CHAPTER 3

Menjelang tengah malam dalam penyambutan 'kelahiran bulan baru', Kepala Desa Razkans membagikan tugas kepada warganya untuk berjaga malam demi keamanan di sekitar. Beberapa orang khususnya remaja laki-laki di minta untuk mengawasi area aula yang biasanya di gunakan untuk upacara tradisi besok. Sedangkan yang dewasa mengelilingi desa sembari memeriksa tiap rumah, memastikan bahwa setiap hiasan-hiasan yang wajib di pasang sudah siap semua.

Saat berjalan sendirian, seorang anak yang kebetulan akan pergi ke aula untuk berkumpul dengan teman-temannya melihat ke arah salah satu rumah yang berada di ujung perbatasan desa. Tadi dia pergi ke danau dekat gunung, sudah menjadi rutinitasnya kembali ke desa larut malam. Di sipitkan matanya untuk fokus melihat ke rumah tsb, dia merasa melihat sekelabat bayangan yang berjalan di balik jendela depan rumah.

"Bukankah itu rumah kosong ya ? Kan pemiliknya sedang pergi keluar desa". Batinnya sambil melangkah mendekati tempat itu.

Saat memperhatikan lebih dekat, tiba-tiba lampu di dalamnya padam. Kaget. Ia segera memanggil orang yang mungkin ia lihat tadi di sana.

"Permisi. Apa ada orang di dalam?" Katanya sambil mengeraskan sedikit suara, agar siapapun yang di lihat tadi mendengar.

...

...

Nihil. Tidak ada jawaban. Bahkan hawa keberadaan orang pun tidak bisa di rasakan. Lantas tadi apa ia salah lihat ? Ia yakin sekali kalau lampu rumah ini tadi menyala. Apa lampunya putus?

"Hah...Perasaanku saja ya". Monolognya sembari membalikkan badan dan berniat menyusul temannya segera.

*Krieettt*

DEG

Su-suara apa itu ? Dari arah belakang ? Tunggu, tidak mungkin kan itu dari rumah tetangganya ini ?

*BLAM!*

Gasp

Nafasnya berhenti tatkala suara yang keras itu terdengar jelas. Mengumpulkan sedikit keberanian, ia menoleh ke belakang. Alangkah kagetnya ketika mendapati pintu rumah itu terbuka lebar. Jantungnya berdebar kencang.

"Ha-halo...?" Katanya mencoba memastikan sekali lagi. Rasanya ia ingin lari saja dari situ. Tapi rasa penasaran mengalahkan segalanya.

Baru saja mau mendekati teras rumah tsb, tiba-tiba ada sebuah bayangan hitam yang muncul di dalam ruangan depan pintu. Terdengar langkah kaki yang berat. Berdiri seperti patung, bahkan tidak bisa bicara. Hawa disana terasa dingin. Leher seakan tercekik tanpa memberikan ruang oksigen untuk masuk ke paru-paru.

...

...

...

"Si-siapa itu?! Bi-bibi? Paman? Ini aku Keishiro" teriaknya karena panik sudah menguasai dirinya.

...

...

*SREK...SRAAKKK!*

!

"HMPHH!HMMPPP!" Tanpa peringatan tubuh anak itu dililit sesuatu berwarna hitam dan memaksanya masuk ke dalam rumah.

*BRAK!*

Pintu itu kembali tertutup dan lampu di dalamnya menyala kembali.

Tidak ada seorang pun yang tahu kejadian ini. Tidak ada yang lewat di sana. Keberadaan Keishiro di nyatakan hilang. Itulah yang di beritakan oleh warga desa sana ketika beberapa hari setelah 'Hari Penyambutan Bulan Baru' berakhir.

Setelah cukup lama berburu hewan untuk di makan, Kaito pulang membawa 1 rusa yang di panah tepat di jantungnya. Di geretnya menggunakan gerobak kayu yang ada di gudang. Ia sempat menyusuri area sana hingga ke sungai yang airnya beku. Cuaca hari ini tidak begitu dingin, tapi tetap saja membuatnya menggigil kedinginan juga.

Tadinya mau mengajak Shinichi juga, sekalian di ajari agar anak itu bisa bertahan hidup dan tidak bergantung sama orang kalau-kalau tinggal di daerah yang medannya tidak dia kenali. Tapi anak itu menolak karena masih tidak enak badan, atau tepatnya di beberapa bagian tubuhnya ada yang 'sakit'. Mengingat kejadian sebelumnya ia tersenyum sendiri. Mungkin tidak apa-apa ia hidup bersama Shinichi selamanya, jika memungkinkan. Karena anak itu sudah memberi warna dalam hidupnya dan Kaito sendiri tahu ia tidak bisa lepas dari jerat pesona si surai hitam tsb. Ingin membawa anak manis itu pergi jauh, tapi tujuan utamanya harus di prioritaskan. Ada hal yang lebih penting sekarang. Dan harus cepat menemui 'orang itu' ketika semua pekerjaannya di sini selesai.

Saat melamunkan banyak hal, manik biru gelapnya menangkap ada benda yang tersembunyi di balik salah satu pohon yang tidak ada daunnya sama sekali. Angin menerpa wajahnya, kembali mengalihkan fokusnya ke depan. Tapi tetap saja, aneh kalau di pikir lagi. Karena dirinya yakin melihat pakaian yang bertumpuk di sana. Dan menghilang begitu ia mengerjapkan mata akibat salju yang mengenai matanya.

Untuk sekedar memastikan...

Batinnya berkata dan akhirnya memilih untuk mendekati tempat di mana ia melihat pakaian tadi.

Sedikit lagi ia sampai, lumayan lama ia berjalan karena tebalnya salju.

BRAAAKK!

Kaito dikagetkan dengan suara yang terdengar jelas itu, padahal angin sedang bertiup kencang.

Apa-apaan suara itu ?

Akhirnya ia mengurungkan niatnya. Angin semakin kencang. Sebaiknya pulang sebelum Shinichi mencarinya. Sudah hampir sore juga ini.

Dan dengan itu ia pulang membawa hasil buruannya dengan cepat. Mungkin nanti malam 'rumah' mereka akan tenggelam salju.

Tanpa ia sadari, dari jarak yang cukup jauh ada sepasang mata memperhatikan dirinya. Di iringi dengan suara geraman bak binatang buas yang sedang melihat gerak-gerik mangsanya.

PRANGG!

Suara piring pecah di dapur.

Darah menetes, sebagian mengalir deras dari jari telunjuk kecilnya.

Shinichi panik, ia tidak tahu harus berbuat apa.

Warna merah itu menghantuinya. Ia tahu, ia tak akan lepas dari traumanya.

Akhirnya berlari mencari kotak berisi obat. Apapun,tolong hentikan ini. Aku tidak kuat melihatnya! Batinnya menjerit sambil mencari-cari apapun yang bisa menghentikan darah yang mengalir.

Namun nihil, anak itu akhirnya segera menyiram jarinya yang terkena pecahan piring yang jatuh.

Sambil membasahi jari yang terluka, ia menahan isak tangis.

Ibu...Aku takut bu. Ayah kenapa tidak bangun dari tidurnya? Ayah tidak mau melihatku lagi? Kenapa tubuh ayah di penuhi darah?

"Ugh...Sial! Aku benci! Menghilanglah!" Teriak remaja manis itu sambil terisak. Ia terus menerus menggosok jarinya dengan keras, yang hanya membuat darah semakin merembes deras.

"Shin-chan! Kau kenapa?! Aku mendengar suara dari pintu depan". Kaito bersuara ketika menghampiri Shinichi yang berada di dapur.

"Ka-kaito...Sakit...Nggak mau berhenti...Ugh!da-darahnya-"

"Astaga Shin! Apa yang kau lakukan?! Kemarilah. Biar aku obati!" Serunya panik melihat sosok manis itu menangis sesengukan.

Di tariknya jari kecil itu, kemudian menarik pelan Shinichi untuk duduk di kursi.

"Sebentar...Kau jangan menangis lagi. Aku ke kamar dulu. Ku ambilkan obatnya. Tekan saja pakai kain ini". Dengan itu Kaito segera berlalu dan menuju kamar mereka di lantai atas sambil berlari kecil.

Shinichi hanya diam saja. Ia tidak tahu harus berkata apa. Setiap kali terluka, orang-orang di kota baik tetangga atau siapapun selalu menolong dan mengobatinya. Ia tidak pernah di biarkan melakukan tindakan atau apapun itu jika berhubungan dengan darah. Makanya hanya menurut apa yang di katakan pria yang saat ini satu atap dengannya.

Satu atap? Seakan mereka menikah dan tinggal di sana. Mimpimu terlalu jauh Shin. Batinnya mengejek diri sendiri.

Sementara Shinichi asyik dengan dunianya sendiri, Kaito terburu-buru mengambil kotak obat yang ia bawa dari kota. Ya, segala sesuatu harus di siapkan jauh-jauh hari 'kan?

Di lihatnya beberapa barang berceceran di atas tempat tidur mereka berdua.

Berinisiatif untuk membereskan sedikit kekacauan di depan matanya, secarik kertas muncul di balik tumpukan pakaian anak yang sekarang tinggal bersamanya. Penasaran, kemudian dia mengambil benda itu dan melihat apa yang ada di baliknya.

*when the sun is caught by the moon's charm, it tried to escape but end up fell so hard in their embrace*

Ini...sepertinya aku pernah melihat ini. Tapi di mana?

Ah, gawat. Aku lupa dengan Shinichi. Dia nanti panik.

Dan dengan itu, ia pun segera bergegas keluar kamar dan menghampiri anak manis yang masih terdiam di kursinya.

"Shin. Kemarikan tanganmu". Shinichi yang mendengar suara berat orang yang di kaguminya pun segera menjulurkan tangannya.

Jari kecilnya di sentuh oleh Kaito. Saat melihat luka itu, Kaito tersenyum.

Ia jadi teringat waktu dulu, ketika dirinya masih berusia 17 tahun, ada bocah dengan manik birunya menangis karena terjatuh dengan keras menghantam tanah saat bermain ayunan di sebuah taman. Anak itu sendirian, jadi Kaito sengaja duduk di bangku taman sambil memperhatikannya. Niatnya memang untuk mencari ketenangan sepulang dari sekolah.

*Flashback*

Bocah itu dengan senyum lebarnya menaiki ayunan sambil menggoyangkan badannya ke depan dan belakang agar makin cepat ayunan tsb bergerak. Tapi karena tangan mungilnya tidak menggenggam sisi ayunan dengan kuat, ia terjatuh. Begitulah cerita ia berakhir menangis.

Orang dewasa di sana tidak ada. Sepi di sore hari. Kaito mengkerutkan dahinya heran, kemana orang tua anak itu ? Kenapa dia sendirian ?

Sambil bertanya-tanya, ia mendekati sosok kecil yang rapuh itu sambil menepuk bahunya dengan pelan. Takut mengagetkan anak tsb.

"Kamu tidak apa-apa?" Katanya sambil menatap anak itu. Matanya berwarna biru langit... Indah sekali. Seperti menatap langit yang bersih tanpa ada satu pun awan di sana.

"Hiks...Sakit...Nii-san siapa? Kata mama tidak boleh dekat-dekat sama orang yang tidak di kenal". Sesenggukan terdengar sambil memegang lututnya.

"Aku bukan orang jahat. Lihat. Aku masih sekolah kok. Sini ku gendong. Duduk di bangku saja. Ku belikan obat dulu ya". Balasnya sambil menggendong anak itu dan membawa mereka berdua ke tempat Kaito duduk tadi.

"Mamamu di mana?" Tanya Kaito dan menatap anak yang sudah duduk sambil memegang lututnya yang berdarah itu.

"..."

"Hm?"

"Anoo...Mama pulang malam. Aku di sini sendirian karena tidak ada yang bisa di ajak main." Balasnya sambil menundukkan kepalanya. Manik biru itu memperhatikan luka di lututnya, melamunkan sesuatu yang tidak di ketahui anak SMA itu.

"Kamu pintar sekali menjawab pertanyaan orang. Mamamu pasti bangga ya hahaha". Candanya sambil mengusap kepala anak itu dengan gemas.

"A- aku... Terima kasih Nii-san". Tersipu malu di puji orang itu. Entah kenapa dadanya terasa hangat.

"Ya sudah. Kamu duduk manis di sini. Aku belikan eskrim sekalian. Oke?" Katanya sambil berdiri dan mengedipkan sebelah mata ke bocah itu.

"Eh- i-iya..."

*End Flasback*

"...to? Kaito!" Teriak Shinichi ketika melihat Kaito berdiri diam di depannya tanpa bergerak sama sekali.

"Ah! Eh maaf. Aku tadi melamun sebentar. Sini ku obati". Ucap Kaito sembari menarik kursi dekat anak itu.

Dengan telaten di bersihkan luka dan darah yang masih mengalir menggunakan alkohol. Sedikit perih, tapi Shinichi bisa menahannya.

Ekspresi anak itu terus menerus berganti dengan apa saja yang di lakukan Kaito terhadap jarinya yang terluka. Imut. Itulah yang ia pikirkan.

"Tidak pernah melakukan penanganan pada luka atau semacamnya, Shin?" Tanya pria bersurai hitam itu sambil membuka perban yang masih di bungkus. Ia membelinya dalam jumlah banyak. Sekedar mengantisipasi kalau ada apa-apa.

"Ti- tidak...Biasanya ibu ku dan tetangga yang membantu. Ibu bilang aku tidak perlu melakukan segalanya sendirian selama ia masih hidup".

Mendengar penuturan anak itu, dia berhenti sejenak dan kembali melanjutkan dengan memberi selotip pada ujung perban yang sudah di liliti pada jari kecil itu.

"Ibumu di mana sekarang?" Katanya setelah diam beberapa saat.

Kini giliran anak yang di tanya terdiam. Dia harus jawab apa? Padahal sendirinya sudah lama tidak mendapat kabar dari sosok ibu satu-satunya.

"Aku tidak tahu... Mungkin dia pergi ke tempat yang jauh saat ini". Jawaban yang ambigu. Namun cuma itu kata-kata yang bisa ia pikirkan.

Dan Kaito hanya bisa mendengar perkataannya. Ia tidak berniat melanjutkan apa yang di bahas. Kondisi anak itu sedang tidak baik-baik saja. Terutama apa yang telah mereka perbuat kemarin malam.

Kemarin...

Tunggu...

Ba- bagaimana bisa dia melupakan itu?

Benar juga. 'Kan setelah itu mereka tidak berbicara sama sekali. Lebih tepatnya ketika ia keluar kamar, di lihatnya Shinichi yang sedang sibuk di dapur. Tidak ingin mengganggu, pria itu pun pergi keluar untuk mencari bahan-bahan makanan.

Ah dia malu. Rasanya ingin mengubur diri sendiri saja. Mau mengungkapkan perasaan, tapi takut di tolak. Tapi kenapa saat itu Shinichi tidak menolak? Berarti ada kemungkinan Shinichi juga ada rasa sama dia ?

...

Bodoh amat. Dia harus minta maaf segera. Saat ini mereka cuma tinggal berdua. Tidak akan ada yang menganggu.

Tapi kapan ?

Berpikir sebentar , akhirnya ia memutuskan untuk membicarakan kejadian 'itu' nanti malam saja. Semoga saja anak itu mau memaafkannya.

Tangan kanannya terasa hangat seakan ada yang menggenggam. Ternyata Shinichilah yang melakukannya. Dengan wajah bersemu merahnya, dan juga sikap yang malu-malu itu membuat hati pria itu menghangat. Bukankah anak tsb kejam padanya, membuat jantung berdegup kencang, hatinya sudah tidak bisa ia serahkan ke orang lain lagi. Pesona yang di miliki oleh pemilik manik biru langit itu membuatnya jatuh hati, dalam dan lebih dalam lagi. Nafasnya tercekat ketika sepasang mata yang dari tadi hanya memandang ke kedua tangan mereka yang bertautan itu kini melihat tepat di mata miliknya.

"A- aku sudah tidak apa-apa. Terima kasih sudah mengobati lukaku Kai- AH!"

Belum selesai dia bicara, tahu-tahu Kaito menarik tangannya dan membiarkan tubuh Shinichi jatuh duduk dalam pangkuannya.

Posisi ini berbahaya. Tapi Kaito tidak akan mundur. Ia mengurungkan niatnya untuk meminta maaf nanti, lebih cepat lebih baik bukan?

"Shin. Maaf aku lancang. Tapi tolong jangan bersikap manis seperti ini". Di elusnya pipi anak itu, jarak wajah mereka berdua sangat dekat. Nafas satu sama lain saling bersahutan, bahkan Shinichi bisa merasakan nafas itu mengenai wajahnya, kemudian ke lehernya. Tunggu, kenapa bisa sampai ke-

"Ngh... Ka- Kaito! Apa yang kau lakukan?!" panik ketika menyadari bahwa Kaito telah membenamkan wajahnya ke leher putih mulus miliknya.

"Ssshh... Shin-chan, aku minta maaf atas apa yang sudah aku lakukan kemarin malam. Aku- Aku tahu aku salah! Terbawa suasana sesaat tanpa memikirkan perasaanmu. Aku egois saat itu. Aku akan bertanggung jawab". Tegasnya sambil menatap mata itu sekali lagi. Kini tatapannya melembut, dan terdapat penyesalan yang sangat mendalam. Shinichi tidak bisa marah.

"Be- bertanggung jawab? Maksudmu-"

"Jadilah kekasihku. Aku tahu sekarang bukan waktu yang tepat untuk mengatakannya, tapi... Aku benar-benar menyukaimu. Sejak awal. Dan aku tidak cukup dewasa karena memaksamu untuk 'melakukan'nya denganku. Apa kau memaafkanku? Ah, tapi sekedar minta maaf saja tidak mungkin. Ini membingungkan. Aku tidak tahu harus bagaimana". Ucap Kaito memotong omongan Shinichi, lagi.

Ekspresi kaget miliknya sudah tidak bisa di sembunyikan lagi, ini sudah melebihi dari yang ia kira.

Shinichi sendiri tahu kalau saat itu emosinya tidak bisa di kendalikan, tidak bisa di bedakan mana yang cinta atau hanya terbawa suasana sesaat.

"Itu...Kurasa aku juga salah. Mungkin...kamu menunggu? Aku, aku tidak tahu perasaanku ke Kaito ini apa. Tapi aku memang nyaman kalau kamu di sampingku. Bi- bisakah?" Jawabnya gugup sembari memegang jari telunjuk pria yang telah membuatnya tidak bisa mengalihkan pandangan darinya. Di genggam dan di elusnya dengan pelan, berusaha menyampaikan perasaannya lewat sentuhan ringan tersebut.

Namun Kaito menganggap itu imut. Ya, mengelus 1 jarinya seakan milik Shinichi kecil layaknya anak berusia 5 tahun, menggemaskan sekali. Ingin sekali ia memanjakan anak itu setiap saat. Mungkin ada sisi Shinichi yang belum pernah dia lihat. Yah, lagipula memang mereka baru bertemu beberapa hari ini saja 'kan?

"Ya...Tidak masalah kalau memang maumu begitu Shin-chan. Tapi, bolehkah aku meminta satu ciuman malam ini?" Genitnya mengedipkan mata ke remaja yang langsung saja wajahnya berubah merah padam.

"Ka- Kaito! Apa-apaan?! Eh!? Seben- HNGH!" Belum sempat protes, bibirnya sudah di lumat oleh pria itu. Dia kaget bukan main dengan Kaito yang agresif. Bahkan lebih parahnya lagi, ia merasakan bahwa tangan kekar yang besar itu mulai masuk ke dalam bajunya dan mengelus punggung mulus itu dengan lembut.

Kalau kejadian malam itu terulang lagi, bisa-bisa dirinya tidak bisa berjalan sampai tengah hari. Ya, kurang lebih sosok dewasa itu memiliki stamina yang besar.

Langsung saja dengan tergesa-gesa Shinichi mendorong bahu Kaito, ia tidak bisa bernafas selama sesi ciuman panas itu. Kalau hanya sekedar mengecup atau mengulum bibir mungkin tidak masalah,tapi barusan Kaito memainkan lidah mereka berdua dengan intense. Anak bersurai hitam itu tidak mau sampai ke tahap selanjutnya. Ia belum terbiasa, terlebih pria yang menyatakan perasaannya membuat ia tidak tahu harus bersikap bagaimana.

"Hah...Haahh...Cukup Kaito. Aku mau tidur duluan. Selamat malam" Ucap Shinichi sambil mengelap bibirnya yang basah dan sebelum berbalik ke arah tangga menuju kamar, ia sempat mengusap wajah tampan milik orang yang membuat dadanya berdebar kencang.

Dengan bodohnya karena menerima perlakuan lembut Shinichi, ia pun menjawab "Se- selamat malam Shin...". Yah, cinta memang bodoh.