Disclaimer : Masashi kishimoto
Baby breath by R-daisy
Rate M for safe.
Warning : AU, OOC, Crackpair, Gaje, Typos, terkadang tidak sesuai EYD, slight Sasusaku etc.
DLDR!
Summary...
Hari perceraian itu pastilah datang. Namun, cinta justru datang di saat yang tidak tepat.
Di samping itu Fugaku berniat merencanakan sesuatu untuk menghentikan perceraian Sasuke dan Hinata. Akan tetapi, Hinata yang mengetahui rencana itu berusaha menggagalkannya.
"Apa cintaku padamu adalah sebuah dosa?"
Hinata hanya terisak menangis menatap wajah Sasuke yang semakin pucat. Di sisi lain, tangannya yang menutupi bekas tusukan telah dipenuhi oleh darah pria itu.
"Kalau Tuhan mempertemukan, bisakah kita saling jatuh cinta lagi?"
Panik, begitu yang tergambarkan pada diri pria berusia 29 tahun tersebut. Tidak hanya mendengarkan kabar penculikan Sakura, Sasuke juga mendapati bahwa situasi yang dialami Hinata tidak sedang baik-baik saja. Pasalnya, telepon Hinata tiba-tiba terputus, dan ia mendengar suara istrinya mengerang kesakitan.
Sasuke kini tengah menantikan kabar yang pasti. Ia berharap kedua istrinya tidak mengalami suatu yang lebih buruk. Tak lama orang yang dinantikannya menunjukkan batang hidungnya. Nara Shikamaru, pria yang berusia tak terpaut jauh darinya itu muncul dengan wajah yang tak jauh beda denganya, penuh dengan amarah namun tetap bisa tenang di situasi genting.
"Bagaimana?"
"Kau tenang saja, anak buahku sudah menemukan lokasinya."
"KAU PIKIR AKU BISA TENANG DENGAN KONDISI SEPERTI INI! SAKURA TENGAH HAMIL BESAR, DAN HINATA—" Sasuke sontak menyambak rambutnya frustasi lalu terdiam mengontrol emosinya.
Pria Uchiha itu menatap kedua tangannya yang besar, dan menata hatinya.
"Kau sudah berjanji menjaga keamanan mereka."
Sasuke menarik napas panjang. Seperti dua kutub magnet yang sama, tak seharusnya ia mempercayai orang lain dan juga ia sama salahnya karena tak hati-hati.
Di sisi lain Shikamaru yang melihat Sasuke yang seperti kehilangan arah mata angin membuatnya iba. Ia sungguh merasa bersalah atas kejadian ini.
"Maafkan atas kelalaian kali ini, tapi kami berjanji akan membawa kedua istrimu dengan selamat."
"Hn, mereka harus selamat tanpa cacat sedikit pun."
Suara Sasuke yang begitu dalam dan dingin membuat bulu kuduk Shikamaru berdiri.
"Jika tidak..."
Sasuke lantas melototi Shikamaru yang hendak menyalakan puntung rokoknya.
"Aku tidak segan menghajarmu."
Setelah mengatakan hal itu Sasuke beranjak berdiri. Otaknya langsung berputar cepat. Manik kelamnya berkilat bak elang yang tengah berburu mangsa. Ia melenggang pergi meninggalkan pria berkuncir yang terdiam karenanya.
Tangannya kemudian meraih iPhone, sebelumnya Sasuke sudah cukup jauh dari Shikamaru, bersamaan dengan itu ia telah mendapatkan kabar dari Suigetsu. Pria bergigi tajam itu telah menemukan lokasi di mana kedua istrinya dibawa. Tanpa berpikir dua kali, ia langsung menancapkan gas mobilnya tanpa ampun.
Sementara itu, setelah sepeninggalan sang Uchiha Shikamaru menarik kuat rokoknya. Sebagai detektif kepolisian, ia dituntut untuk selalu waspada dan teliti. Instingnya selalu aktif. Ia berfirasat bahwa pria Uchiha itu tak akan duduk manis di kantor. Tak lama walkie talkie miliknya tersambung, sebuah kabar datang sesuai dengan dugaannya. Sasuke telah bertindak sendirian. Pria itu diam-diam pergi ke lokasi itu.
Shikamaru sontak mendesah keras, "Merepotkan."
Dengan kepala yang masih merasakan sakit, Hinata terbangun dengan tubuh yang terikat pada tali. Jantung Hinata seakan berhenti, di depannya Sakura tertidur di sebuah kasur
operasi dan beberapa peralatan kedokteran yang tak diketahuinya membuat semua kesadarannya kembali. Ia mencoba menggerakkan badannya, hanya saja ikatannya terlalu kuat.
"Sakura!" Panggil Hinata yang seraya membaca keadaan ruangan.
Ruangan kosong yang sedikit berdebu dan tak dipenuhi banyak barang. Cahaya pada ruangan juga hanya mengandalkan cahaya yang masuk pada ventilasi udara. Hinata bertanya-tanya dimana mereka sekarang. Sedangkan suara Hinata yang bergema memanggil Sakura tidak hanya sekali, akan tetapi wanita itu tak kunjung sadar.
Ini terlalu jauh dan Sakura benar-benar tak bergeming. Rasa cemas pun memeluknya, ia takut suaranya akan terdengar seseorang. Perlahan dalam keadaan terduduk terikat di kursi, dengan sekuat tenaga ia melompat ke arah Sakura. Hingga jarak yang tinggal beberapa senti lagi, suara derit pintu menghentikan langkahnya.
Seketika Hinata menahan napas. Suara langkah kaki seseorang seakan menarik jiwanya keluar. Peluh keringat lantas turun dari kening karena sebuah sebab. Dan tak lama tangan seseorang menggapai pundaknya.
"Ternyata anda sudah bangun... "
Manik Hinata melebar, ia kenal suara ini. Perlahan ia mendongakkan kepalanya seperti ingin memakan rasa penasarannya. Namun, keputusannya salah besar. Lehernya seketika jadi sasaran empuk untuk mendaratkan landasan sebuah pisau belati.
"Nona Hinata."
Orang itu adalah Uchiha Shisui, tak pernah ia inginkan kehadirannya.
"Apa yang ingin kau lakukan, hm?"
Napas Hinata sontak berderu, ia memang mengira bakal ketahuan namun tidak secepat ini. Ia bahkan belum menyadarkan Sakura. Berharap dalam hatinya, mereka belum melakukan hal buruk pada wanita hamil itu.
Sasuke mengemudikan mobilnya dengan kalap. Ia mendapat kabar dari anak buahnya bahwa mereka menemukan mobil yang dikendarai oleh Shisui. Lokasinya begitu jauh dari pusat kota. Dengan petunjuk yang diinformasikan, Sasuke memasuki kawasan yang begitu sepi.
Manik gelapnya menyipit, saat ini melewati sebuah tempat yang warganya mungkin tak sebanyak anggota klannya. Ia harus melewati beberapa rumah kuno tak berpenghuni dan sebuah pagar besi berkarat yang rumput ilalangnya begitu tinggi. Dan saat ia menemukan jalan yang tak bisa dilalui mobil, Sasuke memarkirkan asal mobil mewahnya.
Pria Uchiha itu kembali memastikan gambar yang telah dibagi oleh anak buahnya, dan lalu menghubungi mereka lewat telepon.
"Kalian ada dimana?" Tanya Sasuke yang mengedarkan pandangan.
Dan ketika anak buahnya mengatakan bahwa mereka bersembunyi di tempat yang tak jauh dari lokasi di mana kedua istrinya dibawa, Sasuke segera menyusul. Mungkin ia butuh sedikit berjalan lebih ke dalam lagi hingga ia menemukan kumpulan beberapa pepohonan yang dimaksud.
"Bagaimana situasinya?" Tanya Sasuke begitu bergabung dengan para anak buahnya.
Mereka bersembunyi di dalam hutan kecil yang dibatasi oleh pagar besi berkarat. Di depan mereka ternyata ada sebuah gedung bekas rumah sakit yang sudah tidak berfungsi lagi.
"Mereka membawa kedua istri Tuan ke dalam gedung kedua. Mereka terdiri 8 orang. 7 orang bersenjata termasuk Shisui-san dan seorang berseragam putih yang sepertinya seorang dokter."
"Dokter?"
Sasuke lantas mengambil alih teropong. Kedua alis menekuk tajam. Ia bisa melihat di halaman ada dua mobil sedan dan satu mobil van. Kedua keningnya lantas mengerut lebih dalam. Pikiran negatif tentu merusak, ia tak suka sebuah firasat buruk yang masuk ke dalam benaknya.
"Ayo kita harus segera masuk! Tapi sebelum itu kita harus menambah orang."
Lantas tanpa berbasa-basi, Sasuke segera menelpon seseorang yang seharusnya berada di awal. Ia menghubungi Suigetsu yang kini sebentar lagi sampai ke tempat tujuan. Tak lama seorang anak buahnya keluar dari tempat itu, ia telah menemukan jalan masuk tanpa ketahuan. Mendengar hal itu Sasuke sontak membuat rencana.
Dan sebelum mereka melancarkan operasi rencananya, Suigetsu datang membawakan senjata milik Sasuke. Beberapa dari mereka masuk perlahan ke dalam gedung termasuk Sasuke, lalu sisanya mengontrol dari luar.
Satu suara lenguhan mengudara, disusul pula dengan sepasang manik emerald terbuka. Kepalanya berdenyut perih, perlahan ia menatap ke atap langit. Kedua alisnya sontak menekuk tajam. Ada yang aneh pikiran sebelum otaknya berproses penuh. Langit apartemennya tidak sejelek itu.
"Sakura-san!"
Sebuah suara tiba-tiba menarik perhatian barunya. Orang yang dipanggil Sakura itu lantas mencari sumber suara, dan begitu menemukannya ia langsung tersadar. Manik indahnya melebar.
Itu Hinata.
Namun yang tertangkap oleh matanya terlihat berbahaya. Napasnya tercekat, Hinata ternyata tak sendiri, Sakura kenal dengan orang yang di sampingnya. Orang itu adalah Uchiha Shisui.
"Syukurlah, kau sudah terbangun."
Tubuh Hinata terikat dan dilehernya ada pantulan cahaya sebilah pisau yang kapan saja bisa menggores kulit mulusnya. Sakura lalu tersadar tubuhnya terikat. Menggigit bibirnya, ia begitu kebingungan.
"Jika kau bicara lebih, maka lehermu jadi sasarannya."
Ketegangan semakin naik tatkala seorang dokter masuk ke dalam ruangan sambil membawa peralatan di tangannya. Manik Hinata melebar sedangkan Sakura hanya bisa mengernyit.
"Apa yang ingin kalian lakukan pada kami?" Tanya Sakura dengan suara lemahnya.
"Hei, pegang perempuan ini sebentar!" Seru Shisui yang menyerahkan Hinata pada sang dokter.
Shishui lantas bergerak dari tempatnya, ia mengambil sesuatu dari laci meja dan menghampiri Sakura. Di samping itu Hinata tengah menerka, hatinya berdegup tak tenang, ia punya firasat buruk akan hal ini
"Kalau kau melakukan suatu hal buruk pada Sakura-san aku tak akan memaafkanmu!" Ancam Hinata.
Shisui tak sedikit pun bergeming, ia lantas mengeluarkan sebuah kertas dari amplop coklat yang dipegangnya.
"Kau tinggal cap surat ini, setelah itu aku akan membebaskan kalian."
Baru saja Sakura ingin membaca isi surat itu namun Shisui malah menariknya, lalu timbullah kecurigaan di dalam diri Sakura. Ketika Sakura menanyakan inti surat itu, Shisui kemudian mengatakan hal sangat mengejutkan bagi ibu hamil tersebut. Pengangkatan janin dari perut secara paksa.
Dalam sekian detik, suasana menjadi tegang. Hinata yang juga mendengar pernyataan itu tidak bisa tinggal diam, darahnya mendidih sampai ke ubun-ubun. Fugaku begitu kejam, ia rela melakukan hal itu pada menantunya sendiri demi mengenyangkan egonya. Di sisi lain, Sakura hanya bisa terdiam —sangat terkejut- menanggapinya.
"Bagaimana kalau aku menolaknya?" Tanya Sakura yang matanya mulai tergenang air.
"Tidak ada opsi lain, dengan persetujuanmu atau tidak, kami akan tetap melakukan operasi."
"Kenapa kalian melakukan hal ini? Apa salahku?" Pilu Sakura yang tidak bisa berpikir apa-apa, ia ingin menyelamatkan bayinya, ia juga ingin membebaskan Hinata. Di sisi lain Sakura begitu kesal. Ia membenci di saat ia tak bisa melakukan apa-apa.
"Itu karena bayimu adalah penghalang bagi Tuan."
Kenapa ayah mertuanya melakukan hal ini padanya? Padahal selama ini hubungannya dengan ayah mertuanya terbilang cukup baik. Ia juga sangat dekat dan perhatian terhadap ibu mertuanya. Saat pertama kali ayah mertuanya menyuruh suaminya menikah lagi, Sakura bahkan tidak melawan. Meskipun saat itu ia sangat kecewa, tapi ia tidak pernah menyuarakan kekecewaannya.
"Karena bayi itulah Sasuke harus menceraikan Hinata."
Emerald Sakura melebar. Jadi itulah yang tengah terjadi pikir Sakura. Ia tiba-tiba merasa sangat terpukul. Seharusnya ia melawan waktu itu, sehingga hal yang seperti ini tak akan dialami oleh mereka. Namun nasi telah menjadi bubur. Dan penyesalan telah menandai hatinya.
"Jangan dengarkan mereka, Sakura-san!" Seru Hinata, "Perceraian itu karena kehendakku dan Sasuke."
Sakura sejenak menengok kearah Hinata.
"Percayalah..."
Hinata memelas, sedangkan Sakura tak dapat menyembunyikan air matanya lagi.
'Kenapa ini terjadi pada kami, Tuhan?' pikir Sakura yang hampir putus asa.
"Aku tetap tidak mau... " Lirih Sakura yang menatap tajam Shisui, "Tidak ada yang boleh mengambilnya dariku."
Shisui tak dapat lagi menyembunyikan kemarahannya, ia sontak memegang keras telapak tangan Sakura yang langsung terkepal karenanya. Dengan paksa ia melepaskan wanita hamil itu, dan beruntunglah Sakura masih punya kekuatan untuk menyembunyikan sidik jarinya.
Di sisi lain, Hinata yang melihat kejadian itu juga tak tinggal diam. Wanita itu mencoba memprovokasi Shisui, agar bisa mengambil perhatiannya. Ia juga tak mempedulikan sisi tajam pisau di lehernya telah mampu mengurus kulitnya. Namun sayang, pria itu tak kemakan omongannya, ia bahkan masih bersikeras memaksa Sakura, sampai akhirnya kesabaran pria itu sudah diambang batas.
PLAKK! !
Satu tamparan melayang keras di pipi Sakura. Hinata sontak menahan napas, sedangkan Sakura yang tercengang atas tindakan itu diam membisu. Kini bekas tamparan itu membekas di pipi begitu kentara. Sakura yang awalnya mampu menahan air matanya kini mengalir bak air hujan yang jatuh ke bumi.
"Jika kalian gak mau menurut, aku gak akan segan-segan melakukan kekerasan, mengerti?"
Setelah mengatakan itu, Shisui mengambil kesempatan saat Sakura melemahkan pertahanannya. Kini disurat itu telah ditandai dengan cap sidik jarinya. Dan Hinata tak dapat menyembunyikan ketakutan di wajahnya.
"Dokter, kau boleh melakukan operasinya sekarang."
Mata Hinata terbelalak begitu pun juga dengan Sakura. Sang dokter tiba-tiba sudah memegang suntik bius di tangannya. Seketika kepanikan merajai kedua wanita itu.
"T-TUNGGU DULU—!" Hinata berseru.
Dokter muda itu berjalan menuju tempat Sakura berbaring.
"Tak kusangka kau melakukan ini padaku!" Sakura berdesis melihat sesama Rekan kerja. Wanita itu juga tak segan meludahi wajah junior.
"Kalau pihak rumah sakit tau atas tindakan ilegalmu, maka mereka tak segan memecatmu! Ah, tidak... Akan kubuat kau masuk penjara selamanya!" Tambahnya yang mengancam.
Hinata yang melihat pun turut membantu Sakura untuk memprovokasinya. Akan tetapi, itu terhenti kala Shisui kembali meraihnya, dan lehernya lagi-Lagi jadi sasaran empuk oleh pisau.
"Jangan sentuh diriku dengan tangan menjijikkanmu, kau tak pantas disebut dokter!"
Kini jarum suntik itu telah menyentuh kulit Sakura, beberapa detik kemudian wanita itu telah dijemput oleh ketidaksadaran. Sebelum matanya benar-benar terpejam, ia sempat melirik Hinata yang berteriak memanggil namanya.
"Sakura-san!"
"Berisik!"
PLAKK!
Kali ini Shisui menampar keras pipi Hinata hingga mengeluarkan luka di sudut bibir wanita.
"Bius wanita ini juga, dia terlalu berisik untuk dibiarkan!"
Sang dokter itu pun dengan ragu mengangguk. Dan ketika ia sudah siap menyuntik Hinata, kegiatannya lantas terhenti kala seseorang tak diundang masuk mendobrak keras pintu itu.
"Bos!"
"Ada apa ini?"
Itu adalah salah satu anak buah Shisui, dengan panik ia datang membawa kabar buruk bagi mereka.
"Beberapa polisi mulai menuju tempat ini! Kita ketahuan, Boss."
"Anjing sial!" Rutuknya kesal seraya —tanpa sadar- melemparkan pisau yang jatuhnya di dekat kaki Hinata.
Pria itu segera berlari keluar meninggalkan tiga orang yang berada di ruangan itu.
'Ini kesempatanku!" Pikir Hinata yang tiba-tiba punya ide untuk melarikan diri.
Sang dokter seketika melihat ke arah Hinata yang menatap tajam.
"Kau akan menyesali perbuatan ini seumur hidupmu!"
"Aku terpaksa melakukan ini."
"Tak ada kata telat, kami akan menolongmu jika kau mau membantu." Hinata mencoba bernegosiasi.
Sang dokter muda itu tertunduk diam beberapa saat. Ia kemudian menatap kedua tangannya, lalu melirik ke arah Sakura yang tidak sadarkan diri. Seketika wajahnya bermuram durjana.
"Maafkan aku... Aku tetap tak bisa." Ia menggeleng, lalu bersiap menyuntik Hinata.
"Sakura-san benar, kau memang tak pantas disebut dokter!"
Sasuke akhirnya sukses memasuki gedung tanpa harus ketahuan pihak lawan. Ini semua berkat mata-matanya yang telah menjadi anak buah setia Shisui —Juugo. Sebenarnya sejak dari dulu Sasuke ingin menjatuhkan ayahnya dengan menangkap terlebih dulu orang kepercayaannya. Ia sudah merencanakan hal ini sudah bertahun-tahun lamanya. Dan sekarang Sasuke mempunyai kepercayaan yang tinggi akan bisa menangkap Shisui sekarang.
Perlahan Sasuke menelusuri lorong gedung, sedangkan anak buahnya telah ia tugaskan untuk menangani penjagaan. Menurut informasi yang ia terima dari Juugo, kedua istrinya ada di lantai tiga. Walaupun kini wajahnya terlihat tenang namun hatinya penuh dengan kemarahan.
Tak hanya mendapatkan informasi kondisi istrinya, ia juga mendapatkan info yang amat mengagetkannya. Ia hanya tak habis pikir bahwa ayahnya akan melakukan keputusan ini demi menghalangi perceraiannya.
Ya, sejak awal ayahnya memang iblis bertopeng manusia.
Sasuke sontak bersembunyi di balik tembok ketika ia mendengar suara yang tak asing bagi. Itu adalah suara Shisui yang tengah berbicara dengan lawan bicara. Kedua alisnya sontak menekuk tajam ketika menguping pembicaraan mereka.
"Bagaimana bisa ini sudah tercium oleh polisi!?"
Polisi?!
"Kita tak punya waktu untuk pindah. Sebisa mungkin halangi para polisi itu sampai pengangkatan janin selesai, mengerti!"
"Tapi bos jumlah mereka lebih banyak dari kita!"
"Aku tak peduli! Kalian bisa melakukan serangan tembakan. Yang penting tugas utama kalian adalah mengulur waktu."
Tak lama Sasuke mendengar keributan. Suara pistol pun menyusul kemudian.
"?!"
"Keributan apa lagi ini?!"
Shisui kemudian mendapat telepon.
"Apa katamu!?"
Sudut bibir sang Uchiha sontak menyeringai. Sepertinya ada beberapa anak buahnya yang ketahuan dan tengah melakukan penyerangan.
"Sial, tadi anjing polisi, sekarang tikus penyusup!"
Shisui kemudian menelpon Sang dokter untuk menyegerakan operasinya. Ia kemudian dengan kesal berjalan menuju sumber masalah. Pria itu tanpa sadar berjalan melewati Sasuke yang telah bersembunyi dengan baik.
Sasuke ternyata telah bersembunyi di dalam sebuah kaleng besar yang kosong. Setelah dirasa langkah kaki Shisui dan anak buahnya menjauh, ia sontak keluar dari tempatnya. Ia berharap masih memiliki waktu untuk menghentikannya, dan ia juga berharap Tuhan berada di sisinya saat ini. Lalu dengan kepercayaan diri yang sangat tinggi Sasuke bergegas menuju ke ruangan yang akan ditujunya. Akan tetapi tanpa diketahuinya, sesuai rencana Tuhan, Hinata dan Sakura sudah tidak ada lagi di tempatnya.
