Kecepatan berpindah Tobirama membuat tubuh Ino bagai diayun, kedua tangannya mengalung dileher Tobirama, siempunya leher sempat tertegun, dengan reflek pandangan mereka bertemu, Ino seketika membuang tatapannya kearah lain.

Tobirama berhenti disebuah bangunan paling besar, disana sudah berdiri beberapa ninja penjaga. Tobirama kemudian masuk lalu menurunkan Ino disebuah tempat tidur.

"Jangan kemana-mana." ujar Tobirama.

Ino mengangguk, "Hai."

DUARRRRRR! DUAARRRRRRR!

Suara ledakan tersebut mengguncang desa.

Ino menggigit bibirnya, ia benar-benar khawatir, ia takut terjadi sesuatu pada Madara dan begitupun Hashirama. Jika Hashirama mati pasti Tobirama akan sewenang-wenang padanya.

Ino dengan perlahan berdiri, lalu berjalan sambil bertumpu pada dinding, kakinya melangkah menuju pintu keluar, namun gerakannya dihalangi oleh dua orang Ninja.

"Maaf Ino-sama, kami diberi pesan untuk menjagamu dan tidak memperbolehkanmu keluar dari sini."

Ino tertunduk lesu.

"Tetapi aku ingin mengetahui kondisi terkini Hashirama-sama." ujar Ino.

Dua ninja tersebut secara bersamaan menggelengkan kepala.

"Maaf kami harus mematuhi perintah Tobirama-sama."

Ino mengepalkan tangannya lalu berjalan kembali ketempatnya.

o

o

o

o

Tobirama dan beberapa ninja lain sedang menyaksikan pertarungan besar dari gunung Konoha, ditengah-tengah kesibukan mereka sosok hitam yang berbentuk manusia berhasil mengalihkan perhatian Tobirama.

"Siapa kau!?" pekik Tobirama waspada.

Sosok hitam tersebut tertawa meremehkan.

"Kau memang ninja jenius tetapi berhasil dibodohi oleh bawahanmu sendiri!"

Tatapan Tobirama berubah marah.

"Kau sibuk mencurigai seorang gadis yang tidak tahu apa-apa, padahal orang kepercayaanmu adalah tangan kanan dari Madara!"

Ekspresi wajah Tobirama berubah semakin murka.

"Seseorang yang memasang peledak diKonoha adalah orang kepercayaanmu sendiri." ujar sosok hitam tersebut.

Tobirama menggeram marah, dengan ekspresi yang terbakar amarah Tobirama pun menyerang sosok tersebut. Namun ketika ditumpas sosok hitam tersebut berubah bentuk menjadi benda cair.

o

o

o

o

DUARRRR!

Untuk yang kesekian kalinya suara menggelegar mengguncang desa, getaran hebat yang mengguncang desa dengan sukses membuat para penduduk berteriak ketakutan.

Ino jadi semakin khawatir, tak tahan dikekang seperti ini Ino pun mengaktifkan cakra miliknya, ia berjalan menuju penjaga tersebut, kedua tangannya membentuk sebuah segel, ketika salah satu ninja penjaga tersebut menoleh kearahnya, Ino pun melancarkan aksinya.

"Ninpo Shinransin No Jutsu."

Dalam sekejap penjaga tersebut bergerak dan balik menyerang ninja penjaga yang lain, tak mau membuang waktu lebih lama Ino pun bergegas pergi.

Ia melewati beberapa ninja disana dan melancarkan jutsu Shinranshin ke beberapa ninja yang menjaganya, hingga ia berhasil lolos, lalu melompat keatap gedung dan kemudian melesat pergi.

Hingga sampai pada pintu keluar desa, Ino kemudian melompati pintu keluar lalu berpindah pada sebuah pohon, ia berpijak disebuah pohon lalu membuat sebuah segel tangan.

Kelopak mata Ino memejam, ia terkejut ketika melihat beberapa cakra mengelilingi area yang menjadi pertempuran antara Hashirama dan Madara.

Ino memfokuskan perhatiannya pada dua gelombang cakra yang besar, dengan panik Ino menghentikan jutsunya lalu lanjut melompati pohon menjulang didepannya.

Ditengah perjalanannya Ino dikejutkan dengan sebuah ledakkan besar yang berasal dari arah yang ingin ia tuju, dan berhasil mengguncang pepohonan sekitar termasuk yang ia sedang pijak, setelah itu tidak ada lagi ledakkan.

Ino pun dengan segera berlari menuju tempat asal ledakan, dalam benaknya memikirkan kondisi Madara serta Hashirama.

o

o

o

o

Ino sampai pada area pertempuran, saat tiba Ino berhenti berpijak disebuah pohon, dari jarak sejauh ini ia masih bisa melihat jika Tobirama sudah lebih dulu tiba disana.

Dilihatnya Madara tergeletak dengan tubuh terhunus pedang, serta Hashirama yang sudah tidak sadarkan diri diangkat oleh Tobirama dan beberapa ninja lain.

Madara digotong oleh beberapa ninja dan diletakkan ditepian sungai, tak terasa lelehan airmata membasahi pipi Ino, seseorang yang paling ia rindukan telah terbaring kaku.

Andai saja ia datang lebih cepat ia dapat menyentuh Madara untuk terakhir kali. Ino menghapus airmatanya lalu berbalik pergi menuju Konoha.

o

o

o

o

Semua penduduk desa telah berkumpul, mereka membuka jalan saat melihatnya, Ino pun memasuki rumah sakit. Langkah kaki Ino diiringi oleh tatapan penuh duka, kedua kakinya berhenti ketika melihat Mito Uzumaki tengah berdiri disebuah ruangan yang tertutup rapat.

Ino memalingkan tatapannya kearah lain, dan berjalan menuju jendela yang ada disekitar sana, Mito terlihat ingin menyapanya namun diabaikan oleh Ino.

Langkah kaki terdengar mendekatinya, Ino mendesah frustasi, sesungguhnya ia tidak mau berinteraksi dengan siapapun, apalagi Mito.

"Hashirama akan baik-baik saja kan?" tanya Mito, Ino mengabaikan Mito.

Lama diam akhirnya Mito kembali memulai pembicaraan.

"Apa kau membenciku?" tanya Mito.

Ino tersenyum sinis.

Lama melakukannya Ino pun tersadar, heh mengapa malah dirinya bertindak seolah membenci Mito?

Padahal sebenarnya ia tidak peduli dengan hal tersebut. Ino mengatupkan bibirnya.

"Aku akan berlaku sama jika berada diposisimu." ujar Mito.

Ino masih mengatupkan mulutnya.

"Aku seolah merebut Hashirama darimu, tetapi aku tidak bermaksud seperti itu." ujar Mito lagi.

"Aku sebisa mungkin bersikap bijaksana ketika Hashirama lebih banyak menghabiskan waktu denganmu."

Pikiran Ino melayang memikirkan Madara, ia memikirkan bagaimana caranya dapat melihat jenazah Madara.

"Tetapi aku tidak menginginkan kita bermusuhan, justru aku ingin menjalin hubungan pertemanan denganmu." ujar Mito.

Ino diam termenung, pikirannya masih dipenuhi oleh sosok Madara, saat memikirkan pertemuan terakhir mereka Ino tanpa sadar meneteskan airmata dan kejadian tersebut berhasil menyita perhatian Mito.

Cklkk!

Pintu ruangan terbuka, disana teknisi medis keluar dengan berjalan menuju kearah mereka. Ino masih betah dengan posisinya yang bersandar didekat jendela.

Mito beberapa kali melirik Ino, seorang tenaga medis tersebut bingung ingin menghampiri yang mana.

"Aa.." ujarnya bingung.

"Begini nona Mito dan nona Ino." tenaga medis tersebut menggaruk tengkuknya.

"Hashirama-sama baik-baik saja, tidak terdapat luka yang serius maupun yang fatal."

"Tubuh Hokage-sama benar-benar istimewa, sel tubuhnya bahkan dapat meregenerasi sendiri sel-sel yang rusak, sehingga tidak memerlukan tindakan medis."

Mito menatap Ino yang memandang tenaga medis tersebut dengan tatapan kosong.

"Hashirama-sama hanya perlu beristirahat untuk memulihkan seluruh tenaganya." ujarnya.

"Para istri beliau dapat masuk dan menemani." ujarnya canggung lalu kemudian pamit undur diri.

Tanpa sadar Mito berlari mendahului Ino namun saat teringat sesuatu Mito memelankan langkahnya, dan berjalan bersama Ino menuju ruang rawat.

Secara bersamaan mereka berdua masuk, dan melihat Hashirama tengah terbaring dan tertidur pulas, beberapa alat medis terpasang ditubuh Hashirama.

Ino dan Mito berjalan mendekati Hashirama, tanpa sadar Mito mengusap kepala Hashirama dan menempelkan wajahnya diwajah Hashirama.

Ino pun memalingkan tatapannya, seakan sadar Mito pun menyudahi perlakuannya, setelahnya Ino pun berbalik meninggalkan Mito bersama Hashirama.

"Ino-san" cegah Mito, Ino mendecak kesal.

Ia menoleh tanpa menyahut.

"Mau kemana? Saat bangun Hashirama pasti akan mencarimu." ujar Mito, Ino tersenyum sinis.

"Tidak mungkin. Hashirama-sama lebih senang melihatmu disini daripada aku." ujar Ino setengah emosi.

Dalam hatinya dilanda perasaan bingung, kenapa ia malah jadi kelepasan memarahi Mito padahal sebenarnya ia tidak cemburu pada Mito.

Ino kemudian berlari dan pergi meninggalkan ruangan tersebut.

Lama berlari akhirnya ia berhenti disebuah lorong yang sepi, Ino mengatur nafasnya lalu menyandarkan kepalanya didinding, seraya memejamkan matanya Ino menarik lalu menghembuskan nafas

"Kau tidak menjenguk Hashirama Anii-chan?" tanya sebuah suara.

Dengan berat hati Ino membuka matanya lalu menatap Tobirama.

"Bukankah kehadiran Mito sudah cukup?" sahut Ino.

"Anii-chan lebih menyayangimu." ujar Tobirama.

Ino tertawa sinis lalu menatap Tobirama.

"Apa menurutmu dua orang wanita bisa damai dan tenteram ketika hidup satu atap dengan orang yang dicintai?!"

"Apa menurutmu aku baik-baik saja ketika harus dipaksa untuk membagi cinta dengan orang lain!?"

"Apa kau tidak memahami bahwa setiap saat aku selalu sakit hati!?" ujar Ino yang tidak membiarkan Tobirama menyahut kata-katanya.

"Kenapa selalu seorang Ino yang salah dimata semua orang!? Kenapa harus Ino yang disuruh bersabar dan patuh?!"

Ino melampiaskan kesedihan dan dukanya lewat nama Hashirama, ia membiarkan airmatanya mengalir.

"Kenapa ruang gerak Ino harus dibatasi karena dikhawatirkan akan berkhianat?! Kenapa semua orang tidak bisa mengkritik Hashirama-sama yang memutuskan untuk menikah lagi!?"

"Kenapa harus aku yang selalu disalahkan!?"

Ino kemudian melampiaskan tangisnya sekeras mungkin hingga membuat Tobirama membisu.

"Bagaimana caranya menahan rasa sakit ini, bagaimana caranya mengalihkan rasa cemburu ini!? Terkadang aku ingin melarikan diri karena aku tidak sanggup menjalani semua ini!" ujar Ino sembari menangis.

Volume tangisan Ino semakin bertambah keras, dalam hatinya kini tertawa, Tobirama telah termakan sandiwaranya.

o

o

o

o

Ino menghapus airmatanya, ia berdiri disebuah pohon sambil mengamati tempat dimana Madara dimakamkan. Ia ingin sekali kesana tetapi ia takut, karena area tersebut tidak lepas dari pengawasan Tobirama.

Ino menggigit bibirnya untuk menahan tangis, setelahnya Ino berbalik pergi menuju sebuah tempat yang jauh dari tempat tersebut.

Ino melompati beberapa pohon hingga sebuah sosok berwarna hitam menghentikan gerakannya, Ino nyaris terjatuh karena saking terkejutnya.

"Siapa kau?" tanya Ino sarkastik.

Tanpa menjawab sosok tersebut menyeringai lalu menerjang tubuh Ino hingga kini sosok tersebut melingkupi seluruh tubuhnya, tanpa bisa melawan Ino pun terdiam pasrah ketika tubuhnya bergerak dengan sendirinya.

o

o

o

o

Tobirama memasuki ruang tempat Hashirama dirawat, dengan ekspresi datar ia melipat kedua tangannya didepan dada. Mito duduk disebelah Hashirama.

"Dimana Ino?" tanya Hashirama.

Tobirama masih betah diposisinya.

"Tobirama?" panggil Hashirama.

"Dia menghilang dan sedang dicari." sahut Tobirama.

Hashirama membulatkan matanya dan mencoba berdiri namun dihentikan oleh Mito.

"Sebaiknya kau beristirahat dulu ,Anii-chan." nasehat Tobirama.

"Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya?" ujar Hashirama panik.

Tobirama menghela nafas.

"Aku akan mencarinya dan tidak akan pulang sebelum wanita kesayanganmu itu ditemukan."

"Jadi beristirahatlah Anii-chan." ujar Tobirama.

Hashirama menghela nafas lega.

"Aku pergi dulu."

"Berhati-hati lah Tobirama."

Tobirama tersenyum sinis. "Hm!"

oOoOo

Ino terdiam kaku, ia melihat dengan jelas pria yang dicintainya tengah duduk bersila disebuah batu dengan keadaan yang baik-baik saja.

"Madara~" gumam Ino tidak percaya, ia menangis haru.

Madara tampak diam, dan memandangnya dengan tatapan dingin. Ino sempat heran, namun ia abaikan, ia pun berlari mendekati Madara.

Namun seketika dihentikan oleh Madara yang menjulurkan telapak tangannya tanda tidak mau didekati, Ino pun berhenti ditempatnya seraya masih menatap Madara, ia merasa sedikit kecewa dengan perlakuan Madara barusan.

"Ada apa? Apa tubuhmu masih sakit?" tanya Ino.

Madara melipat kedua tangannya.

"Segeralah pergi dari sini." ucap Madara datar.

Bagai tertimpa sebuah batu besar, kalimat barusan dengan sukses membuat nafas dikerongkongannya tercekat.

"A - Apa maksudnya Madara?" tanya Ino sedih.

"Kau sebaiknya pergi dari sini." ujar Madara.

Ino merasakan kedua matanya mulai memanas.

"A - Apa salahku?" tanya Ino dengan nada serak.

"Mari lupakan hal yang pernah terjadi diantara kita." ujar Madara.

Airmata pun jatuh membasahi pipi Ino.

"Tetapi aku merindukanmu~" ujar Ino terisak.

"Sebaiknya bawa pergi semua perasaanmu dari sini." ujar Madara tanpa ekspresi.

Ino pun menangis.

Ia kemudian mendekati Madara lalu duduk berlutut sembari memegang kedua tangan Madara.

"Tetapi aku mencintaimu?!" ujar Ino sesenggukan.

Madara menatapnya dingin.

"Aku pikir kau benar-benar sudah mati, aku menangis meratapi kepergianmu, aku sedih ketika tidak bisa mendatangi makammu karena Tobirama menaruh penjaga disana." Ino menatap Madara yang menatap lurus kedepan.

"Saat tadi melihatmu dalam keadaan yang baik-baik saja, aku sangat bahagia."

Madara kemudian berdiri dan berjalan melewati Ino, dengan tangisannya Ino beranjak lalu memeluk Madara dari belakang.

"Kenapa kau berubah?" tanya Ino sambil menangis.

"Apa kau sudah tidak mencintaiku?" tanya Ino lagi.

Madara melepaskan kedua tangannya lalu berbalik menghadap Ino.

"Apa kau pikir kebersamaan kita selama ini didasari oleh rasa cinta?" ujar Madara lalu tertawa meremehkan.

Ino terdiam, kalimat barusan memaksa otaknya untuk memahami sesuatu.

"Aku tidak pernah mencintaimu." ujar Madara.

Tubuh Ino membeku, tepat seperti dugaannya, makna perkataan Madara adalah hal tersebut.

"Kau hanyalah tempat untuk melampiaskan hasrat yang menjijikkan" ujar Madara.

Ino kembali menangis.

"Kau hanyalah penghalang." ujar Madara.

Madara meminta sesuatu pada sosok hitam yang sedari tadi menyaksikan mereka. Hingga sosok tersebut memberikan sebuah pedang pada Madara.

Ino masih menangis.

"Katanya Hashirama seorang Shinobi terkuat kan?" ujar Madara lalu memegang erat pedang tersebut.

"Sekali lagi aku ingin menguji kekuatan Hashirama"

Dalam tangisnya Ino melihat pedang tersebut diayunkan Madara kearahnya.

"Jika Hashirama tidak dapat menyembuhkan luka ini."

Jlebb!

Madara menghunuskan pedang tersebut kearah perutnya, seketika rasa sakit menghujam tubuhnya, dan menyebabkan sesuatu menerobos keluar dari kerongkongannya, Ino terdiam ketika mulutnya memuntahkan darah.

"Berarti Konoha hanya dipimpin oleh Shinobi bodoh yang tidak berguna." ujar Madara.

Tak dapat menumpu tubuhnya, Ino pun jatuh terduduk dihadapan Madara. Ditengah-tengah kesadarannya Ino menatap sendu kearah Madara, dan berusaha menyentuh kaki Madara hingga akhirnya terbaring ditanah.

o

o

o

o

"Hashirama-sama!" pekik Inoichi tergesa.

Hashirama yang tengah disuapi oleh Mito pun menoleh dengan tatapan terkejut.

"Otousan."

"Ino ditemukan dalam kondisi yang sangat buruk."

Hashirama membulatkan matanya.

"Apa!?" pekik Hashirama panik.

"Ino ditemukan dalam keadaan tertusuk pedang." ujar ayah mertuanya dengan mimik wajah bercampur aduk.

Mendengarnya Hashirama pun langsung bangkit, Hashirama berlari melewati Inoichi.

"Dimana Ino?!" ujarnya panik.

Tanpa banyak bicara Inoichi pun berlari menuju ruang tempat Ino ditangani.

Saat sampai diruangan tersebut Hashirama membelalak kaget, dengan panik Hashirama mendekati Ino, sebuah cakra mengalir dari tangannya lalu menutupi luka diarea yang mengeluarkan darah, sembari memfokuskan perhatiannya pada luka, dengan gerakan perlahan Hashirama mencabut pedang yang tertancap pada luka tersebut.

Hashirama mengerahkan seluruh cakranya untuk menyembuhkan luka tersebut, hingga tak berapa lama luka ditubuh Ino mulai tertutup, Hashirama meraba seluruh tubuh Ino hingga Ino mulai membuka matanya.

"Ino.." gumam Hashirama.

"Kau sudah sadar?" tanya Hashirama.

Ino diam tak menjawab.

Iris matanya menjelajahi seisi ruangan, ia menatapi ayah dan ibunya, serta Tobirama yang berdiri diujung pintu.

Setelahnya Ino kembali memejamkan mata.

oOoOo

Ino duduk disebuah perbukitan sembari menikmati semilir angin yang menyapu permukaan wajahnya. Pikirannya kembali berputar pada saat kejadian Madara mengusirnya.

Rasa sakit yang amat sangat ketika ditusuk sebuah pedang tidak sebanding dengan rasa sakit dihatinya ketika Madara mengatakan tidak pernah mencintainya.

Airmata perlahan mengalir dari kelopak matanya.

Wusshh!

TAP TAP!

Ino melirik sekilas kearah sosok yang mendatanginya. Saat melihat siapa yang datang Ino dengan segera mengalihkan pandangannya.

"Ayo pulang." ujar Tobirama.

Tanpa menyahut Ino berdiri.

"Anii-chan menyuruhku untuk membawamu pulang, dia ingin mengajakmu bepergian setelah selesai rapat." ujar Tobirama.

Ino hanya diam.

"Ayo." ajak Tobirama.

Ino kemudian mengikuti arah gerak Tobirama, ia memijaki pohon yang dilalui Tobirama, tatapan kosongnya bahkan tidak menyadari tengah melompat kearah pohon yang ada didepannya.

BUKK!

Ino menghantam sebuah pohon hingga menyebabkannya jatuh kebawah, namun tanpa diduga Tobirama meraih tubuhnya.

"Apa yang kau pikirkan?" tanya Tobirama.

Ino hanya diam.

Tak mendapat jawaban dari Ino, Tobirama pun bergerak melanjutkan perjalanan, dengan pandangan lesu, Ino memperhatikan pemandangan sekitar.

o

o

o

o

Masih dengan mulut mengatup Ino berjalan bersama Tobirama, Ino ikut berhenti ketika Tobirama berhenti. Pintu rumah terlihat terbuka, dan pada saat menoleh kedalam rumah, tampak Mito dan Hashirama saling berpelukan.

"Aku sering merasa mual akhir-akhir ini, saat diperiksa oleh dokter ternyata aku sedang mengandung." Mito berujar dengan nada ceria, lalu saling melepaskan pelukan dengan Hashirama.

Ino memalingkan wajahnya ketika dilirik oleh Tobirama.

"Benarkah?" Hashirama terlihat gembira.

Mito mengangguk.

"Sebentar lagi aku akan menjadi ayah.." ujar Hashirama dengan mata berbinar.

Malas melihat adegan yang membosankan tersebut, Ino pun berbalik pergi.

TBC

Hello my lavs~

Hope you like it!