CHAPTER 2

Ia tampak sibuk dengan membawa beberapa koper dan juga mengenakan topi warna putih. Anak yang sedari tadi diam memperhatikan kegiatan pria itu kini mulai kebingungan mengingat barang-barang tsb dibawa Kaito ke depan pintu rumah.

"A-anu...Kaito-san? Kita mau ngapain disini?" Ia mulai berbicara karena orang yang di tanya tampak sibuk bolak-balik ke dapur, kamar, kemudian ke ruang tamu seakan sedang mencari sesuatu.

"Ah, Shin-chan. Maaf aku sedang sibuk mencari koran yang biasanya ku letak di laci meja. Entah kenapa bisa hilang. Seingatku sudah ku letak di tempat yang seharusnya". Jelasnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Di lihatnya sejenak wajah Shinichi yang lucu karena memasang ekspresi kebingungan.

"Apa hubungannya koran dengan yang kau lakukan ini ? Bukannya ini terlalu mendadak untuk melakukan pindahan, belum lagi sedang badai salju". Balas remaja yang sedang duduk manis di sofa.

"Nanti aku beritahu. Masalah kendaraan aku sudah mempersiapkannya. Kau tinggal dengan siapa?" tanya Kaito sambil membuka lemari yang letaknya tepat di samping meja kerja (kelihatan dari beberapa alat tulis dan barusan pria itu memasukkan laptop ke dalam tas ransel yang di pegangnya).

"Aku hanya sendirian disini. Orang tuaku sudah meninggal. Nenek kakekku pergi keluar negri. Katanya ingin hidup berdua saja karena aku sudah besar". Jelas Shinichi sambil melihat-melihat interior di ruang tamu. Barang-barang yang di pajang sepertinya barang antik semua. Tapi bukankah Kaito tidak punya rumah? Seingatnya, ia kemarin baru tiba di sini dan harusnya menginap di hotel. Mungkin perasaannya saja.

"Bagus. Kau ikut aku saja Shin. Kita pergi dari sini untuk sementara waktu. Tempat di mana mayat itu di temukan kemungkinan sudah tidak aman. Aku tahu ini sangat mendadak sekali, tapi tolong ikut saja. Aku akan jelaskan pelan-pelan dalam perjalanan nanti". Katanya sambil berdiri menghadap Shinichi yang hanya setinggi bahunya itu. Di pegangnya kuat pundak anak itu sambil menatap ke dalam matanya.

"Lupakan soal korannya. Setelah ini kita ke rumahmu. Kemas barang-barangmu yang penting saja". Sambungnya lagi sambil mengusap pipi halus yang terasa hangat di telapak tangannya.

"Baiklah..." Shinichi menjawab dengan ragu.


Semerbak bunga yang beterbangan dan memenuhi indera penciuman di sebuah kuil. Keadaan saat itu ramai. Di penuhi gelak tawa anak-anak yang berlarian kesana kemari. Banyak orang berlalu lalang di sekitar tempat itu. Ternyata ada sebuah festival yang di gelar dengan kuil itu sebagai tempat utama. Antrian yang sangat panjang demi berdo'a di kuil tsb, setelahnya mendapatkan kotak yang di bungkus kain berwarna merah. Mungkin isinya seperti makanan atas apresiasi para pengunjung telah datang menghadiri acara yang kelihatannya sangat meriah itu.

Di arah kiri setelah menginjak gerbang kuil yang di hiasi dengan warna-warna yang cantik, ada stand-stand yang menjual makanan, minuman dan tidak lupa juga barang-barang lainnya. Di percantik dengan tenda yang tinggi dan memenuhi seluruh area itu dengan mainan berupa naga berwarna merah yang di tunggangi oleh seorang anak laki-laki. Seakan-akan ada cerita di balik hiasan yang bergantung di tiap stand di sana.

"Selamat datang di Festival Kuil Kirin ! Kalian sedang mencari apa tuan-tuan?" sambut seorang gadis berambut pink yang mengenakan kimono biru gelap dengan motif bunga di bagian kedua kakinya. Tidak lupa rambut yang diikat ke belakang kepala dan diberi hiasan tusuk konde (di bagian ujungnya diberi mainan berupa bulu-bulu berwarna orange kemerahan), juga jepit rambut besar yang menutupi sebagian kepala bagian kirinya.

Sambutan gadis yang memiliki senyuman yang sangat indah itu justru tidak di indahkan sama sekali. Malah beberapa orang yang yang sedari tadi menikmati suasana di sana memandang risih ke arahnya. Bahkan salah satu pria kepala botak mendekati gadis yang bertugas menjadi penyambut orang-orang asing yang datang ke festival tsb. Di pandangnya dengan wajah datar tanpa ekspresi. Tapi justru itu membuat perempuan yang terlihat muda sekali ketakutan.

Tiba-tiba senyum sinis terpatri di wajah pria tsb. Kemudian secara tiba-tiba di rangkulnya bahu gadis yang berusaha berontak itu. "Apa kau sendirian di sini hm? Mau temani kami semua bersenang-senang, nona?" Katanya dan terdengar suara tertawa dari rombongannya di belakang mereka berdua.

"Maaf, anda tidak boleh menyentuh penjaga kuil ini". Suara laki-laki yang tampak seusia dengan Miko, gadis yang tadi hampir di bawa pergi oleh kelompok pengunjung itu, menurunkan paksa tangan pria barusan dan berdiri di depan Miko.

"Hee...kita kedatangan bocah tengik. Apa urusanmu ikut campur heh?" salah satu di antara teman si pria kepala botak itu ikut mendekat.

"Ma-maafkan kami tuan-tuan. Reki, jangan kasar begitu. Sudah tidak apa-apa...kamu ke sana saja". Ucap Miko gelagapan.

"Ta-tapi Mi-"

"Sudah kataku! Nanti aku menyusul". Selanya sambil mendorong tubuh anak itu sejauh mungkin dari sana.

"Cih...drama picisan apa ini? Menggelikan. Ayo kita pergi!" Teriak pria di samping si kepala botak tadi ke teman-temannya. Mereka pun pergi membiarkan Miko, gadis yang tadi hampir di apa-apakan oleh kelompok itu. Ia menghembuskan nafas lega. Dan segera pergi untuk menyambut tamu-tamu lainnya yang baru saja tiba di depan gerbang.

Shinichi dan kaito kini dalam perjalanan menuju tempat yang tidak di sebutkan oleh Kaito. Tadinya ia ingin bertanya mengenai perubahan sikap dan keberangkatan yang mendadak ini. Namun setelah ngobrol-ngobrol sebentar dengan Kaito, matanya tidak bisa di ajak kompromi. Akhirnya jatuh tertidur di kursi samping tempat pria bersurai coklat itu. Yang sedang menyetir mobil hanya tersenyum melihat wajah damai anak itu. Di elus pelan kepala, berharap tidak mengusik waktu tidur barang sedetik pun.

Mereka melaju menuju jalur yang berseberangan dengan ke arah Kota Pusat. Jalanan tampak mulus berbeda dengan yang satunya, tertimbun salju yang cukup tebal hingga sulit untuk di lewati. Pantas saja penduduk sini bilang tidak bisa mengantarkan korban yang ada di restaurant tadi. Untunglah ada klinik terdekat sehingga bisa di amankan sementara ambulance dari kota menunggu jembatan penghubung selesai di perbaiki.

Sekarang, bagaimana caranya menjelaskan, ah bukan...lebih tepatnya harus mulai dari mana agar anak yang di bawanya itu mengerti. Semuanya terlalu rumit. Dia sebenarnya tidak yakin memberitahu anak dari kenalan kliennya.

Ya, Kaito tahu mengenai Shinichi sejak lama, bahkan sebelum dirinya kerja menjadi jurnalis di sebuah departemen tempat di mana semua informasi-informasi dan berita-berita terbaru bisa di temukan. Hanya saja ia tidak ingin mengenang masa lalu untuk sekarang. Ia harus bergerak cepat sebelum malam hari.


*di Arena Blok D Pusat Kota*

"Hei, cepat ambil kain untuk membungkus mayat! Jangan sampai ada yang tahu!" teriak salah satu orang yang sedang berdiri di depan pintu tepat di belakang bangunan yang sudah tidak di gunakan.

"Se-sebentar. Dia kemana sih di saat seperti ini?!" panik temannya yang sedang menggendong seseorang di punggungnya.

"Kita hampir kehabisan waktu! 'Dia' bisa marah nanti. Eh-hei...di mana dia ? Mana Haruki?" sahut temannya tadi sambil membuka pintu lebar-lebar dan masuk untuk membantu temannya tadi untuk mengangkut mayat. Entah apa yang mereka lakukan dengan itu.

"Aku tidak tahu! Sebaiknya kita pergi saja ! Nanti kita ketahuan...cepat!" balas temannya tadi sambil bergegas keluar dari bangunan itu dan memasuki mobil yang sudah di siapkan tidak jauh dari sana.

Dan mereka pun pergi meninggalkan 'Haruki' yang tidak tahu di mana keberadaannya.

Malam di mana rembulan tertutup sepenuhnya oleh awan, setitik cahaya yang memantul di cerminan air dan pantulan tsb akan menyinari sebuah tempat yang belum bisa di jangkau manusia. Namun di sana lah nasib akan di permainkan dunia. Tidak, lebih tepatnya seperti kiamat menyambutmu dengan tawa meremehkan.

Di perjalanan sebelum sampai ke tempat ini, Shinichi sempat bertanya mengapa Kaito ingin dirinya ikut pergi menjauh dari rumah. Ya, biarpun dulu anak itu sempat mengenyam pendidikan di negara lain, tapi kerinduan akan tanah kelahirannya membawa ia kembali ke kota itu. Sekarang harus mendadak pergi dari sana tiba-tiba tidaklah mudah bagi anak yang baru menginjak usia 17 tahun.

Tetapi Kaito hanya diam saja ketika di tanyai. Fokusnya hanya pada jalanan di depan sambil menyetir mobil yang membawa mereka berdua pergi jauh dari tempat sebelumnya.

Dan disinilah mereka berhenti. Tepat di depan area hutan yang di pagari dengan kawat, mobil pun di parkirkan. Saat Kaito mengambil barang-barang di dalam bagasi, Shinichi memperhatikan ke sekitar. Di lihatnya asap yang mengepul di balik sudut dalam hutan tsb. Apa ada yang tinggal di dalam sana?

"Nah, Shin-chan. Jangan melamun. Ayo pergi. Perhatikan langkahmu. Hati-hati". Kata Kaito sembari menggandeng tangan kecil Shinichi dan melangkahi pagar kawat yang tidak terlalu tinggi tsb.

"Ah, oke..." Gugup Shinichi ketika mulai melangkah masuk jauh ke dalam.


*Kota Pusat*

"Maaf sir, sepertinya kita kehilangan satu lagi. Sudah berapa kali sejak beberapa tahun lalu, mayat selalu berhasil dicuri mereka. Sampai sekarang tidakdi ketahui motifnya apa".

"Ya, aku mengerti. Tidak apa-apa. Kita fokus saja mencari jejak mereka". Jelas sosok pria yang mengenakan jas putih dan kacamata bingkai hitam miliknya.

"Tapi ini sudah lama sejak kematian 'orang itu'!" Seru wanita yang dari tadi mondar mandir di ruangan tempat ia dan pria itu berbicara sekarang.

Mendengar penuturan wanita bersurai coklat itu, ia hanya bisa diam seribu bahasa. Pasalnya, pernyataan yang di lontarkan itu memang benar. Mereka seperti tidak di beri kesempatan untuk mencari tahu penyebab banyaknya korban dari kota kecil di ujung sana. Setiap tahun selalu ada yang mati dengan cara yang aneh. Itu yang di dengar pihak rumah sakit melalui penduduk di sana yang menghubungi ambulans. Dan anehnya setiap kali pihak ambulans inign menjemput pasien, tepatnya sudah menjadi mayat, pasti ada saja halangan seperti yang terjadi kemarin. Jembatan penghubung pusat kota dan kota itu tertimbun salju. Selalu saja seperti ini.

Mungkin rumor yang beredar tentang kutukan di suatu daerah dekat kota tsb memang benar. Pasalnya tidak ada satupun yang berhasil menemukan jejak pelaku yang selalu membawa mayat-mayat yang kematiannya sangat tidak biasa itu. Seolah-olah dewa keberuntungan selalu berada di pihak 'mereka'. Ya, 'mereka'. Dokter itu tahu, bahwa yang melakukan aksi pencurian mayat-mayat di sana tidak hanya satu, melainkan lebih dari satu orang.

"Kau benar. Tapi sebaiknya tetap berusaha. Karena keberuntungan tidak akan selalu bersama mereka. Mungkin tahun ini kita akan mendapat petunjuk". Balasnya sambil memandang kota melalui jendela. Lantai tertinggi di bangunan ini memang memiliki view yang bagus. Ia bisa melihat keseluruhan kota yang di cintainya ini. Wanita yang tadi gelisah, kini sudah duduk diam. Dia sedang berdo'a semoga yang di sana baik-baik saja. Manik birunya seakan berkata bahwa dirinya rindu sekali terhadap anak semata wayangnya tsb.


Desa Razkans, letaknya tepat di pinggir kota kecil itu, penduduknya tampak sibuk dengan tradisi yang akan di laksanakan esok. Ya, setiap tahunnya manakala badai salju telah berlalu, mereka akan mengadakan upacara selamatan dengan suasana yang serba mewah. Tiap rumah akan di hiasi lembaran kain-kain yang terbuat dari sutra, di bagian teras di sediakan sembako (pemerintah kota pusat menyumbangkan dana yang cukup banyak agar penduduk sana dapat bagian sama rata) dengan wajan emas, tidak lupa juga aula desa yang bangunannya cukup tinggi dan luas di hiasi dengan berbagai macam pernak-pernik cantik serta makanan yang beraneka ragam di sajikan dalam aula tsb.

Tidak hanya para orang tua, anak-anak juga memiliki kegiatan masing-masing. Ada yang membantu menghias rumah-rumah yang tertata rapi, memasak, dan juga ada yang lebih memilih melakukan pekerjaan yang tidak ada hubungannya dengan tradisi desa itu.

CRINGG...CRIINNGG...

Seperti bunyi lonceng, nyaring dan bergema di dalam ruangan itu. Salah satu bocah laki-laki berlari membawa sebuah kain merah yang di ikat menggunakan tali. Dia melewati kerumunan orang-orang yang sedang sibuk menghias panggung tepat di depan aula desa.

BRAKK!

Bunyi suara keras pintu yang di buka anak itu menciptakan keheningan sesaat. Ya, dia membuka pintu ruangan yang gelap dan tidak ada siapa-siapa. Larinya cukup cepat sehingga warga di sana tidak tahu arah jalan yang di ambilnya. Atau karena merasa tidak penting melihat gelagatnya yang sedikit berbeda dari yang biasanya.

Akhirnya ia sampai di sini.

Tempat persembunyiannya.

Bukan.

Lebih tepatnya ini adalah tempat tersembunyi.

Di balik salah satu pohon besar di dalam hutan, dengan semak-semak yang cukup tinggi, menjadikan tempat masuk ke dalamnya tertutup sempurna. Kapanpun ia ingin pergi tanpa di usik, di sinilah tempat yang tepat.

"Hah...lelah juga menghindari anak-anak yang suka penasaran dengan area di sini. Syukurlah tidak ada yang melihat tadi. Baiklah. Sekarang kita lihat ada apa di balik benda ini". Katanya bermonolog dan memposisikan diri duduk senyaman mungkin di atas sofa usang yang tidak pernah di bersihkan.

"Oke...Harus ku apakan kau hm?" surai hitam itu memandangi kain tsb.

Di bukanya tali yang mengikat benda itu. Seketika kain itu berubah warna. Ia kaget bukan main ketika melihat itu. Ajaib. Bukankah tadi berlumuran darah ?

Di perhatikannya baik-baik. Tidak berapa cahaya keluar dari balik kain yang kelihatan menyembunyikan sesuatu di baliknya. Jatuhlah sebuah benda mirip keris. Namun ini kecil. Hanya seukuran genggaman tangan anak itu.

Memutar keris itu ke segala arah berharap menemukan petunjuk. Nihil. Putus asa dan merasa tidak ada gunanya menyimpan benda itu, ia letakkan di atas meja samping sofa yang di duduki.

Keris itu secara tidak sengaja bersentuhan dengan cermin meja yang retak dan tidak tersentuh sama sekali sejak anak itu menemukan tempat ini.

Seperti bunyi lonceng, nyaring dan bergema di dalam ruangan itu. Kaget bukan main Tanaka ketika ia melihat keris tadi sekarang melayang di hadapannya.

"K-kenapa? Keris ini..." Seketika cahaya yang terang menyelimuti tempat itu.


Di gubuk dalam hutan, dua sejoli itu segera mencari kamar (atau lebih tepatnya tempat tidur untuk beristirahat). Shinichi cuma menemukan satu ranjang di lantai atas. Kamar mandi letaknya tepat di bawah tangga. Lantai dasar ada tempat perapian dan juga satu set meja kursi cukup untuk berdua. Dapur dan lainnya ada di ruangan lainnya persis di samping tangga juga. Malam ini sepertinya ia dan Kaito membicarakan hal yang serius.

"Shinichi...Bisa kemari sebentar?" suara Kaito terdengar dari lantai bawah.

"Tunggu sebentar Kaito-san!" Balasnya sambil terburu-buru mengganti pakaian dengan pakaian yang lebih santai. Paling tidak di sini hawanya hangat ketimbang di kota.

Sesampainya di ruang perapian, ia melihat Kaito dengan kacamata bacanya sedang mengetikkan sesuatu di laptop. Shinichi yang tadi pergi dulu ke dapur ternyata menyiapkan minuman hangat untuk mereka berdua.

"Ah, terima kasih Shin-chan". Katanya sambil menarik kursi satu lagi untuk anak manis tsb. Mereka duduk bersebelahan.

"Ano...Ada apa Kaito-san?" tanya si pemilik surai hitam tsb gugup.

"Panggil Kaito saja. Aku merasa hubungan kita terlalu kaku Shin". Balas Kaito sambil menatap manik langit itu dengan lembut.

"Ta-tapi..." Shinchi terlihat ragu untuk mengiyakan perkataan pria tampan itu.

"Sudah, santai saja. Hei Shin-chan... Ada yang harus aku katakan padamu. Ini penting". Suaranya menjadi berat ketika mulai serius.

"Aku mendengarkan, Kaito-sa, maksudku Kaito". Jawab Shinichi sembari menangkup gelas berisi teh hangat yang tadi ia buat. Hangat menjalar melalui telapak tangan dan itu cukup menenangkan dirinya yang tidak biasa dengan situasi sekarang.

"Kau...Sudah berapa lama tinggal di Anchests sana?" tanya pria itu sambil memandangi wajah orang di sampingnya.

"Err...Mungkin sekitar 5-6 tahun ini sejak aku selesai sekolah di luar negeri. Aku sudah bilang sebelumnya ke Kaito, kalau kakek nenekku pindah 'kan ? Mereka berada di Jepang, dan aku pun juga menghabiskan masa sekolahku di sana selagi belum bisa mandiri. Sebenarnya rumahku di kota memang kosong sejak tidak aku tempati. Mereka berdua pergi terlebih dahulu ketimbang aku. Aku di besarkan oleh seorang ibu yang memang merawatku saat berumur 7 tahun". Panjang lebar ia menjelaskan tanpa di tanya lebih lanjut. Entahlah, mungkin dengan kehangatan yang mereka bagi di tempat ini, ia merasa aman untuk sedikit bercerita tentang dirinya. Suasana yang jarang ia rasakan sejak pulang ke tanah kelahirannya. Bahkan suara api unggun di perapian memanjakan pendengarannya. Ia menikmati dalam diam.

"Hmm... Kau tahu soal kematian yang janggal di sana? Maksudku, sejak kau lahir, besar dan bahkan sempat tidak kembali, dan sekarang sudah pulang ke tempat itu lagi, apa tidak ada yang kau ketahui sedikitpun? Seperti mengapa keadaan mayat selalu sama. Tidak wajar. Tidak ada tanda-tanda kekerasan atau pemberontakan oleh korban-korban. Tempat dan waktunya, atau mungkin keberadaan pelaku?" Kaito menjelaskan semuanya tanpa jeda kepada remaja yang tampak panik akibat pertanyaan-pertanyaan yang di lontarkan pria bersurai coklat itu.

"Eh ?! A-anooo...Aku...Tunggu sebentar Kaito, satu-satu. Aku tidak tahu semuanya. Jadi berbicaralah pelan-pelan". Shinichi spontan memegang kedua bahu yang tampak lebih lebar di banding miliknya.

Kontak fisik yang terjadi tanpa di duga itu mengundang keheningan di antara mereka berdua. Remaja manis itu menyadari apa yang ia lakukan, kemudian ia cepat-cepat melepaskan kedua tangannya dari bahu Kaito yang terdiam tidak merespon sahutan Shinichi.

"Ma-maaf! Maaf aku tidak bermaksud Kai-"

Belum sempat menjelaskan apapun, kedua tangan kecil itu di genggam oleh orang di hadapannya, kemudian di kecupnya punggung tangan putih mulus tanpa cacat milik anak tsb.

"Ssshhh...Tidak apa-apa. Aku juga terlalu lancang menanyakan hal yang tidak ada hubungannya denganmu". Di elusnya dengan lembut jemari Shinichi yang kini wajahnya makin memerah.

Di tatapnya intens mata remaja yang telah memikat hati sejak pandangan pertama, dengan gerakan yang sangat pelan, Kaito mempersempit jarak di antara mereka berdua membuat kening mereka beradu.

"Ka-Kaito. Tunggu-" ucapan Shinichi di potong oleh Kaito yang langsung melumat bibir tipisnya. Mendapat perlakuan seperti itu, anak itu tidak bisa berkata-kata.

"Maaf Shin...Anak seusiamu seharusnya tidak mengalami hal ini. Besok saja kita bicara lagi. Pergila tidur. Aku menyusul setelah urusanku selesai". Kaito berdiri dan berniat pergi dari sana untuk menghirup udara di luar, namun langkahnya terhenti ketika ia merasakan tangan hangat yang memegang lengan kekarnya.

Shinichi lagi-lagi gelagapan waktu sadar dirinya malah bersikap seakan tidak ingin Kaito pergi. Ia masih kaget dengan ciuman barusan. Matanya membelalak kala melihat pria itu berdiri di hadapannya dan menangkup wajahnya dengan sebelah tangan. Manik biru langit bertemu manik hitam. Ada desiran yang mengalir di darahnya. Reflek, di tariknya tangan kecil yang memegang lengannya tadi. Shinichi tidak bisa berbuat banyak, ia hanya diam saja menuruti Kaito.

Di peluknya pinggang mungil anak manis itu. Di pandangnya sekali lagi orang yang di sayangi, kemudian berbisik dengan pelan di telinganya.

"Shin... Jangan bersikap seperti ini. Atau kau akan menyesalinya". Kata Kaito dengan tegas. Namun tidak bisa di pungkiri, anak yang di peluknya juga tidak mengerti kenapa ada perasaan hangat yang menjalar dengan tubuh mereka yang menyatu seperti sekarang.

"A-aku..." anak itu tidak mampu berkata-kata. Dan itu menjadi tanda bagi Kaito yang tidak tahan lagi untuk memonopoli makhluk indah yang berada di genggamannya sekarang.


Segera mendudukkan diri di kursi yang tidak cukup empuk, Kaito membuka salah satu koper dan mengambil laptop di dalamnya. Sedangkan Shinichi membersihkan badannya di kamar mandi, tubuhnya terasa sangat lengket. Ia tak ingat apa yang terjadi semalam. Atau mungkin berpura-pura. Capek yang luar biasa ia rasakan ketika bangun tadi. Jam menunjukkan pukul 06:00 dan cuaca di luar mendung. Selalu seperti ini berbeda dengan saat ia di Jepang. 4 musim berganti dan itu membuat dirinya jauh lebih hidup ketimbang tinggal di Anchests.

Sembari membersihkan beberapa bagian di tubuhnya, ia teringat pesan yang di sampaikan sosok 'ibu'nya sewaktu kecil.

"Shin... Kamu kalau sudah besar nanti, kalau memang mau tinggal bersama, Ibu ada di Pusat Kota. Datanglah kapanpun kau mau. Kehadiranmu di rumah baru di sana pasti menyenangkan. Juga, ada orang yang ingin ibu kenalkan padamu". Surai blonde itu memeluk tubuh anak 5 tahun dengan mata besarnya yang memandang tidak mengerti ke arahnya. "Tidak apa-apa kalau tidak mau. Tapi ibu harap kau datang sesekali melihat Ibu. Cuma kamu yang ibu punya sayang". Lanjutnya sambil mengelus pelan kepala anak tsb.


*Kuil Kirin*

Setelah menggelar Festival, warga di sana dan yang bekerja di Kuil tsb kini sibuk membersihkan halaman dan juga membereskan barang-barang yang sudah tidak di pakai lagi. Selalu seperti ini, warga sekitar dan yang membuka stand-stand makanan turut bantu membersihkan area tempat ibadah tsb secara sukarela. Pendeta-pendeta yang sudah usia lanjut tidak diperbolehkan keluar dari kuil. Mereka harus berdo'a kepada dewa-dewa atas rasa syukur mereka hari ini karena membiarkan perayaan di sana berjalan lancar.

Salah satu pendeta yang sedang membakar dupa, mendengar suara pintu di belakangnya di buka oleh seseorang. Namun tidak mengusik kegiatan rutinnya dalam berdo'a. Sosok di balik punggungnya pun duduk tidak jauh dari tempat pendeta tsb sekarang. Ia menunggu dengan tenang sampai orang di depannya selesai dengan apa yang ia lakukan.

"Mau apa datang kemari?" suara seraknya terdengar setelah beberapa menit. Berbalik ke arah anak yang sedang memandanginya dengan ekspresi yang susah di jelaskan.

"Pak Pendeta...Kejadian hari ini...Miko bertemu beberapa orang yang mengganggunya. Mereka seperti komplotan orang yang memiliki niatan buruk ketika datang kemari. Aku melihat salah satu di antaranya ada yang menggunakan tattoo Shiragiku. Saya yakin mereka bukan dari daerah sini". Katanya menjelaskan sambil menunjukkan sebuah simbol di atas kertas putih.

"..."

"Dan ada kasus kematian penduduk utara lagi, pak pendeta. Bagaimana kalau i-"

"Tidak apa-apa. Memang selalu seperti itu. Kita tidak bisa berbuat banyak. Bahkan berdo'a sepanjang waktu di sini tidak juga mendatangkan petunjuk untuk semua kejadian yang menimpa daerah ini". Pendeta memotong ucapan anak itu dengan tenang. Wajahnya murah namun tidak terdengar panik ketika anak di hadapannya tsb memberitahukan kabar duka yang (selalu) terjadi tiap tahunnya.

"Sebaiknya kau jaga Miko. Jangan sampai dia pergi menghilang seperti pendahulunya. Dia generasi terakhir dari keluarga Shinseina no Hana Rei". Katanya sembari berdiri dan keluar dari ruangan itu. Meninggalkan anak laki-laki yang masih sangat kecil untuk mengetahui sisi gelap dari dunia luar sana. Ya, ia sendiri menyadari adanya keterlibatan orang lain dalam mencari tahu sejarah Kuil Kirin yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu.

Rei yang mendengar kalimat yang di ucapkan pendeta hanya diam termangu. Tidak bisa berkata apa-apa lagi karena memang faktanya para miko sebelumnya menghilang, tidak di ketahui keberadaannya. Dan setiap kali itu terjadi-

"Ah, lupakan. Sebaiknya ikut beres-beres di luar". Katanya sambil mengangkat bahu. Berlalu dari ruangan itu dan meninggalkan dupa yang masih menyala.

Ya. Baik pendeta maupun Rei sama-sama melupakan satu hal. Dupa yang tidak di matikan lagi, akan mengundang kematian seseorang di kuil itu. Satu kebenaran yang tidak pernah di ungkapkan.