Wajah datar Tobirama yang dilingkupi oleh kesombongan terus muncul dipikirannya.
Ia sudah berusaha mengalihkan pikirannya agar tidak memikirkan sosok yang menjengkelkan itu, namun wajah pria itu terus berputar dikepalanya.
Ino menarik nafas perlahan lalu kembali fokus pada pekerjaannya yang sedang merapikan kamar.
Grrekk
Suara pintu utama rumah terbuka, Ino menghentikan aktivitasnya dan menunggu sosok siapa yang akan muncul.
"Ino?" panggil sebuah suara.
Ino menegakkan tubuhnya ketika mendengar suara barusan.
"Ino?"
Suara berat tersebut kembali memanggil namanya, hingga pemilik suara tersebut memasuki kamar.
Sesaat pandangan Ino dengan pria tersebut bertemu.
"Hai, Hashirama-sama." sahut Ino.
Hashirama pun melangkah masuk kedalam kamar, Ino menatap Hashirama yang berjalan mendekatinya.
"Aku ingin mengunjungi makam orang tua dan adik-adikku, apa kau mau ikut?"
Tanpa pikir panjang Ino mengangguk menyetujuinya.
"Hai Hashirama-sama."
Hashirama tersenyum simpul.
"Baiklah, kalau begitu berkemaslah bawa beberapa keperluan kita. Kita akan sekalian menginap didesa bekas klan Senju." ujar Hashirama.
Ino pun mengangguk. "Hai."
"Aku akan bersiap-siap lalu setelah itu kita akan pergi bersama dengan yang lain." ujar Hashirama.
Seakan baru ingat Ino pun membulatkan matanya, ia lupa bahwa kemungkinan pria itu akan ikut serta juga.
Astaga.
o
o
o
o
Wajah murung Ino tampaknya berhasil menarik perhatian Hashirama, sejak perjalanan menuju tempat ini Ino tidak banyak berbicara.
Hingga sampai pada pemakaman klan Senju, Ino tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
"Daijoubu Ka, Ino?" tanya Hashirama perhatian.
Ino menoleh, "Daijoubu Desu, Hashirama-sama."
"Apa kau lelah?" tanya Hashirama lagi.
Ino menggeleng, "Tidak."
Hashirama tertawa, "Katakan saja jika kau lelah, aku tidak mau apabila kau sampai jatuh sakit."
"Aku baik-baik saja, Hashirama-sama." jawab Ino.
"Sou Ka, sebaiknya kita berisitirahat saja. Aku akan menunjukkan mu tempat tinggal klan Senju sebelum pindah ke Konoha."
"Hai." jawab Ino singkat.
"Ayo." ajak Hashirama, Ino pun mengikuti langkah Hashirama.
"Kemungkinan Tobirama dan yang lain akan sampai setelah matahari terbenam."
Raut wajah Ino terlihat semakin kusut, perasaannya mendadak gelisah saat mendengar nama tersebut. Ia jadi tidak bersemangat ketika mengetahui Tobirama juga ikut serta.
Tanpa diduga Hashirama menggenggam tangannya, lalu membawanya pergi dari tempat tersebut. Mereka berdua melesat pergi seiring dengan lajunya hembusan angin.
o
o
o
o
Tatanan bangunan bekas permukiman Senju terlihat mulai kusam, kondisi dinding pada beberapa bangunan rumah terlihat lembap dan mulai lapuk.
Sehingga suasana seram terasa melingkupi lingkungan tersebut, Ino membayangkan bagaimana kondisi disini saat malam tiba.
Pasti akan terasa sangat mencekam, minim cahaya atau bahkan gelap gulita. Tanpa ada penerangan sedikitpun selain pantulan cahaya bulan.
Ino berlari mendekati Hashirama dan berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Hashirama.
"Doushita No, Ino?" tanya Hashirama.
Ino melipat kedua tangannya didepan dada.
"Disini sangat sepi, aku takut." ujarnya, Hashirama tertawa.
"Tidak apa-apa, disini sangat aman." Hashirama menepuk bahunya.
"Ayo kita mandi, setelah itu kita beristirahat disini."
Kedua pipi Ino seketika bersemu, kalimat Hashirama barusan seolah terdengar mengajaknya untuk mandi berdua.
"Hai." sahut Ino canggung.
Ino dan Hashirama pun berjalan menuju sebuah rumah yang terlihat lebih besar.
Bentuk dan model bangunan tersebut terlihat lebih istimewa dibandingkan dengan bangunan yang lain, meski terlihat mulai lusuh rumah tersebut tampaknya masih layak untuk ditempati.
"Ini rumahku, tempat ini sudah dihuni oleh beberapa keturunan dari keluargaku."
Hashirama berjalan mendahului Ino dan membuka pintu rumah tersebut.
"Sou Desu Ka." sahut Ino.
Ino pun melepas alas kakinya lalu masuk kedalam rumah, pandangan matanya mengedar keseluruh penjuru ruangan.
Beberapa peninggalan berupa senjata dan beberapa barang seperti buku dan sejenisnya terlihat masih tersusun rapi disatu tempat.
Hashirama membuka sebuah lemari dan mengambil selembar kain berbahan katun.
"Aku akan mandi dibelakang, kau tunggulah-"
Belum sempat Hashirama menyelesaikan kalimatnya, Ino sudah terlebih dulu memotong kalimat Hashirama.
"Aku akan menunggu didekat kamar mandi, Hashirama-sama."
"Ah boleh saja, bagaimana kalau kau mandi juga setelah aku selesai?" tanya Hashirama.
Tanpa banyak bicara Ino pun mengangguk setuju.
"Baiklah."
o
o
o
o
"Aku akan duluan pulang besok pagi, Anii-chan." ujar Tobirama.
"Aku mungkin akan pulang sore dengan istriku." sahut Hashirama.
Kini Hashirama beserta Tobirama dan beberapa orang klan Senju yang ikut serta dengan Tobirama sedang duduk diruang tengah.
"Apa tempat ini akan dibiarkan terbengkalai Hashirama-sama?" tanya seorang ninja.
"Aku akan berusaha menyisihkan waktuku untuk mengunjungi tempat ini." jawab Hashirama.
"Jangan terlalu sering meninggalkan desa Hashirama-sama, terus terang aku tidak mempercayai klan Uchiha." ujar seorang Senju yang lain.
Hashirama melayangkan tatapan tidak suka.
"Apa kalian bisa menghilangkan pikiran buruk terhadap klan Uchiha? Jangan coba-coba merusak hubungan yang telah damai."
Seseorang yang dipelototi Hashirama tersebut menunduk.
"Jika Senju banyak merasakan kehilangan atas perang masa lalu, maka Uchiha pun sama."
"Untuk apa kita berdamai dengan Uchiha dan membangun aliansi dengan mereka jika masih ada dendam dihati kita semua."
Hashirama menatap satu persatu ninja yang ada disana.
"Aliansi ini tidak akan berguna jika kita semua masih saling menyimpan rasa curiga."
Keadaan seketika menjadi hening, Hashirama menghela nafas kesal.
"Namun kita harus tetap waspada Anii-chan, kita tidak tahu apa yang sedang mereka pikirkan. Jangan samakan kepribadian Uchiha dengan hatimu yang seperti malaikat."
Kalimat protes yang dilayangkan Tobirama sukses membuat Hashirama semakin kesal.
"Bukankah kita telah menyepakati semua peraturan yang telah dibuat, sadarlah pikiran buruk itu hanya akan merusak aliansi ini."
Hashirama berujar dengan nada penuh kekesalan, ia heran bahkan sampai saat ini dirinya dan Tobirama masih memiliki perbedaan gagasan.
Ideologi Tobirama benar-benar berbeda haluan dengannya.
"Anii-chan." interupsi Tobirama.
Hashirama menoleh tanpa menyahut.
"Pola pikirku tidak akan merusak sistem aliansi, setiap individu memiliki hak untuk mewaspadai orang-orang yang pernah menjadi musuh dimasa lalu."
"Baik." sahut Hashirama.
"Tetapi aku tidak akan tinggal diam jika kalian bertindak provokatif pada Uchiha."
Hashirama lalu beranjak dari tempatnya, meninggalkan Tobirama beserta ninja yang lain.
o
o
o
o
Srett
Pintu kamar terbuka dan menampakkan sosok Hashirama yang berjalan masuk kedalam kamar.
Ino mengerjapkan matanya lalu mengubah posisinya jadi telentang.
"Suman, aku membangunkanmu." ujar Hashirama.
"Ah tidak, aku baru saja terbangun." sahut Ino.
Hashirama berbaring disampingnya lalu menatapnya.
"Tidurlah kembali, aku juga mengantuk." ujar Hashirama.
Ino mengangguk, "Hai."
Ino kembali memejamkan matanya, ia berusaha meraih kembali alam mimpi agar ketegangan yang sedang ia rasakan segera menghilang, namun sebuah sentuhan berhasil menarik kesadarannya secara menyeluruh.
Secara tiba-tiba Hashirama meraba lengannya lalu beralih memeluk pinggangnya, sesaat tubuh Ino terdiam kaku, nafasnya seolah tertahan ketika Hashirama semakin merapatkan tubuhnya.
Tindakan ini baru pernah Hashirama lakukan padanya, tidak seperti malam-malam yang lain, biasanya Hashirama akan langsung tidur. Sesaat dalam kepala Ino dipenuhi oleh pikiran yang tidak-tidak, dengan bodohnya Ino membuka matanya.
Saat menoleh kesamping Ino dikejutkan oleh tatapan mata Hashirama yang seolah menyambutnya, pandangan mata Hashirama menatap lekat kearahnya hingga membuat Ino jadi terpaku, dan Ino semakin mematung ketika Hashirama mencium bibirnya.
Rasa panas pun seketika menjalari seluruh tubuh Ino, mungkin karena kegiatan ini baru pertama ia rasakan, maka saat ini yang memenuhi benaknya hanya perasaan gugup dan takut.
Hashirama kini berada diatas tubuhnya.
"Khh!" Ino menggigit bibirnya.
Perasaan geli menghujami area lehernya, perlakuan Hashirama membuatnya tidak mampu untuk mengeluarkan sebuah kata.
Tubuhnya semakin memanas saat Hashirama menyentuh dadanya, kedua tangan Ino pun mencengkeram bahu Hashirama, ia ingin menolak ketika bajunya dilepaskan namun ia takut. Sejujurnya Ia belum siap melakukan ini.
Namun aktivitas penuh gairah tersebut tetap berlangsung, sembari mengendus area payudaranya, dengan gerakan perlahan Hashirama melebarkan bagian pahanya.
Ino menutup matanya, ia benar-benar malu dan tidak mau melihat aktivitas selanjutnya, kelopak matanya kembali terbuka ketika merasa sesuatu mencoba menerobos masuk.
"Hashirama-sama" gumam Ino.
Hashirama menatapnya, "Ada apa?"
"Itu sakit."
Hashirama mengusap wajahnya, "Aku akan melakukannya perlahan."
Ino mengangguk dengan ragu.
Hashirama kembali meneruskan aktivitasnya, namun baru sekali hentakan tubuh Ino kembali menggeliat, ia mendorong pundak Hashirama.
"Bisa kita hentikan saja, itu sangat sakit." ujar Ino.
Namun tanpa menjawab perkataannya Hashirama kembali menarik tubuhnya dan kembali meneruskan kegiatan yang sempat tertunda.
Tanpa menghiraukan ringisannya Hashirama melanjutkan pekerjaannya, kini kedua tangan Hashirama menahan tubuhnya dan semakin menambah tekanan pada tiap gerakannya.
"Akh! Sakit! Ahs!" ringis Ino.
Sesuatu dibawah sana serasa mengoyak selangkangannya. Benda keras yang mencoba menerobos masuk kedalam selangkangannya benar-benar menyakitkan.
Jlebb!
Ino menutup matanya, tubuhnya bergetar menahan sakit, telapak tangan Hashirama mengusap puncak kepalanya dengan penuh kelembutan.
"Maaf.." bisik Hashirama.
Ino kembali membuka matanya dan bertatapan langsung dengan manik mata Hashirama. Degup jantungnya semakin bertambah cepat, ketika menyadari tubuhnya dan tubuh Hashirama sudah tidak terbalut oleh apapun.
Lamunan Ino pun buyar ketika Hashirama mulai bergerak, mengeluar masukan organ intimnya dalam selangkangan Ino, tanpa menghiraukan ringisan yang keluar dari mulutnya, Hashirama pun bertindak semakin agresif.
"Eunghh!" Ino melenguh.
Hashirama meletakkan jari telunjuknya didepan bibir.
"Ada Tobirama dan yang lainnya diluar." bisiknya.
Ino mengangguk mengerti, "Hai."
Setelahnya Ino menutup rapat mulutnya, pandangannya mengarah keatas, tubuhnya hanya diam ketika digerayangi oleh Hashirama.
Rasa perih saat dimasuki sebuah benda tumpul hanya dapat ia tahan dengan membungkam mulutnya sendiri, tanpa ada perlawanan maupun protes ia dengan pasrah membiarkan belahan dadanya dicumbu oleh pria diatasnya.
o
o
o
o
Rasa lemas mendera tubuhnya, untuk mengangkat sebelah tangan saja rasanya Ino tidak mampu, seolah tenaga yang ada ditubuhnya hilang sepenuhnya.
Ino pun membuka matanya dan mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan kamar, ia menoleh kesamping untuk memastikan keberadaan Hashirama. Dan ternyata sosok tersebut masih tertidur disampingnya, dengan kondisi bertelanjang dada serta sebuah selimut yang menutupi bagian area privat.
Ino tidak begitu mengingat kejadian semalam, yang ia rasakan sekarang adalah rasa pusing yang sangat menyiksa.
"Heuhh~" lenguhnya.
Tanpa diduga Hashirama terbangun.
"Daijoubu Ka?" tanya Hashirama.
"Aku pusing." jawab Ino, Hashirama pun segera bangun.
"Sou Ka, sebentar."
Hashirama menyentuh dahinya, lalu mengalirkan sebuah cakra Ninjutsu yang seketika menghilangkan rasa pusing dikepalanya, selama pengobatan tersebut rasa lemas diseluruh tubuhnya pun hilang.
"Apa yang kau rasakan sekarang?" tanya Hashirama.
"Aku sudah merasa lebih baik." sahut Ino.
Hashirama menyunggingkan senyum jahil.
"Bagus, berarti kita bisa kembali bersenang-senang." ujar Hashirama yang seketika membuat Ino melotot.
"A - apa maksudnya Hashirama-sama?" Ino menatap horror Hashirama.
Tanpa menjawab perkataannya, Hashirama pun menyingkap selimut yang menutupi tubuh polos Ino dan tanpa meminta izin darinya Hashirama menaiki tubuhnya.
Ino hanya bisa terdiam pasrah, pandangan mata Ino beralih kearah sudut ruangan kamar yang terdapat biasan cahaya. Ternyata sudah pagi, Ino menggigit bibirnya ketika merasakan sesuatu memasuki liang vaginanya.
Terasa nyeri dan perih, Ino sekuat tenaga menahan ringisannya agar orang-orang diluar tidak mengetahui kegiatan mereka. Samar-samar Ino melihat pantulan sosok seseorang tengah berdiri didepan pintu.
Kedua bola mata Ino melotot ketika pintu tersebut terlihat bergeser hingga menampakkan wajah Tobirama yang terlihat tercengang, Ino buru-buru menyembunyikan wajahnya dipundak Hashirama.
Ino mencoba mengintip dari pundak Hashirama, hingga tak berapa lama pintu kamar kembali tertutup secara perlahan. Ino tertawa dalam hati, Tobirama telah melihat adegan yang seharusnya tidak pantas untuk dilihat, kejadian itu benar-benar memalukan, Ino jadi semakin tidak mau bertatap muka dengan Tobirama.
Organ intim mereka yang saling beradu menimbulkan suara yang menggema seisi kamar, Ino mencengkeram bahu Hashirama.
oOoOo
"Banyak sekali bunga yang tumbuh disini." ujarnya pada angin.
Ino sedang meneliti beberapa tumbuhan yang ditemuinya, ia mengedarkan pandangannya kesegala arah.
Ino mengambil bunga yang berwarna merah lalu memasukkannya kedalam keranjang yang ia bawa, Ino pun kembali berjalan kearah tumbuhan bunga yang lain, langkahnya berhenti pada tanaman bunga yang berwarna ungu.
Ino mengendus aroma pada bunga tersebut lalu berjongkok memperhatikan tangkainya, wangi yang menyegarkan pada bunga itu berhasil menghipnotisnya, tanpa berpikir dua kali ia pun mengambil tumbuhan tersebut lalu memasukkannya dalam keranjang dan berlalu pergi.
Saat berbalik Ino dikejutkan dengan kedatangan sosok Madara yang terlihat berjalan santai, Ino menghentikan langkahnya begitupun dengan Madara, langkah Madara berhenti saat bertemu pandang dengannya.
"Madara-sama.." gumam Ino.
Madara menatapnya, "Apa yang kau lakukan disini?"
Ino menyematkan senyum, "Aku mencari beberapa bunga disini sebelum tempat ini dibangun perumahan." sahut Ino.
Madara mengangguk pelan, "Sou Ka."
"Hai." sahut Ino.
Setelahnya Madara pun berlalu pergi, meninggalkannya tanpa pamit. Ino menautkan alisnya, rasanya ia tidak terima diperlakukan sedatar itu.
Ino menoleh dan kembali memperhatikan Madara, hingga sosok Madara terlihat mulai jauh Ino pun memutar langkah untuk membuntutinya.
Ia bersembunyi dibalik pohon ketika kepala Madara bergerak menatap pemandangan sekitar, Ino kembali mengamati pergerakan Madara dari balik pohon, setelah sekiranya Madara sudah berada lumayan jauh, Ino pun kembali membuntuti Madara.
Selama hampir setengah jam Ino melakukan kegiatan tersebut, saat keluar dari balik pohon Ino pun berlari karena melihat sosok Madara sudah terlihat jauh, hingga sosok tersebut tiba-tiba menghilang.
"Tsk! Cepat sekali dia?" decak Ino kesal.
Ino pun berlari menuju tempat sosok Madara menghilang, lalu menoleh kekanan kiri untuk memastikan keberadaan Madara.
Tak dapat menemui sosok yang dicarinya, dengan buru-buru Ino pun berlari dan berbelok kearah kiri, saat mulai berlari Ino dikejutkan dengan sosok Madara yang secara tiba-tiba muncul dihadapannya.
"Madara-sama?!" pekik Ino terkejut.
Madara menatapnya intens, "Kenapa kau mengikutiku?" tanya Madara.
Ino tertawa canggung, "A -Ah tidak tidak, aku hanya lupa jalan pulang." jawab Ino gelagapan.
Madara masih menatapnya dengan intens, Ino pun memalingkan pandangannya kearah lain.
Madara melangkah maju, melihat Madara mendekatinya Ino pun melangkah mundur, seiring dengan tubuhnya yang bergerak mundur Madara pun terus melangkah mendekatinya, hingga punggung Ino menabrak sebuah pohon dan menyebabkan tubuhnya berhenti bergerak.
"Aku ingin bertanya sesuatu." ujar Madara yang kini berdiri tepat didepannya seraya masih menatapnya intens.
"H -Hai ? Nan Desu Ka ?" tanya Ino gugup, ia tidak berani menatap Madara.
"Kenapa saat bersama Hashirama kau selalu menatapku?" tanya Madara.
Pertanyaan barusan dengan sukses menyumbat area pernafasannya, bagai maling yang telah tertangkap ia merasa sedang diinterogasi oleh pihak yang berwenang.
"Apa yang menarik perhatianmu hingga sedetikpun tidak bisa lepas untuk memandangku?" tanya Madara lagi.
Ino pun diam membisu, ia tidak tahu ingin menjawab apa, yang ada dalam pikirannya sekarang hanya jawaban konyol, yaitu ia terpesona dengan bentuk paras Madara.
Grebb!
Madara memegang pergelangan tangannya, dengan tatapan terkejut Ino mendongak menatap Madara.
"Bisa kau jawab?" tanya Madara.
Ino menelan gugup liurnya.
"A - Ano, Sumanakata Madara-sama. Aku hanya penasaran denganmu." ujar Ino terbata.
Saking gugupnya Ino menggigit kuat bibirnya hingga terluka dan mengeluarkan darah.
Madara menautkan alisnya, "Penasaran?" tanya Madara.
Ino mengangguk kaku.
"Hai." jawab Ino gugup.
"Apa maksudnya kau penasaran padaku?"
Ino menutup kelopak matanya, ia benar-benar tidak bisa lepas dari pertanyaan mematikan tersebut.
Ino balas menatap Madara.
"Hai." mau tak mau Ino menjawab dengan jujur.
Posisinya sekarang ini sedang terjepit, Madara seolah mengintimidasinya dengan situasi yang menyudutkan seperti ini. Ino benar-benar tidak dapat bergerak untuk mengelak.
"Mengapa?" tanya Madara lagi.
Ino mengepalkan kedua tangannya.
"Shiranai, mungkin karena aku mengagumimu." ujar Ino yang kini diam mematung.
Ia merutuki lidahnya yang tanpa permisi mengeluarkan kalimat menggelikan tersebut, Ino menutup kelopak matanya, ia benar-benar tidak dapat menyembunyikan ekspresinya setelah mengatakan kalimat tadi.
Setelahnya Ino kembali membuka kelopak matanya dan menatap Madara yang masih membisu, melihat ada jarak antara ia dan Madara Ino pun segera berlari meninggalkan Madara.
o
o
o
o
"Baka, Baka, Baka!"
"Kenapa aku bisa mengatakan hal menjijikkan seperti itu." Ino menjambak rambutnya sendiri.
oOoOo
"Apa kau sudah hamil Ino?"
Ino seketika melotot, sebuah kerutan tidak suka tergambar jelas didahinya.
"Apa Kaasan menyuruhku untuk segera hamil?" tanya Ino.
Ibunya mengangguk, "Ya, kau dan Hashirama sudah resmi menjadi sepasang suami istri kan?" ujar ibunya.
Ino mendengus kesal.
"Kau tidak boleh menolak, bagaimana jika Hashirama menginginkan keturunan?"
Pikiran Ino melayang pada kejadian saat berkunjung kedesa Senju, waktu itu Hashirama mengajaknya berhubungan intim selama 2 hari berturut-turut. Waktu itu ia ingin menolak melakukannya tetapi ia takut.
Mungkinkah ia akan hamil setelah melakukan hubungan itu?
"Ino?" panggil ibunya.
Ino pun terkejut, "Hai!?"
"Pulanglah kerumah untuk menyambut kedatangan Hashirama, bukankah hari ini Hashirama akan pulang?"
Ino menghela nafasnya. "Wakatta."
Ino kemudian beranjak, "Aku pulang dulu Kaasan." ujar Ino pamit.
"Hai, Iterasshai."
o
o
o
o
Langkah kaki Ino berhenti disebuah gunung yang paling tinggi, dari tempat tersebut Ino masih bisa menangkap pemandangan desa Konoha.
Sebelum pulang kerumah Ino memutuskan untuk menjelajahi area luar desa, ia yakin setelah Hashirama pulang Ino tidak akan bisa berjalan sepuas hatinya, ia harus izin terlebih dahulu, terlebih lagi jika Tobirama ada didesa, ia merasa lelaki itu selalu mengawasi gerakannya.
Wusshh!
Slap!
Ino menyadari ada yang datang, saat menoleh kebelakang ia mendapati sosok Madara yang tengah menatapnya.
Jantung Ino berdetak tak karuan, namun meski ia canggung dengan keberadaan sosok tersebut entah mengapa matanya masih terpaku pada sosok itu.
Seharusnya ia berbalik pergi dan menghindar kan?
Namun tanpa disangka Madara pun masih menatapnya seolah menantangnya untuk saling beradu pandangan. Ino mengalihkan tatapannya kearah lain, namun didetik selanjutnya Ino kembali menoleh kearah Madara yang masih memandangnya.
Seakan tidak mau berada dalam suasana kaku tersebut, Ino pun memberanikan diri untuk menyematkan senyum, tanpa diduga sosok tersebut meresponnya dengan senyuman tipis.
Madara berjalan kearahnya, lalu berdiri disampingnya.
"Sedang apa disini?" tanya Madara.
Ino menatap kearah lain.
"Aku ingin berjalan sepuasnya sebelum Hashirama-sama pulang."
Madara bergeming, "Memangnya Hashirama melarangmu untuk berjalan?"
Ino menggeleng, "Tidak, tetapi aku harus meminta izinnya terlebih dahulu jika ingin berjalan keluar."
"Sou Ka." sahut Madara.
Suasana pun menjadi hening, Ino menahan degup jantungnya, lagi dan lagi Ino mendaratkan pandangannya pada Madara, tanpa diduga Madara membalas tatapannya, sesaat mereka berdua larut dalam situasi saling pandang.
Mereka terdiam cukup lama hingga momen kaku tersebut akhirnya mencair dengan reaksi keduanya yang saling melemparkan senyum.
o
o
o
o
"Ino tidak ada dirumah." Hashirama duduk disebuah kursi lalu mengetuk-ngetuk permukaan meja.
Ekspresi Tobirama berubah sinis, ia melirik kakaknya yang sedang mengamati orang-orang dari luar jendela.
"Mungkin dia sedang berjalan ketempat lain." ujar Hashirama lagi.
oOoOo
"Ino-san?" panggil seseorang.
"Hai?" sahut Ino.
Ia berhenti melangkah ketika seorang pria yang masih muda menghampirinya.
"Tobirama-sama meminta anda untuk segera datang menemuinya diruang rapat desa."
Ino menautkan alisnya, ia heran mengapa Tobirama tiba-tiba ingin bertemu dengannya, jujur saja ia jadi khawatir, ia takut apabila Tobirama kembali bertindak kasar padanya.
"Hai." sahut Ino pasrah.
Dengan perasaan gelisah Ino pun pergi menuju tempat yang dimaksud, ia berjalan dengan pikiran yang campur aduk, beberapa pertanyaan mulai memenuhi kepalanya.
Ada keperluan apa Tobirama memanggilnya?
Apa Tobirama akan memarahinya lagi?
Ino memasuki sebuah bangunan besar, dua orang dari klan Senju mempersilahkannya untuk masuk kedalam sebuah ruangan, Ino kemudian masuk.
Tepat setelah ia masuk pintu ruangan pun ditutup dari luar, untuk sesaat Ino terdiam, ia merasakan hawa mengerikan mulai menyelimuti area sekitar, saat menoleh kedepan tubuhnya membeku ketika dihunus oleh tatapan sengit Tobirama.
"Pergi kemana kau kemarin!?" tanya Tobirama dengan nada meninggi.
Ino menatap Tobirama dengan penuh ketakutan.
"Aku.. sedang berjalan keluar desa, aku tidak tahu jika Hashirama-sama akan datang sore." jawab Ino gugup.
"Dengan siapa kau pergi!"
Ino semakin ketakutan ketika Tobirama mulai melangkah mendekatinya.
"Katakan dengan jujur!" bentak Tobirama.
"Aku tidak pergi dengan siapapun, aku hanya pergi sendirian." jawab Ino dengan bibir bergetar.
Tobirama semakin menatap sadis dirinya, Ino pun menekuk wajahnya.
"Sebelum pergi, aku mengutus mata-mata untuk mengawasimu." ujar Tobirama
Ino seketika terdiam Shock, tak ia sangka Tobirama akan bertindak sejauh itu.
Bukankah itu melanggar hak kebebasan seseorang?
"Jika kau berbohong!"
Ino tersentak kaget ketika Tobirama kembali membentaknya.
"Aku bisa menyeretmu kedalam penjara karena telah berkhianat pada ketua klan Senju!"
Ino tak dapat membendung air matanya, sekarang ia sedang merasakan takut yang luar biasa.
"Aku tidak berbohong." ujar Ino mulai terisak.
Tobirama tampak semakin emosi.
"Apa menurutmu utusanku itu orang gila!?" pekik Tobirama.
Tangisan Ino mulai pecah.
"Dia melihatmu sedang berduaan dengan Madara! Ada hubungan apa kau dengan Madara!?"
Ino menggeleng sembari menangis.
"Aku pergi sendirian -dan tidak sengaja bertemu dengan Madara." ujar Ino sesenggukan.
Tatapan tajam Tobirama masih menatap lekat dirinya.
"Saat bertemu dengannya, dia hanya menyuruhku agar cepat pulang." jawab Ino tersedu-sedu.
Tobirama memalingkan tatapannya, sorot matanya yang dipenuhi oleh amarah kini berubah menjadi datar.
"Mulai sekarang kau jangan sembarangan berinteraksi dengan orang, terutama Madara."
"Ingatlah, aku selalu mengawasi pergerakanmu kapanpun dan dimanapun kau berada." ujar Tobirama yang kini kembali memusatkan tatapannya pada Ino.
Ino masih menangis.
"Kau mengerti!" tekan Tobirama.
"- Hai" jawab Ino sambil menangis.
Tobirama kemudian pergi.
TBC
Reader :
oh thankyou my lav~
iya sih emg udh jarang bgt sejak serial Naruto shippuden end yah! Tp imajinasi ini gak pernah ikutan end sih. Ino x all boys chara ttp dihati pokoknya.
zielavienaz96 :
aaa! thankyou so much bepp for support!
Guest :
pasti! Thankyou so much bepp~
LoganLiet :
iyah bepp sengaja sih, ada maksud tersendiri n maksud tertentu, salah satunya biar para reader aku hanyut dalam story aku gitu loh, tp malah jadi kek puisi yah!? :v
Inzaghi :
beuh emg menggoda bgt, aku aja tergoda! Aku itu sbnernya suka karakter yg ekstrim! Ala2 badboy gitu kan bepp :v
Gekanna87 :
iya say bener bgt, apalagi karakter Ino ini kan tipe cw yg suka nyosor duluan :v #plak! eh tapi gak sih, karakternya spesial.
Bdw thankyou for review my loves!
enjoy the story~
