Declaimer:
Naruto: Masashi Kishimoto
High School DxD: Ichiei Ishibumi
Genre:
Action, Adventure, Drama, Fantasy, Mistery, Romance, Supernatural.
Pair: Naruto x Rias x Akeno x Tsubaki x Grayfia(?)
Rate: T
Tata Bahasa:
Baku dan Non-baku
Consept Art:
Alternative Timeline
.
.
.
...
Malam
Suatu tempat di Tokyo...
.
.
.
Terdengar suara bising dari bangunan tak terpakai di pinggiran kota. Suara pecahan kaca dan kayu yang patah menjadi alunan melodi di seluruh bangunan bekas pabrik yang terbengkalai.
Kaca jendela pecah, gelegar suaranya memecah keheningan malam dan mengeluarkan sosok manusia setengah iblis kelelawar dengan sebelah sayap berlari menuju jalan kota.
Tap!
Naruto melompat melewati jendela yang dihancurkan iblis tadi dan mendarat dengan posisi sempurna. Naruto berdiri melempar sebelah sayap iblis yang sempat ia cabut tadi sambil membersihkan debu yang menempel pada seragamnya, ia mengedarkan pandangannya dan terlihat sang iblis sudah menjauh setelah berbelok di persimpangan jalan.
"Bikin lembur aja lu," decak Naruto berlari.
.
.
.
Dirasa sudah cukup jauh, iblis kelelawar itu menghentikan laju larinya, ia menoleh ke belakang mendapati trotoar sangat sepi akan pejalan kaki. Namun saat seseorang menubruknya dari arah taman di sebelahnya, sang iblis hanya bisa meronta-ronta.
"Oi, memangnya apa salahku?! Aku hanya memenuhi rasa laparku!" pekik si iblis mencoba lepas dari jeratan orang yang menerkamnya.
"Bukan salah siapa-siapa, lagipula ini bukan masalah pribadi, aku hanya menjalankan tugas malam," ujar Naruto mengencangkan cengkramannya.
"Tugas malam apa yang kau maksud, hah?! Kau dan aku itu sama! Kenapa kau memburuku, dasar sial?!" tandas iblis itu.
"Sudah kubilang, ini bukan masalah pribadi!" tandas Naruto semakin sulit menahan iblis yang semakin memberontak.
Di sela kegiatan mereka, Naruto tidak sadar kalau sayap iblis kelelawar yang sempat ia cabut tumbuh lagi. Naruto baru menyadarinya setelah sang iblis membawanya terbang ke angkasa.
"Bisakah kau tenang selagi aku menjalankan tugas malamku?! Aku harus pulang cepat karena ada beberapa pekerjaan yang menungguku dan aku harus istirahat!" bentak Naruto setelah mereka sudah berada di ketinggian malam.
Sang iblis hanya menggeram kegirangan sambil terus mengepakkan sayap yang membuat mereka semakin melesat tinggi.
Naruto yang melihatnya hanya menghela napas panjang lalu memejamkan matanya berkonsentrasi, tak berselang lama, genggaman tangan kirinya memunculkan tongkat panjang Beelzebub disertai aura hitam yang pekat. Naruto membuka kedua matanya yang sudah menghitam dengan kulit tubuh pucat pasi dan rambutnya sudah berubah putih.
"In the mid-bleak winter," ucap Naruto dengan nada berat sambil mengangkat tongkatnya ke atas.
Iblis kelelawar yang semula kesenangan seketika panik saat rohnya keluar dari tubuhnya dan masuk ke dalam tongkat yang dipegang Naruto.
Setelah selesai mencabut nyawa iblis itu, Naruto kembali ke wujud manusianya, tongkat yang sempat ia pegang kini menghilang ditelan ketiadaan. Namun ada satu yang menggelitik otaknya, ia lupa kalau ia masih berada di atas langit.
"A--ah!"
Karena daya tarik gravitasi, Naruto terjun bebas dengan sangat cepat. Naruto buru-buru melindungi dirinya menggunakan tubuh iblis yang sudah tak bernyawa itu.
"Katanya daya tahan tubuh iblis lebih kuat dari manusia! Kuharap itu benar, Joe!" teriak Naruto memanggil nama iblis yang sudah mati saat melihat gudang terbengkalai di pinggiran hutan semakin dekat.
"Lagi?!"
Naruto memejamkan matanya saat ia menghantam atap gudang itu dengan sangat keras.
Gema suaranya terdengar nyaring, namun Naruto sedikit mendengar pekikan seorang wanita sebelum menghantam lantai dasar.
Naruto dengan perlahan membuka kedua matanya dan mendapati dirinya baik-baik saja. Naruto langsung bangun dari tempatnya setelah mengecek tidak ada luka sedikitpun di tubuhnya.
"Itu tadi gila banget, kawan!"
Namun, setelah debu menghilang, Naruto melihat Rias dan kawan-kawan terkejut dengan kemunculannya yang sedikit di luar nalar.
Sadar akan kehadirannya yang asing, Naruto mengalihkan pandangannya ke bawah dan mendapati dirinya baru saja menghantam kepala iblis wanita setengah Viser yang tengah mereka buru sampai hancur berantakan.
"Goddamn son of a bi--"
Tut!
.
.
.
Sebelumnya
Beberapa saat yang lalu...
.
.
.
Tepat di sebelah bangunan dekat hutan yang terbengkalai muncul lingkaran sihir merah yang mengeluarkan Rias beserta kawan-kawannya.
"Dulunya mereka hidup sebagai pelayan iblis seperti yang lain," seru Yuuto Kiba saat lingkaran sihir yang dibuat Akeno menghilang.
"Seperti kita?" kata Issei.
"Kadang, iblis mengkhianati dan membunuh majikannya, sehingga mereka dapat hidup sesuka mereka. Itulah yang kita sebut iblis liar," lanjut Kiba.
"Kita baru saja mendapat informasi bahwa iblis liar sudah menggoda manusia untuk masuk ke dalam dan memakannya," ujar Akeno menjelaskan tentang kabar yang baru saja ia terima sesaat sebelum sampai ke tempat tujuan.
"Me-Memakannya?!" seru Issei terkejut.
"Misi malam ini adalah untuk memusnahkannya." Kali ini sang ketua, Rias, yang berbicara.
Mereka mendekat ke pintu utama, selagi membuka penghalang untuk mereka masuk, Kiba menambahkan sedikit penjelasan, "kau akan melihat monster yang berasal dari penyalahgunaan kekuatan iblis yang hidup tanpa majikan."
Ketika di dalam, Rias menjelaskan cara kerja kelompok mereka dalam berburu iblis liar dengan metode permainan catur. Rias dengan gamblang menyebutkan bahwa apa yang disebut sebagai 'evil piece' dapat menguatkan kekuatan berdasarkan peran iblis dalam bidak catur, sesuai namanya.
"Pokoknya malam ini adalah saat yang tepat untuk mengamati bagaimana cara iblis bertarung." Pandangan Rias lurus ke depan, ia merasakan hawa keberadaan makhluk asing yang mendiami bangunan tersebut.
Saat asyik menjelaskan semua tentang cara mereka bekerja, tiba-tiba mereka dihadapkan dengan kemunculan iblis wanita telanjang dengan tubuh bagian bawah Viser.
"Iblis liar: Viser. Makhluk najis yang melarikan diri dari majikannya untuk memenuhi keinginannya sendiri. Mereka pantas mati karena dosa-dosa mereka," seru Rias dari raut wajahnya mengeras tanda ia tengah serius.
Rias makin mempertajam semua inderanya. "Atas nama Gremory, aku akan memberimu pelajaran!" seru Rias lantang dengan senyum remeh.
"Gadis yang kurang ajar. Aku akan menutupi dirimu dengan darah merah seperti warna rambutmu!" tandas Viser seraya meremas kedua payudaranya sendiri dan menimbulkan lingkaran sihir pada masing-masing putingnya.
"Tindakan licik seperti yang kuduga dari ikan teri." Entah kenapa merasa dirinya lebih unggul, ucapan Rias semakin meninggi.
Di saat semua teman-temannya tengah berada posisi siap tempur, fokus Issei teralihkan oleh sesuatu yang lain. Ia dengan sangat sadar hanya melihat lurus ke payudara besar si wanita iblis.
"I-Inikah iblis liar? Bagiku dia hanya terlihat seperti wanita yang suka pamer!" ujar Issei dengan senyum mesumnya yang mulai kumat.
Namun, saat Viser mengangkat sebelah kakinya, di situlah semua ekspetasi Issei runtuh.
"Sudah kubilang, kan?" Entah bisa menebak atau memang Kiba sudah menerka apa yang ada di pikiran Issei dengan berucap demikian.
"Baik tubuh dan hatinya akan berubah menjadi monster yang jelek," terang Kiba pada Issei yang masih shock dengan realita di depannya.
"Padahal dia punya dada sebagus itu! Sungguh sia-si--"
Issei masih tidak habis pikir dengan penampakan wanita di hadapannya, sampai ia lupa kalau lingkaran sihir pada payudara si wanita iblis itu mulai bereaksi dan menembakkan laser panas.
Koneko dan Rias mundur yang notabenenya berada paling depan dengan menarik Issei ke belakang, sedangkan Akeno berada agak jauh karena perannya sebagai support. Kiba dengan kecepatannya mampu menghindar.
Semua tembakan payudara wanita iblis itu meleset dan mengenai langsung tembok bangunan yang melelehkan bak cairan asam sulfat.
Issei ketakutan. "Baiklah! Dia memang monster!" ucapnya tidak bisa membayangkan jika kena sedikit saja.
"Jangan sampai lengah. Yuuto!" ujar Rias melihat dampak yang ditimbulkan dari serangan sang iblis liar seraya memanggil orang yang dimaksud.
Kiba menghilang membuat Issei terkejut dengan kecepatannya. Namun, saat Rias hendak menjelaskan peran Kiba dan belum sempat ia akan menebaskan pedangnya, sesuatu menghantam atap bangunan dan menimpa sang iblis liar.
Brak!
Debu bertebaran, Rias dan kawan-kawan berbatuk karenanya, ditambah mereka terkejut dengan serangan dadakan tadi.
"Itu tadi gila banget, kawan!"
Sebuah suara menyadarkan mereka. Saat debu mulai menghilang, barulah sosok itu menampakkan dirinya yang sangat tidak asing di mata mereka.
Sosok itu pun juga tidak kalah bingung, ia mengedarkan pandangannya ke bawah.
"Goddamn son of a bi--"
.
.
.
Kembali ke Naruto.
"Hai," sapa Naruto dengan senyum manisnya.
Entah kenapa karena senyuman Naruto membuat dua gadis bertubuh bahenol itu merona merah di pipi putih mereka.
Naruto melangkah mendekat, ia hampir saja tersandung karena sebelah kakinya sedikit menempel pada lantai bangunan karena darah iblis yang sudah mengering.
"Apa yang kalian lakukan malam-malam begini?" ujar Naruto saat sudah berada di dekat mereka.
Mendengar pertanyaan yang diucapkan Naruto membuat wajah dua gadis semok itu menjadi datar.
Nih orang... batin Rias dan Akeno berbarengan bermonolog. Dan Koneko hanya diam melihat interaksi ketua dan wakilnya dengan senior yang sudah ia kenal.
"Naruto-senpai, malam," seru Kiba sambil menyarungkan kembali pedang yang belum sempat menebas.
"Oh, hai, malam, Kiba, apa yang kau lakukan malam-malam begini?" ucap Naruto mendekati Kiba.
"Kami sedang berburu iblis liar, Naruto-senpai," ujar Koneko datar di sebelah Kiba.
"Hai, Koneko. Jadi, aku sudah menghabisi buruan kalian, ya? Aku minta maaf untuk itu. Tugas malamku jadi selesai dua kali," seru Naruto tersenyum hambar sambil menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.
"Kau! Jadi kau Uzumaki Naruto?! Astaga, kau seperti legenda hidup, Naruto-senpai! Namamu selalu muncul di mading sekolah! Ngomong-ngomong namaku Hyoudou Issei, Senpai!" ucap Issei menjabat tangan Naruto paksa.
"Ah, ya, senang bertemu denganmu, Issei," ujar Naruto melepas paksa jabat tangan itu karena Issei mencengkeramnya begitu kuat.
"Ada apa denganmu?" bisik Naruto dengan suara pelan sambil mengelus tangan kanannya yang dicengkeram Issei.
Belum berhenti sampai di sana, Rias dan Akeno memegang masing-masing tangan Naruto. "Ikut kami!" seru keduanya menyeret Naruto menjauh.
Koneko, Kiba dan Issei hanya bisa sweatdrop melihat Naruto terkesan pasrah diseret karena kakinya sama sekali tidak digunakan.
"Ingat ini selalu, teman-teman, jika tidak kuat dua maka satu saja sudah cukup! Ouch! Sakit, Rias!" teriak Naruto yang dihadiahi pukulan sayang di kepala dari orang yang dimaksud.
.
.
.
Gedung Penelitian Ilmu Gaib
Saat ini Naruto berada di tengah-tengah single sofa yang berada di ujung tepat berhadapan langsung dengan Rias yang duduk di kursi kebesarannya, jangan lupakan meja besar yang terkesan mewah.
Naruto melihat ke sebelah kirinya mendapati sofa panjang itu diduduk Kiba dan Koneko yang tengah makan makanan manis. Naruto mengalihkan atensinya ke seberang mereka dan mendapati Issei yang sama seriusnya di sofa panjang, namun hanya sendirian.
Naruto membawa pandangannya jauh ke belakang dan melihat Akeno berdiri di sebelah Rias sambil tersenyum manis ke arahnya membuat Naruto juga mengulas senyum.
"Jadi, mau mulai dari mana?" seru Naruto memecah keheningan sambil membuka toples kacang yang ada di atas meja kaca dan memakan isinya.
"Aku tidak akan bertanya bagaimana kau bisa sampai di tempat itu. Aku akan bertanya bagaimana kau melakukannya. Mengingat dari laporan yang Koneko berikan..." Rias melihat sedikit pada lembar kertas yang sudah ia siapkan, "...kau memiliki aura kuno? Dan kemampuan unik yang sepertinya tidak kami mengerti. Jadi, mulailah bercerita."
"Cerita apa?"
Brak!
Rias memukul mejanya yang membuat seisi ruangan kaget, terlebih Koneko, ia ingin menyantap manisannya yang kini sudah jatuh ke lantai.
"Kau jangan menguji kesabaranku, Naruto-kun!" tandas Rias. Akeno yang berada di sebelahnya mencoba menahan Rias dengan mengelus punggungnya.
"Iya, akan aku jelaskan, Rias, kau tidak perlu emosi segala. Itu tidak bagus untuk wajahmu, nanti kau cepat tua," ucap Naruto. Layaknya menyiram bensin pada api kecil, tentu membuat api itu semakin besar.
"MEMANGNYA SIAPA YANG MEMBUATKU EMOSI SEPERTI INI, HAH?! SEBAIKNYA KAU JELASKAN ATAU AKU AKAN KE SANA DAN MELAMPIASKAN SEMUA YANG KUTAHAN!" Emosi Rias semakin tak terbendung. Akeno dengan sabar mencoba menenangkan ketuanya.
"Apa yang ditahan coba?"
Deg!
Cukup sudah!
Rias dengan sigap berdiri, ia menepis tangan Akeno yang mencoba menahannya. Dengan langkah tergesa, Rias sudah berada di samping Naruto dan menarik kerah pemuda pirang itu hingga berdiri, sampai...
Brak!
Rias mendorong jatuh tubuh Naruto, belum selesai sampai di sana, Rias menduduki perut keras Naruto dan mulai menjambak kuat-kuat rambut pirang pemuda manis itu. Wajah Rias terlihat sangat kesal, bahkan sampai membanting-banting kepala Naruto dalam jambakannya.
"Oi! Oi! Bucho, lepas!" seru Kiba membantu agar Rias melepaskan jambakannya. Namun entah kenapa ia tidak bisa.
Issei juga datang ikut membantu Kiba, tapi usaha mereka sia-sia. Mereka seperti menarik batu besar yang tidak bisa digeser sedikitpun.
Naruto hanya bisa menerima serangan Rias sambil menepuk-nepuk pelan pundak orang yang dimaksud agar melepaskan rambutnya, kakinya meronta-ronta karena jambakan Rias begitu kuat.
"KAMU KENAPA JADI NYEBELIN BANGET SIH?!"
"Ampun, Rias, ampun! Iya, aku jelasin semuanya!"
"MINTA MAAF DULU!"
"Iya, aku minta maaf, Nona Rias! Sekarang lepas, kamu kuat banget nariknya!"
"RIAS!" seru Akeno panik melihat Rias melepas sayap iblisnya, entah sengaja atau tidak. Ia mendekat.
"Oi! Oi! Oi!"
"Ketua, lepas, jangan digigit!" Kini giliran Koneko ikut membantu.
"Astaga!"
.
.
.
Time break!
.
.
.
Setelah keadaan mulai tenang, Rias kembali ke mejanya didampingi Akeno yang masih mengelus-elus punggung Rias.
Di seberang, penampilan Naruto sudah acak-acakan, rambutnya berdiri tegak seperti sehabis tersetrum listrik bertegangan tinggi. Naruto membuka tiga kancing seragamnya untuk melihat bekas gigitan Rias di pundak kanannya.
"Ini belum tentu hilang tiga hari, Rias," ujar Naruto menegaskan.
"Bodo!"
Naruto hanya menghela napas panjang, ia merapikan tampilannya, sedikit menata kembali rambutnya seperti semula. Setelah selesai, Naruto menundukkan kepalanya, entah kenapa suasana ruangan menjadi lebih berat.
Rias dan kawan-kawan ikut dalam suasana itu, ada perasaan sedih yang tidak bisa disampaikan melalui kata-kata.
"Saat itu tahun 1712, musim dingin di Eropa sangat mengerikan."
Seisi ruangan Klub Penelitian Ilmu Gaib dilanda kesedihan yang mendalam mendengar cerita masa lalu Naruto. Mereka baru menyadari kalau latar belakang Naruto sama seperti mereka yang dikucilkan, dicaci-maki, dibuang, direndahkan dan dihina. Khusus untuk Naruto, ia justru dituduh padahal niat dan tujuannya sangat mulia. Kendati demikian, Naruto masih tetap berdiri tegar dengan statusnya yang kini sudah tidak memiliki hak atas surga. Ia bahkan dengan besar hati memaafkan orang-orang yang sudah membuatnya seperti ini. Landasan Naruto adalah: saat itu orang-orang menakuti apa yang tidak mereka mengerti.
Koneko dengan sadar sudah menangis sesenggukan dan ditenangkan Kiba yang berada di sebelahnya. Kiba juga tengah menahan tangis, matanya berkaca-kaca. Akeno bahkan membekap mulutnya sendiri supaya isak tangisnya tidak keluar, tidak lupa air sungai dari bola matanya yang indah mengalir deras, Rias dalam diam meneteskan air matanya dan membasahi meja. Issei, entah apa yang ia lakukan, ia hanya menunduk sambil melipat kakinya meringkuk di atas sofa panjang.
"Saat aku terbangun tiga ratus tahun yang lalu, aku tahu hidupku sudah berbeda dan aku akan terus membawa beban tanggung jawab ini sampai akhir hayatku untuk mengembalikan jiwa-jiwa tersesat maupun yang bergentayangan ke alam baka hingga Dia datang menjemputku saat sangkakala ditiupkan."
Rias tidak berkata apa-apa lagi, ia dan Akeno berlari ke arah Naruto yang membuatnya berdiri heran, namun saat pelukan hangat yang ia rasakan dari kedua gadis itu, ia akhirnya tahu kalau ia masih memiliki setitik nilai di kehidupannya sekarang.
Dan mungkin kehidupan neraka yang kau sebutkan tadi akan berubah menjadi sesuatu yang kau ingin lindungi, Naruto.
Naruto kembali mengingat ucapan sang iblis saat ia menerima kontrak seumur hidup yang tidak bisa dibatalkan.
.
.
.
...
Malam
Saat ini Naruto berada di atap gereja yang terbengkalai dekat kota. Angin sejuk membelai lembut dirinya di keheningan malam.
"In the mid-bleak winter."
Naruto belum membuka matanya saat tiba di sana. Sampai...
Deg!
Naruto membuka matanya dan dirinya sudah berubah ke wujud dirinya yang lain.
.
.
.
Bersambung
.
.
.
A/N:
Lanjut?
Tertanda, minurighazali
