Tidak sesulit yang ia bayangkan. Mengucapkan terima kasih ternyata mudah terlebih pada sosok yang telah menyelamatkan hidupmu. Draco Malfoy merasa seperti orang bodoh, tersenyum sendiri sambil menatap langit-langit kamarnya, mengingat beberapa hari yang lalu ia sudah melakukannya, mengucap terima kasih pada Hermione Granger.

Sebenarnya, ia tidak hanya ingin sekedar mengucapkan terima kasih tapi juga ingin bertanya pada gadis itu, mengapa dia memberikan kesaksian untuknya? Kenapa dia melakukan itu di persidangan? Padahal, Draco merasa dirinya tidak pantas menerima itu semua, terlebih darinya. Padahal, Draco tidak pernah melakukan satu kebaikan padanya.

Berkat Hermione Granger, beberapa penyihir juga memberikan kesaksian untuknya. Harry Potter, Luna Lovegood, Dean Thomas dan Mr Ollivander. Berkat kesaksian kelima penyihir itu, Draco dapat terbebas dari hukuman penjara Azkaban.

Pikiran Draco terus melayang mengingat kejadian-kejadian yang terjadi pasca perang. Kini hidupnya jauh lebih tenang dan aman. Ia tidak ingin ketenangan ini hilang. Ia ingin merasakan hidup selayaknya remaja dan menikmati hari-harinya di sekolah.

"Draco? Kau ada di dalam?"

Draco tidak merespons tapi tahu siapa yang memanggilnya. Pintu kamarnya terbuka, Blaise berdiri sambil bersandar pada kusen pintu.

"Ada apa?" Draco langsung bangun dan duduk di pinggir tempat tidur.

"Profesor McGonagall mencarimu."

Draco menunjuk dirinya seperti orang bodoh. "Kenapa dia mencariku?"

Blaise menaikkan kedua bahunya. "Dia ingin kau menemuinya di kantor selepas makan malam."

Kenapa Profesor McGonagall mencarinya? Apa yang terjadi? Apa ia melakukan kesalahan? Atau, apa sesuatu terjadi pada ibunya?

"Kenapa kau tiba-tiba pucat?" tanya Blaise, yang ternyata belum bergerak sama sekali.

"Aku memang pucat."

"Kau menjadi lebih pucat ketika terlalu banyak berpikir," ucap Blaise. "Jangan berpikir yang aneh-aneh. Profesor McGonagall ingin bertemu denganmu tidak berarti sesuatu yang buruk terjadi."

Draco ingin memercayai ucapan Blaise yang terdengar yakin sekali. Namun, ia tidak seyakin itu.

"Apa kau tidak lapar?" tanya Blaise lagi karena Draco tidak langsung menjawab. "Theo sudah menunggu di bawah. Apa kau ingin melewati makan malam dan makan di dapur lagi?"

Draco tidak menyukai itu. Ia tidak suka ketika Blaise atau Theo mengkhawatirkan dirinya. Sudah hampir 1 minggu ia berada di Hogwarts, dan selama itu pula ia selalu melewati jam makan. Ia tidak pernah makan di Aula Besar dan lebih memilih makan di dapur atau meminta salah satu peri-rumah membawakannya makanan ke ruang rekreasi. Ia melakukan itu karena jika ia berada di kerumunan, ia akan menjadi pusat perhatian dan itu amat menyebalkan.

"Sepertinya iya," jawab Draco.

"Kau tidak bisa seperti ini terus. Kau tidak bisa selamanya menghindari orang-orang, Draco."

"Yeah, aku tahu," Draco tidak bisa tidak merasa gusar, tapi ia tidak ingin marah pada Blaise. "Aku akan makan malam nanti. Aku ingin ke perpustakaan mengembalikan buku."

"Baiklah."

Tak lama setelah Blaise pergi, Draco pun keluar dari ruang rekreasi dan bergegas menuju perpustakaan. Ia sudah menyelesaikan semua tugas yang diberikan minggu ini sehingga ia butuh buku baru untuk dibaca di akhir minggu.

Madam Pince tampak tidak senang begitu Draco datang dan mengeluarkan sejumlah buku dari dalam tas sekolahnya. "Kenapa kau dan Miss Granger selalu datang di waktu yang tidak tepat?" gerutu Madam Pince, meskipun begitu dia tetap membiarkan Draco masuk.

"Granger? Apa dia di sini?"

"Secara teknis, dia tinggal di sini." Madam Pince diam sejenak sambil merapikan buku-buku yang dikembalikan Draco. "Apa kau akan meminjam buku lagi, Mr Malfoy?"

Draco memberikan anggukkan tanpa benar-benar memperhatikan Madam Pince. Ketika ia tahu Hermione Granger ada di sini, pandangannya berkeliling mencari sosok gadis itu tapi dia tidak dapat di temukan.

"Apa aku dapat mempercayaimu untuk tidak mengacau di perpustakaan, Mr Malfoy?"

Untuk beberapa saat, Draco merasa tersinggung dengan ucapan Madam Pince, tapi belum sempat ia bertanya, Madam Pince melanjutkan kata-katanya, "Aku ingin makan malam, Mr Malfoy. Jika kau tidak akan mengacau, aku akan membiarkan kau di sini sampai makan malam selesai?"

"Aku tidak akan mengacau, Madam Pince."

Madam Pince pun keluar dari perpustakaan dan menutup pintu. Draco pun memutar tubuhnya dan mulai berjalan menyusuri rak-rak buku yang minim cahaya. Ia tidak benar-benar tahu buku yang ingin ia baca. Satu per satu rak buku ia telusuri tapi ia tidak menemukan buku yang bagus.

Ketika ia tiba di rak terakhir di bagian sisi kiri perpustakaan, di ujung ruangan, ia mendapati ada sosok gadis yang sedang menulis, di temani cahaya redup yang berasal dari lilin. Dari tempat ia berdiri sekarang, Draco tahu siapa itu. Ia mencarinya sejak tadi. Tanpa ragu, ia pun berjalan mendekatinya.

"Kenapa kau tidak makan malam, Granger?"

Kemunculan Draco yang tiba-tiba sepertinya membuat Hermione Granger terkejut. Matanya melebar begitu dia berhenti menulis.

Draco menyeringai melihatnya terkejut lalu menarik kursi dan duduk di sampingnya.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Hermione Granger waspada.

"Aku? Aku mencari buku untuk dibaca."

"Lantas kenapa kau duduk di situ?"

"Apa aku tidak boleh duduk di sini?"

Hermione menyipitkan mata, menatap Draco tajam seakan berharap tatapannya dapat membuat Draco pergi. Lalu, dia membuang wajah dan kembali mengambil pena bulu.

"Kau bisa duduk di mana pun kau mau," ucapnya dan kembali menulis.

Hermione menulis dalam diam dan itu membuat Draco mengambil kesempatan untuk memperhatikan gadis itu. Ada perbedaan yang signifikan dari penampilannya. Rambutnya tetap megar tapi terikat rapi, kulitnya putih bersih dan tidak ada bekas luka di wajahnya, dan cara dia duduk sambil fokus menulis, menyilangkan kaki sambil bersandar pada sandaran kursi. Apa sebelumnya Hermione tampak cantik seperti sekarang ini?

"Apa yang sedang kau tulis?" tanya Draco penasaran.

Hermione menoleh dengan ekspresi yang tidak ramah dan kembali menulis. "Esai Rune Kuno,"

Hanya itu jawaban yang diberikannya.

Mereka pun kembali tidak bersuara.

Canggung.

Rasanya canggung sekali.

"Apa kau sudah mengejakannya?"

Draco tertegun, ekspresinya kosong.

"Apa kau sudah mengerjakan esai Rune Kunomu, Malfoy?" ulang Hermione Granger, kali ini agak kesal.

Draco tersenyum dan tertawa pelan. "Sudah selesai, Granger."

Ia melihat Hermione menggerutu dalam diam. Entah mengapa Draco merasa lucu sekali melihat gadis itu menggerutu. Apa dia memang seperti ini sebelumnya?

"Granger, ada yang ini aku tanyakan padamu."

"Silakan bertanya," katanya tanpa berhenti menulis.

"Kenapa kau memberikan kesaksian untukku?"

Kini Hermione berhenti menulis.

"Kau yang pertama memberikan kesaksian untukku. Kenapa kau melakukan itu?"

Draco melihat gadis itu meletakkan pena bulu di samping perkamen. Dia menghela nafasnya sebelum berpaling pada Draco. "Aku yang melakukan apa yang harus aku lakukan."

"Kenapa kau sampai merasa harus melakukan itu?"

"Karena aku pikir kau tidak pantas berada di Azkaban."

Jika Hermione berkata tanpa menatapnya, Draco mungkin tidak akan mempercayai apa yang barusan ia dengar. "Aku tidak pantas berada di sana?"

Hermione mengangguk. "Azkaban bukan tempat untukmu, tapi," Dia diam sejenak, tampak ragu untuk melanjutkan. "Jika Azkaban adalah tempat untuk anak yang suka merundung orang lain dan suka membuat masalah, maka kau cocok berada di sana."

Draco mendengus tapi merasa lega. "Aku tidak pernah berbuat baik padamu, Granger," kata Draco dan langsung merasa hatinya seperti baru saja diiris. "Aku yakin kau menyadarinya."

"Kau memang tidak pernah baik padaku tapi bukan berarti aku harus membalasmu dengan membiarkanmu di penjara, Malfoy."

"Apa kau ingin melakukan hal yang sama dengan yang aku lakukan padamu, Granger?" tanya Draco pelan. Mata kelabunya tepat menatap mata hazel Hermione Granger yang seperti sedang mencari sesuatu. Apa yang dicarinya sampai dia harus menatap Draco seperti itu? Kenapa pula Draco sampai harus merasakan jantungnya berdetak cepat sekali?

"Tidak," bisik Hermione Granger.

Entah apa yang merasukinya, tangan kanan Draco meraih pipi Hermione Granger dan mengusapnya lembut; membuat Hermione terkejut dan tidak bisa melakukan apa-apa. Lalu, ia tersenyum padanya dan bertanya, "Apa kau memang selalu cantik seperti ini, Granger?"