Disclaimer: Sunrise


Alex membenamkan wajahnya pada kedua tangannya sambil terduduk di depan pintu kamar mandi.

"Bodoh, bodoh, bodoh! Apa yang kulakukan tadiii?" Ia mengumpat kepada diri sendiri berulang-ulang seperti mantra di kepalanya.

Jangan. Pernah. Mabuk. Lagi. Titik.

Namun seberapa banyak pun ia mengumpat dirinya sendiri, tetap saja tidak membuatnya merasa lebih baik. Ya tentu saja sih, mana ada orang yang menyemburkan air ke wajah seseorang yang tidak dikenal?

Tapi wanita itu yang salah! Siapa yang tidak kaget kalau di pagi buta begini tiba-tiba ada seorang wanita datang ke rumahnya dan berkata kalau mereka akan menikah?

Oh, oke. Setelah ini kita bisa langsung ke kantor catatan sipil untuk mengambil formulir pernikahan, mendaftarkan pernikahan kita, hidup bersama dan lalu kita bahagia selamanya, ya.

Mana ada yang seperti itu.

Alex merasa ia bakal menemukan suatu petunjuk untuk semua ini dalam ponselnya, pasti aplikasi cari jodoh itu penyebabnya. Tapi ia terlalu takut untuk membuka ponselnya dan mencari tahu.

Tiba-tiba mendengar suara pintu terbuka, dan sebelum ia sadar dan berdiri, seseorang menabrak punggungnya dengan keras, membuatnya sedikit kehilangan keseimbangan. Dan lagi punggungnya juga terasa sakit akibat benturan tadi.

"Ah, maaf!" Alex mendengar seseorang di belakangnya berkata begitu ia mengeluarkan melenguh kesakitan. Sambil mengusap-usap bagian yang sakit, Alex berdiri dan berhadapan dengan seorang wanita berambut pirang; meskipun tangannya tertangkup di mulut, ekspresi bersalahnya terlihat jelas di matanya.

Sakit sekali, apa kakinya terbuat dari besi, Alex menggerutu dalam hati.

"Tidak apa-apa, salahku duduk sembarangan di situ. Bagaimana kalau kita pindah supaya bisa membicarakan tentang…. Apapun yang kau maksud tadi…?" Alex berkata sambil menunjukkan telapak tangannya, menahan sang wanita untuk meminta maaf lebih jauh. Wanita itu mengangguk, dan Alex mengajaknya ke ruang tengah dan memintanya duduk di sofa panjang, sementara ia sendiri duduk di kursi yang lebih kecil.

Masih sambil mengurut punggungnya sesekali, Alex memperhatikan wanita itu berjalan perlahan sambill ragu-ragu menuju sofa. Alex memutar otak, mencoba memilih dan merangkai pertanyaan apa yang harus ia tanyakan lebih dulu. Tadinya,untuk sementara ia memaksanya masuk karena merasa tidak enak sudah menyemburkan air ke mukanya seperti tadi. Tapi sekarang ia bingung apa yang harus dia lakukan dengan wanita di ruang tengahnya ini.

Jadi, dia mencoba memulai dengan pertanyaan yang paling sederhana. "Jadi… Namamu adalah…?"

"Cagalli Yula…"

"Lalu… Apa maksud ucapanmu tadi bahwa… Kita akan… menikah…?" Kalimat itu terdengar aneh karena selama ini, ia selalu berpikir bahwa ia akan menikahi Lacus pada akhirnya, smpi sebelum ia mengumumkan pernikahannya dengan Kira. Jadi bayangan untuk menikahi orang lain masih terasa asing baginya.

"Maaf, tapi kau sendiri yang bilang begitu, di percakapan kita semalam."

"Percakapan apa?" Alex langsung waspada.

"Percakapan kita, lewat aplikasi jodoh itu," wanita itu mengacungkan ponselnya sendiri, mencoba mengingatkan Alex.

Alex menundukkan badannya, kedua sikunya ditopangkan di paha. Sudah ia duga, semuanya ada dalam ponselnya. "Memangnya apa yang aku katakan padamu semalam?"

"Apa kau sama sekali tidak ingat tentang semalam?"

Alex mengangkat wajahnya, dan dengan penuh rasa bersalah ia berkata, "Maaf, tapi semalam aku… sedang mabuk… Mabuk parah… Jadi apapun yang aku katakan tadi malam… Semuanya aku lakukan dalam keadaan tidak sadar, dan aku tidak bermaksud melakukan itu sama sekali. Jadi maaf, aku tidak bisa menikah denganmu." Alex melihat wajah wanita di depannya perlahan jadi semakin kecewa.

Sambil melihatnya terdiam, Alex menerka-nerka wanita ini. Dari perawakannya, mungkin usianya tidak terlalu jauh darinya. Selain rambut pirangnya dan mata keemasannya, kulitnya terlihat sedikit lebih kecoklatan dibandingkan kulitnya sendiri yang putih dan tubuh wanita itu hanya beberapa senti lebih rendah darinya.

Ketika ia masih diam, Alex melanjutkan, "Tapi kalau ingin menikah, kenapa kau mencari dari aplikasi jodoh seperti itu? Tujuannya memang jelas, tapi kau tidak tahu orang seperti apa yang bakal kau temui di sana. Bagaimana kalau kau terperangkap dengan seorang psikopat atau penipu atau…" Alex berhenti ketika melihat wajah di depannya memucat.

Reaksinya itu membuatnya bingung, apa jangan-jangan ia salah berkata. Tapi ketika ia mengulangi kata-katanya sendiri di kepalanya, ia menyadari sesuatu dan menyimpulkannya dengan cepat. "Jangan-jangan kau berniat untuk menipuku dengan menjebakku ke dalam pernika—"

"Bu-bukan! Aku tidak bermaksud begitu!" wanita itu—Cagalli—menjawab dengan panik sampai hampir berdiri dari sofa. "Aku tidak berniat menjebakmu sama sekali. Aku sudah menceritakan semuanya padamu di percakapan semalam, dan kau juga bilang kau mengerti situasiku dan menyetujui semuanya. Makanya aku datang kemari, karena hanya kau yang setuju. Aku tidak berbohong atau bermaksud menipu, jadi tolong jangan laporkan aku ke pihak berwenang," Ia menunduk dalam-dalam sambil meminta maaf.

Pihak berwenang?

Ah, iya juga. Karena apa yang ia lakukan sedikit banyak mirip dengan modus operandi penipuan, mungkin dia berpikir bahwa Alex akan melaporkannya pada polisi supaya ia berhenti dan tidak mengulangi perbuatannya lagi.

Namun tetap saja masih ada banyak hal yang tidak ia ingat, oleh karena itu Alex memutuskan untuk membuka aplikasi yang ia hindari sejak tadi dan membuka riwayat percakapannya dengan Cagalli, sambil mempersiapkan diri untuk mengetahui apa saja yang sudah ia kirimkan padanya.

Melihat foto profil wanita ini di dalam aplikasi, Alex semakin bingung kenapa ia memilihnya. Dari segi wajah saja, gadis ini bukan tipenya sama sekali. Dia lebih suka tipe wanita elegan, seperti Lacus Cly—oke cukup. Dia bukan seorang Clyne lagi, tapi sudah jadi istri orang sekarang, Alex berpikir getir.

Dan begitu ia melihat deretan pesan percakapan yang ia kirimkan, Alex pun memucat.

—Aku ingin kau menyembuhkan luka hatiku, manis :'(((

—Bisakah kau datang kemari dan menghiburku? Aku tidak mau sendirian dan malah jadi memikirkannya. Aku cuma ditemani anggur mahalku, dan itu pun rasanya tidak cukup.

—Aku butuh seseorang untuk memeluk dan menciumku supaya aku bisa melupakan semuanya.

Siapa yang sudah mengirim semua itu? Dan apa-apaan semua emoji ituu!?

Alex merengut dalam-dalam, berharap ada lubang besar yang bisa menelannya dan menyembunyikannya dari rasa malu ini. Bagaimana bisa ia berkata seperti itu pada orang asing yang tidak pernah ia temui hanya gara-gara patah hati? Semalam ia sudah menceritakan sakit hatinya pada gadis ini—Cagalli, bahwa semalam adalah hari pernikahan gadis pujaan hatinya, dan bahwa ia sangat hancur melihat langsung pernikahan mereka, dan bahwa ia ingin seseorang yang bisa menyembuhkan luka hatinya itu.

Pokoknya, ia tidak akan menyentuh alkohol lagi.

Memanjat lagi semakin jauh pada riwayat percakapan mereka, Alex menemukan bahwa—sesuai dengan pengakuannya—Cagalli menceritakan semuanya dalam percakapan mereka, dan ia menyadari suatu hal.

"Kau seorang pengungsi…?" Alex kembali melihat ke arahnya.

"Benar. Aku datang dari Orb," Cagalli menjawab dengan suara pelan.

Hal itu membuat Alex paham kenapa kulitnya memiliki kesan eksotis dari orang kebanyakan yang tinggal di sini.

Dan juga menjelaskan kenapa ia berada di PLANTs.

Orb adalah sebuah negara kecil yang ada di wilayah garis khatulistiwa yang beriklim tropis dan hangat, sangat jauh dari PLANTs yang beriklim sedang dan dekat dengan wilayah dingin. PLANTs memang bukan negara yang kaya akan sumber daya alam, tapi sumber daya manusia dan teknologinya tergolong maju, pendidikannya termasuk yang terbaik, menjadikan negara ini salah satu negara pilihan banyak orang yang ingin mengejar pendidikan dan juga karir. Di PLANTs, banyak sekali orang-orang asing yang datang dengan tujuan untuk belajar, bekerja, bahkan untuk sekedar jalan-jalan.

Sementara itu, Orb yang berada di wilayah hangat memiliki sumber daya alam yang cukup makmur, namun sejak beberapa tahun lalu, negara ini sering menghiasi berita mancanegara karena agresi pemberontakan antara pemerintah dengan kelompok separatis yang membuat negara itu jatuh dalam kekacauan. Setelah itu, banyak warga sipilnya yang lari mengungsi ke berbagai negara dengan visa suaka. Nampaknya Cagalli adalah satu dari sekian banyak pengungsi tersebut, dan ia datang ke negara ini, PLANTs.

"Apa kau terlibat dalam perang saudara di negaramu?"

Cagalli tidak menjawab, dan dari wajahnya terlihat ia semakin muram, sampai pada akhirnya ia menjawab dengan suara dingin, "Aku sudah tidak punya siapa-siapa di sana. Aku tidak mau kembali ke sana. Aku ingin kehidupan baru yang bebas, dan berada di sana malah akan mengikatku selamanya dengan masa lalu yang tidak ingin kuingat sama sekali."

Alex tidak tahu harus menjawab apa karena ia sendiri tidak pernah merasakan berada dalam situasi perang.

Namun setidaknya, ia paham bagaimana rasanya berada dalam situasi di mana ia harus bertahan untuk hidup.

Selama beberapa detik, matanya menerawang ke masa di beberapa tahun lalu, yang membuat sudut bibirnya menekuk turun. Namun sebelum terbawa lebih jauh ke masa lalunya, ia mendengar Cagalli berkata lagi, memohon. "Maaf kalau aku lancang meminta, tapi aku hanya ingin status tinggal yang pasti di sini, supaya aku bisa dapat pekerjaan yang lebih baik. Kalau kau tidak mau tinggal bersamaku, kita bisa menikah secara status saja dan hidup terpisah. Aku tidak akan mengganggumu, kau bisa hidup dengan bebas, lalu setelah aku mendapatkan visa baru, kita bisa bercerai."

"Sebentar, Nona. Kita pikirkan dulu baik-baik. Apa menurutmu semua bisa dilakukan hanya dengan begitu saja? Pihak imigrasi sudah pasti akan melakukan pengecekan padamu dan dia pasti akan curiga kalau kita menikah dalam waktu sesingkat itu. Dan lagi beberapa dari mereka ada yang mendatangi pemohonnya untuk mengecek apakah mereka benar-benar menikah atau hanya pura-pura. Dan pernikahan palsu seperti itu sudah tergolong ke dalam kejahatan, jadi aku tidak bisa menikahimu. Bukan hanya aku yang akan masuk penjara…" Alex mengurut bagian di antara kedua matanya, "Kau juga bakal dideportasi ke Orb dan mungkin tidak akan bisa pergi ke luar negeri lagi untuk jangka waktu yang lama. Terlalu banyak resiko untuk kedua belah pihak."

Melihat wajah Cagalli yang semakin murung, Alex jadi merasa agak kasihan. Perang sudah pasti membawa banyak beban fisik dan mental baik bagi para tentara yang turut serta, maupun para warga sipil yang terkena dampaknya. Mungkin saja keluarga gadis ini direnggut perang sehingga ia sebatang kara; meskipun ia masih belum tahu latar belakang gadis ini.

"Mungkin aku bisa mencari cara lain untukmu? Seperti menjadi sponsor supaya kau bisa mendapatkan residensi permanen di sini dengan cara lain, tapi maaf, aku tidak bisa menikah denganmu."

Cagalli memikirkan lagi kata-kata dari pria di depannya itu, sebab apa yang dia katakan memang benar. Posisinya di sini sebagai pengungsi memang riskan, dan cara paling cepat untuk bisa tinggal di sini secara permanen adalah dengan cara menikah dan mendapat visa tinggal sebagai pasangan warga negara asli. Tapi seperti yang orang ini katakan juga, dengan waktu perkenalan mereka yang singkat, petugas imigrasi pasti bisa mencium sesuatu yang janggal jika Cagalli mengajukan permohonan ganti visa. Visanya yang sekarang memang masih berlaku sampai lebih dari setengah tahun kedepan, tapi ia merasa semakin cepat ia bisa tinggal secara permanen di sini, posisinya akan lebih aman dan ia akan terhindar dari deportasi karena visanya habis.

Apa saja akan ia lakukan, asalkan ia tidak perlu kembali ke Orb.

Tapi mengingat lagi semua yang Alex katakan padanya, Cagalli hanya bisa menghela nafas. Dia tahu dia tidak akan seberuntung temannya yang sudah lebih dulu mendapatkan status permanen karena menikah dengan warga lokal PLANTs. Sebenarnya dari dialah Cagalli mendapatkan ide ini, dia juga yang memberitahu caranya, dengan menggunakan aplikasi cari jodoh itu untuk mencari laki-laki yang mau menikah. Berbeda dengan Cagalli, temannya itu berani memberikan lebih untuk status pernikahannya, dan Cagalli tidak bisa melakukan itu. Jadi ia memutuskan untuk jujur sejak awal pada Alex.

Setidaknya orang di depannya ini bukan seorang psikopat atau penjahat.

Cagalli merasakan seseorang mendekatinya, dan melihat orang itu memberikan secarik kertas padanya. "Kau bisa menghubungiku kapan saja dengan ini. Tapi jangan mencoba melakukan hal beresiko seperti ini lagi." Di kertas itu tertulis sebuah deret angka nomor telepon.

Sesaat Cagalli hanya memperhatikan kertas yang ia terima, lalu mendongak lagi ke arah lelaki itu. "Buat apa kau memberiku ini?" ia bertanya. "Maksudku, tentu saja aku berterima kasih, tapi kau kan tidak punya kewajiban untuk menolongku. Justru aku yang ceroboh dan tidak hati-hati dengan bertaruh pada sebuah aplikasi jodoh di mana bisa saja aku bertemu dengan orang jahat. Kau bisa menyuruhku pulang, kita berpisah hari ini dan melupakan kalau kita pernah bertemu hari ini…"

"Itu… Kalau boleh jujur, aku sebenarnya pernah berada di situasi sulit… jadi sedikit banyak aku bisa memahami situasimu, meskipun mungkin tidak bisa dibandingkan sama sekali dengan kondisimu yang terjebak dalam perang saudara, pasti berkali lipat lebih mengerikan bagimu di sana. Dan lagi, aku merasa bersalah karena sudah menyuruhmu jauh-jauh datang kemari," Alex ingat ia menulis dalam percakapan mereka supaya Cagalli datang ke rumahnya, itu sebabnya sekarang ia ada di sini, dengan tas besarnya itu. "Omong-omong kau datang dari mana?"

"Aku sekarang tinggal di November City," Cagalli menjawab sambil meringis.

Sudut mulut Alex turun ke bawah, teringat kampung halamannya yang terletak di kota sebelahnya. Namun tiba-tiba ia tersadar, "Kau datang jauh-jauh dari November City kemari?" Ia berseru, sebab jarak kota itu sangat jauh sampai ke tempat mereka sekarang, Junius City.

"Habis kan kau yang menyuruhku—"

"Oke, iya iya aku ingat!" Alex menyetopnya, teringat lagi akan percakapan yang ia kirimkan lewat aplikasi sialan itu. Sambil menghela nafas dalam, ia berkata lagi padanya, "Aku minta maaf sekali lagi atas apa yang aku tulis semalam. Tapi semua kata-kataku itu bukan sungguhan. Maaf karena sudah membuatmu repot gara-gara itu. Izinkan aku mengantarmu pulang karena sudah membuatmu jauh-jauh datang ke sini."

Bukan maksudnya mengusirnya dari sini, tapi bagi Alex semua ini cuma salah paham dan tidak ada lagi yang bisa ia lakukan untuk gadis ini. Ia juga merasa kacau atas semua kejadian sejak kemarin hingga hari ini, dan ia butuh waktu untuk menenangkan diri.

Cagalli pun merasa bahwa tidak ada yang bisa dilanjutkan dari salah paham ini. Lebih baik mereka sudahi sampai di sini dan memberi dia waktu untuk istirahat. "Aku mengerti, tapi kau tidak perlu repot-repot mengantarku pulang. Rumahku sangat jauh dan kau juga tidak ada keharusan un—"

"Tidak apa-apa, aku merasa bersalah sudah membuatmu datang dari jauh sampai ke sini, lalu tadi di pintu masuk juga…" Alex mengerjapkan matanya, ingin melupakan hal tadi. "Jadi setidaknya biarkan aku mengantarkanmu sampai rumah. Berapa lama tadi perjalananmu ke sini, dua jam?" Alex bertanya sambil berjalan ke arah laci, mencari sesuatu untuk mengikat rambutnya—yang sepanjang beberapa senti hingga di bawah bahu—menjadi kuncir sederhana, seperti gaya rambutnya yang biasanya.

"Yah, sekitar segitu lah," Cagalli menjawab sekenanya. "Serius tidak apa-apa? Aku naik kereta lagi juga tidak apa-apa kok. Ini kan hari Minggu, memangnya kau tidak ada rencana pergi dengan temanmu?"

"Tidak, aku sudah habis-habisan kemarin, aku mau istirahat hari ini," begitu ia mengatakannya, Alex menguap lebar, sambil mencari-cari kunci mobilnya.

"Ya kalau begitu tidak usah mengantarku, aku bisa pulang sendiri kok," Cagalli berdiri dengan mendorong tubuhnya dari kursi dengan tangannya.

"Sudah, biarkan aku membantumu sekali ini saja."


"Kan sudah kubilang tidak perlu," Cagalli memprotes ketika Alex meletakkan nampan makanannya di depannya.

"Sudah turuti saja," Alex berkata sambil meletakkan nampannya sendiri dan duduk di seberang Cagalli. "Sudah kubayar lho, mau kau makan atau kau buang?"

Sambil cemberut karena ia tidak suka berhutang kepada orang lain, Cagalli hanya bisa berkata 'terima kasih' dengan suara pelan. Ia mengambil kopi, memasukan satu kemasan kecil krimer dan meminumnya. Begitu melihat Cagalli tidak melawan lagi, Alex mengikutinya, sambil memasukan dua kemasan krimer, dan juga lima stik gula ke dalam kopinya. Cagalli menaikkan alisnya melihat itu, dan Alex hanya menggumam pelan, "Jangan tanya."

Mereka sekarang sedang berada di sebuah kafe yang juga menyediakan layanan sarapan, meskipun waktunya sudah lumayan telat karena sekarang hampir pukul sepuluh menuju siang; gara-gara Alex bersikeras untuk makan sebab perutnya masih kosong dan hanya diisi beberapa gelas air saja tadi pagi. Cagalli menolak tadinya, karena ia tidak mau merepotkannya lebih jauh dari ini, apalagi setelah membuatnya mengantarkannya pulang jauh-jauh. Tapi Alex memaksa, berkata bahwa ia butuh sesuatu untuk mengalihkan perhatiannya dari Lacus sementara jika ia sendirian pasti pikirannya akan terbang ke sana. Cagalli sudah tahu cerita tentang Lacus karena Alex menuliskannya dalam percakapan via aplikasi mereka tadi malam, dan karena kasihan ia terpaksa ikut. Cagalli menjawab dengan wajar ketika ditanya Alex untuk pesanannya, namun tiba-tiba protes begitu melihat Alex memesan makanan yang sama dan membayarnya sekaligus. Alex yang hanya ingin cepat-cepat duduk dan makan hanya menjawab, "Sudah terima saja, jangan banyak protes."

"Kenapa kau memesan menu yang sama seperti aku?" Cagalli berkata sambil menambahkan lagi mentega pada croissant nya.

"Supaya cepat," Alex menjawab singkat. Tapi Cagalli bisa melihatnya menatap roti yang simpel itu, dan begitu ia menggigitnya, Cagalli bisa lihat dari ekspresinya seperti ada yang kurang. Mungkin seleranya lebih ke arah roti sandwich yang banyak isian. Cagalli menghela nafas, harusnya Alex memesan sesuai kesukaannya saja tadi.

"Apa kau tidak ada kerjaan hari ini?" Alex bertanya setelah menelan rotinya.

"Aku ada shift larut di minimarket malam ini."

Selama perjalanan dari rumah Alex hingga ke November City, mereka bertanya tentang masing-masing. Karena Alex menawarkan diri menjadi sponsor, Cagalli merasa harus lebih mengenalnya supaya tidak dicurigai petugas imigrasi. Jika tidak, bisa saja mereka mengira Cagalli membayarnya untuk menjadi sponsor dan justru mencabut izin tinggalnya yang sekarang, seperti jika Cagalli ketahuan menikah untuk izin tinggal permanen. Jadi sekarang mereka saling tahu tentang satu sama lain, setidaknya untuk hal yang mendasar.

Cagalli sekarang tahu bahwa Alex bekerja di sebuah perusahaan pengendali jaringan restoran Shiranui Inc. sebagai staff marketing selama tiga tahun terakhir, dan ia sekarang berusia 26 tahun. Di perusahaan itulah ia pertama kali bertemu Lacus, menjadi partner kerjanya, dan jatuh cinta kepadanya. Alex juga bercerita tentang teman-temannya, Tolle yang bekerja di bagian yang mengurus para pemasok bahan makanan dan Miriallia dari bagian administrasi dan keuangan. Alex tinggal sendiri sejak kuliah, dan ia seperti menghindari membicarakan tentang keluarga, meskipun ia berkata sudah tidak memiliki siapa-siapa.

Alex juga mengetahui beberapa hal tentang Cagalli sekarang selain tempat tinggalnya. Ia bekerja paruh waktu di tiga tempat berbeda; merapikan tempat tidur di hotel, menjadi kasir di minimarket, dan petugas bersih-bersih di perpustakaan setempat. Karena visanya yang sekarang, ia tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih dari itu. Cagalli hanya tamat SMA dan tidak mengenyam pendidikan lebih jauh. Ia sepertinya tidak begitu suka bercerita tentang masa lalunya ketika masih tinggal di negaranya, dan lebih banyak bercerita mengenai dirinya sejak datang ke PLANTs. Dan ia hanya setahun lebih muda dari Alex.

Ketika Alex baru saja mau memakan croissantnya yang kedua, ia tiba-tiba mendengar suara seseorang memanggilnya, suara yang sebenarnya paling tidak ingin ia dengar saat ini.

"Alex, kamu Alex kan?"


Maaf bener-bener slow banget buat terjemahannya, semoga masih sabar menunggu, huhuhu

Dan semoga yang berikutnya bisa cepet kelar juga

Cheers~