"Apa kau memang selalu cantik seperti ini, Granger?"

Apa yang terjadi pada laki-laki itu? Setelah mengucapkannya, dia pergi begitu saja. Kali kedua Draco Malfoy meninggalkan Hermione dan membuatnya sibuk dengan pikirannya sendiri. Apa yang sebenarnya terjadi?

Keesokan harinya, ketika udara makin dingin dan matahari sudah terbit dengan sempurna, Hermione keluar dari kamar dan mendapati Ginny Weasley sedang duduk di depan perapian dengan wajah menekuk dengan sepucuk perkamen di tangannya.

"Hey, Gin, ada apa?" tanya Hermione.

Ginny pun menghembuskan nafas dengan keras. "Kau tahu, seharusnya hari ini adalah jadwal seleksi anggota tim quidditch kita."

Hermione memang tidak menyukai Quidditch tapi bukan berarti ia tidak akan mendengarkan keluh kesah Ginny. "Seleksinya dibatalkan?"

Ginny mengangguk dan tidak tampak senang. "Bisa kau tebak apa penyebabnya?"

Hermione menggeleng.

Ginny berdiri lalu mengentakkan kakinya keras-keras. "Profesor McGonagall mengganti jadwal agar tim lain bisa melakukan seleksi terlebih dahulu."

"Tim lain?"

"Slytherin. Profesor McGonagall memberikan izin kepada tim Slytherin untuk melakukan seleksi dan latihan selama 3 hari ke depan."

"Profesor McGonagall pasti punya alasan khusus," kata Hermione yang tidak bisa tidak memikirkan Draco Malfoy saat ini hanya karena ia mendengar kata, Slytherin.

Ginny mengempaskan tubuhnya ke sofa dan melipat kedua tangannya. "Mereka mempunyai kapten baru."

Hermione ikut duduk di samping Ginny dan mulai membuka buku. "Siapa?"

Ginny tiba-tiba saja mengerang kesal. Hermione bingung karena dia tidak pernah seperti itu sebelumnya. Sebagai Kapten Tim Quidditch Gryffindor, sudah pasti Ginny merasa kesal dan kecewa.

"Adrian Pucey adalah kaptennya tapi dia terjatuh dari sapu saat kami melakukan latihan bebas sesama kapten. Tangannya patah dan Madam Pomfrey melarangnya naik sapu selama 3 bulan ke depan."

"Lalu, siapa yang menggantikannya?"

"Draco Malfoy."

Hermione langsung berhenti membaca tapi Ginny tidak menyadarinya.

"Dari sekian banyak murid Slytherin, kenapa Profesor McGonagall memilihnya?"

Mata Hermione bergerak tak fokus membaca kata-kata di bukunya. Draco Malfoy seorang kapten?

"Aku pikir Profesor McGonagall terlalu baik melakukan ini kepada Malfoy," gerutu Ginny.

"Malfoy? Dia tidak terlalu buruk bukan?" tanya Hermione ragu. Kini ia menutup bukunya. Keinginannya untuk membaca sudah hilang.

"Hermione? Masa kau berpikir seperti itu, sih?"

"Berpikir apa? Kalau Malfoy tidak buruk? Harry pun mengatakan demikian. Dia mengakui kemampuan Malfoy. Apa aku salah?" Untuk beberapa saat Hermione berpikir bahwa ucapannya rancu tapi sepertinya Ginny menyadari bahwa saat ini mereka sedang berbicara soal Quidditch sehingga tidak terjadi kesalahpahaman.

Ginny kembali mengerang. "Aku benci pada diriku sendiri karena kau benar."

Hermione tertawa pelan dan merasa lega. Ia lalu memeluk Ginny. "Ambil sisi positifnya. Ini akan jadi kesempatan yang bagus untukmu."

"Maksudmu?"

"Kau bisa menonton seleksi dan memata-matai mereka."

Sedetik kemudian, Ginny menepuk tangannya, kegirangan, lalu memeluk erat Hermione.

"Kau memang jenius, Hermione." Ginny pun berdiri dengan semangat. "Ayo, kau temani aku menonton seleksi mereka."

"Apa?!"

.

Ini bukan kali pertama ia melihat seleksi tim quidditch tapi Hermione dapat merasakan kegugupan dalam dirinya. Bukan udara dingin musim gugur, bukan juga Ginny yang sejak tadi mengoceh bersama Demelza Robins mengenai quidditch, tapi karena Draco Malfoy.

Dari tempat duduknya, Hermione dapat melihat Draco Malfoy dalam seragam quidditch tim slytherin. Nomor 7 berwarna perak bersinar di punggungnya seraya dia memberikan instruksi kepada sesama anggota slytherin yang melakukan seleksi.

Jika dia tidak mengucapkan kata-kata terkutuk itu kemarin malam, Hermione tidak akan merasa bodoh seperti ini. Ia dapat merasakan pipinya memanas setiap kali ia melihat Draco Malfoy bergerak di bawah sana.

Pertandingan seleksi di mulai kembali. Meskipun tidak ikut bermain, Draco tetap ikut naik sapu untuk mengawasi kawan timnya.

Hermione bagai kehilangan akal sehatnya. Sepanjang seleksi berlangsung, ia tidak mengalihkan perhatiannya dari Draco. Reaksi aneh pada tubuhnya ketika melihat Draco terbang menukik memutari lapangan dan kini berhenti tepat beberapa meter di depan Hermione.

Draco sepertinya baru sadar akan kehadiran Hermione karena begitu pandangan mereka bertemu, dia sedikit terkejut tapi dapat mengendalikan tubuhnya dengan baik.

Tidak ingin merasa lebih aneh lagi, Hermione pun berdiri. Ia tidak bisa berada di sini lebih lama lagi.

"Hermione, kau mau ke mana?" protes Ginny.

"Seleksi mereka tidak menarik sama sekali, Gin," jawab Hermione. Ia tidak berbohong sepenuhnya. Seleksinya memang tidak menarik.

"Kau akan kembali ke ruang rekreasi?"

Hermione mengangguk dan melambaikan tangan pada Ginny dan Demelza. Ia pun berjalan menuruni anak tangga stadium dengan langkah yang gontai dan jantung yang berdegup kencang.

Apa yang Draco Malfoy lakukan padanya sampai membuat Hermione merasa seperti ini?

Tunggu! Ini tidak benar. Bukan Draco Malfoy yang membuatnya seperti ini.

Begitu ia sampai di undakan terakhir, ia kembali memutar tubuhnya, hanya untuk memastikan, lalu, Hermione yakin sekali kalau jantungnya berhenti berdetak. Ia akan meninggal beberapa detik lagi dan itu karena Draco Malfoy.

Ia tidak ingin mempercayai penglihatannya. Ia mungkin memang membutuhkan kaca mata. Penglihatannya pasti salah. Tidak mungkin Draco Malfoy masih menatapnya dengan senyuman paling manis yang pernah Hermione lihat.

Dia pasti sudah gila.

Ia pasti sudah gila karena menganggap manis senyuman Draco Malfoy.