Declaimer:
Naruto: Masashi Kishimoto
High School DxD: Ichiei Ishibumi
Genre:
Action, Adventure, Drama, Fantasy, Mistery, Romance, Supernatural.
Pair: Naruto x Rias x Akeno x Tsubaki x Grayfia(?)
Rate: T
Tata Bahasa:
Baku dan Non-baku
Consept Art:
Alternative Timeline
.
.
.
...
1712, Eropa
Musim Dingin
.
.
.
Malam yang sangat dingin, jauh di tengah hutan belantara seorang pemuda berambut pirang tengah berlari dari kejaran orang-orang di belakangnya. Tubuh kecil penuh luka dengan pakaian compang-camping dan sobekan sana-sini yang membuat sang empunya semakin memperlambat laju kakinya karena fisiknya yang kelelahan ditambah salju tebal kian mempersulit langkahnya.
"Ukh!"
Darah dari pelipisnya kian mengucur deras menetes tatkala sebuah anak panah dengan lancar merobek kulit wajahnya.
"Kejar si iblis itu!"
"Jangan sampai lolos!"
"Iblis itu harus merasakan hukuman Tuhan!"
Pemuda itu hanya bisa memegang wajahnya yang kesakitan seraya menggerakkan kakinya melangkah jauh. Dingin yang menusuk tulang seakan melengkapi penderitaan yang didera oleh si pemuda itu. Sebisa mungkin ia harus lolos dari kejaran mereka yang menginginkan dirinya mati atas nama Tuhan.
"Akh!"
Pemuda itu terjatuh, ia melihat anak panah lainnya menembus kaki kanannya.
Panik.
Pemuda itu panik dikala rasa sakit di kakinya semakin melanda, ia semampu mungkin harus terus melanjutkan langkahnya dengan menyeret tubuhnya yang semakin melemah di tengah salju tebal.
"Akh!" Teriakannya semakin jadi saat sebilah pisau mendarat di bahu kirinya.
Pemuda itu mencoba untuk mencabut belati tersebut, namun tak bisa karena sudah menancap terlalu dalam. Ia merasakan semua tenaganya menghilang.
Tap!
"Kena kau, anak iblis!"
Kerumunan orang yang mengejarnya sudah sampai dan mengelilingi sang pemuda malang itu. Satu dari mereka maju dan menarik rambut sang empu lalu menyeretnya ke tepi tebing curam hutan.
Sang pemuda hanya bisa pasrah sambil menahan semua rasa sakit dan dingin di sekujur tubuhnya. Tangannya menggenggam pergelangan tangan orang yang menyeret rambutnya untuk setidaknya meredam rasa sakit di kepalanya dengan menarik kembali tangan orang itu meskipun sedikit.
Sepanjang perjalanan tidak sedikit dari orang-orang itu memberikan pukulan maupun tendangan keras ke tubuh sang pemuda. Bahkan seorang anak gadis kecil dengan entengnya menancapkan garpu makan ke paha kirinya.
Orang paling belakang yang memakai penutup kepala dengan tergesa-gesa melepas alas kaki yang digunakan pemuda itu lalu dengan cepat ia memotong satu persatu jari kakinya menggunakan pisau daging yang membuat sang empunya mau tak mau mengeluarkan erangan sakitnya.
"Akh! Kumohon!"
.
.
.
Setelah sampai di tebing tinggi hutan belantara, si pemuda malang itu sudah disalib layaknya Al-Masih dengan bertelanjang dada dan dengan tubuh penuh luka sayat dan tusukan. Belum berhenti di sana, para wanita dari tua sampai yang muda melemparinya dengan batu-batu besar, satu dari batu itu mengenai kepalanya yang membuat darah semakin deras keluar dan membasahi wajahnya.
Satu dari mereka berpakaian seperti pendeta serba hitam bergerak maju sambil membawa obor dan berhenti tepat di hadapan sang pemuda malang.
"Anak dari seorang penyihir pastilah iblis. Dan apa hukuman untuk sang penyihir? Benar, dibakar hidup-hidup. Kau harus berterimakasih sebab aku sudah membebaskanmu dari dosa besar karena memiliki ibu seorang penyihir," seru sang pendeta, ia mengangguk ke arah orang-orang di sebelahnya untuk menyiramkan minyak ke sekujur tubuh pemuda itu.
"Dan apa hukuman untuk anak dari seorang penyihir? Benar, dibakar dan dijatuhkan ke dalam neraka," ujar si pendeta seraya melempar obor ke pemuda itu sambil menendang salibnya yang membuatnya terjun bebas dari tebing tinggi hutan belantara.
.
.
.
Tuhan...
.
.
.
Dalam bayangan pemuda malang itu, ia melihat kepakan sayap tulang yang memancarkan aura hitam pekat di bawah sinar rembulan dalam rintikan salju yang indah.
.
.
.
Jika Engkau ada di sana dan mendengar doaku, ampunilah mereka, batin sang pemuda sebelum hentakan keras membuatnya tidur untuk selamanya.
.
.
.
...
Naruto terbangun.
.
.
.
2012, Jepang
Kuoh Academy, Hari Ini.
Naruto terbangun dari tidurnya, keringat mengucur deras dan membasahi wajahnya, ia mengangkat kepalanya yang terasa sedikit sakit. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan kelas dan mendapati semua siswa tengah bersiap untuk pulang.
"Sudah waktunya pulang ya," ujar Naruto melihat jam dinding kelas yang menunjukkan pukul empat sore.
Naruto mengelap keringat yang membasahi wajahnya dan mempersiapkan buku-buku pelajaran yang ia masukkan ke dalam tas. Naruto berdiri dan menenteng tasnya menuju lemari sepatu di aula sekolah.
.
.
.
Setelah mengganti sepatu sekolah ke sepatu yang biasa ia kenakan, Naruto berjalan menyusuri jalan kota yang sepi. Namun masih banyak kendaraan yang berlalu-lalang.
Kenapa aku masih mengingat mimpi buruk itu? batin Naruto.
Saat ia berbelok menuju taman untuk sekadar mengistirahatkan tubuh dan menenangkan pikirannya, sebuah barier ungu pekat tiba-tiba muncul dan mengurung taman itu bersama Naruto di dalamnya.
Dari atas barier seorang wanita bersayap hitam dengan pakaiannya minim turun tepat beberapa meter di hadapan Naruto. Tapi tidak bisa dibilang mendarat karena kaki wanita itu masih belum menapakkan kakinya.
"Aura kuat ini hanya boleh dimiliki oleh satu makhluk, tapi makhluk itu sudah dianggap mitos, sebuah legenda yang diturunkan dari generasi ke generasi hanya untuk mengingat betapa kuasanya makhluk itu. Namun, tidak kusangka. Kau, manusia rendahan, memiliki sedikit dari pancaran cahaya itu, tapi tidak perlu khawatir, aku akan menghilangkan cahaya itu dari tubuhmu karena itu hanya akan menghina dirinya," seru wanita itu mengangkat tangan kanannya ke atas menyiapkan tombak cahaya.
Naruto yang mendengarnya dengan santai meletakkan tas sekolah ke bangku taman, ia kembali ke posisinya semula berhadapan dengan wanita bersayap itu.
Naruto memejamkan kedua matanya, aura hitam mulai memenuhi tubuhnya, dari pancaran aura pekat itu membentuk tongkat panjang hitam dengan kepala tengkorak silver di atasnya yang muncul di hadapan Naruto.
Naruto dengan perlahan menggenggam tongkat itu dengan tangan kirinya. Sebuah bola hitam terbentuk di tangan kanannya yang tengah menengadah setengah ke depan.
Wanita bersayap itu bingung dengan tindakan Naruto yang hanya menampilkan sisi lainnya tanpa ada persiapan untuk menyerang.
Namun...
Bug!
Tubuh wanita itu terjatuh, namun bukan ke depan ataupun ke belakang. Ia melihat kalau tubuh bagian bawahnya sudah lenyap entah kenapa. Darah segar mengucur deras dari perutnya yang terpotong dan memperlihatkan organ dalamnya.
"A--ah!"
Teriakan menggema di seluruh taman itu, ia sama sekali tidak sempat melihat saat kejadian itu berlangsung sangat cepat. Terlihat bola hitam yang semula digenggam Naruto sudah menghilang, bisa ia pastikan kalau bola itulah yang menyebabkan tubuh bagian bawahnya hancur lebur sampai ke tingkat partikel.
Tap! Tap!
Naruto mendekat, berjongkok tepat di hadapan wanita malang bersayap itu. Tangan kanan Naruto mengusap lembut rambut panjang sang wanita yang sudah basah akan darahnya sendiri.
Saat pandangan mereka bertemu, sang wanita bersayap itu sangat sulit mendeskripsikan wujud orang di depannya. Kulitnya pucat layaknya orang mati dan matanya sangat hitam sampai hanya terasa kehampaan di dalamnya dan rambutnya pun memutih, entah ia sadar atau tidak dari mulut Naruto meneteskan cairan hitam kental.
"Dalam musim dingin yang suram," ujar Naruto dengan suaranya yang berat.
Roh dari wanita bersayap itu keluar dan terhisap masuk ke dalam tongkat Naruto melalui kepala tengkorak yang ada di ujungnya.
Setelah selesai, Naruto bangkit berdiri. Tongkatnya sudah menghilang ditelan ketiadaan.
Air mancur taman tiba-tiba saja bergejolak hebat. Dari gejolak air itu membentuk seseorang yang memiliki wujud wanita seksi dengan pakaian spandek dengan jubah mewah memperhias tampilannya yang serba hitam dan rambut panjangnya senantiasa basah. Wanita itu melangkah mendekat ke arah Naruto yang masih dalam keadaan mode tempur dan berhenti tepat di hadapannya.
"Kau sekali lagi menjalankan tugasmu dengan sangat baik, Naruto," ujar wanita cantik itu.
"Leviathan," seru Naruto dengan suara beratnya yang membuat sang empu nama mengulas senyum.
"Aku akan mengunjungimu di lain waktu, Naruto, kau terlihat sangat lelah," ujar Leviathan memegang tangan kanan Naruto. "Jangan biarkan masa lalu itu kembali menyeruak di hatimu sudah mati itu. Kau tidak perlu lagi mengampuni mereka. Kau sudah memberikan segalanya."
Naruto hanya menoleh sebelum berucap, "tidak, belum semuanya."
Leviathan hanya menghela napas, ia melepas genggaman tangannya. Wanita cantik jelita itu hanya mengulas senyum kembali. "Hanya saja jangan paksakan dirimu, Naru."
Naruto hanya diam saat melihat wanita itu mengurai menjadi air dan membasahi taman.
Naruto memejamkan matanya mengembalikan keadaan dirinya seperti semula dibarengi dengan barier yang perlahan menghilang. Naruto dengan santai mengambil kembali tas sekolah yang ia tinggalkan di bangku taman dan pergi meninggalkan tempat itu.
.
.
.
Entah disadari atau tidak, seorang gadis dengan perawakan kecil tengah mengintai seluruh kejadian yang ada di taman dari seberang jalanan.
"Bucho, sepertinya aku sudah bisa memastikan informasi itu," ujar gadis itu melalui lingkaran sihir di telapak tangan kirinya.
"Kerja bagus, Koneko, sekarang kau boleh pulang," ujar seseorang di sana lewat lingkaran sihir.
"Baik."
Koneko pun menghilang dalam lingkaran sihir teleportasi.
.
.
.
Kuoh Apartment
Naruto sudah berbaring di sofa panjang ruang tamu, ia sudah terlalu malas untuk mandi saat ini. Suasana ruangan yang gelap sangat mendukung dirinya untuk mengistirahatkan tubuh. Hanya cahaya temaram dari sinar bulan yang masuk melalui jendela kaca balkonnya menjadi menyejuk tatkala rasa kantuk mulai menyerang dirinya.
.
.
.
"Anak dari seorang penyihir pastilah iblis. Dan apa hukuman untuk sang penyihir? Benar, dibakar hidup-hidup. Kau harus berterimakasih sebab aku sudah membebaskanmu dari dosa besar karena memiliki ibu seorang penyihir," seru sang pendeta, ia mengangguk ke arah orang-orang di sebelahnya untuk menyiramkan minyak ke sekujur tubuh Naruto.
"Ibuku seorang tabib, wajar saja jika dia mampu menyembuhkan penyakit orang-orang di desa ini, Pendeta."
Dengan marah sang pendeta memukul keras wajah Naruto. "Lalu kenapa di rumahmu banyak sekali tersimpan organ-organ tubuh manusia di dalam tabung?! Belum lagi hewan-hewan aneh yang kami lihat di meja ibumu! Dan jangan lupa kalau aku memergoki ayahmu yang tengah menggali kuburan untuk diambil bagian tubuhnya! Menurutmu itu bukan kesesatan?! Hah?!"
"Itulah adalah sains, sebuah pengetahuan. Ibuku mencoba menguraikan dan meneliti untuk menemukan obat agar bisa dikonsumsi masyarakat luas, untuk bisa menyembuhkan lebih banyak orang. Dia mencoba membantu tanpa mengharapkan imbalan apapun dari kalian."
"Pembohong!"
Sang pendeta memutar tubuhnya dan mengalihkan pandangannya ke orang-orang di sekitarnya. "Ucapan dari iblis ini tidak bisa dipercaya! Ibunya seorang penyihir dan ayahnya adalah seorang pengabdi satan yang selalu tertidur saat ceramah di gereja. Menurut kalian itu bukan bukti?!"
"Ya, itu benar!"
"Dia pasti keturunan iblis!"
"Keluarga sampah!"
"Kalian lebih hina dari hewan ternak, keparat!"
Pendeta itu membalikkan tubuhnya menghadap Naruto kembali. "Kau lihat itu, Naruto? Dari awal mereka sudah tidak percaya pada keluargamu. Aku tidak percaya pada keluargamu."
"Kau menuduh ibuku penyihir karena dia mampu menyembuhkan penyakit lewat obat-obatannya. Kau juga menghina dan menuding ayahku sebagai seorang pelayan satan, tapi kau sendiri tahu kalau ayahku adalah orang yang berdedikasi terhadap keluarganya. Dia kelelahan Karena harus menafkahi kami sebagai petani di ladang kering yang kau berikan, Pendeta, dan kau membunuhnya karena dia membantu ibuku untuk menemukan obat. Tak satupun dari kami meminta sepeserpun upah dari apa yang kalian minta," ujar Naruto sekuat tenaga untuk menyadarkan mereka.
"Diam kau, iblis!" tandas sang pendeta seraya memukul wajah Naruto dengan obornya.
"Kau dan keluargamu sudah menyebarkan kesesatan di desa kami yang damai. Sebagai hukumannya, aku akan membebaskanmu dari penderitaan, Naruto, Putra Uzumaki," ucap sang pendeta menyiapkan obornya. "Hukuman untuk anak dari seorang penyihir adalah dibakar dan dijatuhkan ke dalam jahanam." Sang pendeta melempar obor ke tubuh Naruto yang bermandikan minyak sambil menendang salibnya yang membuatnya terjun bebas dari tebing tinggi hutan belantara.
Dengan tubuh yang disalib, Naruto terjun dari ketinggian disertai jago merah yang semakin lahap menelan tubuhnya dalam kobaran api yang sangat membakar.
.
.
.
Tuhan...
.
.
.
Dalam bayangan Naruto, ia melihat kepakan sayap tulang yang memancarkan aura hitam pekat di bawah sinar rembulan dalam rintikan salju yang indah.
.
.
.
Jika Engkau ada di sana dan mendengar doaku, ampunilah mereka, batin Naruto sebelum hentakan keras membuatnya tidur untuk selamanya.
.
.
.
Dalam kesunyian muncul seseorang dari balik bayangan hutan dan mendekati jasad Naruto yang sudah hangus. Sosok itu melepas semua belenggu yang merantai tangan dan kakinya.
Sosok itu menyeret tubuh Naruto dengan entengnya dan melemparnya ke lubang yang sudah ia siapkan di sebelahnya. Sosok itu mulai melukai nadi di masing-masing tangannya dan membasahi mayat Naruto dengan darahnya.
Lubang yang semula hanya berisi mayat hangus terbakar, tiba-tiba terisi oleh semacam energi kegelapan yang memenuhi lubang itu, sosok gelap yang diam mengamati dan tak menampakkan wajahnya kini terjun ke dalam lubang itu.
.
.
.
Void
...
Naruto terbangun dan mendapati dirinya berada di sebuah dunia yang semuanya serba putih, ia melihat ke sekeliling dan jelas tidak ada batasan dalam dunia itu.
Naruto terombang-ambing, namun ia merasa begitu tenang saat berada di sana, sejuk dan nyaman saat seseorang datang menampakkan dirinya ke hadapannya.
"Sungguh menyebalkan, bukan?"
Naruto hanya tersenyum kecut. "Ya, sangat menyebalkan."
"Apa kau menyesali itu semua?"
Naruto menggeleng. "Tidak. Sama sekali tidak."
"Kau tahu kalau sudah mati, bukan?"
"Ya, aku tahu itu."
"Apa kau dendam?"
"Tidak, aku sama sekali tidak dendam."
"Kenapa?"
"Mereka hanya tidak tahu. Mereka menakuti apa yang tidak mereka ketahui."
"Apa itu tulus dari hatimu?"
"Ya."
"..."
"..."
"Seandainya kau memiliki satu kesempatan lagi untuk mengubah semuanya, apa akan kau ambil?"
Naruto belum mau menjawab, ia menaikan sebelah alisnya. "Apa kau Tuhan?"
Sosok itu hanya tertawa pelan. "Apa Tuhan identik dengan warna hitam gelap dengan aura yang mencekam?
Naruto hanya menggelengkan kepalanya.
"Aku adalah Beelzebub, Naruto, Putra Uzumaki."
Naruto hanya diam sebagai responnya.
"Kau sama sekali tidak terkejut dengan identitas asliku, Pemuda."
Tatapan Naruto menyendu, ia menundukkan kepalanya. "Aku hidup di lingkungan orang-orang berpakaian suci, tapi memiliki hati seorang iblis. Tidak bisa kubayangkan apa yang keluargaku perjuangkan justru berbalik arah karena kami dianggap sesat."
Sosok itu hanya tersenyum. "Seperti katamu, orang-orang membenci apa yang tidak mereka ketahui. Katakan, Putra Uzumaki, apa kau akan mengambil kesempatan itu?"
"Kenapa aku harus mengambil kesempatan itu?"
"Karena aku melihat di hatimu kau masih berambisi untuk membentuk dan membangun dunia menjadi tempat yang lebih baik."
Naruto tertegun mendengarnya.
"Di balik itu semua, kau sama sekali tidak membenci mereka atas apa yang mereka perbuat terhadap ibu dan ayahmu, justru kau memaafkan mereka. Hati semurni ini diperlukan layaknya binatang buas, namun karena ketabahan hati itu kau bisa melalui itu semua hingga membentuk siapa dirimu sekarang, Naruto."
Entah kenapa karena ucapan Beelzebub membuat Naruto meneteskan air matanya.
"Jiwamu sudah sangat rusak. Kau boleh beristirahat sesekali untuk melepas rasa lelah itu karena kau hanyalah sebatas makhluk fana."
Naruto mengelap air matanya. "Katakan, jika aku mengambil kesempatan itu, apa yang kau ambil dariku, Beelzebub? Aku sudah tidak memiliki apa-apa lagi."
"Aku akan mengambil hakmu atas surga."
Naruto kembali tertawa lemah. "Aku sudah merasakan apa itu kehidupan neraka."
Beelzebub hanya diam sebelum berucap, "kemarilah."
Naruto pun mendekat, setelah sampai Beelzebub memperlihatkan kilas balik kehidupan dari era ke era seperti zaman Babylonia, Mongolia dan Kekaisaran Romawi kuno dalam satu frame layar layaknya sebuah tontonan.
"Kau belum mengetahui apa kehidupan di neraka itu, Naruto. Lihat, dulu aku disembah dan diagungkan sebagai salah satu dari tujuh pangeran neraka. Namun seiring perkembangan zaman, orang-orang mulai melupakan kami, bahkan mengingat nama kami pun mereka sudah tidak. Aku dan sisa enam lainnya semakin lemah karena orang-orang sudah tidak menyembah kami lagi. Namun, dengan kemurnian hatimu, kau bisa mengubah kelemahan itu menjadi kekuatan, Naruto."
Kilas balik sejarah pun selesai. Kini Naruto dan Beelzebub saling bertukar pandang.
"Kau akan memiliki akses penuh ke seluruh kekuatan, kemampuan, pengetahuan dan kebijaksanaanku jika kau menyetujuinya. Dan dengan itu kau bisa meningkatkan kekuatanmu dengan memakan jiwa-jiwa makhluk tersesat. Dan mungkin kehidupan neraka yang kau sebutkan tadi akan berubah menjadi sesuatu yang kau ingin lindungi, Naruto. Dan pada waktunya tiba, aku akan datang menjemputmu dan membawamu ke neraka bersamaku."
"Aku setuju, namun dengan satu syarat."
"Apa syaratmu?"
"Jangan libatkan kedua orang tuaku yang sudah tenang di sana."
Beelzebub hanya menengadah tangan kanannya ke depan dan disambut oleh Naruto.
"Saat ini juga, kau, Uzumaki Naruto mewarisi darah, kekuatan serta pengetahuanku sebagai Putra Beelzebub."
.
.
.
Bersambung.
.
.
.
A/N:
Lanjut?
Tertanda, minurighazali
