Disclaimer : Sunrise

AN: Halo semua. Beberapa waktu lalu ada yang request supaya All The King Horses dibuat versi Bahasa Indonesianya. Buat yang minta, mohon maaf mungkin mengerjakannya agak slow karena cerita aslinya juga masih belum kelar dan masih lumayan panjang. Please bear with me ya :)

Enjoy~


.

"Alex!"

Dengan senyum terpaksa, Alex Dino berjalan mendatangi pemeran utama di acara hari ini. Sejak Alex melihatnya pertama kali untuk hari ini di awal pemberkatan hingga acara resepsi sekarang, dia terlihat begitu menawan, terlihat begitu cantik lebih dari biasanya. Rambut panjangnya dikepang dan ditata sedemikian rupa menjadi sanggul elegan yang terlihat seperti bunga mawar merah muda merekah. Dan dari bawah sanggul itu terpasang veil putih tembus pandang yang panjang. Di puncak kepalanya dihiasi sebuah tiara bertatahkan permata merah muda dan putih yang berkilau. Ia sudah berganti dari gaun putih yang dikenakannya saat pemberkatan, ke gaun dengan model mermaid-tail berwarna baby pink, yang membalut tubuhnya dengan begitu pas seolah dirancang hanya untuk dikenakan olehnya.

Hanya saja, bukan Alex yang sekarang berdiri di samping gadis itu.

"Kira, kenalkan ini Alex Dino, temanku yang juga bekerja di departemen marketing bersamaku. Alex, ini Kira, suamiku," wajahnya terlihat begitu bahagia karena sekarang ia sudah bisa memanggil pria di sampingnya sebagai suaminya.

"Halo. Lacus selalu membanggakan tentang dirimu pada kami sejak hari ia mengumumkan pertunangannya. Semua pria di departemen kami sangat memuja Lacus, kau sangat beruntung karena menjadi orang yang bisa bersamanya seumur hidupmu. Tolong jaga dia sebaik mungkin."

"Tentu saja," Kira berkata sambil tersenyum penuh percaya diri, sementara di sampingnya Lacus berdiri dengan wajah memerah mendengar kata-kata pria yang sekarang menjadi suaminya. Melihat sikap istri barunya itu, Kira menariknya lebih dekat, sementara Alex yang melihatnya justru merasakan sesak di dadanya.

"Lacuuuuus!" tiba-tiba seseorang datang di antara mereka dan merebut Lacus ke pelukannya. "Hwaaaaaaah, aku tidak menyangka sekarang kau menikaaah! Kenapa kau malah meninggalkan akuu? Padahal kau salah satu teman terbaikku yang sama-sama belum menikah, tapi kau malah meninggalkan aku!"

"Tenang, Miri," Lacus berkata sambil balas memeluk sahabatnya, "Aku masih akan bekerja di kantor kok, kita masih akan sering bertemu. Aku cuma beda status saja," Lacus berkata sambil menepuk-nepuk punggung Miriallia.

"Loh, kau masih mengizinkan Lacus untuk bekerja?" Miriallia meregangkan sedikit pelukannya dan melihat ke arah Kira. Dari belakang, Alex diam-diam ikut mendengarkan bagaimana jadinya rekan kerjanya nanti setelah menikah.

"Aku tidak mau mengekangnya begitu ketat, jadi aku akan membiarkannya melakukan apa yang dia mau, selama itu bukan hal yang buruk. Kalau memang Lacus masih ingin bekerja, aku tidak akan menghalanginya," Kira berkata sambil tersenyum kepada istri barunya.

"Kenapa dia perhatian sekalii, hwaaaaa, Lacus, sisakan satu yang begini juga buatkuuuu!" Miriallia memeluk Lacus lagi, yang berkata 'Kau kan sudah punya Tolle' sambil tertawa kecil, diikuti Kira di sampingnya.

Menjauh perlahan dari orang-orang yang sedang berbahagia, Alex memperhatikan mereka dari jauh. Ketika salah seorang pelayan pesta menawarkan koktail untuknya, ia mengambil satu dan menghabiskannya sekaligus—membuat pelayannya terkesima—dan kemudian ia mengambil segelas lagi, kali ini menyesapnya perlahan.

Tadinya Alex mau langsung pulang saja dan tidak berniat lama-lama di sini, namun, ia tidak bisa memaksa dirinya sendiri untuk pergi. Sosok anggun Lacus Yamato—yang dulunya merupakan seorang Clyne—dalam balutan gaun yang cantik, yang belum pernah ia lihat sebelumnya, masih mampu menyita perhatiannya dengan sukses seperti biasa, yang berbeda hanyalah, sekarang ia sudah bukan wanita lajang lagi, tapi sudah menjadi istri dari pria lain.

Dan Alex menyesalinya.

Alex menyesali bahwa dulu ia terlalu sibuk memikirkan hal-hal yang belum pasti seperti, apakah Lacus akan membalas perasaannya jika ia menyatakan rasa sukanya, memikirkan masa-masa di mana ia hanya memperhatikannya dari jauh, hanya memujanya diam-diam. Untungnya ia tidak pernah menceritakan isi hatinya pada siapapun, meskipun beberapa orang—sebenarnya banyak orang sih—sudah menduga-duga bahwa ada sesuatu antara dirinya dan Lacus.

Tapi itu wajar, sebab mereka berdua memang sangat dekat, setidaknya sebagai rekan kerja. Mereka berdua bekerja di departemen yang sama, marketing dari perusahaan Shiranui Corp.. Mereka juga ditempatkan di tim yang sama, dan meskipun Lacus sudah bekerja di Shiranui lebih dulu daripadanya, secara fakta Alex malah yang lebih kompeten dalam pekerjaan ini. Lacus juga sadar akan hal ini. Dan setiap kali ia memerlukan bantuan, Lacus pasti langsung meminta tolong pada Alex, mau itu urusan kantor atau bukan, dan Alex pun selalu membantunya hampir di segala hal. Jika Lacus membuat kesalahan saat kerja, Alex akan menawarkan diri menjadikan dirinya sendiri tumbal untuk dimarahi atasan. Kalau Lacus harus membuat laporan, maka Alex yang membantu mengeceknya, malah kadang-kadang ia yang ganti mengerjakannya. Lacus ketinggalan bis ketika pulang, maka Alex yang akan mengantarnya dengan mobilnya. Laptop-nya rusak, maka Alex akan membantu membetulkannya. Kalau ia sedih karena hal apapun, maka Alex akan berusaha membuatnya ceria kembali. Terus seperti itu.

Dan Alex pun melakukan semuanya dengan senang hati. Di depan orang-orang, ia berkeras bahwa mereka hanya teman biasa yang sangat dekat, dan berkata bahwa itu wajar karena mereka sudah menjadi partner kerja selama 3 tahun. Namun dalam hatinya, sebenarnya Alex mengaku ia sangat menyukai Lacus, sejak awal mereka bersama di Shiranui. Dan karena Lacus selalu mengadu padanya jika ada apa-apa, membuat Alex sedikit banyak berharap bahwa suatu saat Lacus akan menyadari perasaannya, bahkan memiliki rasa yang sama terhadapnya.

Bayangkan betapa kagetnya Alex ketika suatu hari Lacus datang ke kantor dan menyebarkan undangan pernikahannya, dengan orang lain yang bahkan Alex saja tidak pernah dengar itu siapa.

Alex terlalu syok mendengar kabar itu sehingga tidak sempat mencari tahu siapa pasangannya, tapi dari bisikan-bisikan rekan kerjanya, katanya pernikahan Lacus diatur oleh orang tuanya dan orang tua sang pria. Begitu mereka bertemu muka, kabarnya mereka saling jatuh hati satu sama lain, lalu berlanjut hingga pada akhirnya mereka menikah.

Dan juga, bukan hanya Alex yang mengidolakan Lacus di kantor. Semua pria di kantor Shiranui tentu saja menyadari betapa cantiknya gadis itu. Orangnya lembut, perhatian, namun sedikit ceroboh. Para pria yang melihat wajahnya yang mungil bak seorang malaikat, pasti ingin segera menolongnya. Dan siapapun yang melakukan itu, pasti akan mendapat balasan sekecil apapun itu dari Lacus sendiri, seperti kukis buatan tangan, makan siang bersama, atau Lacus akan menawarkan diri membantu pekerjaan mereka—yah sebisanya setidaknya—sehingga ia dikenal sebagai madonna departemen marketing, dan juga di cabang Shiranui tempat Alex bekerja. Dan sama seperti Alex, para pria itu pun patah hati mendengar kabar pernikahan Lacus.

Namun, justru karena Alex adalah yang paling dekat dan paling sering berkorban untuknya, dan karena Alex sendiri sebenarnya memendam rasa pada Lacus, jadi berita pernikahan itu berdampak puluhan kali lipat untuk Alex.

Tiba-tiba Alex merasakan seseorang menepuk pundaknya. Menoleh ke samping, ia mendapati salah seorang rekan kerjanya, dari departemen yang berbeda, tersenyum penuh simpati kepadanya.

"Tolle…"

"Kau yakin masih mau di sini, Alex?" Ia bertanya. "Tentu saja kau boleh pulang kalau kau mau. Aku akan bilang padanya kalau kau ada urusan keluarga mendadak."

"Lacus tahu aku tidak punya keluarga dekat sama sekali," Alex menjawab pelan. "Dia pasti akan langsung curiga. Lagipula aku masih harus memberikan pidato selamat nanti saat acara resepsi resmi dimulai."

"Ya sudah, bilang saja kalau kau tiba-tiba dapat kabar dari saudara jauh ibumu atau ayahmu. Lagipula kenapa kau mau sih menerima permintaannya untuk memberikan pidato sebagai teman terdekatnya?" Tolle menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir.

"Pertama, kalau aku melakukan itu, aku harus menjelaskan detailnya nanti padanya. Aku malas mengarang cerita," Alex menghela nafas, "Kedua, aku benar-benar tidak apa-apa kok, justru aku merasa terhormat ia memilihku untuk membacakan pidato pernikahan sebagai teman terdekatnya. Lagipula aku tidak punya perasa-"

"Omong kosong, semua orang dari departemen marketing sadar kalau kau selalu melihatnya seperti anak muda dimabuk cinta setiap hari, juga seberapa terpukulnya kau sejak ia mengumumkan akan menikah. Tidak perlu menyiksa dirimu, saat after-party pun mereka berdua pasti masih ada, atau kau mau melihat mereka diam-diam menyelinap berdua untuk—"

"Sudah, Tolle, berhenti!" Alex menutup mata birunya, mencoba menghapus bayangan dari apa yang baru saja dikatakan Tolle barusan.

"Lupakan dia, Alex. Nih," Tolle memasukan sesuatu seperti secarik kertas ke saku jas berwarna merah yang dikenakan Alex.

"Apa itu?" Alex bertanya tanpa mengeluarkannya. Paling juga ia tidak akan butuh, biar ia buang nanti saja.

"Coba saja nanti," Tolle mengedipkan matanya pada sahabatnya itu, kemudian meninggalkan Alex untuk kembali ke area pesta.


Alex terbangun karena suara pukulan beruntun di kepalanya.

Sambil mengedipkan matanya beberapa kali, dia bisa merasakan pukulan bertubi-tubi itu, bukan hanya suaranya saja.

Oh, itu ternyata kepalanya sendiri, Alex menyadari, dan pukulan itu terasa semakin menjadi.

Sambil mengerang karena rasa sakit di kepalanya, jemarinya menembus rambut hitam pekatnya dan mulai memijat kepalanya kuat-kuat, mencoba meredakan sakitnya. Selain itu, ia juga bisa merasakan leher dan bahunya yang kaku dan pegal-pegal.

Alex mencoba untuk duduk, dan sadar ia sekarang bukan berada di kamarnya. Ia tertidur di sofa ruang tengah, sambil tertelungkup. Pantas saja badannya serasa remuk, posisi tidurnya semalam kacau. Tambah lagi, ia masih mengenakan pakaian yang sama dengan yang ia pakai ke acara pernikahan Lacus, minus blazer merah dan dasinya.

Alex berusaha untuk bangun dan berjalan perlahan ke dapur. Sambil mencoba melawan kantuk yang masih tersisa dan juga pengarnya, ia mengambil segelas air untuk membantunya minum aspirin yang ia ambil sebelum tiba di dapur. Setelah minum obat, ia menaruh gelasnya lagi dan bersandar pada meja dapur, mencoba mengingat apa yang terjadi tadi malam. Biasanya ia tidak pernah mabuk separah ini sampai lupa apa yang terjadi; ia selalu baik-baik saja keesokan harinya, tapi kali ini berbeda. Kepalanya benar-benar sakit, seperti dipukul palu gada berulang-ulang dengan keras.

Dan ia benar-benar tidak ingat kejadian semalam. Bagaimana ceritanya ia bisa tertidur di sofa?

Alex mencari-cari dalam ingatannya lagi sambil meminum sisa air di gelasnya. Setelah resepsi pernikahan, ia melihat Lacus dan suami barunya—mengingat hal itu membuat dadanya sesak lagi—meninggalkan area pesta dengan mobil pengantin yang sudah disiapkan. Ia ingat merasa benar-benar hancur melihat pemandangan itu, lalu ikut ke acara after-party dengan Tolle dan juga rekan kerjanya yang lain dari Shiranui, dan menikmati jamuan lagi malam itu. Karena disediakan minum alkohol sepuasnya selama dua jam, dengan hati yang hancur karena orang yang disukainya sekarang sudah menjadi istri orang, dan juga rekan-rekannya yang mendorongnya minum untuk melupakan Lacus dan 'move-on', Alex memesan alkohol terus-terusan selama dua jam, lebih banyak dari jumlah yang biasanya ia minum. Setelah itu, teman-temannya yang masih merasa belum cukup, pergi lagi ke tempat lain yang juga menyediakan alkohol, dan meneruskan acara minum-minum mereka. Di bawah pengaruh minuman keras yang sudah masuk ke dalam tubuhnya, dan perasaan ingin melupakan Lacus, Alex mengikuti kata mereka dan minum lagi lebih banyak.

Alex menepuk kepalanya sendiri dengan perasaan kesal dan menyesal. Bagaimana bisa ia kehilangan kendali dirinya sendiri karena patah hati dan mengadu pada minuman keras untuk mengobati luka hatinya?

Dan lagi, itu baru alur kejadian yang bisa ia ingat. Bagaimana kalau ia berkata atau berbuat hal bodoh selagi mabuk, di depan rekan kerjanya pula…

Ia berbalik lagi dan mengambil segelas air lagi dari keran, merasakan haus akibat banyaknya alkohol yang masuk ke dalam tubuhnya. Sambil menepuk-nepuk semua saku yang ada di tubuhnya, ia mencari ponselnya; mungkin dari sana ia bisa mendapat semacam petunjuk yang bisa memberitahunya apa saja yang sudah ia lakukan kemarin malam saat after-party. Nihil, ia berjalan kembali ke ruang tengah, masih dengan gelas di tangannya. Di sana, ia menemukannya apa yang dicarinya, terjatuh ke lantai. Sekarang, di mana kepalanya tidak sesakit tadi, Alex bisa melihat kaleng bir dan botol anggur yang ia simpan di kulkas, semua dalam keadaan kosong. Alex ingin memukul dirinya sendiri; dengan jumlah gila-gilaan seperti ini, pantas saja dia kena pengar. Kalau begini mungkin livernya bakal rusak hanya dalam waktu semalam saja.

Ketika ia membungkuk untuk mengambil ponselnya, Alex mendengar suara pukulan yang sama dengan saat ia bangun tadi. Aneh, bukannya aspirinnya sudah bekerja? Ia bahkan sudah tidak terlalu merasakan sakit di kepalanya.

Suara pukulan yang sama terdengar lagi, membuatnya semakin bingung. Setelah diam sebentar, Alex menyadari suara pukulan ini bukan berasal dari kepalanya tapi dari pintu depan. Ada seseorang yang sedang menggedor pintunya.

Siapa yang mencarinya di pukul—Alex mengecek jam dari ponselnya—tujuh pagi begini? Rasanya masih terlalu pagi untuk ukuran hari Minggu.

Masih dengan gelas di satu tangan dan ponselnya di tangan lain, Alex berjalan ke arah pintu depan sambil mengecek ponselnya. Di sana ada satu aplikasi yang masih bekerja, nampaknya ia menggunakannya sampai sebelum jatuh tertidur, dan mengernyit melihatnya.

Aplikasi cari jodoh…?

Alex tidak mungkin menggunakan yang seperti ini, apalagi menginstal aplikasi ini di ponselnya. Sejak kapan aplikasi ini ada di sini?

Sambil melihat-lihat apa yang ia lakukan—tanpa sadar semalam—dengan aplikasi itu, sambil menyesap air minum di gelasnya, Alex membuka pintu depan yang masih digedor dengan agak keras.

Di balik pintu depannya, berdiri seorang wanita berambut pirang, mengenakan mantel coklat muda, sambil menenteng tas besar di tangannya.

Alex langsung memperhatikan mata keemasan yang bertatapan langsung dengan mata birunya, dan juga tangan wanita itu yang masih tergantung di udara, terlihat seperti akan mengetuk lagi.

Dan begitu melihat wajah Alex, wanita itu tersenyum lebar. Melihat Alex yang kebingungan, wanita itu memperkenalkan dirinya.

"Halo, namaku Cagalli. Terima kasih sudah setuju untuk menikah denganku; mulai sekarang mohon bantuannya ya."

Tanpa sadar Alex menyemburkan air yang belum sempat ia telan.


Sebelum lanjut...

Di versi aslinya pun Shinku sudah warning, ceritanya bukan happy ending macam 'And then they live happily ever after', meskipun ada rencana bikin alternate ending. Kedua, seiring progres ceritanya, nanti akan ada beberapa adegan kriminal (karena tag nya juga crime) seperti drugs, bunuh-bunuhan dsb. Kalau ada yang ngga suka bisa stop dari sekarang.

Kalau masih tertarik, silakan tunggu chapter berikutnya yaa

Cheers~