Seluruh penduduk desa tengah merayakan hari pengangkatan Hokage pertama, Ino berdiri dengan melipat tangan didepan dada, manik matanya menoleh keseluruh penjuru untuk melihat keberadaan Hashirama.
Namun sosok itu tidak ada, begitu acara penobatan selesai Hashirama pamit untuk pergi kesuatu tempat, sembari menarik nafas Ino pun berjalan melewati area yang menjadi pusat acara perayaan, lalu Ino berjalan melewati beberapa kedai dan toko.
Hingga langkahnya berhenti pada sebuah tempat yang agak lengang, pandangan Ino berpindah pada sebuah rumah yang terlihat sepi, meski samar Ino dapat melihat jika disana sedang berdiri seseorang, Ino memperjelas penglihatannya untuk meneliti sosok siapa yang berdiri disana, saat mulai memfokuskan pandangannya Ino pun terkejut, dalam sekejap tubuhnya menjadi kaku ketika bertemu pandang dengan Madara.
"Pergilah keluar desa." ujar Madara
Ino mengangguk.
Setelahnya Ino merasa dapat kembali menggerakkan anggota tubuhnya, pandangannya kini mengamati cahaya sekitar yang tampak remang, tanpa membuang waktu sedikitpun Ino segera berlari menuju pintu keluar desa.
o
o
o
o
Ino berhenti berlari, sebelah tangannya menumpu pohon dan satu tangannya lagi memegangi dadanya yang kembang kempis. Ino kemudian bersandar disebuah pohon besar.
Tak berapa lama sosok yang dinanti pun muncul, Ino terpaku untuk beberapa saat, kelopak matanya seolah beku saat menatap sosok tersebut.
"Madara" gumam Ino.
Madara menyentuh pipinya.
"Apa ini masih sakit?" tanya Madara.
Sesaat Ino tersipu, ia menikmati perlakuan manis Madara.
"Sudah tidak." jawab Ino.
"Syukurlah."
Ino memegang tangan Madara.
"Apa kau akan pergi sekarang?" tanya Ino.
Madara mengangguk, Ino memasang wajah murung.
"Apa ini merupakan pertemuan terakhir kita?" tanya Ino.
Madara menggeleng.
"Aku akan berusah menemuimu."
Seakan teringat sesuatu, Ino reflek menoleh kearah belakang, khawatir jika Tobirama akan menyusulnya kemari.
"Tobirama tidak akan kesini." ujar Madara yang seolah mengetahui isi pikirannya.
"Bagaimana kau tahu?"
"Hm!" Madara tersenyum sinis.
"Tobirama bukanlah orang yang sulit untuk ditaklukkan." lanjut Madara.
Ino membeku, sedikit demi sedikit ia mulai memahami jika Madara telah melakukan sesuatu pada Tobirama.
"Mulai sekarang dekatilah Hashirama dan pura-puralah mencintai dia agar Tobirama tidak berani mengangkat tangan padamu." ujar Madara.
Pandangan mata Ino berubah nanar.
"Jaga dirimu baik-baik." ujar Madara.
Airmata yang mengumpul dipelupuk matanya menyebabkan lensa matanya mengabur, perkataan Madara seolah bermakna bahwa pertemuan ini adalah yang terakhir kali.
"Hai." jawab Ino nyaris tak terdengar.
"Jangan tampakkan wajah ini ketika sedang bersama Hashirama." Madara menyentuh wajahnya.
"Hai."
"Percayalah, aku tidak akan melupakanmu." ujar Madara.
Momen ini tidak dapat membuat otak Ino berpikir, rasanya sulit sekali mencari kata-kata seperti apa yang pantas ia ucapkan pada Madara.
"Aku pergi." ujar Madara.
Ino hanya mengangguk dengan mulut mengatup, airmata pun jatuh membasahi pipinya, tanpa persetujuan Madara Ino bergerak memeluk Madara.
Tanpa diduga Madara membalas pelukannya, beberapa menit telah berlalu, mereka berdua pun sepakat melepaskan pelukan.
"Aku akan pergi." ujar Madara.
"Hai." jawab Ino sendu.
Setelahnya Madara melesat pergi, meninggalkan Ino yang menatap lekat kepergian Madara. Ino menghapus airmata dipipinya lalu pergi.
oOoOo
Ino duduk berhadapan dengan Hashirama.
"Ino.." panggil Hashirama.
"Hai." sahut Ino.
"Apakah kau bersedia mengizinkan aku untuk menikah lagi?" tanya Hashirama.
Ino diam, sejenak pikirannya melayang pada saat Madara memberi tahunya mengenai hal ini.
"Pemimpin desa Uzusio meminta hal itu sebagai syarat untuk menjalin persahabatan dengan Konoha." ujar Hashirama.
"Apa anda menyukai wanita itu?" tanya Ino.
"Ah tidak tidak! Sedikitpun aku tidak pernah tertarik padanya." ujar Hashirama salah tingkah.
Hashirama menggenggam tangan Ino.
"Wanita yang aku cintai hanya dirimu." ujar Hashirama.
"Aku tidak tenang tiap kali pergi meninggalkanmu sendirian didesa." ujarnya lagi.
Ino mengangguk-anggukan kepalanya, seraya membuka mulut dan berkata,
"Terimalah syarat itu Hashirama-sama."
Seketika Hashirama terdiam dengan mulut menganga.
"Aku percaya cintamu hanya untukku." ujar Ino lagi.
Hashirama masih membulatkan matanya tidak percaya.
"Kau sungguh-sungguh mengizinkanku?"
Ino mengangguk dengan wajah polos, Hashirama membawa tubuh Ino kedalam sebuah pelukan, sedangkan Ino tengah menatap lurus pada salah satu sudut ruangan, ia sibuk berpikir bagaimana nanti caranya harus berperilaku cemburu.
"Terima kasih, Ino." ujar Hashirama, Ino mengangguk.
o
o
o
o
"Kenapa kau mengizinkan Hashirama-sama menikah lagi?"
Ino mendecak kesal.
"Dia bilang hanya mencintaiku seorang." ujar Ino.
Ayahnya mendecih.
"Apa kau mempercayai kata-kata manis seperti itu?"
Ino mendelik kearah ayahnya.
"Bisakah Tousan berhenti membahas masalah itu, aku bosan mendengarnya." ucap Ino kesal.
Ayahnya mengerutkan dahi.
"Terserah, tetapi aku hanya khawatir jikalau Hashirama tidak dapat menepati janjinya."
"Aku akan meminta bercerai kalau Hashirama-sama mengingkari janjinya, Tousan." sahut Ino.
"Apa?!" pekik ayahnya.
Ino semakin risih dengan reaksi ayahnya.
"Kenapa Tousan berubah jadi berisik!? Aku percaya dengan Hashirama-sama, jadi aku tidak keberatan." ujar Ino lalu beranjak, dan saat akan berbalik Ino dikejutkan dengan kehadiran Hashirama.
Ino membelalakkan matanya, Hashirama pasti sudah mendengar pembicaraannya dengan ayahnya, tak mau menimbulkan reaksi konyol Ino pun segera berlari menuju kamar, meninggalkan ayahnya yang juga membeku ketika baru menyadari keberadaan Hashirama.
o
o
o
o
Ino tertawa nista, dari dalam kamar ia dapat mendengar jika ayahnya mencoba mencairkan suasana, namun Ino melotot ketika mendengar ayahnya menyuruh Hashirama masuk kedalam kamar.
Ino mencebikkan bibirnya, tak ia sangka ayahnya malah menjadikannya sebagai umpan untuk menghindar dari Hashirama. Ino kemudian duduk ditepi ranjang sembari memikirkan pose yang cocok untuk menyambut kedatangan Hashirama.
Tak berapa lama pintu kamar terbuka, Hashirama kemudian masuk. Ino menahan pandangannya agar tidak menoleh, Hashirama duduk disampingnya dan menggenggam tangannya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Hashirama.
Ino mengangguk.
"Apa kau marah padaku?" tanya Hashirama.
Ino hanya diam, dan memikirkan sikap apalagi yang harus ia lakukan agar ia terlihat cemburu dan marah.
"Ketahuilah, bahwa aku sangat mencintaimu." ujar Hashirama.
Ino masih diam.
Hashirama kemudian berdiri, dan tanpa diduga Hashirama duduk bersimpuh didepannya, melihatnya Ino jadi panik. Ia tidak tega melihat Hashirama merendahkan harga dirinya seperti itu.
"Maafkan aku." ujar Hashirama.
Ino pun segera mendekati Hashirama.
"Hashirama-sama jangan bertindak seperti ini, seorang pemimpin tidak pantas memohon seperti ini." ujar Ino.
Hashirama menatapnya penuh haru.
"Apa kau tidak marah padaku?" tanya Hashirama.
"Tidak." jawab Ino.
"Terima kasih." ujar Hashirama.
"Hai."
"Apa kau akan ikut pulang bersamaku?" tanya Hashirama.
Ino terlihat berpikir.
"Besok."
"Baiklah, aku akan pulang besok bersamamu." sahut Hashirama, Ino mendesah dalam hati.
Padahal ia masih ingin tinggal dirumah orang tuanya, malam ini ia berencana untuk mengunjungi tempat biasa bertemu dengan Madara, siapa tahu Madara berada disekitaran Konoha.
oOoOo
"Bagaimana kalian bisa kehilangan jejaknya!?" pekik Tobirama.
Dua ninja yang menjadi korban kemarahan Tobirama hanya menunduk diam.
"Kearah mana dia pergi?!" tanya Tobirama penuh amarah.
"Keluar desa." jawab salah satu ninja.
Tobirama semakin terlihat geram.
"Jadi kalian berhasil dikelabui olehnya?!"
o
o
o
o
Ditempat lain Ino sedang menikmati kebersamaan dengan seorang pria yang sangat dirindukannya, Ino menyandarkan kepalanya dibahu Madara. Ino membuka matanya ketika Madara menjauhkan kepalanya.
"Ada apa?" tanya Ino.
"Aku akan pergi sekarang." ujar Madara.
Ino terlihat cemberut.
"Aku akan menemuimu dilain waktu." ujar Madara.
"Sebaiknya kau pergi sekarang, Tobirama sedang menuju kemari." ujar Madara.
Ino membulatkan matanya.
"Nani?"
"Berdalihlah jika Tobirama menginterogasimu." ujar Madara.
Ino mengangguk.
"Pergilah." suruh Madara.
Ino pun melesat pergi, begitupun Madara.
Ino bergerak secepat mungkin, ia berpijak disetiap dahan pohon yang dilewati, hingga dalam jarak 4 meter ia bertemu dengan Tobirama.
"Berhenti!" teriak Tobirama.
Ino pun melompat turun kebawah dan diikuti oleh Tobirama dan dua ninja lain.
"Dari mana kau?" tanya Tobirama.
"Aku hanya berkeliling mencari tanaman."
Tobirama menatapnya sinis.
"Kau pikir bisa membodohiku!?" pekik Tobirama.
"Apa kau habis bertemu dengan Madara!?"
Ino menatap balik Tobirama.
"Kenapa kau selalu menuduhku melakukan hal yang tidak-tidak?! Aku sudah menjawab dengan jujur!" pekik Ino balik.
"DAMARE!" pekik Tobirama lebih keras.
Ino masih menatap Tobirama dengan tatapan kesal.
"Dengar!"
"Kuperingatkan kau sekali lagi." ujar Tobirama.
Ino mengalihkan tatapannya kearah lain.
"Suatu saat kalau terbukti kau bersekongkol dengan Madara atau memiliki hubungan menjijikkan dengannya, aku akan menghabisimu didepan ayahmu."
Ino berusaha menutupi rasa takutnya.
"Pulanglah!" bentak Tobirama.
Dengan ekspresi yang dibuat kesal Ino berlalu pergi.
o
o
o
o
Tap Tap Tap!
Hashirama yang sedang duduk bersama Mito Uzumaki terlihat terkejut, Ino menoleh sekilas kearah Hashirama lalu melangkah masuk.
BRAKK!
Suara daun pintu yang dibanting terdengar.
"Mungkin dia marah melihat kita mengobrol berdua." ujar Mito.
Hashirama menggaruk tengkuknya, "Yah~ mungkin."
"Aku akan menemuinya." ujar Hashirama yang beranjak lalu berjalan menuju kamar.
oOoOo
Sembari berjalan menyusuri jalan desa, Ino melipat kedua tangannya lalu menoleh kearah langit yang mulai cerah, setelah bangun pagi Ino langsung pergi keluar rumah, ia mengurai rambut panjangnya dan terlihat semakin indah ketika terkena hembusan angin.
Wajah cantiknya kembali kusut, setiap bertemu dengan orang-orang Senju ia jadi teringat pada sosok yang menjengkelkan.
Hari ini tepat sebulan kepergian Madara, dan selama itu pula Madara tidak pernah lagi mengunjunginya, Ino menjadi khawatir, ia takut jika terjadi sesuatu yang buruk pada Madara.
Hashirama pun sama, selama beberapa minggu ini waktu Hashirama banyak tersita oleh urusan desa, begitu banyak masalah yang menimpa Konoha sejak ditinggal pergi oleh Madara, terakhir kali yang ia dengar adalah Iwagakure memutuskan hubungan persahabatan dengan Konoha.
Dan masih banyak lagi masalah besar yang timbul akhir-akhir ini, dan Ino mengetahui jika hal tersebut diprovokasi oleh Madara.
o
o
o
o
Hashirama menautkan alisnya, Tobirama melangkah mendekati Hashirama lalu duduk diatas meja.
"Doushite?" tanya Hashirama.
"Sejak pagi hingga sekarang istrimu masih tertidur pulas ditaman Senju."
Kelopak mata Hashirama membesar.
"Apa?!"
Tobirama hanya menatap datar kakaknya.
"Kenapa kau tidak memberitahuku saat pertama melihatnya disana?" Hashirama pun segera beranjak.
Tobirama menautkan alisnya.
"Kenapa kau begitu mengistimewakan dia, Anii-chan?" tanya Tobirama heran.
Hashirama yang akan melangkah keluar pun berhenti.
"Dia istriku." jawab Hashirama.
"Apa akhirnya kau jatuh hati padanya?" tanya Tobirama dengan nada sinis.
"Ya." sahut Hashirama.
"Kau harus berhati-hati, gelagatnya sungguh aneh akhir-akhir ini." ujar Tobirama.
"Memang apa yang dia lakukan?" tanya Hashirama.
"Aku telah berkali-kali memergoki dia dengan Madara. Apa kau percaya narasi pertemuan itu merupakan satu hal yang kebetulan?"
"Istriku tidak mungkin memiliki hubungan dengan Madara!" hardik Hashirama.
Tobirama terdiam melihat raut marah diwajah kakaknya.
"Jika!" tatapan tajam Hashirama kini menyorot Tobirama.
"Jika... Mereka sering bertemu maka pihak yang harus disalahkan adalah Madara!" pekik Hashirama lalu pergi meninggalkan Tobirama yang masih terdiam.
o
o
o
o
Seakan terkejut Ino pun dengan buru-buru bangun, ia memekik terkejut ketika langsung bertemu dengan Hashirama.
"Hashirama-sama?" gumam Ino.
Hashirama menyematkan senyum.
"Kenapa tidur disini?" tanyanya.
Seakan ingat dengan sandiwaranya Ino pun memalingkan wajahnya.
Hashirama memegang tangannya.
"Bagaimana kalau kita berkencan sampai petang? Setelah pulang kita akan tidur bersama."
Ino mendesah pasrah.
Kenapa skenario yang bertujuan untuk menjauhkan diri dari Hashirama malah berbalik membuat ia dan Hashirama semakin dekat?
Padahal ia ingin menciptakan jarak dengan Hashirama.
Ino pun dengan perlahan mengangguk, tanda ia setuju.
"Ikuzo!" ajak Hashirama, Ino pun menuruti saja.
o
o
o
o
Ino memegangi beberapa tangkai bunga, sembari berjalan ia menjaga bunga tersebut agar tidak tersentuh oleh siapapun, Hashirama memetik bunga tersebut saat mengunjungi taman dikawasan klan Uchiha.
Kini mereka berdua masuk kegedung Hokage, beberapa Shinobi membungkukkan kepalanya ketika berpapasan dengan mereka, dan secara mengejutkan Hashirama merangkul bahunya.
Hashirama membawanya masuk kedalam ruangan Hokage, kemudian menyuruhnya duduk disebuah kursi, dengan patuh Ino melaksanakan permintaan Hashirama.
Ino masih mengatupkan mulutnya.
"Ino.." panggil Hashirama.
Ino menoleh tanpa memberikan sahutan.
"Apa kau kecewa padaku?" tanya Hashirama seraya tersenyum tipis
Ino diam sejenak, setelah lama berpikir akhirnya ia menggeleng.
"Apa kau membenciku?" tanya Hashirama.
Ino kembali menggeleng.
"Lalu kenapa kau mendiamkanku?" tanya Hashirama.
"Shiranai." sahut Ino.
Hashirama duduk mendekati Ino lalu memutar kursi yang diduduki Ino hingga kini Ino menghadap Hashirama. Tak lama setelahnya Hashirama duduk berlutut didepan Ino lalu menyatukan kedua tangannya tanda memohon.
"Maafkan aku." ujar Hashirama.
Ino pun membelalak, Ino kemudian turun dari kursinya dan mencoba membawa Hashirama untuk berdiri namun Hashirama menolak.
"Aku tidak akan berdiri sebelum kau memaafkan aku dengan tulus."
"Aku memaafkanmu Hashirama-sama, jangan seperti ini tidak baik jika anda dilihat bersimpuh dan memohon seperti ini." Ino memegang pergelangan tangan Hashirama.
"Berjanjilah untuk tidak mendiamkan aku lagi." pinta Hashirama.
Ino menghela nafas, "Baiklah." sahut Ino.
"Aku akan menjaga jarak dengan Mito bila sedang bersamamu." ujar Hashirama lagi.
Ino mengangguk, "Hai.." sahut Ino pasrah.
Didalam benaknya sedang berputar sebuah pertanyaan.
Kenapa masalahnya jadi bertambah rumit?
Niat Ino untuk pura-pura cemburu adalah untuk menutupi hubungannya dengan Madara, tetapi malah siasat itu berbalik menyerangnya dengan semakin mendekatkan Hashirama padanya.
Jadilah Ino dan Hashirama saling berpelukan dilantai.
Tak berapa lama sebuah ketukan dipintu menyadarkan mereka berdua, Hashirama pun melepaskan pelukannya pada Ino.
"Anii-chan." panggil Tobirama.
Saat mengetahui siapa yang datang Ino pun langsung mengatupkan mulutnya, ia malas dengan dengan sosok itu.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Tobirama.
Hashirama dan Ino pun berdiri dengan tangan saling merangkul.
"Kami hanya meluruskan sebuah masalah." ujar Hashirama.
Tobirama terlihat tidak suka.
"Hashirama-sama bolehkah aku keluar ruangan sebentar." ujar Ino.
Hashirama mengangguk, "Boleh, tetapi jangan pergi lama-lama."
"Hai." sahut Ino, lalu berjalan melewati Tobirama yang menatap lekat kearahnya.
o
o
o
o
Ino mengelilingi seluruh area gedung, ia berhenti disebuah ruangan paling ujung, sebelah tangannya mencoba membuka pintu tersebut namun terkunci, ditengah aksinya yang masih mencoba membuka pintu, Ino dibuat terkejut oleh sebuah tepukan dibahu, dan pada saat menoleh Ino melihat seorang ninja berdiri didepannya.
Belum sempat Ino bertanya seseorang tersebut sudah melontarkan kalimat yang menarik perhatiannya.
"Aku diutus Madara-sama untuk memberitahumu agar segera pergi dari tempat ini."
Ino terkejut.
"Benarkah?" tanya Ino.
Sesaat ia senang ketika mengira Madara akan menemuinya.
"Tempat ini sudah dipasang bahan peledak dan Madara-sama akan menginvasi Konoha malam ini." ujar Shinobi tersebut lalu pergi meninggalkan Ino.
Manik mata Ino bergetar, kalimat barusan terus terngiang dikepalanya, mengapa Madara berubah sejahat itu, benarkah Madara tega melakukannya?
Tidakkah Madara memikirkan nyawa yang tak berdosa akan ikut melayang?
Ino benar-benar merasa ketakutan, jika ia pergi dari tempat ini apakah Hashirama akan selamat?
Meski ia tidak mencintai Hashirama namun ia tidak tega jika sesuatu yang buruk terjadi pada Hashirama sementara ia mengetahui bahwa gedung ini telah terpasang sesuatu yang mengerikan.
Dengan langkah gemetar Ino pun berjalan meninggalkan area tersebut, nafasnya seolah tertahan.
o
o
o
o
Ino dengan bimbang memasuki ruangan Hokage, tanpa menghiraukan keberadaan Tobirama, Ino terus melangkah mendekati Hashirama.
"Ah dari mana Ino?" tanya Hashirama.
"Aku hanya berkeliling disekitar sini." jawab Ino.
Ino kemudian berdiri disamping meja, ia berusaha menyembunyikan kecemasannya agar tidak terbaca oleh Tobirama.
Jika ia memaksa membawa Hashirama keluar lalu bangunan ini meledak Ino pasti akan dicurigai, namun jika ia keluar dari sini seorang diri ia yakin bahwa seumur hidupnya akan dihantui oleh perasaan bersalah dan penyesalan.
Ino hanya diam dengan posisi tegak, perlahan matanya menatap kearah jendela untuk melihat cuaca diluar, Ino sebisa mungkin menenangkan hatinya yang kini menjadi gelisah, cuaca diluar sudah mulai gelap artinya waktu sore akan segera berganti malam.
Ino menoleh kearah pintu ketika sebuah Tim ninja Genin masuk kedalam ruangan, Ino pun semakin dibuat tidak tenang, anak-anak itu harus segera pergi dari tempat ini.
Bocah perempuan yang ada dikelompok tersebut tersipu saat menatapnya, dan Ino pun menautkan alisnya ketika seorang bocah lelaki yang lain terpaku saat menatapnya sedangkan satu bocah yang lain hanya diam dengan ekspresi wajah datar.
"Hahh~ Kirei Desu Yo~" ucap seorang anak perempuan.
Ino menatap Hashirama yang mengulas senyum penuh arti kearahnya. Ino menunjuk dirinya sendiri dan diangguki oleh Hashirama.
"Hey! Bersikap sopanlah kepada istri Hokage-sama!" ujar ketua dari kelompok tersebut.
"Hai~" jawab kedua anak tersebut serentak.
Ino pun tertawa dan anehnya tertawaan tersebut semakin membuat dua bocah disana terpana. Ino menutup mulutnya lalu mengalihkan tatapannya kearah jendela.
Saat menatap kearah luar Ino baru ingat, sesuatu yang ia takutkan sedang mengintai mereka semua, dalam hati Ino menginginkan anak-anak tersebut agar segera pergi dari sini.
"Kami telah menyelesaikan misi Shodaime-sama."
Ino masih betah menatap kearah langit yang mulai berubah gelap, Ino menarik nafasnya perlahan, dalam hatinya sedang menguatkan dirinya, ia sangat takut apabila potensi ledakan tersebut dapat menyebabkan dirinya tewas.
Ia belum mau meninggalkan dunia ini.
"Baik Hokage-sama."
Ino mengalihkan tatapannya pada Tim tadi, Ino menyematkan senyum palsu ketika dua bocah tersebut masih memandanginya, bahkan saat akan keluar dari ruangan bocah tersebut masih melirik kearahnya.
"Kemarilah." ujar Hashirama, dengan patuh Ino mendekat.
Ia merasa diperhatikan oleh Tobirama namun Ino abaikan, sekarang ia sedang panik namun sebisa mungkin ia sembunyikan.
"Ada apa denganmu?" tanya Hashirama.
Ino terkejut, dari mana Hashirama tahu jika hatinya sedang resah?
Ino menggeleng, "Daijoubu Desu."
"Seorang bocah bahkan terpesona pada wajahmu." goda Hashirama, Ino melirik Tobirama yang masih betah memperhatikannya.
Ino menggeleng, mengetahui ada sesuatu yang membuat Ino tidak nyaman. Hashirama pun menarik tubuh Ino untuk semakin mendekat.
"Anggap saja Tobirama hantu." ujar Hashirama tanpa menghiraukan ekspresi tidak terima dari Tobirama.
DUARR!!
Suara ledakan yang menggelegar menyebabkan gedung Hokage bergetar hebat, perhatian Hashirama dan Tobirama serta Ino teralih dan menatap lekat kearah pintu.
Setelahnya menyusul suara ledakan yang lain Hashirama bersiap akan meraih tubuh Ino dan bersiap akan melompat keluar jendela bersama Tobirama, hingga sebuah ledakan besar diruangan tempat mereka berpijak berhasil menghancurkan tempat tersebut.
Material bangunan yang hancur akibat ledakan mengenai tubuh Ino, seketika Ino kehilangan kesadarannya ketika puing bangunan menghantam dengan keras bagian kepalanya, Hashirama membawa tubuh Ino melompat keluar hingga berhasil memijak tanah.
Sesaat Hashirama bingung ketika Ino tidak bergerak dalam pelukannya dan Hashirama pun membelalak ketika melihat bercak darah memenuhi lengan bajunya.
"Ino.." panggilnya dengan nada bergetar.
"Hokage-sama!" panggil beberapa ninja namun tidak dihiraukan oleh Hashirama.
"Anii-chan Konoha sedang diserang!" seru Tobirama.
Hashirama tidak merespon sama sekali, Tobirama terkejut ketika melihat lengan Hashirama dibanjiri oleh darah yang mengalir dari kepala Ino.
"Anii-chan." panggil Tobirama.
Hashirama mengeluarkan sebuah cakra, semua ninja yang berkumpul disana hanya diam melihat Hashirama, beberapa ninja tipe sensor terpaku dengan besarnya cakra yang dikeluarkan Hashirama.
DUARR!
DUARR!
Beberapa ninja dan Tobirama menoleh kearah ledakan.
"Kalian pergilah untuk memastikan seperti apa kondisi disana!" perintah Tobirama.
"Baik." sahut beberapa ninja tersebut lalu pergi.
Hashirama masih mengalirkan cakranya hingga tubuh Ino mulai menggeliat, dengan gerakan perlahan Ino membuka matanya. Bibir Hashirama mengulas sebuah senyum.
"Yokatta~" ujar Hashirama, ia masih mengaktifkan cakra Ninjutsu penyembuhnya.
Tangan Ino bergerak menyentuh pipi Hashirama.
"Apa yang kau rasakan?" tanya Hashirama.
"Aku baik-baik saja." jawab Ino.
Hashirama pun menghentikan aktivitasnya, lalu menuntun tubuh Ino untuk duduk. Hashirama memalingkan pandangannya kearah ledakan.
"Madara membawa Kyubi menyerang desa." ujar Tobirama.
Hashirama menyentuh pundak Ino.
"Tetaplah disini, aku akan menghentikan Madara." ujar Hashirama, Ino mengangguk.
"Hai." sahut Ino.
Hashirama kemudian pergi meninggalkan Ino.
"Anii-chan!" panggil Tobirama.
"Tobirama! segera bawa Ino ketempat yang aman." perintah Hashirama lalu kemudian pergi.
Tobirama menatap Ino lama, lirikan tajamnya mengamati gerak gerik tubuh Ino. Tobirama berjingkok lalu menumpu bahu Ino dan tangan satunya menyelip dibawah lutut.
"Sejak tadi aku bertanya-tanya" ujar Tobirama dengan nada datar.
Ino memalingkan tatapannya kearah lain.
"Apakah kau mengetahui mengenai serangan ini atau tidak." ujarnya lagi.
Ino setengah mati mempertahankan ekspresi polos diwajahnya.
"Aku akan mengintrogasi mu setelah semua kekacauan ini selesai diatasi." ujar Tobirama.
Ino diam dengan bibir mengatup rapat, ia menutup kelopak matanya ketika dibawa pergi oleh Tobirama.
TBC
