Warna keemasan pada langit menarik perhatian Ino, ia menghentikan langkahnya untuk sekedar menikmati pemandangan sore.
Ino memejamkan matanya seraya menghirup udara disekitar.
Tak berapa lama beberapa orang asing muncul secara tiba-tiba dihadapannya, dengan tatapan panik Ino mencoba melarikan diri, namun terlambat, gerakannya berhasil dihentikan oleh orang-orang tersebut.
Seorang ninja yang tak ia kenal tampak membuat sebuah segel, hingga dalam sekejap suasana disekitar langsung berubah, area sekitar mendadak ditutupi oleh kabut tebal.
"Kau berada dalam pengaruh Genjutsu."
Bagaikan kilat Ino kini berpindah disebuah tempat yang dipenuhi oleh unsur berwarna putih.
"Kami hanya menjalankan perintah untuk membawamu." ujar sebuah suara yang asalnya tidak diketahui.
Ino memandangi tempat tersebut, ia tidak menemukan celah maupun sudut untuk melarikan diri.
o
o
o
o
Hashirama berdiri bersama Inoichi, sembari memperhatikan langit yang gelap, tatapan penuh khawatirnya mengamati tiap orang yang lewat.
"Sepertinya Ino tidak akan pulang." ujar Inoichi semakin resah.
"Aku sungguh tidak menyadari kedatangannya waktu itu, Tousan." ujar Hashirama.
"Mungkin dia sangat marah padaku." ujar Hashirama lagi.
Inoichi menghela nafasnya.
"Aku telah mengutus beberapa ninja untuk melakukan pencarian." ujar Hashirama.
o
o
o
o
Tubuh Ino terbaring diatas tempat tidur, kelopak matanya terlihat bergerak, seakan terganggu dengan biasan matahari Ino pun membuka kelopak matanya.
Dengan gerakan lemas Ino mencoba bangkit, dan pada saat duduk Ino dikejutkan dengan pemandangan yang mencengangkan, didekat jendela terlihat sosok Madara yang tengah duduk memperhatikannya.
Tidak yakin dengan penglihatannya Ino pun mengusap matanya beberapa kali, namun saat membuka mata sosok tersebut masih berada disana, Ino menatap iris mata Madara yang berubah menjadi sebuah Sharingan.
Ino menahan tangisnya, ia lalu mengalihkan tatapannya kearah lain.
"Kau sudah bangun?" tanya Madara.
Sebisa mungkin Ino menahan pandangannya agar tidak menatap Madara. Suara langkah pun terdengar mendekat, dengan tubuh bergetar Ino mengepalkan tangannya.
"Maaf atas kejadian waktu itu." ujar Madara.
Ino menggigit bibirnya agar sebuah isakan tidak keluar.
"Aku terpaksa melakukannya untuk menutupi prasangka buruk orang-orang Senju terhadapmu."
"Sehingga aku bisa membawamu tanpa dicurigai oleh para petinggi desa."
Tangis Ino berhenti, ia menoleh kearah Madara yang kini duduk didekatnya.
"Kita bisa bersama tanpa ada gangguan." ujar Madara.
Ino masih menatap Madara.
"Apa yang ini masih sakit?" tanya Madara seraya meraba bagian perutnya.
Ino menggeleng.
"Maafkan aku.." ujar Madara.
Masih dengan tatapan kaku Ino mengangguk.
"Apa kau masih marah padaku?" tanya Madara.
Lama berdiam diri Ino akhirnya menumpahkan tangis, Madara menggenggam tangannya.
"Kupikir perkataanmu yang waktu itu benar.." ujar Ino sambil menangis.
Madara menghapus airmata dipipinya.
"Satu-satunya pilihan untuk membawamu tanpa ada yang curiga adalah dengan cara itu."
Ino tertawa haru ditengah tangisannya.
"Kupikir kau benar-benar tidak mencintaiku." ujar Ino serak.
Ino masih menumpahkan tangisnya, setelah berapa lama Ino pun berhenti menangis, Madara membelai puncak rambutnya.
"Apa kau sudah merasa lebih baik?" tanya Madara.
"Hai." jawab Ino masih sesenggukan.
Ino mengusap airmata dipipinya, ia terpaku ketika Madara menyentuh pergelangan tangannya, dan Ino semakin membeku ketika bertemu pandang dengan Madara.
Degub jantung Ino semakin cepat ketika mengerti apa yang diinginkan Madara, Ino mematung ketika Madara mulai menurunkan bajunya.
Tanpa ada sebuah pertanyaan, bibir mereka berdua pun bertemu, saling mengecup dan saling melumat. Kegiatan tersebut semakin memanas ketika Ino mencengkeram bahu Madara.
Madara merebahkan tubuhnya, dan melanjutkan adegan ciuman yang sempat terhenti, sembari saling melepaskan baju. Ino melepaskan baju yang menyelimuti area bawahnya hingga berhasil diloloskan oleh Madara.
Ciuman mereka terhenti, Ino dan Madara saling menatap, deru nafas yang terdengar kini menerpa wajah mereka berdua, dan menarik mereka untuk melakukan kegiatan yang lebih intim.
Ino bergerak pasrah ketika kedua pahanya dilebarkan, sesuatu yang terlihat menegang mulai memasuki area selangkangannya. Ino menutup matanya, menikmati tiap gesekan yang keluar masuk pada liang vaginanya.
"Aaahh~" desah Ino.
Gerakan tersebut terhenti ketika Madara menukar posisi, dengan Ino yang berada diatas, Ino mendongakkan wajahnya ketika merasakan sesuatu kembali memasuki tubuhnya.
Tatapan penuh gairahnya bertemu dengan Madara, Ino menumpu kedua tangannya didada Madara. Ia bergerak turun naik ketika pria itu memegang pinggangnya.
Begitu lembut dan memabukkan, Ino dibuat mendesah tak karuan.
o
o
o
o
Ino terbangun, matanya menatap area sekitar dan berhenti ketika melihat Madara tengah berdiri menatapnya, tanpa mengenakan baju dan hanya mengenakan sebuah celana.
"Madara.." ujar Ino.
Madara hanya tersenyum, "Makanlah kau pasti lapar."
Ino melihat beberapa makanan sudah tersedia diatas meja lalu kembali mendaratkan pandangannya pada Madara, sesaat Ino tertegun pada sebuah jahitan yang ada didada kiri Madara.
Mengetahui arah pandangnya kemana Madara pun bergeming, "Ini bekas luka saat bertarung dengan Hashirama."
"Benarkah?" tanya Ino.
Madara mengangguk, "Itu tidak terlihat seperti luka." ujar Ino.
Madara tidak menjawab.
Ino kemudian duduk dan membiarkan selimut terlepas dari tubuhnya, tanpa ia sadari Madara tengah terpaku pada tubuh polosnya.
Menyadari apa yang menjadi pusat perhatian Madara, Ino pun menyilangkan kedua tangannya didepan dada.
"Jangan menatapiku seperti itu.." Ino mengerucutkan bibirnya.
Tanpa menyahuti kalimatnya Madara menarik tangannya untuk berdiri. Ino terkejut ketika Madara memutar tubuhnya lalu memeluknya dari belakang.
Ino menahan geli ketika Madara mencumbu lehernya.
"Madara" gumam Ino.
Madara merapatkan tubuhnya pada meja hingga membuat Ino mau tak mau menahan tubuhnya dengan memegang pinggiran meja.
Sesuatu yang tak asing terasa menyentuh bagian belakangnya, mengerti dengan keinginan Madara, Ino pun mengatur posisi tubuhnya, hingga sesuatu tersebut kembali memasuki liang vaginanya.
Adegan panas kembali terjadi.
oOoOo
Hashirama memperhatikan tiap penduduk desa yang berlalu lalang, tatapan sedihnya mengamati beberapa wanita yang mondar mandir dibawah sana.
Hembusan angin menerpa Hashirama, hingga jubah Hokage yang digunakannya tertiup mengikuti arah angin.
"Anii-chan." interupsi Tobirama.
Hashirama menoleh dengan tatapan cemas.
"Sampai saat ini belum ada yang bisa mendeteksi keberadaannya."
Hashirama menatap kearah langit.
"Apa pencariannya dihentikan saja." ujar Tobirama.
"Akan lebih baik jika statusnya dijadikan sebagai orang hilang."
Sebuah buliran airmata mengalir dipipi Hashirama.
"Anii-chan?" panggil Tobirama.
Punggung tangan Hashirama bergerak mengusap pipinya, melihat hal tersebut Tobirama mengatupkan mulutnya.
oOoOo
Gejolak mual membuat Ino terbaring lemah diatas tempat tidur, sejak kemarin Ino merasa kepalanya berputar.
Pintu terbuka.
Ino tidak mau menoleh, karena jika sedikit saja bergerak rasa mual itu semakin menyiksanya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Madara.
Ino tidak merespon, Madara pun mendekatinya lalu menggerakkan tubuhnya agar berbaring telentang.
Ino menutup mulutnya.
"Apa kau sakit?" tanya Madara.
"- Hai." sahut Ino susah payah.
Madara ikut berbaring disampingnya lalu membelai rambutnya.
"Mungkin rasa sakitmu bisa dihilangkan dengan melakukan itu." ujar Madara.
Ino menggeleng lalu kemudian muntah kosong. Madara terpaku dengan kejadian barusan, Madara kembali duduk.
"Aku akan memanggilkan dokter untukmu." tanya Madara.
"Bukankah kau menyuruhku untuk tidak berinteraksi dengan orang-orang desa?" tanya Ino.
"Jangan khawatir, dia pengikutku." sahut Madara, kemudian beranjak dari tempatnya lalu berjalan keluar.
Ino memijit area perutnya, rasa mual yang menderanya benar-benar menyiksa, Ino menutup wajahnya dengan bantal.
10 menit kemudian terdengar beberapa langkah masuk dan kemudian mendekatinya.
"Ini istriku." ujar Madara.
Orang tersebut mendekati Ino.
"Perbaiki posisimu, Baasan ini akan memeriksamu." perintah Madara.
Ino pun mematuhi perkataan Madara, ia berbaring telentang.
"Sudah berapa lama kalian menikah?"
Ino hanya diam.
"Sudah dua bulan lebih." sahut Madara.
Wanita paruh baya tersebut mengangguk-angguk.
"Apa kalian rutin melakukan hubungan intim."
Ino segera memejamkan matanya, sedangkan Madara masih betah dengan ekspresi dinginnya.
"Ya." jawab Madara tanpa ekspresi.
"Sejak kapan anda merasa pusing dan mual nyonya?"
Ino membuka matanya.
"Sejak dua hari ini." jawab Ino.
Wanita tersebut meraba nadi ditangannya, setelahnya wanita tersebut meraba bagian perutnya, hingga tangan wanita tersebut berhenti pada perut bagian bawah.
"Apa ini sakit?" tanya wanita tersebut.
Ino mengangguk. "Hai."
Wanita tadi melepas pakaian yang menutup area sensitif Ino lalu menekuk kedua kakinya, tanpa meminta izin darinya wanita tersebut memasukkan jarinya hingga membuat Ino nyaris menjerit.
"Aakk!" ringis Ino.
Ia menatap Madara.
"Chotto, tahan sebentar." ujar wanita tersebut seraya menatap pada organ intimnya.
Ino menggigit jarinya untuk menahan sakit. Jari tangan wanita itu berputar didalam liangnya, dan Ino hampir menjerit ketika wanita itu memasukkan jarinya semakin dalam.
"Hai, sudah selesai." ujarnya, Ino pun menutup area sensitifnya dengan selimut.
"Istri anda sepertinya sedang mengandung." ujar wanita tua tersebut.
Ino tersenyum kearah Madara yang masih mempertahankan ekspresi datarnya, tak mendapat respon dari Madara Ino pun menghentikan senyumnya.
Setelahnya Madara serta wanita tersebut pergi, meninggalkan Ino yang bingung sekaligus senang.
o
o
o
o
"Apa kau baik-baik saja dengan keberadaan Kyubi?"
Sembari menyamankan posisi duduknya, Mito duduk berhadapan dengan Hashirama.
"Jangan khawatir, aku bisa menanganinya Hashirama." ujar Mito.
"Sudah kuduga, kau memang wanita yang paling hebat." puji Hashirama.
Mito tersipu malu.
"Apa pertemuan antar Kage jadi dilaksanakan?" tanya Mito.
Hashirama mengangguk.
"Pertemuan tersebut akan dilaksanakan di Hi No Kuni." ujar Hashirama lalu kembali diam.
"Apa masih belum ada kabar tentangnya?" tanya Mito ambigu.
Namun tanpa dijelaskan Hashirama mengerti siapa yang dimaksud Mito, Hashirama hanya memberikan gelengan kepala.
"Maafkan aku Hashirama, waktu itu aku sangat bahagia. Padahal sebelumnya aku berniat ingin menceritakannya saat kita sedang berduaan."
"Tidak apa-apa." ujar Hashirama.
Hashirama memasang wajah prihatin.
"Aku hanya berharap jika Ino masih hidup. Aku rela dibenci olehnya asal dia baik-baik saja." ujar Hashirama.
"Apa mungkin dia masih semarah itu?" tanya Mito.
"Tobirama mengatakan jika Ino cemburu denganmu, dia bilang pernah ingin lari karena tidak sanggup hidup berdampingan denganmu."
Mito menghela nafasnya.
"Mungkin dia benar-benar melarikan diri."
Hashirama memalingkan pandangannya kearah lain, tak berapa lama sebuah buliran airmata menuruni pipinya.
"Apa kau masih berharap dia kembali padamu?" tanya Mito tidak suka.
"Ya, aku merasa bersalah dan takut kehilangan dia." ujar Hashirama.
Mito mendecih.
"Jika dia memutuskan untuk pergi berarti dia sudah siap dengan konsekuensi yang akan dihadapi di hidupnya." ujar Mito sarkas.
Dahi Hashirama berkerut, tatapannya berubah tidak suka.
"Apa maksudnya itu?"
"Berhenti memikirkan Ino, jika dia sudah tidak tahan hidup diluar maka dia akan kembali pulang!" ujar Mito dengan nada meninggi.
"Dia pasti sengaja melakukannya, agar kau sibuk dan terus mencari-cari keberadaannya."
Hashirama menatapnya tajam.
"Setelah menikah dengan Ino, aku tidak pernah berpikir untuk menikah lagi." ujar Hashirama.
Mito pun membisu.
"Yang menyuruhku untuk menerima permintaan ayahmu adalah Ino."
"Karena dia percaya bahwa cintaku padanya tidak akan pernah berubah."
Mito terlihat kesal.
"Jika dia cemburu atau marah padaku itu wajar."
"Dan aku akan terus mencarinya."
Mito kemudian berdiri lalu pergi meninggalkan Hashirama yang menatap sendu kearah luar.
oOoOo
Dua bulan telah berlalu, Ino sedang duduk dan memperhatikan beberapa orang yang berlalu lalang. Meski hidupnya seakan terkurung didalam rumah tetapi Ino bahagia, ia tidak keberatan dikekang oleh Madara karena kasih sayang yang diberikan Madara sudah sangat cukup untuknya.
"Ino." ujar Madara.
Dengan segera Ino menoleh, ia berlari kearah Madara.
"Madara-san kenapa lama sekali menjengukku?" tanya Ino.
Madara merengkuh bahunya.
"Aku ada urusan." sahut Madara.
Ino memeluk erat Madara.
"Sampai kapan aku akan tinggal disini? Apa aku akan melahirkan disini?" tanya Ino.
Madara menatapnya intens.
"Ya." jawab Madara singkat.
"Apa kau akan terus meninggalkan aku sendirian?"
Madara tersenyum tipis.
"Mulai hari ini aku akan menemanimu." ujar Madara.
"Sungguh?" tanya Ino.
"Hanya desa ini yang paling aman untukmu."
Ino dan Madara duduk diatas kasur, Ino menumpu dagunya diatas pundak Madara.
"Madara.." panggil Ino.
Madara pun menoleh.
"Apa sebaiknya aku bercerai dengan Hashirama?"
"Hashirama bahkan tidak mengetahui keberadaanmu, bagaimana bisa kau berpikir ingin bercerai?" tanya Madara heran.
Ino diam sejenak.
"Tetapi aku ingin bersama denganmu selamanya." ujar Ino.
Madara menatapnya.
"Apa kebersamaan kita selama ini kurang?" tanya Madara.
Ino pun diam.
Madara menatap makanan yang masih utuh diatas meja.
"Kenapa makananmu tidak dimakan?"
Ino mengerucutkan bibirnya.
"Aku menunggumu pulang dan ingin makan bersamamu."
Madara menepuk punggung Ino.
"Sokka, baiklah ayo kita makan." ajak Madara.
Ino tersenyum manis.
"Apa kau akan makan?" tanya Ino.
Ino duduk dilantai sembari memegangi perutnya yang mulai membuncit, Madara terlihat menurunkan beberapa makanan dari atas meja.
"Aku tidak lapar, aku hanya menemanimu." ujar Madara.
Ino cemberut.
Madara menghela nafasnya, "Hah~ baiklah aku akan menyuapimu."
Ino kembali tersenyum.
oOoOo
Hashirama bersandar disebuah dinding, pandangan mata Hashirama menatap kosong kearah lantai. Didepan sana kedua orang tua Mito memperhatikan ekspresinya.
"Hashirama-sama anak anda lahir dengan sehat." ujar seorang tenaga medis.
Hashirama bergeming, ia tidak mendengar pintu ruangan tersebut terbuka, ekspresi bingungnya berubah menjadi senang.
"Anak anda berjenis kelamin laki-laki."
"Benarkah? Boleh aku melihatnya sekarang?" tanya Hashirama girang.
Tenaga medis tersebut mengangguk.
Tanpa menghiraukan kedua orang tua Mito Hashirama pun masuk, ia menyematkan senyum bahagia ketika melihat anaknya yang sedang dimandikan.
Hashirama kemudian menghampiri Mito.
"Apa tubuhmu masih sakit?" tanya Hashirama.
Mito tersenyum tipis.
"Aku baik-baik saja." jawab Mito.
"Yokatta.. Anak kita terlahir sehat." ujar Hashirama.
Mito mengangguk.
"Hashirama.." panggil Mito.
Hashirama menoleh, "Hai?"
"Aku minta maaf atas perkataanku yang waktu itu." ujar Mito.
Hashirama menatapnya bingung.
"Perkataan yang mana?"
"Yang menyuruhmu untuk menghentikan pencarian Ino."
Ekspresi wajah Hashirama kembali berubah sendu.
"Tidak masalah." jawab Hashirama lesu.
"Aku percaya bahwa dia masih hidup."
Mito menggenggam tangan Hashirama.
"Aku tetap mencintaimu walau hatimu sepenuhnya masih mencintai Ino." ujar Mito.
Hashirama tersenyum kaku.
"Terima kasih, Mito."
TBC
Hello hope you like it oke!?
