Declaimer:

Naruto: Masashi Kishimoto

High School DxD: Ichiei Ishibumi

Genre:

Action, Adventure, Drama, Fantasy, Mystery, Romance, Supernatural.

Pair: Naruto x Rias x Akeno x Tsubaki x Grayfia(?)

Rate: T

Tata Bahasa:

Baku dan Non-baku

Consept Art:

Alternative Timeline

.

.

.

...

Langit senja merupakan salah satu panorama alam hayati yang menjadi siluet indah kota Tokyo dalam sejuknya udara di musim semi di pertengahan tahun di Jepang.

Bunga-bunga berguguran menyapa warga saat salah satu musim yang paling di gemari seantero negeri matahari terbit menghiasi langit dan Bumi dengan warna cerah dari helaian bunga blossom.

.

.

.

...

Kuoh Academy. Atap Sekolah.

"Tsubaki, please, kau jangan beritahu Sona soal ini, aku tidak ingin dia mengetahuinya," seru Naruto mengatupkan kedua tangannya memohon.

Orang yang dimaksud masih bergeming di tempatnya sambil menyilangkan kedua tangannya tanpa ekspresi, wajahnya datar dan sorot matanya menusuk. "Beri aku alasan, Naru."

Saat ini jam pulang sekolah, banyak siswa-siswi keluar dari kelas dan bersiap untuk pulang atau melanjutkan pelajaran tambahan dengan ekstra kurikuler. Khusus Naruto, ia meminta Tsubaki menemuinya di atap sekolah untuk membahas soal perizinannya secara diam-diam.

"Dia itu adik dari Mou Leviathan, Tsubaki."

"Dan?"

"Dan dia juga ketua osis di sini."

"Lalu?"

Naruto hanya menghela napas, gadis di depannya dengan sabar menunggu jawabannya. "Lalu bagaimana jika Sona tahu kalau aku menolong biarawati itu? Dia akan melaporkan ini ke Lady Leviathan, Tsubaki."

Tsubaki melunakkan air mukanya. "Naru, kau harus mengerti, meskipun kau tidak masuk ke fraksi manapun, tapi tindakanmu ini bisa memicu perdebatan besar. Lebih buruk lagi kalau sampai menjadi perang besar."

"Tentu aku tahu, Nona Tsubaki, maka dari itu kau jangan sampai memberitahu Sona soal ini, please, mau ya," ucap Naruto memelas.

"Beri aku alasan yang jelas dan kuat, Naru, sebab kau tahu jika aku melakukan itu sama saja aku melanggar aturan di osis."

"Katakan saja pada Sona kalau aku merusak beberapa peralatan sekolah, dan karena merasa bertanggungjawab, aku pergi untuk membeli gantinya."

"Alasanmu lemah sekali."

"Please, Nona Tsubaki, katakan apa saja asal jangan sampai Sona tahu."

Naruto masih mengatupkan kedua tangannya dan itu semakin dalam.

"..."

"..."

Tsubaki menghela napas panjang. "Baiklah, akan kubuat alasan yang kuat dari ucapanmu barusan, alasanmu sama sekali tidak masuk akal."

Naruto yang mendengarnya mengepalkan tinju kesenangan.

"Terima kasih, Tsubaki, kau memang yang terbaik! Aku tahu aku bisa mengandalkanmu! Jika saja Sona ada di sini dan mendengarnya, bisa jadi ia akan membuat para Maou mengetahuinya. Kalau itu sampai terjadi, itu akan sangat merepotka--ups!"

Uh-oh!

Naruto membekap mulutnya sendiri, sadar akan ucapannya yang secara gamblang menyebutkan kalau tindakan Tsubaki jika memberitahu Sona perihal 'perizinannya' itu hanya akan memperlambatnya alias beban kalau sampai terdengar ke dunia bawah.

"Merepotkan, ya?" ujar Tsubaki bernada dingin, "tiba-tiba aku ingin sekali menemui ketua." Tsubaki melangkah cepat menuju pintu atap sekolah.

Naruto kelabakan, ia dengan cepat menahan tangan Tsubaki yang sedikit lagi memegang gagang pintu. "Baiklah, baiklah, kau menang, kau menang, Tsubaki."

Tsubaki menaikkan sebelah alisnya sebagai respon, ia hanya diam tatkala Naruto menarik kembali ke tempatnya semula.

Naruto mengacak-acak rambutnya dengan sebelah tangannya, jelas terlihat ia begitu pusing dengan semua polemik yang semakin semrawut, ia menghela napas panjang sebelum berucap, "kau nanti malam ada di rumah?"

Tsubaki sedikit terkejut, namun entah kenapa mendengar ucapan Naruto membuat sudut bibirnya terangkat. "Entahlah, tapi bisa saja aku belum pulang tergantung selesai tugas osis nanti."

"Baiklah, itu lebih dari cukup. Bagaimana setelah semua ini selesai aku berkunjung ke rumahmu?" ujar Naruto, entah ia peduli atau tidak, ia lupa kalau ia masih memegang erat tangan Tsubaki.

"Mau apa kamu ke rumahku?" seru Tsubaki datar. Dalam hatinya ia kegirangan, merasa menang telak dari beberapa saingannya. Entahlah.

"Besok, 'kan, libur, bagaimana kalau aku menginap? Aku juga sudah jarang main ke rumahmu. Dan, oh ya, bilang juga ke orang tuamu kalau aku akan berkunjung nanti malam, bagaimana?"

"Kau bukan jarang lagi, Naru, kau sudah hampir 'tidak pernah'. Dan aku tidak suka menunggu terlalu lama, kau tahu itu."

"Iya, aku akan berusaha semaksimal mungkin menyelesaikan ini dengan cepat, Tsubaki, percayalah padaku," ucap Naruto, ia semakin mendekatkan diri ke lawan bicaranya.

Tsubaki hanya diam, ia memalingkan wajahnya ke samping, entah disadari Naruto atau tidak, semburat merah bertengger manis di pipi putih Tsubaki, diam-diam ia mencuri pandang ke arah Naruto.

"..."

"..."

"Baiklah."

"Ye--"

"Tapi, kau harus cepat!"

"Akan aku usahakan."

"Sebaiknya kau benar-benar harus berusaha untuk ini, Uzumaki-kun."

"Kau bisa pegang kata-kataku."

"Seharusnya kau yang pegang kata-katamu sendiri, Naru," kata Tsubaki mulai tersenyum lepas.

Naruto juga tersenyum. "Kau mau aku bawakan apa?"

"Tidak usah, tidak perlu, tapi tunggu...," Tsubaki menggantung ucapannya seraya menerawang jauh sambil menaruh telunjuk tangan kirinya yang bebas ke dagunya, entah apa yang ia pikirkan, tapi tingkahnya terlihat imut dan itu tertangkap oleh netra biru Naruto, "...aku suka jajanan di instagram."

"Baiklah, akan aku bawakan semua kesukaanmu, nanti kau chat saja lewat line apa-apa saja yang kamu mau, tanya juga ke ayah dan ibumu, mereka ingin makan apa dan bilang juga untuk menungguku walaupun nanti sedikit agak lebih malam."

Alus banget masa, batin Tsubaki kesenangan.

"Sebaiknya kau cepat, ayahku bukan tipe orang yang pemaaf," ujar Tsubaki lembut.

Naruto hanya terkekeh geli. "Baiklah, sepertinya aku harus cepat. Mau, ya, jangan beritahu ini pada siapapun?" tanya Naruto cemas.

"Iya, aku tidak akan memberitahu Sona."

Naruto hanya bisa menahan teriakan kesenangannya, tapi raut wajahnya tergambar sangat jelas dan itu tertangkap oleh netra Tsubaki yang membuatnya terkikik geli.

"Baiklah, aku harus pergi. Sampai ketemu nanti malam, Tsubaki," ujar Naruto menjauh, namun sebelumnya ia mendaratkan ciuman ke pipi Tsubaki.

Tsubaki masih shock di tempat, ia hanya bisa diam membisu saat melihat kepergian Naruto menuruni gedung sekolah dengan sekali loncat.

Tap!

Semilir angin menyadarkan dirinya, ia mengelus lembut pipinya yang dicium Naruto barusan. Entah kenapa ia ingin sekali berteriak dan melompat kegirangan, namun ia urungkan saat pintu atap terbuka dan memunculkan sosok ketuanya.

"Tsubaki, apa yang kau lakukan di sini?"

"Kaicho! Tidak aku tidak sedang melakukan apa-apa."

"Aku tadi mendengar suara Uzumaki-san, apa dia menemuimu?" ujar Sona seraya mendekati wakilnya, sorot matanya jelas memancarkan aura curiga yang kuat.

Tsubaki dalam diam memutar otaknya untuk membuat alasan yang kuat berbasis ucapan Naruto soal peralatan sekolah. "Ya, tadi ia menemuiku untuk meminta izin."

"Izin? Untuk?"

"Izin untuk absen minggu depan di pertemuan ekskul baseball dan rugbi."

"Apa maksudmu, Tsubaki?" seru Sona membenarkan letak kacamatanya.

"Dia absen karena harus mengganti rugi peralatan sekolah yang ia rusak, Kaicho."

Pada akhirnya alasan tidak masuk akal yang diusulkan Naruto ia pakai juga.

"Kenapa dia harus yang menggantinya? Dana dari sekolah sangat melimpah, belum lagi dari keluargaku yang notabenenya adalah salah satu donatur terbesar di Kuoh Academy."

"Karena ia merasa bertanggungjawab." Jawaban dari Tsubaki membuat Sona manggut-manggut tanda mengerti.

"Lagipula, wajar saja kalau ia merusak beberapa peralatan. Satu atau dua bola bisa saja ia hilangkan, mengingat fisiknya yang jauh di atas rata-rata, tidak jarang kita mendapat keluhan mengenai tongkat baseball yang patah. Terlebih dia juga leader dari dua ekskul itu, Kaicho, hal yang lumrah kalau ia merasa harus mengganti rugi dari kerusakan yang disebabkan oleh para anggotanya," ujar Tsubaki.

"Jadi, dia sudah pergi?"

"Ya, dia sudah pergi, Kaicho."

"Meninggalkan gedung ini? Dari atap sekolah?"

"Iya, Kaicho, baru saja."

"..."

"..."

"Baiklah, sebaiknya kau harus kembali, kita harus segera menyelesaikan pekerjaan malam ini."

Setelah Sona mengatakan itu, ia semakin dibuat heran. Biasanya Tsubaki baru akan melangkah setelah dirinya. Di matanya, Tsubaki terkesan agak menjauh dan menjaga jarak darinya.

Sona menggelengkan kepalanya, mencoba untuk tetap stay positif dengan semua statement yang berkeliaran di benaknya tentang wakilnya sendiri.

Sona menggerakkan kakinya menyusul Tsubaki, mereka menuju pintu bersiap meninggalkan atap sekolah, namun baru beberapa langkah, Sona menghentikan kakinya. Entah disadari oleh Tsubaki atau tidak, di ambang pintu Sona melihat wakilnya masih melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga.

Padahal dia tahu sendiri selain pintu ini, tidak ada lagi jalan menuju ke bawah, batin Sona menyipitkan matanya yang tertuju langsung pada Tsubaki.

.

.

.

...

Malam

Kini Naruto berada di atap gereja terbengkalai dekat kota, ia berdiri di ujung tepi bangunan, Naruto dapat melihat ketinggian yang lumayan curam dari jarak 75 kaki dari permukaan tanah.

Naruto menghela napas berat. "Tiap hari ada aja masalah baru," ucapnya sambil mengusap wajahnya yang gusar.

Naruto menenangkan diri dan pikirannya, ia memejamkan kedua matanya perlahan, angin sejuk membelai lembut tubuhnya di keheningan malam.

"In the mid-bleak winter."

Naruto membuka matanya cepat, dirinya sudah berubah ke wujudnya yang lain.

Fut!

Naruto tiba-tiba menghilang, meninggalkan kepulan asap hitam tebal yang pekat.

.

.

.

...

Di Dalam Gereja

Seorang pendeta berambut silver dengan sabar berdiri di depan mimbar menunggu seseorang atau beberapa yang akan mendobrak pintu dan masuk ke dalam gereja yang gelap lalu membuat kerusuhan, ia sudah menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk.

Ya, kemungkinan terburuk.

.

.

.

Sampai...

Grep!

Pendeta yang diketahui bernama Freed Zelzan itu terkejut bukan main saat sepasang tangan membekap mulut dan lehernya. Freed sebisa mungkin meronta, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan busuk yang mengurungnya.

Entah karena tenaganya yang kuat atau cengkraman itu melemah, Freed berhasil lepas dari terkaman seseorang di belakangnya.

Freed melompat menjauh, ia memutar tubuhnya menghadap orang yang dengan curang menyerangnya. Namun, saat hendak melayangkan protes, ia merasakan rasa perih di mulut dan lehernya.

Freed buru-buru mengeluarkan pedang yang bilahnya ia alihkan fungsi sebagai cermin untuk melihat wajahnya.

"Ha--h! Wajahku! Ha--h! Leherku! Ha--h! Wajahku! Leherku!" teriak Freed terkejut mendapati mulut dan lehernya membusuk lalu meleleh seperti lilin.

Tap!

Sosok yang membuat Freed menjerit keras akhirnya keluar dari bayangan dan memperlihatkan Naruto masih dalam keadaan mode iblisnya tengah menutup kedua telinganya.

"Ha--h! Wajahku! Leherku!"

"Bacot!" tandas Naruto sambil melepas dekapan pada telinganya yang membuat Freed terdiam.

"..."

"..."

"APA YANG KAU LAKUKAN PADA WAJAHKU, IBLIS?!" pekik Freed mengangkat pedangnya menunjuk ke arah Naruto yang membuat sang empunya nama kembali menutup telinganya.

Naruto mencoba melepas tangan dari telinganya, dirasa tidak ada teriakan, Naruto mengembalikan tangannya ke posisi semula. "Nih orang udah tau mukanya rusak pake nanya," ujarnya sambil memasang kuda-kuda bertarung.

"Anjing!"

Freed sudah dilahap emosi ditambah rasa perih di sekitaran wajahnya kian terasa, ia melihat sosok iblis di depannya dengan hasrat membunuh yang kuat, Freed juga merasa jijik menyaksikan cairan hitam terus menetes dari mulut lawannya.

Wus!

Freed dengan kecepatannya maju, pedangnya sudah ia siapkan untuk menebas Naruto di depannya, namun saat sosok itu dengan mudahnya menghindar, Freed tidak sempat mengelak tatkala Naruto dengan cepat mencengkeram tangan kanannya yang tengah memegang pedang.

Freed melepas pedangnya yang langsung ditangkap oleh tangan kirinya, ia mengayunkan benda tajam itu agar Naruto menghindar dan melepaskan tangan kanannya.

Tap!

Usahanya berhasil, Naruto mundur beberapa langkah ke belakang. Freed menjatuhkan pedangnya, ia buru-buru menggulung terusan jas yang menutupi area tangan.

"Ha--h! Tanganku!" jerit Freed histeris melihat tangan kanannya juga membusuk lalu meleleh dengan sangat cepat sampai memperlihatkan otot dalam dan tulangnya.

"Wajahku! Leherku! Tanganku! Ha--h!"

Kembali Naruto menutup telinganya mendengar teriakan jantan Freed mengisi seluruh ruangan, gema suaranya seolah saling bersahutan seisi gereja.

Mengetahui posisinya sudah tidak menguntungkan baginya, Freed mengambil sesuatu dari dalam jas dan membantingnya ke lantai.

Wus!

Naruto sedikit memejamkan matanya karena terpaan cahaya yang menyinari seluruh ruangan gereja secara tiba-tiba.

Setelah cahaya menghilang, Naruto mendapati Freed sudah menghilang dari tempatnya berdiri.

Brak!

Naruto jatuh berlutut, wujudnya sudah kembali normal, ia melihat tangan kanannya bergetar hebat. Keringat dingin mulai mengucur dari wajahnya. Naruto mencoba menguatkan diri dengan mengepalkan tangannya, ia berdiri lagi tidak lupa mengelap keringat di wajah manisnya menggunakan jas sekolah yang ia lepas.

"Belakangan ini buruanku semakin sedikit, aku harus mengambil porsi ekstra jam malam untuk memenuhi rasa laparku. Iblis-iblis sekarang sudah jarang memangsa manusia," ujar Naruto sesak sambil memegang dadanya.

Naruto memejamkan mata, menenangkan diri dan pikirannya seraya menormalkan deru napasnya yang terasa sangat berat.

"Oh Beelzebub, give me a strength."

Tap!

"Naruto-senpai!" pekik seseorang dari arah pintu gereja.

Naruto membuka matanya dan mendapati Issei, Kiba dan Koneko sudah berada di hadapannya.

"Kau juga ikut membantu ya, Senpai?!" ujar Issei kegirangan.

Entah kenapa berkat kehadiran mereka bertiga membuat wajah Naruto menjadi sedikit agak datar. "Sialan," umpatnya.

Issei, Kiba dan Koneko hanya memiringkan kepalanya tanda bingung mendengar senior mereka mengumpat, tapi mereka sadaran umpatan itu bukan tertuju pada mereka bertiga.

Naruto merasa seperti keledai yang mudah untuk dibodohi. Ia mati-matian meminta izin kepada Tsubaki agar rencananya tidak diketahui oleh perwakilan dua Mou Meikai di sekolahnya. Namun takdir bermain dengan cara yang sangat licik, Naruto tidak memperhitungkan kalau Rias dan kelompoknya juga ikut andil untuk menyelamatkan biarawati yang tengah sekarat karena ritual sesat salah satu malaikat terbuang.

"Fu-- you, destiny!"

.

.

.

...

Sebelumnya...

Waktu Siang. Istirahat Sekolah.

Naruto duduk termenung di kursi halaman belakang sekolah, letaknya cukup jauh bahkan di luar wilayah Gedung Penelitian Ilmu Gaib.

Pohon rindang di sebelahnya menjadi penyejuk dengan daunnya yang lebat menghalau sinar matahari di siang hari.

Tap! Tap!

Hap!

Seorang pria duduk di sebelahnya, pakaiannya menggunakan yukata merah marun ditambah sandal geta sebagai alas kakinya, bahkan yang lebih nyentrik adalah rambutnya setengah pirang di ujung dan itu melengkapi tampilannya yang acak-acakan.

Orang itu hanya diam sambil mengambil sesuatu dari dalam kantung lengan yukatanya lalu memberikan selembar foto kepada Naruto.

"Malam ini, di geraja dekat kota," serunya.

Naruto hanya menerima lambaran foto yang diberikan orang di sebelahnya. "Aku perlu nama dan alasan."

"Asia Argento, seorang imigran dari Eropa timur. Alasan: nyawanya terancam oleh salah satu anak buahku yang membangkang."

Naruto diam, namun ia mengantongi foto itu ke dalam jas seragamnya. "Berapa nilai kontraknya?"

"Satu juta yen."

"Apa kontraknya terbuka?"

"Tidak, eksklusif hanya untukmu."

"Wanted?"

"Dead or Alive. Namun kau harus membawa bukti."

"Kapan kontrak itu akan dimulai?"

"Petang nanti, sebaiknya kau cepat."

"Sepakat."

"Sepakat."

Naruto dan orang itu bersalaman, tapi sebelum melakukannya mereka meludahi dulu telapak tangan masing-masing.

Hup!

Setelahnya mereka melepaskan tautan tangan mereka, diam-diam Naruto dan orang di sebelahnya membersihkan telapak tangan mereka sendiri.

"..."

"..."

Hening.

Baik Naruto dan orang itu sama-sama diam dalam kebisuan. Hanya semilir angin yang berembus menemani mereka dalam kesunyian.

"Aku bertanya-tanya, Azazel."

"Apa itu?"

"Kenapa tidak kau sendiri yang melakukannya?"

Seseorang yang diketahui bernama Azazel duduk di sebelahnya hanya tersenyum tipis. "Tidak bisa, Naruto, selalu ada aturan di mana aku tidak bisa mengotori tanganku sendiri atas masalah yang ditimbulkan oleh para bawahanku. Itu sudah mutlak sebagai seorang pemimpin."

Naruto belum mau menjawab, ia mendongakkan kepalanya ke atas melihat awan yang bergerak lambat sebelum berucap, "ya, peraturan".

"Peraturan," timpal Azazel.

Naruto berdiri, ia bersiap meninggalkan tempat itu sebelum ucapan Azazel menghentikan langkahnya. "Anggap saja ini sebagai bantuanku untukmu, Naruto."

Naruto membalikkan tubuhnya. "Kau tidak ingin aku menerima bantuanmu, Azazel."

Azazel hanya tersenyum.

"Naruto."

"Azazel."

Naruto berlalu dari tempat pertemuan itu menuju halaman belakang sekolah. Sepanjang perjalanan, Naruto mengeluarkan ponsel pintarnya lalu mengetikan sebuah pesan singkat yang tertuju pada seseorang yang langsung membalasnya.

Ding!

Setelah melihat balasan pesannya, Naruto kembali mengantongi ponselnya lalu menuju kelas.

.

.

.

Atap Sekolah. Waktu Pulang.

Naruto sudah tiba di lokasi yang dimaksud dengan menyandarkan tubuhnya pada pagar beton.

Tak lama kemudian, pintu atap sekolah terbuka dan mengeluarkan Tsubaki Shinra yang berjalan mendekat ke arahnya.

Setelah sampai, Tsubaki belum berucap, ia hanya menyilangkan tangannya dengan wajah datar dan sorot matanya yang tajam.

Melihat orang yang dimaksud sudah masuk ke dalam mode 'minta penjelasan', Naruto langsung mengatupkan kedua tangannya.

"Tsubaki, please, jangan beritahu Sona."

.

.

.

...

Ruangan Bawah Tanah Gereja.

Kini Naruto dan tiga tambahan temannya disuguhkan dengan pandangan horor yang tersaji langsung di hadapan mata mereka.

Mereka melihat di atas singgasana kecil tempat selesainya ritual pengorbanan yang dilakukan secara paksa sepihak.

"ASIA!" pekik Issei memanggil nama orang yang dimaksud mati dalam keadaan disalib.

Naruto tidak mengindahkan teriakan Issei, namun pandangannya jelas memperlihatkan kekosongan yang sangat nyata setelah menyaksikan peristiwa langsung terhadap gadis malang yang sudah meregang nyawa di sana. Tanpa sadar, Naruto melangkah gontai menuju ke tempat ritual itu terlaksana.

"Naruto-senpai, itu berbahaya!"

"Naruto-senpai!"

"Senpai!"

Issei, Kiba dan Koneko kewalahan menghadapi serbuan pasukan malaikat sesat yang sudah dilengkapi dengan senjata suci alias senjata biasa yang sudah disiram oleh air suci dari gereja yang membuat mereka sangat kerepotan.

Naruto seperti tuli, tidak mempedulikan panggilan khawatir dari para juniornya. Bahkan beberapa dari orang-orang yang memakai tudung kepala itu dengan brutal menghujani tubuhnya dengan tusukan dan sayatan, namun Naruto layaknya mati rasa masih terus melanjutkan langkahnya mendekati singgasana kecil itu.

Kejar iblis itu!

Iblis itu harus merasakan murka Tuhan!

Hukuman apa yang pantas diberikan kepada ibu yang telah melahirkan seorang anak iblis?

Kau harus bersyukur karena aku sudah meringankan beban dosa besarmu dengan membakar ibumu yang seorang penyihir itu.

Dan apa hukuman yang diberikan kepada anak iblis yang telah dilahirkan dari rahim seorang penyihir?

Benar, dibakar dan dijatuhkan ke dalam jahanam!

Keluargamu lebih hina dari hewan ternak, iblis keparat!

Keluarga sampah!

Keturunan darah kotor!

Kilas balik memori beratus-ratus tahun yang lalu kini mulai menyeruak kembali layaknya gelembung yang ingin muncul ke permukaan laut dengan membawa semua keputusasaan yang begitu rapuh di dalam tubuh Naruto.

Tap!

Naruto jatuh berlutut tepat di hadapan anak tangga, tubuhnya sudah dipenuhi dengan belati tajam dan bilah pedang yang menancap serta sayatan yang membuat seragam putihnya berubah menjadi merah karena darahnya sendiri.

Tuhan, sekali lagi orang baik telah mati atas namaMu, batin Naruto bermonolog seraya memejamkan matanya.

Melihat mangsa empuk di depan mata, pasukan malaikat sesat itu berbondong-bondong mendekati Naruto dengan senjata di masing-masing tangan mereka.

"Oh Beelzebub, lord of the dark, one of seven prince of hell, lord of the flies, king of all living dead, represented by one of seven deadly sins gluttony, here I lay my life for you as your humble servent as I take your will, your power to be they're judge, they're jury and justice."

Aura pekat hitam semakin membumbung tinggi tatkala Naruto mengucapkan mantra terlarang itu secara sadar. Bebatuan di sekitaran Naruto mulai meleleh karena tidak kuat menahan panas yang dikeluarkan oleh aura hitam tersebut.

Wus!

Brak!

Pancaran aura hitam menghempaskan mereka dalam satu sapuan bersih. Bahkan Issei dan dua temannya juga ikut kena hempasan dari gelombang kejut yang dilepaskan oleh Naruto.

Naruto mulai berdiri, belati dan pedang yang semula menancap di tubuhnya kini berjatuhan dengan sendirinya.

"Di dalam musim dingin yang suram," bisik Naruto.

Wus!

Doom!

Zrash!

Semuanya terkejut, terlebih Raynare, seorang malaikat sesat yang melaksanakan ritual pencabutan artefak suci secara paksa alias mencurinya.

Kejadiannya sangat cepat, bahkan tidak bisa ditangkap oleh mata telanjang. Kini Naruto sudah berada di depan Raynare dengan tangan kanannya menusuk tubuhnya hingga tembus ke belakang.

Raynare tidak bisa melihat dengan jelas, tapi bisa dipastikan rasa sakit yang bercampur dengan linu di dadanya disebabkan oleh sesuatu yang keras dan licin.

Zrash!

Naruto mencabut tangannya, terlihat gauntlet hitam pekat bermandikan darah dengan cakar tajam pada jarinya menghiasi lengannya. Nampak beberapa bulu sayapnya tercabut dan berada di dalam genggaman gauntlet hitam itu.

Raynare jatuh berlutut, darah segar mengucur deras keluar dari luka lubang di dadanya, entah kenapa artefak yang ia pakai tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Tap!

Mendengar langkah kaki mendekat, Raynare sebisa mungkin menjauh, ia mengepakkan sayapnya meninggalkan ruang bawah tanah gereja itu dengan kucuran darah yang menghiasi lantai.

Ssh!

Setelah kepergian Raynare sang malaikat sesat, gauntlet hitam yang semula menghiasi tangan kanannya kini menghilang ditelan ketiadaan, Naruto dengan langkah gontai mendekati jasad Asia. Dengan perlahan penuh perhatian, Naruto melepas satu persatu belenggu yang menahan tangan dan kakinya, terakhir Naruto melepas kekang yang mengurung lehernya.

Luka yang sempat diderita Naruto entah kenapa hilang dengan sendirinya, menyisakan tangan kanannya penuh dengan darah dari malaikat terbuang yang ia tikam dengan tangannya sendiri.

Naruto dengan telaten menurunkan jasad Asia, membawanya ke dalam pelukannya. Naruto sebisa mungkin menahan tangisnya, namun wajahnya yang memerah dan mata berkaca-kacanya sudah cukup menjadi bukti kalau ia pun tersiksa dengan peristiwa naas ini. Dengan penuh perhatian, Naruto mengelus rambut pirang Asia dan pecahlah air mata yang selama ini ia tahan.

"Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku." Naruto terus mengucapkan kata maaf di sela-sela ia menciumi kening jasad Asia.

Tap!

Issei, Kiba dan Koneko baru tiba setelah selesai membantai habis pasukan Raynare di bawah.

Disuguhkan dengan pandangan yang menyayat hati, Issei menggigit bibir bawahnya dan langsung membawa dirinya ke pojok ruangan. "Ha--h!" teriaknya sambil memukul tembok.

Koneko sudah berjongkok sambil meringkuk dalam tangisnya. Kiba hanya diam menahan diri agar dirinya tidak lepas kendali, ia mencoba menenangkan Koneko. Dalam kebisuannya, Kiba tidak bisa membendung air matanya tanda ia sangat menyesal karena dirinya sudah gagal menyelamatkan nyawa dari seorang hamba Tuhan yang taat.

.

.

.

...

Di Sisi Lain...

Raynare yang sudah sangat lemah berjalan gontai sambil memegang pada luka fatal di lubang dadanya. Ia masih bingung kenapa artefak bertipe penyembuhan tidak bisa ia gunakan alias sama sekali tidak berfungsi, padahal sebelumnya ia bisa mengaktifkannya.

Bruk!

Akibat kekurangan darah, Raynare jatuh bersimpuh. Ia merasa sangat lemah. "Beginikah kematian?" ucapnya sambil tersenyum miris.

Ia terus mencoba merangkak menjauh sejauh mungkin pergi dari tempat ini.

Tap!

Ketika ia melihat dua pasang kaki tiba di depannya, saat itulah ia sudah tidak lagi memikirkan perlawanan apa yang bisa ia berikan. Raynare mendongakkan kepalanya melihat Rias dan Akeno sudah berdiri memandangnya iba.

Raynare hanya tersenyum. "Begitulah hidup, benar, 'kan, Naruto-kun?" ucapnya.

Rias dan Akeno melihat tubuh Raynare melebur menjadi serpihan debu yang dibawa angin lalu menyisakan sepasang cincin artefak milik Asia yang dicabut paksa melayang di dalam sebuah kubah hijau.

Rias beradu tatap dengan Akeno dan keduanya pun mengangguk.

.

.

.

...

Kembali ke Naruto

Saat masih dalam keadaan duka, sebuah lingkaran sihir muncul dan mengeluarkan Rias serta Akeno di dalamnya.

Melihat kondisi sudah sangat kacau, Rias mengambil langkah inisiatif. "Aku masih bisa menyelamatkannya, Naruto-kun," serunya yang dihadiahi tatapan 'minta penjelasan' dari Issei dan Naruto.

Issei sudah bergabung dengan Kiba dan Koneko, sedangkan Naruto masih setia memeluk jasad Asia.

"Namun tentu ada harga yang harus dibayar."

"Tapi dengan begitu, dia akan kehilangan haknya atas surga, Rias," ucap Naruto serak.

"Hanya itu satu-satunya cara untuk menyelamatkannya..." Rias mendekati Naruto dan berjongkok di hadapannya. "...jika kau masih ingin melihatnya tertawa dan menikmati indahnya hidup, maka inilah kesempatan kedua untuknya. Kamu paling mengerti hal ini, Naruto-kun."

Jika aku mengambil kesempatan itu, apa yang akan kau ambil dariku?

Aku akan mengambil hakmu atas surga.

Aku sudah hidup di lingkungan di mana orang berpakaian suci, namun berhati iblis. Aku sudah merasakan hidup di neraka dan bagiku itu adalah hal yang biasa.

Kau sama sekali belum mengetahui apa kehidupan di neraka, Naruto.

Naruto menggigit bibir bawahnya mengingat ucapannya pada Beelzebub. Ia merasa miris saat ironis memainkan perannya dengan sangat baik. Ia mengingat kembali pertarungannya melawan Freed, seorang pendeta, sosok wakil Tuhan yang dipercaya oleh masyarakat luas khususnya umat beragama, namun seperti belati bermata dua, hal itu tidak sebanding lurus dengan kenyataan bahwa sesucinya seseorang tidak akan bisa menyembunyikan kebusukan dalam hatinya. Dan pada saat itu terjadi, maka seseorang harus mengenal hal buruk baru hal baik datang setelahnya.

Dan mungkin kehidupan neraka yang kau sebutkan tadi akan berubah menjadi sesuatu yang ingin kau lindungi, Naruto.

Naruto akhirnya mengerti, ia menaruh jasad Asia supaya Rias bisa melakukan ritual pembangkitan.

Naruto berdiri, Akeno mendekatinya dan mengalungkan tangannya ke tubuh Naruto, mencoba menguatkan mental lelakinya. Naruto membalas pelukan hangat Akeno sambil mengelus-elus rambut dan pundaknya.

Saat ini juga, kau, Uzumaki Naruto mewarisi darah, kekuatan, kebijaksanaan serta pengetahuanku sebagai Putra Mahkota Beelzebub.

Naruto masih mengingat ikrar sumpah abadi yang mengikatnya hingga seluruh alam semesta menemui ajalnya.

.

.

.

...

Shinra Residence

Malam 10.45 Waktu Setempat

Naruto sudah tiba di depan rumah minimalis modern sederhana. Sudah berkali-kali Naruto memencet bel rumah, namun sang empu belum juga menampakkan batang hidungnya.

Clek!

Barulah setelah 5 menit berselang, seorang gadis cantik dengan dress tidur membukakan pintu rumahnya. Nampak jelas rambutnya yang sedikit berantakan tanda ia sudah terlelap dalam mimpi.

Melihat orang yang sudah membuat janji padanya berdiri di depan pagar rumahnya sambil tersenyum menenteng sebuah kantung plastik berisi jajanan yang diminta, hal itu membuat Tsubaki merasa kesal, namun saat ia melihat noda darah di seragam sekolah yang tertutup jas hitamnya, rasa kesalnya langsung sirna. Ia buru-buru mendekati Naruto dan membukakan gerbang rumahnya. Tanpa ba-bi-bu lagi, Tsubaki membawa Naruto ke dalam pelukannya.

Dapat Tsubaki rasakan getaran jiwa pada tubuh Naruto yang kelelahan secara mental dalam pelukannya, ia hanya mengelus rambut dan punggung Naruto dengan sentuhan lembutnya.

"Tsubaki, apa yang kau--oh," ujar seseorang dari belakang yang tidak lain adalah ayah Tsubaki, seorang pria dewasa dengan kumis serta rambut hitamnya yang senantiasa disisir rapi ke belakang.

Melihat siapa pria yang dipeluk oleh putrinya, sang ayah hanya menghela napas panjang. "Kau, sebaiknya kau masuk, udara malam sangat tidak baik untuk tubuh," ucapnya.

Naruto melepaskan pelukannya pelan. "Permisi, Tuan Shinra," seru Naruto setelah mengelap sedikit air matanya lalu membungkukkan badannya tanda hormat.

"Ya, masuklah, dan jangan panggil aku dengan panggilan itu, aku membencinya, kau panggil seperti biasanya saja, Naruto."

Naruto hanya tersenyum kecil. "Baik, Ayah."

"Ya sudah, baiklah. Tsubaki, sebaiknya kau antar dia ke kamarmu."

"Apa? Kenapa harus kamarku, Ayah?!" tandas Tsubaki, namun jika diperhatikan lebih seksama, semburat merah muncul di pipi putihnya.

"Kamar yang biasa Naruto pakai sedang direnovasi dan Ayah sama sekali tidak menoleri kalau dia tidur di sofa ataupun di ruang tamu seperti adegan di film, novel ataupun fanfiction yang sering kau baca itu, Tsubaki."

"Ayah!" Entah kenapa semburat merah itu terkesan sebagai rasa malu.

"Sudah-sudah, sebaiknya kalian masuk, sebentar lagi sepertinya mau hujan," ujar ayah Tsubaki mendahului mereka yang masih bergeming di tempat.

"Ayah masih belum berubah ya, Tsuba--eh?" Naruto terkejut saat kantung plastik berisi jajanannya sudah pindah tangan.

Tsubaki mengeceknya satu persatu memastikan tidak ada yang terlewat.

Tersenyum, Tsubaki mengulas senyum manis, ia meraih tangan Naruto menariknya memasuki halaman, tidak lupa ia mengunci kembali pagar rumahnya.

.

.

.

...

Di Dalam...

Kamar Tsubaki

Naruto dengan sabar menunggu saat Tsubaki mencarikan baju ganti untuk ia kenakan.

"Dapat!" Tsubaki berdiri dan memutar tubuhnya menghadap Naruto seraya menyerahkan setelan baju piyama berwarna gelap. "Pakailah, dan buang seragam sekolahnya, itu sudah tidak layak pakai, besok kita akan ke sekolah untuk meminta seragam baru untukmu. Bagus hanya seragamnya saja," ujarnya.

"Baik, Nona Tsubaki," seru Naruto lelah seraya berlalu dari kamar Tsubaki menuju kamar mandi.

Tsubaki yang melihatnya hanya tersenyum, ia membawa dirinya ke atas kasur untuk membuka semua jajanan yang Naruto belikan untuknya.

.

.

.

Waktu berlalu dan kini Naruto sudah rapi setelah selesai mandi malam membersihkan dirinya dari noda darah di tubuhnya.

Saat ini Naruto sudah berada di kasur yang sama dengan Tsubaki, bahkan perempuan berkacamata itu dengan sadar menyandarkan kepalanya ke dada bidang Naruto. Dan Naruto secara refleks mengelus lembut rambut wangi Tsubaki yang membuat sang empunya rambut semakin terbuai dalam kenyamanan.

"..."

"..."

"Jadi, bagaimana, Naru?" seru Tsubaki memecah keheningan.

Naruto belum akan menjawab, ia menyamankan posisinya sebelum akhirnya ia menceritakan semuanya yang telah terjadi.

"Dari semua kegagalan itu, entah kenapa aku sangat menyesali dengan apa yang tidak bisa kulakukan. Aku merasa begitu lemah," ujar Naruto, tangannya masih terus mengelus rambut panjang Tsubaki.

Tsubaki yang mendengarnya hanya diam sambil melepas kacamatanya dan ia taruh di samping nakas tempat tidur. "Kegagalan itu adalah hal yang wajar, aku tidak akan menceramahimu soal itu karena kamu sendiripun sudah banyak pengalaman di bidang itu."

"Aku gak tau kamu ini lagi muji atau nyindir aku."

"Kalau keduanya gimana?"

"Aish, bisa aja ya kamu. Kalau aku gak capek banget, kamu udah aku terkam tau," ujar Naruto mencubit lembut hidung Tsubaki. Sedangkan yang punya hidung hanya terkekeh geli.

"Jangan dong, kan aku masih perawan. Kamu, kan, udah janji jagain kehormatan aku, Naru," seru Tsubaki masih terkekeh geli.

"Iya, Tsubaki, iya."

Tawa Tsubaki pecah, gelak tawanya terdengar sangat manis. "Tapi itu benar, kamu gak akan seperti sekarang ini kalau bukan dari kegagalan itu. Gagal dalam mencoba adalah hal yang baik, Naru, tapi yang lebih buruk lagi kalau kita takut gagal. Kita tidak akan pernah bisa belajar untuk terus berkembang," ucap Tsubaki semakin menyamankan dirinya di pelukan hangat Naruto.

Naruto hanya diam seraya melihat Tsubaki beberapa saat kemudian ia mengalihkan perhatian memandang langit kamar Tsubaki. Dalam hatinya ia mengiyakan apa yang dibilang Tsubaki.

"Ya sudah, sekarang kita tidur aja. Besok kita agak siangan ke sekolah buat ambil seragam untuk kamu pake besok senin. Met malem, Naru," ujar Tsubaki mematikan lampu tidur di nakas sebelahnya.

"Met malem, Tsubaki," sahut Naruto juga mematikan lampu tidur di nakas sebelahnya, ia menarik selimut untuk ia pakai membungkus tubuhnya dan Tsubaki dari terpaan suhu malam yang dingin lalu menyusul Tsubaki ke alam mimpi.

.

.

.

...

Sekolah...

Waktu Siang

Saat ini Naruto dan Tsubaki sedang menikmati saat-saat berdua selagi menuju ruang osis, genggaman tangan mereka seakan tidak mau lepas barang sedetik pun.

Tap!

Tiba mereka di ruangan yang dituju, saat Tsubaki membuka pintu, mereka sudah dihadapkan dengan beberapa pasang mata yang tertuju pada Naruto.

Tsubaki terkejut, di dalam ruangan itu sudah diisi Sona dengan semua anggota osis, Rias beserta kelompoknya dan yang paling mengejutkan kedatangan Lady Leviathan, Serafall, alias kakak kandung Sona yang notabenenya adalah salah satu Mou Meikai.

Naruto hanya memandang datar mereka semua, ia sudah menduga hal ini.

"Motherfu--!"

.

.

.

Bersambung

.

.

.

A/N:

Lanjut?

Tertanda, minurighazali