Setelah berlari melewati kerumunan, gang sempit, dan got, gadis itu membawa Kokona ke sebuah gedung kosong. Dindingnya sudah retak, kacanya pecah atau hilang, dan rumput liar mulai tumbuh di beberapa bagian. Dengan hati-hati ia menurunkan Kokona, yang diam setelah menjerit-jerit sepanjang jalan.

"Maafkan aku, kau baik-baik saja?"

"Hu…"

"Hu?"

"HUUUUAAAAAA!"

"Eeeeh…."

Kokona menangis keras sambil mengucek matanya. Gadis itu berusaha menenangkannya, tapi Kokona tak mau diam. Tidak tahu lagi harus bagaimana, ia menodongkan senapannya pada Kokona.

"Satu tangisan lagi, dan kau akan memanggil mereka ke sini. Kalau mau selamat, diam dan dengarkan aku."

"Hiks…Shun nee-san…"

"Eit."

"I-iya…aku diam…"

Kokona menundukkan kepala, berusaha keras menjaga mulutnya dan memastikan ia berhenti menangis. Ia berpikir seharusnya dia langsung pulang saja tadi, dan tidak akan bertemu dengan gadis berbahaya ini. Akan tetapi, yang sudah terjadi ya terjadilah. Tiba-tiba, pandangannya bertemu dengan bola mata biru dari gadis itu.

"Maaf membuatmu takut. Aku benar-benar sedang panik tadi dan tanpa sadar malah menyeretmu ke situasi seperti ini," terangnya sambil melepaskan maskernya kemudian menghela napasnya.

"Apa kau terluka?"

Kokona menggeleng.

"Apa kau haus?"

Kokona menggeleng lagi.

"Apa yang kau inginkan?"

"AKU MAU PULANG! HUAAAAA!"

Kokona menangis lagi karena tidak tahan, dan gadis itu nyaris reflek membekap mulut Kokona sebelum menghentikan dirinya sendiri dan meletakkan jari di depan bibirnya.

"Shuuuuuush. Aku mendengar suara di luar."

Kokona tidak berhenti menangis, tetapi menutup mulutnya agar tidak bersuara. Gadis itu bersandar di balik tembok sambil mencuri pandang dari jendela. Pasukan berandalan dan pekerja paruh waktu mulai masuk ke area halaman gedung kosong ini. Dari gerak-gerik mereka yang menerawang tiap jendela, mereka pasti masih waspada.

"Sepertinya kita belum ketahuan. Diamlah, dan akan kubawa keluar. Mengerti?"

Kali ini Kokona mengangguk. Di balik topengnya, gadis itu tersenyum. Tiba-tiba ia tersungkur memegangi betisnya. Saat ia mengangkat tangannya, sarung tangan berwarna hitamnya berubah merah.

"Kau terluka!"

"Jangan pikirkan. Hanya goresan kecil. Aduh!"

Gadis itu terjerembab dan kembali bersandar. Kokona menghampirinya, dan memegang betis gadis itu.

"Apa yang kau-"

"Biar aku rawat. Aku biasa mengobati luka seperti ini."

Gadis itu ingin memprotes, tapi rasa sakit yang tak tertahankan membuatnya pasrah membiarkan Kokona menolongnya. Tak lama kemudian, rasa sakitnya berkurang dan ia bisa berdiri kembali.

"Ah sebaiknya kakak duduk dulu. Bisa-bisa lukanya terbuka."

"I-Iya…"

Gadis itu menurut saja dan duduk di atas sebuah pilar yang sudah runtuh. Kokona kembali duduk di tempatnya tadi. Dalam gedung sunyi, tanpa ada siapapun selain mereka berdua, keduanya hanya bisa diam sampai para berandalan pergi. 5 menit berselang, terdengar teriakan dari ketua pasukannya untuk berpindah tempat pencarian. Kokona dan gadis itu bisa bernapas lega sejenak.

"Baiklah…sepertinya sudah aman sekarang. Sebaiknya kita cepat pergi sebelum mereka kembali."

"Anu…apa kakak tahu jalan di sekitar sini?"

Pertanyaan Kokona segera menghentikan langkah gadis itu. Dia memijat dahinya seolah baru menyadari tindakannya justru mungkin mempersulit peluangnya untuk kabur dengan aman.

"Jujur saja, tidak. Aku tidak tahu soal lokasi kita saat ini. Biasanya aku bersembunyi lebih jauh dari sini, tapi kakiku sudah mencapai batas."

"Begitu ya. Mungkin kita sebaiknya turun ke lantai dasar dulu. Siapa tahu mereka masih meninggalkan orang untuk mengawasi."

Pelan-pelan mereka turun untuk melihat keadaan. Terlebih lagi, gadis itu masih terluka jadi mereka tidak bisa cepat. Saat mereka akan mencapai lantai bawah, gadis itu melihat pintu tangga darurat. Penasaran, ia meminta Kokona untuk menunggu sebentar dan ia pergi memeriksa. Sambil menunggu, Kokona menoleh pelan-pelan di sela-sela tangga dan jendela. Tubuh kecilnya menguntungkan dalam mencegahnya terlihat. Pupilnya melebar dan ia cepat-cepat menutup mulutnya agar tidak berteriak. Ia hendak berlari mundur, tetapi pijakannya tidak tepat dan ia bisa merasakan dirinya melayang. Gravitasi segera menariknya untuk memeluk tanah.

"KYAAA!"

Sebelum wajahnya terpatri di lantai beton dengan cairan merah, ia berhenti di udara.

"Hah? Apa yang terjadi?"

Bajunya terasa ditarik ke belakang, dan ia menoleh pandangan tajam dari gadis itu. Ia sadar jeritannya barusan bisa saja membocorkan lokasi mereka.

" AKU MENDENGAR JERITAN! "

" DI GEDUNG ITU! KEPUNG! "

Derap langkah kaki memburu membuat gedung tua itu bergetar. Rencana melarikan diri diam-diam gagal, dan air mati jatuh lagi dari mata Kokona.

"Berhenti menangis! Aku menemukan jalan tembus lewat pintu tadi, tapi karena situasi berubah. Kita perlu strategi untuk mengalihkan perhatian mereka."

Berusaha tenang, Kokona menghirup ingusnya dan meminta gadis itu menurunkannya. Setelah cukup tenang, ia bertanya,

"Tolong jelaskan mengenai rute yang kakak temukan?"

"Ah. Pintu tadi memiliki panjatan turun ke bawah tanah. Tidak terlalu jauh, tapi sepertinya mengarah ke saluran pembuangan dan pemanas gedung. Jika beruntung, kita bisa lari dari sana."

Kokona mengangguk, tapi ia ragu ketika mencuri pandang sekilas dari jendela.

"Pastinya itu akan mengarah ke pintu saluran di luar, mereka bisa saja telah menunggu kita lewat sana."

"Lalu, bagaimana menurutmu nona kecil? Antara itu atau kita terperangkap selamanya di sini. Amunisi sudah menipis, dan jujur saja kita tidak punya makanan dan minuman lagi."

"Kakak benar."

Telinga Kokona terkulai. Ia mulai kehabisan akal. Melihat itu, gadis tadi berdeham dan menepuk pundak Kokona.

"Aku punya sebuah ide, tapi ini kedengarannya gila. Aku tidak jamin kita semua bisa selamat. Yang pasti, ini akan melumpuhkan mereka untuk sementara."

"Benarkah?" Api semangat kembali hidup di bola mata instruktur kecil itu. Gadis tadi mengangguk pelan, dan meminjam telinga Kokona.

"Yang harus kau lakukan adalah..."

Dimulailah persiapan yang memerlukan kerja sama dari dua insan yang baru saja bertemu, di mana kepercayaan dan keyakinan untuk memercayakan nyawa satu sama lain akan diuji.