Disclaimer: Sunrise


Chapter 3

.

"Alex, kamu Alex kan?"

Alex langsung menolehkan kepalanya ke arah suara yang memanggilnya. Ia melihat Lacus bersama suami yang baru dinikahinya kemarin, berjalan ke arahnya duduk bersama Cagalli saat ini.

Kenapa dia ada di sini? Alex mengepalkan tangannya kesal. Kenapa justru di saat ia sengaja pergi keluar untuk melupakan tentang Lacus, malah orangnya sendiri yang datang menghampirinya kemari? "Tidak kusangka kita akan bertemu di sini," ia mendengar Lacus berkata, menghampiri mejanya dengan suaminya yang mengikuti dari belakang.

"Aku juga tidak menyangka. Sedang apa kau di sini?" Alex berusaha menyapanya seramah mungkin. Sejak pernikahannya kemarin, ia tidak bisa berbicara dengan Lacus tanpa menahan rasa kesalnya, akibat sakit hati dari cintanya sendiri yang bertepuk sebelah tangan.

"Kami menginap di Hotel Harlton yang ada di dekat sini," Lacus menjawab sambil melirik sekilas pada suaminya, "Untuk bulan madu kami," ia menyambung dengan senyum merekah dan juga pipi yang sedikit memerah.

Oh, ya tentu saja.

Tentu saja mereka sedang menjalani bulan madu mereka di sini, dan mestilah mereka pamer tentang betapa bahagianya pernikahan mereka di depan Alex, tanpa memperdulikan perasaannya sama sekali. Tunggu, memangnya Lacus tahu apa tentang perasaannya? Dia bahkan tidak tahu apa-apa meski berada di sampingnya selama tiga tahun.

Alex mencoba mengalihkan pandangannya, ke mana saja asal jangan menatap Lacus, dan pandangannya jatuh pada gadis yang duduk di seberangnya, yang melihatnya dengan tatapan prihatin. Setelah semua kisah yang ia ceritakan baik tadi malam via aplikasi maupun pembicaraan mereka selama di jalan, ia yakin Cagalli pasti langsung menyadari bahwa wanita ini adalah Lacus Clyne yang dimaksudkan oleh Alex.

Tiba-tiba Alex seperti tersadar. Kenapa tadi ia bersikeras mengantarkan Cagalli pulang? Ia berpikir dengan gusar. Seandainya tadi ia diam saja di rumah, ia tidak akan perlu bertemu Lacus di sini.

Alex mengakui bahwa ia masih menyimpan perasaan terhadap Lacus, namun di saat yang sama ia membencinya karena terus memberinya harapan palsu selama ini, bahwa ia diizinkan mendapatkan kehidupan yang damai dan sempurna seperti orang lain; mendapatkan pekerjaan yang layak, jatuh cinta, menikah dengan orang yang dicintainya dan hidup bahagia selamanya.

Sejak Alex mencoba lari dari masa lalunya dan memulai hidup baru, Lacus-lah yang menjadi cahaya harapannya. Dia-lah yang membuatnya merasa bahwa ia masih memiliki harapan untuk kehidupan yang baru, yang selalu ia impikan. Ia berharap Lacus lah orang yang bisa ia ajak untuk menjalani kehidupan itu bersama-sama. Makanya ia rela melakukan segala hal untuknya. Apapun yang terjadi, bagaimanapun sikapnya, Alex selalu berada di pihaknya meskipun terkadang malah menyusahkannya, dengan harapan Lacus akan menyadari perasaannya.

Dan sekarang, untuk pertama kalinya, Alex ingin menerjang semua itu. Ia lelah karena selalu mengalah pada Lacus, selalu melindunginya, selalu memaafkannya, dan selalu memujanya tanpa mendapatkan apa-apa.

Sekali saja, ia ingin membalasnya.

"Oh, apakah dia temanmu?" Lacus bertanya begitu ia menyadari ada orang lain yang duduk bersama Alex.

"Eh? Ah… Aku hanya…." Cagalli menjawab sambil terbata. Mereka bahkan baru bertemu beberapa jam yang lalu, dan ia bahkan bukan teman Alex. Dia harus menjawab apa? Ragu-ragu, Cagalli menatap ke arah Alex, meminta bantuan.

Dan di luar dugaannya, Alex justru menjawab dengan mengatakan hal yang paling tidak bisa dipercaya olehnya. "Kenalkan, ini Cagalli. Dia orang yang sedang dekat denganku sejak beberapa waktu lalu," Alex menggenggam tangan Cagalli ketika ia menjawab, sambil melemparkan senyum terbaik yang bisa ia berikan pada Lacus. Cagalli merasa matanya hampir copot keluar mendengar jawaban Alex. Pria ini baru saja menolaknya tadi pagi, dan sekarang ia berani bilang kalau ia memiliki hubungan khusus dengan Cagalli?

Ia bisa merasakan Alex menggenggam tangannya lebih erat, seolah mencoba berkata dalam diam, "Ikuti saja aku."

"Lho, masa? Kok kau tidak pernah cerita tentang dia padaku," Lacus berkata seperti ia baru saja mendengar sesuatu yang mustahil. Tentu saja, Alex membatin getir, sebab selama ini ia selalu bersikap begitu memujanya, hanya ada Lacus seorang dalam hidupnya, jadi tidak mungkin ada sosok wanita lain di hidupnya, apalagi menceritakannya pada Lacus.

"Yah, mungkin karena tidak pernah ada kesempatan untuk membicarakan partner kita masing-masing. Kau juga tidak pernah cerita tentang Kira padaku sampai sebelum kau mengumumkan pertunanganmu. Kau juga sibuk dengan pernikahanmu, jadi aku tidak sempat cerita tentang dia," Alex menjelaskan sambil berusaha menyembunyikan rasa marah dan sakit hatinya.

"Habisnya kami kan dijodohkan orang tua," Lacus cemberut, merasa tidak suka karena seolah disalahkan, "Tapi aku benar-benar bersyukur karena Kira adalah suami terbaik yang bisa aku harapkan dan bayangkan," Lacus menatap lagi ke arah suaminya dengan tatapan memuja yang bahagia.

Jadi setelah semua yang aku lakukan untukmu aku masih belum cukup baik bagimu? Alex ingin protes, tapi mati-matian ia menahannya. Alih-alih ia malah berkata, "Kau sepertinya bahagia sekali bersamanya. Aku jadi merasa yakin setelah mencoba untuk mengikuti langkahmu juga."

"Oh, apakah dia juga…."

"Yah, meskipun cara bertemunya sedikit mendadak sih. Aku tahu Cagalli dari acara kencan buta yang diadakan temanku," Alex berkata, menambahkan gelagat segan sedikit, "Waktu kau mengumumkan pernikahanmu, aku juga merasa kalau sudah waktunya aku juga berumah tangga, jadi aku mencoba ikut ajakan temanku, lalu bertemu dengan dia."

"Oh, begitu ya," hanya itu yang keluar dari bibir Lacus dengan wajah yang sedikit gundah. Melihat ekspresi itu, Alex seolah terpicu dan langsung terpikirkan sesuatu. Ia merasa ujung bibirnya tertarik hendak membentuk seringai, tapi ia berusaha menahannya di depan wanita itu.

"Lacus," Kira yang sedari tadi diam tiba-tiba berkata, "Mungkin sebaiknya kita pergi sekarang. Kita sudah mengganggu acara kencan mereka, maafkan kami ya," Kira meminta maaf di akhir kalimatnya sambil menatap Alex dan Cagalli.

Lacus mengangguk memahami maksud perkataan Kira, lalu melihat ke arah Alex lagi, "Kalau begitu kami pergi dulu ya. Kita ketemu lagi di kantor minggu depan ya, Alex," Lacus tersenyum melambaikan tangannya pada Alex, mengangguk dengan sedikit ragu pada Cagalli, lalu menjauh meninggalkan pasangan yang sedang duduk di cafe itu.

Ketika pasangan suami istri itu sudah tidak terlihat, Cagalli mendesis, "Alex, apa-apaan tadi itu? Apa kau tahu hotel tempat menginap? Itu hotel tempatku bekerja, kalau aku tidak sengaja bertemu mereka lagi bagaimana? Masa kau tidak bisa mengarang cerita yang lebih bagus lagi tadi?"

Alex yang masih memperhitungkan rencananya, masih terus menatap pasangan yang menjauh dari mereka, tanpa mengindahkan kata-kata Cagalli.

"Lalu maksudmu tadi itu apa?" Cagalli juga tidak mengindahkan sikap diam Alex dan terus melontarkan pertanyaan lain, "Kau mau mencoba membuatnya cemburu? Meskipun ada kemungkinan dia cemburu padaku, kalau sudah begitu terus kau mau apa-kau bisa apa? Dia itu sudah menikah. Kau kira bisa membuatnya cemburu lalu meninggalkan suaminya dan terbang ke pelukanmu? Dan lagi, memangnya kau tidak melihat dia bagaimana dengan suaminya tadi? Tidak semudah itu, Tuan." Cagalli yang baru pertama bertemu dengan Lacus bahkan bisa melihat kalau dia dan suaminya saling menyukai satu sama lain meskipun hasil dijodohkan orang tua.

"Mungkin dia tidak akan jadi milikku, tapi mungkin dia juga tidak akan jadi milik suaminya," Alex akhirnya membalas kata-katanya. "Tawaranmu tadi masih berlaku tidak? Aku mau ambil."

Cagalli menatap Alex, mulut dan matanya terbuka lebar, tidak percaya dengan kata-kata yang baru saja ia dengar. Untuk beberapa lama, ia tidak bisa berkata apapun untuk sekedar menjawab Alex. Apa jangan-jangan ini yang dia pikirkan waktu Cagalli tiba-tiba memintanya untuk menikah tadi pagi? Sekarang Cagalli malah merasakan hal yang sama dengannya. "Kau bercanda? Baru juga tadi pagi kau bilang kalau kita berdua bisa masuk penjara kalau melakukan itu…"

"Aku berkata begitu untuk melindungimu," Alex bergumam pelan.

"Maksudmu apa?"

"Aku berkata begitu supaya kau menjauh dariku," Alex sekarang menatap lurus ke arahnya, dengan ekspresi wajah yang berbeda yang tidak bisa Cagalli terka. Ia terkesiap, sebab wajah Alex terlihat sangat berbeda dengan yang ia tunjukkan sedari tadi, wajah yang kaku, dingin, tidak tampak perasaan apapun di sana. Mata birunya yang selalu terkesan hangat sejak pertama kali Cagalli melihatnya, sekarang terlihat dingin bagaikan es, dan membuat Cagalli tanpa sadar gemetar sesaat.

Namun tiba-tiba wajah itu menghilang dalam sekejap mata sampai-sampai Cagalli mengira wajah tadi hanya ada di pikirannya saja dan tidak nyata. Namun perbedaan dari wajah yang pertama ia lihat dengan wajah yang barusan tadi itu benar-benar sangat kontras, hingga ia merasa dua wajah itu muncul dari orang yang berbeda, sebab tidak mungkin wajah yang dingin itu adalah orang yang sama dengan orang yang berkata akan membantunya tadi pagi. Ketika Cagalli hendak bertanya untuk memastikan hal itu, Alex berkata lagi padanya, "Sudah kubilang kan kalau kau harus hati-hati dengan orang asing? Sebab orang itu bisa saja seorang penjahat atau psikopat…"

Cagalli menarik nafas tajam. Ia tidak menyangka Alex akan mengulangi kata-kata peringatannya namun justru merujuk pada dirinya sendiri. "Jadi kau mau memperingatkanku kalau kau mungkin termasuk salah satu dari dua kategori itu?" Cagalli memberanikan diri untuk bertanya, mencoba menyembunyikan rasa was-wasnya.

"Entahlah. Kalau menurutmu bagaimana? Aku terlihat seperti yang mana?" ia bertanya lagi sambil bersandar pada punggung kursi, matanya seolah memandang Cagalli dari tempat yang lebih tinggi, dengan senyum miring seperti seekor kucing Cheshire. "Atau mungkin aku terlihat seperti keduanya?"

"Aku rasa kau bukan orang jahat," meskipun ada sesuatu yang mengganjal, Cagalli menyanggah kata-kata Alex. Sampai saat ini, dia tidak sekalipun berbuat jahat pada Cagalli, jadi ia yakin Alex tidak jahat. Meskipun ekspresi dinginnya tadi juga sungguhan.

"Wah, aku senang mendengarnya," Alex kemudian memberikan senyum yang biasanya, ekspresinya sudah tidak terlihat dingin. "Apa yang membuatmu berpikiran begitu?"

"Aku sering menebak kepribadian orang, dan biasanya tebakanku banyak yang tepat," Cagalli menjawab, terlihat sedikit percaya diri.

"Biasanya, ya," Alex mengulangi seperti sedang menggarisbawahi kata itu untuk Cagalli. "Lalu, kalau aku bilang aku terima tawaranmu tadi untuk menikahiku supaya aku bisa balas dendam pada Lacus, apa kau mau melakukannya untukku?"

"Kau mau menikah cuma untuk balas dendam?" Cagalli menatap pria di depannya tidak percaya. "Di mana semua resiko yang kau beberkan padaku tadi pagi? Kau sendiri juga yang bilang resikonya terlalu tinggi."

"Sebenarnya tidak juga, kalau kau kenal dengan seseorang yang punya koneksi dengan orang tertentu," Alex menjawab dengan santai, sambil mengambil gelas kopinya yang sudah tidak panas lagi.

Sekarang, Cagalli mulai meragukan kemampuannya sendiri dalam menilai kepribadian seseorang. Alex seperti menunjukkan dua sisi yang berbeda di depannya. "Lalu, kau tidak keberatan sama sekali? Menggunakan koneksi orang dalam seperti itu?"

"Akut toh sudah pernah menggunakannya satu kali. Apa bedanya kalau aku menggunakannya sekali lagi, kalau memang perlu." Alex berhenti sejenak lalu bertanya lagi, "Kau bisa masak atau bersih-bersih?" Otaknya mulai bekerja untuk mengkalkulasikan sesuatu.

"Aku bisa bersih-bersih, tapi tidak begitu jago masak. Sedikit sih bisa," Cagalli menjawab, sedikit malu karena pertanyaannya terlalu mendadak dan menunjukkan kebiasaan sehari-harinya.

"Lumayan lah. Biar aku yang masak sesekali, kau yang bersih-bersih nanti. Bagaimana?"

Padahal baru saja Cagalli menyerah untuk mendapatkan residensi permanen di PLANTs dengan cara menikah, tapi justru laki-laki yang tadi pagi menolaknya itulah yang sekarang menawarkan sesuatu yang bisa menguntungkannya kalau semua berjalan lancar. Rasanya seperti kebetulan yang terlalu menguntungkan sekaligus juga membuatnya khawatir. Kebetulan yang terlalu bagus seperti ini biasanya justru sesuatu yang menghanyutkan, seperti masa tenang tepat sebelum badai datang. "Kau yakin? Serius?"

"Hanya untuk beberapa waktu kan? Dengan koneksi yang aku punya mungkin kau bisa mendapatkan izin tinggal permanen kurang dari dua tahun."

Tawarannya memang menggiurkan, tapi setelah mendengar pengakuan dari Alex sendiri tentang dirinya yang bisa jadi merupakan seorang kriminil atau psikopat, akal sehatnya seperti menahannya untuk menerima tawaran itu. "Aku… boleh minta waktu untuk memikirkannya dulu kan?"

Alex mendengus, "Padahal kau duluan yang minta menikah denganku tadi pagi."

"Habis kau bicara aneh soal dirimu sendiri yang seorang penjahat atau psikopat tadi!"

"Aku sudah bilang kan kalau aku pernah menggunakan koneksiku untuk hal pribadi, dari situ apa menurutmu aku bisa jadi seorang kriminal?"

"Tergantung apa yang kau perbuat dengan itu?" Cagalli mengakhiri kalimatnya dengan nada bertanya, seperti tidak yakin dengan maksud Alex bagian mana yang ia maksud dengan perbuatan kriminal yang ia lakukan. Tapi Alex hanya menggeleng dan menjawab, "Aku tidak bisa bilang untuk bagian itu."

Cagalli mendesah pelan. "Maaf, tapi sekarang aku perlu waktu untuk memikirkannya. Dan mungkin kau juga. Aku tidak mau kalau seandainya aku terima, tapi malah kau yang menyesal nantinya karena kau cuma ingin balas dendam saja."

"Tidak masalah. Aku tidak buru-buru kok. Lagipula mengejutkan Lacus pelan-pelan sepertinya ide yang cukup bagus juga," Alex mengedikkan bahu sementara Cagalli hanya bisa menghela nafas, tidak habis pikir dengan orang yang ada di depannya ini. "Cepat habiskan sarapanmu-"

"Jam segini sih sudah tidak bisa dihitung sarapan."

"Terserah," Alex membalas tidak sabar. "Cepat habiskan supaya aku bisa mengantarmu pulang."


"Kau tinggal di tempat ini?" Alex berkata sambil turun dari sisi kemudi dan menutup pintunya lagi, diikuti oleh Cagalli. Mereka sekarang berada di komplek pemukiman beberapa puluh meter dari jalan raya utama. Alex berkeras menurunkan Cagalli tepat di depan rumahnya meskipun Cagalli sudah memperingatkannya berkali-kali bahwa jalan depan apartemennya tergolong sempit dan ia tidak yakin mobil Alex bisa masuk ke jalan itu. Dan benar saja, mobil Alex memang bisa masuk tapi benar-benar pas dengan lebar jalan sehingga ia harus ekstra hati-hati supaya tidak menabrak apapun. Alex sedikit sangsi bagaimana ia bisa keluar dari jalan itu untuk pulang nanti.

"Aku tinggal bersama temanku, dan dia sudah berbaik hati menawarkan tempat tinggalnya. Aku tidak bisa minta lebih dari ini; mana bisa aku pilih-pilih dengan situasiku sekarang. Kau tidak perlu protes," Cagalli menutup pintunya dan berjalan ke arah gerbang komplek apartemennya, diikuti Alex yang memutar ke depan mobilnya. Begitu ia berdiri di dekatnya, Cagalli berkata, "Terima kasih sudah mengantar sampai kemari. Maaf karena sudah menyita waktumu dan mengganggumu di hari libur begini," Cagalli menunduk ke arahnya meminta maaf. "Aku akan menghubungi nomormu nanti kalau aku sudah mengambil keputusan. Sampai nanti ya," Cagalli masuk ke dalam komplek apartemennya, namun ia masih bisa merasakan tatapan Alex di belakangnya.

"Cagalli," Alex memanggilnya ketika Cagalli hendak menutup lagi pintu gerbang depan apartemennya. Dari balik gerbang Cagalli menatap Alex sambil menekuk lehernya ke samping, penasaran kenapa ia memanggilnya sekarang. Kalau dipikir-pikir, ini pertama kalinya ia memanggil namanya, bukan sekedar Nona atau kamu-kecuali saat ia memperkenalkan dirinya pada Lacus tadi.

Sambil berjalan mendekati gerbang, Alex mengulurkan tangannya, "Pinjam ponselmu sebentar."

"Kau kan sudah memberikan nomormu tadi pagi," Cagalli berkata, tapi tetap memberikan ponsel keluaran lama yang dimilikinya pada Alex.

Alex menekan beberapa nomor seperti hendak menelepon seseorang, lalu suara getar ponsel terdengar dari saku celananya. Alex menekan tombol lain dan suara getaran tadi pun berhenti, dan ia menyerahkan ponsel itu kembali pada Cagalli. "Tapi aku tidak punya nomormu, kalau-kalau aku perlu. Lagipula karena kita akan tinggal bersama nantinya, akan aneh kalau aku tidak punya nomor kontakmu kan."

"Aku kan belum memutuskan untuk setuju," Cagalli mengingatkannya lagi.

"Tapi aku bisa membantumu memperoleh izin tinggalmu, dan kau membutuhkannya. Kau pasti akan datang padaku lagi," Alex berkata yakin, sebab ia tahu apa yang Cagalli butuhkan.

"Kita lihat saja nanti," Cagalli berbalik lagi tanpa ucapan perpisahan apapun. Namun Alex menghentikannya sekali lagi dengan memanggilnya. "Apa lagi?" Cagalli berbalik lagi, sedikit tidak sabar.

"Kau tinggal di lantai satu di sini?"

"Kamar temanku di lantai satu, jadi tentu saja aku juga," Cagalli mengingatkan lagi.

Alex mengangguk, "Kalau begitu sebelum kau setuju denganku, mungkin ada baiknya kau tahu kalau kamar di rumahku semuanya di lantai atas. Jadi mau tidak mau kau akan sering bolak-balik dengan tangga."

Cagalli terdiam. Dia tidak bermaksud menyembunyikannya, tapi ia juga tidak menyangka Alex duluan yang membahas hal ini. Biasanya orang-orang hanya curiga pada cara berjalannya yang tidak biasa, baru mereka mengetahui kenyataannya. Tetapi Alex berkata seolah ia sudah tahu tentang kakinya. Apa jangan-jangan tadi dia mau memastikan ini? Makanya ia sengaja turun mengantarkannya ke gerbang. "Dari mana kau tahu?" Cagalli bertanya, penasaran apakah ia memang sudah tahu atau hanya berteori saja.

"Kau selalu duduk pelan-pelan dan jalanmu sedikit pelan, dan kadang memang sedikit terlihat tidak biasa; kau berjalan seperti sedikit menyeret kaki kananmu. Baik di mobil maupun waktu kita duduk di kafe, kadang-kadang kau memindahkan pijakan kaki kirimu, tapi kaki kananmu hampir selalu diam. Tadinya kukira kaki kananmu cuma sedang sakit biasa saja. Tapi aku pernah melihat orang dengan cara berjalan sepertimu dulu. Lalu waktu kau tidak sengaja menendang punggungku dengan lututmu," wajah Cagalli memerah karena malu mengingat kejadian itu, "Entah kenapa ada rasa berbeda. Jadi… aku berasumsi kalau kakimu itu kaki prostetik?" Alex mengakhiri penjelasannya dengan nada bertanya, sedikit khawatir kalau asumsinya salah dan justru menyinggung Cagalli.

"Maaf untuk punggungmu tadi pagi," wajah Cagalli masih sedikit merah, tapi karena Alex kelihatannya biasa saja, baik untuk punggungnya yang tidak sengaja terbentur lututnya tadi pagi maupun tentang sikap biasanya terhadap kondisi kakinya, Cagalli merasa tidak perlu menutupi hal ini. Dan lagi, ia sendiri sadar kalau kemungkinannya menerima tawaran Alex memang tinggi, jadi untuk apa berbohong padanya sekarang? "Baru satu tahun sejak aku memakai kaki palsu ini, jadi aku memang masih belum begitu terbiasa. Modelnya juga sangat sederhana karena aku cuma bisa membeli yang paling murah, meskipun harganya tetap saja lumayan; jadi maaf kalau aku tidak secepat orang-orang kalau berjalan."

Aku benar, Alex membatin dalam hati. Mungkin Cagalli kehilangan kakinya karena daerah tempat tinggalnya dekat dengan area yang menjadi pusat konflik di Orb. Di tempat seperti itu dia bisa saja kehilangan nyawanya. Jadi kehilangan sebelah kakinya dan tetap selamat hingga sekarang justru adalah sebuah kemujuran.

"Selain itu, karena kaki ini termasuk murah, tentu saja dia bakal cepat rusak. Jadi aku harus menabung untuk bisa membeli kaki yang baru. Dan kalau bisa lebih baik dari yang kumiliki sekarang. Tapi dengan kondisiku yang sekarang, aku tidak akan sanggup membelinya. Dan lagi mungkin saja kakiku akan rusak sebelum aku bisa membeli yang baru. Makanya aku perlu izin tinggal permanen supaya aku bisa mencari pekerjaan yang lebih baik, dan bisa membeli kaki yang lebih bagus."

Dan sekarang Alex mengerti kenapa Cagalli tidak mau pulang ke negaranya, kenapa ia ingin meneruskan hidup barunya di sini, dan kenapa ia menginginkan izin tinggal permanennya. Kehilangan anggota badan yang sudah kau miliki sejak lahir secara tiba-tiba pasti berat. Jadi ia membutuhkan penunjang yang terbaik. Semakin bagus prostesisnya, maka Cagalli bisa berjalan lebih baik, dan melalui sisa hidupnya lebih baik dari sekarang.

"Yah, beginilah aku. Kau yakin tidak akan keberatan tinggal bersamaku selama beberapa waktu? Mungkin saja aku malah akan mengganggumu karena kakiku ini. Aku tidak keberatan tinggal di lantai atas. Aku bisa naik-turun tangga, hanya sedikit makan waktu dibandingkan orang biasa saja."

Tapi meskipun dibilang tinggal bersama, toh mereka mungkin tidak akan sering bertemu. Alex sibuk bekerja full-time, begitu juga Cagalli yang sekarang pun harus menyeimbangkan hidup sambil melakukan beberapa pekerjaan tambahan. Dengan begitu, meskipun tinggal bersama, seharusnya tidak akan ada masalah, kan?

"Aku menantikanmu tinggal bersamaku, Cagalli."


Begitu Alex memastikan Cagalli sudah masuk ke apartemennya, ia kembali ke mobilnya. Cagalli memberitahunya jalan keluar lain supaya ia tidak perlu putar balik. Namun karena jalannya tetap saja sempit, Alex masih ragu untuk maju. Ia tidak mau terjadi apa-apa pada mobil kesayangannya.

Sebelum ia menyalakan mesin mobilnya lagi, Alex membuka laci dashboard dan mengambil sebuah botol obat tetes mata kecil. Matanya terasa kering dan ia tidak sabar untuk segera pulang ke rumah dan istirahat. Untung saja kepalanya yang pengar segera mereda tadi pagi.

Setelah meneteskan obat beberapa kali ke kedua matanya, Alex mendongak ke arah spion depan dan mengedipkan matanya di depan cermin kecil itu. Sambil menatap balik refleksi mata birunya di cermin, Alex teringat lagi pembicaraannya dengan Cagalli.

Sambil menyisir rambut hitam kelamnya dengan jari, Alex menghela nafas pelan. Bagaimana bisa ia melupakan dirinya yang sekarang dan kembali ke dirinya yang dulu tadi? Meskipun Cagalli tinggal bersamanya nanti, Alex tidak berniat untuk membuka diri tentang masa lalunya sama sekali. Ia tidak perlu mengingat maupun membawa kembali masa lalunya ke masa kini.

Sambil memutar kuncinya, Alex akhirnya menyalakan mesin mobilnya dan mulai melewati jalan kecil itu untuk kembali ke jalan utama, masih dengan kejadian pagi ini bermain di kepalanya. Sambil menghela nafas lega ketika akhirnya ia kembali ke jalan biasa dengan lebar yang normal, Alex memacu mobilnya melalui jalan bebas hambatan untuk pulang. Sesuai pemikirannya tadi, ia tidak perlu terlalu memikirkan tentang gadis itu karena mereka tidak akan sering bertemu meskipun tinggal bersama. Gadis itu cukup tahu seperlunya saja tentang dirinya, dan begitu pula sebaliknya. Tidak perlu ikut campur hal yang tidak perlu, dan tidak perlu memberitahukannya hal yang tidak perlu.

Lupakan masa lalu, fokus pada masa sekarang dan masa depan.


Curhat: sekalian nerjemahin Shinku juga nemu banyak sekali error di naskah aslinya jadi sekalian edit juga, dan bikin lama lagi juga nerjemahinnya (ngeles mulu ah)

Disclaimer tambahan: Author bukan amputee dengan prostesis, juga ga ada kenalan langsung pengguna prostesis. Semua penggambaran prostesis dan kondisi amputee yang ada di cerita ini murni cuma hasil research saja dan bukan pengalaman pribadi. Jadi kalau ada kesalahan dalam penggambarannya atau kurang dalam akurasi, mohon maaf sebelumnya

Thanks for reading,

Cheers~