Chapter 4

-1-

Tak terasa sudah empat hari setelah berakhirnya event perekrutan anggota Magic Knight Kekaisaran Centoria, yang mana pada event kali ini terdapat banyak hal menakjubkan yang menarik perhatian para Jenderal Sihir dalam melakukan perekrutan anggotanya.

Kabarnya hasil event kali ini benar-benar disambut dengan meriah dan baik oleh penduduk Kekaisaran Centoria.

Bagaimana tidak?

Pada event ini terdapat banyak kadet menjanjikan dengan kekuatan yang amat sangat spesial bahkan ada beberapa yang sampai pada tingkat di luar nalar.

Dan yang paling heboh adalah kabar tentang kembalinya sang pedang legenda yang telah hilang bertahun-tahun yang lalu.

Sword of Promised Victory—Excalibur.

Sejak kabar menghilangnya Sir Minato Pendragon, orang-orang mengira kalau pedang suci itu diambil dan disegel oleh kaum iblis dari dataran Gaulia. Hal itu membuat banyak harapan umat manusia menjadi pupus karena pedang tersebut merupakan artefak peninggalan dewa yang katakanlah memiliki kekuatan ilahi untuk membinasakan iblis-iblis. Tak hanya itu, penggunanya pun merupakan seorang manusia terkuat pada masa itu, sehingga jika seorang manusia sekuat Minato saja bisa kalah lantas bagaimana dengan mereka? Hal itulah yang membuat mental umat manusia menjadi goyah sehingga semakin hari tumbuh perasaan takut lagi terhadap kaum iblis yang semakin agresif.

Namun setelah kabar pedang tersebut telah hadir kembali. Teriakan perang dapat di dengar hampir di seluruh penjuru Kekaisaran. Harapan-harapan yang telah pupus kini sedikit demi sedikit kembali. Setiap syair kemenangan dinyanyikan oleh pelancong sebagai surat kabar gembira untuk seluruh umat manusia.

Naruto Namikaze. Dia adalah pengguna pedang tersebut dan menjadi satu-satunya orang yang bisa mengangkat Excalibur saat ini. Ketenaran namanya menjadi naik sejak event berakhir yang menyebabkan dia dipanggil secara langsung untuk menghadap sang Kaisar. Entah apa yang mereka bicarakan namun pada intinya Naruto hendak diberkahi dan dihadiahi sebuah penghargaan namun pemuda pirang itu dengan tegas menolak dan mengatakan bahwa ia tidak pantas.

Dia belum melakukan apapun untuk Kekaisaran. Dia masih belum layak.

Ah, melupakan hal tersebut, hal yang terpenting sekarang adalah menjalani tugasnya sebagai Magic Knight pemula di Squad Sihir yang ia tempati sekarang.

Itu benar. Namikaze Naruto sekarang sudah resmi menjadi anggota dari salah satu Squad Sihir yang ada di Kekaisaran Centoria. Dan saat ini ia sedang berdiri di bawah teriknya matahari pagi karena akan ada upacara penyambutan anggota di halaman markas Squad Sihir tempatnya berada.

Sebenarnya Naruto masih merasa sedikit lelah karena selama empat hari ini dia benar-benar menjalani hari yang panjang. Lebih tepatnya perjalanan yang cukup menyibukkan karena ia harus kesana-kemari, dari satu kota ke kota yang lain.

Bayangkan saja, sejak event perekrutan berakhir ia langsung diminta untuk menghadap ke Kaisar yang berada di kota Camelot yang merupakan ibukota Kekaisaran yang jaraknya cukup jauh dari kota Lady of the Lake. Selepas urusannya selesai ia harus segera berangkat ke kota Hidden Leaf yang berada jauh di sebelah utara Kekaisaran tempat dimana markas Squad Sihirnya berada.

"Selamat pagi semuanya. Senang bisa melihat kalian sudah datang sepagi ini."

Suara serak yang terdengar agak lelah tersebut adalah milik pria berambut putih yang tengah berdiri di hadapan barisan semua Ksatria Sihir pemula di sana.

Wajahnya yang ditutupi masker menjadi ciri khasnya. Dan postur tubuhnya yang tinggi dilapisi oleh baju jirah perak dengan berbagai lencana Kemiliteran di bagian dada dan bahunya.

Dia adalah Jenderal Sir Kakashi Hatake. Pemimpin dari Squad Sihir Integrity Knight.

Kakashi menatap seluruh anggota baru dengan tatapan sedikit lelah, meski begitu hawa keberadaannya tetap menyajikan wibawa yang begitu kuat sehingga siapapun bisa tahu kalau ia adalah pria terhormat.

"Seperti yang kalian ketahui. Untuk menjadi anggota dari Integrity Knight, kalian harus melewati satu tes lagi," Kakashi sejenak mendengar bisikan-bisikan kecil di sana, "Jika kalian berhasil melewati tes ini maka selamat kalian benar-benar secara resmi menjadi anggota Integrity Knight, tapi jika gagal maka dengan berat hati aku akan mengirim kembali kalian ke pangkuan ibu kalian."

Sebagian Ksatria muda yang berbaris itu menegang. Rumor tentang Kakashi Hatake yang banyak menggagalkan orang menjadi Ksatria Sihir itu ternyata benar. Tak heran hanya sedikit orang yang memilih dan dipilih olehnya dalam event perekrutan kemarin.

Namun di antara mereka yang menegang, ada juga yang sama sekali tidak terintimidasi dengan perkataan Jenderal Sihir tersebut. Salah satunya adalah Naruto Namikaze. Pemuda berambut pirang yang saat ini mengenakan setelan seragam kemiliteran berwarna hitam. Ia tampak menatap lurus ke arah Kakashi dan mendengar setiap perkataannya dengan seksama.

"Saa, untuk tes ini akan diuji oleh aku dan beberapa Captain di sana."

Selepas menyudahi pidato sambutan kecil itu, barisan Ksatria Sihir muda diminta untuk mengambil kertas yang telah disediakan oleh Ksatria Sihir senior yang mengawasi mereka sejak tadi.

Kertas itu berisi angka yang akan membagikan mereka berdasarkan kelompok angka yang sama. Naruto sendiri hanya menoleh sebentar ke arah kertas untuk melihat angka yang ia dapatkan.

Itu adalah angka pertama. Dan Naruto tahu ini mungkin akan menjadi hal yang cukup merepotkan.

Setelah beberapa saat semua Ksatria Sihir muda dikelompokkan berdasarkan angka yang mereka dapatkan. Ngomong-ngomong jumlah keseluruhannya sebenarnya tidak banyak, hanya dua belas Ksatria Sihir muda saja yang memilih dan atau dipilih masuk ke dalam Squad Sihir ini. Tidak heran mengingat Integrity Knight dikatakan merupakan Squad Sihir terlemah dari enam Squad Sihir Kekaisaran. Lihatlah, bahkan hanya ada satu orang saja yang Naruto ketahui sebagai orang berdarah bangsawan yang berada di barisan ini. Sedangkan sisanya hanya sebatas orang biasa yang tidak memiliki pengaruh politik tinggi di dalam Kekaisaran.

"Jika kalian sudah melihat angka yang kalian dapatkan, silahkan berbaris berdasarkan angka yang kalian dapatkan."

Naruto menghela napas kemudian bergerak mengikuti instruksi yang diberikan oleh Kakashi. Ia berada dalam kelompok angka satu yang hanya berisikan tiga orang termasuk dirinya. Itu berarti akan ada empat kelompok secara keseluruhan.

Sejenak mata biru itu mengedarkan pandangannya untuk melihat ke arah dua orang yang berkelompok sama dengan miliknya.

"Sepertinya kita berada di tim yang sama lagi ya, Naruto-san."

Adalah suara feminim yang tak asing di telinga Naruto. Ia tersenyum tipis ke arah gadis yang baru saja datang menghampirinya. Gadis itu memiliki rambut pirang panjang, ia juga mengenakan seragam kemiliteran dengan pola dan warna yang sama dengan yang Naruto kenakan, hanya saja setelan yang gadis itu kenakan merupakan versi feminimnya.

"Senang bisa berkerja sama denganmu lagi, Alice-san," tukas Naruto lembut. "Aku harap kita bisa melakukan yang terbaik sama seperti sebelumnya."

Gadis yang bernama lengkap Alice Schuberg itu mengangguk kecil.

"Kesenangan adalah milikku, Naruto-san," ucap Alice. "Jika kita bisa melewati tes ini, aku harap aku masih bisa mendapatkan kesempatan untuk bisa beradu pedang denganmu."

Naruto hanya terkekeh kecil mendengarnya. Dasar! yang ada di pikiran gadis itu hanya pedang saja.

"Tentu, aku juga sangat menantikannya."

Terlalu asik bercengkrama, mereka berdua tidak menyadari kalau baru ada seorang pemuda yang menghampiri mereka.

"Tsk. Ini cukup merepotkan."

Baik Naruto maupun Alice langsung mengedarkan pandangannya setelah mendengar ucapan ketus tersebut. Setelah melihat siapa yang datang, Alice langsung menatap tajam ke arah pemuda tersebut sedangkan Naruto hanya memberikan tatapan ramah.

"Hn."

Mendapatkan sambutan yang tak baik dari gadis di hadapannya hanya membuat pemuda tersebut melengos dan tak peduli. Tatapan matanya hanya fokus ke arah Naruto.

"Senang bisa bertemu denganmu lagi, Namukaze." Ujarnya dengan seringai kecil. Tak lupa kedua tangannya ia sedekapkan ke dada yang mana sikap tersebut membuatnya terlihat benar-benar penuh percaya diri.

"Kesenangan adalah milikku, Vali Silver-san." Ujar Naruto.

Sebenarnya Naruto sedikit heran kenapa orang seperti Vali memilih untuk masuk ke dalam Squad Integrity Knight. Padahal pada saat pemilihan Squad, pemuda berambut perak itu mendapatkan enam Squad yang menginginkannya, tetapi ia memilih Integrity Knight. Cukup heran melihat seorang bangsawan seperti dia yang sebelumnya terlihat arogan dan sombong.

"Ah, Vali saja sudah cukup," ujar pemuda bernama Vali tersebut. "Aku tidak suka orang-orang memandangku hanya karena garis keluarga saja."

Anggukan kecil Naruto berikan. "Kalau begitu kau juga cukup memanggilku Naruto saja."

"Hnh."

Setelah itu percakapan keduanya pun terhenti. Dalam sekian menit baik Naruto, Alice maupun Vali hanya menunggu instruksi selanjutnya dari Kakashi. Sesekali Alice dan Naruto kembali berbincang mengenai ilmu pedang mereka sedangkan Vali hanya diam di tempat sambil bersedekap dada.

Tak selang lama, mereka dihampiri oleh Kakashi sendiri yang mana membuat Naruto dan Alice segera memasang posisi standby ala Ksatria, sedangkan Vali masih dengan posisi bersedekapnya.

"Wah wah wah. Tak kusangka aku mendapatkan kelompok yang cukup menarik." Ujar pria bermasker tersebut.

Hanya ada satu hal yang dapat ketiga Ksatria muda itu asumsikan. Itu artinya Sir Kakashi Hatake sendiri yang akan menjadi penguji tes mereka?! Astaga, ini benar-benar menjadi hal yang merepotkan.

Kakashi mengedarkan pandangannya untuk melihat ekspresi ketiga Ksatria muda tersebut, dan yang ia dapatkan adalah ketiganya memperlihatkan ekspresi yang benar-benar percaya diri. Kakashi cukup bangga, dia masih ingat betul dulu ada Ksatria muda yang langsung pingsan setelah mengetahui kalau Kakashi sendiri yang akan menguji mereka.

"Maa, sepertinya kalian sudah benar-benar siap," tukas Kakashi. "Kalau begitu silahkan ikuti aku. Kita akan menuju ke area latihan tiga."

"Siap Sir Kakashi!"

"Hnh."

Selepas itu ketiga Ksatria muda tersebut berjalan mengikuti ke arah mana Kakashi membawa mereka. Perjalanan ke tempat arena pelatihan tiga ternyata tidak begitu jauh dari markas Squad Integrity Knight, hal itu cukup pas mengingat ukuran kota Hidden Leaf yang tidak begitu besar. Bahkan lebih mirip sebuah desa ketimbang kota.

Ngomong-ngomong soal markas Squad Sihir. Markas setiap Squad akan berada di setiap sudut kota yang ada di Kekaisaran Centoria. Mereka diposisikan seperti itu agar para Magic Knight bisa dengan mudah mengakses ke segala tempat dengan mudah dan menetralisir kan serangan kaum iblis dengan cepat mengingat benua hunian kaum manusia ini dikelilingi oleh Dark Territory.

Tanpa memakan waktu lama kelompok yang dipimpin oleh Kakashi itu telah sampai pada lapangan yang cukup luas. Lanskap pegunungan dapat terlihat dengan jelas dari tempat ini dan juga terdapat sungai yang mengalir jernih bersama hutan rimbun di kedua sisinya. Di tengah area latihan tersebut juga terdapat tiga tunggul dan tak jauh dari sana terdapat satu monumen aneh yang berbentuk lancip seperti belati.

"Saa, untuk menghemat waktu kurasa lebih baik kita mulai saja tesnya." Ujar Kakashi.

Ketiga Ksatria muda tersebut mengangguk kecil. Sejujurnya mereka benar-benar penasaran seperti apa bentuk tes spesial yang akan diberikan oleh Sir Kakashi Hatake sampai-sampai terkenal karena sering mengeluarkan Ksatria muda yang direkrut olehnya.

Tak tahan oleh rasa penasaran membuat seorang Naruto mengangkat tangan kanannya mengisyaratkan untuk bertanya.

"Sebelumnya kalau boleh tahu, bentuk tes seperti apa yang akan anda berikan pada kami, Sir Kakashi-sama?"

Kakashi menatap sebentar ke arah pemuda pirang tersebut sebelum tampak mengambil sesuatu di balik jirah besinya.

Dan itu adalah sepasang lonceng?

"Hal yang harus kalian tiga lalukan adalah merebut lonceng dariku. Masing-masing dari kalian akan mendapatkan satu lonceng." Ujar Kakashi yang membuat Naruto mengernyit.

"Tapi yang ada di tanganmu hanya sepasang lonceng," tukas Naruto. "Bukankah seharusnya ada tiga?"

Dan entah kenapa Naruto menjadi sedikit bergidik ngeri melihat Kakashi yang hanya memberikan eye smile miliknya. Entah kenapa pemuda pirang itu dapat merasakan firasat yang cukup buruk kali ini.

"Tidak, ini sudah benar," kata Kakashi. "Masing-masing dari kalian akan mendapatkan satu, tapi bagi yang tidak kebagian aku akan menganggap ia gagal menjalani tes dan akan ku keluarkan dari tempat Squad Integrity Knight."

Ketiganya dibuat sedikit menegang. Bahkan Vali yang sebelumnya terlihat santai kini menjadi serius ekspresinya. Yang benar saja! Setelah semua yang mereka lakukan di event perekrutan kemarin, akan menjadi sangat menyebalkan jika mereka harus dikeluarkan. Juga, mengingat salah satu dari mereka tiga akan gagal itu berarti mereka harus mengorbankan salah satu dari mereka.

Kakashi menjadi sedikit terkekeh melihat ekspresi ketiganya. Dia menjadi tidak sabar untuk menguji kelayakan ketiga generasi muda tersebut.

"Semua bentuk sihir ataupun skill akan diperbolehkan, datanglah padaku dengan kekuatan penuh kalian. Waktu yang kalian perlukan hanya satu jam. Dan jika satupun dari kalian tidak ada yang bisa mendapatkan lonceng ini, maka semuanya dinyatakan gagal."

Okay. Itu bukan kabar baik. Sepertinya mereka benar-benar harus bertarung dengan serius kali ini. Alice sudah terlihat mengeluarkan pedang emas miliknya yang sebelumnya ia sarungkan di pinggang. Vali nampak mengeluarkan Sacred Gear miliknya berupa sepasang sayap mekanik yang mengeluarkan pedar cahaya putih dan biru. Sedangkan Naruto menggunakan Dimension Space Magic untuk mengeluarkan dua buah long sword biasa.

Melihat ketiga Ksatria muda di hadapannya sudah siap, Kakashi menyimpan kembali sepasang lonceng yang ia pegang ke pinggang dari jirah besinya sebelum mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi.

"Mulai!"

Setelah aba-aba yang dikeluarkan oleh Kakashi, Vali langsung berinisiatif untuk menyerang terlebih dahulu menggunakan hand combat yang ia kuasai, namun setiap gerakannya selalu dapat dengan mudah dihindari oleh Kakashi menggunakan gerakan yang sederhana.

"Gerakan yang cukup bagus, nak. Tapi itu masih sangat kurang dan masih banyak gerakan ceroboh yang kau perlihatkan." Ucap Kakashi yang membuat Vali mendecih kecil tak suka.

Pemuda bermarga Silver itu semakin meningkatkan akselerasi setiap serangannya, namun itu benar-benar dapat dibaca dengan mudah oleh seorang veteran seperti Kakashi.

Tsk, padahal hal yang perlu Vali lakukan hanyalah kontak fisik dengan Jenderal tersebut sehingga dia bisa menggunakan ability yang diberikan oleh Divine Dividing, dengan begitu dia bisa dengan mudah merebut lonceng tersebut. Namun nyatanya itu merupakan hal yang sangat sulit Vali lakukan, bertahun-tahun dia melatih hand combat miliknya itu tampak seperti gerakan sederhana saja di mata Sir Kakashi. Vali bahkan tak dapat menyentuh sama sekali.

"Sword Skill: Horizontal!"

Tiba-tiba dari sebelah kanannya, Kakashi dapat merasakan hawa yang cukup mematikan. Dari sudut matanya ia dapat melihat sebuah lintasan pedang dengan rona emas melesat cepat ke arahnya.

"Dua serangan sekaligus, kah?"

Namun itu bukan hal yang cukup merepotkan bagi Kakashi karena dengan menggunakan Body Skill [Accel] ia dapat dengan mudah menghindari jalur tebasan tersebut.

Alice sebagai orang yang menggunakan sword skill itu dengan segera membelokan arah serangannya sehingga jalur tebasan itu tidak mengenai Vali yang berada di jalur serangannya itu.

"Jangan mengganggu gadis kecil. Kau hanya akan memperlambat ku saja."

Alice menatap tak suka ke arah Vali. Pemuda berambut perak itu benar-benar menyebalkan. Jujur Alice dari awal tidak menyukainya mengingat apa yang pemuda itu lakukan terhadap Naruto pada event perekrutan beberapa hari yang lalu.

"Sword Skill: Dual Blades [Vertical Square]"

Secara tiba-tiba gema perang berkumandang, sebuah serangan cepat datang dari arah belakangnya. Itu adalah tebasan cepat menggunakan dua pedang dengan jalur lintasannya berupa pedar biru, sword skill dengan empat tebasan yang cukup mematikan sebenarnya.

"Aku adalah kilatan cahaya yang menembus langit bergemuruh ... Electro Magic: Chidorigatana."

Namun seperti yang diharapkan dari Jenderal Sir Kakashi Hatake. Dia dapat dengan mudah mengetahui bagaimana serangan tersebut bisa datang, sehingga sebelum jalur lintasan pedang tersebut mengenainya dia dengan segera mengalirkan prana ke tangannya dan membentuk sebuah pedang petir yang bergemericing seperti suara burung.

Trank!*

Ledakan energi kecil menghempaskan debu-debu ketika ketiga pedang tersebut saling membentur.

"?!"

Naruto tidak kaget kalau tebasannya bisa dihentikan, namun dia dengan segera menarik diri dan melompat ke belakang segera.

Seperti yang diketahui. Besi adalah konduktor alami dari listrik, Naruto tidak ingin mengambil resiko tersengat listrik karena lama-lama bersentuhan dengan pedang listrik milik Kakashi.

"Serangan yang sangat bagus, Namikaze. Kau memilih untuk menyerang dari titik buta dan itu cukup efektif," Ucap Kakashi memuji. "Sayangnya seranganmu masih lemah, kau harus menyerang dengan niat membunuh jika memang ingin mengambil lonceng ini."

Naruto yang mendengarnya hanya tersenyum kecil sebelum menyiapkan lagi fighting stance miliknya. Vali dan Alice juga melakukan hal yang sama, mereka bertiga mengelilingi Kakashi dengan jarak sekitar enam meter.

Kakashi yang melihat kerja sama secara tak langsung ketiga Ksatria muda itu sedikit kagum.

"Apa kalian bermaksud berkerjasama untuk melawanku?" tukas Kakashi. "Meskipun kalian mengalahkan ku, salah satu dari kalian tidak akan mendapat bagian lonceng lho."

"Itu tidak masalah," Naruto mengeratkan genggaman pada kedua longswordnya. "Prioritas kami saat ini adalah untuk mengalahkan mu. Tentang siapa yang akan mendapatkan lonceng itu urusan belakangan."

"Benar yang dikatakan oleh Naruto-san," Di sebelah sana, Alice juga mengeratkan genggaman terhadap pedang miliknya. "Jika salah satu dari kami gagal, masih ada tahun depan lagi. Itu tidak akan mengubur keyakinan kami untuk menjadi seorang Magic Knight."

"Hn. Tujuanku adalah menjadi yang terkuat dari yang terkuat," Di lain tempat Vali melayang satu meter di atas tanah. Divine Dividing miliknya tampak berkerlap-kerlip. Selepasnya, Vali nampak menyeringai kemudian. "Sir Kakashi Hatake, aku tahu kalau kau sebenarnya adalah yang terkuat dari keenam Jenderal sihir Kekaisaran."

Mendengar penuturan ketiga Ksatria muda itu membuat Kakashi mendesah lelah.

"Maa, ini akan menjadi sedikit merepotkan," ujarnya dan menyiapkan fighting stance miliknya. "Kalau begitu, kalian bertiga datanglah padaku dengan niat membunuh."

Wush*

Vali menyeringai gila. Dengan bantuan sayap Divine Dividing yang mengepak di pundaknya, ia berakselerasi cepat menuju ke arah Kakashi dengan satu pukulan tangan kanan yang kuat. Namun mata pria itu nampak benar-benar jeli, Kakashi seolah bisa memprediksi gerakannya dengan segera menunduk sehingga pukulan Vali hanya mengenai ruang kosong.

"Sword Skill: Rage Spike!"

Melirik ke sebelah kanan, Kakashi dapat melihat Alice datang dengan melompat ke arahnya sambil mengayunkan pedang dari bawah ke atas. Tapi itu bukan hal yang merepotkan bagi Kakashi. Segudang pengalaman yang ia dapat dalam pertempuran semasa hidupnya membuat dia dapat dengan mudah mematahkan tebasan tersebut. Kakashi hanya dengan cepat memegang tangan Alice yang membuat mata gadis itu membola lalu melempar gadis itu ke belakang yang mana tepat pada saat itu juga Naruto tengah melesat ke arahnya.

Melihat Alice yang dilempar ke arahnya membuat Naruto mengurungkan niatnya untung menyerang Kakashi dan memutuskan untuk segera meraih gadis itu sehingga Alice mendarat dengan mulus dalam pelukan Naruto yang meraihnya dengan gaya bridal style.

"Jangan alihkan pandanganmu dariku!"

Teriakan perang dapat Kakashi dengan dari pemuda berambut perak di hadapannya. Vali yang masih melayang di atas tanah memberikan berbagai macam teknik hand combat yang ia miliki.

Pukulan ke kiri, hook, jab, cross bahkan sampai upper cut Vali hantarkan namun semua itu sia-sia. Kakashi benar-benar dapat menghindari semua serangannya tanpa terkena sentuhan sedikitpun.

"Tch!"

Vali mendecih kecil sebelum memutuskan untuk mundur sebentar dari medan perkelahian. Napasnya serasa habis setelah melakukan rentetan serangan tanpa henti. Berbeda dengan Vali, Kakashi masih berdiri santai di tempatnya. Ia bahkan tidak terlihat kelelahan sedikitpun.

Di lain pihak Naruto dan Alice nampak merencanakan sesuatu. Mereka saling mengangguk satu sama lain dan saling memberi kode dengan isyarat yang hanya mereka sendiri ketahui.

"Seperti yang direncanakan, Alice-san," tukas Naruto. "Accel."

Wush*

Satu kedip mata, Naruto langsung menghilang dari tempatnya berdiri tadi dan tiba-tiba berada di samping Kakashi sambil memberikan satu tebasan melintang menggunakan longsword yang ia genggam di tangan kirinya.

Kakashi tidak tampak kaget, dengan pedang petir yang masih ia genggam di tangannya, dia menahan serangan yang Naruto berikan dengan gerakan sederhana.

"Switch!"

"?!"

Mata Kakashi langsung membola. Ia terkaget-kaget melihat Naruto yang sebelumnya berada di sebelahnya digantikan oleh Alice yang memberikan tekanan kuat pada pedangnya sehingga Kakashi yang sebelumnya menahan longsword milik Naruto digantikan oleh pedang emas milik Alice yang jelas-jelas memiliki tekanan yang lebih kuat karena gadis itu menggunakan kedua tangannya untuk memegang pedang, berbeda dari sebelumnya yang mana Naruto hanya menggunakan satu tangan.

Tapi sebenarnya bukan itu yang membuat Kakashi Hatake kaget. Hal yang benar-benar membuatnya kaget itu tentang Alice yang bisa menggunakan [Accel] juga. Itu benar-benar informasi yang cukup mengejutkan mengingat pada stage event perekrutan beberapa hari yang lalu, gadis bermarga Schuberg itu sama sekali tidak pernah menggunakan Body Skill ini.

Darah Alice mulai memompa dengan cepat, ia menarik napasnya kuat-kuat untuk meningkatkan tekanan yang ia berikan pada pedangnya.

Trank*

Crash*

Hal tersebut berbuah manis karena pedang listrik yang Kakashi gunakan untuk menahan jalur tebasan tersebut langsung hancur berkeping-keping. Alice tersenyum cerah melihat hasil jerih payahnya tak sia-sia. Ia dengan segera mengangkat pedangnya kembali dan memberikan satu tebasan vertikal yang kuat ke arah Kakashi.

"Sekarang, Naruto-san!"

Insting veteran Kakashi berteriak ketika merasakan gerakan mematikan dari arah lainnya. Itu adalah Naruto yang datang dengan mengayunkan pedang yang di tangan kanannya kiri ke atas.

Tidak tinggal diam, Kakashi menggunakan kakinya untuk menendang perut Naruto namun pemuda pirang itu seolah mengetahui rencananya sehingga ia langsung memutar tubuhnya tepat sebelum tendangan Kakashi mengenainya.

Nol koma satu detik setelahnya, Naruto kembali dengan satu tebasan dari pedang tangan kiri yang meluncur tepat ke arah leher depan Kakashi. Di lain pihak, Alice juga tampak mengayunkan pedangnya ke arah leher belakang Kakashi sehingga Jenderal sihir tersebut mendapatkan dua serangan dari dua arah yang merepotkan.

Namun tetap saja. Kakashi adalah seorang Jenderal Sihir Kekaisaran yang dijuluki sebagai Taring Kekaisaran. Julukan itu bukan isapan jempol semata. Julukan itu diberikan orang-orang karena mengetahui seberapa kuat seorang Kakashi. Bahkan ada rumor kalau Kakashi pernah mengalahkan seorang Jenderal iblis dengan cepat dan mudah dalam hitungan detik. Itulah kenapa Kakashi tidak terlihat khawatir mendapati dua arah tebasan yang berniat untuk memotong kepalanya.

"Accel."

Jujur itu adalah salah satu kecepatan luar biasa yang pernah Naruto lihat. Pada umumnya cara kerja [Accel] adalah [Skill] yang mengalirkan prana ke setiap sendi tubuh guna meningkatkan akselerasi tubuh pengguna sehingga pengguna terlihat dapat bergerak dengan cepat. Namun apa yang Kakashi lakukan barusan merupakan kecepatan tingkat Dewa. Bahkan Naruto sendiri yakin kalau [Accel] milik Kakashi jauh lebih mirip teleportasi ketimbang meningkatkan kecepatan reflek tubuh.

Naruto dan Alice menarik kembali pedangnya lalu mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Jenderal Sihir tersebut.

"Maa. Itu tadi cukup membahayakan. Apa kalian benar-benar berniat membunuhku, huh?" Ucap Kakashi yang kini berada di atas dahan pohon. Dia nampak mendesah lelah kemudian.

"Maafkan kami Sir Kakashi-sama," tukas Alice. "Tapi bukankah anda sendiri yang meminta untuk menyerang dengan niat membunuh?"

Kakashi sweatdrop mendengarnya. Ya tidak salah sih, walau itu sedikit berlebihan juga. Kakashi bahkan yakin kalau semisalnya yang menguji mereka bertiga adalah bawahannya seperti Asuma atau Kurenai, mungkin mereka bisa tewas jika diberikan serangan yang sama seperti yang ia dapatkan tadi.

"Baiklah. Sekarang mari lanjutkan tesnya."

Kakashi melompat dari atas pohon dan mendarat di tanah dengan mulus. Setelah itu ia berjalan ke arah Alice dan Naruto.

"Itu tidak perlu Sir Kakashi-sama," ujar Naruto yang membuat Kakashi mengernyit. "Kami sudah mendapatkan sepasang loncengnya." Sambung Naruto sambil mengangkat tangan kanannya setinggi bahu. Di sana terdapat sepasang lonceng yang berdenting kecil.

Kakashi menghela napas lelah setelah nampak menyadari sesuatu.

"Ternyata begitu, kalian sebenarnya sudah dapat loncengnya dahulu saat melakukan pergantian posisi yang sebut switch tadi," ujar Kakashi sambil mengangguk kecil. "Switch ya, itu cukup menarik. Melakukan dua [Accel] secara bersamaan sehingga membuat tubuh kalian terlihat bertukar tempat. Itu pemanfaatan skill yang sangat apik dan juga sangat sulit mengingat timing yang harus benar-benar pas."

"Itu benar. Saya baru menyadarinya setelah memikirkannya berulang kali. Untung saja Alice-san memiliki reflek dan respons yang sangat baik sehingga Switch bisa dilakukan dengan cepat dan akurat."

Kakashi memangut sebelum menepuk kedua tangannya pelan.

"Maa, dengan begitu aku memastikan kalau tes ini sudah selesai," tukas Kakashi. "Kalian berdua dinyatakan lu—"

"Tidak," Tukas Naruto yang mengejutkan Kakashi. "Kemenangan ini bukan untuk kami berdua, tapi untuk semua anggota team."

"Jangan membelaku, Naruto. Aku tidak butuh belas kasihanmu." Ucap ketus Vali yang baru datang menghampiri mereka.

"Tapi kau memiliki peran penting, Vali-san," ujar Naruto. "Tanpa ada kau yang mengulur waktu menghadapi Sir Kakashi, aku dan Alice tidak bisa memikirkan rencana ini."

"Itu benar. Meski aku tidak menyukai fakta ini. Peranmu cukup vital." Sambung Alice menimpali perkataan Naruto.

Mendengar penuturan kedua sejoli itu hanya membuat Vali mendecih kecil.

"Tidak bisa. Aturan adalah prioritas tertinggi di dalam kode etik ksatria, orang yang tidak bisa mengikuti aturan adalah sampah," ujar Kakashi. "Jika kalian tetap bersikeras untuk melawan aturan, maka aku akan menyatakan kalian semua gagal dalam tes ini."

Mendengarnya membuat Alice mengeraskan rahangnya, sedangkan Naruto menatap lurus ke arah Kakashi.

"Tidak, itu tidak benar," tukas Naruto. "Ksatria macam apa yang meninggalkan rekannya demi aturan?!"

"N-Naruto-san ..."

Alice sedikit memandang kaget ke arah Naruto. Sedangkan Vali hanya mengeraskan rahangnya. Di lain pihak, Kakashi tampak memandang tertarik.

"Orang yang tak mengikuti aturan adalah sampah, tapi orang yang meninggalkan rekannya jauh lebih buruk daripada sampah."

Seketika mata Kakashi membola.

"Kata-kata itu ..."

Naruto tersenyum masam.

"Itu adalah kata-kata yang selalu ayah ucapkan padaku dulu," ujar Naruto. "Oyaji selalu mengatakan kalau bersama orang lain jauh lebih berharga dibandingkan aturan apapun."

"Kheh."

Kakashi terkekeh pelan yang mana membuat ketiga Ksatria muda di depannya terheran-heran.

Ah, kalimat itu. Itu benar-benar kalimat yang selalu Kakashi tanamkan pada dirinya. Kalimat yang selalu menjadi prinsipnya ketika melakukan perekrutan anggota tiap tahunnya.

Kalimat yang diucapkan oleh mendiang gurunya, Minato Pendragon. Kakashi selalu dapat mengingat dengan jelas kalau Minato selalu mementingkan keselamatan anggota dibandingkan misi. Juga, mindset itulah yang ia wariskan dari mendiang gurunya tersebut. Kakashi tidak menyangka kalau ternyata mindset itu diwariskan kepada Naruto juga.

"Kerja bagus, Naruto," ujar Kakashi lembut sambil mengacak-acak pelan rambut pemuda itu. "Kau sudah besar ya sekarang. Padahal seingat ku dulu kau masih sangat pendek."

"Tentu saja, Kakashi-nii," ucap Naruto. "Aku sudah tujuh belas tahun tahu! Lagian sudah berapa tahun sejak aku tidak melihatmu ke mampir ke rumah lagi?"

"Ah, entahlah. Mungkin sekitar empat atau lima tahun," tukas Kakashi. "Pekerjaan merepotkan ini membuatku jarang mendapatkan waktu santai."

Tanpa Naruto dan Kakashi sadari, Vali dan Alice hanya melongo melihat interaksi keduanya.

"Eh, kalian sudah saling kenal?"

Naruto menoleh ke arah Alice yang bertanya dengan ekspresi kejut bercampur heran.

"Iya, aku bahkan menganggapnya sebagai kakak angkat ku."

Alice kemudian mengangguk kecil walau masih dengan ekspresi terkejut yang lucu. Sedangkan Vali sudah kembali ke sikap biasanya yang terlihat dingin.

"Jadi bagaimana, Kakashi-nii? Apa kau masih tidak berniat meluluskan kami semua?"

"Panggil aku dengan formal saat di sini, Naruto Namikaze," ucap Kakashi dengan menguatkan gerakan mengacak-acak rambut Naruto yang membuat pemuda pirang itu mendengus kesal. "Tapi selamat, kalian semua lulus." Lanjut Kakashi dengan eye smile nya yang khas.

Naruto tersenyum lebar mendengarnya, begitupun dengan Alice yang langsung memegang dadanya dengan kedua tangannya sambil berterima kasih dan bersyukur. Di lain pihak, Vali tampak bersedekap dada seperti biasa, namun senyuman tipis terlukis di wajah ikemen miliknya.

Hari ini, di kota Hidden Leaf yang berada jauh jauh di bagian utara, hari jum'at tanggal 13 April tahun 599 kalender Kekaisaran ... Naruto Namikaze secara resmi menjadi anggota Magic Knight.

-2-

Sudah satu minggu semenjak Naruto resmi menjadi anggota Magic Knight yang berafiliasi di Squad Integrity Knight. Kesehariannya sebagai anggota baru tidak begitu benar-benar spesial sebenarnya karena tugas yang dilakukannya hanya sekedar berlatih di training ground, melakukan tugas pengintaian, menjaga gerbang dan tugas-tugas merepotkan lain. Bahkan ia sempat ditugaskan untuk mencari kucing yang hilang! Meski begitu Naruto dengan senang hati menjalaninya, ia juga dikenal ramah sehingga bisa dengan cepat berbaur dengan para ksatria lain.

Ia tinggal di sebuah asrama yang diperuntukan khusus anggota Ksatria. Tempatnya tak begitu jauh dari markas Squad mengingat ukuran kota Hidden Leaf yang tak begitu besar. Biasanya, hari seorang Naruto Namikaze sebagai seorang Magic Knight dimulai dengan bangun sepagi mungkin dan melakukan joging sebentar sebelum dilanjutkan latihan beberapa gerakan tebasan [Sword Skills, setelah selesai ia kembali ke dalam kamarnya di asrama untuk mandi dan bersiap diri sebelum berangkat ke markas kemudian.

Untuk sarapan Naruto tidak begitu khawatir. Markas Squad Sihir terdapat kafetaria, sehingga semua kebutuhan sarapannya selalu terpenuhi. Ngomong-ngomong Kafetaria ini tidak hanya digunakan sebagai tempat sarapan, tapi juga dijadikan tempat santai para anggota Integrity Knight ketika menunggu penugasan yang dijadwalkan untuk mereka.

Sama seperti saat ini. Naruto sedang dalam waktu luang mengingat shiftnya untuk patroli dialihkan ke anggota yang lain. Kakashi mengatakan padanya kalau ia akan diberi tugas khusus nantinya. Kini Naruto duduk bersantai di kafetaria sambil menunggu instruksi dari Kakashi.

Secangkir kopi adalah teman santainya sehingga ia benar-benar tidak menyadari ketika beberapa orang datang menghampirinya.

"Yosha. Kau Naruto Namikaze-sama, bukan?"

Naruto yang tersentak kecil menoleh dan menemukan beberapa orang menghampirinya. Ah, Naruto tahu mereka. Mereka adalah anggota baru sama seperti dirinya. Dan yang memanggil Naruto ada seorang pemuda berambut lucu dengan alisnya yang tebal. Pemuda itu menggunakan setelan khusus Integrity Knight berwarna hijau dengan jirah besi perak, berbeda dengan Naruto yang mengenakan setelan Integrity Knight berwarna biru dan perak.

"Kau benar, aku adalah Naruto Namikaze," ucap Naruto tersenyum tipis. "Kalau tidak salah kau adalah Rock Lee, bukan?"

Pemuda berambut norak itu tersenyum lebar mendengar ucapan Naruto. Dia dengan segera menghampiri Naruto dengan mata berbinar.

"Suatu kehormatan besar bisa dikenal olehmu, Naruto Namikaze-sama!"

Naruto sweatdrop melihat tingkahnya.

"Maa, maa. Tolong jangan gunakan sufiks terhormat seperti itu padaku."

"Tapi kau adalah pemegang pedang legendaris itu. Kurasa kau pantas mendapatkannya."

Yang mengatakan hal itu bukannya Rock Lee melainkan seorang pemuda gemuk berada di belakang Rock Lee sejak tadi. Dia juga menggunakan setelan Integrity Knight.

"Dan kau Chouji Akimichi ya." Tukas Naruto

Pemuda gemuk bernama Chouji itu tersenyum dan mengangguk kecil. Sikapnya tidak berlebihan seperti Rock Lee.

"Dan kalian dua adalah, si jenius Shikamaru Nara dan ahli bela diri Neji Hyuuga."

"Tsk, julukan yang terlalu merepotkan," ucap pemuda yang dipanggil Shikamaru tersebut. Sedangkan Neji hanya mengangguk kecil. "Apa kami boleh gabung di meja mu?"

Naruto membalas dengan senyuman ramah.

"Tentu saja."

Dan begitulah. Mereka saling kenalan satu sama lain sebelum kemudian bercengkrama tentang banyak hal. Sampai pada satu bahasan yang sebenarnya sudah cukup lama membuat Lee, Chouji, Shikamaru dan Neji penasaran.

"Ngomong-ngomong Naruto-san, apa benar kalau Excalibur milikmu itu hanya bisa diangkat olehmu?"

Naruto menoleh ke arah Neji yang bertanya, diikuti anggukan penasaran yang lain.

"Entahlah, aku tidak begitu memperhatikannya," ujar Naruto. "Soalnya pedang itu tidak pernah disentuh oleh orang lain selain diriku."

"Kalau begitu apa aku boleh mengangkatnya, Naruto-sama?"

Naruto tampak memikirkannya sejenak.

"Silahkan coba, lagian aku juga penasaran apakah rumor tentang Harta Mulia ini benar adanya."

Selepas itu pedang yang masih tersarung itu Naruto lepaskan dari pengait yang ia kenakan pada pinggangnya. Selepas itu ia meletakkan pedang yang masih tersarung itu di atas meja dengan pelan sambil memberikan salam penghormatan pada pedang itu.

Hal tersebut mengundang Ksatria-Ksatria lain yang berada di kafetaria menjadi tertarik. Bahkan ada beberapa yang mulai mengambil jarak untuk melihat apa yang terjadi selanjutnya. Bahkan Vali yang sebelumnya menikmati semangkuk ramen favoritnya di pojokan ruang menjadi sedikit tertarik.

"Yosh. Kalau begitu aku yang mulai mencobanya!"

Rock Lee terlihat sangat bersemangat. Ia lalu berdiri dan mencoba untuk meraih penahan pedang itu menggunakan satu tangan.

"Eh?!"

Rock Lee terkejut, itu benar-benar tidak dapat bergerak sedikitpun. Bahkan bergeser satu inci saja tidak. Merasa tertantang, ia lalu menggunakan kedua tangannya untuk mengangkat pedang itu sampai-sampai ia harus mengerahkan sekuat tenaganya hingga membuat retakan kecil tempatnya berdiri. Setelah beberapa saat, Rock Lee mengangkat kedua tangannya dan menggeleng kecil seolah ia sudah menyerah.

Naruto terkekeh sebentar melihatnya. Jujur ia baru pertama kali mengetahui hal ini. Pantas saja ayahnya dulu kaget ketika melihat Naruto kecil dapat dengan mudah mengangkat pedang itu. Ia bahkan masih mengingat dengan jelas bagaimana ekspresi ayahnya.

Setelah Rock Lee, Chouji dan Neji pun mencoba untuk mengangkatnya namun nihil. Satupun dari mereka bahkan tidak bisa menggesernya sedikitpun.

Kafetaria menjadi sedikit ricuh. Tak hanya Ksatria muda, banyak senior yang tertantang untuk mencobanya namun satupun tidak ada yang bisa. Hingga tibalah Alice yang baru datang yang langsung mengambil tempat kursi di samping Naruto yang sejak tadi kosong.

Alice tampak tidak nyaman dengan kericuhan ini. Ia baru saja selesai latihan tadi, karena perutnya terasa lapar ia memutuskan untuk datang ke kafetaria namun apa yang didapatinya adalah kericuhan dan beberapa sorakan semangat dengan beberapa Ksatria mencoba mengangkat Harta Mulia milik Naruto namun gagal. Ia tak ambil pusing, setelah memesan makanan dan roti isi daging ia segera menempatkan dirinya di sebelah Naruto sambil menunggu makanan pesanannya datang.

"Apa kau tak mau mencobanya?"

Alice menoleh ke arah Naruto.

"Maksudmu?"

Naruto melirik kembali ke arah pedangnya yang masih berada di posisi yang sama sejak tadi.

"Harta mulia ku."

Alice menatap sejenak. "Baiklah aku akan mencoba."

Naruto terkekeh. "Jika kau bisa menggesernya sedikit saja aku janji akan membelikan hadiah yang bagus untukmu."

Alice tersenyum tipis mendengarnya.

"Kedengarannya bagus. Baiklah aku akan mencoba mengangkatnya."

Ketika jari jemari Alice sudah berada pada penahan pedang tersebut. Seisi gedung dikagetkan dengan ekheman keras yang datang dari arah tangga.

"Wah wah, ada apa seramai ini."

Semua anggota Ksatria termasuk Naruto langsung mengambil sikap hormat ke arah orang yang baru saja datang tersebut. Iya, semua anggota kecuali Vali yang masih menikmati ramen mangkuk kelima belas miliknya.

"Tidak usah terlalu formal, bersikaplah seperti biasa," ucap Kakashi. "Lagian aku kemari hanya untuk memanggil beberapa orang saja." Lanjutnya sambil mengedarkan pandangannya mencari orang yang ia maksud.

"Namikaze Naruto dan Alice Schuberg, aku harap kalian datang ke ruanganku setelah menyelesaikan makanan kalian." Ucap Kakashi yang dibalas anggukan dan perkataan siap dari kedua individu yang dipanggil. Selepas itu, pria berambut seperti uban tersebut melengos dan meninggalkan kafetaria.

Setelah beberapa saat dan menyelesaikan makanannya, baik Naruto maupun Alice segera mengambil langkah menuju ke ruangan milik Kakashi. Sebelumnya tak lupa Naruto kembali memasangkan pedangnya yang tersarung ke pengait pinggang kirinya, juga ia tak lupa untuk berpamit dengan teman-teman barunya.

Setelah melangkah beberapa saat melewati lorong memutar hingga sampai ke lantai paling atas. Naruto dan Alice mengetuk sebentar pintu ruangan tersebut sebelum masuk kemudian.

Di dalam ruangan tersebut terdapat Kakashi yang duduk di kursinya seperti biasa dengan berbagai kertas yang memenuhi meja kerjanya. Tapi yang menarik perhatian Naruto bukanlah hal itu melainkan seorang pak tua yang sedang berdiri di depan meja Kakashi.

Pak tua itu memiliki penampilan dengan rambut abu-abu, berkacamata dan juga janggut yang cukup lebat. Dia tampak bukan anggota Ksatria, itu dapat terlihat dari setelan pakaian yang pak tua itu kenakan. Pak tua itu mengenakan kemeja V-neck coklat tanpa lengan dengan obi dan juga celana coklat biasa. Oh, dan jangan lupakan handuk putih yang menggantung di lehernya dan juga tas sederhana yang menggantung di pundaknya.

"Oh, kalian akhirnya datang." Ucap Kakashi melirik sebentar ke arah Naruto dan Alice yang baru saja memasuki ruangan ini.

"Hoo, bukankah ini bintang baru kita yang terkenal itu?" ucap pak tua tadi dengan nada sarkastik.

"Kau benar, Tazuna-san. Itu adalah dia, dan dia adalah orang yang akan aku tugaskan untuk menjagamu." Ucap Kakashi.

Pak tua yang bernama Tazuna itu tersenyum puas.

"Hmph, baguslah. Aku tidak akan membayar hanya untuk orang-orang yang tak berkompeten."

"Percayalah, dia salah satu yang terbaik di sini," tukas Kakashi sebelum mengalihkan pandangannya ke arah Naruto dan Alice. "Naruto Namikaze, Alice Schuberg, aku akan menugaskan kalian dalam sebuah misi khusus. Misi kalian adalah mengawal pak tua Tazuna ini dengan selamat sampai tujuan. Tempat yang menjadi tujuannya adalah Land of Waves."

Setelah melihat respons keduanya yang tampak siap. Kakashi lalu memberikan eye smile miliknya seperti biasa.

"Saa, silahkan nikmati misi rank c pertama kalian."

[ To Be Continued ]

A/N:

Yooo, apa kabar semua? Semoga baik-baik saja ya. Dan yaps, maaf karena udah lama enggak ada kabar hehe. Aku tersesat di jalan yang bernama kehidupan.

Ngomong-ngomong maaf kalau ficnya terkesan berantakan, soalnya sudah lama enggak nulis, jadi ini masih penyesuaian.

Dan selamat datang ke Arc baru. Arc Land of Waves! Wow, aku jadi enggak sabar menulis kelanjutannya.

Sampai jumpa, dan selamat berpuasa!