Ino duduk bersandar disebuah pohon, ia memandangi tumbuhan hijau yang tertera didepannya.
Slapp
Suara pijakan kaki menyadarkan Ino, sekilas pandangannya menoleh keasal suara pijakan, Ino tersentak kaget ketika melihat Madara tengah bersandar dipohon yang sama dengannya.
"Madara-sama?" gumam Ino masih dengan terisak.
"Apa yang terjadi padamu?" tanya Madara.
Ino dengan segera menggerakkan telapak tangannya agar Madara segera pergi.
"Pergilah Madara-sama, aku tidak ingin kita dilihat oleh orang lain, Tobirama-sama punya mata-mata untuk mengawasiku!" seru Ino.
"Jangan khawatir, aku sudah menanganinya" sahut Madara.
Ino mengusap airmatanya, "Sou Desu Ka."
"Apa Tobirama menyakitimu?" tanya Madara.
Ino menggeleng, "Tidak, dia hanya melarangku untuk jangan berdekatan denganmu. Dia bilang aku akan diseret kedalam penjara jika berinteraksi denganmu."
"Dia bertindak seolah sudah menjadi pemimpin." sahut Madara.
Ino menghapus sisa airmata dipipinya, kelopak matanya mengerjap untuk melihat pemandangan didepan sana. Ino kemudian berdiri dan menyamakan posisinya dengan Madara.
Tangannya memegang pohon untuk menumpu tubuhnya, namun gerakan tangannya terhenti ketika tanpa sengaja bersentuhan dengan tangan Madara, cukup lama hingga Madara balik menyentuh jemarinya.
"Apa sekarang kau merasa lebih baik?" tanya Madara.
Ino menatap Madara, "Hai, semuanya berkat Madara-sama."
Madara tersenyum tipis, "Yokatta."
Madara balas menatapnya, sudut bibir mereka berdua tertarik keatas hingga membentuk sebuah senyum.
"Hai." jawab Ino.
Angin berhembus menerpa tubuh mereka berdua.
"Berhentilah memanggilku dengan sebutan sama."
Ino menatap Madara seraya tersenyum, "Baiklah."
Ino masih memandangi Madara.
"Bagaimana jika kupanggil dengan sebutan Madara?" ujar Ino lagi.
"Boleh saja." sahut Madara.
Lama saling bersentuhan, akhirnya tangan mereka berdua saling menggenggam.
"Madara~" ucap Ino, Madara menatapnya.
"Apa Hashirama akan baik-baik saja dengan ini?" tanya Madara.
Ino menggembungkan pipinya.
"Mungkin akan baik-baik saja selama dia tidak mengetahuinya." ujar Ino.
"Aku akan memberitahumu tempat pertemuan kita selanjutnya."
"Hai."
o
o
o
o
Langkah kaki Ino berhenti didepan pintu rumah, alisnya bertaut ketika melihat pintu rumah terbuka, kepalanya menoleh kedalam rumah untuk memastikan siapa yang berada dirumah.
Kegiatan Ino terhenti ketika menangkap suara obrolan dari dalam, sepertinya Hashirama sedang mengobrol dengan Tobirama, tak mau menambah beban pikirannya hanya karena sosok yang dibencinya ada disana Ino pun dengan cuek melangkah masuk.
Saat berjalan melewati ruang tengah Ino menoleh, disana sedang duduk Tobirama dan Hashirama, entah apa yang didiskusikan, tampak dua orang itu berhenti berbicara ketika menyadari kedatangannya. Ino pun dengan buru-buru berjalan masuk kedalam kamar.
.
.
.
.
Chu~p
Kelopak mata Ino terbuka lalu mengerjap beberapa kali, mata khas bangun tidur Ino menatap Hashirama yang sedang membelai kepalanya.
"Maaf aku membangunkanmu." ujar Hashirama.
Ino menggeleng.
"Tidak apa-apa Hashirama-sama." sahut Ino serak.
Hashirama berbaring disampingnya, sembari mengelus puncak kepalanya Hashirama pun mengecup dahinya.
"Aku sangat merindukanmu ketika pergi."
Hashirama tak henti-hentinya mengusap puncak kepalanya.
"Aku juga sangat merindukanmu." sahut Ino, dalam pikirannya melintas sosok Madara.
"Benarkah?" tanya Hashirama, Ino pun mengangguk.
"Aku mungkin akan pergi lagi kedesa Uzusio, apa kau mau ikut?" tawar Hashirama.
Lama terdiam akhirnya Ino menggeleng.
"Aku akan menunggu kepulangan Hashirama-sama disini saja." ujar Ino.
"Kau tidak mau?" tanya Hashirama.
Ino mengangguk, Hashirama menampilkan ekspresi kecewa.
"Akhir-akhir ini badanku sering sakit, sepertinya aku tidak bisa beraktivitas terlalu berlebihan."
Hashirama menatap Ino khawatir.
"Benarkah?" tanya Hashirama.
"Hai."
Hashirama mengusap pipi Ino.
"Aku akan berusaha untuk pulang secepatnya." ujar Hashirama, Ino mendesah kecewa dalam hati.
Tampaknya ia salah memilih kata-kata sebagai alasan untuk tidak ikut, padahal hatinya begitu bahagia ketika mendengar Hashirama akan bepergian lagi, dengan begitu ia dapat leluasa bertemu dengan Madara.
"Hai." jawab Ino sembari menyematkan senyum.
Hashirama mencium bibirnya, Ino membalasnya, ia mengerti...
Makna ciuman bertubi-tubi yang didapatkannya adalah sebuah tanda bahwa Hashirama sedang menginginkannya.
oOoOo
Ino hanya memperhatikan Hashirama yang sedang berbincang dengan ayahnya dan beberapa Shinobi lain, ekor matanya dapat melihat jika Tobirama masih betah menyoroti dirinya.
Ino hanya diam agar tidak menimbulkan gerak gerik yang menarik perhatian Tobirama, ia pura-pura menatap lekat Hashirama agar Tobirama berhenti mengawasinya.
Tanpa ia sadari Hashirama berjalan mendekat lalu memeluknya, dengan terkejut Ino membalas pelukan Hashirama. Ino menutup matanya ketika Hashirama mengecup dahinya.
"Berhati-hatilah, jangan pernah berjalan sendiri keluar desa."
Ino mengangguk.
"Aku sudah berpesan pada Tousan agar tidak membiarkanmu pergi jauh dari desa."
Hashirama melepaskan pelukan, lalu menyentuh wajahnya.
"Aku pergi dulu." ujar Hashirama.
Ino tersenyum.
"Hai, berhati-hati lah dijalan." sahut Ino.
Hashirama dan Tobirama serta beberapa ninja yang ikut pun melesat pergi.
o
o
o
o
"Hashirama menyuruhku untuk jangan mengizinkanmu pergi jauh dari desa."
Ino menumpu wajahnya dengan tangan lalu menatap dengan bosan ayahnya.
"Hai." jawab Ino malas.
"Malam ini kau tidur dimana?" tanya ayahnya.
"Mungkin disini." jawab Ino.
"Baiklah, jangan pulang larut malam jika berjalan keluar." nasehat ayahnya.
"Hai."
"Hashirama sangat mengkhawatirkanmu ketika mengetahui kau sering berjalan sendirian keluar desa."
Ino menatap kearah luar.
"Jadi jangan ulangi lagi kebiasaan itu Ino, jagalah martabatku didepan Tuan Hashirama." ujar ayahnya.
Ino tak bergeming
"Apa kau tahu Hashirama-sama sangat menyayangimu?" tanya ayahnya, Ino menautkan alisnya.
"Saat pulang beberapa hari yang lalu, dia begitu panik saat mengetahui kau tidak berada didalam desa."
Ino mendecak sebal.
"Aku bersyukur karena ternyata Hashirama-sama mencintaimu. Aku merasa tidak sia-sia menikahkanmu dengannya." ujar ayahnya lagi.
Ino menguap lebar dan masih mempertahankan pandangannya kearah luar.
"Baiklah kalau begitu aku pulang dulu."
"Hai Tousan." jawab Ino.
Lalu berjalan bersama ayahnya menuju pintu, setelah ayahnya pergi Ino pun menutup pintu dan menguncinya. Ino kemudian berjalan menuju kamar, sembari berjalan ia melepaskan ikatan rambutnya.
Saat memasuki kamar, ia nyaris melompat karena terkejut dengan kehadiran Madara, didalam benaknya dipenuhi oleh beberapa pertanyaan,
Sejak kapan Madara berada disana?
Dari mana Madara masuk?
"Madara?" gumam Ino terkejut.
Madara menempelkan jarinya didepan bibir.
Ino pun segera mengatupkan mulutnya.
"Sejak kapan berada disini?" Ino berjalan mendekati Madara.
"Sejak ayahmu datang kemari." jawab Madara.
Ino membulatkan matanya.
"Selama itu?"
Madara mengangguk.
"Gomennasai.. Andai aku tahu kau datang kemari aku akan menyuruh Tousan cepat pulang."
Madara tersenyum tipis.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin mengunjungimu."
Ino tersipu malu.
"Apa kau akan baik-baik saja tidur sendiri disini?" tanya Madara.
Ino mengangguk.
"Aku akan baik-baik saja." sahut Ino.
"Sou Ka." ujar Madara.
Mereka berdua saling bertatapan, dan saling mendekatkan wajah ketika suasana hening mulai melingkupi mereka berdua.
Ino menyentuh wajah Madara untuk pertama kali, seolah terhanyut dalam gairah yang sedang menggebu Ino dengan pasrah mengikuti gerakan Madara yang mendorongnya ketempat tidur.
Tanpa memikirkan ada pihak yang akan tersakiti Ino dan Madara pun hanyut dalam sebuah ciuman.
Grebb!
Tubuh Ino dan Madara terjatuh diatas ranjang, hingga membuat ciuman tersebut terlepas. Ino dan Madara kembali saling bertatapan, mereka sedang meneliti keindahan paras masing-masing.
Ino membingkai wajah Madara dengan kedua tangannya, mereka berdua saling menyematkan senyum.
"Kemungkinan Hashirama akan pulang 2 hari lagi." ujar Madara.
Ino terkejut.
"Sungguh?"
"Benar, Hashirama berkata padaku bahwa dia begitu khawatir meninggalkanmu sendirian." sahut Madara.
"Benarkah?" tanya Ino tak percaya.
"Tampaknya Hashirama mulai jatuh cinta padamu."
Ino terdiam kaku.
"Apa menurutmu Hashirama-sama akan bersikap lebih protektif padaku?" tanya Ino.
"Bisa saja, sebaiknya kita jangan bertemu ketika Hashirama ada didesa."
Ino mengangguk, "Hai."
Ditengah percakapan mereka untuk beberapa saat Madara terdiam, sorot matanya menunjukan seolah ia mengetahui kedatangan seseorang.
"Ada orang yang datang." bisik Madara.
Madara mengangkat tubuh Ino lalu membaringkannya diatas tempat tidur, dengan jelas Ino dapat melihat perubahan mata Madara, dimana mata kelamnya berubah menjadi sebuah Sharingan.
"Tidurlah.." ujar Madara.
Ino mengangguk, "Wakatta."
o
o
o
o
Menjelang hari kedua, saat malam hari tiba Ino sudah tidur lebih awal. Setelah kedua orang tuanya pulang Ino langsung masuk kedalam kamar dan tidur.
Kelopak matanya terlihat bergerak, ia merasakan kehadiran seseorang, saat reflek membuka mata Ino dikejutkan dengan kehadiran Madara.
"Mada-" gerakan Ino dicegah Madara saat akan bangun, dan kata-katanya terputus ketika Madara memberi kode padanya agar diam.
Madara duduk ditepi ranjang.
"Sejak kapan kau datang?" tanya Ino sepelan mungkin agar tidak terdengar oleh orang.
"10 menit yang lalu." jawab Madara.
"Hontou Ni?"
Ino meraih tangan Madara lalu menariknya untuk berbaring disisinya, Madara pun menuruti permintaan Ino.
Mereka berdua saling diam, entah siapa yang memulai namun kini bibir mereka berdua bertemu, cukup lama hingga tautan bibir mereka kembali terlepas, Ino dan Madara kembali saling pandang.
"Besok Hashirama akan pulang." ujar Madara.
Ino mengangguk, "Tidak apa-apa, yang penting sekarang kita sedang bersama."
Tangan Ino dan Madara saling menggenggam.
"Bagaimana perasaanmu terhadap Hashirama?" tanya Madara.
"Aku emm... Sangat menghormati Hashirama-sama." jawab Ino.
Madara tersenyum.
"Jadi kau tidak merasa sedang berpaling dari Hashirama?." tanya Madara.
Ino mengerucutkan bibirnya.
"Tetapi aku merasa lebih nyaman ketika bersamamu." ujar Ino.
Madara tersenyum tipis.
"Bukankah Madara-san juga telah menusuk Hashirama-sama dari belakang?" tanya Ino.
Madara tertawa pelan.
"Jika aku menjadi Hashirama, aku tidak akan pernah mau memperkenalkan istriku pada orang luar." ujar Madara.
"Kenapa?" tanya Ino sembari tersenyum penuh arti.
"Karena hubungan ini tidak akan pernah terjadi jika Hashirama tidak berfikiran naif." jawab Madara.
Ino mengangguk-angguk, ia kini memperhatikan wajah Madara, ia memberanikan diri menyentuh rambut Madara lalu mengusapnya. Ditengah-tengah ia menikmati aktivitasnya Madara meraih pergelangan tangannya, sesaat Ino mendaratkan pandangan penuh tanya pada Madara.
Namun Madara tidak memberi respon, Ino menatap kedalam mata Madara, pandangan lekat yang seolah menjawab keinginan mereka kini menuntun tubuh Ino untuk menaiki tubuh Madara.
Sesaat Madara terdiam, nalurinya sebagai pria seakan tertantang untuk mengecap rasa manis pada wanita cantik yang berada diatas tubuhnya.
Suasana dingin yang menyelimuti berganti menjadi panas ketika Ino dan Madara saling melepaskan pakaian, hingga tubuh Ino benar-benar polos, kini ganti Madara yang mendominasi adegan panas tersebut.
Ino mengalungkan tangannya dileher Madara, dan berbaring pasrah saat Madara merebahkan tubuhnya. Bibir mereka kembali saling bertaut, sembari meremas payudaranya, Madara mulai memasukan sesuatu kedalam liang vaginanya.
Chu~
Tautan bibir mereka terlepas seiring dengan gerakan Madara.
"Ahh~"
Kelopak mata Ino memejam ketika sesuatu berhasil masuk kedalam selangkangannya.
"Eumphh~"
Madara kembali mencium bibirnya, namun ciuman tersebut terlepas ketika Madara mulai menggerakan tubuhnya, Ino mencengkeram tangan Madara, ia menggigit bibirnya saat Madara mulai menghentak miliknya.
Tatapan menahan kenikmatan tersebut saling bertemu, dan bahkan saling beradu ketika mereka menginginkan rasa kenikmatan yang lebih memabukkan.
"Mngh~" Ino menahan desahannya.
Madara menahan kedua sisi pinggang Ino dan bergerak semakin cepat, Ino memejamkan matanya, menikmati pergerakan Madara yang semakin memanas.
Ino mencengkeram apapun ketika rasa nikmat mulai menghujami liang vaginanya, seiring dengan hentakan tubuh Madara Ino semakin dibuat tak berdaya, ia berusaha meredam desahannya hingga sebuah hentakan sensual membuat tubuh Ino menggelinjang hebat.
"Hhh~!" Ino membekap mulutnya dengan satu tangan.
Sebelah tangannya menyentuh dada Madara yang sedang dibanjiri oleh keringat, Madara berhenti bergerak, Ino meraba wajah Madara.
Sedangkan Madara meraba bagian paha Ino lalu memegangi dengan erat pergelangan kakinya, Madara memaju mundurkan pinggangnya dengan cepat hingga membuat tubuh Ino bergerak gelisah, bibirnya meloloskan sebuah ringisan kenikmatan.
Hingga satu hentakan keras membuat Ino terdiam, Madara menutup matanya dan membiarkan miliknya bersarang lama didalam selangkangan Ino.
Sembari menarik nafas Ino membuka kelopak matanya dan menatap kearah Madara yang sedang menarik keluar organ intimnya, pandangan sayu mereka berdua bertemu.
.
.
.
.
Kelopak mata Ino terbuka, cahaya lampu yang menerangi ruangan seakan mengusik tidurnya, Ino mengerjap ketika melihat sosok Madara tengah berdiri memandangnya, dengan perlahan Ino bangun sembari menahan selimut didadanya.
"Aku akan pulang sekarang." ujar Madara.
"Ah Hai!" sahut Ino dengan nada serak.
Madara mematikan lampu, Ino kemudian turun dari ranjang dan mengikuti langkah Madara menuju jendela.
"Aku pergi dulu." ujar Madara.
Ino mengangguk, "itterasshai."
Setelahnya Madara membuka jendela, lalu pergi meninggalkan Ino yang dengan buru-buru menutupi jendela, tubuhnya serasa beku ketika terkena hembusan angin malam.
oOoOo
"Hashirama-sama!" pekik Ino.
Hashirama tertawa bahagia ketika kedatangannya disambut oleh Ino.
"Ino Ka?" ujar Hashirama lalu menarik Ino kedalam pelukannya.
Ino menumpu dagunya dibahu Hashirama, kakinya terasa melayang ketika berpelukan dengan Hashirama.
"Bagaimana kabarmu? Apa kau baik-baik saja?" tanya Hashirama yang kini melepaskan pelukan.
Ino mengangguk, "Aku akan baik-baik saja jika Hashirama-sama pulang dengan selamat."
"Sou Ka." ujar Hashirama masih dengan tertawaan bahagia.
Ino melirik kearah Tobirama yang masih betah memperhatikannya.
"Anii-chan aku pulang dulu." pamit Tobirama.
"Hai!" sahut Hashirama.
Hashirama kemudian menutup pintu rumah, lalu kembali memeluk Ino.
"Aku sangat merindukanmu.." ujar Hashirama.
"Aku juga merindukanmu Hashirama-sama." sahut Ino.
Hashirama menuntun Ino berjalan menuju kamar, sesampainya dikamar Hashirama mengangkat tubuhnya dan membaringkannya diatas tempat tidur.
Hashirama mencium bibirnya namun setelah sekian detik Ino melepaskan ciuman tersebut, hingga membuat Hashirama menatapnya bingung.
"Ada apa?" tanya Hashirama.
"Jendela masih terbuka." ujar Ino.
"Ah Sou Ka, sebentar." Hashirama berjalan menutup jendela.
Ino mempertahankan senyuman manis dibibirnya, dan bertingkah manja ketika Hashirama kembali menindih tubuhnya. Hashirama kembali mencium bibirnya, Ino dengan pasrah membiarkan Hashirama membuka seluruh bajunya.
Ino pun balik melepaskan pakaian yang menutupi tubuh Hashirama, dan bertindak seolah menginginkan hubungan tersebut.
o
o
o
o
Ino dan Hashirama serta Madara sedang berjalan mengelilingi desa, Ino melirik Madara yang terlihat fokus berbincang dengan Hashirama.
"Wah tak kusangka pembangunan desa dapat selesai secepat ini." ujar Hashirama.
"Hampir semua kawasan telah mencapai tahap selesai." sahut Madara.
"Benar, kurasa sudah saatnya kita mediskusikan mengenai perihal kepemimpinan untuk desa ini." ujar Hashirama.
Madara mengangguk, "Ya, benar."
Ino memilih memperhatikan area lain agar matanya tidak kehilangan kendali untuk menatapi Madara secara terus menerus.
"Oh ini pembangunan area klan Uchiha ya.." gumam Hashirama.
"Bagus, pemukiman klan Uchiha sangat sempurna." puji Hashirama.
"Bagaimana hasil kesepakatan Konoha dengan Uzusio, Hashirama?" tanya Madara.
Hashirama terlihat salah tingkah.
"Ah itu, emm.." Hashirama menggumam dengan ragu.
"Uzusio bersedia menjalin hubungan persahabatan dengan Konoha." lanjut Hashirama.
Madara menautkan alisnya, "Ada apa dengan ekspresimu itu?" tanya Madara heran.
Ino menatap Hashirama.
"Aku akan menceritakannya padamu nanti." ujar Hashirama.
Madara kembali menautkan alisnya.
"Baiklah."
o
o
o
o
"Hahh~"
Ino bersandar disebuah pohon, matanya menatap kearah langit malam. Hashirama sedang melaksanakan rapat dengan Daimyo untuk pemilihan pemimpin desa Konoha.
Mungkin akan berlangsung lama, sebelum pulang kerumah Ino memilih untuk bersantai diarea ini, meski dikelilingi oleh pepohonan yang tinggi pandangan Ino masih bisa mengamati pemandangan diatas langit.
Wussh
Grebb!
Ino hampir memekik jika tidak segera mengenali sosok yang sedang berdiri didekatnya.
"Madara.." gumam Ino.
Madara meletakan jarinya didepan bibir.
"Kau tidak ikut rapat dengan Daimyo?" tanya Ino.
Madara tersenyum hambar.
"Tidak."
Ino hanya menggumam.
"Ino.." ujar Madara sepelan mungkin.
"Hai." jawab Ino tak kalah pelan.
"Aku berencana untuk pergi dari Konoha." ujar Madara.
Dengan ekspresi terkejut Ino menoleh kearah Madara.
"Apa maksudnya kau tidak akan kembali?" tanya Ino prihatin.
Madara mengangguk.
"Apa kau akan meninggalkanku.." ujar Ino ragu.
Madara menatapnya, "Tidak."
Madara menggenggam tangannya.
"Kemana kau akan pergi.." tanya Ino dengan nada lirih.
"Aku akan berusaha menemuimu" ujar Madara.
"Apa kau berjanji tidak akan melupakan aku?" tanya Ino.
Madara mengangguk.
"Aku ingin memberitahumu sesuatu."
Ino masih menatap Madara.
"Apa itu?" tanya Ino lesu.
"Hashirama akan menikah lagi dengan wanita dari klan Uzumaki." ujar Madara.
Ino mengangkat alisnya, ia tidak tahu ingin bereaksi seperti apa.
"Hashirama akan mendiskusikan hal ini dengan orang tuamu."
Ino mengangguk-angguk.
"Lalu?" tanya Ino.
"Hashirama mengatakan bahwa hal tersebut merupakan syarat untuk menjalin persahabatan dengan Uzusio dan Konoha."
"Bagaimana tanggapanmu?" tanya Madara.
"Aku akan meminta untuk bercerai." ujar Ino tanpa ragu.
"Hashirama mengatakan tidak akan menikah jika kau tidak mengizinkan." ujar Madara.
Ino diam termenung, pikirannya sedang berputar, jika Hashirama berkata begitu berarti Hashirama lebih memprioritaskan dirinya.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Ino.
"Sebaiknya kau berpura-pura marah dan mendiamkan Hashirama, untuk menutupi hubungan ini." ujar Madara.
"Baiklah." ujar Ino.
Madara memberi tanda pada Ino agar berhenti berbicara.
"Tobirama dan beberapa ninja yang lain sedang menuju kemari." ujar Madara.
"Hah!?" ujar Ino Shock.
"Bersikaplah tenang, seolah kita baru bertemu."
Ino mengangguk, "Hai!" ujar Ino.
Madara melangkah mundur untuk memberi jarak dengan Ino. Ino dan Madara kini saling diam sambil menunggu kedatangan seseorang yang sudah dekat.
Tap Tap Tap
"Hm!"
"Apa yang kau lakukan disini?!" ujar Tobirama sinis.
Ino tidak menjawab.
"Pulang!" perintah Tobirama.
Dengan patuh Ino berjalan meninggalkan Madara, Ino serasa tidak dapat menopang tubuhnya ketika Tobirama berjalan mendekatinya.
"Kau benar-benar wanita yang tidak dapat menjaga martabat kakakku." ujar Tobirama.
Ino mendecih dalam hati.
"Apa yang kau lakukan disini!" bentak Tobirama.
Ino masih diam dengan mulut mengatup.
"JAWAB!" Tobirama berteriak.
Ino menatap tajam Tobirama.
"Berhenti mengatur hidupku!" pekiknya balik.
Tobirama menatapnya penuh amarah.
"Aku berhak mengawasi orang-orang yang berpotensi menjadi penghianat!"
"Kau bukanlah pemimpin! Orang-orang takut padamu hanya karena kau adik Hashirama!" sahut Ino.
Tobirama pun melayangkan tamparan keras diwajahnya, hingga membuat Ino jatuh terduduk ditanah.
Sedetik kemudian hembusan angin menerpa Ino hingga menyebabkan anak rambutnya melayang. Saat menatap kedepan Ino terkejut melihat sosok Madara yang sudah berdiri didepan Tobirama.
"Bukankah mengangkat tangan padanya sama saja dengan mengangkat tangan pada Hashirama." ujar Madara datar.
"Seorang wanita yang sudah menikah tidak layak mengobrol dan berduaan dengan sahabat suaminya." sahut Tobirama dengan nada menusuk.
"Kami hanya kebetulan berjumpa, tidak ada obrolan." ujar Madara.
Tobirama tidak merespon, setelahnya Madara pun pergi. Meninggalkan Tobirama yang kini mengalihkan tatapannya pada Ino.
"Berdiri." perintah Tobirama.
Sembari memegangi pipinya Ino pun berdiri, namun bukannya merasa kasihan, Tobirama malah kembali mengintimidasi dirinya, ekspresi wajah Tobirama berubah menjadi lebih kejam.
"Dengar! Aku tidak pernah takut menyakitimu didepan kakakku!" Tobirama melangkah maju hingga kini tubuhnya semakin rapat dengan Ino.
Ino pun melangkah mundur dan Tobirama kembali melangkah maju untuk mendekat.
"Jika kau berani atau terbukti melakukan penghianatan aku tidak akan segan-segan menghajarmu didepan kakakku, atau didepan ayahmu atau didepan semua penduduk desa!" ucap Tobirama.
"Kau mengerti!" hardik Tobirama.
Ino mengangguk.
"Pulang!" perintah Tobirama.
Ino berlari pergi.
o
o
o
o
Ino duduk termenung ditepi ranjang, ia menumpu wajahnya diatas lutut, bibirnya beberapa kali mengeluarkan decihan. Ia benar-benar tidak memiliki kekuatan untuk melawan Tobirama.
Cklkk!
Ino masih diam, ia tidak memiliki keinginan untuk menoleh, didalam benaknya hanya satu ia ingin mencoba melancarkan sandiwara seolah ia tersakiti.
"Ino?" panggil Hashirama.
Hashirama berjalan menghampirinya lalu duduk didekatnya.
"Ino?" panggil Hashirama lalu memegang bahunya agar menatap kearahnya.
Dan pada saat Ino menoleh Hashirama terkejut, Hashirama meraba pipi Ino lalu mengusap darah dihidungnya yang sudah mengering.
"Apa yang terjadi padamu?" tanya Hashirama.
Ino menggeleng lalu kemudian menangis, dan ia menangis sekencangnya saat Hashirama memeluk erat tubuhnya, sebelah tangan Hashirama menepuk punggungnya.
"Siapa yang berani menyakitimu?" tanya Hashirama.
Ino masih menangis, Hashirama pun membelai kepalanya, sembari menepuk punggung Ino Hashirama mengecupi puncak kepala Ino.
Tak berapa lama tangisan Ino pun berhenti.
"Siapa yang melakukan ini padamu?" tanya Hashirama.
"Tobirama" jawab Ino terisak.
"Tobirama?!" tanya Hashirama tidak percaya.
Ino mengangguk.
"Aku sedang bersantai ditaman desa." jawab Ino terisak.
"Lalu?" tanya Hashirama.
"Tanpa sengaja aku bertemu Madara." Hashirama terlihat terkejut.
"Setelah itu Tobirama datang, dia menuduhku berduaan dengan Madara dan memarahiku agar segera pulang." ujar Ino.
"Lalu aku mengatakan, orang-orang takut padanya hanya karena dia adik Hashirama-sama."
"Lalu dia menamparku." ujar Ino.
Hashirama menghela nafas.
"Aku akan berbicara dengannya besok." ujar Hashirama.
TBC
Halo all~ i hope you like it ya :D
