampaknya belum berakhir. Shisui telah menginjakkan kakinya ke dalam ruangan. Karena penerangan gudang itu sangatlah kurang, ia mencoba menyalakan saklar lampu yang hasilnya tak sesuai dengan keinginannya.

Namun, menyerah tak ada dalam kamus Shisui. Ia berkeliling demi memuaskan rasa curiganya. Sementara itu, Hinata menutup kuat-kuat mulutnya. Keselamatannya kini telah diujung tanduk ketika Shisui berdiri tepat di depannya.

Hinata kemudian mendengar Shisui yang mengendus-endus bagaikan seekor anjing mencari mangsanya. Wajah Hinata langsung pucat. Ia berharap Shisui tak dapat mencium bau parfum yang melekat pada tubuhnya.

"Shisui-san, Sakura-senpai kini sudah di tangan kita!"

"Ayo kita pergi, jangan buang waktu!"

"Baik."

Setelah mendapatkan kabar itu Shisui bergegas meninggalkan tempat. Bagaikan sebuah keajaiban yang turun dari langit Hinata bersorak lega di dalam hati namun tak dapat menampik ketakutannya. Jantungnya berdegup sangat kencang.

Sakura, mereka telah membawanya. Hinata yang tak dapat menerima berita itu hanya menatap nanar tangannya yang gemetaran. Air matanya sontak turun perlahan tanpa diminta. Ia mencoba mengais kembali sisa keberaniannya.

Dengan napas yang tercekat, Hinata mengambil ponselnya. Uchiha Sasuke adalah orang pertama yang ada dipikirannya. Dan ketika Sasuke telah mengangkat teleponnya, suara tangisannya sontak pecah.

["Maaf Hinata kita bisa bicara nanti, ada suatu yang genting."]

"INI JUGA GENTING SASUKE-KUN!"

Hinata mengusap air matanya, ia segukan.

"Sakura-san... Sakura-san..."

["Kenapa dengan Sakura?"]

Deg deg... Deg deg...

"Mereka membawanya..."

Hinata yang terduduk kini mencoba berdiri. Suara pilunya membuat orang diseberang telepon ketakutan.

"Hiks aku tak bisa mencegahnya."

Tergopoh-gopoh Hinata mengumpulkan semua tenaganya.

"Mereka menculiknya, Sasuke-kun."

BRUK!

Setelah mengatakan itu, tubuh Hinata terasa melayang. Seseorang tiba-tiba memukul lehernya dengan keras. Ponsel yang digenggam sontak terlepas dari tangan beriringan tubuhnya yang terjatuh. Suara Sasuke yang teriak memangilnya terdengar seperti desau angin. Di sisa akhir kesadarannya, Hinata dapat melihat wajah Shisui yang menyeringai ke arahnya.