CHAPTER 4
Mimpi.
Mimpi yang biasanya selalu datang di tiap malam.
Sebagai bunga tidur dan sebuah peringatan dan kejadian di masa lampau maupun di masa yang akan datang. Akan adanya bahaya ataupun keberuntungan yang menghampiri. Cahaya dan kegelapan dalam dunia alam bawah sadar.
Itu pun jika masuk akal bagi manusia...
Keringat dingin mengalir deras basah hingga ke punggungnya. Tubuh kurus itu terus menerus bergerak dengan keadaan mata tertutup. Kepala di gelengkan ke kanan dan kiri seakan merasa terganggu dengan waktu tidurnya.
Bunga...darah...manusia...semuanya berputar dengan cepat tanpa jeda. Berulang-ulang seperti kaset rusak.
Lengkap sudah. Rihito, apa kamu percaya dengan keberadaan Tuhan?
Dia yang di tanya tidak bisa menjawab. Tubuh tidak bisa di gerakkan, bahkan dia yakin suaranya tidak akan keluar dari mulut untuk menjawab pertanyaan yang di lontarkan padanya.
Tidak?
Maka akan ku tunjukkan, sosok yang akan menguasai dunia dan merubah tatanan kehidupan di bumi.
Takdirmu ada di hadapannya. Di hadapan Ayah Para Dewa, Rihito.
Kembalilah wahai jiwa yang suci. Bawa ragamu ke tangan sang perusak.
Bersamaku...
"Tidak. Ti-tidak mau...T- TIDAK!" Teriakan itu menggema bersamaan dengan dirinya yang terbangun dalam tidurnya.
Nafasnya tidak beraturan, dia masih tidak percaya dengan yang di lihat dalam mimpi barusan. Apa yang di maksud makhluk itu dengan sang perusak?
Berusaha mengatur nafas dan menstabilkan detak jantungnya yang kian berdebar kencang. Setelah tenang, dia berdiri dari tempat tidur dan melamun untuk beberapa saat.
...
Mungkin hanya perasaannya saja. Sebaiknya membersihkan tubuh sebelum keluar rumah.
Suara gemerincing terdengar tanpa henti selama upacara tradisional berlangsung. Semua warga desa di minta berkumpul di depan aula desa dan berdo'a sesuai keyakinan masing-masing. Tapi semua tetap mempercayai dengan adanya Bulan Merah yang akan muncul di malam hari nanti, adalah simbol dari hari kelahiran dan kebangkitan. Hal-hal baik selalu membanjiri desa ini, memberikan kebahagiaan dan juga kemakmuran.
Kepala Desa Razkans berjalan dengan diiringi para penari khusus yang juga berasal dari sana. Setiap tahunnya akan ada satu anggota yang bertambah untuk meramaikan festival di hari isitimewa ini.
Langkah kaki kecil itu menuntunnya menuju depan pintu aula, sepanjang perjalanan ia berjalan lurus ke arah pintu yang telah di bagi menjadi dua sisi kiri kanan. Warga yang berdiri di aula tsb, memperhatikan dengan seksama apa saja yang di lakukan orang yang telah bertahun-tahun memimpin desa ini dengan baik. Ia melakukan pembukaan acara penting ini dengan pidato, kemudian di lanjutkan dengan berdo'a bersama dan tidak lupa upacara tarian untuk memuja Sang Agung. Semuanya berjalan lancar dan semua orang antusias menyambut bagian prasmanan.
Salah satunya adalah anak yang bekerja di hotel. Dia adalah Rihito. Anak yang masih sangat muda namun memiliki keterampilan yang sangat di sukai orang sekitar. Pernah di berikan tawaran oleh Kepala Desa untuk pergi ke kota, sekolah dan mendapat pekerjaan yang lebih layak. Namun anak itu bilang dia tidak tertarik. Dia menikmati kehidupan di Desa Razkans yang telah membesarkannya, tumbuh menjadi sosok yang baik seperti sekarang.
Terlebih lagi selalu mengadakan penyambutan bulan baru. Banyak makanan yang di sajikan dan juga semuanya gratis. Lumayan bisa dibawa pulang untuk persediaan dalam jangka waktu panjang. Hehe.
"Hei. Apa kau dengar kabar tentang hilangnya seorang anak?"
"Lagi?! Astaga apa yang terjadi di sini. Bukankah kita selalu mendapatkan semua yang kita mau setiap tahunnya?"
"Ya. Aku juga heran kenapa bisa ada kejadian seperti ini. Setiap tahun satu orang anak akan hilang, bertepatan sehari sebelum kelahiran bulan baru"
"Hei! Jangan keras-keras. Nanti ada yang dengar. Kepala Desa telah memperingatkan kita 'kan masalah ini."
"Benar. Sebaiknya kita pura-pura tidak tahu saja."
Percakapan yang di dengar Rihito itu mengundang rasa penasaran. Kenapa mereka mengatakan setiap anak hilang setahun sekali? Lalu kabarnya bagaimana, apakah mereka semua sudah di temukan?
Ingin mengetahui lebih jauh lagi, bocah bersurai pirang itu segera mengikuti dua orang yang tadi berbicara tidak jauh dari belakangnya. Semua orang pada sibuk dengan dunianya sendiri, sedangkan ia tanpa sengaja mendengarkan percakapan yang sepertinya tidak banyak orang tahu.
Lalu kenapa Kepala Desa menyuruh mereka untuk diam, bukannya memberitahukan kabar ini ke warga? Ada perasaan tidak enak yang menyelimuti dadanya.
Fokusnya dialihkan ke dua orang yang entah mau pergi kemana, yang pasti nalurinya berkata untuk memilih diam dan mengikuti tanpa menimbulkan suara.
...
ri...
Lari dari sana! Sekarang!
Kaget ketika mendengar suara cukup keras yang sumbernya tidak tahu dari mana. Suara wanita berteriak kencang tepat di depan yang di yakini Rihito adalah goa, bertepatan dengan dua pemuda yang hampir saja masuk ke dalam sana. Dirinya tidak sadar bahwa mereka sudah berjalan cukup jauh dari desa.
Sama sepertinya, dua orang tsb kaget dan segera berlari. Rihito yang tidak jauh dari sana segera menyembunyikan diri di balik semak-semak yang tinggi. Hampir saja ketahuan oleh mereka.
Justru semakin penasaran, dia berniat memasuki goa yang tidak terlihat besar tapi juga tidak kecil. Saat itulah dia mendengar sebuah suara menyambutnya dengan amarah.
"KAU! KENAPA MASIH DI SINI?! KU BILANG PERGI! BAHAYA UNTUK MAKHLUK SEPERTIMU. KAU BISA MATI!" Raungan itu menggema dalam goa tsb dan Rihito hanya diam saja tanpa berkata apapun.
Ia pernah mendengar kabar dari kakeknya, dari tempat mereka di lahirkan, jauh di sudut hutan yang tidak terjamah oleh manusia, ada lubang yang cukup muat di masuki oleh satu atau dua orang yang menyerupai goa dan juga selalu terdengar jeritan pilu seorang wanita yang meronta kesakitan. Belum di ketahui kenapa wanita itu ada di sana, tidak ada yang berani masuk untuk melihat rupanya maupun menanyakan apa yang membuat wanita tsb tidak bisa keluar dari tempat yang gelap itu.
"Tidak apa...Aku hanya ingin menolong anda. Apa benar anda adalah 'itu'? Seseorang pernah menceritakan tentang anda dan alasannya memang belum diketahui pasti. Namun sepertinya aku tahu kenapa anda bisa terjerat di dalam. Mungkin aku bisa membantu anda." Dengan sedikit keraguan dia membalas, berusaha sebaik mungkin agar tidak menyinggung orang yang ada di dalam.
...
Tidak ada jawaban sama sekali. Hening dalam beberapa menit dan Rihito menganggap itu penolakan. Mungkin lain kali sa-
"Baiklah...Kau bisa kemari. Tapi tidak ada yang bersamamu 'kan?" Akhirnya, sebuah jawaban yang dia ingin dengar.
"Tenang saja. Saya sendirian. Dua orang tadi sudah pergi karena anda berteriak cukup keras. Itu menakuti mereka dan kabur" Dia menjelaskan perlahan-lahan berharap wanita itu tenang.
"Masuk saja. Pastikan tidak ada yang mengikutimu!" Perintah wanita itu dengan tegas.
"Ya...Permisi..." Ucapnya sopan. Memberanikan diri masuk ke dalam goa dengan perlahan-lahan, Rihito berjalan sambil melirik ke belakang untuk memastikan sekali lagi bahwa tidak ada yang mengikutinya.
Baru beberapa langkah dari mulut goa, Rihito berdiri diam, mematung. Apa yang menjadi penyebabnya adalah suara wanita tadi. Wujudnya yang tidak di sangka-sangka, adalah apa yang pernah ada di dalam mimpinya.
"Ka- kau...jangan-jangan..." Ucapnya terbata-bata dengan nafas yang tercekat.
Miko berjalan dengan tenang di sepanjang lobi kuil. Dia membawa nampan. Cawan kecil, teko dan juga beberapa helai daun teh. Tidak lupa ada piring kecil yang berisi beberapa makanan. Kakinya membawa dia ke sebuah ruangan di ujung kuil yang pintunya nampak terbuka sedikit.
Suara ketokan pintu yang pelan mengalihkan pikiran pendeta yang sedang berdo'a. Tempat itu tidak terlalu terang, hanya di kelilingi oleh lilin-lilin merah yang mengisi setiap sudut ruangan. Berpusat pada sebuah patung yang menggambarkan naga dengan seorang manusia yang duduk di punggungnya. Ada setitik cahaya, tapi cukup membuat siapapun tahu kalau mata naga tsb bersinar dengan mata merah bercampur emas di tengahnya. Miko merasa naga itu hidup meskipun hanya pahatan hasil kerja keras leluhur yang menjaga desa dari dulu.
"Miko?" Pendeta melihat dia. Yang di panggil hanya menolehkan kepala ke asal suara, melihat sosok pendeta yang duduk dengan posisi melipat kaki ke belakang, memandangnya heran.
"Iya Pendeta. Ini sarapan anda. Saya permisi dulu". Ucapnya seraya tergesa-gesa pergi keluar dari sana.
...
Tidak ada respon apa-apa. Ya sudahlah, dia tidak mau berlama-lama di sana dengan sosok pria tua itu. Miko sendiri dari dulu tidak pernah betah berada di sekitar pendeta. Entahlah, atmosfer di sekitarnya terasa berat dan tidak menyenangkan. Mungkin perasaannya saja, atau memang ada sesuatu yang di sembunyikan pak pendeta tsb.
Di balik pintu kamar yang terbuat dari kayu jati, terdengar suara erangan yang tidak bisa di bilang pelan. Semakin mendekat ke sana, semakin terdengar dengan jelas. Suara seorang pemuda bersurai navy dengan pakaian yang kusut di beberapa bagian. Nafasnya yang tidak beraturan serta tangannya yang mencengkram dadanya dengan kuat, sedangkan ia bersender di balik pintu kamar di lantai atas. Keringat menetes tanpa henti dari dahi padahal udara dingin sekali.
Dengan panik ia berjalan pelan melangkah turun ke tangga berharap menemukan orang yang ia pikirkan sedari tadi.
"Kaito..." Pikirannya tidak jernih, harus bisa menemukan pria dengan rambut coklatnya yang berantakan itu.
BRUK!
Kaito yang berada di meja kerja (dia sengaja menjadikan ruang makan yang sekaligus ruang tamu sebagai ruang kerjanya manakala Shinichi tidak berada di sana) mendengar suara yang cukup keras di lobi menuju dapur. Heran, akhirnya berdiri dan menghampiri asal suara untuk melihat ada apa di sana.
Namun yang ia dapati justru tubuh kurus yang terbaring di lantai dengan kondisi mengkhawatirkan. Baju putih yang di kenakan anak itu kini kotor sekali. Terdengar juga nafas yang tidak beraturan dan suara erangan kesakitan yang keluar dari mulut anak tsb.
"Shinichi! Ku bilang jangan keluar 'kan!?". Panik menyelimuti Kaito yang dengan sigap segera menggendong dengan bridal style dan langsung menginjakkan kaki di tangga menuju kamar. Anak itu tidak bisa diam sejak kemarin. Setelah mereka berbicara terakhir kali, dirinya tidak sengaja mendapati suhu tubuh Shinichi yang cukup panas. Demam. Belum lagi suaranya sempat hilang beberapa jam. Untung saja Kaito adalah pria yang kritis, dia selalu menyiapkan segala sesuatu untuk berjaga-jaga. Dia tidak bisa menjamin semua akan baik-baik saja. Terlebih lagi membawa remaja tanggung ke tempat yang jauh dari kota.
Sekali melangkah 2 tangga sekaligus yang dia lewati. Dirinya tidak bisa tenang kalau yang ada di gendongannya belum tidur. Bahkan keringat terus mengalir di dahi dan badannya sampai basah baju yang dia pakai. Saat sudah masuk kamar, Kaito segera membaringkan anak tsb dan membuka kancing pakaiannya. Ia akan mengganti pakaian anak itu. Bahkan bisa dirasakan kalau suhu tubuhnya meningkat dengan drastis. Ini bahaya sekali. Terlebih cuaca dingin sekali.
Di lihatnya beberapa helai pakaian dan mengambil pakaian yang terlihat nyaman. Juga pakaian dalam dan tidak lupa selimut pun dia sampirkan. Kaito bergegas keluar guna mengambil air hangat dan kain lap untuk membantu membersihkan tubuh Shinichi yang sudah di basahi keringat. Di carinya kotak p3k yang di letakkan di atas lemari kayu yang sudah tampak tua. Langsung saja diambil dan menyiapkan segelas air agar Shinichi bisa meminum obat.
"Shin...ayo bangun sebentar. Minum obatnya biar bisa tidur". Ucap pria itu dengan lembut. Raut lelah tergambar di wajahnya. Dia khawatir melihat kondisi anak yang terbaring lemah ini. Biar gimanapun dia bertanggung jawab penuh terhadap Shinichi.
"Hnngh...Ka- kaito...pusing" Sahutnya lemah ketika Kaito membantu dia duduk dan langsung meminum obat dan menghabiskan segelas air hangat yang diberikan Kaito.
"Sudah. Kau istirahat saja dulu. Selamat tidur Shin". Kata Kaito sembari menyelimuti tubuh kurus itu sebatas bahu dan mengecup dahinya yang tidak mengeluarkan keringat sebanyak tadi.
Suara itu seperti melodi yang mengalun lembut di telinga bocah remaja tsb. Tidak berapa lama kemudian dia pun memejamkan mata dan mulai memasuki alam mimpi.
Melihat mata itu terpejam dengan perlahan, dan juga perasaan gelisah yang di rasakan, Kaito menggenggam jari kecil yang terasa hangat sekali. Digenggam dan dielus dengan pelan kemudian wajahnya, di kecup dan memejamkan mata berdo'a agar anak itu membaik esok hari. Dia tidak tahan melihat kondisi Shinichi 2 hari ini. Dan hari ini adalah kondisi terburuknya.
"Kaito..." Suara pelan milik Shinichi memanggilnya lirih.
"Ya?"
"Jangan pergi" Ucapnya dengan mata yang tertutup.
"Tidak akan Shin. Tidurlah." Sahutnya lembut agar anak itu tidak terusik tidurnya.
Dan malam itu di habiskan mereka berdua dengan mengistirahatkan badan dan pikiran sembari Kaito tidur di samping ranjang tempat Shinichi tidur. Kaito berdo'a agar Shinichinya segera sembuh begitu bangun dari tidur yang tampak menyiksa.
