PROLOG

Aroma anyir itu menguar sangat kuat di seluruh area tempat itu karena hembusan angin yang cukup kencang. Bahkan mayat yang tidak terhitung banyaknya menumpuk seperti gunung. Apa-apaan tempat ini ?

Aku tidak mengingat apapun sesaat sebelum berada di tempat mengerikan ini.

Bagaimana bisa tiba-tiba saja aku berada di tanah kematian yang terkenal ini ? Sebuah nama yang aneh, tapi aku pernah membaca buku di sebuah perpustakaan kuno di RestBond. Di jelaskan bahwa hanya beberapa orang yang dapat melihat tempat itu dengan syarat-syarat tertentu di luar nalar. Lalu bagaimana caranya aku bisa sampai di sini ? Apa benar keberadaan Lylian Hell itu nyata, atau benarkah ini tempatnya ?


CHAPTER 1

Udara kencang menyelimuti kota terpencil di bagian utara Anchests. Dengan nuansa seperti pedesaan, tiap rumah yang memiliki pohon rindang yang menyegarkan mata akan membuat siapapun yang melihatnya betah untuk berlama-lama disana. Saat ini remaja tanggung yang menggunakan kacamata dan syal coklat yang melilit di lehernya itu menggosok-gosokkan tangannya ke kedua sisi lengannya, berharap dapat memberikan kehangatan bagi tubuhnya yang ringkih itu. Bahkan surai hitamnya terlihat berantakan karena angin yang bertiup kencang sekali.

Menghela nafasnya dengan berat, dia memutuskan untuk pergi dari tempat tertinggi di kota itu. Dia hanya ingin menyendiri di sana sambil memandangi tiap sudut kota kelahirannya itu.

Langkahnya sangat pelan dengan ekspresi yang terlihat muram. Matanya melihat ke jalanan yang dia lewati, tidak ingin melihat ke depan karena dia sedang memikirkan sesuatu. Sneaker hitam-putih yang menghiasi kakinya kini berhenti melangkah. Sang empu ini termenung, dan sekilas tampak setetes air yang jatuh dari pelupuk mata berwarna biru lautnya. Entah apa yang terjadi, tapi dia terlihat sangat sedih sekali.

Tidak berapa lama kemudian ia langkahkan kembali kedua kakinya supaya bisa cepat sampai ke rumahnya. Namun saat melewati jembatan sungai yang lumayan luas di sana, tiba-tiba ada yang menyenggol bahunya hingga nyaris terjatuh.

"Hei, kau tidak apa-apa?" sahut suara tersebut khawatir. Ah, ternyata itu adalah sesosok lelaki dewasa.

"Ti-tidak apa-apa, Tuan. Maafkan atas kelalaianku yang tidak melihat ke depan". Balasnya dengan senyum ramah meskipun matanya berkata tidak demikian.

"Ehem... a-anu... Jika kau tidak keberatan, bisakah kau menemaniku ke restoran ujung jembatan sana ? Mungkin ini terdengar tidak sopan, tapi aku akan mentraktirmu makan sebagai permintaan maafku. Dan juga aku tidak berasal dari sini, jadi tidak apa 'kan kalau kita makan siang bareng dan menemaniku berkeliling di sini ? Aku sendirian berkelana ke kota ini. Mungkin kita bisa menjadi teman, atau tetangga yang baik jika kau tidak keberatan".

"Bukannya aku tidak mau Tuan. Tetapi itu akan merepotkanmu saja. Bukankah anda baru saja tiba disini? Lebih baik segera cari tempat menginap. Malam ini sepertinya akan menjadi malam yang sangat dingin dibandingkan malam-malam biasanya. Maafkan aku, permisi". Jelasnya sambil berjalan dengan sedikit tergesa-gesa.

"Ah- hei! Tunggu dulu! Namamu siapa?!" teriaknya karena remaja itu sudah jauh jaraknya dari tempat mereka berdiri sekarang.

Mendengar perkataan pria itu, ia menolehkan kepalanya ke belakang dengan senyuman cerah khas anak-anak. "Namaku Shinichi. Anda siapa Tuan!?"

Pria itu terpana akan senyuman anak itu. Dia merasakan ada sesuatu yang mengalir di tubuhnya. Dia mendapati dirinya tidak berkedip sama sekali melihat rupa dari sang empu suara. Betapa indahnya ciptaan Tuhan yang satu ini.

"Aku Kaito. Senang berjumpa denganmu, Shinichi. Besok jika tidak keberatan maukah kau bertemu denganku di jembatan ini lagi ? sekalian kita jalan-jalan ke kota sebentar. Kebetulan ada yang ingin ku beli". Usahanya sekali lagi agar pemuda itu bisa diajak bertemu lagi esok hari. Sepertinya cara pertamanya tadi terlalu tiba-tiba. Kali ini ia berusaha untuk terdengar lebih sopan lagi. Karena mereka berdua 'kan orang asing.

"hmm... sepertinya aku tidak ada jadwal apapun. Baiklah Kaito-san, kita akan ketemuan disini lagi. Sampai jumpa esok hari". jawabnya sambil melambaikan tangannya ke Kaito tsb.

Entahlah, saat itu pria 25 tahun yang memiliki rambut ikal dan hitam itu hanya melihat lurus ke depan tanpa mengalihkan sedetik pun pandangannya. Ia masih merasakan darah yang mengalir deras ke seluruh tubuh dan detak jantung yang tidak beraturan seperti sekarang.


Seperti yang terlihat, ketika kamu menginjakkan kaki ke Desa ini, hanya satu yang ada di pikiranmu. Yaitu ramai dan damai. Disuguhi pemandangan dengan orang-orang yang membajak sawah, anak-anak yang berlalu lalang bermain dengan riang, ibu-ibu yang sedang memasak makanan dengan jumlah yang tidak sedikit serta orang-orang yang menawarkan dagangannya untuk di jual. Ini semua seperti yang ada di mimpinya. Ia tak menyangka akan menemukan tempat seindah ini di belahan dunia utara. Bahkan dia bisa melihat jalan menuju bukit di ujung sana tanpa kesulitan. Di belakang sebuah toko yang menjual kain-kain dengan manik warna-warni yang bergelantungan di depannya untuk menarik minat pengunjung atau yang berlalu lalang di pasar, terdapat sebuah bangunan yang tinggi sekali di bandingkan dengan yang lainnya. Terkesan mewah dan menakutkan di saat yang bersamaan entah kenapa.

"Hai tuan, selamat datang di Desa Razkans. Anda sepertinya baru tiba di sini, bagaimana saya bantu angkat barang-barang anda ke hotel kami ? Tempatnya di jamin nyaman dan aman", sapa seorang anak yang berusia sekitar 17 tahun itu kepada orang yang di panggilnya "Tuan" itu.

"Ah iya, terima kasih. Boleh aku bertanya sesuatu ?" Ucapnya kepada remaja yang hanya menggunakan sleeveless t-shirt dan celana bahan dasar itu.

"Silahkan tuan, ayo sambil saya antar anda ke resepsionis".

"Apa kau tidak memiliki pekerjaan yang lain ?" Tuturnya dengan mimik muka yang serius sekali. Dia penasaran kenapa anak ini melakukan pekerjaan seperti ini di usia yang sangat muda. Ya, 17 tahun pun termasuk remaja yang penuh dengan gairah untuk mengeksplor dunia luar atau masa-masa yang di selimuti rasa penasaran akan hal-hal baru.

"A-ah... Itu karena orang tuaku meninggal sejak usiaku 10 tahun tuan. Saya di rawat oleh bibi yang berjualan kue disana, yang ada tulisan bakpao all varians itu. Saya tidak ingin membebani mereka yang merawatku, jadi saya berinisiatif untuk melakukan pekerjaan apa saja di desa ini". Jawabnya panjang lebar sambil menuntun yang di panggilnya "tuan" itu ke dalam hotel.

"Nah, sudah sampai. Anda bisa membayarku seikhlasnya. Hehehe". Cengirnya lebar sambil menampakkan giginya yang rapi dan putih itu.

Saat itulah yang dimintai bayaran tsb hanya terkekeh sambil mengeluarkan sejumlah uang tanpa menghitungnya sama sekali.

"Ah! Ini sangat banyak Tuan. Apa benar tidak apa-apa saya menerima sebanyak ini ?!" ucapnya histeris karena tidak pernah memegang segepok uang yang banyak seumur hidupnya.

"Ya, kau bisa mengambil kembaliannya. Dan satu lagi, jangan panggil aku Tuan ya. Panggil saja Kak Kaito. Aku masih muda lho". Katanya sambil mengedipkan sebelah matanya dan segera mengurus administrasi di hotel tsb. Dia lelah dan tidak sabar untuk segera tidur di kasur yang empuk nanti. Dan juga tidak sabar untuk bertemu anak manis di jembatan itu.

Keesokan harinya, sesuai janji, Shinichi menunggu pria yang bernama Kaito di jembatan tempat mereka bertemu. Terlihat syal yang membalut lehernya beterbangan ditiup angin di musim salju ini, karena ada kabar kalau bulan ini akan ada badai salju yang belum pernah terjadi di kota terpencil begini. Suhu menurun drastis dan angin kencang sekali hari ini. Apa Kaito bisa datang kemari dengan cuaca begini ? Ah, dia tidak mengerti kenapa bisa mengkhawatirkan orang yang baru dikenalnya kemarin itu. Mungkin karena dia tidak punya teman disini. Sekedar untuk ngobrol ringan pun tidak ada. Hanya membahas kerjaan sehari-hari dengan orang-orang di sini, terutama di kalangan orang tua. Kaito memang jauh lebih tua darinya, tapi paling tidak ia tidak setua itu. Dan dia merasa sangat antusias karenanya.

Masih melamunkan tentang pertemuan pertamanya dengan Kaito itu, tanpa di sadari ada sosok tinggi dengan setelan mantel tebal dan celana putih yang datang mendekatinya. Bahu kecilnya itu di tepuk orang itu, dan membuyarkan lamunan Shinichi dengan dunianya itu.

"Apa aku mengagetkanmu ? Maaf telat, tapi salju di daerah pertigaan sana sudah tebal sekali dan sedikit menghambat jalan." Ucapnya dengan nada khawatir karena Shinichi berdiam diri saja sebelum dia menyapa. Dia merapikan syal dan hoodie bulunya yang berantakan karena angin tsb.

"Ah, ti-tidak apa-apa Kaito-san. Lalu bagaimana sekarang? 'Kan angin kencang sekali sekarang, dan aku lapar. Aku menunggumu dari satu jam yang lalu, kau tahu?" jelasnya sambil mempoutkan bibir plumpnya itu.

"Benarkah ? Aku minta maaf padamu Shinichi, aku tidak bermaksud membuatmu menunggu lama. Sebagai permintaan maaf dan janjiku, ayo ku traktir makan dulu. Kau mau makan apa ?"

"Mau sukiyaki. Tapi mahal sekali. Tapi aku mau makan itu". Celotehnya dengan wajah kebingungan.

Kaito yang melihat tingkah kekanakan Shinichi yang terjadi tiba-tiba begitu saja terpana. Bagaimana mungkin ada malaikat indah seperti ini di sini? Dia dan kepolosannya telah membuat dada milik pria tinggi itu berdebar kencang. Sambil menutup mulutnya, ia berkata-

"Baiklah anak nakal, kita makan sukiyaki. Aku punya uang yang cukup banyak. Sekalian kita beli souvenir di sini untuk ku jadikan oleh-oleh ke Jii-chan". Sahutnya sambil merangkul bahu anak remaja yang hanya diam pasrah. Terlihat semburat merah menghiasi pipi Shinichi yang pucat. Manis. Itu yang di pikirkan Kaito.

"A-aku tidak nakal Kaito-san ! A-aku hanya sangat ingin memakannya karena aku baru mencobanya sekali seumur hidup ketika aku kecil". Jawabnya dengan gugup karena meskipun cuaca sangat dingin dan bisa mematikan indra penciumannya, ia tetap dapat mencium aroma manis dan sexy dari tubuh pria yang lebih tinggi darinya itu. Kesan dari parfumnya memang begitu bagi Shinichi. Sekilas ada aroma chinnamon bercampur mint. Wangi yang sangat di sukainya meskipun mungkin banyak orang yang tidak suka.

"Benarkah ? Tapi kau sepertinya keras kepala sekali. Menungguku di jembatan tanpa mencari tempat untuk berteduh. Lihat sekarang kepalamu banyak saljunya hahaha". Ucapnya sambil menyingkirkan salju-salju yang menutupi kepala shinichi yang lebih pendek darinya.

Perlakuan itu membuat wajah dengan rona pink alami milik Shinichi menjadi merah seperti tomat. Ia tidak pernah di perlakukan seperti ini sebelumnya. Bagaimana dia harus merespon ? ia terlalu malu untuk afeksi yang diberikan padanya.

Kaito diam-diam tersenyum melihat itu. Segera di genggamnya tangan halus milik pemuda yang tidak berbicara lagi karena di goda sejak tadi, lalu menariknya untuk segera berjalan menuju restoran sukiyaki yang di tunjuk pemilik bersurai hitam itu. Dalam hatinya ia gugup, jantung berdegup kencang karena kontak fisik yang sangat intens ini. Namun tetap di biarkannya pria yang lebih tua darinya yang menuntun jalan. Toh dia menikmati saat-saat ini dimana sifat kekanakannya di ekspos oleh Kaito. Dia tidak keberatan jika Kaito terus-menerus memperlakukannya seperti saat ini.

Setelah obrolan singkat yang terjadi di antara mereka berdua, tidak terasa akhirnya telah sampai di kedai yang mereka cari. Setelah memilih tempat duduk yang nyaman, Kaito memilih tempat duduk yang bersebelahan dengan Shinichi. Ketika di tanya kenapa tidak duduk berhadapan saja, alasan yang di berikan pria tampan itu membuat wajahnya memerah dengan sempurna. "Aku tidak suka duduk berjauhan dengan anak semanis kamu, Shin. Lagipula jika berdekatan, kita bisa berbagi 'kehangatan'". Kurang lebih pernyataan itu membuat jantung orang yang mendengarnya berdegup kencang. kalau saja bantal guling ada di depannya maka di peluk erat sambil berguling-guling dan berteriak seperti cewek-cewek yang fangirlingan. Eh tunggu. Mana bisa dia seperti itu. Cuma imajinasinya saja. Malu dong kalau dia beneran melakukan itu.

"Maaf menunggu lama. Saya siapkan dulu semuanya ya tuan. Jika butuh sesuatu, anda bisa panggil saya". Ucap seorang gadis yang bekerja di sana.

"Baik. Terima kasih banyak Ai". Sumringah Shinichi kepada gadis itu.

"Ya, saya permisi dulu. Selamat menikmati kencannya ya Shin", goda Ai kepada Shinichi yang gelagapan mendengar perkataannya.

"A-aku tidak kencan ! Pergi sana hush huusshh!" Seru anak itu dengan gestur tangan mengusir Ai dari sana dengan wajahnya yang sudah semerah tomat.

"Hoo... Kalian berdua saling kenal?" Kini Kaito membuka suara sambil menatap intens ke arah 2 remaja itu secara bergantian.

"Iya, kurang lebih begitulah. Benar 'kan Ai?" Jawab Shinichi sedikit gelagapan. Ia panik ketika melihat wajah Kaito yang mendekat (lagi) ke arahnya.

"Ya, anggap saja begitu. Benar 'kan Tuan Kaito Yang Terhormat." Respon Ai sambil mengedipkan sebelah matanya ke mereka berdua sambil berlalu dari sana.

"Ah ternyata begitu~. Akrab sekali kalian, Shi-ni-chi." Goda Kaito ke pemuda yang bahunya sedang di rangkul.

"J-jangan menggodaku Kaito-san!" Seru Shinichi yang wajahnya sudah memerah sambil menutup rupa manis itu dengan kedua tangan.

"Hahaha baiklah maafkan aku. Kau terlalu manis untuk tidak di goda sedikit Shin. Boleh 'kan aku memanggil nama 'Shin-chan'? tanya Kaito dengan tatapan yang melembut sambil mengelus jemari Shinichi dengan pelan.

"I-iya tidak apa-apa. Aku tidak keberatan sama sekali". Jawab Shinichi dengan senyuman manisnya sambil menatap pria yang lebih dewasa darinya itu.

Melihat itu Kaito menjadi bersemu merah sama seperti remaja yang di sampingnya ini. Debaran di dadanya semakin menjadi saat ia mengunci tatapan Shinichi. Jari-jari yang sedang mengelus milik anak manis itu kini bergerak perlahan mengusap pipi chubby Shinichi. Bagaimana mungkin ia bisa merasakan perasaan hangat di dadanya ke anak yang usia terpaut jauh dengannya ini. Apa benar jika ia sedang jatuh cinta pada anak yang malu-malu saat berada dekat dengan dirinya? Ah, dia bisa gila kalau begini terus.

"Ekhheemm! Maaf, pesanan anda sudah datang. Saya taruh disini ya. Selamat menikmati hidangan". Ucap Ai yang tetiba menginterupsi suasana romantis yang susah payah di bangun oleh Kaito.

"Ah, iya Ai. Terima kasih". Kini Shinichi yang bersuara sambil memberi sedikit jarak diantara ia dan pria yang di kaguminya itu.

Dan sekarang mereka berdua fokus makan sambil bercerita dan bercanda layaknya orang biasa. Sesekali Kaito sengaja menggodainya (lagi) demi melihat ekspresi yang menggemaskan itu. Rasanya puas hanya dengan mereka saja yang berada di ruangan ini tanpa di ganggu oleh siapapun. Ia sendiri tidak tahu apa yang di pikirkan Shinichi soal kejadian barusan.

Saat keduanya menikmati hidangan yang ada di meja, tiba-tiba saja ada suara teriakan seseorang yang asalnya dari ruang tepat bersebelahan dengan tempat mereka (ruangan lesehan namun diberi sekat). Sontak semua yang ada di dalam restoran itu mengerubungi tempat suara itu terdengar. Tidak kalah gesitnya Kaito pun melewati kerumunan agar bisa melihat dengan jelas ada apa. Sontak kaget ketika di lihatnya pria paruh baya sedang terlentang dalam keadaan mata melotot dan mulut yang mengeluarkan busa. Melihat itu, insting pria dewasa itu segera meminta bantuan karyawan di sana untuk menghubungi ambulans. Namun semuanya sontak berkata bahwa ambulans tidak bisa datang kemari karena jembatan penghubung ke kota runtuh akibat tumpukan salju yang tebal dan juga badai yang kencang sekarang. Mendengar itu ia berdecak kesal.

"Kaito-san, ada apa ? Kenapa orang-orang pada heboh di sebelah?" Shinichi bertanya sambil mengikuti Kaito saat di lihat 'kenalan'nya berbicara dengan seseorang lewat telepon.

"Ah, Shin-chan. Maaf, tapi sebaiknya kau jangan kemana-mana dulu. Duduk saja. Ada seorang pria tua di sebelah kita yang mati mendadak". Kata Kaito berusaha menjelaskan keadaan dan tidak ingin Shinichi ketakutan. Ia harus bergerak cepat.

"A-apa ?! Kenapa bisa mati ?! Tapi aku tidak mau sendirian di sana. Boleh aku ikut bersamamu, Kaito-san?" ucap Shinichi dengan gugup sambil memegang tangan yang lebih besar darinya.

"Apa kau takut ? Maafkan aku, tidak seharusnya aku memberitahumu tadi. Baiklah, ayo kita pergi menjauh dari sini sebentar. Aku harus menghubungi seseorang sekarang. Pihak Rumah Sakit tidak bisa kemari karena jalan penghubung menuju ke kota ini". Pria itu mengelus jemari pemuda manis yang sedang memegang tangannya dengan gemetaran. Pasti anak ini ketakutan. Mereka berdua pun berjalan ke pojokan sementara Kaito menggenggam tangan Shinichi yang kecil itu sambil di usap-usapnya pelan. Berusaha menyalurkan perasaan aman bagi pemiliknya.

"Shin-chan, di sini saja... Ah, halo. Ini aku Kaito. Ada kejadian tidak biasa di Kota B arah utara dari TKP. Ya. Usahakan jemput kami dalam waktu 3 hari. Eh ? Anu... Aku sedang bersama seseorang sekarang dan tidak bisa meninggalkannya sendirian... Ya. Ku rasa ada kaitannya. 'Ia' tidak boleh tahu, untuk sekarang". Pria tampan itu berkata dengan nada serius. Di lihatnya anak yang sejak awal sudah merebut hatinya itu. Kemudian tersenyum sambil ikut duduk bersamanya, dan mengusap pelan pipi yang sedikit memerah itu.

"Tenang saja. Kejadian ini akan selesai dalam singkat. Tapi kita harus pergi sementara keluar kota. Ada yang ingin ku bicarakan, dan juga mengenalimu ke seseorang. Kau aman bersamaku, Shinichi".

TO BE CONTINUED

Halo semuanya, perkenalkan aku Comfydants. (You guys can call me Comfy-chan if you want. I like 'Comfy-chan' as well hahaha).

Ini adalah karya pertamaku di Fanfiction. Bagi yang sudah membaca, selamat membaca dan semoga suka. Maaf masih pemula dalam menulis, jadi ku harap kalian bisa berbaik hati dalam berkomentar. ^^

Aku hanya meminjam karakter Shinichi Kudo dan Kaito Kid yang tentunya kalian tahu mereka adalah karakter di manga-anime Detective Conan. (Aku lupa nama manganya Kaito). Untuk Prolog hingga isi cerita sendiri murni hasil dari pemikiranku. Aku usahakan ceritanya tidak terlalu pendek, tapi juga tidak panjang. Mungkin sih XD . Tergantung moodku ya hahaha.

Btw, semoga ke depannya kita bisa menjadi teman yang baik yaa.

Yoroshiku onegaishimasu minna-san.