NOTES:
Bagi yang belum baca CATATAN PENTING di chapter sebelumnya, fanfic ini ditulis ketika manganyaa baru aja sampai Mission 62 part 2. Latar waktu cerita yaitu sekitar hampir 2 tahun setelah terbentuknya Keluarga 'Forger'.
Spy x Family selamanya milik Endล Tatsuya-sensei. Sekali lagi, fanfic pemula ini tidak akan pernah bisa menandingi karya dan ide beliau.
Tidak ada keuntungan materiial apapun yang didapat dari penulisan fanfic ini.
Keterangan Tambahan:
"AaBbCc" โ Ucapan biasa (Kutip dua biasa)
'๐๐ข๐๐ฃ๐๐ค' โ Pikiran (kutip tunggal dengan huruf miring)
Pada Chapter ini:
{{๐ฐ๐๐ฑ๐๐ฒ๐}} โ Isyarat atau kode rahasia, seperti morse, simbol, anagram, dll. (kurung kurawal dengan huruf miring)
/./AaBbCc\.\ โ flashback, atau flash-foward untuk Bond (titik diapit dua garis miring tebal dengan tulisan huruf miring)
โโยทโซโซแตแดผแตโซโโโซแตแดผแตโซโโโซแตแดผแต แตแดผแตโซโโโซแตแดผแตโซโโโซแตแดผแตโซโซยทโโ
๏ผก๏ผฌ๏ผฌ๏ผฉ๏ผก๏ผฎ๏ผบ
Fanfiction by LittlePeanutz
Spy x Family ยฉ Endล Tatsuya
๐๐ก๐๐ฉ๐ญ๐๐ซ ๐: ๐๐ฎ๐ฅ๐๐ง๐
Singkatnya, Loid hanya ingin istirahat dan ada orang lain yang bernasib sial.
๐ฟ๐๐๐๐๐
(KBBI) v pergi ke rumah atau ke tempat asalnya; kembali (ke); balik (ke)
โ แดฌหกหกโฑแตโฟแถป แถสฐแตแตแตแตสณ ยฒ: แดพแตหกแตโฟแต โ
Jumat, 17 Maret.
Sore hari, pukul 17.45 waktu setempat.
Di suatu tempat di West Berlint.
=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=
"Bzzโฆ Silahkan bunga gratisnya, Tuan. Bzzโฆ"
Langkah kaki pria itu terhenti ketika seorang wanitaโsepertinya berumur akhir 40โmenghadang di depannya sebelum memberikannya buket kecil berisi bunga-bunga berwarna-warni.
Lelaki itu menerima buket bunga itu, "Ah, terima kasih."
"Semoga hari Anda menyenangkan, Tuan. Bzzโฆ"
Kemudian perempuan itu kembali memberikan buket-buket bunga yang masih tersisa di keranjang tangannya ke orang-orang yang lewat.
Loid kembali melanjutkan langkahnya. Koran yang baru saja ia beliโmฬถeฬถnฬถgฬถhฬถuฬถtฬถaฬถnฬถgฬถโdari Franky ia jepit di antara lengan kirinya dan kedua tangannya mulai menginspeksi buket bunga yang baru saja ia terima itu.
'๐๐ฐ๐ฅ๐ฆ ๐? ๐ ๐ข. ๐๐ฏ๐ช ๐ฌ๐ฐ๐ฅ๐ฆ ๐,' gumam Loid.
"Bunga gratis untuk Anda, Tuan dan Nyonya! Bunga gratis! Semoga hari Anda menyenangkan!" Suara wanita itu perlahan menghilang dari pendengarannya.
Mawar, tulip, seruni. Tentu saja Loid langsung mengenali nama-nama bunga itu. Kemudian ia menemukan salah satu bunga yang tangkainya terlilit kain yang warnanya sesuai dengan warna tangkai bunga tersebut.
'๐๐ฆ๐ต๐ข๐ช๐ญ ๐ฎ๐ช๐ด๐ช ๐ฃ๐ข๐ณ๐ถ,' gumamnya.
Namun entah kenapa, ia lebih memilih untuk tidak membuka pesan rahasia itu sekarang. Ia ingin berjalan pulang dengan santai sambil menikmati angin sore, tidak dengan pikiran yang dipenuhi oleh misi ini misi itu. Lagi pula jarang sekali ia bisa pulang jam segini.
Sejujurnya, ia benar-benar kelelahan saat ini. Amat sangat. Meski hanya satu misi yang diberikan hari ini, namun sebenarnya ia sudah menjalankan 8 misi selama 5 hari berturut-turut dan kini ditangannya terdapat misi ke-9 dalam minggu ini. Ia hanya ingin pulang dan bersantai sambil minum kopiโTidak.
Ia adalah Twilight, agen mata-mata terbaik yang dimiliki oleh W.I.S.E.. Tak ada waktu untuk beristirahat. Dunia masih berada jauh dari perdamaian dan bukan saatnya untuk beristirahat sambil minum kopi. Apalagi akhir-akhir ini ketegangan antara kedua negara tersebut semakin meningkat akibat kejadian teroris yang sedang melanda Ostania.
Entah itu benar-benar teroris atau salah satu dari konspirasi pemerintahan Ostania.
Loid melirik ke arah jam tangannya. Jam pulang Anya sudah terlewat jauh. Juga jika tak salah ingat, hari ini Yor bilang akan pulang cepat. Jadi sepertinya keluarganya sudah berkumpul di rumah saat ini.
Keluarga.
Lebih tepatnya, keluarga palsunya.
Yah, setelah berhari-hari dipenuhi dengan misi yang melelahkan bagai kerja rodi, ditambah lagi kini di tangannya terdapat detail misi baru yang entah untuk kapan, harinya selalu berakhir disambut dengan melanjutkan misi jangka panjangnya seperti biasa. Menjadi sosok ayah dan suami yang ideal.
Tak ada istirahat untuk mata-mata. Pagi, siang, malamโ24 jam setiap hari setiap mingguโselalu dalam misi.
Tak terasa kakinya sudah berada di bangunan apartemen tempat tinggalnya bersama keluarga (palsu)nya. Ia menyapa tetangga yang lewat agar memberikan citra keluarga yang harmonis. Lalu langkahnya kembali terhenti, kini di depan pintu kamar apartemennya. Ia menggenggam gagang pintu sambil menarik napas perlahan.
'๐๐ฐ๐ช๐ฅ ๐๐ฐ๐ณ๐จ๐ฆ๐ณ. ๐๐บ๐ข๐ฉ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ด๐ถ๐ข๐ฎ๐ช ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ. ๐๐ฆ๐ต๐ข๐ฏ๐จ๐จ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ. ๐๐ฆ๐ญ๐ถ๐ข๐ณ๐จ๐ข ๐ฏ๐ฐ๐ณ๐ฎ๐ข๐ญ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ณ๐ฏ๐ข. ๐๐ฐ๐ช๐ฅ ๐๐ฐ๐ณ๐จ๐ฆ๐ณ, ๐๐ด๐ช๐ฌ๐ช๐ข๐ต๐ฆ๐ณ.'
Ia menggumamkan kata-kata itu bagai mantra. Dengan pekerjaannya yang selalu bergonta-ganti identitas, salah memainkan peran dalam misi jangka panjang ini akan berakibat fatal dalam Operasi Strix.
Seketika pintu kayu itu terbuka, kini ia harus memainkan peran [๐ป๐๐๐ ๐ต๐๐๐๐๐] dengan baik. Bagaikan semudah membalikkan telapak tangan, ia langsung memasang senyum di wajahnya sesaat pintu terbuka.
Lupakan tentang misi tadi siang dan fokus pada misi yang ini. Saatnya memulai kembali sandiwara [๐บ๐๐๐๐๐๐๐ ๐ต๐๐๐๐๐] dengan sempurna.
"Aku pulang."
"Pa!"
"Borf!"
"Selamat datang, Loid."
Putri-(angkat)nya melambaikan tangan dari seberang ruangan dengan penuh semangat. Di sebelah kanannya terdapat istri-(palsu)nya yang sedang duduk di sofa, sepertinya baru saja memperhatikan anak berambut pink yang sedang menggambar. Di sebelah kirinya terdapat anjing putih besar keluarga ini.
"Kau tidak bilang akan pulang secepat ini." Yor, istri-(palsu)nya, langsung berdiri dari sofa dan segera menghampirinya, "Ingin kubuatkan sesuatu? Wah, bunganya cantik sekali."
"Kopi, seperti biasa, Yor. Terima kasih," pintanya sambil melepaskan topi dan jasnya dan menggantungkan pada gantungan yang ada di dekat pintu. Ia menyerahkan buket bunga kecil tersebut pada Yor, "Tadi ada seseorang yang membagikan buket bunga gratis di jalan. Kebetulan saja aku dapat. Bisa kau urus ini?"
Yor menerimanya dengan senang hati, "Baik. Aku akan meletakkannya di vas. Pergilah mandi, Loid. Kau tampak kelelahan."
|โ แดฌหกหกโฑแตโฟแถป แถสฐแตแตแตแตสณ ยฒ: แดพแตหกแตโฟแต โ|
"Pa!"
Anya, putri-(angkat)nya, memanggilnya setelah Loid baru saja membersihkan diri dan mengganti pakaian yang lebih sederhana, "Tadi Anya dapat pensil warna dari Becky loh! Warnanya juga lebih banyak dari yang Papa belikan waktu itu!"
"Begitukah?" Loid duduk di sofa yang ada di depan Anya.
"Lalu tadi juga, Becky ngajak Anya pergi untuk nonton Bondman di bioskop besok! Di bioskop milik Becky! Tapi Sy-on bilang kalau film itu nggak bagus, tapi lagi pula Anya juga nggak peduli sama Sy-on. Lalu di kelas tadiโฆ"
Loid hanya mendengarkan ocehan Anya. Setiap hari anak itu selalu bercerita panjang lebar mengenai apa yang terjadi di sekolah dan teman-temannya, seakan-akan seperti sedang memberikan laporan lisan padanya setiap hari.
Loid sebenarnya tidak keberatan, setidaknya ia tahu sejauh mana operasi Strix berjalan. Namun bagian kecil dari dirinya sungguh menikmati mendengarkan ocehan putrinya itu. Mendengar suara bahagia dan antusias yang dimiliki oleh gadis kecil itu membuat hatinya perlahan menjadi tenang.
"Kau tak perlu masak makan malam, Loid. Tadi Nyonya Riche yang tinggal di lantai atas membagikan cukup banyak makanan untuk makan malam. Jika mau, akan aku panaskan sekarang," ucap Yor sambil meletakkan secangkir kopi di depannya, "dan bunganya sangat cantik, Loid. Sudah aku letakkan dalam vas bunga."
"Terima kasih, Yor." Loid tersenyum sambil mengambil kopi tersebut, begitu natural.
Sangat natural sampai-sampai ia merasa ini bukanlah sandiwara. Apakah ini pertanda bahwa kemampuannya semakin lihai? Atau justru malah semakin tumpul?
Juga entah kenapa ia merasa kalau rasa lelahnya sedikit demi sedikit menghilang saat ia mendengarkan keluarga-(palsu)nya itu saling bercengkerama dan bercanda. Rasa penatnya perlahan meluruh ketika melihat senyuman dari 2 wanita yang ada di keluarga-(palsu)nya itu. Bahkan ia merasa bahwa senyuman yang selalu ia lontarkan sekarang tak terdapat satu pun rasa paksaan di dalamnya.
Sandiwara atau tidakโia sudah tak peduliโsepertinya ia tak keberatan seperti ini untuk waktu yang sedikit lebih lama. Ia sudah lelah memikirkan hal-hal lain yang tiada habisnya. Biarlah dirinya menikmati waktu bercengkerama bersama keluarga-(palsu) kecil miliknya ini.
"Senang bisa kembali ke rumah," ujarnya, tulus. Kemudian ia menyeruput kopinya.
โ แดฌหกหกโฑแตโฟแถป แถสฐแตแตแตแตสณ ยฒ: แดพแตหกแตโฟแต โ
Hari yang sama, Jumat, 17 Maret.
Malam hari, pukul 20.50 waktu setempat.
Di suatu tempat di Central Berlint.
=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=
"Tuan Grey!"
Suara teriakan seorang laki-laki memenuhi seluruh isi gedung yang sepertinya sudah ditinggalkan.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang Tuan Grey!?"
Laki-laki berpakaian serba hitam berteriak panik setelah keluar dari salah satu ruangan, "Mereka telah mengambil semuanya!"
"Sssh! Jangan teriak-teriak, Luis! Pelankan suaramu!"
Lelaki lain yang bertubuh sedikit lebih tinggi dan berambut kecokelatan yang juga berada di ruangan itu menghela napas. Ia melihat sekeliling ruangan yang sudah sangat berantakan, seperti orang-orang yang tinggal di sini terburu-buru untuk pergi. Kursi-kursi yang ada di ruangan itu berjatuhan. Laci dan meja semua kosong dan dalam keadaan terbuka. Seluruh lantai dipenuhi oleh sampah dan barang yang tak penting lainnya.
Melihat kondisi serta keadaan barang-barang yang ada di ruangan saat ini, sepertinya orang-orang yang terakhir tinggal di sini telah lama pergi.
Sepertinya mereka berdua datang terlambat ke tempat ini. Semuanya telah hilang dan semuanya berada di luar rencana mereka. Kata-kata kasar berakhir keluar dari mulutnya.
"Kita cari mereka," seru lelaki berambut cokelat yang dipanggil sebagai [๐๐๐๐ ๐ถ๐๐๐ข], "Apapun itu, aku harus menemukan putraku. Aku harus membawanya pulang."
"Tapi bagaimana cara kita melacak ๐บ๐ธ๐ฝ๐ณ?" tanya rekannya yang merupakan lelaki berpakaian serba hitam tadi, Luis. "Dilihat dengan cara mereka meninggalkan tempat ini jauh sebelum kita datang, sudah jelas mereka ini bukan organisasi sembarangan! Mereka sudah tahu gerak-gerik kita!"
Tuan Grey berpikir, "Rencana E udah gagal. Sekarang kita gunakan rencana F," cetusnya, "aku kenal dengan seorang informan yang mengenal salah satu informan yang bekerja sama dengan W.I.S.E.."
Luis sedikit bingung. Mengenal seseorang yang mengenal seseorang? "Maksudnya?"
"Kita akan mencoba menghubungi W.I.S.E.."
"T-Tunggu, APA?!"
Sebenarnya Luis sudah bisa menebak maksud dari Tuan Grey sebelumnya. Namun ia tak menyangka akan mendengarnya secara langsung dari mulut rekannya itu.
"Anda akan melibatkan pihak Westalis?!"
Melibatkan Westalis pada permasalahan Ostania disaat kedua negara tersebut sedang berada di salah satu puncak perang dingin? Terdengar seperti sebuah rencana yang sangat bagus.
Tuan Grey mengangguk. "Ya. Karena kedua negara ini sudah terlibat jauh lebih dalam pada permasalahan ini dan tidak ada satupun yang mengetahuinya."
โ แดฌหกหกโฑแตโฟแถป แถสฐแตแตแตแตสณ ยฒ: แดพแตหกแตโฟแต โ
Hari yang sama, Jumat, 17 Maret.
Malam hari, pukul 22.30 waktu setempat.
128 Park Avenue, West Berlint.
=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=
Putri-(angkat)nya sudah tidur. Sepertinya istri-(palsu)nya juga sudah tertidur di ruang sebelah. Loid keluar dari kamarnya dan menghampiri meja kabinet yang di atasnya terdapat vas bunga yang tadi sore di tata oleh Yor.
Sepertinya akhir-akhir ke-profesionalitas-nya sedikit menurun. Bisa-bisanya ia menyerahkan pesan rahasia milik W.I.S.E. ke sembarang orang sipil? Meski ia tahu bahwa Yor bukanlah orang sembarangan dan pesan rahasia itu tidak akan ada yang bisa memecahkannya kecuali sudah mengetahui kode penerjemahnya, tapi tetap saja.
Tadi sepulang dari pekerjaan-(ฬถmฬถiฬถsฬถiฬถ)ฬถnya, ia langsung menyerahkan buket bunga yang terdapat pesan rahasia kepada Yor begitu saja tanpa menyembunyikan pesan itu terlebih dahulu. Untung saja Yor tidak menyadarinya, itu berarti memang pesan rahasia itu tersembunyi secara sempurna di balik buket bunga itu, atau mungkin Yor memanglah Yor.
Mungkinkah dia sudah mempercayai Yor hingga kewaspadaannya menurun dengan sangat tajam?
Tidak, itu tidak boleh. Sebagai mata-mata, tidak ada yang bisa dipercaya. Bahkan mata-mata hebat sekalipun terkadang meragukan dirinya sendiri.
Loid menginspeksi buket bunga itu sekali lagi. Dengan sekejap Loid berhasil menemukannya. '๐๐ฐ๐ฅ๐ฆ ๐, ๐ฌ๐ฐ๐ฅ๐ฆ ๐,' gumamnya sambil menerjemahkan isi pesan tersebut.
{{๐ท๐๐๐, ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐, ๐๐ ๐๐๐๐๐๐.
๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐, ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐.
๐ผ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐, ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ข๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐.
๐น๐น๐ถ ๐ผ๐๐๐๐ ๐๐๐๐, ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ .}}
Loid mendengus. Hebat. Misi kali ini membereskan masalah yang dibuat oleh anak baru. Seharusnya W.I.S.E. lebih ketat dalam melatih agen-agen baru itu. Jika mereka sembarangan mengirimkan agen-agen seperti ini, maka akan semakin banyak rekan kerjanya yang gugur dan semakin banyak masalah yang harus dibereskan oleh agen-agen senior, seperti dirinya.
'๐๐ฐ๐ถ๐ต๐ฉ ๐๐ถ๐ฅ๐ฅ๐ฐ๐ธ. ๐๐ข๐ณ๐ข๐ฌ๐ฏ๐บ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ช๐ต๐ข๐ณ 5 ๐ซ๐ข๐ฎ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข๐ญ๐ข๐ฏ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐จ๐ถ๐ฏ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฐ๐ฃ๐ช๐ญ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ด๐ช๐ฏ๐ช. ๐๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ข๐ต ๐ช๐ต๐ถ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ญ ๐ฐ๐ญ๐ฆ๐ฉ ๐ฑ๐ข๐ณ๐ข ๐ช๐ฏ๐ง๐ฐ๐ณ๐ฎ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ข๐จ๐ข๐ช ๐ฌ๐ข๐ธ๐ข๐ด๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ข๐ณ๐ข ๐ฌ๐ณ๐ช๐ฎ๐ช๐ฏ๐ข๐ญ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ข๐ณ๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ฌ๐ฆ๐ซ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ ๐๐๐. ๐๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ข๐ต ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ข๐บ๐ข ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ข๐จ๐ฆ๐ฏ-๐ข๐จ๐ฆ๐ฏ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฎ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ๐ข๐ฏ. ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐.๐.๐.๐. ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ช๐ณ๐ช๐ฎ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ข๐จ๐ฆ๐ฏ ๐ฌ๐ฆ ๐ด๐ข๐ฏ๐ข?'
Ia berjalan menuju balkon yang ada di ruang keluarga dengan niat untuk membakar pesan tersebut di luar. Setelah menerima pesan rahasia, tak boleh ada barang bukti yang tersisa. Segalanya harus dimusnahkan segera setelah informasi tersebut diterima.
'๐๐ฑ๐ข๐ฌ๐ข๐ฉ ๐.๐.๐.๐. ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ-๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ ๐ฌ๐ฆ๐ฌ๐ถ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฏ๐จ๐จ๐ฐ๐ต๐ข? ๐๐ฑ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฅ๐ช ๐ด๐ข๐ฏ๐ข? ๐๐ฑ๐ข ๐ช๐ฏ๐ง๐ฐ๐ณ๐ฎ๐ข๐ด๐ช ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ช๐ฏ๐จ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ถ๐ต? ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ต๐ข๐ฉ๐ถ๐ช๐ฏ๐บ๐ข? ๐๐ถ๐ฏ๐จ๐จ๐ถ, ๐ข๐ฑ๐ข๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ข๐จ๐ฆ๐ฏ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐จ๐ถ๐จ๐ถ๐ณ ๐ช๐ต๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ถ๐ฑ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ข๐จ๐ฆ๐ฏ ๐ฃ๐ข๐ณ๐ถ?'
Loid membuka jendela yang ada di ruang keluarga yang terhubung dengan balkon. Balkon itu berukuran kecil, bahkan tak ada cukup ruang untuk kaki berpijak. Seakan-akan mirip dengan jendela yang berukuran besar, namun terdapat pagar setinggi pinggang orang dewasa yang mencegah seseorang jatuh ketika jendela itu terbuka. Loid pikir tidak ada salahnya sesekali membuka jendela itu dan memusnahkan pesan rahasia itu di sana.
Angin malam yang dingin langsung menggigit kulitnya. Harusnya ia mengenakan jaket tadi, atau mungkin pakaian yang sedikit lebih tebal. Jangan meremehkan angin malam di bagian barat Berlint apalagi di bulan ini. Tapi toh ia hanya akan membakar pesan itu sebentar lalu akan masuk ke dalam lagi. Dingin seperti ini tidak akan mengganggunya. Ia pernah berada di situasi yang lebih dingin dari ini.
Ctak!
Suara pemantik api berbunyi. Loid segera membakar pesan rahasia itu. Tubuhnya ia condongkan ke luar dari balkon supaya asap dan abunya tidak masuk ke dalam apartemen.
Angin dingin menerpa kulitnya. Suara sunyi kota satu-satunya yang ia dengar. Kain itu terbakar perlahan, berubah menjadi abu yang kemudian tertiup oleh angin malam hingga tak bersisa.
Menunggu kain itu habis terbakar dengan sempurna, kobaran api kecil yang menyala pada kain itu mengingatkannya pada sesuatu. Kenangan lama yang tak terduga muncul kembali.
/./././
Di tengah malam yang dingin, ditemani sepuntung rokok di tangannya, Twilight menjalankan misinya di tempat yang begitu asing.
Sendirian.
Dengan tubuh penuh luka, tak ada istirahat, tak boleh lelah.
Antara hidup dan mati. Tanpa tempat untuk pulang. Semuanya untuk kedamaian dunia.
\.\.\.\
Ngomong-ngomong, kapan terakhir kali ia merokok?
Bukan berarti ia rindu, tapi ia tiba-tiba merasa seperti sudah lama seklai tidak melakukan itu. Biasanya, Twilight selalu merokok jika punya waktu atau merasa sangat lelah ketika menjalankan misi.
Ia merasa jika melakukan itu, tubuhnya yang selalu merasa tegang dan waspada setiap saat perlahan rileks sejenak, walau hanya beberapa detik. Ia butuh sesuatu untuk menenangkan dirinya yang tidak pernah tenang. Oleh karena itu ia candu pada rokok untuk waktu yang lumayan lama. Lalu kecanduan itu hilang begitu saja, entah kapan.
'๐๐ฉ, ๐ด๐ฆ๐ซ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฅ๐ข ๐๐ฏ๐บ๐ข. ๐๐ฆ๐ณ๐ฉ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฐ๐ฌ๐ฐ๐ฌ ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ช๐ญ๐ช๐ฌ๐ช ๐ข๐ฏ๐ข๐ฌ ๐ฌ๐ฆ๐ค๐ช๐ญ. ๐๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ฎ๐ช๐ด๐ช.'
Yah, demi misi, apapun bisa Twilight lakukan. Termasuk berhenti dari merokok. Sekarang ia tak butuh itu untuk menenangkan diri setelah menjalani misi yang sulit.
Tapi sungguh, sejak kapan ia dapat merasa tenang, walau sebentar, tanpa bantuan zat adiktif mematikan tersebut?
"Loid?"
Loid langsung menoleh ke belakang. Dia melihat Yor, berdiri tak jauh darinya sambil mengenakan selimut tipis berwarna krem yang menutupi pundaknya. Rambut hitam panjangnya yang terurai sedikit bergerak akibat hembusan angin yang masuk dari arah balkon.
Lagi-lagi Loid tidak menyadari kehadiran Yor yang tiba-tiba saja sudah berada di belakangnya.
Memang pada awalnya sangat mengganggu, ia sama sekali tidak bisa merasakan keberadaan istri (palsu)-nya itu. Langkah kaki, gerakan tubuh, bahkan suara napasnya saja tak terdengar. Bagai tinggal dengan seorang yang sudah profesionalโฆ
Namun setelah tinggal satu atap selama hampir 2 tahun, Loid mulai merasakan yang namanya [terbiasa]. Sekarang ia sudah tidak begitu kaget ketika istri (palsu)-nya itu tiba-tiba muncul di belakangnya atau entah darimana. Mungkin karena istri (palsu)-nya itu merupakan PNS yang bekerja di Berlint City Hall dan bukanlah seorang musuh berbahaya yang dapat membunuhnya ketika tidur.
Istri (palsu)-nya itu bukanlah ancaman bagi dirinya, dan Loid percaya.
Sekarang Twilight meragukan kemampuan mata-matanya karena telah mempercayai seseorang. Seharusnya tidak ada yang bisa dipercaya oleh mata-mata.
"Apa yang sedang kau lakukan, Loid?" tanya Yor. Iris matanya yang berwarna merah, bola mata yang jernih, kelopak mata yang terbuka lebar, tak ada tanda-tanda kantuk dari tatapan wanita itu. Mungkinkah wanita itu sedang sulit tidur?
"Ada sesuatu yang mirip serangga terbang di sini. Jendela kubuka supaya serangga itu cepat keluar," jelas Loid dengan kebohongan yang sudah natural. '๐๐ฆ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด๐ฏ๐บ๐ข ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฃ๐ข๐ฌ๐ข๐ณ ๐ฑ๐ฆ๐ด๐ข๐ฏ ๐ช๐ฏ๐ช ๐ฅ๐ช ๐ซ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ฆ๐ญ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฅ๐ช ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ข๐ณ๐ฎ๐ถ! ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ญ๐ข๐ฌ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช ๐ด๐ช๐ฏ๐ช?! ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฑ๐ช๐ฌ๐ช๐ณ ๐ฑ๐ข๐ฏ๐ซ๐ข๐ฏ๐จ ๐๐ธ๐ช๐ญ๐ช๐จ๐ฉ๐ต?!'
Yor mundur beberapa langkah, ketakutan terukir di wajahnya. "Serangga?!"
Loid tahu betul Yor takut dengan serangga (Sekilas memori tahun lalu kembali teringat ketika ada serangga yang menempel di baju Loid saat sedang piknik keluarga di taman. Yor yang ketakutan reflek hampir menendangnya. Ia ingat tulang rusuknya hampir patah saat itu.), dengan begitu Yor tidak akan mendekatinya untuk sementara waktu.
Pesan rahasia itu sudah habis terbakar, tapi bau asap sisa pembakaran masih tercium dan beberapa abu jatuh ke lantai. Ia hanya berharap angin malam yang dingin ini segera menyapu semua itu pergi. Tapi tetap saja melihat wajah Yor yang begitu ketakutan menimbulkan perasaan aneh di dalam dirinya.
"Lalu kau sendiri sedang apa, Yor?" Loid balik bertanya.
"Aku hanya ingin mengambil segelas air," jawab Yor, "apa serangganya sudah hilang?"
"Ya, sudah hilang. Serangganya sudah hilang dari tadi," kekeh Loid. "Maaf, aku tidak mengganggu tidurmu, `kan?"
Yor langsung menyangkal, "Tidak! Sama sekali tidak! Aku hanya haus dan berniat ke dapur untuk mengambil minum. Tapi tadi aku merasakan udara dingin dari arah sini. K-Kupikir ada pencuri atau apa... Tapi ternyata aku melihatmu. Aku bersyukur itu bukan pencuri atau orang jahat lainnya!"
"Syukurlah kalau begitu."
Sesuai dengan perkataannya, Yor langsung menuju ke dapur dan mengambil segelas air putih. Loid masih berada di tempatnya. Ia berniat untuk menutup jendela tersebut. Namun dirinya masih ingin menikmati suasana kota ketika malam.
Tak banyak kendaraan yang lewat. Beberapa orang masih berlalu lalang di depan apartemen. Suara kucing mengeong. Suara obrolan orang-orang yang masih terbangun di apartemen sebelah. Tak banyak yang bisa ia dengar, namun ia menghargai suasana malam yang tenang itu.
"Apakah kau tidak kedinginan, Loid?"
Kini Yor sudah berada di sampingnya (sekali lagi ia tidak begitu kaget karena sudah terbiasa). Yor, seorang wanita yang begitu cekatan dalam melakukan apapun, tentu saja sudah meletakkan gelas berisi air minum kembali ke kamarnya dan kini menghampirinya yang masih berdiri di dekat jendela membiarkan tubuhnya diterpa angin malam. Sepertinya Yor mengkhawatirkannya.
Loid menyadari di tangan Yor sudah terdapat selimut lain. Itu selimut hitam bermotif tulisan Bondman berwarna putih milik Anya yang biasa digunakan sebagai jubah dalam permainan mata-mata yang biasa Anya mainkan. Anya selalu meninggalkan selimut itu di ruang keluarga, tepat di sebelah sofa.
Yor mungkin berniat menawarkan Loid selimut itu untuk menghangatkan diri. Sepertinya Yor tidak mempunyai selimut lain di kamarnya dan juga ia tak mungkin masuk ke kamar Loid sembarangan untuk mengambil jaketnya.
"Ada selimut punya Anya, jika kau kedinginan," tawar Yor sambil menyodorkan selimut hitam itu.
Loid tersenyum. "Terima kasih, Yor. Tapi aku tak apa. Aku baru saja mau menutup jendela."
"Oh? Kupikir kau masih ingin lihat-lihat luar sebentar," kata Yor, "tapi memang angin malam sangat dingin. Lebih baik jendela ditutup. Serangganya sudah pergi jauh `kan?"
"Sudah, sudah."
Loid lalu menutup jendela balkon dan menguncinya. Yor kembali berjalan menuju dapur, entah melakukan apa. Kemudian terjadi keheningan beberapa saat di antara Loid dan Yor.
"Jadi, apakah kau tidak bisa tidur, Yor?"
"Apakah kau sedang mengalami kesulitan tidur, Loid?"
Loid dan Yor bertanya pada waktu yang bersamaan. Kedua mata saling bertemu. Keheningan sesaat kembali terjadi, lalu akhirnya suara tawa kecil mereka pecah menertawakan kebetulan yang tak sengaja.
"Sepertinya kita sama-sama tidak bisa tidur," Loid tertawa pelan.
"Mau kubuatkan teh, Loid?" usul Yor tiba-tiba, "aku tahu kau suka kopi. Tapi mau mencoba minum teh?"
Loid berpikir sejenak. Harus kah ia terima tawaran itu?
'๐๐ฏ๐ช ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ. ๐๐ฌ๐ถ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ช๐ด๐ต๐ช๐ณ๐ข๐ฉ๐ข๐ต ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฆ๐ด๐ฐ๐ฌ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ช ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฎ๐ช๐ด๐ช ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ฌ๐ถ๐ซ๐ข๐ญ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ข๐ฏ. ๐๐ช๐ด๐ช ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต ๐ค๐ถ๐ฌ๐ถ๐ฑ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ข๐บ๐ข. ๐๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฑ๐ข๐ต๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ธ๐ข๐ฌ๐ต๐ถ ๐ช๐ด๐ต๐ช๐ณ๐ข๐ฉ๐ข๐ต ๐ด๐ฆ๐ญ๐ข๐ฎ๐ข ๐ช๐ฏ๐ช. ๐๐ข๐ถ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐จ๐ถ๐ฏ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ฆ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ข๐ต๐ข๐ฏ ๐ช๐ฏ๐ช ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ, ๐๐ธ๐ช๐ญ๐ช๐จ๐ฉ๐ต! ๐๐ฌ๐ถ ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ต๐ข๐ฌ ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฑ๐ฐ๐ต๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ ๐ฐ๐ณ. ๐๐ข๐ฅ๐ช ๐ด๐ฐ๐ณ๐ฆ ๐ ๐ฐ๐ณ ๐ฃ๐ช๐ญ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฆ๐ด๐ฐ๐ฌ ๐ช๐ข ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐จ๐ช ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ข๐ฅ๐ข ๐ต๐ถ๐จ๐ข๐ด ๐ฅ๐ช๐ฏ๐ข๐ด. ๐๐ข ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ญ๐ถ ๐ช๐ด๐ต๐ช๐ณ๐ข๐ฉ๐ข๐ต ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ค๐ถ๐ฌ๐ถ๐ฑ. ๐๐ช๐ฌ๐ข ๐ช๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ญ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ง๐ฐ๐ณ๐ฎ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ณ๐ถ๐ฏ. ๐๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ ๐ฐ๐ณ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ต๐ช๐ฅ๐ถ๐ณ ๐ค๐ถ๐ฌ๐ถ๐ฑ ๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ช๐ฏ๐ช. ๐๐ข๐ฌ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ญ๐ถ ๐ฅ๐ช๐ฃ๐ถ๐ข๐ต๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ต๐ฆ๐ฉ, ๐ช๐ต๐ถ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฑ๐ฐ๐ต๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ ๐ฐ๐ณ. ๐๐ฆ๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ญ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ธ๐ข๐ฌ๐ต๐ถ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ญ๐ข๐ฎ๐ข ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฅ๐ช๐ฃ๐ถ๐ข๐ต. ๐๐ข๐ณ๐ถ๐ด๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ฌ๐ข๐ณ ๐ฑ๐ฆ๐ด๐ข๐ฏ ๐ช๐ต๐ถ ๐ฅ๐ช ๐ด๐ช๐ฏ๐ช. ๐๐ข๐ณ๐ถ๐ด๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ฌ๐ข๐ณ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ๐ช ๐ซ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ฆ๐ญ๐ข ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ข๐ณ๐ฌ๐ถ. ๐๐ข๐ณ๐ถ๐ด๐ฏ๐บ๐ข ๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ช๐ฏ๐ช ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ค๐ถ๐ฌ๐ถ๐ฑ. ๐๐ณ๐จ๐ฉ, ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ถ๐ต๐ฌ๐ถ ๐ด๐ข๐ฌ๐ช๐ต ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ช๐ฌ๐ช๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ข ๐ช๐ฏ๐ช.'
Loid tersenyum. "Tentu, jika kau tak keberatan, Yor," ucapnya.
"Tentu saja tidak. Baiklah, tunggu sebentar, Loid."
Sepertinya menghabiskan waktu sebentar dengan istri (palsu)-nya sambil minum teh tidaklah buruk.
โ แดฌหกหกโฑแตโฟแถป แถสฐแตแตแตแตสณ ยฒ: แดพแตหกแตโฟแต โ
Hari yang sama, Jumat, 17 Maret.
Malam hari, pukul 23.40 waktu setempat.
Di suatu tempat di Central Berlint.
=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=
"Tuan Grey! Tuan yakin ingin meminta bantuan dari pihak Westalis?"
Tuan Grey mengangguk sambil membaca berkas-berkas yang ada di tangannya. Kini ia dengan dua orang lainnya berada di perjalanan ke suatu tempat menggunakan mobil. Luis yang menyetir, Tuan Grey duduk di kursi penumpang sebelah sopir, dan terdapat satu orang lagi yang duduk di kursi penumpang belakang.
"Maksudku bagaimana caranya? Hubungan Westalis dan Ostania tidak berjalan baik akhir-akhir ini semenjak pengeboman 5 bulan yang lalu!" seru orang yang duduk di belakang Tuan Grey.
"Aku pernah dengar ada sebuah organisasi mata-mata dari pihak Westalis yang bekerja dalam bayangan di negeri ini. Kudengar namanya ๐๐ธ๐๐ด, Whiskey India Sierra Echo. Kita bisa mencoba dari sana," ungkap Tuan Grey sambil membereskan berkas-berkas yang ada di tangannya lalu merapikan semuanya ke dalam map.
"W.I.S.E.? Organisasi yang menjadi buronan S.S.S.?"
"Kau cukup tau rupanya, Leo."
"Tentu saja aku tahu!" seru Leo, penumpang ketiga di mobil itu. Suaranya terdengar frustrasi. "Sepertinya Tuan kurang mengerti apa yang kumaksud. Oke, akan kuperjelas lagi di sini. Maksudku, bagaimana cara Tuan untuk meminta bantuan dari pihak barat? Tak peduli melalui waiss atau apapun itu, tapi bagaimana cara Tuan agar mereka 'mau menerima' kerja sama dengan kita?! Kita bahkan bukanlah sebuah organisasi dan bukan siapa-siapa bagi Ostania! Apa mereka mau ikut campur dalam urusan tidak penting ini?!"
"Memang bagi Ostania dan Westalis, permasalahan ini tidak penting buat mereka. Namun bagiku, ini semua cukup penting. Sudah ada 5 rencana kita yang gagal dan kini kita sudah berada di rencana F. Tentu saja aku tidak main-main dengan semua ini," tutur Tuan Grey, "oh ya, Luis, setelah ini belok kanan. Kita akan menemui Lady terlebih dahulu."
"Baik."
"Lalu Leo," lanjut Tuan Grey pada Leo, "aku masih punya ๐๐๐๐๐ ๐ฐ๐ lainnya yang akan membuat W.I.S.E. mau bekerja sama dengan kita."
Leo dan Luis terdiam sebentar.
"Tuan yakin [๐๐๐๐๐ ๐ฐ๐] itu akan berfungsi? Mengingat di rencana C dan D sebelumnya, [๐๐๐๐๐ ๐ฐ๐] milik Tuan tidaklah begitu berpengaruhโฆ dan rencana kita gagal karena itu," sela Leo. Luis mengangguk setuju.
Ah.
Rencana yang itu...
"Kuharap yang kali ini bekerja. Aku tak punya pilihan lain," ujar Tuan Grey.
Rencana yang tak kunjung berhasil, pilihan semakin sedikit, mau tak mau Tuan Grey harus bertaruh pada [๐๐๐๐๐ ๐ฐ๐] ini. Ia tak punya pilihan lain karena mungkin hanya ini satu-satunya cara dan cara terakhir yang bisa ia lakukan untuk membawa pulang putranya.
"Berdoa saja ini menjadi rencana kita yang terakhir, dan berhasil."
'๐๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ข๐ณ๐ถ๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฉ๐ช๐ฅ๐ถ๐ฑ๐ฌ๐ถ ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข ๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ข๐ฏ๐ข ๐ช๐ฏ๐ช.'
~ ๐๐ง๐ ๐จ๐ ๐๐ก๐๐ฉ๐ญ๐๐ซ ~
Preview Next Chapter : Side Mission Failed
Singkatnya, di dunia ini tidak ada yang namanya tidak mungkin.
NOTES:
Semoga nggak terlalu OOC ya... OC-ku di sini yang namanya Hans Grey [alias Tuan Grey] nggak ada hubungannya sama sekali dengan Furseal Grey (kalau kalian baca manganya. Aku cuman kehabisan ide buat nama aja).
Lalu, niatnya fanfic ini memang akan ditulis lumayan slow. 2 chapter setelah ini merupakan side mission. Chapter tersebut bukan berarti side chapter atau filler, cuman chhapter yang berisi world building dimana sudut pandang utamanya yang kupakai adalah karakter OC-ku dan karakter utama original SpyxFamily bakalan jarang dimunculkan atau bahkan full nggak muncul sama sekali. Penjelasan lebih lanjut tentang side mission bisa dilihat di chapter berikutnya!
Intinya, bagi yang kurang tertarik dengan konsep chapter seperti itu, sebenernya masih bisa di skip kalau mau langsung lihat cerita utamanya. (Karena jujur aku tipe orang yang terkadang malas membaca cerita jika terlalu sering menggunakan sudut pandang OC dan OC-nya kurang membekas di aku gitu. Padahal ujung-ujungnya ceritaku sendiri ada OCnya duh). Makanya aku bakalan berusaha bikin agar tetap menarik sehingga nggak jadi kalian skip hehehe...
[Last Edits : 09/03/2023]
Terima kasih sudah membaca!
