Notes :
Hellooo! Aku akhirnya balik lagi setelah keseluruhan drama kehidupan KKN dan hilang data! Makasih buat yang udah nunggu!
Untuk beberapa chapter sebelumnya, ada beberapa yang kuedit kembali (tapi tidak akan mempengaruhi plot cerita sebelum hiatus, jadi tidak ada perubahan yang begitu besar), hanya menambahkan detail-detail yang kurang dan merevisi sedikit. Seperti di Chapter 3, yang awalnya ada 5 anak yang ditemukan oleh Vine, aku ubah menjadi 3 anak saja dan percakapan minum teh di Chapter 5 sedikit aku revisi (dan beberapa detail minor lainnya yang nggak terlalu berpengaruh).
Lalu... sebelum lanjut ke chapter berikutnya, ada sedikiit Side Mission. Welp, Side Mission ini mungkin sedikitโฆ tidak nyaman buat beberapa pembaca.
Kemudian latar waktu di side mission ini bertahun-tahun sebelum chapter kemarin. Jadi sedikit ada flashback di sini.
Tambahan:
"AaBbCc" โ Ucapan biasa (Kutip dua biasa)
'๐๐ข๐๐ฃ๐๐ค' โ Pikiran (kutip tunggal dengan huruf miring)
Pada chapter ini:
"AaBbCc" โ Ucapan yang terdengar dari alat elektronik seperti radio, pengeras suara, telpon atau suara seseorang yang terdengar sangat pelan. Atau ucapan yang mempertegas sesuatu. (Kutip dua dan huruf miring)
๐ฒ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ข๐...
Anak-anak yang dapat membaca pikiran. Cocok sekali jika dikirimkan ke wilayah musuh. Tak akan ada yang menyadari bahaya dari seorang anak kecil lugu, polos, dan tidak bersalah yang datang menghampiri mereka. Cocok untuk menurunkan kewaspadaan musuh, menggali dan mencuri informasi dari mereka.
'Sungguh dunia udah makin gila.'
Hal keji apalagi yang dapat manusia buat? Menggunakan anak-anak sebagai uji eksperimen, sangat sangat tidak manusiawi.
โโยทโซโซแตแดผแตโซโโโซแตแดผแตโซโโโซแตแดผแต แตแดผแตโซโโโซแตแดผแตโซโโโซแตแดผแตโซโซยทโโ
๏ผก๏ผฌ๏ผฌ๏ผฉ๏ผก๏ผฎ๏ผบ
Fanfiction by LittlePeanutz
Spy x Family ยฉ Endล Tatsuya
๐๐ก๐๐ฉ๐ญ๐๐ซ 7: ๐๐ข๐๐ ๐๐ข๐ฌ๐ฌ๐ข๐จ๐ง ๐๐ฎ๐ซ๐ฏ๐ข๐ฏ๐
Singkatnya, anak-anak ini tak lagi mempunyai mimpi.
๐ฑ๐๐๐๐๐๐๐
(KBBI) v mempertahankan diri (terhadap serangan, godaan, dan sebagainya)
v tidak mau menyerah; berteguh hati; berkeras hati
dsb.
โ แดฌหกหกโฑแตโฟแถป แถสฐแตแตแตแตสณ: โท หขโฑแตแต แดนโฑหขหขโฑแตโฟ หขแตสณแตโฑแตแต โ
Di suatu hari di suatu tempatโฆ
=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=
"Bawa yang lainnya masuk!"
Seorang anak laki-laki berjalan masuk ke dalam ruangan bersamaan dengan anak-anak kecil lainnya. Ia harus mempercepat langkahnya atau orang-orang dewasa itu akan memarahinya lagi. Anak laki-laki itu masuk paling terakhir dari rombongan, sehingga ia berada di paling kanan barisan tersebut.
Di sebuah ruangan berlantai putih keramik, berdinding putih dengan kaca-kaca hitam yang anak laki-laki itu tak dapat melihat ada apa di baliknya, ia berdiri di tengah ruangan bersama keempat anak kecil lain yang tampaknya seumuran dengannya.
Pintu lalu terkunci, orang-orang dewasa yang barusan mengantarnya tak ikut masuk ke dalam ruangan ini. Hanya terdapat seorang laki-laki dewasa lain yang mengenakan pakaian putih seperti dokter sedang duduk di sebuah meja sambil menulis sesuatu, sepertinya tak peduli dengan kedatangan anak-anak kecil ke ruangan ini.
Di ruangan ini hanya ada 5 orang anak kecil, 1 orang dewasa, 1 meja dan 1 kursi. Tak ada yang lain.
Tak lama, laki-laki dewasa itu berdiri dari kursinya. Pandangannya masih tertuju pada papan yang terdapat beberapa kertas yang ada di tangannya. Anak laki-laki itu melirik ke anak-anak lain yang ada di sebelah kirinya. Mereka tak mengatakan apa-apa, hanya ekspresi takut yang terpampang di wajah mereka.
"Okeโฆ Ini kloter yang keโฆ tiga hari ini. Semoga kita mendapat hasil dari subjek-subjek ini," gumam orang dewasa itu sedikit menghela napas, tapi masih dapat terdengar oleh anak laki-laki itu.
"Salah satu dari kalian akan menjadi yang terpilih," Laki-laki dewasa yang mengenakan pakaian seperti dokter itu mulai berbicara, cukup nyaring seakan-akan meminta seluruh fokus untuk tertuju kepadanya. "Kalian akan menjadi pahlawan! Ya, pahlawan yang membasmi kejahatan! Bisa jadi kalian semua yang terpilih menjadi pahlawan!"
Laki-laki dewasa itu berjalan menuju anak kecil yang berada paling kiri dan berdiri di depannya, "atau, tidak ada satupun dari kalian yang akan terpilih menjadi pahlawan. Sama seperti kloter sebelumnya, kegagalan. Tidak berguna."
Kemudian laki-laki dewasa itu kembali duduk di kursi, menyilangkan kaki lalu berseru, "Baiklah! Sekarang kita menyeleksi orang-orang terpilih! Buka baju kalian! Pahlawan gak memiliki satupun bagian tubuh yang cacat!"
โ แดฌหกหกโฑแตโฟแถป แถสฐแตแตแตแตสณ: โท หขโฑแตแต แดนโฑหขหขโฑแตโฟ หขแตสณแตโฑแตแต โ
Beberapa hari telah berlalu.
Di suatu tempat yang tidak dikenalโฆ
=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=
Anak laki-laki itu duduk di sebuah kursi. Tangannya ia kepalkan di kedua lututnya. Tak tahu sudah berapa lama ia berada di tempat ini namun ia selalu merasa takut. Orang-orang dewasa yang mengenakan pakaian seperti dokter itu sibuk berbicara tak jauh di depannya, seperti tak menganggap keberadaannya di tempat itu.
"Jadi dari 20 kloter yang masing-masing terdiri dari 5 subjek, hanya ada 10 subjek yang memungkinkan?!"
Tubuhnya tersentak, anak laki-laki itu dapat mendengar suara tinggi orang dewasa yang sedang marah. Ia melihat ke arah kakinya, tak berani melihat wajah-wajah orang dewasa yang ada di depannya.
"Ya mau gimana lagi, subjek-subjek itu diambil dari pemukiman kotor! Tentu saja kebanyakan dari mereka gak memenuhi kriteria!"
"Emangnya gampang cari subjek yang lolos dari kriteria tersebut?! Kita lagi nyari anak atau nabi sih? Kriterianya terlalu tinggi! Sebagian besar dari mereka diambil dari daerah konflik, tentu mereka bukan subjek yang terbaik yang bisa didapat!"
"Lagian kenapa diambil dari daerah konflik?!"
"Hei, jalur bawah lagi diawasi ketat sekarang, sulit untuk mencari subjek di sana. Akhir-akhir ini menculik anak lebih berisiko tinggi ketahuan! Sudahlah! Terima saja 10 bocah ini! Semoga aja salah satu dari mereka mungkin berhasil!"
Anak laki-laki itu melirik ke sebelah kanannya, terdapat 9 anak lainnya yang juga duduk di kursi sama sepertinya. Mereka semua terdiam sambil menundukkan kepala. Tak ada pandangan yang saling tertukar. Yang jelas, mereka semua memiliki ekspresi ketakutan, sama seperti dirinya.
"Baiklah. Sepuluh subjek ini lebih baik daripada gak ada sama sekali. Sekarang bawa mereka ke ruangan eksperimen."
Anak laki-laki itu menahan napas. Apa yang akan orang-orang dewasa ini lakukan lagi padanya? Orang-orang dewasa ini akan membawanya kemana lagi?
Genggaman tangannya semakin kuat. Telapak tangannya sakit.
Ia takut.
โ แดฌหกหกโฑแตโฟแถป แถสฐแตแตแตแตสณ: โท หขโฑแตแต แดนโฑหขหขโฑแตโฟ หขแตสณแตโฑแตแต โ
Beberapa hari kemudian.
Masih di suatu tempat yang tidak dikenalโฆ
=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=
"Nggak mau! Aku nggak mau!"
"HEI!"
Laki-laki dewasa yang mengenakan pakaian putih seperti dokter, membentaknya. Anak laki-laki itu langsung tersentak. Ia menggigit bibir, air matanya tergenang.
"Kamu! Cepat duduk di kursi!"
"Nggak mauโฆ" rintihnya, "Kursi itu menyakitkanโฆ"
"KAU DENGER NGGAK?! CEPET DUDUK DI KURSI!" Laki-laki dewasa itu murka dan membentaknya, "atau kau juga mau dibuang seperti sampah-sampah lainnya?! Harusnya kamu bersyukur kami kasih kamu makan! Sekarang cepat duduk di kursi itu!"
Langkah kaki anak laki-laki itu terasa berat. Ia menyeret langkahnya. Ia tak mau dipukul, tapi ia juga tak mau duduk di kursi menyakitkan itu. Alat-alat menyeramkan menantinya di kursi itu. Tubuhnya bahkan sudah terasa sakit meski hanya sekadar melihatnya.
'๐๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ข๐ถ ๐ฑ๐ถ๐ญ๐ข๐ฏ๐จโฆ ๐ข๐บ๐ข๐ฉโฆ ๐ช๐ฃ๐ถโฆ'
Anak laki-laki itu perlahan menaiki kursi. Tubuhnya terasa sakit, padahal alat-alat menyeramkan yang mengelilinginya bahkan belum menyentuh kulitnya. Di sekelilingnya terdapat beberapa laki-laki dan perempuan dewasa yang sama-sama mengenakan pakaian putih yang mirip dokter. Mereka berbicara satu sama lain, membolak-balik kertas, dan mengotak-atik alat menyeramkan itu. Satu hal yang anak laki-laki itu yakin, mereka bukanlah dokter.
"Subjek 011 sudah siap."
"Tak ada masalah dengan data vital subjek 011."
"Pengaturan tegangan sudah siap."
"Peralatan sudah siap."
"Persiapan selesai. Mulai uji coba. Subjek nomor 011. Hari Rabu, tanggal 24 Bulan 2 Tahun XXXX."
Anak laki-laki itu memejamkan matanya erat-erat. Ia mengepalkan tangannya. Telinganya sudah tak begitu menangkap suara orang-orang dewasa yang mengelilinginya. Ia ketakutan. Ia tak mau di sini. Ia ingin pulang.
โ แดฌหกหกโฑแตโฟแถป แถสฐแตแตแตแตสณ: โท หขโฑแตแต แดนโฑหขหขโฑแตโฟ หขแตสณแตโฑแตแต โ
Hari-hari kembali berlalu.
Masih di suatu tempat yang tidak dikenalโฆ
=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=
"Tunggu, kamu bilang kamu bisa mendengarnya?"
Anak laki-laki itu menelan ludah. Ia mencoba merangkai kata-kata, salah kata atau ia akan dimarahi lagi hari ini. "Ya, saya dapat mendengarnyaโฆ"
Ekspresi terkejut langsung muncul di wajah orang dewasa yang sedang bertanya padanya. "Kau beneran bisa dengar?!"
Anak laki-laki itu sedikit takut untuk menjawabnya, namun ia tak mau dimarahi karena diam saja. "Ya, saya benar-benar dapat mendengarnyaโฆ"
Orang dewasa itu langsung memasang ekspresi senang dan memanggil teman orang dewasa lainnya, "Hei, Walter! Berhasil! Ini berhasil! Akhirnya!"
'๐๐ฌ๐ฉ๐ช๐ณ๐ฏ๐บ๐ข ๐ด๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ด๐ข๐ต๐ถ ๐ด๐ถ๐ฃ๐ซ๐ฆ๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ฏ๐ซ๐ถ๐ฌ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ต๐ข๐ฏ๐ฅ๐ข-๐ต๐ข๐ฏ๐ฅ๐ข ๐ฑ๐ฐ๐ด๐ช๐ต๐ช๐ง ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ฆ๐ฌ๐ด๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ช๐ฎ๐ฆ๐ฏ!'
Anak laki-laki itu dapat mendengar suara lain yang juga berasal dari orang dewasa itu. Suara itu begitu kencang di kepalanya dan membuatnya takut. Itu suara pikiran. Kini ia dapat membaca pikiran.
Orang dewasa lainnya menghampirinya, "Sudah kuduga! Ini kemajuan yang sangat besar!"
'๐๐ฌ๐ด๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ช๐ฎ๐ฆ๐ฏ ๐ช๐ต๐ถ ๐จ๐ข๐ฌ ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ฆ๐ฅ๐ข๐ณ ๐ณ๐ถ๐ฎ๐ฐ๐ณ! [Organisasi itu] ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ-๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต ๐ฆ๐ฌ๐ด๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ช๐ฎ๐ฆ๐ฏ ๐ข๐ฏ๐ข๐ฌ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ข๐ฑ๐ข๐ต ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ค๐ข ๐ฑ๐ช๐ฌ๐ช๐ณ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ช๐ต๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฉ๐ข๐ด๐ช๐ญ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ช๐ณ๐ถ๐ฏ๐บ๐ข!'
"Jadi gimana? Seperti apa rasanya? Terdengar seperti apa?" Orang dewasa itu bertanya tepat di depan wajahnya, "Terdengar seperti apa suara pikiran itu?"
Anak laki-laki itu sedikit takut. Kenapa orang-orang dewasa ini tiba-tiba bersikap baik padanya? Padahal beberapa saat yang lalu orang-orang dewasa ini terus memarahinya karena ini itu.
"Sa-saya dapat mendengar su-suara pikiranโฆ" Anak laki-laki itu berujar lirih, "Na-namun masih samarโฆ se-seperti suara nyamukโฆ" Ia memejamkan matanya karena berpikir akan dimarahi lagi karena apa yang ia lakukan saat ini tidak cukup baik. Tapi anehnya, ia tidak dimarahi.
"Hm, mungkin masih bisa dilatih lagi. Setidaknya ada kemajuan dalam eksperimen ini. Cepat beritahu Antoine! Subjek 011 merupakan hasil sukses pertama kita!"
Sejak saat itu, anak laki-laki itu mulai mengenal dirinya sebagai subjek pertama yang berhasil dalam eksperimen yang dibuat oleh orang-orang dewasa ini. Ia akan menjadi pahlawan seperti yang dikatakan.
Tapi masa bodoh dengan pahlawan, anak laki-laki itu hanya ingin pulang.
โ แดฌหกหกโฑแตโฟแถป แถสฐแตแตแตแตสณ: โท หขโฑแตแต แดนโฑหขหขโฑแตโฟ หขแตสณแตโฑแตแต โ
Hari-hari terus berlalu.
Masih di tempat yang tidak dikenalโฆ
=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=
Anak laki-laki itu tidak tahu sudah berapa lama ia berada di tempat ini. Sebulan? Dua bulan? Setahun? Lebih?
Ia tak pernah keluar, hampir lupa keadaan langit siang dan malam. Saat ini ia duduk di atas tempat tidurnya. Setidaknya setelah ia berhasil membaca pikiran salah satu orang dewasa di tempat itu (tentunya setelah melakukan eksperimen ini itu), ia langsung diberikan ruangan lain, tempat tidur yang lebih nyaman dan makanan yang lebih enak.
Namun tetap saja ia tak boleh melihat langit yang ada di luar. Ia bahkan tidak tahu apa yang terjadi dengan anak-anak lain yang tidak berhasil membaca pikiran seperti dirinya. Di mana mereka sekarang? Sudah lama ia tidak melihat anak kecil lain. Ia hanya dikelilingi oleh orang-orang dewasa sejak ia berhasil membaca pikiran. Ia sendirian.
Mereka bilang, ia adalah subjek pertama sekaligus satu-satunya yang sukses membaca pikiran orang. Seluruh orang dewasa menaruh perhatian padanya, membuatnya tidak nyaman. Ini berarti semakin banyak waktu latihan, semakin banyak waktu eksperimen, semakin sakit tubuh kecilnya, semakin sedikit waktu bermain.
Jika semua ini dilakukan untuk menjadi pahlawanโฆ Anak laki-laki itu tak mau menjadi pahlawan.
Kemudian pintu kamarnya terbuka. Seorang perempuan dewasa memasuki kamarnya. Di belakangnya terdapat beberapa orang dewasa yang memang sudah sering ia temui. Tapi ia belum pernah bertemu dengan perempuan dewasa itu.
"Halo," Perempuan dewasa itu menyapanya singkat sambil menghampirinya.
Anak laki-laki itu langsung duduk tegak di tempat tidur. Kata orang-orang dewasa, ia harus bersikap baik di depan orang-orang penting atau ia akan kena pukul. Sepertinya perempuan ini sangat ditakuti oleh orang-orang dewasa yang ada di sini. Berarti perempuan ini merupakan orang pentingโฆ
"Subjek 011, ya?" Perempuan itu memastikan.
Anak laki-laki itu mengangguk. "Ya."
"Kau punya nama?" Perempuan dewasa itu kembali bertanya.
Anak laki-laki itu sempat menoleh ke orang-orang dewasa yang masih berdiri di pintu dan kembali melihat wanita itu. Nama? Ya, anak laki-laki itu punya nama. Tapi itu sudah lama sekali dan sudah tidak ada yang memanggil menggunakan namanya. Anak laki-laki itu sudah lupa namanya. Jadi apa yang harus ia katakan sekarang?
"Tidak punya?" Perempuan itu kembali bertanya karena anak laki-laki itu tak memberi jawaban.
Anak laki-laki itu takut. Apakah perempuan ini akan memarahinya karena ia tak dapat menyebutkan namanya? Apa yang harus ia lakukan?
"Apakah anak ini punya nama? Hm?"
Anak laki-laki itu melihat perempuan dewasa itu menoleh ke arah orang-orang dewasa yang masih berada di pintu, perempuan ini justru bertanya pada orang-orang dewasa itu.
"Ti-tidak ada, Nyonya." Salah satu orang dewasa menjawab dengan ragu.
"Lalu kalian panggil apa anak kecil ini?"
"S-subjek 011, Nyonya. Karena dia merupakan urutan ke-11 saat dibawa ke tempat ini."
"Hm, begitu yaโฆ"
Perempuan dewasa itu kembali menatap anak laki-laki itu, "Subjek 011 terdengar aneh, bukan? Bagaimana jika aku memberimu sebuah nama? Lagipula kita akan menjadi keluarga. Gimana?
Anak laki-laki itu hanya berkedip, bingung harus merespon apa. Ia akan diberi nama oleh perempuan dewasa ini?
Perempuan dewasa itu mulai berpikir, salah satu tangannya diletakkan di dagu. "Aku akan memberimu nama yang cantik. Hm, seperti apa ya? Karena dia anak pertamaโฆ ke satuโฆ aโฆ Bagaimana dengan [Artur]? Apakah kamu suka dengan namanya, Artur?"
Anak laki-laki itu terdiam, tak tahu harus menjawab apa. Apakah kini ia tidak lagi dipanggil dengan [Subjek 011]? Apakah ia harus menerima nama [Artur]? Bagaimana dengan nama aslinya? Lagi pula ia sudah lupa dengan nama aslinya.
Anak laki-laki itu mengangguk, "Baik."
"Baiklah, Artur sayangku. Mulai hari ini kita adalah keluarga. Jadi, kau harus memanggilku [Bunda], paham?"
โ แดฌหกหกโฑแตโฟแถป แถสฐแตแตแตแตสณ: โท หขโฑแตแต แดนโฑหขหขโฑแตโฟ หขแตสณแตโฑแตแต โ
Hari-hari semakin berlalu.
Masih berada di tempat yang tidak dikenalโฆ
=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=
Sejujurnya, Artur sudah tak ingat bagaimana [keluarga] yang ia miliki sebelum ia dibawa ke tempat ini. Ia bahkan tak ingat mengenai ayah maupun ibunya. Semua eksperimen-eksperimen ini seakan-akan membuatnya tak dapat mengingat kenangan indah apapun. Artur tak lagi bermimpi mengenai pulang ke keluarganya, tak lagi berharap dapat melihat warna langit, tak lagi meringkuk takut pada orang-orang dewasa yang ada di sini, tak lagi menangis menjalani eksperimen ini itu.
Tak lagi. Ia bukanlah anak kecil lagi. Ia sudah tak punya mimpi lagi. Biarlah orang-orang dewasa ini menentukan hidupnya akan jadi seperti apa. Membuatnya menjadi [pahlawan] seperti yang orang-orang dewasa itu katakan.
Kini namanya adalah [Artur], sebelumnya dikenal sebagai [Subjek 011], merupakan sebuah subjek pertama yang sukses diciptakan oleh orang-orang dewasa yang ada di tempat ini. Tempat ini adalah [rumah]nya. Perempuan dewasa yang baik hati yang terkadang mengunjunginya itu adalah [bunda]nya. Ia harus mematuhi semua perintah [bunda]nya karena [bunda]nya menyayanginya. Orang-orang dewasa yang ada di tempat ini akan menjadikannya [pahlawan] yang akan mewujudkan perdamaian dunia.
Omong kosong.
Memangnya ia adalah anak kecil yang bodoh?!
Apakah orang-orang dewasa ini tak sadar bahwa mereka telah menciptakan seorang anak yang dapat membaca pikiran? Halo! Apakah orang-orang dewasa ini berusaha untuk menipunya dengan mengatakan suatu kebohongan?
Bundanya menyayanginya? Bahkan perempuan itu sudah lama tak menanyakan kabar mengenai Artur! Perempuan itu hanya terus menerus berbicara mengenai eksperimen, eksperimen, eksperimen, dan eksperimen! Perempuan itu hanya memberikannya nama, lalu tetap saja memperlakukannya seperti objek penelitian!
Tapi dari seluruh orang yang ada di tempat ini... hanya Bunda yang tidak pernah membentak dan memukulnya.
Ingin menjadikan Artur sebagai pahlawan? Pahlawan apa yang tujuannya untuk saling menjatuhkan satu sama lain? Apakah orang-orang dewasa itu tak sadar bahwa Artur kini dapat membaca pikiran mereka yang jauh berbeda dengan apa yang mereka ucapkan? Bukankah mereka seharusnya tahu itu? Mereka `kan yang menciptakan Artur!
Apakah ini yang disebut sebagai [cuci otak] yang ada di pikiran orang-orang dewasa itu? Maaf ya, [cuci otak] itu tak berhasil pada Artur. Mungkin karena Artur adalah subjek pertama mereka yang sukses, orang-orang dewasa ini belum begitu berpengalaman menangani hal seperti ini. Apakah Artur harus berpura-pura ter[cuci otak] di depan orang-orang dewasa ini? Soalnya ia tak akan dimarahi jika ia terus mengikuti orang-orang dewasa itu perintahkan.
โ แดฌหกหกโฑแตโฟแถป แถสฐแตแตแตแตสณ: โท หขโฑแตแต แดนโฑหขหขโฑแตโฟ หขแตสณแตโฑแตแต โ
Tak tahu sudah berapa hari yang terus berlalu.
Masih berada di tempat yang tidak dikenalโฆ
=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=
"Artur, silahkan sambut [adik-adik] barumu."
Bulu kuduknya berdiri.
Artur tahu bahwa orang-orang dewasa di sini sepertinya telah melakukan eksperimen lagi ke anak-anak baru yang mereka ambil dari luar, tapi Artur tak menyangka ada anak kecil sukses selain dirinya. Yang berarti, anak-anak ini mengalami penderitaan yang sama seperti dirinya sebelumnya.
"Artur, sayang, perkenalkan ini Bella dan ini Carlo. Bella, Carlo, mulai hari ini dia adalah kakak kalian, Artur."
Bunda memperkenalkannya pada dua anak kecil yang tampaknya sedikit lebih muda daripada Artur. Seorang perempuan berambut pirang pucat bermata hijau dan seorang laki-laki berambut hitam bermata hitam.
"Halo," sapa Artur. '๐๐ข๐ญ๐ช๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ค๐ข ๐ฑ๐ช๐ฌ๐ช๐ณ๐ข๐ฏ ๐ซ๐ถ๐จ๐ข?'
"Halo, kakak," jawab anak laki-laki berambut hitam, Carlo. '๐ ๐ข, ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ช ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฌ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข.'
"Senang bertemu dengan kakak," lanjut anak perempuan itu, Bella. '๐๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ช ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฅ๐ถ๐ข ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ด๐ฆ๐ณ๐ข๐ต๐ถ๐ด ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฉ๐ข๐ด๐ช๐ญ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฌ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข.'
Bunda tersenyum ketika melihat pertemuan kecil ini berjalan dengan lancar, "Artur, Bunda tahu kalau kau kesepian. Jadi Bunda memberikanmu keluarga baru lagi. Jadi baik-baiklah dengan adikmu! Jangan saling bertengkar!"
Tapi aku tak butuh adik lain. "Terima kasih, Bunda."
"Mulai hari ini kalian akan tinggal bersama. Kalian semua bisa menjadi pahlawan bersama-sama!"
Artur yakin bahwa Bella dan Carlo juga sudah tak peduli dengan [pahlawan] yang dimaksud.
"Karena Bunda menyayangi kalian semua, Bunda ingin kalian dapat membanggakan Bundaโ"
"Anna!"
Ucapan Bunda terpotong oleh suara laki-laki dewasa yang memanggil nama Bunda. Artur menoleh ke laki-laki dewasa itu, sepertinya Artur belum pernah melihat wajah laki-laki itu di antara orang-orang dewasa di sini. Tapi tampaknya laki-laki itu juga merupakan orang penting.
"Ya! Tunggu sebentar!" seru Bunda, "Baiklah, Bunda mau pergi. Nanti kita ketemu lagi, oke?"
Artur hanya ingin pergi dari tempat ini, ia tak ingin memiliki [adik] lain yang juga memiliki penderitaan yang sama seperti dirinya. Sekarang ia terjebak di tempat ini bersama dengan 2 anak lainnya. Memang ia kesepian, tapi ini bukanlah keinginannya.
'๐๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฑ๐ข ๐ญ๐ข๐ฎ๐ข ๐ฌ๐ข๐ฌ๐ข๐ฌ ๐ต๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ญ ๐ฅ๐ช ๐ต๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ข๐ต ๐ช๐ฏ๐ช?'
Artur menoleh ke arah Carlo yang bertanya padanya dalam pikirannya.
'๐๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ต๐ข๐ฉ๐ถ. ๐๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ-๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ต๐ข๐ฉ๐ถ. ๐ ๐ข๐ฏ๐จ ๐ซ๐ฆ๐ญ๐ข๐ด, ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ด๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐ด๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐ญ๐ข๐ฎ๐ข.'
Setidaknya memiliki seseorang yang dapat memahami apa yang telah ia alami selama ini tidak begitu buruk. "Ayo kemari, akan aku antar kalian ke kamar kalian."
โ แดฌหกหกโฑแตโฟแถป แถสฐแตแตแตแตสณ: โท หขโฑแตแต แดนโฑหขหขโฑแตโฟ หขแตสณแตโฑแตแต โ
Hari-hari terus menerus berlalu.
Masih berada di tempat yang tidak dikenalโฆ
=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=
'๐๐ฌ๐ถ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ณ, ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ-๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ฆ๐ธ๐ข๐ด๐ข ๐ช๐ต๐ถ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฌ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ถ๐ซ๐ช ๐ค๐ฐ๐ฃ๐ข ๐ญ๐ข๐จ๐ช.'
Artur menoleh ke arah Bella yang memulai pembicaraan [pikiran] yang hanya bisa dilakukan oleh mereka. Mereka berdua berada di dalam ruangan dan diberi tugas untuk membaca buku-buku yang telah dipilih sebelumnya. Carlo tidak bersama Artur dan Bella saat ini, ia sedang dipakai untuk suatu eksperimen di ruangan lain entah untuk apa.
'๐๐ข๐จ๐ช? ๐๐ฑ๐ข๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ต๐ข๐ฌ ๐ค๐ถ๐ฌ๐ถ๐ฑ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ญ๐ช๐ฎ๐ข ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ? ๐๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ข๐ฅ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ, ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ถ, ๐๐ข๐ณ๐ญ๐ฐ, ๐๐ช๐ฐ๐ฏ, ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐๐ณ๐ญ๐ข. ๐๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ฎ๐ข๐ด๐ช๐ฉ ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฎ ๐ฑ๐ถ๐ข๐ด ๐ซ๐ถ๐จ๐ข?'
Waktu terus berlalu sejak kedatangan Bella dan Carlo. Kini Artur mendapatkan 2 [adik] lainnya, Dion dan Erla. Artur tak tahu mau sampai kapan orang-orang dewasa ini akan terus melakukan eksperimen ini. Apakah 5 orang masih belum cukup? Mereka butuh berapa orang sih?
'๐๐ฆ๐ฏ๐ต๐ถ ๐ด๐ข๐ซ๐ข ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ค๐ถ๐ฌ๐ถ๐ฑ, ๐ฌ๐ข๐ฌ. ๐๐ข๐ฌ๐ข๐ฌ ๐ต๐ข๐ฉ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช `๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ-๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ฆ๐ธ๐ข๐ด๐ข ๐ช๐ต๐ถ ๐ด๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐ต๐ฆ๐ณ๐จ๐ช๐ญ๐ข-๐จ๐ช๐ญ๐ข ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ญ๐ช๐ต๐ช๐ข๐ฏ ๐ช๐ฏ๐ช,' jawab Bella dalam pikirannya, saling menjawab dalam pikiran sudah seperti saling berbicara.
'๐๐ฌ๐ถ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ณ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฌ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฆ๐ฌ๐ด๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ช๐ฎ๐ฆ๐ฏ ๐ญ๐ข๐ช๐ฏ, ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ต๐ฆ๐ฏ๐ต๐ข๐ฏ๐จ ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ข๐ฑ๐ข๐ต ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ค๐ข ๐ฑ๐ช๐ฌ๐ช๐ณ๐ข๐ฏ ๐ญ๐ข๐จ๐ช.'
'๐๐ฆ๐ฏ๐จ๐จ๐ถ๐ฏ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฏ๐ข๐ฌ-๐ข๐ฏ๐ข๐ฌ ๐ซ๐ถ๐จ๐ข?'
'๐๐ฆ๐ฏ๐ต๐ถ ๐ด๐ข๐ซ๐ข. ๐๐ข๐ฑ๐ช ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ญ๐ข๐ช ๐ฆ๐ฌ๐ด๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ช๐ฎ๐ฆ๐ฏ ๐ญ๐ข๐ช๐ฏ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐จ๐ถ๐ฏ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ถ๐ฃ๐ซ๐ฆ๐ฌ ๐ฉ๐ฆ๐ธ๐ข๐ฏ. ๐๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ฎ๐ข๐ด๐ช๐ฉ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ถ๐ด๐ข๐ฉ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ช๐ณ๐ถ [๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐] ๐ช๐ต๐ถ.'
Keheningan kembali terjadi. Artur maupun Bella tidak memikirkan apapun. Artur melanjutkan membacanya. Jika ia tak menghafal isi buku ini hingga sore nanti, orang-orang dewasa itu akan memarahinya. Ia tak mau mendengar amarah orang-orang dewasa itu (Artur sudah tak takut, ia hanya tak mau dengar saja).
'๐ ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ณ, ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ-๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ฆ๐ธ๐ข๐ด๐ข ๐ช๐ต๐ถ ๐ฎ๐ถ๐ญ๐ข๐ช ๐จ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ข๐ณ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฌ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฆ๐ฌ๐ด๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ช๐ฎ๐ฆ๐ฏ ๐ช๐ฏ๐ช ๐ญ๐ข๐จ๐ช ๐ด๐ฆ๐ซ๐ข๐ฌ [๐๐๐๐ ๐๐๐] ๐ฌ๐ข๐ฃ๐ถ๐ณ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ต๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ข๐ต ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ญ๐ช๐ต๐ช๐ข๐ฏ.'
'๐๐ฏ๐ข๐ฌ ๐ช๐ต๐ถ?'
'๐๐ข๐ฌ๐ข๐ฌ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฏ๐ข๐ฉ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ณ `๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ฑ๐ช๐ฌ๐ช๐ณ๐ข๐ฏ ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ-๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ฆ๐ธ๐ข๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ช [๐๐๐๐ ๐๐๐]? ๐ ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ข๐ฏ๐ข๐ฌ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ข๐ฎ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ช๐ญ๐ช๐ฌ๐ช ๐ฌ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ข๐ฏ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ข๐ฎ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ฌ๐ช๐ต๐ข, ๐ฏ๐ข๐ฎ๐ถ๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ด๐ข๐ญ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช [๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐] ๐ช๐ต๐ถ.'
Memang sih orang-orang dewasa di sini selalu membandingkan hasil eksperimen mereka dengan organisasi lain yang tidak diketahui oleh Artur. Orang-orang dewasa di sini seperti berlomba-lomba menjadi yang terbaik, entah terhadap apa.
'๐๐ข๐ฑ๐ช `๐ฌ๐ข๐ฏ [๐๐๐๐ ๐๐๐] ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ข๐ฃ๐ถ๐ณ ๐ญ๐ข๐ฎ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช, ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฎ ๐๐ช๐ฐ๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐๐ณ๐ญ๐ข ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฅ๐ช ๐ต๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ข๐ต ๐ช๐ฏ๐ช.'
Nyatanya, Artur bukanlah anak pertama yang dapat membaca pikiran. Ada seorang anak kecil lain yang katanya dapat membaca pikiran, tercipta secara tidak sengaja dari suatu eksperimen. Namun anak kecil itu bukan berasal dari organisasi yang sama dengan Artur, melainkan berasal dari sebuah organisasi lain yang menjadi saingan dari organisasi ini. Rumor anak kecil yang sukses membaca pikiran terdengar hingga telinga orang-orang dewasa yang ada di organisasi ini.
Awalnya tak ada yang percaya mengenai rumor tersebut karena membaca pikiran adalah suatu hal yang mustahil, namun rasa penasaran para peneliti di organisasi ini memuncak dan akhirnya memulai eksperimen tersebut. Ingin sekali menyaingi organisasi tersebut, organisasi ini akhirnya mengumpulkan anak-anak yang tak memiliki orang tua, baik dari negeri sendiri maupun negeri tetangga, terutama anak-anak dari bekas daerah perang karena diyakini tak akan ada lagi yang mencari anak-anak tersebut.
Kemudian setelah diseleksi mencari anak-anak yang sehat dan sesuai kriteria, uji coba terus dilakukan. Karena para peneliti di organisasi ini tak tahu bagaimana cara anak kecil pertama itu bisa membaca pikiran (apalagi muncul akibat ketidaksengajaan), mereka melakukan segala cara untuk mencobanya. Artur tak mau lagi mengingatnya karena hasil dari segala cara tersebutlah yang membuatnya sebagai anak pertama yang dapat membaca pikiran di organisasi ini dan kemungkinan sebagai anak kedua di negara ini.
Apalagi eksperimen ini tak hanya sampai disitu. Orang-orang dewasa disini melakukannya lagi, menghasilkan Bella, Carlo, Dion dan Erla. Tujuan orang-orang disini bukanlah menciptakan dunia yang damai, namun berlomba menghasilkan penelitian yang terdepan. Orang-orang dewasa itu haus dengan ilmu pengetahuan, anak-anak seperti Artur yang menjadi korban.
'๐๐ข๐จ๐ข๐ช๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐ค๐ข๐ณ๐ข ๐ข๐ฏ๐ข๐ฌ ๐ช๐ต๐ถ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฌ๐ข๐ฃ๐ถ๐ณ ๐บ๐ขโฆ' pikir Bella sambil membereskan buku bacaannya. Ia sudah selesai membaca buku.
'๐๐ข๐ฎ๐ถ ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ฌ๐ข๐ฃ๐ถ๐ณ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ต๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ข๐ต ๐ช๐ฏ๐ช?' tanya Artur.
Bella menghela napas, '๐๐ฌ๐ถ ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฎ๐ช๐ฎ๐ฑ๐ช ๐ฌ๐ข๐ฃ๐ถ๐ณ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ต๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ข๐ต ๐ช๐ฏ๐ช, ๐ด๐ข๐ฎ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ฌ๐ข๐ฌ๐ข๐ฌ. ๐๐ข๐ฑ๐ช ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข [๐ข๐ฏ๐ข๐ฌ ๐ช๐ต๐ถ] ๐ฅ๐ข๐ฑ๐ข๐ต ๐ฌ๐ข๐ฃ๐ถ๐ณ ๐ด๐ฆ๐ฅ๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ช๐ต๐ข ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ?'
'๐๐ฆ๐ณ๐ต๐ข๐ฏ๐บ๐ข๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ, ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฌ๐ช๐ต๐ข ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ค๐ข ๐ฑ๐ช๐ฌ๐ช๐ณ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฅ๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฏ๐ข๐ฌ-๐ข๐ฏ๐ข๐ฌ ๐ญ๐ข๐ช๐ฏ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข? ๐๐ช๐ฌ๐ข ๐ด๐ข๐ซ๐ข ๐ฌ๐ช๐ต๐ข ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ด๐ข๐ฎ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข, ๐ฌ๐ช๐ต๐ข ๐ต๐ข๐ฌ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฅ๐ช ๐ต๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ข๐ต ๐ช๐ฏ๐ช. ๐๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ช๐ต๐ข ๐ด๐ฆ๐ซ๐ข๐ฌ ๐ฅ๐ถ๐ญ๐ถ.'
Bella terdiam, '๐๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ช๐ฌ๐ข๐ต๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฐ๐ญ๐ฆ๐ฉ ๐๐ถ๐ฏ๐ฅ๐ข ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ-๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ฆ๐ธ๐ข๐ด๐ข ๐ฅ๐ช ๐ด๐ช๐ฏ๐ช, ๐ฌ๐ช๐ต๐ข ๐ข๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ข๐ฏ๐ข๐ฌ-๐ข๐ฏ๐ข๐ฌ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฑ๐ช๐ญ๐ช๐ฉ.'
'๐๐ฎ๐ฐ๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ฐ๐ด๐ฐ๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฑ๐ชโ'
KREK!
Pintu ruangan tersebut terbuka, laki-laki dewasa yang mengenakan pakaian putih mirip dokter memasuki ruangan. "Sudah selesai membacanya?" adalah pertanyaan pertama yang terlontarkan oleh laki-laki itu.
Artur dan Bella otomatis duduk dengan tegak. Artur merapikan buku bacaannya. "Sudah," jawab Artur dan Bella hampir bersamaan.
"Bagus. Antoine datang. Mereka ingin bertemu dengan kalian di ruangan KN3. Cepat pergi."
Artur dan Bella sempat bertukar pandang singkat sebelum keluar dari ruangan sesuai dengan perintah laki-laki tersebut. Mereka berjalan cepat, tak ingin mendengar amarah dari laki-laki itu.
'๐๐ฑ๐ข๐ฌ๐ข๐ฉ ๐๐ถ๐ฏ๐ฅ๐ข ๐ฅ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐จ? ๐๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ณ๐ช๐ฏ ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฅ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐จ?' pikir Bella.
'๐๐ช๐ต๐ข ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ต๐ข๐ฉ๐ถ ๐ข๐ฑ๐ข๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ช๐ต๐ถ ๐๐ถ๐ฏ๐ฅ๐ข, ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ช๐ต๐ถ ๐ฌ๐ข๐ฌ๐ข๐ฌ๐ฏ๐บ๐ข ๐๐ถ๐ฏ๐ฅ๐ข ๐ข๐ต๐ข๐ถ ๐ต๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐๐ถ๐ฏ๐ฅ๐ข'
'๐๐ฑ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ญ๐ข๐ฌ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฌ๐ช๐ต๐ข?'
Tak lama, mereka berdua sudah sampai di ruangan yang dimaksud. Bunda dan seorang laki-laki dewasa sudah duduk menunggu mereka. Bahkan Carlo, Dion, dan Erla juga sudah ada di ruangan itu. Artur dan Bella saling menatap Carlo, Dion, dan Erla.
'๐๐ฅ๐ข ๐ข๐ฑ๐ข ๐ช๐ฏ๐ช?'
'๐๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ต๐ข๐ฉ๐ถ. ๐๐ข๐ฎ๐ช ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ฃ๐ข๐ณ๐ถ ๐ฅ๐ช๐ฑ๐ข๐ฏ๐จ๐จ๐ช๐ญ.'
'๐๐ช๐ต๐ข ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช๐ฎ๐ข๐ณ๐ข๐ฉ๐ช ๐ฅ๐ช ๐ณ๐ถ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ช๐ฏ๐ช ๐ฌ๐ข๐ฏ?'
"Anak-anakku tersayang, bagaimana kabar kalian?"
Sesaat setelah Artur dan Bella memasuki ruangan dan ikut berbaris dengan anak-anak lainnya, Bunda langsung berseru menyapa semuanya.
"Halo, Bunda. Kami baik-baik saja," seru kelima anak yang ada di ruangan itu. Bunda langsung tersenyum mendengarnya.
"Tentu saja kalian baik-baik saja! Ngomong-ngomong, apakah kalian ingat teman Bunda yaitu Paman Neel?" Bunda menunjuk ke arah laki-laki dewasa berambut hitam yang ada di sebelahnya.
"Halo Paman Neel."
Laki-laki itu tak berdiri dari kursinya. Ia hanya menatap Artur dan keempat anak lainnya satu persatu. Kemudian laki-laki itu menunjuk ke arah Erla yang berada di paling kanan barisan. "Kamu nomor berapa?"
"Saya subjek nomor 105, Paman," jawab Erla cepat.
"Berarti harusnya udah ada 105 lebih anak yang dieksperimenkan, tapi kenapa cuman ada 5?" laki-laki itu mendengus.
"Neel, `kan udah aku bilang. Nggak mudah melakukannya," Bunda langsung membalas ucapan laki-laki itu.
"Kamu tuh yang terlalu lembek, Anna. Jika kau paksa orang-orang di sini, mungkin di ruangan ini udah ada 30 anak yang sukses."
"Aku udah paksa, Neel."
"Buktinya disini cuman ada 5 anak."
"Oke, akan aku paksa lebih lagi di kloter berikutnya."
"Mentang-mentang kakakmu sangat sukarela mendanai seluruh penelitianmu, kamu malah bermalas-malasan disini! Kita tuh lagi ada masalah dana gegara kejadian itu!"
"Aku gak malas-malasan! Justru kamu yang paling sering ngeluarin uang!"
Seperti biasa, orang-orang dewasa saling beradu mulut di depan mereka mengenai mereka, seakan-akan anak-anak yang berdiri ini hanyalah sebuah objek yang tak memiliki perasaan.
'๐๐ฑ๐ข๐ฌ๐ข๐ฉ ๐๐ถ๐ฏ๐ฅ๐ข ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ช๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ต๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ถ๐ซ๐ช ๐ค๐ฐ๐ฃ๐ข ๐ฆ๐ฌ๐ด๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ช๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข?'
'๐๐ข๐ฑ๐ช ๐ฌ๐ช๐ต๐ข ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ญ๐ข๐จ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฑ๐ข๐ต๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ถ๐ซ๐ช ๐ค๐ฐ๐ฃ๐ข ๐ช๐ต๐ถ ๐ฌ๐ข๐ฏ?'
'๐๐บ๐ข ๐ด๐ช๐ฉ, ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐ข๐ฏ๐ข๐ฌ-๐ข๐ฏ๐ข๐ฌ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ข๐ณ๐ถ ๐ด๐ข๐ซ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ฃ๐ข๐ธ๐ข ๐ฌ๐ฆ ๐ด๐ช๐ฏ๐ช ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ณ๐ช๐ฎ๐ข๐ฏ๐บ๐ข.'
'๐๐ข๐ด๐ต๐ช ๐ญ๐ฆ๐ฃ๐ช๐ฉ ๐ด๐ข๐ฌ๐ช๐ต ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ธ๐ข๐ฌ๐ต๐ถ ๐ช๐ต๐ถ ๐ฌ๐ช๐ต๐ข ๐ณ๐ข๐ด๐ข๐ฌ๐ข๐ฏโฆ'
Bunda mendengus ke arah laki-laki itu, "Jadi gimana? Kamu di sini nggak cuman mau berantem lagi sana aku `kan? Kamu bilang ingin liat anak-anak ini."
"Ya, ya, yaโฆ"
Bunda yang masih kesal mulai mencibir, "Aku bakalan ngadu ke kakak kalau kamu menuduhku buang-buang duit!"
"Silahkan adu saja sana ke kakakmu yang tercinta."
Paman berdiri dari kursinya. Ia berjalan ke arah anak-anak yang tengah berbaris di tengah ruangan. "Ann, mana menurutmu yang paling lumayan dari mereka semua?"
"Hm? Menurutku adalah Si A. Namanya Artur, anak yang paling kiri. Menurut laporan, dia bisa membaca pikiran dari tiga orang sekaligus. Memangnya kenapa?"
Artur sedikit tersentak ketika namanya disebut. '๐๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ค๐ข ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ข ๐ฑ๐ช๐ฌ๐ช๐ณ๐ข๐ฏ ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ-๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ฆ๐ธ๐ข๐ด๐ข ๐ฅ๐ช ๐ด๐ช๐ฏ๐ช, ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช๐ข๐ฏ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ญ๐ถ ๐ต๐ข๐ฉ๐ถ. ๐๐จ๐ข๐ณ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ข๐ฏ๐ค๐ข๐ฎ๐ข๐ฏ ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช๐ข๐ฏ.'
"Tiga orang sekaligus?" Kemudian paman berjalan mendekati Artur, "Coba jelaskan, gimana caramu memilih pikiran yang akan kamu baca?"
"Saya hanya perlu fokus dengan sekeliling saya, Paman," jawab Artur. Apakah paman akan menerima jawabannya? Apakah paman curiga dengannya? Apakah ia bakalan ketahuan berpura-pura bodoh selama ini?
"Emangnya kali ini kamu mau ngapain?" tanya Bunda menginterupsi interogasi paman, "Jangan-jangan kau dan kakak ngerencanain sesuatu diam-diam di belakangku lagi, ya? Kenapa kakak nggak ngomong apa-apa ke aku?!"
Paman kembali melihat ke arah Bunda. "Sudah saatnya kita lakukan uji coba lapangan. Kita tes kemampuan subjek-subjek ini di lapangan. Aku akan mengirim beberapa subjek ke Berlint."
Tunggu, apakah ini berarti Artur dapat keluar dari tempat ini? Dapat melihat langit lagi?
โ แดฌหกหกโฑแตโฟแถป แถสฐแตแตแตแตสณ: โท หขโฑแตแต แดนโฑหขหขโฑแตโฟ หขแตสณแตโฑแตแต โ
Beberapa hari kemudian.
Masih berada di tempat yang tidak dikenal.
=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=
"Rencananya mereka akan dibawa ke Berlint. Tapi karena [jalur bawah] di Berlint sedang gak aman sama sekali, jadi mereka akan langsung dibawa ke Ruddow terlebih dahulu."
"Uji coba lapangannya di Ruddow?"
"Nggak, tetap di Berlint. Tapi harus transit dulu di Ruddow."
"Kenapa ke Ruddow? Kok kayak muter-muter gitu? Ruddow itu lebih jauh dari Berlint loh. Kenapa nggak di Zethen yang lebih dekat dari sini?"
"Sejak tanggal 15 nanti, ada pertemuan di Ruddow. Orang-orang akan berkumpul di sana. Gracie juga ada di sana."
"Memangnya kenapa uji lapangannya di Berlint?"
"Udahlah diem aja! Banyak nanya mulu!"
Suara orang-orang dewasa itu begitu keras, seperti biasa. Suara itu bahkan sampai terdengar di dalam ruangan tempat Artur sedang berada. Artur kembali fokus membaca buku. Kali ini ia tak mendapat tugas apapun dari orang-orang dewasa, jadi baca buku kali ini adalah murni keinginan Artur. Ia tak pernah sekolah, jadi ia harus belajar dari manapun sumber yang bisa ia dapat.
Orang-orang di sini juga membatasi buku-buku yang mereka baca. Yah, apapun yang mereka lakukan, mereka selalu dikekang.
"Kakak," panggil Erla, salah satu [adik] barunya setelah Bella dan Carlo. "Bunda memanggil kakak lagi."
"Di mana?"
"Di ruangan kemarin."
"Baiklah, aku akan segera ke sana." Artur menutup bukunya dan meletakkannya di atas meja. Ia berjalan melewati Erla.
'๐๐ฑ๐ข๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ข๐ฌ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐จ๐ช?' Kemudian ia mendengar suara pikiran Erla, suaranya terdengar sedih. '๐๐ฑ๐ข๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ข๐ฌ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ญ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ช?'
Artur berhenti sejenak, menepuk puncak kepala Erla perlahan. '๐๐ฌ๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ญ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช ๐ด๐ช๐ฏ๐ช.'
|โ แดฌหกหกโฑแตโฟแถป แถสฐแตแตแตแตสณ: โท หขโฑแตแต แดนโฑหขหขโฑแตโฟ หขแตสณแตโฑแตแต โ|
"Artur, kamu sama Bella dan Carlo akan ikut dengan Neel pergi ke Ruddow."
Artur sedikit tak mempercayai apa yang ia dengar. Ruddow? Di mana itu? Apakah itu masih bagian dari Westalis?
"Bella dan Carlo juga ikut?"
"Ya, mereka berdua akan ikut bersamamu. Kalian akan berangkat dalam tiga hari lagi."
Tiga hari? Artur saja tidak tahu kapan siang dan malam di tempat ini!
"Bagaimana dengan Erla dan Dion, Bunda?" tanya Artur sedikit ragu. Entah kenapa ia merasakan suasana hati Bunda sedikit berbeda dari biasanya.
"Mereka masih belum cukup baik. Mereka akan ditinggal di sini untuk sementara waktu," jawab Bunda tanpa melirik ke arahnya. Tatapan Bunda terfokus pada kertas-kertas yang berserakan di atas meja, sepertinya Bunda sedikit stres mengurus apapun itu yang ada di atas meja.
Artur sedikit menggigit bibir, '๐๐ข๐ฌ๐ด๐ถ๐ฅ๐ฏ๐บ๐ข, ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ช ๐ต๐ฆ๐ด ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ข๐ฌ๐ช๐ต๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ญ๐ข๐ช๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฌ๐ข๐ฉ?'
Apakah Dion dan Erla akan dibawa ke ruangan lain untuk dilakukan tes lainnya lagi? Apakah kemampuan mereka belum cukup baik? Kenapa mereka? Kenapa Dion dan Erla?
Artur meremas telapak tangannya kemudian membuang napas perlahan. "Baik, Bunda."
"Oke, kita tidak punya banyak waktu, aku harus segera pergi menemui kakakku. Noah!" teriak Bunda cukup kencang. Tak butuh berapa lama seorang laki-laki dewasaโbukan, sepertinya remajaโmemasuki ruangan.
"Ya, Nyonya."
"Nah, Artur." Bunda berdiri dari kursinya sambil merapikan kertas-kertas yang berantakan. "Ini Noah, dia akan menemani kalian nanti." Bunda memperkenalkan laki-laki remaja berambut cokelat yang baru saja memasuki ruangan.
"Oke, Bunda harus pergi sekarang. Noah, kau urus sisanya untuk keberangkatan nanti! Awas jangan sampai ada yang kacau!" seru Bunda sambil meninggalkan ruangan. Kemudian Artur masih dapat mendengar omelan kesal dari Bunda yang berada di luar ruangan.
"Dasar kakak dan Neel! Berani-beraninya mereka menyuruhku ini itu! Pekerjaanku jadi semakin menumpuk!"
Artur mengalihkan pandangannya ke Noah. Ia memperhatikan sekilas lelaki yang ada di depannya itu, nampaknya ia belum begitu familiar dengan Noah. Apakah Noah orang baru di tempat ini? Ia hanya pernah melihatnya beberapa kali sejak Paman Neel datang beberapa waktu yang lalu.
Entah kenapa Artur merasakan ada sesuatu yang berbeda dari Noah dengan orang-orang dewasa yang ada di tempat ini.
"Halo, Noah," sapa Artur.
Noah tersenyum menanggapi sapaan Artur. "Halo Artur," jawabnya, "Senang akhirnya bisa bertemu denganmu."
Kemudian Artur dapat mendengar suara pikiran dari laki-laki itu.
'๐๐ฑ๐ข๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ถ ๐ฎ๐ข๐ถ ๐ฌ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ข๐ณ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ต๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ข๐ต ๐ช๐ฏ๐ช?'
~ ๐๐จ ๐๐ ๐๐จ๐ง๐ญ๐ข๐ง๐ฎ๐ ๐ข๐ง ๐ญ๐ก๐ ๐๐๐ฑ๐ญ ๐๐ข๐๐ ๐๐ข๐ฌ๐ฌ๐ข๐จ๐ง ~
Preview Next Chapter : Diam
Singkatnya, Twilight dan Thorn Princess terluka.
Notes :
Semacam funfact disini, Artur dan keempat anak lainnya memanggil sosok wanita disini dengan sebutan "Bunda". Nah, kata "Bunda" disini aku maksudkan sebagai "Okaa-sama" yang dalam bahasa Jepang adalah suatu sebutan untuk memanggil ibu sendiri (meski seharusnya tidak menggunakan suffix '-sama'). Bukan "Mama", "Okaa-san", atau seperti Anya yang memanggil ibu sendiri dengan sebutan "Haha". Jika kalian sedikit belajar Bahasa Jepang, mungkin akan sedikit mengerti kenapa aku merujuk arti "Bunda" disini sebagai "Okaa-sama".
Jujur pas menulis chapter ini agak kurang nyamanโฆ aku nggak tega menulis anak-anak di sini, tapi chapter ini menjelaskan kenapa sikap anak-anak yg ada di chapter 3 itu sangat kaku dan sebagainya. Intinya, Organisasi KIND ini berbeda dengan organisasi yang melakukan eksperimen terhadap Anya. Semacam saling bersaing gitu.
Side Mission ini masih berlanjut ke side mission berikutnya, tapi habis ini masuk ke cerita utama.
Kemudian aku bakalan update kurang lebih setiap 2 atau 3 minggu sekali di Hari Sabtu.
[Last edit : 22/03/2023]
Terima kasih sudah membaca!
